Rabu, 30 November 2022

Menggeser Patriarki Menggelorakan Gender Equality

Menggeser Patriarki Menggelorakan Gender Equality

Ilustrasi (Dok. Internet)

  


Oleh: Yesyka Wahyu Leonyta


    Kesetaraan gender bukan hal yang baru untuk dibicarakan. Persamaan hak antara laki-laki dan perempuan khususnya dalam bidang pendidikan, telah menjadi perjuangan bagi R.A Kartini sejak dulu. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk melawan diskriminasi terhadap perempuan dan memajukan pemikiran kaum wanita pada masa itu. Namun, kesetaraan gender masih menjadi hal yang diperjuangkan, dituntut, diharapkan khususnya bagi kaum perempuan hingga saat ini. Mengapa? Karena adanya budaya mengikat yang biasa disebut dengan patriarki dalam kehidupan masyarakat.

    

    Budaya patriarki dapat dipahami sebagai penempatan posisi yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Dimana kedudukan perempuan dianggap lebih rendah atau berada di bawah laki-laki. Mirisnya kepercayaan semacam ini masih saja melekat dalam masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa patriarki merupakan budaya yang turun menurun dan terus dilanggengkan hingga sekarang. Hal ini lah yang menjadi alasan mengapa kesetaraan gender menjadi tujuan yang harus dicapai. 


    Langgengnya patriarki tersebut dapat dilihat pada anggapan bahwa mengurus rumah adalah tugas perempuan, sedangkan mencari nafkah adalah tugas laki-laki. Keduanya tidak boleh tertukar seakan sebuah peraturan yang baku. Itu terjadi karena perempuan dilabeli sebagai makhluk yang lembut, lemah, dan sensitif sedangkan laki-laki dipercaya lebih kuat dibandingkan perempuan. Dalam bidang pendidikan, patriarki dapat ditemukan pada beberapa orang yang meyakini bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena pada akhirnya akan menjadi Ibu rumah tangga. Padahal pada kenyataannya pendidikan juga penting bagi semua kalangan.


    Di sisi lain, kehadiran patriarki juga membawa dampak tersendiri. Kesempatan yang lebih sempit dibandingkan laki-laki, membuat perempuan sulit untuk berkembang. Ketika mencoba hal baru yang mungkin berbeda, akan muncul anggapan bahwa yang dilakukan bukanlah hal yang wajar bagi sosok seorang perempuan. Selain itu, patriarki juga berdampak pada munculnya diskriminasi bahkan pelecehan. Dimana laki-laki akan merasa lebih berkuasa di atas perempuan. Superioritas inilah yang bisa jadi disalahgunakan untuk melakukan tindakan semena-mena pada perempuan. 


    Tidak hanya pada perempuan, laki-laki tentu saja merasakan dampak dari budaya yang terus mengikat ini. Anggapan bahwa laki-laki harus manly, tidak boleh menangis, dan sebagainya terus saja melekat dalam masyarakat. Ditambah lagi dengan beberapa orang yang meyakini bahwa laki-laki harus melakukan pekerjaan yang lebih berat dibandingkan perempuan. Padahal, mungkin saja sebagian dari mereka mempunyai pilihan tersendiri dalam hal pekerjaan. Stereotip semacam itulah yang menjadi penghambat ide-ide baru dan kreativitas untuk tumbuh.


    Seiring dengan perjuangan meraih gender equality dari masa ke masa, perlahan semakin terlihat kesadaran masyarakat akan kesetaraan. Meskipun belum sepenuhnya, sebagian dari para influencer mulai meyuarakan pentingnya kesetaraan gender. Di sisi lain, banyak juga ditemukan para laki-laki berprofesi sebagai fashion designer yang menjadi hal lumrah dalam kehidupan modern. Dalam berbagai platform media sosial seperti Youtube dan Instagram, masyarakat Indonesia juga mulai memahami serta secara perlahan menggeser pemikiran patriarki. 


    Pada pandemi COVID-19, perempuan juga memiliki peran dalam menghadapinya. Data memperlihatkan bahwa dari sekian banyak perawat kesehatan di Indonesia yang menangani COVID-19, terdapat jumlah perempuan sebanyak 71% dan laki-laki sekitar 29%. Angka ini tidak jauh berbeda dengan tenaga kesehatan global. Menurut WHO, pada kalangan kesehatan global pekerja 70% adalah perempuan dan 30% adalah laki-laki. Hal ini menunjukkan kontribusi sebenarnya dari perempuan dalam respons Indonesia terhadap pandemi COVID-19.


    Belakangan ini, isu kesetaraan gender juga kembali digaungkan. Co-Chair W20 Indonesia Dian Siswarini mengungkapkan bahwa salah satu dari empat prioritas isu yang diusung W20 dalam Presidensi G20 di Indonesia adalah isu kesetaraan gender. Prioritas isu yang diusung tersebut adalah diskriminasi dan kesetaraan, dukungan UMKM yang dimiliki dan dikelola oleh perempuan, meningkatkan ketahanan perempuan pedesaan dan penyandang disabilitas, serta yang terakhir yaitu terkait akses fasilitas kesehatan yang adil secara gender. 



    Kesetaraan memang harus diperjuangkan, khususnya terkait gender. Meskipun sulit, akan tetapi patriarki bukan hal yang harus dilestarikan. Bisa dibayangkan apabila kesetaraan telah tercapai akan membawa dampak pada kemajuan. Perempuan dan laki-laki dapat menyalurkan kemampuan yang dimiliki dalam berbagai bidang tanpa harus khawatir dengan pandangan masyarakat. Banyak ide baru yang muncul dalam berbagai bidang pekerjaan, dan lain sebagainya. 


    Untuk mencapai kesetaraan gender, tentu saja ada upaya-upaya yang harus dilakukan. Dalam dunia kerja misalnya dengan adanya kesetaraan gaji, mengurangi atau mencegah tindak pelecehan di tempat kerja, serta tidak membedaan perempuan dan laki-laki dalam hal kepemimpinan. Pada bidang lain, upaya yang dapat dilakukan yaitu menurunkan tingkat diskriminasi berdasarkan gender, pelayanan umum dan kebijakan publik yang mengutamakan kesetaraan, akses kesehataan yang berdasarkan keadilan gender, serta mempromosikan isu kesetaraan itu sendiri.


    Upaya-upaya dalam mencapai gender equality harus dimulai dari diri sendiri. Lapisan masyarakat terdiri dari berbagai sudut pandang. Akan sangat sulit jika memaksa mereka dengan pemikiran yang baru. Dengan demikian, kesadaran akan kesetaraan diawali dari setiap individu. Berawal dari satu atau dua orang yang menyuarakan terkait hal ini, maka masyarakat akan sadar betapa pentingnya kesetaraan gender dalam kehidupan sosial.

Rabu, 16 November 2022

 2 Tahun Vakum, Roadshow Mata Najwa Hadir Kembali di Solo

2 Tahun Vakum, Roadshow Mata Najwa Hadir Kembali di Solo



(Acara baru saja dibuka dengan penampilan penyanyi Adera/Dok. Adisti)

Lpmvisi.com, Solo – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merayakan Muktamar Muhammadiyah ke-48 dengan berbagai rangkaian acara, salah satunya Roadshow Mata Najwa yang diadakan pada Kamis (10/11/2022) malam di Edutorium UMS setelah 2 tahun ditiadakan karena pandemi COVID-19.

Acara ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh anak muda Solo. Sekurangnya ada 11.000 penonton yang didominasi oleh mahasiswa, hadir memenuhi Edutorium UMS. Tidak hanya Solo, mereka juga datang dari berbagai daerah seperti Sragen, Boyolali, Semarang, bahkan Rembang. 

Roadshow Mata Najwa kali ini mengangkat tema “Merawat Indonesia” dengan menghadirkan berbagai narasumber, diantaranya Sekretaris Umum PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Wakil Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) K.H. Zulfa Mustofa, Founder Drone Emprit Ismail Fahmi, dan Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center Rahmawati Husein. 

Hadir pula penyanyi Adera yang membuka roadshow serta ada penampilan stand up comedy dari komika Yusril Fahriza. 


Membahas Peran Anak Muda dalam Merawat Indonesia

Najwa Shihab mengawali roadshow dengan bertanya kepada beberapa penonton tentang apa saja keresahan yang dirasakan oleh anak muda akhir-akhir ini. Mereka memberi jawaban yang beragam, mulai dari anak muda yang tidak mau pulang kampung, bagaimana penegakan hukum di Indonesia yang belum adil, pemimpin yang tidak peduli pada rakyat, instansi kepolisian atau penegak hukum yang tidak amanah, hingga hoax yang merajalela. 


(Najwa Shihab saat memberi pertanyaan terkait keresahan anak muda kepada penonton/Dok. Adisti)


Melihat jawaban-jawaban tersebut, Abdul Mu’ti berpendapat bahwa keresahan tersebut merupakan bentuk kepedulian anak muda terhadap kehidupan bangsa dan negara. 

“Keresahan jadi makna penting bahwa mereka (anak muda) memiliki kepedulian dan komitmen untuk menjadikan Indonesia jadi lebih baik,” ujarnya. 

Ia juga menegaskan pentingnya mengubah mindset anak muda sebagai kunci untuk menjadi bangsa yang maju dan unggul. Mu’ti memberi contoh teladan Ahmad Dahlan yang dapat memulai perubahan dengan ilmu dan mindset yang cerdas. 


Lebih lanjut, Mu’ti juga membahas terkait penggunaan teknologi digital yang harus digunakan untuk hal positif. 

“Teknologi digital digunakan untuk hal yang positif, hal yang baik menyebarkan informasi yang mencerahkan, jadi sarana membangun kedekatan solidaritas… di tangan kita, kita bisa mengubah dunia,” tutur Mu’ti. 


Terkait bidang politik, Mu’ti mengingatkan pada anak muda untuk menyikapi politik dengan tenang dan jangan fanatik.

“Politik akan jadi baik kalau kita kembalikan ke makna awal, (yaitu) ‘wisdom’. Politik itu sesuatu yang mulia, jadi jangan sampai menyalahgunakan agama untuk politik. Ini nggak boleh terjadi,” pungkasnya.


Rahmawati Husein memiliki pandangan terkait peran anak muda dalam hal kemanusiaan. 

“Anak muda jadi aktor utama yang harus bergerak melakukan perubahan-perubahan,” tutur Rahmawati. “Anak mudah harus saling menolong tanpa memandang latar belakang karena kemanusiaan-lah yang menyatukan,” lanjutnya. 


Terakhir, Ismail Fahmi menunjukkan data dimana terdapat keresahan-keresahan anak muda terkait ketidakadilan. Hal tersebut menunjukkan bahwa anak muda Indonesia peduli terhadap politik. Sebagai pemilih, anak muda juga harus bisa melihat secara objektif. (Adisti)


Kain Ecoprint, Wastra Kontemporer Ramah Lingkungan

Kain Ecoprint, Wastra Kontemporer Ramah Lingkungan



(Potret Susi, pengrajin kain ecoprint, bersama keluarga saat mengenakan pakaian dari kain ecoprint/Dok. Arsip Pribadi Susi)

Tahukah kamu dalam pembuatan batik, limbah cair industri merupakan limbah yang paling banyak dihasilkan? Limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Padahal permintaan pasar akan batik tiap harinya terus bertambah dan artinya juga berpotensi meningkatkan limbah cair industri batik.

Untungnya, belum lama ini muncul teknik pembuatan kain yang mirip dengan batik namun lebih ramah lingkungan karena menggunakan 100% bahan-bahan alami. Teknik pembuatan wastra nusantara dengan karakteristik kontemporer ini dikenal dengan sebutan ecoprint. Seperti namanya, ecoprint berasal dari kata eco atau ekosistem yang artinya alam atau lingkungan alami dan kata print yang berarti cetak. Sama seperti pembuatan batik yang melalui tahap skoring dan mordanting, proses pembuatan kain ini juga melewati tahap tersebut namun dengan teknik yang berbeda.

Oleh karena itu, kain yang dibuat dengan teknik ecoprint seringkali disebut sebagai batik ecoprint. Bedanya, teknik ecoprint tidak menggunakan canting (alat untuk membatik) dan bahan malam, namun menggunakan bahan yang bisa diperoleh dari lingkungan sekitar yakni dedaunan yang menghasilkan warna alami.


Alternatif Wastra Ramah Lingkungan

Susi, seorang pengrajin kain ecoprint asal Magelang sekaligus pemilik usaha Batik Godhong, mengatakan bahwa dirinya sudah mengenal ecoprint sejak tahun 2016. Butuh waktu yang cukup lama bagi Susi untuk mempelajari teknik ini, sebelum akhirnya mantap mencoba membuat kain ecoprint pertamanya pada tahun 2018.

“Pada dasarnya saya orang yang suka keterampilan, suka sesuatu yang baru dan kreatif. Saat melihat kain ecoprint, kain itu kan tidak bisa diproduksi secara massal dan tidak bisa dibuat seragam karena prosesnya handmade. Jadi berawal dari sana saya tertarik untuk membuat kain ecoprint,” ungkapnya.

Media yang bisa digunakan dalam pembuatan ecoprint antara selain kain, adalah kulit (hewan), kertas, bahkan keramik. Susi sendiri lebih memilih menggunakan media yang nantinya dapat digunakan banyak orang seperti kain dan kulit. Jenis kain pun bermacam macam; ada kain prisima (katun jepang) seperti yang dipakai pada kain batik, kain kanvas, kain rayon, atau sutra jepang. Pemilihan kain ini bebas, tergantung dengan kebutuhan produksi.

“Kalau untuk sepatu atau hiasan bisa pakai kanvas. Untuk mukena atau baju harian bisa dicetak pada kain rayon yang adem di badan. Tapi ada juga kalau mau untuk pakaian resmi biasanya pakai sutra jepang atau katun sutra untuk bapak-bapak,” ujar Susi menambahkan.

Kemudian bahan utama yang dibutuhkan adalah daun-daunan. Perlu teman-teman tahu, kalau hanya daun-daun tertentu loh yang dapat digunakan dalam pembuatan ecoprint karena tidak semua daun mengandung tanin atau zat warna yang berguna untuk mencetak warna pada kain.

Untuk mencetak pola, Susi mengatakan ia biasa menggunakan daun lanang, daun jati, daun kenikir, dan dedaunan lainnya. Tapi yang menarik, ternyata bisa juga pola dicetak dengan menggunakan bunga.

“Kadang saya pengen (mencetak) dengan bermacam-macam daun dan dicampur dengan bunga. Ada beberapa bunga yang bisa kita gunakan. Misalnya bunga kenikir, baik bunga maupun daun bisa kita gunakan dan hasilnya cantik. Kemudian kembang waru ada juga yang saya gunakan,” cetusnya.

Nah, selain daun daunan ada bahan lain yang diperlukan antara lain sabun TRO, krim tartar, tunjung ,atau tawas, bisa juga cuka, dan kulit-kulit pohon, atau dedaunan untuk pewarna alami.


Dari Alam Kembali ke Alam

Proses pembuatan kain dengan teknik ecoprint ini membutuhkan waktu yang panjang untuk menghasilkan satu potong kain yang siap pakai. Susi mengatakan setidaknya perlu satu bulan untuk memproduksi kain yang panjangnya rata-rata 2 meter.

Langkah pertama yang perlu dilakukan oleh Susi saat mengolah kain ecoprint adalah mencuci kain atau skoring. Proses mencuci ini bukan sembarang mencuci loh. Pada proses ini bahan bahan kimia pada kain akan dilarutkan menggunakan sabun TRO dan tidak bisa memakai sabun biasa. Kalaupun terpaksa menggunakan sabun biasa maka harus menggunakan sabun tanpa pemutih.

Selanjutnya, kain yang telah dicuci bersih dengan TRO akan dikeringkan sebelum kemudian dilakukan proses mordanting. Tujuan dari proses mordanting ini adalah agar kain siap untuk mencetak pola dan warna dari daun-daunan. Untuk melakukan mordanting pada kain, umumnya bahan yang dipakai adalah soda abu. Namun, Susi yang berpegang teguh pada prinsip ecoprint ramah lingkungan memilih menggunakan cream of tartar atau krim tartar pada proses ini.

“Saya lebih suka pakai krim tartar karena prinsip ecoprint adalah alami. Jadi, jangan sampai limbah yang kita pakai malah membunuh zat-zat dalam tanah. Kalau krim tartar lebih aman, pakai soda abu resikonya kena tangan panas,” ungkap Susi.

Setelah proses mordanting selesai maka kain siap untuk diberi warna. Pada proses pembuatan ecoprint, Susi menggunakan dua kain yang lebih sering disebut sebagai kain utama (KU) dan kain blanket. KU digunakan sebagai media utama pencetakan motif, sedangkan kain blanket berfungsi untuk menutupi KU pada saat proses pounding atau kukus. Umumnya KU inilah yang akan diberi pewarna sebelum nantinya mencetak motif dedaunan. Pewarnaan KU tetap menggunakan warna alami yang dibuat sendiri dan bisa diperoleh dari kayu tegeran, kayu akasia, kayu secang, kayu nangka, bahkan bubuk daun mangga.

Susi menambahkan, “Untuk menghasilkan warna, harus kita rebus dulu bahan bahan itu paling tidak 2 jam tergantung kepekatan yang ingin kita buat. Warna itu yang akan kita gunakan untuk merendam kain.”

Ketika KU sudah diwarnai, maka tahap selanjutnya adalah proses ecoprint itu sendiri. Terdapat dua teknik yang cukup populer di kalangan pengrajin ecoprint, yakni teknik pounding (pukul) atau kukus. Sebelum mencetak, daun harus dicuci terlebih dahulu dan dikeringkan dengan sempurna.

Jangan sampai ada air yang menetes karena air yang menetes itu bisa menimbulkan cacat pada kain meskipun cacat itu juga bisa menghasilkan seni tersendiri,” ujarnya.

Selanjutnya, daun yang telah dikeringkan akan ditata sedemikian rupa pada KU. “Tidak ada teknik khusus. Hanya selera kita, feeling kita,” ungkap Bu Susi saat menjelaskan cara menata daun pada kain. Daun yang sudah diletakkan pada kain sebisa mungkin jangan sampai bergeser. Terutama daun jati karena sekali bergeser maka akan keluar bayangan atau corak double pada kain. Wah, berarti harus hati-hati banget nih! (Saras)


Kamis, 03 November 2022

Institut Seni Indonesia  Surakarta Adakan Kuliah Umum Fotografi

Institut Seni Indonesia Surakarta Adakan Kuliah Umum Fotografi

 


(Akhmad Ramdhon saat memaparkan materi “Visualisasi Kampung Kota”/

Dok. Adisti)



        Lpmvisi.com, Solo – Fakultas Seni Indonesia (ISI) menyelenggarakan kuliah umum dengan tema "Fotografi dan Kerja Komunitas" yang diselenggarakan pada kamis (3/11/2022).     Acara ini dihadiri oleh Akhmad Ramdhon, yang merupakan dosen Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) yang sekaligus menjadi pembicara dalam sesi kuliah umum tersebut. Selain itu acara ini juga turut dihadiri oleh salah seorang perwakilan dari komunitas "kampung Halaman", Rachma Safitri Yogasari.      Dalam pemaparannya, Ramdhon menjelaskan tentang kampung sebagai suatu imaji kota. Ia juga membandingkan karakteristik antara kota dan kampung dengan menampilkan hasil gambar dari Google. Ramdhon juga menambahkan terkait masalah yang muncul dari adanya perubahan-perubahan tersebut dan bagaimana fotografi turut berperan dalam memecahkan masalah yang ada.

        "Ada problem di sekitar kita. Kemudian di situlah fotografi jadi cara kita untuk melihat suatu masalah," lanjutnya.

        "Perubahan menampilkan kota yang maju, tapi (ada juga) problem kampung yang stagnan, yang ditinggalkan," pungkas Ramdhon.

        Tak hanya Ramdhon, kuliah umum tersebut juga menghadirkan Rachma Safitri Yogasari dari komunitas “Kampung Halaman”. Ia menjelaskan tentang bagaimana fotografi sebagai media yang populer dan dekat dengan remaja.

        "Bagi kami (komunitas Kampung Halaman -red), yang dekat dengan remaja, handphone dan foto itu jadi penghubung untuk ngobrol," ungkapnya.

       Lebih lanjut, Rachma menerangkan tentang peran fotografi dalam melihat berbagai masalah.

        "Foto jadi bukti untuk suatu hal yang harus diperhatikan dan penting untuk jadi bahan diskusi," ujarnya. "Foto melatih kita untuk melihat, membaca dari berbagai sudut pandang, dan lagi, melatih kita untuk berpikir kritis," Tutup Rachma. (Adisti)


Sabtu, 29 Oktober 2022

Book Tour Penulis Alvi Syahrin dan Ardhi Mohamad di Kota Solo

Book Tour Penulis Alvi Syahrin dan Ardhi Mohamad di Kota Solo

D:\DOCUMENT CIKA\Ardhi & Alvi - Book Tour\20221029_175436.jpg

(Sesi Tanda Tangan Dengan Penulis/Dok. Cika)



Lpmvisi.com, Solo – Alvi Syahrin dan Ardhi Mohamad mengadakan acara Book Tour dengan tajuk  “Healing But Lonely” secara offline pada Sabtu (29/10/2022)

Penulis buku popular Alvi Syahrin mengadakan Book Tour di beberapa kota besar di Indonesia. Book Tour ini diadakan dalam rangka mempromosikan karya terbarunya yang berjudul “Loneliness”. Acara ini diselenggarakan mulai pada tanggal 1 Oktober 2022, Depok merupakan kota pertama yang didatangi oleh Alvi Syahrin. Dalam serangkaian Book Tour-nya tersebut, Alvi mengajak sahabatnya dan merupakan penulis buku popular juga, yaitu Ardhi Mohamad. 

Beberapa kota di Jawa Tengah juga tidak ketinggalan untuk didatangi oleh Alvi dan Ardhi. Ada tiga (3) kota besar di Jawa Tengah yang akan didatangi oleh mereka, yaitu D. I. Yogyakarta; Solo; serta Semarang. Ketiga kota tersebut akan didatangi secara berurutan dimulai dari Yogyakarta; Solo; kemudian Semarang. Tour di Kota Solo sendiri diselenggarakan pada hari Sabtu, 29 Oktober 2022 pukul 16.00 WIB di Gramedia Solo Slamet Riyadi. Namun, beberapa jam sebelum acara dimulai lokasi Book Tour di ubah ke House of Danar Hadi. Pemindahan lokasi ini disebabkan oleh banyaknya pendaftar Book Tour. Pemindahan lokasi ke gedung yang lebih besar ini bertujuan supaya seluruh pendaftar Book Tour bisa mengikuti acara tanpa harus berdesak-desakan.

Acara dibuka oleh Alvi Syahrin dan Ardhi Mohamad, dilanjut perkenalan oleh kedua penulis. Sistem pada acara Book Tour ini adalah peserta diajak untuk memilih angka dari 1-10, lalu angka tersebut yang menentukan topik diskusi. Topik diskusi yang muncul tidak jauh dari bedah buku setiap topik dari buku-buku karya Alvi Syahrin ataupun buku karya Ardhi Mohamad, seperti Insecurity, Loneliness, dan Self Healing

Salah satu sesi yang menarik dalam Book Tour di Solo ini adalah ketika Alvi Syahrin diminta untuk membaca bab paling personal di kehidupan Alvi pada buku “Loneliness”. Disini Alvi Syahrin menceritakan bahwa dia pernah merasakan kesendirian atau kesepian selama bertahun-tahun, namun kesepian itu dapat terselesaikan beberapa bulan lalu. Alvi meninggalkan rasa kesepian tersebut dengan lebih banyak berdoa kepada Tuhan untuk bisa melepas harapan akan keberadaan seseorang. Lalu, kita lebih banyak bersyukur dan tidak mengharapkan kebahagiaan kita kepada orang lain. Alvi juga menjelaskan aktivitas berlatih berteman dengan diri sendiri seperti journaling, bisa melepaskan rasa kesepian pada diri sendiri. Menurut Alvi, orang yang kesepian itu punya standar cara peduli terhadap dirinya sendiri. Namun, standar cara peduli yang dimiliki oleh diri sendiri bisa kita terapkan ke orang lain, tetapi orang lain tidak bisa menggunakan standar cara peduli kita. Di akhir sesi diskusi, Alvi Syahrin mengatakan bahwa dia akan meluncurkan buku ketiganya dan masih bertemakan tentang permasalahan-permasalahan pada kehidupan pribadi.

Setelah menyelesaikan sesi diskusi dan penutupan, acara dilanjut dengan sesi tanda tangan dengan Alvi Syahrin dan Ardhi Mohamad. Sesi ini dibagi menjadi dua (2) jenis, yaitu kategori peserta yang membeli buku di lokasi acara dan kategori peserta yang sudah membawa buku dari rumah. Kedua kategori ini berbeda hanya pada proses antrinya, dimana peserta yang membeli buku di lokasi acara mendapat keuntungan untuk didahulukan dalam proses penandatanganan. (Cika)


Rabu, 26 Oktober 2022

Aliansi BEM UNS Gelar Konsolidasi Jelang Pemilihan Rektor UNS

Aliansi BEM UNS Gelar Konsolidasi Jelang Pemilihan Rektor UNS

 

WhatsApp Image 2022-10-26 at 12.31.51 PM
(Poster Ajakan) 

Lpmvisi.com, Solo – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar konsolidasi terbuka untuk pemilihan rektor baru UNS pada Rabu (26/10). Kegiatan yang dimulai pukul 20.30 WIB di Lapangan Gelora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ini dipimpin oleh Wakil Presiden BEM UNS, Hilmy Assidiqi, dan dihadiri oleh perwakilan dari seluruh BEM Fakultas di UNS. 

Selain menjadi bentuk partisipasi mahasiswa menjelang pemilihan rektor UNS pada November mendatang, konsolidasi ini bertujuan untuk menjadi wadah aspirasi-aspirasi mahasiswa UNS kepada calon rektor yang baru.

“Mengingat UNS saat ini sedang ada persiapan untuk pemilihan rektor UNS yang baru, oleh karena kita sebagai mahasiswa ada baiknya ikut berpartisipasi aktif dengan cara menyuarakan isu-isu atau keresahan-keresahan apa yang selama ini dimiliki oleh mahasiswa yang nantinya bisa kita sampaikan kepada rektor baru yang akan menjabat dari 2023 sampai 2028 mendatang,” ujar Hilmy.

Dalam orasinya, Hilmy berharap agar rektor selanjutnya dapat lebih merakyat terhadap mahasiswa dan mampu membawa visi misi yang manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh elemen di UNS.

“Harapan kami rektor yang baru ini dapat merakyat, dalam artian terbuka dan dekat dengan mahasiswa karena kita membutuhkan orang yang memahami isu-isu yang terjadi ditengah mahasiswa dan paham terkait solusi-solusi penyelesaiannya. Selain itu, kami juga mengharapkan sosok rektor yang tidak hanya memiliki visi yang besar tapi juga dapat mengakomodir visinya sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh elemen di UNS,” tambah Hilmy.

Pada akhir konsolidasi seluruh peserta sepakat untuk mengadakan diskusi terbuka dengan ketiga calon rektor guna membahas cara mengembangkan UNS menjadi kampus yang aman dan nyaman untuk mahasiswa, serta lobbying politik supaya kepentingan mahasiswa dapat dimasukkan ke dalam visi dan misi para calon rektor. Hilmy mengingatkan kepada seluruh mahasiswa untuk senantiasa mengawal keberjalanannya pemilihan rektor UNS yang baru dan tidak hanya menjadi sekedar isu yang lalu ketika telah ada rektor baru yang terpilih.

“Jangan sampai pemilihan rektor ini hanya menjadi ajang yang berlalu lalang karena pilihan rektor ini termasuk ajang besar dimana nasib UNS selama 5 tahun kedepan ada ditentukan di pilihan rektor ini dan ditentukan oleh siapa rektor yang terpilih. Apakah calon rektor itu yang memahami mahasiswa atau hanya memahami investor, itu harus selalu dikawal baik visi misinya, nilai yang dibawa, program kerja, dan lain sebagainya,” pungkasnya. (Bagas)