Rabu, 18 September 2019

Air Mata Air Bengawan: Bersama Mengangkat Kebesaran Bengawan Solo

Air Mata Air Bengawan: Bersama Mengangkat Kebesaran Bengawan Solo

Salah satu sudut pameran "Air Mata Air Bengawan". (Dok. Visi/Nova)

Lpmvisi.com, Solo - Bentara Budaya Solo kembali mengadakan kegiatan pameran fotografi yang bertajuk "Air Mata Air Bengawan" pada Selasa (10/09/2019) hingga Kamis (19/09/2019) di Balai Soedjatmoko.

Pameran kali ini diadakan karena diharapkan mampu mengangkat kembali kebesaran Sungai Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa. Hasil karya yang dipamerkan di sana berasal dari seniman atau fotografer yang berasal dari Solo, Yogjakarta, Jakarta dan sekitarnya. Ada sekitar 34 seniman atau fotografer yang ikut andil dalam pameran tersebut, seperti misalnya Andry Prasetyo, Dodi Sandradi, Boy Harjanti, dan lain sebagainya. Event digelar dengan serangkaian acara mulai dari pembukaan di Hari Selasa, diskusi buku dan juga pemutaran film.

Pihak Bentara Budaya Solo sengaja mengundang seniman atau fotografer guna mengirimkan hasil karya mereka yang sesuai dengan tema. Setiap seniman atau fotografer mampu menyumbangkan 1-4 karyanya. Kemudian diadakan proses kurasi oleh para kurator yang telah dianggap ahli pada bidang tersebut, hingga akhirnya karya dapat dipamerkan pada kesempatan kali itu.. Para pengunjung yang datang sebagian besar merupakan warga Solo sendiri yang beberapa di antaranya juga merupakan penikmat atau pecinta seni fotografi.

Salah satu pengunjung pameran, Budi (50) beranggapan bahwa acaranya tersebut cukup menarik baginya, "Temanya sudah bagus, tapi sisi artistiknya saja yang menonjol, harusnya sisi isi atau pesan sosial yang harusnya ditonjolkan," ujar Budi

Pada hari pertama, pameran berlangsung dengan meriah dan ramai oleh pengunjung karena dibuka langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. AN-PLUCK Band juga turut hadir untuk memeriahkan pembukaan pameran di hari tersebut. Pada hari Kamis, pameran juga diselingi oleh diskusi dengan tajuk yang sama dengan judul pameran. Dengan mengundang Subur Tjahjono yang merupakan editor buku “Ekspedisi Bengawan Solo” dan Prof. Soeprapto Soedjono sebagai salah satu fotografer sekaligus Dosen ISI Yogyakarta, diskusi membahas tentang pameran dan sedikit menyinggung mengenai buku Ekspedisi Bengawan Solo. Diskusi dimoderatori langsung oleh Risman Marah yang juga merupakan praktisi fotografi.

Bentara Budaya Solo sendiri menjadikan pameran sebagai acara rutin bersama dengan agenda-agenda lain seperti “Keroncong Bale”, “Klenengan Selasa Legen”, dll. Dengan mengusung konsep dan menggaet seniman yang berbeda-beda di setiap eventnya, Bentara Budaya Solo selalu mampu menarik masyarakat Solo untuk hadir tiap bulan maupun setiap tahunnya ke Balai Soedjatmoko. (Nova, Stella)

Selasa, 17 September 2019

Rahasia Budi dan Bawah Kasurnya

Rahasia Budi dan Bawah Kasurnya

dok. Internet


Oleh : Rachma Dania

Bel pulang sekolah sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Dengan takut-takut Budi melangkah menuju ke belakang sekolah, menemui kawannya Aryo sang bandar.

Sekolah sudah mulai sepi entah mengapa suasana itu malah makin menambah “disko” jantungnya, ingin Budi pulang saja, ‘ah kepalang tanggung’ ungkapnya dalam hati. Tinggal melewati belokan maka

“woy, lama sekali kamu bud”

Budi terjengkang kebelakang dengan posisi terlentang. Ia kaget bukan main, Aryo mengagetkannya tepat sebelum ia berbelok menuju lokasi perjanjian mereka.

“kamu ini ngapain tiduran, kaya mau di-anu aja. Aku udah bawa pesenan kamu” ujar Aryo agak berbisik

“heh jangan ngomong keras-keras, ayo ke bawah pohon mangga enggak kelihatan orang kita dari sana”

...

Budi pulang dengan perasaan campur aduk, takut, deg-degan, tapi juga penasaran. Di dalam angkot budi tak henti-hentinya memeluk kencang tasnya ia takut tasnya tiba-tiba terbuka dan menampakkan hasil transaksinya bersama Aryo, majalah dewasa TOP. Aryo memang sudah terkenal sebagai bandar bokep, biasanya ia mendapatkan barang dagangannya dari anak yang lebih tua lalu ia jual kembali setelahnya.

Begitu sampai rumah budi segera berlari ke kamarnya, ayah dan ibunya memang belum pulang. Budi segera mengunci kamar dan membuka majalah dewasa TOP nomor 17 dengan saksama dan penuh penghayatan. Covernya saja sudah menantang dengan model yang hanya mengenakan dalaman dengan talinya yang tidak terpasang dengan rapi. Semakin penasaran ia semakin membuka lembaran majalah, foto-foto tersebut membuat hidungnya kembang kempis dan badannya melemas. Kecuali satu bagian sakral di tubuhnya.

Setelah melirik pintu yang dipastikan sudah di kunci dari dalam, tangan budi mulai menuju ke celana seragam smpnya.

“Budi, kamu sudah pulang?” ucap Inggar kakak perempuan Budi satu-satunya, ia bertanya sambil berusaha membuka pintu kamar Budi.

“kok dikunci. Budi kamu lagi ngapain?”

Budi langsung menggagalkan aksinya dan menjawab sang kakak dengan lesu, dengan sedikit kebohongan. Inggar langsung pergi menuju kamarnya sendiri.

‘nanti malam saja deh, aku lanjutkan’ ucapnya dalam hati. Daripada dongkol Budi mau pergi saja bermain ps di rumah Handri salah satu sahabat baiknya. Tak lupa ia menyembunyikan majalahnya ke bawah kasur

Kebetulan saat sudah sampai di depan rumah, Handri sedang akan menghidupkan PS2nya, keluaran terbaru.
“woy Budi ayo kita main” ujar Handri yang bertemu mata dengan Budi yang memang hobi srobat-srobot masuk ke dalam sahabatnya itu.
Budipun mengangguk dan duduk di sebelah Handri, lama mereka bermain munculah perempuan usia 20 tahunan. Ia terlihat sedang membersihkan lemari yang terlihat dari ruangan Handri dan Budi bermain PS. Sontak saja Budi menjadi tak fokus, Handri berhasil memenangkan duel Guitar Hero yang mereka habis mainkan.

Mba Diah namanya, perempuan yang dibawa kedua orang tua Handri dari desa tempat neneknya berasal. Perempuan dikuliahkan Ayah Handri, ia juga banyak membantu pekerjaan rumah tangga keluarga Handri.

Menurut Budi, Mba Diah adalah orang yang cantik, dengan senyumannya yang semanis gula jawa. Tidak hanya itu, kulit Mba Diah terlihat kuning langsat dan terawat, Budi akui ia menawan. Budi senang sekali memandanginya karena selain cantik, Mba Diah juga rajin dan baik. Ia sering tersenyum ramah kepada Budi saat ia sedang mampir ke rumah kawannya itu.

Semakin sering memandangi Mba Diah entah mengapa Budi merasakan hal yang berbeda, perasaan yang deg-degan dan rasa ingin mendekati Mba Diah. Budi ingin sering membayangkan Mba Diah dan dirinya sedang jalan-jalan di pasar malam sambil bergandengan tangan, Budi ingin Mba Diah.

Akan tetapi Budi hanyalah remaja baru puber biasa, dirinya mana berani menggandeng tangan pujaan hatinya apalagi tanpa alasan. Walaupun Budi tak pernah menggandeng Mba Diah ia pernah melakukan hal yang lebih dari itu, meskipun tanpa sengaja.

Pernah suatu ketika ia lewat di depan pintu kamar Mba Diah yang terbuka seperempatnya. Melalui celah itu ia disuguhkan pemandangan mba diah yang sedang ganti baju. Langsung saja budi berkeringat dingin melihat pujaan hatinya yang setengah telanjang. Ini perasaan pertama budi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan menggebu dan panas dingin, diselingi rasa yang penasaran dan bikin nagih.

Puncaknya pada suatu malam sambil memimpikan Mba Diah, Budi mengompol tapi nikmat. Selanjutnya ia mengerti inilah yang dinamakan mimpi basah.

...

Malam sepulang dari rumah Handri, Budi langsung saja melaksanakan aksinya setelah semua orang di rumahnya tertidur. Bukan main Budi ketagihan, setelah melakukan eksekusi ia bahkan rela menyisihkan uang sakunya banyak-banyak demi majalah dan tabloid serupa yang tentunya dibeli dari Aryo.

Sudah menjadi kebiasaan ia selalu menyimpannya di bawah kasur. Secara bertahap mengecek Majalah kesukaanya tersebut hingga suatu hari ia menemukan majalahnya menghilang. Namun sebagai ganti ia menemukan majalah lain yang lebih bermutu, model-modelnya bahkan lebih cantik dan sopan.

Budi merasakan malu yang luar biasa bahkan tidak berani keluar kamar selain untuk makan. Ajaibnya majalah itu selalu berganti sesuai dengan tanggal terbitannya. Ia tentu tidak berani bertanya dan tidak ada anggota keluarga Budi yang membahasnya, semua biasa saja.

Sebenarnya selain majalah Budi juga menemukan beberapa buku tentang masa remaja dan tentang kisah cinta terkadang kisah fiksi maupun non fiksi yang membicarakan tentang masa muda dan gairah hormon yang membara. Budi secara tidak langsung memahami mana sikap yang baik dan buruk untuk melewati masa remajanya ini.

Supply majah terus berlangsung untuk waktu yang lumayan lama. Ia mengingat betul supply majalah ditutup dengan buku Di Balik Jendela SMP karya penulis Mira W. Dari situ ia mengerti bahwa membuang masa muda untuk sesuatu yang belum saatnya merupakan tindakan yang tidak keren dan juga merepotkan.

Sampai berakhirnya semua hubungan distributor dan konsumen ini berlanjut Budi sama sekali tidak tahu siapa dalang dibalik pelaku semua ini. Budi juga tidak ingin tahu, ia malah berterima kasih kepada keluarganya. Ia merasa dihargai dan disayangi oleh keluarganya, ia merasa disayangi karena keluarganya bisa memahami masa pubertasnya dan tidak pernah meributkan dan mempermasalahkan insting seksualnya.

Dan untuk Mbak Diah, ia pergi setelah menyelesaikan kuliahnya ia mengetahui kabar kepergian ini seminggu setelah pujaan hatinya pergi. Sebagai remaja tanggung yang bingung harus apa, ia merelakan Mbak Diah. Dalam lubuk hati yang terdalam Budi berterima kasih kepada Mba Diah, tanpa disadari ialah yang membimbing Budi melewati masa pubernya dan menghiasi mimpi-mimpi Budi di setiap malamnya.


Senin, 16 September 2019

Dilema Naiknya Tarif Cukai Rokok

Dilema Naiknya Tarif Cukai Rokok

dok. Internet

Oleh : Fajrul Affi Zaidan Al Kannur

Ketika membicarakan soal rokok pasti yang muncul ialah sebuah dilema. Kata “dilema" memang cocok untuk menggambarkan pro-kontra terkait keberadaan rokok masih terus berlanjut hingga sekarang. Awal mula penemuan rokok yang digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit sekarang ini mulai bergeser. Stigma yang terjadi sekarang ini menggambarkan bahwa rokok ialah suatu barang yang berbahaya dan mampu membahayakan kesehatan manusia, bahkan di iklan dan kemasan rokok pun sudah terpampang tulisan “Rokok Membunuhmu”. Memang sangat drastis perbedaan gambaran tentang rokok dahulu dengan sekarang, mengingat bahan dan kegunaan rokok dahulu dengan sekarang yang mungkin juga berbeda.

Namun, terlepas dari stereotip tentang rokok yang terjadi, harus diakui industri rokok juga memiliki peran besar terhadap Negara, yaitu sebagai sumber terbesar pendapatan Negara dari sektor pajak. Ini menjadi bukti bahwa keberadaan rokok menjadi dilema bagi kita semua, satu sisi membahayakan kesehatan manusia di lain sisi juga membantu pendapatan Negara.

Jumat (13/9/2019) setelah mengadakan rapat pemerintah memutuskan menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen. Kenaikan cukai rokok ini akan mempengaruhi harga jual rokok eceran yang ikut naik hingga 35 persen. Dilansir dari kompas.com Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan kenaikan tarif cukai rokok ini berdasarkan tiga pertimbangan, yakni mengurangi konsumsi, mengatur industri rokok, dan meningkatkan penerimaan Negara. Lantas apa saja dampak yang terjadi akibat kebijakan baru ini? berikut kemungkinan – kemungkinan yang terjadi akibat kebijakan baru ini.

Pertama, mengurangi konsumsi. Sri Mulyani mengungkapkan prevelensi jumlah orang yang menghisap rokok meningkat terutama pada anak-anak dan remaja, maka dengan kenaikan harga rokok diharapkan jumlah konsumsi rokok menurun, dengan asumsi semakin mahal harga rokok, maka orang akan berpikir dua kali untuk membeli rokok. Namun tujuan dari kebijakan ini nampaknya tidak akan terwujud melihat realita dilapangan bukanlah demikian. Dengan kenaikan harga rokok sebesar 35 persen, para perokok tidak akan meninggalkan rokok, yang terjadi ialah perokok akan beralih ke produk rokok yang lebih murah, ngelinting dewe (melinting sendiri), atau bahkan membeli rokok ilegal yang terjangkau oleh kantong mereka. Melihat fenomena ini yang terjadi bukannya tingkat konsumsi rokok menurun, tetapi justru memunculkan permasalahan baru dengan maraknya peredaran rokok ilegal akibat permintaan pasar yang meningkat.

Kedua, mengatur industri rokok. Alih  alih mengatur industri rokok kebijakan ini justru akan mematikan industri rokok dan menghilangkan mata pencaharian orang-orang yang bergantung pada industri rokok ini. Dengan harga yang terus naik daya beli masayarakat akan berkurang, akibatnya pandapatan akan berkurang dan memaksa industri rokok untuk gulung tikar. Hal ini sangat mungkin dirasakan industri rokok kecil dan menengah. Selain itu, tingginya harga rokok membuat tingkat serapan industri rokok rendah, akibatnya serapan bahan baku rokok seperti tembakau dan cengkeh juga rendah. Pihak yang paling dirugikan dalam hal ini ialah petani cengkeh dan tembakau. Data dari kementrian Pertanian tahun 2018 produksi tembakau lokal sebanyak 171.360 ton dan hampir seluruhnya diserap oleh industri rokok. Sedangkan, produksi cengkeh pada tahun 2017 mencapai lebih dari 140.000 ton dan hampir 90 persen juga diserap industri dalam negeri sebagai bahan baku rokok. Jika, harga rokok naik dan daya serap industri rokok terhadap cengkeh dan tembakau menurun, lagi-lagi yang dirugikan ialah petani.

Oligopoli Industri Rokok

“Hidup segan mati tak mau” mungkin kalimat itu tepat untuk menggambarkan industri rokok kecil-menengah. Dengan kenaikan cukai rokok otomatis mau tidak mau mereka harus menaikkan harga rokok, dengan konsekuensi mereka kehilangan konsumen karena konsumen lebih memilih untuk membeli rokok lain yang lebih murah. Selain itu, kenaikan harga rokok ini juga berpotensi menimbulkan monopoli, karena jikalau banyak industri rokok yang gulung tikar dan hanya menyisakan industri – industri besar, akibatnya mereka bisa menguasai pasar dan memainkan harga sesuai keinginan mereka. Bila ini terjadi maka persaingan di industri rokok sudah tidak sehat lagi.

Hal ini tentunya berkaitan dengan pernyataan Sri Mulyani yang ketiga, mengenai meningkatkan penerimaan Negara. Dengan menaikkan tarif cukai rokok diharapkan penerimaan Negara juga meningkat. Mungkin logika ini sedikit bertolak belakang dengan tujuan dari kebijakan ini, yaitu untuk mengurangi tingkat konsumsi rokok. Asumsinya, walaupun tarif cukai rokok naik, jika tingkat produksi berkurang. Maka, tingkat pendapatan juga akan sama saja, atau justru menurun penerimaannya. Maka, menurut penulis pertimbangan menaikkan tarif cukai agar penerimaan Negara meningkat bisa jadi tidak akan tercapai.

Langkah pemerintah untuk menaikkan tarif cukai rokok sebetulnya memiliki tujuan yang baik. Namun, jika tidak dibarengi dengan perencanaan yang matang justru dapat memunculkan permasalahan baru. Menaikkan tarif cukai rokok otomatis akan menaikkan harga rokok. Hal ini bisa mengurangi tingkat konsumsi rokok, namun juga bisa menimbulkan masalah baru seperti maraknya peredaran rokok ilegal. Karena seorang perokok tidak akan begitu saja berhenti merokok hanya karena mahalnya harga rokok, mereka akan memutar otak dengan membeli rokok ilegal yang lebih murah atau melinting rokok sendiri. hal ini telah terbukti ketika tahun lalu pemerintah menaikkan tarif cukai rokok untuk mengurangi tingkat konsumsi, hasilnya pun kurang signifikan.

Masalah lain yang ditimbulkan akibat kenaikan cukai rokok ialah, banyak industri rokok khususnya industri kecil-menengah akan gulung tikar. Ketika banyak industri rokok yang gulung tikar, maka otomatis daya serap industri rokok terhadap bahan baku rokok seperti tembakau dan cengkeh akan berkurang dan yang akan dirugikan adalah petani, jika petani kehilangan mata pencahariannya maka pengangguran akan bertambah dan kemiskinan akan meingkat. Rantai kehidupan seperti ini akan terus berurutan. Maka dari itu, pemerintah perlu berhati-hati dalam menetapkan kebijakan dan dibarengi dengan perencanaan yang matang. Selain itu dalam menetapkan kebijakan seyogyanya pemerintah juga melibatkan pihak-pihak yang terkait, misalnya dalam hal ini ialah pelaku industri rokok, perokok, petani cengkeh, dan juga petani tembakau. 

Jumat, 13 September 2019

RUU KPK Disetujui, Presiden Nampaknya Ingin Kembali ke Masa Lalu

RUU KPK Disetujui, Presiden Nampaknya Ingin Kembali ke Masa Lalu


oleh: Rachma Dania

(dok. internet/ harnas.co)

Sepeninggalnya Presiden B J Habibie pada Rabu (11/09/2019) seakan memberikan pernyataan patah hati yang sesungguhnya bagi bangsa Indonesia. Seakan belum kering, luka tersebut ditambah dengan siraman air garam atas direstuinya revisi Undang- Undang (UU) KPK lewat Surat Presiden (Supres) oleh Presiden kita saat ini Joko Widodo kepada DPR RI.

Sebagaimana dikutip pada laman resmi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yakni www.kpk.go.id tertulis 10 persoalan di Draft RUU KPK yang dianggap bisa melemahkan dan juga mengganggu fungsi dari KPK itu sendiri. Berikut ringkasan dari poin-poin penting persoalan di Draft RUU KPK:

Independensi KPK Terancam
Dituliskan bahwa KPK tidak disebut lagi sebagai lembaga independen yang bebas dari pengaruh kekuasaan manapun. Selain itu hal ini diperkuat dengan dijadikannya posisi KPK sebagai lembaga Pemerintah Pusat. Selanjutnya pegawainya berstatus ASN/PNS

Penyadapan dipersulit dan dibatasi. Penyadapan hanya dapat dilakukan setelah ada izin dari Dewan Pengawas. Sementara itu, Dewan Pengawas dipilih oleh DPR dan menyampaikan laporannya pada DPR setiap tahunnya; Penyadapan diberikan batas waktu 3 bulan.

Pembentukan Dewan Pengawas yang dipilih oleh DPR. DPR memperbesar kekuasaannya yang tidak hanya memilih Pimpinan KPK tetapi juga memilih Dewan Pengawas. Dewan Pengawas ini akan bertanggung jawab kepada DPR atas tanggung jawabnya mengawasi KPK

Sumber penyelidik dan penyidik dibatasi. Penyelidik KPK cuma berasal dari Polri. Adapun penyidik KPK berasal dari Polri dan PPNS (tak ada lagi penyidik dan penyelidik independen.

Penuntutan perkara korupsi harus koordinasi dengan Kejaksaan Agung

Perkara yang mendapat perhatian masyarakat tidak lagi menjadi kriteria

Kewenangan pengambilalihan perkara di penuntutan dipangkas. KPK tidak lagi bisa mengambil alih Penuntutan sebagaimana sekarang diatur di Pasal 9 UU KPK

Kewenangan strategis pada proses penuntutan dihilangkan. KPK tidak berwenang lagi melakukan pelarangan bepergian ke luar negeri, menghentikan transaksi keuangan terkait korupsi, meminta keterangan perbankan, serta meminta bantuan Polri dan Interpol.

KPK bisa menghentikan penyidikan dan penuntutan

Wewenang KPK mengelola pelaporan dan pemeriksaan LHKPN dipangkas. Lembaga ini hanya bisa melakukan koordinasi dan supervisi terkait LHKPN.

10 poin tersebut merupakan poin-poin yang nantinya bisa saja tewujud. Poin-poin tersebut seakan merubah dari dasar pembentukan KPK itu sendiri yakni pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002.

UU tersebut menyebutkan bahwa Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diberi amanat melakukan pemberantasan korupsi secara profesional, intensif, dan berkesinambungan. KPK merupakan lembaga negara yang bersifat independen, yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bebas dari kekuasaan manapun.

Pelemahan terhadap KPK seakan bukan ungkapan yang berelebihan hal inipun juga diamini oleh lembaga Ombudsman yang menyebutkan ada beberapa keganjilan sebagaimana dilansir dari laman resmi tirto.id

Dituliskan bahwa RI Ninik Rahayu selaku Komisioner Ombudsman menyatakan keganjilan pada RUU ini karena tidak memasukan KPK sebagai institusi yang berkenaan langsung dengan pembahasan RUU KPK.  Kejadian ini berbanding terbalik dengan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang dalam pembahasannya melibatkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak atau surpres revisi UU Kesehatan yang melibatkan Kementerian Kesehatan.

Melihat dari poin perubahan diatas KPK akan ada di bawah pemerintahan DPR lewat Dewan Pengawas, lalu dimana independensinya? Korupsi bisa berasal dari mana saja bahkan tak menutup kemungkinan dari pihak elit pemerintahan sendiri yang melakukannya.

Apablia RUU KPK benar disahkan fungsi lembaga KPK kelihatannya akan kembali kepada lembaga-lembaga pemberantasan korupsi terdahulu yang lebih terkenal akan kegagalannya dalam memberantas Korupsi. Sebut saja Bapekan, Paran, Operasi Budhi, dan Kotrar karya presiden Soekarno.

Atau bahkan KPK kini seolah sedang dikembalikan menjadi lembaga setengah hati dalam memberantas korupsi, seperti pada pada masa Orde Baru yakni Tim Pemberantas Korupsi (TPK). Pada akhirnya lembaga ini tidak memiliki taring yang cukup tajam untuk menguak kasus korupsi yang pernah terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru.

Kejadian ini mengingatkan penulis terhadap salah satu karya puisi milik Widji Thukul, yang dikenal sebagai sastrawan dan juga aktivis HAM yang hilang dan tidak ditemukan hingga sekarang. Berikut puisinya:

PERINGATAN

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.

(Wiji Thukul, 1986)

Rabu, 11 September 2019

Mimbar Terbuka Peringati 15 Tahun Misteri Kematian Munir

Mimbar Terbuka Peringati 15 Tahun Misteri Kematian Munir


Lpmvisi.com, Solo- 15 tahun berlalu,  pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir masih menyimpan misteri dibaliknya. Alasan inilah yang yang menjadi salah satu alasan bagi Badan Eksekutif (BEM) Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk mengadakan acara mimbar bebas Munir dan Penegakan Hukum HAM di Indonesia.

“Jelas kita perlu memperingatui hal seperti ini karena kita merawat ingatan dan menolak lupa mengenai permasalahakan HAM dan penegakan hukum di Indonesia” ujar Muhammad Rizki Almalik selaku Menteri Pengetahuan dan Siasat Gerak BEM UNS 2019.

Selanjutnya, ia menyebutkan bahwa sebenarnya permasalah tersebut tidak sebatas kasus Munir, masih ada kasus Semanggi II, kasus G30S dan lain sebaganya. Ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa dengan adanya kasus tersebut beserta ketidakjelasannya, bisa jadi penyuara pendapat yang lain akan bernasib sama  seperti Munir.

Ia mengungkapkan bahwa pemerintah sebenarnya dahulu pernah membuat tim khusus untuk menyeldiki kasus munir, namun hingga kini belum diketahui kejelasan mengenai dalang pembunuhannya.

“Maka hari ini saya bisa menyimpulkan bahwa pemerintah masih gagal dalam menangani HAM masa lalu” imbuhnya. 
Beberapa mahasiswa turut meramaikan Mimbar Bebas Munir yang diselenggarakan BEM UNS

Munir sendiri bernama lengkap Munir Said Thalib merupakan aktivis HAM yang diketahui dibunuh dengan racun pada saat perjalanannya ke Amsterdam. Pada saat dibunuh ia bahkan belum menyentuh usia 40 tahun.

Seperti yang dikutip pada e-book Menulis Munir dan Merawat Ingatan yang disunting oleh Amalia Puri Handayani bahwa semasa hidupnya ia banyak membela kepentingan petani, buruh dan mahasiwa. Ia banyak membantu terutama di bidang hukum, hal ini terkait dengan disiplin keilmuan yang ia pelajari semasa kuliah yakni Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya.

Dituliskan dari sumber yang sama, untuk memahami penderitaan para buruh ia hidup dan bergaul juga bersama para buruh. Hal ini menjadikannya sebagai pemebelajar yang tidak hanya mengandalkan buku-buku akademis tentang hak-hak asasi manusia. Ia banyak membela kaum buruh terutama yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah, salah satunya adalah pembelaannya terhadap Marsinah pada tahun 1993.

Akan tetapi dapat disayangkan bahwa mimbar terbuka yang dilaksanakan terlihat tidak bisa menarik atensi besar mahasiswa. Hal inipun diamini oleh Muhammad “Sebenanya hal-hal seperti ini yang mulai luntur di mahasiswa” ungkapnya kepada VISI.

“Oke akademis itu ngga salah. Cuma kita perlu melakukan hal-hal seperti ini karena siapa lagi yang  bisa mengontrol pemerintah kalo bukan mahasiswa? Memang ada DPR tapi bisa dilihat DPR aja seperti itu” ungkapnya.

Pendapat ini juga disepakati oleh Ahmad mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) 2018 yang turut mengikuti acara mimbar terbuka tersebut.

“Kalo menurutku antusiasmenya masih kurang ya, bisa dilihat semakin sore lingkarannya semakin menyusut dan semakin menyusut” ungkapnya.

Sedangkan untuk Ahmad sendiri menyatakan alasannya mengikuti mimbar terbuka tersebut karena kekagumannya kepada munir semasa hidupnya. Ia juga menyayangkan bahwa kematiannya merupakan kematian yang penuh dengan kejanggalan

“Kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya namun kematian itu penuh pertanyaan yang penuh kejanggalan dan tidak terjawab hingga saat ini” ujarnya.

Akan tetapi bukan semua kesalahan mahasiswa ketika mimbar terbuka ini serasa kurang peminat. Muhammad turut mengakui bahwa sedikitnya peserta yang datang bisa jadi sejalan dengan publikasi acara tersebut yang hanya dilakukan dengan waktu singkat. Publikasi dimulai dari Jumat melalui publikasi tidak resminya, sedangkan untuk publikasi resmi baru diunggah di instagram sehari sebelum acara resmi yang dilaksanakan pada Selasa (10/09/2019).


Senin, 15 Juli 2019

Di Tengah Kemajuan Modernisasi, Pementasan Wayang Orang Sriwedari Tetap Eksis

Di Tengah Kemajuan Modernisasi, Pementasan Wayang Orang Sriwedari Tetap Eksis

Para pemain memerankan toko pewayangan dalam pertunjukan Wayang Orang Sriwedari di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo. Pencahayaan dan tata panggung yang epik menambah daya tarik pertunjukan ini. (Dok. Pribadi)
Kota Budaya merupakan julukan bagi Kota Solo yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Kota yang kaya akan kebudayaan ini memiliki berbagai destinasi pariwisata. Salah satu destinasi pariwisata unggulan yang ditawarkan oleh Pemerintah Kota Solo adalah pertunjukan wayang orang Sriwedari. Pertunjukan wayang orang Sriwedari menjadi salah satu destinasi malam di Kota Solo yang bisa menjadi pilihan wisata untuk dikunjungi bagi wisatawan domestik maupun wisatawan asing yang ingin lebih mengenal kekayaan budaya Indonesia.

Pertunjukan wayang orang Sriwedari merupakan sebuah destinasi budaya yang tetap eksis di tengah-tengah perkembangan zaman modern. Ditemui di sela-sela persiapan pagelaran, Harsini (47), menjabat koordinator kostum merangkap sutradara dari pementasan wayang orang Sriwedari. Selama 29 tahun kariernya dalam pagelaran wayang orang Sriwedari, Harsini hampir telah melakoni semua posisi bidang di tempat kerjanya itu. Dari situlah, banyak pengalaman yang diperoleh dan wayang orang Sriwedari dapat diselami oleh Harsini.  Harsini mengatakan bahwa pertunjukan wayang orang Sriwedari pada tahun ini akan berusia 109 tahun. Kunci dari tetap eksisnya pertunjukan wayang orang Sriwedari adalah bahwa dalam menampilkan pertunjukannya selalu mengikuti perkembangan zaman, begitu katanya.

Ide garapan baru muncul dari para pemain dan sutradara wayang orang Sriwedari. Dengan pemeran yang rata-rata adalah seniman kaliber berat, bahkan rata-rata sudah lulus sarjana bahkan ada yang sudah menjadi pegawai negeri sipil (PNS), kualitas pementasan wayang orang ini tak perlu dirugikan lagi. Kualitas tersebut telah dipertahankan sejak 109 tahun yang lalu dimana Wayang Orang Sriwedari pertama kali berdiri. Iyem (52), mengaku bahwa keterlibatannya dalam pertunjukan wayang orang Sriwedari adalah bukti dari rasa “handarbeni” terhadap budaya kesenian tradisi. Ide-ide garapan baru itu lah yang membedakan pertunjukan wayang orang Sriwedari dengan pertunjukan wayang orang lainnya. 

“Biasanya satu pentas/lakon paling lama 2,5 sampai 3 jam terhitung dari jam 8 sampai selesai. Itu tergantung pemainnya telat apa nggak, atau kalo misal ada pemain yang ijin mendadak mencari pemain pengganti kan butuh waktu juga,” ungkap Harsini. Satu kali pementasan biasanya akan bertemakan sebuah lakon atau kisah yang diambil dari kitab Mahabarata atau Ramayana.

Okupansi penonton pun bervariasi, namun biasanya mencapai puncaknya pada hari Sabtu malam Minggu atau pada saat hari libur. Penonton wayang orang Sriwedari mayoritas merupakan warga asli Kota Solo, pelajar, wisatawan domestik, bahkan wisatawan mancanegara yang ingin melestarikan dan juga mengatahui mengenai kebudayaan Jawa. Satu hal yang menarik dari pertunjukan wayang orang Sriwedari adalah pertunjukan selalu dilakukan secara spontan, dengan keunikan dari tiap produksi suasana dan cerita oleh tiap pemain yang membuat wayang orang Sriwedari otentik, dan selalu unik pada setiap pementasannya. Selain itu komedi yang ditampilkan oleh para tokoh Punakawan juga menjadi daya tarik. Handayani (32) yang merupakan penonton setia pertunjukan wayang orang Sriwedari mengatakan bahwa wayang orang Sriwedari tidak pernah kehabisan ide untuk terus menggarap pertunjukannya. Hal tersebut yang membuat Handayani tidak pernah bosan dengan pertunjukan wayang orang tersebut.

Pertunjukan wayang orang Sriwedari ini digelar setiap hari Senin hingga Sabtu dan dimulai pada pukul 20.00 WIB bertempat di Gedung Wayang Orang Sriwedari Solo. Untuk menontonnya, pengunjung dikenakan tarif biaya yang cukup miring mulai dari Rp.5000,- hingga Rp.10.000,- untuk kelas VIP. Pementasan wayang menampilkan lakon yang berbeda setiap harinya. Hal ini bertujuan agar para penonton yang terdiri dari berbagai kalangan usia tidak merasa bosan. Durasi waktu pertunjukan kurang lebih 3 jam, tergantung pada lakon yang dimainkan. Oleh karena itu di tengah-tengah perkembangan zaman modern ini, Wayang Orang Sriwedari merupakan destinasi pariwisata yang tetap eksis dan menjadi destinasi wisata unggulan Kota Solo yang patut untuk di kunjungi. (Bimbi, Novan, Pradipta, Rizka, Romero)

Sabtu, 29 Juni 2019

PKM Sebagai Sarana Pengembangan Potensi Daerah

PKM Sebagai Sarana Pengembangan Potensi Daerah

Salah satu peserta program mencoba alat pembuat mie dengan didampingi tim PKM. (Dok, Pribadi)

Jika kita terjun ke dunia kampus, kita tidak akan asing lagi dengan kegiatan PKM. PKM adalah singkatan dari Program Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Dikti guna memberi ruang untuk para Mahasiswa menunjukkan kreativitasnya. PKM merupakan salah satu bentuk upaya yang dilakukan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M), Ditjen Dikti dalam meningkatkan kualitas peserta didik (mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan meyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian serta memperkaya budaya nasional. Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang cendekiawan, wirausahawan serta berjiwa mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggungjawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni. Ada enam jenis PKM yang biasa dilaksanakan setiap tahun yaitu: PKM Penelitian (PKMP), PKM Kewirausahaan (PKMK), PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM), PKM Penerapan Teknologi (PKMT), PKM Gagasan Tertulis (PKM GT), dan PKM Artikel ilmiah (PKM AI).

Alma, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional  UNS beserta ketiga temannya yakni Herlina, Atika dan Krisna memilih untuk membuat PKMM dengan mengembangkan ide Mie Labu Kuning guna memberdayakan masyarakat Desa Majasem, Kec. Kendal, Kab. Ngawi, Jawa Timur. Alma memilih Mie Labu Kuning karena labu adalah produk yang paling banyak dihasilkan oleh desa tersebut. Setiap pekarangan rumah di sana pasti ditumbuhi tanaman labu. Oleh sebab itu, labu menjadi sumber penghasilan dari sebagian besar masyarakat Desa Majasem. Namun, karena hampir seluruh masyarakatnya menjual buah labu secara utuh, hal tersebut terkesan biasa saja. Itu lah yang kemudian membuat Alma memiliki ide agar masyarakat Desa Majasem tidak hanya menjual buah labu utuh tetapi menjual sebuah produk yang berbahan labu yang dapat menarik para pendatang. Dan tercetuslah ide membuat Mie Labu Kuning yang dapat dijadikan  salah satu oleh-oleh khas Desa Majasem selain buah labu utuh.
Tim PKM FISIP, dari kiri, Alfaradi Krisna Ocsyta (Sosiologi 2018), Atika Susilo Putri (Ilmu dan Teknologi Pangan 2016), Austiva Alma Rahmawati Hasyim (Hubungan Internasional 2017), dan Herlina (Hubungan Internasional 2017)

Awal mulanya, Alma sempat bimbang ingin mengikuti program PKM ini atau tidak. Disamping bingung ingin mengajak siapa yang mau ikut bergabung dengan PKM-Nya, ia juga bingung ingin membuat PKM mengenai apa. Hingga kemudian Alma mengikuti banyak seminar-seminar di kampus yang membahas seputar PKM yang dapat menambah pengetahuannya. Dan juga mendapat saran dari dosennya, akhirnya ia memutuskan untuk membuat PKM ini. Ia memilih Desa Majasem sebagai objek PKM kali ini karena itu adalah desa tempat asalnya sehingga ia mengetahui seluk beluk hingga watak masyarakatnya.  Alma dan tim PKM-nya datang kesana untuk melakukan sosialisasi dan mengajari masyarakat step by step produksi Mie Labu Kuning. Bahkan mereka juga menyediakan alat-alat guna membantuk proses produksi.
Ketua Tim menyampaikan materi kepada masyarakat tentang manfaat labu kuning dan kandungannya
Foto Bersama dengan bapak kepala desa dan perwakilan dinas koperasi dan UMKM Ngawi

Saat pertama kali ingin mengembangkan PKM ini, Alma sempat merasa kesulitan. Kesulitan yang dialaminya diantaranya adalah mengumpulkan orang-orang yang benar-benar memiliki niat untuk bergabung di kelompoknya, hingga pada masalah jarak tempuh dari Kota Solo ke Kota Ngawi sendiri yang menyulitkan mereka untuk melaksanakan program pemberdayaan masyarakat. Namun, berbagai rintangan itu pun dapat di lewati Alma beserta kawan-kawannya dengan lancar. Kini masyarakat Desa Majasem sudah dapat membuat Mie Labu Kuning sendiri. Tapi untuk saat ini, Mie Labu Kuning baru bisa dikonsumsi masyarakatnya sendiri karena tim PKM masih menunggu surat ijin dari BPOM untuk dapat menjual produk Mie Labu Kuning. (Fitri, Naila)

Rabu, 26 Juni 2019

Perkenalkan Pariwisata Digital, D3 Pariwisata UNS Gelar Tourism Expo

Perkenalkan Pariwisata Digital, D3 Pariwisata UNS Gelar Tourism Expo

Ikon UNS Tourism Expo 2019 yang terletak di pintu masuk lokasi (24/06/2019). (Dok. Pribadi)

Lpmvisi.com, Solo - Senin (23/06), mahasiswa D3 Usaha Perjalanan Pariwisata Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2017 dan 2018 menyelenggarakan sebuah acara bertajuk UNS Tourism Expo 2019. Mengangkat tema “Road to Digital Tourism”, kegiatan ini menggabungkan konsep tradisional dan modern dalam dunia pariwisata. Bertempat di Danau UNS, acara yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 22.00 WIB ini berupaya menarik mahasiswa UNS, masyarakat sekitar, agen travel, serta pengurus desa wisata. Expo tersebut diisi oleh booth kuliner, kerajinan tangan, desa wisata, serta info tour and travel. Tak hanya itu, Expo ini juga dimeriahkan dengan berbagai lomba dan pertunjukan musik.

“Alasan dalam memilih tema ini adalah perkembangan zaman yang pesat dan perkembangan teknologi. Digital tourism sendiri mengarah ke sekarang pesan hotel dan tiket transportasi dengan digital,” tutur panitia divisi acara, Restu Ning. “Tema ini berbeda dengan tahun lalu yang mengambil tema tradisional, masih banyak dolanan-nya kayak congklak dan egrang. Kalo yang sekarang dibanyakin travel dan desa wisata kerajinannya.”

Dr. Deria Adi Wijaya, S.ST.Par., M.Sc., selaku Kepala Program Studi D3 Usaha Perjalanan Pariwisata UNS menyampaikan dukungannya. Ia menyampaikan jika acara ini sudah ketiga kalinya digelar, dan kali ini menargetkan agar pengunjung melek media. UNS Tourism Expo 2019 juga merupakan bagian dari pemenuhan tugas akhir semester bagi mahasiswa program studi tersebut. Pihak kampus dan usaha ekonomi kreatif dari mahasiswa menunjang berlangsungnya acara ini.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pertunjukan musik secara live oleh beberapa band indie, seperti Trox, BerryRock, dan Nomaden. Kehadiran OUTPLAIN, dan KKMS (Komunitas Keroncong Muda Surakarta) sebagai bintang tamu juga ikut menambah kemeriahan acara. Tidak hanya hiburan, panitia juga memasukkan agenda talkshow bersama Pembimbing Desa Wisata, Hannif Andy Al-Anshori, untuk menambah wawasan seputar pariwisata. Berbagai kompetisi turut diselenggarakan untuk melengkapi acara, yaitu speech contest, fotografi, dan tour package yang dibuka untuk umum. Pengumuman pemenang dilakukan pada sore hari sebelum acara ditutup. Penampilan dari DJ Henry pada akhir acara berlangsung semarak dengan diiringi oleh antusiasme pengunjung yang tinggi. (Ainaya, Anita, Dea, Naila, Yulita)