Selasa, 10 Mei 2022

Mahasiswa dalam Roda Pendidikan Bangsa

Mahasiswa dalam Roda Pendidikan Bangsa

 


(Sumber: Pinterest)




Oleh : Nadila Urlia Putri SP


Bulan Mei sebagai bulan Pendidikan Nasional. Bertepatan dengan lahirnya pionir pendidikan di Indonesia, Raden Mas Soewardi Suryaningrat atau biasa dikenal Ki Hajar Dewantara pada 2 Mei 1889. Beliau adalah seorang aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, politisi, dan mantan Menteri Pengajaran Republik Indonesia. Sepak terjangnya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan pendidikan Indonesia pada zaman kolonial patut diacungi jempol. 

Terlahir dari keluarga ningrat yang membuatnya tidak kurang dalam ilmu pengetahuan, membuatnya memiliki pemikiran yang progresif, komunikatif, dan patriotik sehingga dapat membangkitkan nasionalisme masyarakat Indonesia. Saat masih muda, beliau bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar seperti De Express, Oetosan Hindia, Tjahaja Timoer dan beberapa yang lain. Selain aktif dalam menulis, dia juga aktif dalam berorganisasi bersama teman-temannya yang dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Perjuangannya bersama teman-temannya itu sering membuat Belanda merasa terancam. Sampai suatu ketika, Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, dan Cipto Mangoenkoesoemo dijatuhi hukuman pengasingan. Mereka memilih diasingkan ke Belanda. Bisa dilihat, betapa mereka menghargai pendidikan karena saat menjalani pengasingan mereka masih dapat menimba ilmu. Setelah pulang ke Indonesia, barulah “pertarungan” dimulai. Ki Hajar Dewantara dan rekan seperjuangannya menggunakan pendidikan sebagai alat perebut kemerdekaan.

Melihat perjuangannya yang berbuah manis seperti sekarang ini, tentu sebagai penerus bangsa kita harus bisa melanjutkan perjuangannya. Bagi generasi muda seperti mahasiswa, seharusnya hal ini sudah tidak menjadi hal yang asing. Mahasiswa yang dikenal sebagai kaum intelektual pembawa perubahan tentu sudah matang mengenai hal ini. Mahasiswa harus menampakkan kontribusinya secara konkret di kehidupan sebenarnya. Banyaknya hambatan yang dihadapi, membuat keberjalanan pendidikan Indonesia terkadang terasa lamban sehingga membutuhkan gebrakan baru agar semakin maju.

Lantas, bagaimana peran mahasiswa dalam peningkatan kualitas pendidikan Indonesia? Melihat konteks Indonesia memang terlihat luas dan sulit. Namun, dalam usaha peningkatan kualitas ini tentunya disesuaikan dengan porsi mahasiswa. Memiliki pikiran positif bahwa pendidikan bermakna penting dan masif bagi kemajuan bangsa, maka ada dorongan tersendiri nantinya. Berkaca pada sejarah pendidikan di masa lampau tentunya dapat memberikan suatu pencerahan bagi mahasiswa untuk berkontribusi.

Mahasiswa sebagai agent of change memang terdengar sebagai peran yang berat. Pemikiran mahasiswa yang modern dan solutif dapat memberikan alternatif baru untuk mengubah pendidikan Indonesia menjadi lebih terarah. Rasa gengsi mahasiswa yang cenderung tinggi seharusnya dimanfaatkan ke arah kebaikan. Mahasiswa dapat meninggikan gengsinya pada saat ia mampu memberikan kontribusi konkret bagi pendidikan bangsa sehingga dapat memotivasi yang lain untuk memberikan pergerakan baik pula.

Selain itu, pemikiran kritis mahasiswa juga harus digunakan dengan baik. Dalam bidang pendidikan misalnya, mahasiswa dapat mengkritisi pemimpin bangsa yang zonk dalam membangun Indonesia. Mereka yang sering mengadakan demonstrasi terkait perubahan bangsa baik dalam kepemimpinan maupun penyelenggaraannya adalah salah satu dari pemanfaatan pikiran kritis mahasiswa. Hal ini tentunya perlu disertai bukti real dan memberikan alternatif bagaimana seharusnya tatanan Indonesia diselenggarakan.

Dalam dinamika teknologi yang semakin maju ini, mahasiswa dapat memanfaatkan kemajuan teknologi di era Revolusi Industri 5.0 ini sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Contohnya, menciptakan suatu pembelajaran berbasis teknologi atau e-learning yang diterapkan pada masyarakat. Pembelajaran e-learning ini identik dengan animasi dan display yang menarik sehingga menarik minat masyarakat tempat mahasiswa tersebut mengabdi. Dengan cara seperti ini pula, ilmu atau pengajaran yang disampaikan tidak membosankan dan mudah terserap masyarakat khususnya anak-anak.

Sebagai mahasiswa yang tak jauh dari kehidupan akademi, seharusnya kita dapat berperan sebagai pengajar di masyarakat. Mahasiswa dapat menjadi semacam relawan yang turun ke pelosok masyarakat dan mengabdikan dirinya untuk berbagi ilmu. Keahlian public speaking yang baik serta penampilan yang menyenangkan harus dimiliki mahasiswa. Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang baik antara motivasi dan fisik mahasiswa sehingga ia memiliki pembawaan yang tidak membuat takut ataupun bosan.

Mahasiswa juga dapat melakukan usaha filantropi. Mengingat bahwa tidak semua masyarakat Indonesia memiliki biaya cukup untuk merambah pendidikan, maka mahasiswa dapat melakukan aksi semacam penggalangan dana untuk mereka yang ekonominya lemah. Selain dana, mahasiswa juga dapat mengadakan semacam kelas gratis bagi masyarakat sehingga sedikit banyak membantu mereka untuk sekadar membaca dan menulis. Hal ini tentunya sangat menciptakan perubahan baru saat nantinya penduduk Indonesia dapat tercatat 0% buta huruf.

Mahasiswa harus berbekal motivasi yang besar dalam menciptakan perubahan. Membuka mata dan hati lebih luas lagi dalam melihat peranan pendidikan bagi kemajuan bangsa akan memberi dorongan untuk mengadakan inovasi baru pembawa kemajuan. Mahasiswa Indonesia harus beraksi tidak hanya berteori dan berpikiran sempit bahwa pendidikan hanya untuk mencari pekerjaan bukan untuk memajukan bangsa. Pendidikan adalah kuci pembuka dunia. Pendidikan perlu dimajukan agar mencetak bangsa yang terdidik dan mampu menggebrak dunia. Hidup mahasiswa! (Nadila)


Sabtu, 30 April 2022

Pemkot Surakarta Kembali Gelar “Solo Menari” untuk Peringati Hari Tari Sedunia

Pemkot Surakarta Kembali Gelar “Solo Menari” untuk Peringati Hari Tari Sedunia

 

(Dok. Fina)


Lpmvisi.com, Solo – Pemerintah Kota Surakarta gelar event Solo Menari 2022 secara hybrid Sabtu (29/04/2022).

Solo Menari Tahun 2022 digelar hybrid melalui kanal YouTube dan lima titik lokasi di Kota Solo. Live streaming dapat disaksikan di channel Disbudpar Surakarta, Pariwisata Solo, dan GibranTV. Adapun event juga digelar di Lobby Utama Solo Square, Loji Gandrung, area Pasar Antik Ngarsopura, area parkir McD Slamet Riyadi, dan halaman Balaikota Surakarta.


(Dok. Cisya)


Tak hanya itu, Kirab Budaya dimulai pukul 16.30 WIB yang dihadiri oleh Walikota Solo, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, KGPAA Mangkunagoro X dan KGPAA Hamangkunagoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram dari Hotel the Royal Surakarta Heritage sampai di Balaikota Solo.


(Dok. Cisya)


Solo Menari merupakan acara yang digelar untuk memperingati hari tari dunia. Tahun ini mengangkat tema Gatra Manggala Muda dan dimeriahkan oleh puluhan penari di berbagai titik. 

Balaikota Surakarta menjadi lokasi terakhir dalam acara Solo Menari. Antusiasme masyarakat, cukup tinggi terlihat dari ramainya pengunjung baik anak-anak maupun orang dewasa. “Saya sudah di sini dari jam empat mau menunggu Kirab Budaya, ujar Nur saat diwawancarai VISI. Mereka bahkan sudah berada di lokasi dan menunggu di sekitar halaman Balaikota Surakarta sebelum acara dimulai. 

“Saya baru pertama kali nonton, saya pengen liat acara tarinya, saya juga pengen ketemu Pak Sandiaga dan Mas Gibran”, ujar Nur (19). Selain rasa penasaran, hadirnya tokoh-tokoh penting menjadi salah satu daya tarik pengunjung untuk menyaksikan acara ini. 

Selama acara berlangsung, para pengunjung menyaksikan dari sekeliling halaman Balaikota Surakarta. Tidak jarang mereka memotret dan merekam untuk mengabadikan momen-momen di setiap rangkaian acara. 

Pertunjukan tari ini sangat memukau setiap orang yang menyaksikannya. Meskipun mendekati waktu berbuka puasa, para pengunjung masih setia berada di lokasi hingga akhir acara. Cuaca di sore itu juga mendukung berjalannnya acara, tidak panas dan tidak hujan pula. 


(Dok. Fina)


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno menegaskan bahwa event Solo Menari dapat mempromosikan Solo sebagai kota budaya. 


(Dok. Fina)


Kemudian acara ditutup dengan pelepasan anak panah ke atas kanopi Balaikota oleh Gibran, Jan Ethes, Sandiaga, KGPAA Mangkunagoro X, dan KGPAA Hamangkunagoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram (Cisya, Fina).

Ajining Dhiri Gumantung Saka Lathi

Ajining Dhiri Gumantung Saka Lathi

 

(Dok. Pinterest)

Oleh: Royhan Anwar

     Lathi atau yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai lidah memiliki peranan penting sebagai media komunal. Tiap huruf yang kita ucapkan terbentuk melalui lidah. Kata-kata yang kita rangkai juga tercipta di sana. Untaian kata yang keluar tentunya tak lepas dari keinginan manusia dalam menyampaikan pikiran dan perasaannya. Hal ini sejatinya mengandung arti bahwa tiap insan memiliki kendali dan tanggung jawab penuh terhadap lidahnya. Jangan sampai apa yang mereka lontarkan merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

     Selain berperan sebagai alat komunikasi, lathi juga diyakini sebagai barometer baik-buruknya tabiat seseorang. Pandangan ini telah berkembang sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun, terutama dalam komunitas suku Jawa. Tak heran, mereka mampu melahirkan falsafah "ajining dhiri gumantung saka lathi" yang berarti bahwa harga diri dan martabat seseorang tergantung dari bagaimana mereka menjaga lisannya. Terciptanya falsafah tersebut juga tak lepas dari karakter bahasa Jawa sendiri yang memiliki keunikan.

     Bahasa Jawa memiliki bentuk tingkat tutur bahasa atau level of speech yang khas. Penggunaan kata-katanya disesuaikan dengan kondisi sang penutur dengan mitra tutur, seperti penggunaan bahasa Jawa Krama bagi kawula muda untuk berbicara dengan orang yang lebih tua. Hal ini secara tidak langsung menumbuhkan karakter empan papan dan sopan santun bagi masyarakat Jawa. Berkomunikasi menggunakan diksi Jawa yang tepat adalah hal vital dalam masyarakat Jawa. Seseorang yang tak mampu menempatkan level berbahasa dengan kondisi diri dan mitra tutur akan dianggap sebagai orang yang tak tahu diri dan lancang.

     Implementasi dari falsafah ini makin meluas seiring dengan perkembangan zaman. Tidak hanya berkutat dalam hal yang telah disebutkan, melainkan juga bagaimana cara kita mengontrol jari jemari dalam berjejaring sosial. Ia dituntut untuk senantiasa berhati-hati ketika menggantikan peran lidah dalam bermedia sosial. Kalimat-kalimat vulgar, kasar, apalagi menyinggung SARA tidaklah pantas dipublikasikan dalam ranah digital. Seseorang yang melanggar etika dalam dunia maya sering mendapat konsekuensi berupa hujatan para netizen. Selain itu, menerapkan falsafah ajining dhiri gumantung saka lathi berarti menjaga lidah maupun jari dari menyebarkan fitnah atau hoax yang berpotensi menimbulkan perpecahan dalam masyarakat.

     Eksistensi falsafah "ajining dhiri gumantung saka lathi" sejatinya semakin menegaskan bahwa lidah merupakan anggota tubuh yang vital. Bahkan, lidah menjadi indikator tinggi rendahnya harga diri seseorang. Oleh sebab itu, penting sekali bagi suatu insan untuk berusaha mengontrol lisannya baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Rabu, 27 April 2022

Berserah untuk Damai

Berserah untuk Damai

 
(Dok. Internet)


Oleh : Ariella Prity A.


Ada yang terus dibelakangku, terseok berusaha terus mendekat, ingin melahap

Mereka bergemuruh, berlomba menguasai ringkih tubuh

Langkahku tak lengah, tetap melaju berlari di jalur yang buatku melemah

Sesekali kulihat belakang, sosok itu hitam-legam tetap tak berhenti mengejar


Bahkan saat nafas penghabisan, gemuruh itu semakin kuat

Memaksa menyelinap ke pikiran, tampilkan cuplikan kehidupan

Hal yang ingin kulupakan, muncul ke permukaan

Rasa saling adu, sedih, susah, marah, bentrok jadi satu

Untuk menolak pun sudah tak berdaya, akhirnya kuterima


Aku kalah, benar-benar kalah

Aku dan kenangan telah menjadi teman, dia mengantarku ke kedamaian

Aku berhenti berlari, aku telah pergi

Ingatan terakhir, akhirnya berakhir


Minggu, 17 April 2022

Gara-Gara Tugas

Gara-Gara Tugas

  

Tugas Kuliah
(Sumber: Internet)
                                    

                                                        Oleh: Novema Kumalasari


Para penghuni ruangan mengembuskan napas berat ketika lelaki berkumis tebal memberikan hadiah di penghujung kelas hari itu. Apalagi kalau bukan penugasan yang menjadi teman liburan para mahasiswa di akhir pekan. Tak terkecuali ketiga perempuan yang saling memanyunkan bibirnya ke depan dengan tatapan pasrah.

“Sudah kuduga, tugas lagi. Kenapa sih bapak itu suka banget lihat muridnya nggak bisa tidur dengan tenang?” cibir Anya, mahasiswi deadliner yang super sibuk dengan segala kegiatan di kampus.

“Sejak kapan Pak Bemo lihat muridnya tidur?” celetuk Riska -gadis kutu buku yang sedikit lola- membuat kedua temannya memandang dengan tatapan tajam. Riska menggigit bibir bawahnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal dan tenggelam kembali pada buku di depannya.

Udah yuk pulang! Laper nih,” ajak Cherli, salah satu anak yang paling ambis di kelas. 

“Kalian duluan ya, aku masih harus kumpul sama mereka tuh,” ucap Anya seraya menunjuk segerombolan anak yang tengah melambaikan tangan kepadanya.

Setelah mendapat jempolan dari kedua sahabatnya, mereka pun berpisah dan sibuk dengan urusan masing-masing. Meskipun tanpa disadari, badai masalah akan segera menerpa hubungan ketiganya.

***

Suasana sore itu cukup cocok untuk bersantai atau sekadar nongkrong sambil menikmati senja. Namun, beda halnya dengan ketiga gadis yang merasakan nuansa horor di ruangan dengan tumpukan buku di meja.

“Kenapa bisa tugas makalahnya sama persis? Bukankah kalian tahu saya paling anti dengan plagiarisme!” tanya Pak Bemo dengan nada tinggi diujung kalimatnya.

“Tapi, Pak. Saya benar-benar membuat tugas itu sendiri dan tidak ada niatan sedikitpun untuk menjiplak tugas mereka, Pak,” sanggah Riska, suaranya sedikit bergetar karena lelah sekaligus kesal.

“Pak, tapi saya juga buat sendiri. Bapak tahu kan kalau saya sering mengumpulkan tugas lebih awal dari kedua teman saya ini? Pasti mereka yang menjiplak tugas saya, Pak,” timpal Cherli tak mau kalah mempertahankan kebenaran.

Anya yang sedari tadi hanya diam ikut angkat bicara menyadari dirinya kini terpojokkan, “Heh kalian berdua! Meskipun aku suka ngumpulin tugas mepet dan sering nyontek, tapi kali ini aku juga buat sendiri tau.”

Brak!

Pak Bemo memukul meja cukup keras membuat ketiga perempuan itu bisu seketika.

“Cukup! Pokoknya bapak bakal kasih nilai nol dan kemungkinan kalian harus mengulang di mata kuliah ini tahun depan, sampai ada yang mengaku siapa pelaku aslinya. Sekarang cepat keluar dari ruangan saya, bikin tambah pusing kalian ini,” putus Pak Bemo dengan dada yang naik turun.  

“Tapi pak …”

“Apa!” pekik lelaki itu membuat Cherli terperanjat.

“Tidak apa-apa, Pak. Selamat istirahat.” Cherli mengakhiri perdebatannya dan segera meninggalkan Pak Bemo yang tengah memijat kepalanya. Pun diikuti dengan kedua perempuan yang kini saling menjaga jarak.

Hening tak ada yang memulai percakapan, semuanya saling mengumpat dalam hati masing-masing. Hingga akhirnya suara dering ponsel memecahkan suasana. Mendapati suara itu adalah ponsel Anya, ia sedikit melirik kepada kedua temannya dan sedikit menjaga jarak.

 “Halo, iya nanti saya transfer.” Setelah mendapat persetujuan dari orang diujung telepon, Anya memasukkan ponselnya dengan kasar dan mendengus lirih. 

Di sepanjang lorong kampus, ketiganya kembali diam dan bergeming dengan pikiran masing-masing. Suasana sedikit hidup ketika dering ponsel kembali memecah keheningan, kali ini Cherli yang menjaga jarak ketika melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.

Hem oke, kirim aja nomor rekeningnya … Oke.” Setelah menutup ponsel, Cherli memandangi kedua temannya, “Kenapa sih kalian nggak ngaku aja?” cetusnya.

Ngaku apa maksud kamu, Cher? Jadi kamu nuduh kita nyontek gitu?” tanya Anya dengan ketus.

“Ya siapa lagi, kutu buku nggak menjamin dia selalu bikin tugas sendiri, apalagi si tukang deadliner,” beber Cherli sambil tersenyum kecut. 

Heh! Jangan sembarangan kalau ngomong ya!” tangkas Anya, sementara Cherli hanya mengangkat bahunya.

Woy Ris! Ponsel kamu bunyi tu,” tegur Cherli sambil menghindari tatapan tajam Anya. 

Riska yang sedari tadi melamun langsung gelagapan dan mencari ponselnya di dalam tas, hampir satu menit ia sibuk dengan isi tasnya sampai semua barang dikeluarkan, tetapi benda persegi panjang itu tak kunjung ditemukan. Melihat hal itu, Anya yang berniat tak peduli, akhirnya mengurangi egonya dan mengambil ponsel di saku celana Riska.

“Oh iya, hehe makasih.” Tanpa menunggu jawaban dari Anya, Riska langsung mendekatkan ponsel ke telinga dan membalikkan badannya.

“Iya, sebelumnya terima kasih tapi lebih baik bertemu langsung ya karena nomor rekening saya baru aja keblokir. Oh ya, hasilnya bagus cuma kurang memuaskan soalnya sama persis kayak punya temen saya. Baik terima kasih … Astaga!” Riska hampir menjatuhkan ponsel ketika menyadari kedua gadis itu mendekatinya sambil membulatkan kedua mata.

“Oh … jadi kamu joki tugas ya, Ris?” 

“Duhh Riska … kenapa kamu bisa lupa kalau ada mereka di sini?” gumam Riska sambil sesekali memukul kepalanya.

“Eh … enggak, siapa? Aku buat sendiri kok,” bantah Riska dengan muka yang memerah bak kepiting rebus.

Udah, Ris, ngaku aja kali. Soalnya aku juga iya.”

Kalimat yang terlontar dari Cherli membuat Anya dan Riska melotot tak percaya.

Hehe apaan sih kalian, ya walaupun aku termasuk anak yang ambis, tapi untuk tugas kali ini aku beneran nggak paham sama materinya dan udah dibaca berkali-kali pun, aku tetep nggak paham. Jadi sekali-kali aku nyoba joki tugas. Hiks ya ini rahasiaku yang harus kalian maklumi, hahaha,” ungkap Cherli.

“Maaf ya temen-temen, sebenernya aku juga. Kan kalian tahu sendiri, aku ikut banyak organisasi dan lagi sibuk sama proker yang bejibun sampai nggak bisa bagi waktu dengan baik. Yah alhasil aku pakai jasa joki tugas. Eh malah kita pesen ke orang yang sama. Hmmm aku yakin sih, dia sebenernya juga lagi sibuk tapi kepepet butuh uang,” lontar Anya dengan sedikit mendesis di ujung kalimatnya.

“Maafin aku ya, An, Ris udah keras kepala dan nyalahin kalian,” ujar Cherli sambil mengacak rambut kedua sahabatnya, membuat benteng pertahanan di mata Anya hampir roboh.

Enggak, Cher. Aku juga salah udah ngaku sesuatu yang bukan karyaku sendiri. Selama beberapa hari kemarin aku sebenernya lagi suka baca novel sampai nggak sadar kalau deadline-nya tinggal satu hari lagi, kalian tahu kan kalau aku lagi panik, pasti nggak bisa mikir apa-apa. Sampai akhirnya aku memutuskan buat joki tugas.”

Cherli dan Anya memandang Riska dengan sendu dan mereka pun saling berpelukan, meluapkan prasangka buruk dan penyesalan melalui air mata. Gara-gara tugas, mereka sadar bahwa tidak selamanya cover mewakili sebuah isi, dan saling memahami adalah kunci dalam menjalin kepercayaan. Mereka pun berniat untuk memperbaiki kebiasaan yang merugikan dan saling mempererat hubungan dengan kejujuran.

“Ya kali-kali joki juga nggak papa kan? Asal pastiin dulu beda orang hahaha,” pungkas Cherli membuat keduanya tertawa dan mengacungkan jempol bersamaan. (Novema)


Jumat, 15 April 2022

Menunda Aksi Demi Konsolidasi, Begini Pernyataan Sikap BEM UNS 2022

Menunda Aksi Demi Konsolidasi, Begini Pernyataan Sikap BEM UNS 2022

Pernyataan Sikap BEM UNS 2022 (Dok. BEM UNS)

 

Lpmvisi.com, Solo - Aliansi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Eks Karesidenan Surakarta menggelar aksi bertajuk “Solo Raya Menggugat” di Bundaran Gladag Solo, guna menyampaikan aspirasi masyarakat serta tuntutan terkait isu dan kondisi pemerintahan saat ini pada Kamis (14/4/2022). Dalam aksi tersebut tampak para mahasiswa membawa spanduk dan poster yang berisi tuntutan untuk menstabilkan harga minyak goreng dan bahan pokok lainnya, penolakan kenaikan harga BBM, serta permintaan agar pemerintah mengkaji ulang undang-undang IKN (Ibu Kota Nusantara) dan melakukan penundaan proyek IKN.

Namun, melalui pernyataan sikap yang dipublikasikan, BEM UNS menolak untuk ikut serta dalam aksi tersebut. “Aksi Solo Raya Menggugat pada Tanggal 14 April 2022 merupakan aksi yang terkesan ekslusif dan membatasi massa yang mengikuti aksi tersebut. Padahal keresahan yang dibawa pada aksi Solo Raya Menggugat 14 April 2022 adalah keresahan bersama, bukan hanya keresahan yang dirasakan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Solo Raya saja. Oleh karena itu, seharusnya setiap orang berhak menyampaikan aspirasinya, berdasarkan alasan tersebut maka BEM UNS menyatakan sikap tidak turun atas nama lembaga dalam aksi tersebut(Pernyataan Sikap BEM UNS 2022, 14 April).

Guntur Saputro, selaku Menteri Aksi Kreatif dan Propaganda BEM UNS 2022, mengungkapkan bahwa gagasan tersebut muncul karena gerakan Aksi Solo Raya menggugat tidak melibatkan banyak elemen yang ada. Aksi yang melarang elemen lain untuk turut serta ini memunculkan kesan eksklusif, sehingga BEM UNS menyatakan sikap untuk tidak ikut serta. Sebelumnya BEM UNS sendiri telah mengusulkan untuk mengajak elemen-elemen lain bergabung dalam aksi ini, tetapi ditolak dengan berbagai argumen dalam forum BEM Solo Raya.

“Karena kami telah mengutarakan hal ini pada forum pertama sebelumnya, sehingga kami menyatakan ketidaksepakatan kami pada 11 April 2022, karena apapun alasannya pergerakan bukanlah sebuah hal yang bisa diperjuangkan oleh satu atau dua lembaga saja dan jangan sampai apa yang kita lakukan mencederai kepercayaan masyarakat bahwa mahasiswa berjuang bersama Masyarakat”, ujar Guntur.

Setelah memutuskan untuk tidak mengikuti aksi, BEM UNS melakukan upaya lain guna mencapai kepentingan yang sama, yaitu dengan mencanangkan konsolidasi terbuka yang mengundang seluruh elemen khususnya di Solo. 

Guntur juga menambahkan bahwa gerakan yang nantinya bersifat kolektif kolegial dengan mengusung isu-isu keresahan masyarakat ini juga akan menjadi ajang untuk menyuarakan bahwasanya BEM bukanlah lembaga eksklusif. Sebab tujuan dari adanya pergerakan bersama tak lain adalah untuk memastikan hak dasar rakyat terpenuhi. 

BEM UNS sendiri berharap agar gerakan bersama dari seluruh elemen di Kota Solo dengan tujuan memperjuangkan hak rakyat serta menjaga amanat reformasi dapat segera terealisasi. (Fatimah)