Senin, 27 Juni 2022

UNS Gelar Expo Kewirausahaan di Mall

UNS Gelar Expo Kewirausahaan di Mall

 
Gapura Masuk "Expo Wibawa #1 2021" (Dok. Nabila)


Lpmvisi.com, Solo – Telah direncanakan sejak tahun lalu, Universitas Sebelas Maret (UNS) adakan pameran wirausaha tahun ini pada 24-26 Juni 2022, di Mall Solo Paragon selama 3 hari berturut-turut untuk menampilkan usaha bisnis para mahasiswa UNS.

Dilaksanakan di Upper Ground (UG) Floor atau Lantai 2 Mall Solo Paragon, program yang dikelola oleh Biro Kemahasiswaan dan Alumni UNS ini bertajuk “Wibawa” atau Wirausaha Baru Mahasiswa. Gelaran expo ini memamerkan usaha-usaha kreatif yang telah dibuat oleh mahasiswa UNS yang memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri dari tiap usaha yang ditampilkan.

Program ini diadakan guna menumbuhkan motivasi serta memunculkan mental berwirausaha di kalangan mahasiswa UNS, juga memberikan ide kepada masyarakat awam yang datang berkunjung. Menurut Annisa (19) salah seorang pengunjung, acara ini cukup menarik karena diadakan di Mall dan banyak jenis usaha yang baru ia lihat disini, “Saya tadinya ke Solo Paragon mau jalan-jalan sama teman karena kebetulan rumah saya dekat sini. Kemudian lihat ada expo ini ternyata dari mahasiswa UNS saya jadi kepo dan lihat-lihat, ternyata ide usahanya unik-unik,” ucapnya.


Terdapat 51 stand dengan berbagai macam jenis usaha disini, mulai dari kuliner, kriya, jasa, fashion, hingga peternakan. Produk dan jasa yang ditawarkan pun dibandrol dengan harga yang relatif terjangkau, mulai dari makanan dan minuman instan atau yang praktis dibawa, pakaian dan kerajinan yang rata-rata dibuat handmade, jasa yang menawarkan bantuan hingga konsultasi, ada banyak inovasi dan contoh usaha yang unik dan tentunya sangat bermanfaat.

Stand Foto Gelaran "Expo Wibawa #1 2021" (Dok. Nabila)

Dengan diadakannya “Expo Wibawa #1 2021” ini diharapkan dapat menciptakan para wirausahawan dan unit-unit bisnis baru yang membawa inovasi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni bagi banyak sektor usaha, kita juga dapat mengunjungi instagram @expowibawa.uns untuk informasi lebih lanjut dari program ini. (Nabila)

Jumat, 24 Juni 2022

IMF Kembali Digelar Dengan Tema “Marvelous Mask”

IMF Kembali Digelar Dengan Tema “Marvelous Mask”

 
Pembukaan Acara IMF 2022 oleh MC (Dok. Fina)


Lpmvisi.com – IMF kembali digelar dengan tema “Marvelous Mask” secara hybrid pada Jumat (17/06/2022)

International Mask Festival diselenggarakan oleh SIPA (Solo International Performing Art) pada 17-18 Juni 2022 di Pendapa Prangwedanan, Pura Mangkunegaran, Solo. Acara ini juga dapat disaksikan melalui channel YouTube SIPA Festival, International Mask Festival, Pariwisata Solo, dan Gibran TV. 

Pada hari pertama terdapat dua agenda acara, yakni Mask Exhibition dan Live Performance dari beberapa penari lokal dan mancanegara. Penari yang mengisi acara tersebut antara lain Semarak Candrakirana Art Center, SIRISOK Dance Theater, Bengkel Seni Universitas Negeri Medan, The Kaizen M.D Collective, Sanggar Kesenian Nuansa, I Ketut Kodi, Sanggar Tari Pradnya, dan Akademi Seni Mangkunegaran.

Penampilan Tari Topeng oleh I Ketut Kodi dari Bali (Dok. Fina)

“IMF tahun ini temanya “Marvelous Mask”, harapannya lewat karya seni tari topeng dari Indonesia dan mancanegara ini tuh, bisa menyatukan daerah, bangsa, dan bahasa”, ujar Sapto, Panitia Humas IMF 2022. 

Selain untuk mengenalkan topeng sebagai kebudayaan Indonesia, IMF bertujuan untuk dapat menyatukan daerah, bangsa, dan bahasa antara Indonesia dengan negara lain.


Penampilan Tari Topeng Md Al Hafiz Bin Hosni dari The Kaizen M.D Collective, Singapura (Dok. Fina)

Acara live performance yang dimulai pada pukul 19.00 WIB disaksikan oleh banyak pengunjung dan beberapa tamu undangan. Meskipun sempat hujan, para pengunjung tetap ramai dan kondusif. Tidak jarang para pengunjung mengabadikan pertunjukan tari menggunakan smartphone-nya.

Penampilan Tari Topeng dari Sanggar Kesenian Nuansa, Disbudparpora Kota Banjarmasin (Dok. Fina)

“Saya tahu acara ini dari story Instagram teman saya, terus saya kepo nih pingin nonton. Saya tertarik soalnya belum pernah nonton pertunjukan kaya gini sebelumnya. Ternyata keren banget sih, memukau dan apa ya, bisa membius penonton gitu”, ujar Farah (19). Para pengunjung merasa terpukau dengan penampilan penari yang tampil di IMF malam itu. (Fina)

Menilik Kisah yang Tak Tuntas Melalui Buku Leila S. Chudori

Menilik Kisah yang Tak Tuntas Melalui Buku Leila S. Chudori

Judul  : Laut Bercerita | Penulis  : Leila S. Chudori |Penerbit   : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Jakarta | Halaman  : 379 halaman | ISBN : 978-602-424-694-5

(Dok. Internet)

 

Oleh: Yesyka Wahyu Leonyta

“Kepada mereka yang dihilangkan dan tetap hidup selamanya”


         Begitulah kalimat pertama pembuka buku karya Leila S. Chudori ini. Laut bercerita, selaras dengan judul tersebut buku ini diawali oleh Biru Laut Wibisono yang menceritakan perjalanan hidup yang telah ia alami. Perjalanan hidup di mana ia bersama kawan-kawannya dan beberapa aktivis lain yang berjuang melawan kekejaman rezim saat itu. Keadaan yang mengharuskan kebebasan berpendapat dibungkam, tidak menjadikan para mahasiswa dan aktivis berdiam diri. Bermula dari sebuah rumah kontrakan di Seyegan, Yogyakarta, mereka melangsungkan pertemuan tersembunyi untuk berdiskusi melakukan aksi. 


         Pada masa itu, membaca karya sastra radikal pun dianggap memicu kekacauan politik dan perkumpulan massa dicurigai sebagai aksi memusuhi pemerintah. Laut dan kawan-kawannya memilih untuk memperjuangkan keadilan, meskipun resikonya adalah nyawa. Mereka diculik, disiksa, diinterogasi tanpa tahu keberadaan mereka dan apakah hari sudah berganti atau belum. 


         Keberuntungan dialami oleh mereka yang dipulangkan meskipun tanpa alasan yang jelas. Namun, trauma mendalam dialami oleh Asmara Jati, adik perempuan Biru Laut yang terus mencari jejak kakaknya yang hilang. Dari situlah, keluarga korban penculikan melangsungkan kamisan (sebuah aksi yang dilakukan setiap hari Kamis di depan Istana Negara yang dilakukan oleh korban pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia) untuk menuntut keadilan yang tak berujung.


         Novel ini membuat pembaca mengenang sejarah yang tidak diajarkan di Sekolah. Meskipun novel ini bergenre fiksi, tetapi cerita ini ditulis melalui riset yang mendalam. Penulis melakukan wawancara terhadap korban penculikan yang dipulangkan dan juga keluarga korban yang dihilangkan, sehingga dapat mendalami karakter tokoh. Namun, dalam buku ini terdapat beberapa dialog menggunakan bahasa jawa yang mungkin saja sulit dipahami oleh beberapa orang.


Selasa, 31 Mei 2022

Hirap Cinta

Hirap Cinta

 

Dok. Pinterest

Oleh: Salsabiila Mahdiyyah

Ini bukan kisah romansa

Layaknya Subadra dan Arjuna.

Apalagi Shinta yang merelakan daksa ditelan panas anala sebab sang Rama.

Bukan pula Paris dan Helena yang penuh dengan murka


Sejak kaki belum menginjak bumi 

Cinta itu sudah tumbuh sendiri.

Tuhan ciptakan dalam bentuk naluri 

Sengaja.

Agar kita melewati segerombol teka-teki.

Menyusunnya dengan hati, agar kekal abadi. 


Manusia dangkal akalnya.

Kadang bertindak seolah melebihi Sang Kuasa.

Berlagak tau segala. 

Cepat mengeluh berbalut ilusi peluh.

Bertingkah bodoh pada dasarnya.

Hingga tercipta kata, mana yang pantas untuk dicinta.

Padahal cinta adalah hak tiap makhluk yg hidup di buana.


Mempersempit makna dari cinta

Padahal mulanya, tujuan cinta untuk semua.

Tak asing lagi melihat siksa dan hina.

Saling berlomba untuk diakui semesta.

Lupa.

Bahwa harusnya semua didasari cinta.

Sang Maha mencipta tak hanya sebuah nama.


Cinta jadi salah makna.

Sering dijadikan penyebab bagi luka.

Padahal semua khilaf manusia.

Yang enggan membuka pandang makna cinta sesungguhnya.


Bila cinta hirap, semua baru kalap.

Menyadari bahwa yang penting telah pergi.

Terbakar emosi menjadi abu benci.

Sesal mengekor akaranya yang kian samar.

Berpamit pulang, jangan harap kembali datang.

Terbujur Kaku

Terbujur Kaku

Dok. Pinterest


Oleh: Amelia Erlintang

Waktu itu masih terbesit di ingatanku

Dimana aku bersikap tak acuh pada anakmu

Aku memendam marah yang mendalam

Mengucapkan sumpah serapah dalam kebisuanku

Tapi demi tuhan, aku benar-benar menyesal untuk itu

Aku tau tak seharusnya aku seperti itu


Entah mengapa, kau hadir di mimpiku  

Dua malam sebelum kepergianmu

Kau seperti berkata kau akan kembali kerumah

Ke rumah Sang pencipta

Tapi sungguh aku tak enak hati untuk menceritakan itu

Ya, menceritakannya pada anakmu


Sekitar pukul satu, aku menjengukmu

Dan saat itu pula aku tahu bahwa nafasmu sudah sangat susah

Terlihat sudah kau bernafas dari tenggorokan

Tetapi bodohnya aku yang masih saja gengsi untuk mencium keningmu

Kening seseorang yang sudah melahirkan malaikat untukku

Dan beberapa jam setelahnya, aku melihat kau sudah terbujur kaku

Aku telah kehilanganmu untuk selama-lamanya


Selain Suka Langit Senja dan Permen, Aku Juga Suka Nangis.

Selain Suka Langit Senja dan Permen, Aku Juga Suka Nangis.

Permen (Dok. Pinterest)

Oleh: Nada Nu'ma Azkiya

 Ibu bilang, anak laki-laki dilarang menangis.


'Dilarang' dapat dipasangkan menjadi kalimat 'dilarang parkir', 'dilarang belok kanan', atau 'dilarang buang sampah sembarangan'. Aku sering baca tulisan itu sepanjang jalan pulang dari sekolah bersama Mbak Rin.


Dilarang artinya tidak boleh. Anak laki-laki dilarang menangis berarti anak laki-laki tidak boleh nangis.


Ibu bicara begitu sewaktu Miko mati karena sakit. Miko punya bulu putih yang lembut, yang kalau dipegang rasanya seperti memegang awan. (Aku belum pernah pegang awan, tapi kata Jo, teman sekelasku, awan itu lembut kayak kapas). Miko punya mata warna biru yang kalau malam suka menyala dalam gelap. Aku belum cari tahu kenapa bisa begitu, besok-besok aku coba baca ensiklopedia. Sekarang kita anggap saja Miko punya kekuatan super.


Setelah tubuhnya bergetar hebat malam-malam dan mulutnya mengeluarkan busa yang kelihatan seperti busa sabun sewaktu mandi (Kata Mbak Rin, itu namanya keracunan), Miko tidak bergerak untuk selama-lamanya.


Selama-lamanya itu tidak tahu selama apa, mungkin selama 1 jam atau 4 hari atau sampai Idul Fitri.


Yang jelas, Miko tidak akan bangun lagi dan lari-larian di halaman depan lagi.


Mbak Rin yang menangis sendirian sambil melempar bersekop-sekop tanah ke tubuh Miko yang berbulu putih, seperti sedang menanam bunga. Aku berdiri menonton di sebelah Ibu dan tidak menangis karena sudah disuruh.


Sekarang giliran orang-orang yang menangis sama seperti Mbak Rin. Tapi bedanya, bukan Mbak Rin yang melempar bersekop-sekop tanah (Mbak Rin berdiri di sebelahku dan hidungnya ingusan). Ada bapak-bapak yang aku-tidak-tahu-siapa yang melempar bersekop-sekop tanah.


"Sabar, ya, Ekal." Tubuh kecilku dipeluk bergantian oleh orang-orang aku-tidak-tahu-siapa. Sama seperti Mbak Rin, mereka ingusan.


Aku tidak tahu apa artinya sabar. Aku mau tanya ke Ibu, tapi bingung bagaimana caranya karena Ibu sudah tidak lagi kelihatan setelah ditutup bersekop-sekop tanah.


Sebelum Miko keracunan, Mbak Rin sering marah karena lantai kotor bekas kaki Miko dan Ibu menyuruh buat sabar. Sepertinya sabar berarti 'jangan marah', tapi aku kan lagi tidak marah? Kenapa aku disuruh sabar?


Sekarang aku jadi mau marah, karena disuruh sabar berkali-kali. Padahal awalnya aku tidak marah.


Karena itu, aku akhirnya pergi dari kumpulan orang-orang ingusan yang menyuruhku sabar, dan berlari ke salah satu kursi di bawah pohon mangga.


Kalau Mbak Rin dan orang-orang sudah tidak ingusan dan tidak lagi menyuruh buat sabar, aku akan kembali kesana.


Langit sekarang berwarna merah bercampur oren bercampur kuning, warnanya seperti es krim yang suka dibuat Ibu tiap hari Minggu. Aku baca di ensiklopedia, itu namanya matahari tenggelam. Aku tidak tahu dia tenggelam dimana yang pasti bukan di laut, karena nanti bisa basah.


"Mau?"


Seorang anak perempuan setinggi bahuku tiba-tiba muncul dan di tangannya ada permen yang warnanya seperti matahari tenggelam. Dia tidak kelihatan ingusan, berarti dia bukan dari kumpulan orang-orang yang menyuruhku buat sabar.


Baju dan roknya warna hitam, seperti baju dan celanaku sekarang. Semua yang datang kesini bajunya warna hitam, sepertinya sudah janjian.


"Aku gak boleh makan permen." Mbak Rin bilang aku bolehnya makan permen 7 hari sekali. Kemarin aku sudah makan permen rasa melon, jadi hari ini aku tidak boleh makan permen.


Dia menyimpan kembali permen warna matahari tenggelam di kantong baju dan ikutan duduk di kursi sebelahku. Aku mau protes, tapi tidak jadi karena ingat kalau kursi ini bukan punyaku. Kursinya boleh diduduki oleh siapapun.


Kami duduk tanpa bicara apa-apa dan menonton matahari tenggelam (bukan di laut).


"Aku suka langit senja!" Teriak dia tiba-tiba yang bikin aku kaget, tapi jadi bertanya-tanya senja itu apa.


Mungkin nanti aku bakal tanya ke Ibu, tapi ingat kalau Ibu sudah ditanam dengan bersekop-sekop tanah. Mbak Rin bisa marah kalau tahu aku menggali tanah, sehingga bajuku kotor dan susah dicuci.


"Langit senja itu yang oren-oren ini." Dia merentangkan tangannya lebar-lebar dan menunjuk awan warna oren-oren.


"Berarti permen kamu warna senja, dong."


"Hmm, bisa jadi!"


Setelah tahu arti senja dan bicara soal permen, kami duduk tanpa bicara apa-apa dan menonton matahari tenggelam (bukan di laut).


"Kamu sukanya apa?" Tanyanya tiba-tiba. Tidak bikin aku kaget, tapi bikin aku bertanya-tanya lagi aku sukanya apa.


Aku suka nonton Jalan Sesama sambil disuapi sarapan oleh Ibu sebelum berangkat sekolah. Aku suka tumis jamurnya Mbak Rin (Mbak Rin pintar masak dan bersih-bersih rumah). Aku juga suka bolu rasa coklat di toko roti dekat rumah, yang rasa pandan aku tidak suka.


Aku bingung harus jawab apa, jadi kujawab saja kalau, "aku suka kucing."


Dia menaik-turunkan kepalanya, tapi masih tersenyum. Aku suka senyumnya, sama seperti senyum Ibu sewaktu aku cerita banyak kejadian di sekolah hari itu.


"Ohh, kucing emang lucu! Yang lain? Kamu suka apa lagi?"


Aku suka dongeng Gaga si gagak yang suka dibacakan Ibu sebelum tidur. Aku juga suka main lari-larian dengan Miko, tapi Miko tidak bisa lari-larian lagi.


Aku bingung harus jawab apa, jadi kujawab saja kalau, "aku gak tahu, kalau kamu?"


Gantian dia yang kelihatan kaget dan bertanya-tanya dia sukanya apa.


"Hmm, aku suka langit senja. Aku suka permen, tapi aku paling suka yang warnanya seperti senja." Dia mengangkat permen warna matahari tenggelam (atau bisa jadi senja) dari kantong bajunya.


"Aku juga suka nangis." Katanya sambil tersenyum.


"Kamu suka nangis?"


"Kamu gak suka?"


Aku menggeleng, karena belum pernah coba. Ibu bilang, anak laki-laki dilarang menangis.


Dia memiringkan kepala, alisnya naik sebelah. Sama seperti Mbak Rin kalau sedang bingung mau masak apa hari ini.


"Tapi anak kecil suka nangis," katanya. Aku ikutan menaikkan alis, "mungkin aku bukan anak kecil?"


"Padahal waktu kita lahir kita nangis, loh."


"Aku gak tahu."


"Aku juga gak tahu, tapi aku tanya Ibu."


Karena Ibu sudah ditanam dengan bersekop-sekop tanah dan bajuku bisa kotor kalau ketahuan menggali, nanti aku coba tanya Mbak Rin saja.


"Gimana rasanya nangis?"


"Lebih enak rasa permen warna senja, sih." Kata dia, mengangkat permen dari kantong bajunya. "Hidung kamu nanti ingusan, terus ada air keluar dari mata. Aneh pokoknya. Tapi habis nangis pasti jadi lega."


"Lega itu apa?" Aku membayangkan nangis rasanya seperti bolu coklat di toko roti (karena sepertinya orang-orang suka nangis), tapi ternyata tidak lebih baik dari itu.


"Lega itu kayak kamu bilang ke Ibu kalau nilai matematika kamu jelek, tapi Ibu gak marah. Habis lega, kamu gak perlu takut-takut lagi."


Aku menaik-turunkan kepala berkali-kali sampai rasanya mau lepas. Tidak bakal lepas juga, kalau lepas nanti aku jadi tidak punya kepala.


Setelah tahu arti lega dan bicara hal yang disuka, kami duduk tanpa bicara apa-apa dan menonton matahari tenggelam (bukan di laut).


"Aku juga mau bisa nangis." Kataku pada anak perempuan setinggi bahuku itu. Ibu bilang, anak laki-laki dilarang menangis. Setelah bisa menangis nanti, aku akan minta maaf ke Ibu karena tidak menaati larangannya. (Ibu orangnya suka memaafkan).


"Pikirin yang sedih-sedih aja."


"Yang sedih-sedih seperti apa?"


Dia memiringkan kepala, alisnya naik sebelah. "Aku sedih kalau gak makan permen. Aku juga sedih kalau gak boleh pergi keluar lihat langit senja. Pikirin kalau kamu gak bisa dapat apa yang kamu suka aja."


Kemudian, aku jadi berpikir hal-hal yang aku suka tidak akan kudapat.


Tidak ada lagi bolu rasa coklat di toko roti dekat rumah. Tidak ada lagi main lari-larian dengan Miko di halaman. Tidak ada lagi tumis jamur enak masakan Mbak Rin. Tidak ada lagi nonton Jalan Sesame sebelum berangkat sekolah. Tidak ada lagi dongeng Gaga si gagak yang dibacakan Ibu sebelum tidur. Tidak ada lagi senyum Ibu sewaktu cerita banyak kejadian di sekolah hari itu.


Tidak ada lagi Ibu.


Dan sewaktu matahari benar-benar tenggelam (bukan di laut), hidungku jadi ingusan dan banyak air keluar dari mata.


Ibu bilang, anak laki-laki dilarang menangis, tapi hari ini aku melanggar aturan dan menangis karena Ibu.


Mbak Rin dan orang-orang tidak-tahu-siapa kaget dan rebutan lari ke kursi di bawah pohon mangga. Anak perempuan setinggi bahu juga ikutan menangis padahal dia punya permen dan bisa lihat langit senja. Tapi seperti yang sebelumnya dia bilang, kalau dia juga suka menangis.


Sabtu, 28 Mei 2022

Bicara Cinta

Bicara Cinta

Ilustrasi (Dok. Pinterest)

Oleh: Devita Lestiawan

Bicara soal cinta, apakah cinta itu harus melulu soal pacar? kadang manusia mengartikannya terlalu cepat dan sempit, padahal tidak demikian, arti cinta sesungguhnya begitu luas. Cinta paling indah adalah cinta yang penuh kasih sayang dan keikhlasan juga kejujuran, seperti cinta seorang ibu kepada anaknya, cinta seorang kawan terhadap sahabatnya, cinta itu begitu nyata dan indah.


Berbicara mengenai cinta seorang ibu kepada anaknya, itu adalah cinta yang sungguh dan akan tetap abadi, kasih sayang ibu tak akan bisa didapat dari orang lain, yah mungkin begitu, kasih sayangnya tak dapat terganti oleh apapun juga, bodoh ketika seseorang berpikir kasih sayang sang pacar dan perhatiannya saja yang ia butuh, "aku tak dapat hidup tanpanya, aku sayang dia" benarkah? Haruskan kalian melakukan hal-hal manis itu, seperti juga memberikannya pelukan? 


Pernah kalian berpikir bagaimana rasanya jika tak ada ibu? Bagaimana rasanya saat sosok itu telah tiada? Belumkan? Kalian hanya berpikir aku takut kehilangan orang tersayangku, pacarku, separuh hidupku tanpa kalian berpikir orang yang paling sayang dan tulus kepada kita itu ibu, bukan orang lain. Pikirkan saat ibu tiada, itu lebih menyakitkan dari apapun juga. 


Bayangkan, satu pelukan untuknya lebih indah daripada ribuan pelukan yang bisa diberikan kepada nisannya, bergunakah? Tidak… tidak sama sekali, ibu hanya mau sebuah peluk kasih sayang dari anaknya itu cukup untuk membayar semua jasanya. Tidak muluk-muluk kan keinginan ibu? Tidak… tidak sama sekali. Maka selagi beliau masih ada kasihi dan sayangilah ibu, jangan disia-siakan.

Makan Nasi Padang Lebih Nikmat Pakai Tangan atau Sendok?

Makan Nasi Padang Lebih Nikmat Pakai Tangan atau Sendok?

 

Nasi Padang (Dok. Grab.com)

Oleh: Noor Rizky        

          Siapa sih yang belum pernah makan nasi Padang? Diantara kita semua pasti setidaknya pernah menyantap nasi Padang satu kali dalam seumur hidup. Nasi Padang adalah nasi putih yang disandingkan dengan beberapa sayur dan lauk. Sayur yang dihidangkan biasanya daun singkong, timun, sambal hijau dan tak lupa sayur nangka. Pilihan lauk yang cocok untuk dimakan bersama nasi Padang juga banyak, loh, seperti Rendang, Gulai Ikan, Ayam Pop, hingga Telur dadar Padang yang tiada duanya. Nasi khas Padang, Sumatera Barat ini merupakan nasi sejuta umat Indonesia. Cita rasa yang kaya akan rempah-rempah sangat cocok dengan lidah masyarakat Indonesia. Ditambah dengan santan yang ada pada sayur nangka membuat nasi Padang menjadi makanan yang sangat sempurna. Namun, ada pro-kontra dalam cara menyantap nasi khas Sumatera Barat ini, ada yang menyantapnya menggunakan tangan dan ada pula yang menggunakan sendok, manakah yang lebih nikmat.

       Sebagai orang Indonesia asli pasti kita tidak asing dengan kata ‘muluk’. Muluk merupakan cara makan dengan menggunakan jari tangan langsung tanpa perantara. Muluk merupakan tradisi masyarakat baik di Jawa atau di luar Jawa yang biasanya dilakukan pada acara seperti tumpengan. Tradisi ini sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Indonesia, loh. Hal itu dapat kita lihat dari cara makan masyarakat Indonesia dalam menyantap nasi Padang. Ternyata, makan dengan cara muluk memiliki kelebihan, yaitu kita dapat dengan mudah memisahkan duri pada ikan gulai. Namun, ada juga loh masyarakat Indonesia yang menyantap nasi Padang menggunakan sendok. Masyarakat penganut ‘aliran’ tersebut beranggapan bahwa menyantap nasi Padang menggunakan sendok dirasa lebih higienis dibanding menggunakan tangan. Alasan lainnya adalah mereka dapat dengan damai menyantap nasi putih yang ada di nasi Padang tanpa merasa kepanasan atau repot-repot mencuci tangan. Namun, menggunakan sendok dalam menyantap nasi Padang ternyata memiliki kekurangan, yaitu akan ada banyak sisa makanan yang tertinggal di sendok serta piring yang kita pakai.

Perbedaan cara menyantap nasi Padang menimbulkan pro dan kontra yang cukup seru. Namun, baik menggunakan tangan ataupun sendok sebenarnya tidak mengurangi cita rasa dari nasi Padang, hanya saja tergantung preferensi dan kenyamanan masing-masing individu dalam menikmati makanan.


Pesatnya Perkembangan Teknologi di Era Milenial

Pesatnya Perkembangan Teknologi di Era Milenial

  

Ilustrasi (Dok. Pinterest)

     

Oleh: Afifatul Aufa   

        Di zaman milenial ini, masih adakah yang belum mengenal teknologi? Sepertinya tidak ada, karena dalam kehidupan sehari-hari saja kita sangat memerlukan teknologi. Bahkan, bisa dibilang kita sangat bergantung pada teknologi. Adanya teknologi mempermudah kita untuk melakukan berbagai pekerjaan. Pekerjaan akan terasa lebih mudah dan dapat terselesaikan dengan cepat berkat adanya teknologi.

    Pada abad ke-21 ini, teknologi semakin berkembang pesat. Para ilmuwan telah menciptakan berbagai peralatan yang sangat canggih dan modern, serta multifungsi sehingga membuat pekerjaan manusia menjadi lebih mudah. Apalagi pada masa pandemi ini, dimana hampir semua pekerjaan dilakukan dengan bantuan teknologi, seperti kegiatan belajar-mengajar, perkuliahan, rapat, bahkan pekerjaan kantoran pun menerapkan WFH (Work From Home) yang pastinya bekerja dilakukan secara “daring”. 

Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat ini, kita sangat terbantu dalam melakukan segala pekerjaan yang mana di era pandemi ini sangat berkaitan dengan teknologi seperti yang telah disebutkan di atas. Kita harus mengikuti perkembangan yang ada agar tidak menjadi kaum terbelakang.

Tentunya ada banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil dari berbagai teknologi yang terbentuk seiring dengan berkembangnya zaman. Hampir semua peralatan yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari menggunakan teknologi. Hal ini membuat manusia terbiasa melakukan segala kegiatan menggunakan teknologi. 

Meskipun begitu, mestinya kita harus mengimbangi dengan kegiatan-kegiatan fisik seperti berolahraga di rumah, melakukan pekerjaan rumah, dan lain-lain. Hal ini dilakukan agar sistem motorik tubuh kita tetap bekerja dan tetap menjaga kesehatan tubuh kita. Selain itu, kita juga harus bijak dalam menggunakan teknologi agar tidak terjerumus hal-hal yang tidak diinginkan, karena saat ini berbagai info dan berita dapat diakses kapan saja dan dimana saja dengan mudah.

So, kita harus pintar-pintar membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tetap mengikuti perkembangan zaman dan mengikuti trend, namun harus dibarengi dengan sikap waspada dan berhati-hati. Stay Safe, Stay Healthy, and Keep Smart!

Berani Untuk Bilang “Tidak”, Berhenti Menjadi People Pleaser

Berani Untuk Bilang “Tidak”, Berhenti Menjadi People Pleaser

Ilustrasi (Dok. Pinterest)


Oleh: Berlian

Apakah kamu cenderung mengatakan “iya” kepada setiap orang yang membutuhkan bantuanmu? Kamu merasa tidak nyaman jika kamu menolak permintaan orang lain disekitarmu bahkan permintaan tersebut tidak kamu sukai? Hati-hati bisa jadi kamu termasuk seorang people pleaser. People pleaser merupakan sebuah sebutan yang dikaitkan dengan seseorang yang mudah untuk merasa “tidak enakan” dan seseorang yang susah untuk mengatakan “tidak”. 

People pleaser memiliki kecenderungan dalam melakukan apa saja untuk tidak mengecewakan seseorang di sekitarnya. People pleaser akan meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi, seorang people pleaser merasa penting dan selalu ingin berkontribusi bagi orang lain. Mereka akan merasa aman jika sudah mendapatkan persetujuan dan validasi dari orang lain. Seorang people pleaser cenderung takut untuk keluar dari zona nyaman karena mereka merasa bahwa jika mereka menolak mereka akan mengecewakan orang lain dan dijauhi oleh orang-orang disekitarnya. 

Memprioritaskan kesenangan orang lain agar mendapat validasi dari orang lain hal tersebut tentunya akan berpengaruh bagi kesehatan mental seseorang jika terus-menerus dibiarkan. Mereka akan sering menyalahkan diri sendiri apabila gagal untuk menyenangkan semua orang. Selain itu, hal tersebut dapat menyebabkan hilangnya kemampuan untuk mengenali diri sendiri bahkan kehilangan jati diri. Ketika menjadi seorang people pleaser sumber kebahagiaan seseorang telah berpindah dan bergantung pada rekognisi orang lain. Hal tersebut menunjukkan apabila prioritas kebahagiaan diri sendiri sudah tidak penting lagi.

Memiliki sebuah niat untuk membantu dan selalu ada untuk semua orang memang diperlukan, namun tidak jika niat tersebut mengandung obsesi dalam mendapatkan validasi dari orang lain. Berhenti untuk mencari apresiasi dan validasi dari orang lain. Kebahagiaan orang lain tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab diri kita namun kebahagiaan diri kita merupakan sebuah prioritas yang harus kita dahulukan. Berani untuk mengatakan “tidak” merupakan langkah dini untuk mengurangi kebiasaan menjadi people pleaser, dengan begitu kita akan perlahan belajar untuk menjadi tegas dengan diri kita sendiri. You can’t please everyone. If you do, then you can’t please yourself.