Kamis, 09 November 2023

Cara Dapatkan Jajanan Gratis di Jarwana Reborn 2023

Cara Dapatkan Jajanan Gratis di Jarwana Reborn 2023

(Poster Pesta Jajanan 3 Etnis dan Pembagian Bubur di Event Jarwana/Dok. Kelurahan Jayengan)


 Lpmvisi.com, Solo – Jarwana Reborn 2023 merupakan event tahunan dari Kelurahan Jayengan, Solo. Event ini berupa pagelaran budaya dari tiga etnis berbeda yang mendominasi Kelurahan Jayengan, yaitu Banjar, Jawa, dan Cina, Nama “Jarwana” pun diambil dari gabungan nama ketiga etnis ini. Pagelaran budaya yang telah digelar dari tahun 2017 ini bertujuan untuk menjadi wadah persatuan antara tiga etnis yang ada di sana. Respon masyarakat pun baik dan acara terus digelar hingga mencapai kali kelima di tahun 2023 ini. Tak hanya sebatas pagelaran budaya, Jarwana Reborn 2023 ini pun mengadakan pesta jajanan dari masing-masing etnis. 

“Ya kan keseniannya sudah, sekalian kulinernya kita perkenalkan,” ujar Adie Purnomo, selaku ketua panitia ketika ditemui pada Jumat (3/10/2023).

Pesta jajanan tiga etnis ini akan digelar selama dua hari, mulai tanggal 11 hingga 12 November 2023 mulai pukul 15.00 WIB. Tiap etnis akan memberikan kudapan tradisionalnya masing–masing, termasuk Bubur Samin yang menjadi makanan khas Banjarmasin. Kabar baiknya adalah akan ada total 3000 pcs jajanan dan 600 pcs Bubur Samin yang akan dibagikan secara gratis bagi masyarakat umum saat acara berlangsung. Syaratnya hanya satu, yaitu masyarakat memiliki voucher yang nantinya bisa ditukar dengan jajanan. Bagi masyarakat yang berminat, berikut cara mendapatkan voucher jajanan gratis di Jarwana Reborn 2023:

  1. Follow akun Instagram @jarwana.official, @kelurahanjayengan_ska, @pokdarwis_jayengan.

  2. Tukar bukti follow ini ke Kantor Kelurahan Jayengan pada 8-10 November 2023

  3. Tukar secepatnya karena persediaan voucher terbatas

  4. Voucher berlaku saat acara berlangsung.


Cara lainnya adalah dengan datang langsung ke tenda kesekretariatan panitia saat event berlangsung pada 11-12 November 2023.

“2 hari itu suasana Jarwananya tetap ada, termasuk kuliner. karena sudah ada menjadi ikon,” pungkas Drs. Aris Harjito, M.M selaku Lurah Kelurahan Jayengan. Informasi selengkapnya mengenai Jarwana Reborn 2023 dapat diakses melalui Instagram @jarwana.official. (Muthia Alya Rahmawati)


Sempat Akan Berhenti, Jarwana Kini Terlahir Kembali

Sempat Akan Berhenti, Jarwana Kini Terlahir Kembali

(Poster Kegiatan Jarwana/Dok. Kelurahan Jayengan)


 Lpmvisi.com, Solo – Pagelaran budaya tahunan Kelurahan Jayengan Solo, Jarwana, kembali hadir di tahun 2023 ini. Mengambil tajuk “Jarwana Reborn 2023”, Jarwana akan terlahir kembali dengan warna barunya. Jarwana Reborn 2023 akan dilaksanakan pada 11–12 November 2023 bertempat di Lapangan Kartopuran, Solo. Acara dimulai pada pukul 15.00 WIB hingga malam hari dan gratis untuk diikuti masyarakat umum. Rangkaian acara yang akan disuguhkan pun beragam, mulai dari penampilan seni, festival jajanan, festival makanan dan UMKM, serta panggung hiburan.

Nama “Jarwana” sendiri diambil dari tiga etnis dominan yang tinggal di Kelurahan Jayengan, yaitu etnis Banjar, Jawa, dan Cina. Ketiga etnis ini telah hidup rukun di Kelurahan Jayengan sejak dulu. “Penduduk kita itu didominasi ketiga etnis ini, mayoritas pasti yang Jawa. Kita juga berbaur ya, yang Banjar dapat Jawa, Cina dapat Jawa,” ujar Drs. Aris Harjito, M.M selaku Lurah Kelurahan Jayengan ketika ditemui pada Jumat (03/11/2023). Adapun pagelaran Jarwana ini juga bertujuan untuk menyatukan keberagaman yang ada tersebut.

“Kalo ga ada kegiatan seperti ini mereka (warga etnis) ga kumpul, masing–masing. Abis ada jadi kumpul, kenal, menyatu, direspons baik, semua seneng,” terang Adie Purnomo selaku ketua panitia Jayengan Reborn 2023.


(Kelurahan Jayengan, Surakarta. Kelurahan yang menyelenggarakan pagelaran budaya Jarwana/Dok. Muthia Alya)


Mulanya, pagelaran yang telah terlaksana sejak tahun 2017 ini akan dihentikan pada tahun 2022. Bahkan judul Jarwana di tahun 2022 adalah “The Last Show” atau pertunjukan terakhir. Namun, atas negosiasi yang andal, Jarwana tahun 2023 berhasil dihadirkan lagi. 

“Nah, ini saya perjuangkan dan alhamdulillah disetujui untuk tahun ini dan di tahun depan pun sudah kita anggarkan,” jelas Aris.

Pemerintah Kota Solo sendiri setiap tahun telah menganggarkan biaya untuk mengadakan pagelaran budaya bagi tiap–tiap kelurahan yang ada. 

“Iya, dulu itu tiap kelurahan ada anggaran, terus semakin sini difokuskan untuk tiap kecamatan, jadi hanya dianggarkan bagi kelurahan yang memang ada potensinya,” ungkap Adie. 

Namun, semakin bertambahnya tahun, anggaran akhirnya diseleksi dan digunakan hanya untuk kelurahan yang benar–benar memiliki potensi, seperti Jayengan dengan Jarwana ini. Jarwana sendiri telah mendapatkan tanggapan yang positif dari Pemkot Solo. Hingga saat ini, Jarwana telah mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata dan Dinas Komunikasi dan Informasi Solo. 

“Harapan kita adalah ini menjadi kalender event tingkat kota. Karena aja sejarahnya ada yang khas di situ,” pungkas Aris.

Informasi selengkapnya mengenai Jarwana Reborn 2023 dapat diakses melalui Instagram @jarwana.official. (Muthia Alya Rahmawati)


Jumat, 27 Oktober 2023

Pentingnya Pemikiran Kritis Mahasiswa Jelang Pemilu 2024: Memahami Peran Media dalam Kampanye Politik

Pentingnya Pemikiran Kritis Mahasiswa Jelang Pemilu 2024: Memahami Peran Media dalam Kampanye Politik

(Pembicara dalam Obral Himasos part 2 di Hutan FISIP UNS, Kamis (26/10)/Dok. Nabila) 

Lpmvisi.com, Solo – Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (UNS), Theofilus Apolinaris Suryadinata, S.Fil., M.A. berkesempatan menjadi narasumber dalam acara Obral Himasos part 2. Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) di Hutan FISIP UNS pada Kamis, 26 Oktober 2023. 

Obral Himasos sendiri merupakan sebuah kegiatan diskusi santai dan forum bertukar pandangan untuk membahas isu-isu yang relevan saat ini. Dalam pertemuan itu, tema yang diangkat kali ini adalah “Peran Media Sosial dalam Kampanye Pemilu: Pengaruh dan Tantangan”. 

Diskusi berjalan dengan kondusif dan interaktif. Theofilus memaparkan realitas kondisi media saat ini menjelang masa-masa Pemilu 2024. Ia juga mengingatkan agar para mahasiswa berpikir kritis terhadap terpaan pemberitaan dan isu yang diangkat oleh media massa maupun media sosial. 

“Ingat bahwa media sosial atau media massa itu dimiliki oleh partai politik, dimana mereka punya kepentingan. Jadi pemerintah, partai politik, dan kolega dari media bersatu untuk menyusun agenda publik. Kemudian agenda publik itu didistribusikan kepada orang-orang yang dianggap kurang kritis untuk dipengaruhi,” ujar Theofilus.

Banyaknya informasi yang bertebaran di media massa maupun media sosial, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perubahan sikap dan pandangan masyarakat. Menjelang masa kampanye Pemilu 2024, media semakin masif menunjukkan dukungannya terhadap kandidat tertentu dan mengabaikan kandidat yang lain untuk menggiring opini publik. 

“Dalam media sosial, banyak pemberitaan yang menarasikan dukungan kepada satu kandidat dan mendiskriminasikan kandidat yang lain. Poinnya adalah baik media massa atau media sosial, dapat menciptakan dua hal yaitu polarisasi dan kebencian,” tambahnya. 


Tantangan Menjelang Pemilu 2024

Indonesia merupakan negara demokrasi. Meskipun sejatinya, demokrasi tidak bisa lepas dari proses-proses transaksi atau pertukaran dari satu pihak kepada pihak lainnya. Proses transaksi dalam demokrasi bisa berjalan dengan sehat apabila mengambil wujud pertukaran visi, misi, ideologi, program, dan platform kontestan politik. Nyatanya, demokrasi transaksional justru menjadi ajang dan ruang bagi beberapa orang untuk memiliki uang dan kekuasaan. 

Hal tersebut disinggung oleh pemantik acara diskusi, Prama Aditya Graha selaku Presiden BEM FISIP UNS 2023. Prama menyebut terjebaknya Indonesia dalam demokrasi transaksional, mendorong para elit politik untuk melahirkan oligarki. Dengan begitu, mereka bisa dengan mudah menguasai media-media tertentu agar berjalan sesuai dengan kepentingan pengusungnya. 

“Media itu sudah disusun untuk pengkondisian massa dan pembentukan opini publik. Secara tidak langsung media juga dapat membaca pikiran kita. Makanya ada algoritma media, ketika kita sering melihat tayangan tertentu dan tertarik terhadap kelompok sosial tertentu, maka kita cenderung untuk mengikutinya terus menerus tanpa melihat media dari sisi lain. Hal itu sangat mudah dimainkan oleh elit politik untuk menyampaikan pesan politik, baik pesan yang baik atau buruk,” ujar Prama. 

Selain terjebak dalam demokrasi transaksional, Pemilu 2024 juga dihadapkan pada permasalahan polarisasi. Polarisasi politik mengakibatkan masyarakat terpecah menjadi beberapa kubu yang saling berseberangan terhadap pandangan dan kebijakan politik. Theofilus mengungkapkan terdapat setidaknya dua syarat terjadinya polarisasi. Pertama, ketika orang tidak mampu untuk mengamati, mengumpulkan data, dan menyimpulkan berbagai macam terpaan informasi yang dibagikan oleh media. Kedua, kecenderungan meyakini informasi yang sudah ada dan menolak fakta buruk yang berlawanan dengan keyakinan sebelumnya. 

Bukan hanya itu, kurangnya pemahaman dan kepercayaan terhadap politik juga dapat mendorong masyarakat untuk melakukan golput. Permasalahan ini sering kali timbul karena keputusasaan seseorang terhadap kebijakan pemerintah. 

“Orang itu putus asa karena datang dari harapan bahwa saya memilih pemimpin karena itulah yang terbaik. Maka harus dibalik, kita memilih pemimpin bukan memilih yang terbaik dari yang baik, tapi memilih dari yang kurang buruknya dari semua yang buruk,” lontar Theofilus disambut tepukan tangan meriah dari para mahasiswa. 

Tantangan lain yang tidak terlepas dari pemilu adalah munculnya politik identitas. Kerap dijumpai beberapa kandidat yang mengusung identitas kelompok tertentu untuk meraih suara. Theofilus menjelaskan mengusung politik identitas bisa menjadi hal yang positif ketika bertujuan untuk mengadvokasi hak asasi manusia, seperti yang dilakukan Amerika Serikat pada tahun 1970-an untuk menuntut perjuangan minoritas, gender, dan ras yang terpinggirkan. Namun, politik identitas juga bisa negatif ketika bertujuan untuk menjual elektabilitas semata dan menjatuhkan lawan. 

Meski demikian, di balik isu-isu yang menyerang pandangan publik saat ini, masyarakat perlu melihat gagasan, inovasi, dan gebrakan apa yang ditawarkan dari para kandidat tersebut. Peran dan pemikiran kritis mahasiswa juga menjadi salah satu solusi untuk menciptakan bangsa yang lebih baik kedepannya. 

“Yang paling ditakutkan dalam oligarki adalah ketika kesadaran kritis dari massa itu tumbuh. Sehingga, oligarki bisa dilawan kalau kita punya pikiran kritis dan suka berorganisasi untuk mengadvokasi kelasnya,” pungkasnya. (Novema, Nabila,  dan Asyahra)


Momentum Fans Gathering yang Suguhkan Antusiasme hingga Interaksi Antar Penggemar

Momentum Fans Gathering yang Suguhkan Antusiasme hingga Interaksi Antar Penggemar

(Event Festivibes yang menjadi salah satu tempat berjumpa penggemar/Dok. Nabila)

 Lpmvisi.com, Solo – Budaya idolizing atau mengidolakan public figure adalah fenomena yang umum terjadi sudah dari generasi ke generasi. Dalam beberapa dekade terakhir, Generasi Z telah mempengaruhi tren dalam musik, mode, teknologi, dan bahkan kebijakan sosial. Mereka memiliki dampak terhadap budaya pop, salah satunya menciptakan kultur Internet, mendorong inklusi, dan aktif dalam aktivisme. Generasi Z juga dinilai menjadi pendorong utama dalam membuat lagu atau public figure dikenal.


K-pop menjadi salah satunya yang ramai diperbincangkan di Indonesia, fenomena globalisasi telah memungkinkan berbagai kebudayaan, termasuk K-pop dari Korea Selatan, untuk masuk dan berkembang di negara ini. Budaya Korea memiliki pengaruh kuat terhadap berbagai aspek kehidupan sehari-hari di Indonesia, mulai dari selera musik, tampilan atau fashion, makanan, dan lain sebagainya. K-Pop sendiri identik dengan adanya idol group atau artis yang berada di bawah naungan suatu manajemen atau agensi. 


Event Festivibes: All Gen menjadi salah satu tempat bertemu fans, event adalah acara yang diselenggarakan oleh KVIBES atau salah satu komunitas fans K-pop di Indonesia. Acara ini sukses digelar untuk pertama kalinya di Solo dan merupakan bagian dari roadshow KVIBES di tahun 2023. Acara ini dimeriahkan oleh berbagai komunitas K-pop secara online dan offline. Beberapa kegiatan yang ada dalam acara ini antara lain dance competition, busking, random play dance, hingga performance dari Reza Darmawangsa dan DJ Nolja Gang dan juga noraebang atau karaoke. Selain itu, Walikota Solo Gibran Rakabuming dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara X juga sempat hadir dan memeriahkan acara tersebut.


(Kegiatan yang antusiasmenya paling tinggi, Noraebang atau karaoke/Dok. Nabila)

Momen ketemuan antar fandom sering terjadi dalam berbagai acara dan kegiatan. Misalnya, dalam konser musik, festival, atau acara komunitas. Salah satunya adalah acara ini. Komunikasi kelompok sangat penting dalam menjalin hubungan antar sesama fandom. Melalui komunikasi ini, anggota fandom dapat berinteraksi dan mencapai tujuan bersama, seperti mempererat hubungan atau menyalurkan ketertarikan mereka terhadap idola. Meskipun tidak jarang ada perselisihan di dalamnya seperti, perang antar fandom di media sosial bisa menjadi kebiasaan buruk bagi fans K-pop. Oleh karena itu, penting bagi setiap anggota fandom untuk selalu menjaga sikap positif dan saling menghargai antar sesama penggemar.


Selain acara seperti Festivibes, tentunya ada banyak momen lain yang dapat fans gunakan sebagai wadah berinteraksi dan saling kenal ataupun bertemu dengan rekan dunia maya. Konser yang pastinya tidak lepas dibicarakan, terutama jika sang idola adalah penyanyi, namun tidak semua orang memiliki kemampuan menonton konser karena keterbatasan biaya atau satu dan lain hal. Fan gathering kemudian menjadi wadah lain untuk para fans, lumrah bagi penggemar untuk merayakan ulang tahun, debut anniversary, hingga comeback idolanya bersama-sama dengan mengobrol atau bernyanyi dan hal-hal yang lain. Acara-acara tersebut yang menyediakan mereka tempat untuk mengekspresikan diri di antara orang-orang yang kemungkinan besar akan memahaminya. 

(Nabila)

Jumat, 20 Oktober 2023

Resensi Buku Novel "Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini"

Resensi Buku Novel "Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini"

(Ilustrasi cover dan gambaran mengenai isi novel/Dok. Google)


 Judul Buku : Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini

Pengarang : Boy Candra

Penerbit : Gramedia Widisarana Indonesia

Tahun Terbit : 2023

Editor : Linda Irawati

Ilustrasi : Ragil Kurnia Pribadi

Tata Letak Isi : Studio Galuni

Desain Cover : Kesampulan

Kota Terbit : Jakarta

Tebal Buku : 140 Halaman

Nomor Edisi Terbit : 978-602-05-3028-4

“Bu, kadang aku lelah sekali, tetapi aku tahu kau tidak suka aku datang padamu dengan cara paksa. aku jadi takut jika kematian itu justru tidak akan mempertemukan kita. Tetapi Bu, hidup ini kadang sial sekali. Aku dituntut harus mengerti semua orang dan tidak ada yang mencoba mengerti aku.” -Buku harian bersampul hitam.

Halo teman-teman…

Gimana nih perasaan kalian setelah membaca salah satu kutipan dari isi novel yang bakalan aku review. Apa kalian sudah dapat gambaran tentang apa sih novel yang mau aku review? yuk disimak ulasan sebuah novel karya Boy Candra berjudul "Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini".


Siapa sih yang tidak kenal Boy Candra? penulis ini sudah menerbitkan 30 buku karya pribadinya. Salah satu diantaranya adalah novel yang akan aku ulas kali ini. Pada tahun 2023 Boy Candra menerbitkan novelnya yang berjudul "Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini". Bukan novel yang tidak sepenuhnya mengandung unsur romansa ataupun horor, novel satu ini lebih menceritakan tentang arti kehidupan. Adapun beberapa tokoh yang digambarkan dalam cerita ini yaitu Pak Tua, Istri Pak Tua, Serani anak perempuan Pak Tua, Anak Muda, Anak lelaki pemilik buku harian bersampul hitam, Bendung dan Bos si Bendung. 


Novel ini menceritakan tentang kehidupan Pak Tua yang sedari kecil hingga remaja telah kehilangan sosok ibu. Setiap harinya bahkan hingga umurnya yang sudah lanjut, Pak Tua semakin merindukan sosok ibu sekaligus ayahnya yang sudah tiada. Rasa kesepian Pak Tua terbayar oleh sosok Istri yang selalu menemaninya bahkan hingga anak mereka Serani tumbuh dewasa. 


Semakin lanjut usia Pak Tua dan Istri, semakin mereka menyadari bahwa mereka akan saling meninggalkan satu sama lain.  Rasa takut yang harus itu harus mereka terima dengan lapang dada mengingat tidak ada yang abadi didunia. Suatu ketika pada saat Serani menelpon kedua orang tuanya, kemudian mengabari bahwa dirinya memutuskan untuk tidak pulang kampung dulu saat lebaran nanti, karena ingin mencari suasana baru di perantauannya, membuat Pak Tua dan Istrinya sadar bahwa suatu saat mereka berdua memang akan hidup untuk sendirian. Suatu hari ketika Pak Tua pergi ke makam orang tuanya, Pak Tua tidak sengaja menabrak seorang anak lelaki. Kejadian itu membuat Pak Tua bertemu dengan Buku Harian Bersampul Hitam milik anak itu. Buku Harian Bersampul Hitam membuatnya teringat akan sosok ibunya yang sudah lama meninggal. Pak Tua tentunya memiliki inisiatif untuk mengembalikan buku itu. Namun sayangnya, Pak Tua tidak lagi pernah bertemu dengan sosok anak lelaki pemilik Buku Harian Bersampul Hitam Tersebut.


Ya teman-teman, novel satu ini memiliki cerita yang sederhana, hanya terdiri dari 5 chapter saja, menjadikan buku ini favorit untuk dibaca ketika waktu luang. Keunikan buku ini adalah tidak menampilkan cerita kehidupan tokoh utama Pak Tua secara kompleks. Buku ini ingin menyampaikan pesan dan keindahannya melalui chapter 4. Chapter 4 berjudul Buku harian Bersampul Hitam adalah bagian paling unik dan menjadi keunggulan bagi buku ini. Karena pada chapter 4 kita akan dibuat terkesan sekaligus terharu akan sebuah karya tulis sederhana yang mengingatkan kita pada sosok ibu dan arti kehidupan. Selain itu novel ini hanya memiliki konflik sederhana dan tidak begitu membuat kita pusing pada alurnya. 


Novel ini juga memiliki desain yang simple dan klasik. Kita akan dimanjakan dengan masing-masing desain yang memiliki makna tersendiri. Salah satu yang menjadi ikon novel Bu, Tidak Ada Teman Menangis kali ini adalah Ikan Buntal. Penasaran? Langsung aja baca Novel ini ya! Lalu, buat teman-teman yang lagi kangen sama sosok mamah, boleh banget nih langsung aja di baca novel karya Boy Candra ini. Hanya saja kekurangan novel ini terdapat pada ending cerita. Ending pada cerita di buat terkesan menggantung. Pak Tua yang tidak dapat mengembalikan Buku Harian Bersampul Hitam milik anak lelaki itu, entah kenapa menjadi part tersedih menurut aku. Rasanya ingin agar Boy Candra membuat season 2 dari novel ini.


Buat teman-teman yang bingung ingin menghabiskan waktu luang dengan cara apa lagi. Aku saranin baca novel satu ini ya. Seperti biasa kalau Teman-teman mau mendapatkan salah satu novel karya Boy Candra ataupun karya novel lain, kalian bisa langsung ke Gramedia terdekat, karena sudah pasti disana ada banyak ragam novel yang bisa kalian beli yaa. Novel Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini dibandrol dengan harga Rp. 87.000 saja untuk pulau Jawa ya teman teman. Cukup Murah bukan? Tunggu apalagi? Ayo review Novel Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini versi kalian!!!

(Review Oleh: Sevina Emy Sulistyowati)

Kamis, 19 Oktober 2023

Film Pendek Indonesia “Love Is Not Enough” Cinta Beda Agama

Film Pendek Indonesia “Love Is Not Enough” Cinta Beda Agama

(Poster Film Love Is Enough/Dok. Google)


Judul Film : Love Is Not Enough (Film Pendek Indonesia)

Genre : Romansa

Sutradara : Rangga Azof

Produser : Dilla Bondan

Pemeran : Givina (Arunika) dan Antonio M Blanco Jr (Anak Agung Bagus Sanje)

Tanggal Rilis : 14 Januari 2023

Bahasa Asli : Bahasa Indonesia

Jumlah Episode : 1 Episode 

Durasi : 37.37 menit

Produksi : Garasinema (YouTube Channel Ide Garasi)


Halo teman-teman…

Siapa nih dari kalian yang pernah mengalami kisah percintaan beda agama? pasti berat yaa. Harus dituntut untuk memilih antara cinta atau Tuhan kita sendiri. Nah buat teman-teman yang pengen flashback atau mungkin bagi temen-teman yang penasaran dan belum pernah ngerasain jatuh cinta dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita, temen-temen boleh banget nih cobain nonton salah satu Film Pendek Indonesia Karya Rangga Azof yang berjudul “Love Is Not Enough”.  Temen-temen kepo ga nih? kira-kira seperti apa sih Film Love Is Not Enough Itu? Aku akan berbagi Review Film yang satu ini. Ayo disimak secara seksama!


YouTube Channel Ide Grasi baru saja merilis Film pendek Indonesia Love Is Not Enough pada Januari 2023 Lalu. Film pendek ini, dikemas dengan unsur Romansa yang siap membawa kamu hanyut dalam petualangan cinta yang ditampilkan. Tentu saja seperti yang aku katakan tadi bahwa, film ini menceritakan tentang kisah cinta beda agama antara dua orang remaja, Arunika si gadis yang beragama Islam dan Sanje seorang pemuda beragama Hindu.


Lika-liku cerita cinta ini dimulai ketika Arunika yang melakukan pelariannya dari Jakarta ke pulau Bali untuk menenangkan diri dari semua masalah kehidupannya. Pada suatu hari di sebuah museum lukisan di Bali adalah kali pertama Arunika bertemu dengan Sanje yang bekerja sebagai pengelola museum dan juga seorang pelukis yang handal. Perkenalan mereka berlanjut setelah Arunika yang dengan tidak sengaja menebak arti nama Sanje. Sanje yang dibuat tertarik oleh Arunika pun berinisiatif untuk mengajak gadis itu berjalan-jalan menyusuri museum lukisan yang berakhir menawarkan diri untuk menjadi  Guide Tour Arunika selama masa liburannya di Pulau Dewata itu.


Arunika yang merasa butuh seorang teman selama liburannya di Bali, akhirnya menerima tawaran Sanje untuk menjadi Guide Tour nya. Akan tetapi ada faktor lain dimana gadis itu melihat keunikan Sanje yang seperti Cenayang. Pemuda yang terus menerus menebak isi hati dan isi kepala Arunika yang selalu berantakan, terkadang membuat gadis itu kesal tapi juga merasa hangat karena Arunika merasa entah kenapa Sanje selalu paham isi hatinya.  Arunika, si gadis yang melakukan pelarian ke Bali memang sengaja untuk mencari ketenangan. Dan Sanje yang berbaik hati itu, membuat Arunika tentu merasa hangat. Waduh.. pesona seorang Sanje bisa aja yaaa….


Berawal dari memahami Lukisan, Arunika merasa dibuat banyak belajar oleh Sanje, terlebih lagi tentang arti ketenangan. Menjalani harinya bersama Sanje membuat Arunika sadar bahwa dirinya telah tertarik dengan seorang Sanje. Begitu halnya dengan Sanje, keduanya memiliki dan merasakan ketertarikan yang sama.  Perasaan yang tumbuh disetiap harinya, tidak dapat mereka hindari, namun mereka sama-sama sadar bahwa mereka tidak dapat berbuat lebih terhadap perasaan mereka akibat perbedaan yang sangat besar di antara keduanya. Sanje yang beragama Hindu dan Arunika yang beragama islam membuat mereka pada akhirnya memilih untuk membawa hubungan mereka sebatas teman saja. Wahhh…Berat yaa teman-teman, ibarat hubungan Long Distance Relationship (LDR) pembatasnya hanya sebatas waktu dan jarak, jadi masih bisa ditembus. Tapi kalau sudah tentang Tuhan, Jalan terbaiknya adalah ikhlas dan  mengalah. Atau apa mungkin ada dari teman-teman yang memilih nekat? 


Hari demi hari berlalu bersama Sanje, Arunika merasa semakin banyak pelajaran dan ketenangan yang didapatkannya selama liburannya di pulau Dewata itu. Hingga suatu hari saat tengah menikmati secangkir kopi bersama, Sanje menyadari bahwa si gadis yang dikenalnya harus kembali pulang ke Jakarta. Perasaan sedih menghampiri mereka, menciptakan keheningan yang pada akhirnya mereka menyadari bahwa, mereka harus menaruh rasa ikhlas. Momen haru datang pada kepulangan Arunika kembali ke Jakarta, sebab untuk pertama dan terakhir kalinya mereka saling berpelukan. Pelukan yang membawa arti perpisahan itu adalah kali terakhir Sanje dan Arunika bertemu.


Gimana nih teman-teman? sedih banget ya harus mengikhlaskan sesuatu yang memberikan kita perasaan cinta dan sayang. Jadi menurut teman-teman cerita cinta Arunika dan sanje ini sad ending atau happy ending? FIlm Love Is Not Enough ini wajib sih untuk di tonton, karena selain menampilkan kisah romansa, buat teman-teman yang belum pernah ke pulau Bali langsung, di film ini kita dibuat tau sedikit tentang sejarah dan bagaimana bentuk pulau Dewata. bagi kalian yang menonton film ini akan dimanjakan dengan keindahan pulau Dewata. Aku aja dibuat jadi pengen nih ke pantai lagi. Buat teman-teman yang takut bosan, jangan khawatir karena film pendek ini hanya berdurasi 37.37 menit saja dengan hanya satu alur cerita yaitu alur maju.


Kelebihan lain dari film Love Is Not Enough ini yaitu pesan yang terkandung dalam film sangat banyak. Mungkin karena hanya film pendek, pesan dalam film ini tersampaikan secara jelas. beberapa pesan yang paling menyentuh adalah tentang kita yang tidak perlu melawan isi pikiran. Memang apapun yang ada di pikiran kita itu sangat berisik, tapi ketika kita semakin melawan makan hanya akan semakin berisik saja. Ada juga disampaikan pesan bahwa perihal menghargai adalah pelajaran yang tidak bisa didapatkan melalui teori, karena cara menghargai paling baik adalah ketika kita bisa menghargai diri kita terlebih dahulu. Pesan lain yang cukup menyentuh adalah bahwa kita harus menerima dan berdamai dengan apa yang ditakdirkan untuk kita.  Setelah menonton film ini rasanya bukan Arunika sendiri ya yang mendapat pelajaran, tapi kita juga bisa belajar banyak. Oh iya hati-hati karena kamu bisa dibuat ikut jatuh cinta dengan ketampanan sosok Sanje juga loh.


Kekurangan Film ini terdapat pada gambaran sosok Arunika dari cara berpakaiannya yang kurang menggambarkan sosok muslimah. Cukup dibuat kaget ternyata Arunika adalah seorang muslim. Atau mungkin memang sengaja agar penonton dibuat kaget? Saran aku sih mungkin kedepannya ketika ingin menggambarkan sosok muslimah bisa disesuaikan lagi pakaiannya. Film ini cukup memberikan kesan baik, Jujur saja ya teman-teman menonton film ini bikin aku jadi agak flashback nih. selain itu karena pesan yang disampaikan sangat tepat sasaran dan memotivasi, film ini jadi penuh makna disamping lika-liku cinta beda agama yang ditampilkan. 


Tunggu apalagi? jangan ragu untuk menonton film Love Is Not Enough ini, karena hanya film pendek, jadi film ini tidak akan membuang banyak waktu kalian ya teman-teman. Sambil duduk santai ditemani cemilan kesukaan, enjoy the film and happy watching


(Resensi oleh Sevina Emy Sulistyowati)