Rabu, 10 Juli 2024

Mengusung Tema Budaya, Mata Najwa Tunjukkan Eksistensinya di Kota Solo

Mengusung Tema Budaya, Mata Najwa Tunjukkan Eksistensinya di Kota Solo

         

(Potret diskusi terbuka para tokoh di ISI Surakarta pada Rabu, (10/7 / Dok. Asyahra)


Lpmvisi.com, Solo – Mata Najwa kembali ke Solo dengan menghadirkan beberapa tokoh dan seniman pada Rabu, 10 Juli 2024, di ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta. Acara tersebut berlangsung pada malam hari dengan tema Panggung Warisan Budaya. Selain Mata Najwa, acara ini didukung oleh Kemendikbud Ristek serta IHA (Indonesian Heritage Agency), dan berjalan dengan tertib serta mengesankan berkat kehadiran tokoh-tokoh senior dan ahli dalam bidang budaya.

Tokoh-tokoh yang turut berpartisipasi di panggung malam itu antara lain Najwa Shihab, Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan), Gusti Bhre, Eko Supriyanto (dosen ISI Surakarta), Waro (mahasiswa pedalangan ISI Surakarta), Ario Bayu (aktor perfilman), dan Hadirnya Didik Nini Thowok, seorang maestro terkenal. Acara dimulai dengan kuis-kuis kebudayaan diikuti pertunjukan tari oleh mahasiswa ISI Surakarta, yang kemudian disusul sambutan dari Rektor ISI Surakarta, Dr. I Nyoman Sukerna, S.Kar., M.Hum.

Sejak sore hari, halaman ISI Surakarta sudah dipadati oleh puluhan orang yang datang untuk menonton acara tersebut. Banyak di antara mereka tampil dengan gaya unik dan membawa barang-barang yang sesuai dengan tema acara, seperti batik sebagai simbol kebudayaan yang diusung kali ini. Antusiasme penonton terlihat dari panjangnya antrian di pintu masuk panggung acara. Penonton baru diperbolehkan masuk mulai pukul 18.00, dan kursi serta tempat duduk langsung dipenuhi oleh para tamu.


(Pertunjukan tari oleh Mahasiswa ISI Surakarta membawakan tari tentang keprajuritan Srikandi / Dok. Asyahra) 


(Rektor Institut Seni Indonesia Surakarta, Bapak Dr I Nyoman Sukerna, S.Kar., M.Hum. memberikan sambutan semangat pada penonton yang hadir / Dok. Asyahra)


Sebelum memasuki acara inti, penonton disambut oleh penampilan kolaborasi antara Eko Supriyanto dan Woro yang terlihat epik di panggung yang gemerlap. Eko sebagai dosen tari memadukan keluwesannya menari dengan Woro yang membawa suara indahnya sebagai wujud keahliannya mendalang. Tampilan Eko dan Woro merupakan salah satu output dari pendidikan formal di Institut Seni Indonesia Surakarta. Menunjukkan bahwa budaya tidaklah hanya orang tua saja yang menggemari bahkan menekuni tetapi juga kaum muda terkhusus perempuan.


(Kolaborasi antara Eko dan Woro dalam Panggung Warisan Budaya / Dok. Asyahra)


(Potret Woro sedang menunjukan keahliannya dalam bidang pedalangan / Dok. Asyahra)


Setelah beberapa penampilan dari ISI Surakarta, panggung sepenuhnya dipimpin Najwa Shihab selaku pembawa acara di Mata Najwa. Beliau menyapa penonton dengan beberapa patah kata perihal budaya di Solo. Budaya Solo tentu menarik karena ada ISI Surakarta, begitulah tutur katanya. Tak perlu panjang lebar Najwa Shihab atau yang lebih akrab disapa mbak Nana mempersilahkan beberapa tamu undangan seperti Hilmar Farid, Gusti Bhre, Eko Supriyanto, Waro, Ario Bayu serta penampilan Didik Nini Thowok. Diskusi berjalan lancar sebagaimana mbak Nana sebagai pembawa acara memberikan isu budaya yang sedang hangat lalu para tamu undangan memberikan tanggapannya.


(Potret Najwa Shihab menjadi pembawa acara / Dok. Asyahra)


(Potret para tamu undangan sedang berdiskusi terkait warisan budaya sekarang / Dok. Asyahra)


Melihat tema acara yang dibahas, diskusi berlangsung membahas warisan budaya Indonesia yang sangat kaya serta inovasi di masa depan. Mbak Nana juga memperlihatkan beberapa tayangan terkait warisan budaya yang bisa berupa benda tak berwujud seperti lagu, makanan, dan tarian khas, maupun berwujud seperti museum. Diskusi dimulai dengan pertanyaan dari Mbak Nana tentang bagaimana menghadapi tantangan museum yang jarang dikunjungi oleh masyarakat, terutama anak muda, serta inovasi apa yang perlu dilakukan kedepannya. 


Dalam tanggapan dari Dirjen Kemdikbud Ristek, Gusti Bhre dari Mangkunegaran, Eko dan Woro sebagai pelaku budaya, serta Ario Bayu sebagai pelaku seni perfilman, disimpulkan bahwa warisan budaya tidak akan pernah padam. Museum dan warisan budaya lain yang dulunya sepi kini diyakini akan semakin ramai berkat inovasi yang terus berkembang. Kemendikbud Ristek, melalui Indonesia Heritage Agency (IHA), telah menciptakan beberapa inovasi untuk mempromosikan dan meningkatkan kunjungan ke warisan budaya. Harapannya, anak muda tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga untuk memperdalam pengetahuan mereka sendiri.



(Didik Nini Thowok saat ditanya oleh Najwa Shihab setelah performance / Dok. Asyahra)


(Kolaborasi 3 pelakon seni budaya Didik, Eko dan Woro dalam satu frame / Dok. Asyahra)


(Sesi foto bersama para tamu undangan yang hadir disertai gaya tangan yang ikonik / Dok. Asyahra)


Acara ditutup dengan kolaborasi penampilan dari Didik Nini Thowok, Eko serta Woro. Mereka menari di atas panggung sambil berjalan ke tengah menarik penonton untuk ikut menari di atas. Singkatnya secara resmi acara ditutup dengan swafoto mbak Nana dengan para tamu undangan serta para penonton. (Asyahra)



Sabtu, 06 Juli 2024

 Pameran Karya Seni sebagai Bentuk Representasi Harapan di Masa Remaja

Pameran Karya Seni sebagai Bentuk Representasi Harapan di Masa Remaja

(Pengunjung sedang melihat-lihat beberapa karya seni yang ditampilkan di exhibition Artweek 2024 bertema ‘Masa Remaja’ (31/5) / Dok. Alya)

Lpmvisi.com, Solo —  Event Artweek yang dilaksanakan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret (FSRD UNS) pada Mei 2024 ini menghadirkan tema 'In-Site: Garis Hidup', yang mengisahkan perjalanan hidup manusia pada karya-karya seni yang mereka pamerkan. Tema ini tentu saja akan berfokus pada memori setiap orang yang telah berkembang menjadi individu sepanjang waktu. Pameran ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu masa anak-anak, masa remaja, dan masa dewasa atau tua, sesuai dengan siklus kehidupan manusia, sehingga harapannya dapat membawa pengunjung ke memori-memori kehidupannya.


    Salah satu subtema pameran, yaitu “Masa Remaja”, merupakan babak yang paling menggambarkan mayoritas pengunjung yang merupakan mahasiswa. Tak dapat dipungkiri, acara ini berlokasi di tengah kampus lebih tepatnya di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret, yang pasti pameran ini penuh dengan pengunjung yang berstatus mahasiswa. Tema yang paling menggambarkan mayoritas pengunjung ini pastilah akan sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut arti mendalam di balik setiap karyanya. Lebih lagi, masa remaja juga dikenal sebagai masa-masa tak terlupakan dan yang paling memberikan pengaruh serta kesan dalam perjalanan hidup seorang manusia. 

    ‘Masa Remaja’ menggambarkan masa-masa kehidupan anak muda zaman sekarang. Karya-karya yang ditampilkan juga terdiri dari berbagai gaya seni, mulai dari realistis, simbolik hingga abstrak. Selain itu, diciptakan dari berbagai media seperti media konvensional hingga digital dan tentunya dari kacamata kaum generasi Z. Adanya media yang interaktif, pengunjung tak hanya dapat menikmati karya secara visual, tetapi juga acara dengan melakukan interaksi dengan media konvensional. Konsep dan visi berbeda-beda yang dibawakan oleh setiap pengkarya menciptakan keunikan dan sudut pandang yang unik pada setiap karya. Melalui karya yang dipamerkan ini, pengkarya menunjukkan refleksi dari ingatan pribadi serta perjalanan emosional yang ia lalui hingga di titik ini dalam kemasan karya seni autentik yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Jadi, karya-karya ini menunjukkan kehidupan setiap insan yang menggambarkan masa remaja. Adapun keberagaman art style dari setiap penulis yang memiliki tema dan maksud yang sama menjadikan penggambar beragamnya jalan dan emosional masa remaja untuk mencapai tujuan yang sama.


(Sejumlah ilustrasi digital yang dipamerkan di exhibition ‘Masa Muda’ pada Artweek 2024 / Dok. Alya)

    Karya seni pada pameran ini cukup beragam. Salah satu jenis karya seni yang tidak mungkin ketinggalan adalah berbagai lukisan yang dipajang. Kebanyakan karya lukisan pada pameran kali ini merupakan ilustrasi digital. Beberapa contoh ilustrasi digital tersebut adalah karya yang berjudul ‘Her Own World’ dan ‘Love Buzz’. ‘Her Own World’ merupakan karya dari Aziza Nur Khalida, seorang mahasiswa FSRD UNS. Karya ini mencerminkan sisi kehidupan lain seorang remaja yang sedang berada dalam fase memaknai kehidupannya dan mencari jati diri. Karya ini menggambarkan seorang gadis yang merupakan seorang putri kerajaan di kehidupannya, dengan makhluk-makhluk di sekelilingnya yang merupakan penggambaran jati dirinya, di mana ia memiliki sifat-sifat yang bervariatif yang diwakili oleh berbagai makhluk yang berbeda tersebut.


Di lain sisi, ada karya berjudul ‘Love Buzz’ oleh Irsyad Khairullah yang juga merupakan seorang mahasiswa FSRD UNS. Karya ini menggambarkan dua orang remaja yang sedang terhanyut dalam senja. Detail seperti sedikitnya objek, mata terpaku pada cakrawala, serta langit yang berwarna imaji dengan gabungan jingga, merah muda, dan ungu menciptakan kisah asmara yang tampak di antara kedua tokoh. Karya ini jelas menggambarkan bahwa di masa muda juga terdapat kisah cinta yang membekas di setiap insan.


(Karya seni instalasi berjudul ‘Titik Kumpul’ yang banyak digunakan oleh pengunjung pameran sebagai spot foto di Artweek UNS 2024 / Dok. Alya)

        Selain karya seni seperti ilustrasi, terdapat juga karya seni instalasi yang merupakan salah satu jenis karya seni kontemporer. Seni ini menyajikan visual tiga dimensional yang memperhitungkan elemen-elemen ruang, waktu, dan suara, sehingga karya ini berukuran ruangan yang seluruh ruangnya dianggap sebagai satu kesatuan karya seni. Salah satu karya instalasi pada subtema ‘Masa Muda’ ini yang pasti sangat relate dengan mahasiswa adalah karya instalasi dengan judul ‘Titik Kumpul’ oleh mahasiswa FSRD UNS. Karya ini menyajikan visualisasi burjo yang merupakan tempat yang lekat dengan remaja/fase menuju dewasa, terlebih bagi mahasiswa. Burjo, tidak hanya sebagai tempat makan, tetapi juga sebagai ‘Titik Kumpul’ untuk mengerjakan tugas, mabar game, curhat, gosip, bahkan tempat untuk rapat mendadak. 


(Karya seni instalasi berjudul ‘back to 2000’s’ pada Artweek 2024 UNS / Dok. Alya)

Selain ‘Titik Temu’, masih ada lagi karya seni instalasi lain yang menjadi spot foto favorit pengunjung. Karya seni instalasi yang berjudul ‘Back to 2000’s’ ini merupakan karya oleh sekumpulan mahasiswa Kriya Tekstil angkatan 2021 FSRD UNS. Karya mereka merupakan instalasi interaktif, menitikberatkan fokus utama pada fashion 2000-an yang di mana Kriya Tekstil mempelajari tentang tren fashion yang sedang berkembang. Karya instalasi ini menghadirkan sebuah kamar remaja khas tahun 2000-an, lengkap dengan berbagai macam fashion yang tren pada masa itu. Lebih dari sekedar fashion, instalasi ini juga ingin menyampaikan makna tentang identitas, ekspresi diri, dan pemberontakan remaja di era 2000zan. Sehingga, sudah pasti bukan hanya remaja generasi gen-Z yang dapat menikmati pameran ini, tetapi generasi terdahulu yang merasakan masa remaja pada tahun 2000-an pun juga dapat menyelam kembali pada masa remajanya yang penuh dengan memori indah.


Secara keseluruhan, transisi yang dibawakan pada ‘Masa Remaja’ ini bersifat umum. Ada yang menggambarkan transisi dari anak-anak ke remaja dan ada juga yang menampilkan transisi dari remaja ke dewasa. Hal ini dapat dilihat dari karya yang menunjukkan struggle menuju kedewasaan. Ada juga karya yang menggambarkan masa-masa SMA, suatu transisi dari masa kecil ke remaja.


Kriteria karya yang diterima di dalam pameran ini yang terpenting adalah sesuai dengan tema yang akan dipamerkan. Maka pengkarya dapat memilih untuk memasukkan karyanya ke dalam masa anak-anak, masa remaja, maupun masa dewasa/tua. Lain halnya untuk masa remaja sendiri, tentu saja karya yang diambil adalah karya-karya yang dapat menggambarkan masa remaja dari sisi manapun. Karya yang sesuai tema telah diserahkan, karya tersebut akan ada kurasinya dulu oleh para dosen kurator. Karya yang telah dinilai sesuai tema dan cocok untuk masuk pameran atau tidak barulah karya tersebut lulus seleksi. Hal ini dikarenakan pengkarya yang dapat mengirim karya untuk dipamerkan bukan hanyalah mahasiswa, melainkan untuk umum, termasuk siswa SMP dan SMA jika karyanya sesuai dengan tema.


“Sebenarnya mungkin pesannya itu pengen setiap orang lebih menghargai kehidupan lagi. Terutama ‘Masa Muda’, mungkin karena sekarang kita mahasiswa ya jadinya menggambarkan banget. Intinya, pameran ini lebih ke membawa memori-memori mereka kembali dari masa anak-anak hingga masa tua. "Karena acara ini untuk umum sehingga memungkinkan kalangan dari berbagai umur untuk menikmati pameran karya ini,” ujar Syifa, seorang mahasiswi Desain Interior yang merupakan panitia dari divisi Partnership Artweek 2024. Harapannya pameran ini dapat memberikan inspirasi dan referensi yang bermanfaat bagi semua orang, serta membawa perubahan yang positif untuk kedepannya.


Event Art Week ini tak hanya menampilkan karya seni lukisan saja, tetapi juga dimeriahkan dengan sambutan rangkaian acara yang lain seperti live music dan bazar. Rangkaian acara ini bertujuan untuk menambah minat para pengunjung dan memberikan minat lebih pada kalangan remaja untuk datang menghadiri acara tersebut. Acara live music digelar sejak siang hingga malam pada puncaknya yang dihadiri sekitar 2000 orang dari berbagai kalangan. Tak hanya itu saja, bazar yang berderet di jalur masuk juga menggelar banyak pernak-pernik yang menghiasi setiap langkah dari pengunjung. Bazar tersebut menjual berbagia barang seperti gantungan kunci, lukisan dinding, nail art, tas, dan masih banyak barang-barang yang diminati oleh kalangan muda terutama mahasiswa. Acara ini sukses menarik minat dari mahasiwa untuk lebih tertarik kepada seni dan barang barang yang memiliki makna. (Alya, Zaky)





Rabu, 03 Juli 2024

Kalahkan Skuad Vietnam, Timnas Indonesia U-16 Raih Juara Tiga Ajang AFF U-16

Kalahkan Skuad Vietnam, Timnas Indonesia U-16 Raih Juara Tiga Ajang AFF U-16

(Gambar: Pertandingan Timnas Indonesia melawan Timnas Vietnam pada (03/07/2024) di Stadion Manahan, Surakarta / Dok. Gita Alya)

Lpmvisi.com, Solo – Setelah melalui laga yang sengit dan meraih 9 poin di fase penyisihan grup A, Timnas Indonesia melaju ke Babak Semifinal melawan Timnas U-16 Australia. Namun sayang, Timnas Indonesia harus mengalami kekalahan 3-5 dan harus melaju ke perebutan juara tiga melawan Vietnam.


Pertandingan yang diadakan pada (03/07/2024) di Stadion Manahan Surakarta membawa Indonesia meraih Juara tiga di ajang AFF U-16 Championship, dengan skor 5-0 mengalahkan Vietnam.


Laga yang dimulai pukul 15.00 WIB ini dibuka dengan gol yang diciptakan oleh Gholy pada menit ke 45, disusul gol kedua pada tambahan waktu babak pertama oleh Dafa Zaidan.


Pada babak kedua, gol untuk Indonesia bertambah yang diciptakan oleh Daniel pada menit ke 74.  Tak berselang lama, gol selanjutnya kembali diciptakan oleh Gholy pada menit ke 79, serta gol penutup bagi Skuad Indonesia kembali diciptakan oleh Daniel.


Dengan hasil ini, Timnas Indonesia otomatis menyandang gelar juara tiga Ajang AFF U-16. (Gita)


Minggu, 30 Juni 2024

 Mahasiswa UNS Lakukan Riset Berbasis Kearifan Lokal guna Membentuk Karakter Peduli Lingkungan di Kalangan Siswa

Mahasiswa UNS Lakukan Riset Berbasis Kearifan Lokal guna Membentuk Karakter Peduli Lingkungan di Kalangan Siswa


(Dua mahasiswa UNS sedang melakukan wawancara dan konsultasi bersama dosen / Dok. Dwiana Nur Rizki Hanifah) 

Lpmvisi.com, solo – Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (S-2 PBI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) lakukan riset terapan berbasis kearifan lokal guna membentuk karakter peduli lingkungan di kalangan siswa sekolah dasar. Adapaun kedua mahasiswa tersebut bernama Akhmad Mukhibun dan Dwiana Nur Rizki Hanifah. Penelitian ini dibimbing oleh Profesor bidang Metodologi Pengajar Bahasa UNS, Prof. Dr. Andayani, M.Pd.

Penelitian ini dilakukan dengan dasar temuan masalah bahwa kondisi lingkungan hidup mengalami kerusakan, seperti pencemaran udara, air, produksi sampah berlebih, degradasi lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, penggurunan, dan penggundulan hutan (Hadi et al, 2024). Masalah ini turut menjadikan tujuan Pembangunan berkelanjutan (SDGs) 2030 mengalami stagnasi dan kemunduran. Hal inilah yang mendorong dilakukan penelitian guna mengatasi permasalahan tersebut.

Mukhibun, dalam wawancaranya, menyampaikan bahwa kearifan ekologi dalam cerita rakyat merupakan representasi keluruhan budi manusia. Hal ini menjadikan cerita rakyat memiliki muatan moral dan perlu dimanfaatkan dalam pendidikan karakter.

“Masyarakat Indonesia, pada zaman dahulu, menjadikan cerita sebagai alat mendidik. Cerita-cerita yang disampaikan secara lisan merupakan cara untuk mengajarkan konsep benar/salah, baik/buruk, anjuran/larangan, dan pantangan-pantangan. Kearifan masyarakat ini didokumentasikan dalam bentuk cerita rakyat. Dengan harapan, generasi penerus melakukan penjagaan pada hal-hal yang penting dilindungi,” terang Mukhibun pada Media UNS (27/5/2024).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam cerita rakyat Jawa Tengah mengandung dimensi kearifan ekologi berupa pemahaman lingkungan alam, pemanfaatan ekosistem, pengetahuan warisan budaya Jawa tentang lingkungan, dampak perilaku merusak lingkungan, mitos sebagai media penjaga perilaku, dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. 

Pakar lingkungan UNS, Prof. Dr. Prabang Setyono, S.Si., M.Si., C.EIA, menyampaikan bahwa penting membentuk watak peduli lingkungan pada siswa. Hal ini agar generasi muda menjadi pribadi yang melek lingkungan dan dapat ikut serta menyelesaikan permasalahan lingkungan.

“Anak-anak memerlukan penanaman pendidikan karakter peduli lingkungan untuk menumbuhkan generasi cinta lingkungan,” terang Prof. Prabang.

Temuan penelitian ini ditindaklanjuti dan dikembangkan menjadi media pembelajaran karakter berbasis website bernama Siceria. Website ini memuat cerita bergambar yang diadaptasi dari cerita rakyat dengan muatan kearifan ekologi, seperti kisah Karangbolong, Kerajaan Nusatembini, Kisah Pangeran Juru, dan Legenda Nusa Kambangan. 



https://sites.google.com/view/wwwsiceriacom/halaman-muka

Website Siceria ini mendapatkan respon dan hasil positif. Hal ini diketahui berdasarkan uji pakar dan penilaian postes siswa setelah melaksanakan pembelajaran berbasis website Siceria.

“Website cerita bergambar ini sudah baik dan dapat dijadikan media pembelajaran. Website juga dapat dikembangkan lagi dengan pemberian audio guna memberikan efek nuansa lingkungan dan alam,” terang Prof. Andayani.

Dwiana juga menegaskan bahwa penelitian ini diharapkan dapat mewujudkan tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama mengenai ekosistem daratan dan pendidikan berkualitas.

“Penelitian ini diharapkan dapat menjadi solusi preventif mewujudkan pembangunan berkelanjutan, terutama poin 4 dan 14. Besar harapan, dengan adanya website Siceria, dapat melahirkan generasi muda yang peduli dan berwawasan lingkungan,” pungkasnya. (Dwiana Nur Rizki Hanifah)

  


Selasa, 25 Juni 2024

 Oknum Polisi Aniaya Anak Hingga Tewas, Di mana Peran Penegak Hukum?

Oknum Polisi Aniaya Anak Hingga Tewas, Di mana Peran Penegak Hukum?

(Ilustrasi Penganiayaan Oknum Polisi Terhadap Anak di Bawah Umur / Dok.Internet)

Lpmvisi.com, Solo - Indonesia merupakan negara hukum dimana segala sesuatu perkara kejahatan akan ditindak tegas oleh aparat negara, salah satunya aparat kepolisian. Polisi bertugas melindungi, mengayomi, serta menjadi penegak hukum di lingkungan masyarakat. Tentunya, polisi dekat keberadaannya dengan masyarakat. Polisi lebih mudah dijangkau masyarakat dibanding tentara yang sama-sama memiliki fungsi perlindungan dan ketertiban. Melihat tugas dan fungsinya, polisi tentunya memiliki kewajiban melindungi warga negara serta jauh dari pelanggaran. Akan tetapi, bagaimana jika polisi yang seharusnya menjadi tameng masyarakat dari kejahatan justru menjadi pelaku kejahatan dan pelanggar hukum? 


    Hal tersebut terjadi di Indonesia. Beberapa oknum polisi dicurigai melakukan penganiayaan setelah pada Minggu, 9 Juni 2024 ditemukan mayat mengambang di bawah jembatan aliran Batang Kuranji, Jalan By Pass KM 9, Pasar Ambacang, Kuranji, Kota Padang sekitar pukul 11.55 WIB. Mayat tersebut diidentifikasi sebagai AM (13) yang sebelumnya bersama 1 teman, diringkus oleh polisi yang sedang melakukan patroli. LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Padang mengatakan alasan polisi meringkus AM dan temannya karena dituduh mengikuti tawuran. Tidak hanya itu, dugaan penganiayaan polisi menjadi berjumlah 5 orang anak di bawah umur serta 2 orang dewasa. Penganiayaan yang dilakukan berupa sundutan rokok, ditendang, dicambuk, hingga pemaksaan seksual.


    Kasus tersebut tentunya menjadi sorotan publik. Mengapa harus ada penganiayaan jika bisa diselesaikan secara baik-baik? Terlebih lagi, polisi tersebut hanya menghadapi anak yang bahkan belum mendapat KTP. Seharusnya, polisi mempunyai tindakan preventif alih-alih malah melakukan penganiayaan. Penganiayaan anak termasuk dalam pelanggaran HAM dan patut mendapat hukuman yang setimpal. Penganiayaan terhadap anak termasuk dalam  Undang-Undang Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014 Pasal 80 (1). Pasal 76 c mengancam pidana penjara maksimal 3 tahun 6 bulan dan/atau denda hingga Rp72 juta. Tidak sampai disitu saja, hukuman akan semakin bertambah berat apabila polisi sudah ditetapkan menjadi pelaku. Oknum polisi yang terlibat kemungkinan besar akan dicabut jabatannya serta menerima sanksi sosial. Sayangnya kasus ini belum mendapat titik terang meskipun publik sudah mengetahui entah sebab hal apa yang menyebabkan polisi lamban dalam penyelidikan kasus ini. Polisi masih mengumpulkan bukti keterangan dari saksi-saksi sekitar dan tentunya pelaku masih berkeliaran. 


    Keadaan ini menjadi sangat memprihatinkan sekaligus sangat ironi. Pasalnya polisi yang seharusnya menjadi lini terdepan penegak hukum justru turut menjadi objek penyelidikan polisi. Hal ini tidak sesuai dengan tugas aparat penegak hukum yang setiap anggota polisi harus menjadi pelopor dan teladan dalam ketertiban dan ketaatan aturan dan hukum negara. Namun, kenyataannya masih banyak oknum polisi yang melanggar aturan negara bahkan menjadi pribadi yang buruk yang tidak selaras dengan profesinya. Citra polisi sebagai penegak hukum menjadi buruk dan fungsi polisi semakin tidak berguna. Tidak sampai disitu, efek dari rusaknya moralitas polisi akan berujung panjang, sebab polisi merupakan pondasi dari terciptanya keteraturan dan fungsi perlindungan masyarakat. 


    Jika polisi tidak difungsikan sebagaimana fungsinya, otomatis tercipta disintegrasi di lingkungan masyarakat. Masyarakat cenderung tidak percaya bahkan memusuhi polisi yang seharusnya menjadi teman masyarakat. Masyarakat semakin tidak terkendali melihat keadaan polisi yang semakin bobrok. Rasanya akan sulit apabila dari aparat penegak hukum sendiri tidak taat pada peraturan entah itu dari segi teknis, pelaksanaan tugas maupun kehidupan sehari-hari. Sebab, seperti yang dikatakan pepatah bahwa sapu yang kotor, tidak bisa membuat lantai bersih. Artinya jika oknum polisi secara personel tidak menaati peraturan, maka masyarakat yang diatur tidak mungkin taat peraturan. Masyarakat akan meniru apa yang polisi tampilkan ke khalayak yang kemudian tidak lagi tunduk pada aparat. Dalam kata lain, polisi memegang peranan penting untuk menjaga keteraturan sosial di lingkungan masyarakat. Sehingga sangat ditekankan bahwa polisi tidak boleh melanggar aturan apalagi melakukan kejahatan. (Asyahra)