Minggu, 02 Agustus 2020

Serunya Petualangan Sekelompok Perampok dalam “Money Heist”

Serunya Petualangan Sekelompok Perampok dalam “Money Heist”

Judul Money Heist (judul asli: La Casa de Papel) | Tahun Rilis :  2017 | Sutradara  : Alex Pina | Durasi Tayang  : 41-59 menit

(Dok. Medium)


Oleh : Oentari Rachmawati

Jikalau kita terperangkap di dalam rumah karena pandemi, lain halnya dengan yang satu ini. Terjebak di dalam gedung pencetak uang karena perampokan. “La Casa de Papel” atau yang lebih populer dengan nama “Money Heist”, adalah salah satu serial Netflix yang kini telah memasuki musim keempat. Serial berbahasa Spanyol garapan Alex Pina ini sempat tidak laku saat ditayangkan oleh Spanish Network Antena dan awalnya direncanakan untuk berhenti di musim kedua. Namun, serial ini kemudian diakuisisi oleh Netflix dan menjadi serial ngehits.

Cerita berfokus pada perampokan yang didalangi oleh tokoh bernama Professor, seorang brewok tampan berkacamata yang memiliki otak super fantastis dalam menyusun strategi dan mengendalikan perampokan dibalik layar. Professor memiliki delapan anggota yang bergabung dalam timnya. Nama para anggota diambil dari nama beberapa kota di seluruh dunia, yaitu Tokyo, Rio, Berlin, Nairobi, Moscow, Denver, Helinski, dan Oslo. Setiap anggota tim memiliki karakter masing-masing yang mengundang simpati dari para penontonnya. Seringkali kita lupa bahwa mereka melakukan tindakan kriminal. Meskipun menggunakan alur maju mundur, serial ini tidak membingungkan penontonnya untuk mengikuti keseluruhan episode serial.

Alvaro Morte, pemeran Professor mengatakan, karakter Professor memiliki beberapa aturan dalam aksi perampokan. Contohnya, tim Professor tidak boleh melukai para sandera dan menghindari jatuhnya korban. Perampokan tersebut juga tidak boleh mengambil uang yang sudah ada di dalam bunker penyimpanan uang, melainkan mencetak uang sendiri. Apabila jatuh korban, maka Professor akan memberi hukuman pada anggota tim yang bersalah. Adu taktik antara polisi dengan Professor dan timnya mewarnai jalannya cerita dan membuat kita yakin bahwa Professor selalu melangkahi taktik polisi lebih awal.

Penggambaran karakter anggota tim Professor membuat emosi kita seakan menaiki roller coaster. Hal ini dikarenakan, serial ini menampilkan dua sisi sifat manusia, yaitu sisi baik dan buruk. Akan tetapi meskipun manusia bersikap jahat, kita tetap berada di kapalnya (batasannya – red). Mulai dari Tokyo, yang menjadi pembuka atau narasi dalam serial ini, seorang perempuan berani, gegabah, dan menghadapi cinta lokasi dengan rekan setimnya, Rio. Berlin, yang dijadikan ketua oleh Professor dalam aksi perampokan, memiliki sifat narsistik, dan berani membunuh orang. Rio, anggota termuda yang merupakan kekasih dari Tokyo dan handal dalam melakukan peretasan. Nairobi, perempuan pemberani yang paling waras diantara anggota tim lainnya dan menyemarakkan emansipasi. Moskow dan Denver, seorang ayah dan anak yang memiliki sikap tidak tega saat disuruh Berlin untuk membunuh seseorang. Lalu Helinski dan Oslo, dua pria kembar berbadan besar asal Serbia dan tidak banyak percakapan yang ditampilkan antara mereka berdua.

Pada musim pertama dan kedua, banyak penonton disuguhkan dengan alur kriminal dan percintaan. Sedangkan di musim ketiga dan keempat, serial ini lebih menampilkan banyak aksi, serta penambahan tokoh dalam Tim Professor seperti Lisbon, Marseille, Parlemo, Manila, dan Bogota untuk mengganti tokoh-tokoh yang gugur di musim sebelumnya.

Serial ini menjadi serial yang sukses dengan menggaet 23 penghargaan salah satunya kategori Best Drama Series di International Emmy Awards tahun 2018 serta masuk 30 nominasi di berbagai ajang penghargaan serupa.

Money Heist, serial berbalut kriminal dibumbui dengan drama ini, dapat menjadi teman dalam mengusir rasa bosan di tengah pandemi. Selain itu bisa jadi alternatif belajar bahasa baru. Serial ini juga bisa dimasukkan ke dalam list marathon serial. Tak hanya itu saja, penggarap serial ini ternyata baru saja mengumumkan akan membuat musim kelimanya. Menarik bukan? Hanya saja, apabila menonton marathon harap bijak, jangan kurang tidur dan perbanyak minum air putih. Gracias! 

Sabtu, 01 Agustus 2020

Perayaan Idul Adha di Tengah Pandemi

Perayaan Idul Adha di Tengah Pandemi

Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban (Dok.Panitia Kurban)

Pandemi Covid-19 yang belum selesai tidak menyurutkan antusiasme masyarakat dalam merayakan Idul Adha. Kejadian ini membuat perayaan Idul Adha tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Lpmvisi.com, Sukoharjo - Warga Songgolangit, Gentan, Sukoharjo melaksanakan penyembelihan hewan kurban setelah melangsungkan salat Idul Adha pada Jumat (31/07/2020)

    Idul Adha tahun ini dirayakan di tengah pandemi Covid-19. Kondisi ini membuat seluruh masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Protokol kesehatan tersebut mulai dari proses jual-beli hewan kurban sampai pembagian daging hewan kurban. Tidak hanya pemerintah pusat, pemerintah daerah juga mengimbau warganya untuk mematuhi protokol kesehatan.

    Masyarakat di kawasan Perumahan Songgolangit, Gentan, Sukoharjo sudah melaksanakan protokol kesehatan selama perayaan Idul Adha. Dimulai dari pelaksanaan sholat yang dilaksanakan di lapangan terbuka, para jemaah shalat Idul Adha sudah dihimbau untuk membawa sajadah sendiri serta menggunakan masker. Kemudian ketika memasuki area salat, jamaah dicek suhu tubuhnya. Tidak semua warga Perumahan Songgolangit melaksanakan salat di lapangan. Ada juga warga yang melaksanakannya di rumah masing-masing.

    Mawardi (51), salah satu warga Perumahan Songgolangit mengatakan, pelaksanaan shalat Idul Adha berlangsung kondusif. “Alhamdulillah salat Id tahun ini berlangsung lancar meskipun terhambat pandemi covid-19, protokol kesehatan juga sudah dilakukan dengan baik,” ujar Mawardi saat di wawancarai VISI (31/07/2020)

    Tidak hanya itu, proses penyembelihan hewan kurban juga berlangsung dengan lancar sesuai dengan protokol kesehatan. Pada tahun ini jumlah panitia juga dikurangi supaya tidak banyak orang yang berkumpul di area penyembelihan. Meskipun sempat ramai di area penyembelihan, namun warga tetap menjaga jarak satu sama lain.

    Proses pembagian daging hewan kurban sama seperti tahun sebelumnya, yaitu dengan membagikan daging ke rumah-rumah warga dengan menggunakan mobil bak. Ada pula pembagian daging di masjid dengan tetap menjaga jarak antar warga satu dengan lainnya. (Aulia Billqis)

Jumat, 31 Juli 2020

Pamungkas dan Karyanya: Kisah Cinta Anak Muda dalam Lagu

Pamungkas dan Karyanya: Kisah Cinta Anak Muda dalam Lagu


Dok.Internet/tribunnews


Lagu menjadi salah satu cara untuk menyalurkan kegundahan hati. Pamungkas dengan karyanya, mampu membius penggemarnya melalui lagu yang ia lantunkan.

    Rizky Ramahadian Pamungkas atau yang akrab disapa Mas Pam atau Pamungkas adalah seorang penulis lagu, penyanyi, hingga produser dengan genre musik pop yang sedang naik daun dalam beberapa tahun terakhir. Lagunya yang berjudul I Love You But I’m Letting Go di album pertamanya, telah menyihir para pendengar untuk mengeluarkan air matanya. Lagu ini memiliki arti yang sangat dalam. Pasalnya lagu ini bercerita tentang kegalauan seseorang pria terhadap wanita yang sangat ia cintai. Pria tersebut harus merelakan wanita itu pergi dari hidupnya karena keadaan yang memaksa. Penulis menyampaikan bahwa semua yang telah digariskan dan diputuskan Tuhan adalah skenario terbaik. Mungkin saat orang yang kamu sayang dan cintai menolakmu, mengacuhkanmu, kamu sedang diuji kesabarannya tapi kesabaranmu itu akan membuahkan hasil disaat ada orang yang lebih baik  kembali mengenggam tanganmu. 

    Setelah sukses dengan album pertamanya yaitu Walk The Talk, dengan lagu pertamanya yang sangat melejit I Love You But I’m Letting Go, Pamungkas kembali merilis album keduanya yaitu Flying Solo dengan lagu To The Bone sebagai lagu yang sangat dicintai pendengarnya. Lagu ini memberi pesan  jika kamu mencintai seseorang biarkanlah dia bebas makna ini terkandung dalam lirik “if you love somebody gotta set them free” dan utarakan sejujurnya apa yang kamu rasakan kepada orang tersebut. Lagu ini tampaknya terinspirasi dari kisah hidup penulis dan sangat relate dengan para pendengar. Tak hanya itu lagu ini merupakan obat dari lagu pada album sebelumnya yaitu I Love You But I’m Letting Go. Dalam lagu ini penulis telah menemukan kembali pujaan hatinya dan sangat amat menginginkannya. Pesan ini disampaikannya saat lagu ini dinyanyikan secara akustik pada sebuah kedai kopi di daerah Tangerang.

Dok.Instagram/@pamungkas

    Tak berhenti pada 2 album itu saja, beberapa waktu lalu, Pamungkas merilis album barunya yang berjudul Solipsism. Pada awalnya album ketiga ini hanya berisi 10 lagu. Tetapi dalam salah satu unggahan di Instagramnya, Pamungkas menyatakan bahwa ia menambahkan satu lagu lagi jadi totalnya ada 11 lagu. Dilihat dari media sosialnya, lagu-lagu dalam album ini digarap saat pandemi. Hal ini menunjukkan bahwa ia tetap produktif walaupun di rumah saja. Tak heran jika ia mendapat pujian dari sahabatnya dan mendapatkan penghargaan musisi paling produktif dari teman-temannya. Solipsism sendiri memiliki arti bahwa pengetahuan dan kebenaran berasal dari diri sendiri, karena saat ini kita hidup di dunia modern dengan media sosial jadi setiap orang memiliki sudut pandang masing-masing. Di dalam sebuah unggahannya Pamungkas menyatakan bahwa album ini merupakan bentuk rasa syukur untuk para pendengarnya. Semua lagu ditulis pamungkas berdasarkan pengalaman pribadinya yang biasanya dipilih untuk ia simpan sendiri. (Anggie Desriantika)


Senin, 27 Juli 2020

Kalung Anti Corona, Benarkah Mampu Mencegah Covid-19?

Kalung Anti Corona, Benarkah Mampu Mencegah Covid-19?

Dok.Internet/ANTARAFOTO/Arif Firmansyah


Oleh : Zulfatin Naila

Penyebaran Covid-19 semakin tidak dapat dibendung lagi. Di Indonesia sendiri, tercatat sudah lebih dari 100.300 warga yang positif Covid-19. Berbagai negara pun melakukan berbagai cara untuk pencegahan dan pengobatan. Tidak jarang juga beberapa negara berusaha menciptakan inovasi guna menangani laju penyebaran virus ini.

Baru-baru ini, Indonesia digemparkan dengan kemunculan Kalung yang diklaim sebagai Antivirus Corona. Kalung yang dikembangkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) itu, malah menimbulkan berbagai macam reaksi di masyarakat. Ada di antara mereka yang mendukung, ada pula yang mengkritisi.

Kalung bebasis Eucalyptus yang dikembangkan oleh Kementan tersebut diklaim mampu mengatasi penyebaran virus Covid-19 yang masih melanda dunia saat ini. Eucalyptus sendiri adalah bahan yang akrab disebut masyarakat Indonesia sebagai minyak kayu putih. Minyak kayu putih pastinya sudah lama sekali ditemukan, bahkan sebelum corona melanda. Menurut Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Suwijoyo Pramono mengatakan, Eucalyptus atau minyak kayu putih memang mampu membunuh virus infuenza dan corona. Namun, ia menegaskan kembali bahwa virus corona yang dimaksud bukanlah SARS-COV-2 atau disebut Covid-19.

Sebenarnya, kreativitas dan inovasi yang dikembangkan untuk pencegahan Covid-19 dirasa cukup wajar. Namun, kemunculan inovasi tersebut jangan sampai mencederai akal sehat masyarakat. Cukup banyak yang tahu jika beberapa kelompok masyarakat terkadang selalu mengikuti apa yang dilakukan para pejabat publik. Citra yang dibangun oleh pejabat pun terkadang menjadi teladan bagi masyarakatnya. Oleh sebab itu, para pejabat sebaiknya lebih berhati-hati jika bersuara di depan publik, terutama jika hal tersebut menyangkut topik sensitif seperti Virus Corona.

Kekhawatiran yang dirasakan saat ini adalah masyarakat yang tersesat oleh ide-ide anti corona yang bisa saja menimbulkan bahaya bagi kesehatan mereka. Nyatanya, kalung anti corona yang digaungkan oleh Kementan belum melalui uji klinis. Terlebih lagi, pejabat yang bicara mengenai kalung tersebut bukanlah ahli bidang kesehatan. Penyebaran Virus Corona memanglah sangat berbahanya, namun penyebaran berita yang kebenarannya belum pasti jauh lebih berbahaya.

Dilansir dari kompas.com, 6 Juli 2020, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M. Faqih, mengatakan, “seharusnya ada penelitian terlebih dahulu yang membuktikan bahwa kalung ini dapat berfungsi sebagai antivirus”. Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ari Fahrial Syam, mengatakan, perlu perjalanan riset yang panjang untuk dapat mengklaim kalung ini sebagai antivirus. Oleh sebab itu, kalung ini kurang disetujui jika diklaim sebagai antivirus corona.

Kekhawatiran lain yang dirasakan adalah niat memproduksi Kalung Anti Corona apakah benar-benar demi menyelamatkan rakyat dari wabah atau hanya sebagai ladang bisnis pada elit politik dan pebisnis? Dilansir dari suara.com, 6 Juli 2020, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementan, Fadjry Djufry, mengatakan akan menggandeng pihak swasta dalam proses produksi kalung ini. Pihak swasta yang akan diajak kerja sama tersebut adalah PT Eagle Indo Pharma atau Cap Lang. Padahal jika sudah menggandeng pihak swasta maka profit adalah tujuan utamanya.

Jika dilihat dari tugas aslinya, Kementan seharusnya lebih fokus untuk menangani krisis pangan di tengah wabah yang belum pasti kapan berakhirnya ini. Para petinggi di Kementan lebih baik mencari solusi terkait kelancaran produksi dan distribusi pangan untuk masyarakat daripada mengurusi Kalung Anti Corona yang belum pasti dapat mengatasi penyebaran Covid-19. Untuk penanganan virus ini sebaiknya lebih diserahkan pada bidang yang lebih ahli seperti Kementerian Kesehatan.

 


Selasa, 21 Juli 2020

Berulang Kali Gagal Audiensi, Mahasiswa UNS Turun ke Jalan

Berulang Kali Gagal Audiensi, Mahasiswa UNS Turun ke Jalan

Mahasiswa melakukan orasi menuntut audiensi terbuka dengan rektorat. (Dok.Visi/Gede)

Lpmvisi.com, Solo – Di tengah situasi pandemi yang tidak menentu, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) turun ke jalan dengan lantang menyerukan tuntutan yang selama ini dibungkam oleh “Bapak” (rektor -red) sendiri.

Mahasiswa UNS yang tergabung dalam Aliansi UNS Bergerak turun ke jalan pada Senin (20/07/2020). Aksi demonstrasi ini dilakukan di Jalan Boulevard UNS. Mereka menuntut pihak rektorat untuk memenuhi berbagai tuntutan yang tertulis di dalam Dasasila Maklumat Mahasiswa UNS. Beberapa tuntutan dalam maklumat tersebut yaitu jaminan tidak adanya mahasiswa yang putus kuliah sementara karena pandemi Covid-19, transparansi keuangan, keterbukaan terhadap aspirasi mahasiswa, hingga peninjauan kembali terhadap efektivitas kuliah daring. Aksi sempat dihalangi petugas keamanan UNS yang memblokade pintu masuk gerbang depan UNS.

Poster yang dibawa oleh peserta aksi. Salah satu tuntutan kepada pihak rektoran adalah dikembaliaknnya spi nol rupiah dan transparansi ukt. (Dok.Visi/Gede)

Dalam aksi ini, peserta mengisi acara dengan orasi, pembacaan puisi, hingga teater parodi mengenai rektor yang menarik biaya tambahan jaket almamater untuk mahasiswa baru tahun 2020. Aksi berlangsung dengan tertib dan tidak menimbulkan kericuhan, meski sempat ada ketegangan lantaran ada pasukan polisi bersenjata yang berjaga di seberang gerbang depan UNS. Mahasiswa menilai, hadirnya oknum polisi bersenjata menunjukkan bentuk represi kampus dalam menyikapi tuntutan mereka.

Zaki (21), humas Aliansi UNS Bergerak, menuturkan bahwa aliansi ini terdiri dari organisasi kemahasiswaan kampus seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan himpunan mahasiswa jurusan, individu, hingga organisasi eksternal kampus. Ia menambahkan, setidaknya ada tiga organisasi eksternal kampus yang tergabung dalam aliansi ini, yaitu Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Zaki juga menuturkan bahwa secara garis besar, tuntutan mahasiswa dalam aksi ini adalah transparansi uang kuliah tunggal (UKT) dan pengembalian pilihan sumbangan pengembangan institusi (SPI) nol rupiah.

“Aksi ini dilaksanakan karena sudah tiga kali mahasiswa mengundang audiensi dengan pihak rektorat, namun jawaban mereka hanyalah menemui perwakilan kami, mengirimkan undangan workshop, atau sosialisasi saja,” imbuh Zaki.

Mahasiswa memasang tanda segel sebagai bentuk aksi protes mereka. (Dok.Visi/Gede)

Bertemu dengan Pimpinan Kampus

Forum terbuka antara pimpinan kampus dan mahasiswa, menyikapi aksi yang dilakukan mahasiswa. (Dok.Visi/Gede)

Sekitar pukul 16.30 WIB, peserta aksi mulai bergerak masuk ke dalam kampus sambil menyanyikan lagu dan berorasi. Mahasiswa yang hendak masuk kemudian ditahan oleh petugas keamanan yang memblokade pintu masuk dengan palang besi. Mahasiswa terus meneriakkan orasi dan tuntutan mereka. Dalam kejadian tersebut, pihak kampus yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, S.T., M.T., beserta beberapa perwakilan lain hadir untuk menemui para mahasiswa.

Wakil Rektor 3 telah menerima dan menandatangani pakta integritas (Dok.Visi/Gede)

Perwakilan pihak kampus lalu mendengarkan tuntutan mahasiswa yang disampaikan oleh Presiden BEM UNS, Presiden BEM FISIP UNS, dan beberapa pimpinan aksi lainnya. Mahasiswa menuntut pihak kampus dengan segera untuk memenuhi segala tuntutan mereka dan tetap mengawal proses ini hingga tuntas. Dalam forum tersebut, dihasilkan pula pakta integritas yang berisi beberapa tuntutan yaitu: mengadakan sesegera mungkin forum terbuka dengan mahasiswa UNS baik luring maupun daring, menerima tuntutan dan kajian Dasasila Maklumat Mahasiswa UNS untuk segera dibahas dan dijawab dalam audiensi terbuka dengan mahasiswa UNS. Pakta integritas ini kemudian ditandatangani secara langsung oleh WR Bidang Kemahasiswaan dan Alumni setelah mendapat paksaan dari peserta aksi. Aksi ditutup dengan pelepasan banner bertuliskan “UNS Disegel Mahasiswa” dan berlangsung secara damai. (Gede)


Minggu, 19 Juli 2020

Selamat Jalan Sapardi Djoko Damono

Selamat Jalan Sapardi Djoko Damono

(Dok.Kompas)

Lpmvisi.com, Solo Di pertengahan bulan Juli ini, hujan seakan mengguyur seluruh negeri. Guyuran hujan itu datang lantaran penyair legendaris, Sapardi Djoko Damono, kini telah tiada.

Sapardi Djoko Damono dikabarkan tutup usia pada Minggu (19/7/2020) pukul 09.17 WIB. Sapardi menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Eka BSD, Tangerang Selatan dalam usia 80 tahun. Dilansir dari kompas.com, Sapardi meninggal karena penurunan fungsi organ.

Sapardi yang lahir di Surakarta, 20 Maret 1940 ini, dikenal lewat karya syair puisinya yang beragam. Tak hanya penyair, almarhum juga dikenal sebagai dosen, kritikus sastra, pengamat sastra, hingga pakar sastra. Beberapa judul karya yang Ia buat antara lain “Hujan Bulan Juni”, “Yang Fana adalah Waktu”, “Hatiku Selembar Daun”, “Menjenguk Wajah di Kolam”, dan “Perahu Kertas”.

Sapardi menghabiskan masa mudanya di Surakarta. Ia lulus dari SMP Negeri 2 Surakarta pada tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta pada tahun 1958. Semasa kecil, Sapardi kerap menulis sejumlah karya yang ia kirimkan ke majalah. Kecintaannya dengan dunia kepenulisan semakin berkembang kala ia melanjutkan pendidikanya di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Almarhum mendapat anugerah SEA Write Award pada tahun 1986 dan Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia juga sempat menjadi Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, periode 1995 – 1999. Tak hanya itu saja, Sapardi juga pernah menjadi redaktur majalah Horison, Basis, Kalam, Pembinaan Bahasa Indonesia, Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, dan country editor majalah Tenggara di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kematian almarhum sontak menjadi trending di Twitter. Kata “Pak Sapardi” sempat menduduki peringkat pertama dan telah dicuitkan lebih dari 80 ribu pengguna Twitter.

Selamat jalan Sapardi Djoko Damono. Hujan yang dulu di bulan Juni, kini berganti di bulan Juli. Yang fana adalah waktu, karyamu akan kami kenang selalu. (Gede)


Jumat, 17 Juli 2020

Aksi Rakyat Seruan Tolak Omnibus Law

Aksi Rakyat Seruan Tolak Omnibus Law

Massa melakukan unjuk rasa Tolak Omnibus Law dengan tetap menjaga jarak di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Surakarta. (16/07/2020). (Dok.Visi/Imam)

lpmvisi.com,Solo- Suara mahasiswa yang selama ini kurang terdengar gaungnya karena pandemi, kini mulai memanas. Mahasiswa menyeru untuk tolak omnibus law.


Massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Buruh pada hari Kamis (7/16) menggelar aksi ''Seruan aksi Parade Rakyat Menggugat Negara''. Aksi yang digelar dengan titik kumpul Pasar Gede, kemudian bergerak menyusuri Jalan Jendral Sudirman ini berakhir di Bundaran Gladak.


Dalam aksinya, massa berkerumun memenuhi Bundaran Gladak dengan tertib. Massa aksi juga memperhatikan protokol kesehatan yang dianjurkan seperti penggunaan masker dan menjaga jarak. Aksi diwarnai dengan nyanyian lagu perjuangan dan pergerakan oleh para demonstran. Berbagai orasi juga disampaikan beberapa perwakilan peserta aksi.


Kegiatan ini memang tergabung dari beberapa organisasi seperti BEM dan organisasi eksternal kampus. Semuanya tergabung dalam Aksi Solo Bergerak." Ujar Lintang Maheswara, juru bicara aksi.


Tiga  tuntutan utama yang diutarakan peserta aksi yakni tolak Undang-Undang Cipta Lapangan Kerja, sahkan RUU PKS, dan gratiskan pendidikan selama pandemi. Selain ketiga tuntutan utama tersebut, beberapa tuntutan lain juga disuarakan oleh demonstran seperti tolak TNI-Polri menempati jabatan sipil, tolak militerisme, buka ruang demokrasi seluas-luasnya, dan stop kriminalisasi aktivis. Ada pula tuntutan tambahan yang diangkat yakni tolak kenaikan iuran BPJS.


Demonstran tidak terlalu memikirkan bagaimana respon dari pemerintah. Namun menurut Lintang, tekanan kepada pemerintah mengenai isu pembentukan Undang-Undang Cipta Lapangan Kerja dan tuntutan lainnya, harus dilakukan sebagai upaya penolakan pengesahan undang-undang tersebut. Selain itu tuntutan lain yang disuarakan oleh peserta aksi harus dikawal sampai tuntas sehingga rakyat tidak dirugikan. (Imam Hatami)


Rabu, 08 Juli 2020

“Bumi”,  Seri Awal Petualangan di Dunia Paralel

“Bumi”, Seri Awal Petualangan di Dunia Paralel

Judul  : Bumi | Penulis  : Tere Liye | Penerbit   : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta | Halaman  : 440 halaman | Cetakan ke  : 26 | Genre   : Fiksi ilmiah

(Dok. Gramedia)


Oleh : Rizka Awalina Afida

            Bumi adalah serial pertama dari petualangan Raib, Seli, dan Ali di dunia paralel. Buku ini mengisahkan tentang Raib, seorang gadis 15 tahun, yang memiliki kemampuan menghilang hanya dengan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Hal tersebut selalu disembunyikan Raib sejak umur 2 tahun. Namun, ada sebuah kejadian di sekolahnya yang membuat teman sekelasnya, Seli dan Ali, mengetahui kemampuan Raib yang bisa menghilang.

            Petualangan dimulai saat Raib, Seli, dan Ali tidak sengaja memasuki dunia lain yang suasananya sungguh berbeda dengan dunia yang biasa ditempati oleh mereka. Bentuk bangunan, pakaian, hingga makanan semuanya sungguh berbeda namun terlihat sangat modern.

            Selain harus beradaptasi dengan segala hal yang berbeda dari dunia mereka, mereka juga harus melawan musuh mereka bernama Tamus yang memiliki rencana jahat untuk menguasai seluruh dunia paralel.

            Sampai saat ini, serial Bumi telah memiliki 9 seri dengan urutan Bulan, Matahari, Bintang, Ceros dan Batozar, Komet, Komet Minor, Selena, serta Nebula. Pembaca selalu dibuat penasaran dengan akhir cerita yang selalu meninggalkan masalah yang belum terselesaikan  dalam setiap buku.

            Buku ini sangat cocok dibaca bagi kalian yang menyukai bidang teknologi karena di novel ini banyak diceritakan mengenai teknolog-teknologi yang begitu canggih. Buku ini juga mengajarkan bahwa dalam kondisi terdesak, manusia dapat memunculkan kelebihan yang mereka punya.

Dilema Sajian Baru Dalam PKKMB UNS

Dilema Sajian Baru Dalam PKKMB UNS

Dok. Internet/Universitas Sebelas Maret

Oleh : Ulfah Almunawaroh   

Perjalanan hidup mahasiswa baru tak bisa dilepaskan dengan masa orientasi terhadap kampusnya sendiri. Orientasi mahasiswa baru Universitas Sebelas Maret (UNS) merupakan kegiatan rutin setiap tahun, yang populer dengan nama PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru). Kegiatan ini selain mengenalkan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru, juga mengenalkan kehidupan sosial di tempat tinggal mahasiswa selama kuliah.

Pandemi Covid-19 membawa dampak yang sangat besar khususnya bagi institusi pendidikan. Kesehatan yang kini menjadi aset berharga bagi masyarakat, mendorong terwujudnya kebijakan untuk meminimalisir interaksi dan kerumunan. Jika PKKMB identik dengan pengenalan dunia kampus, kerja sama tim, dan seremoni yang meriah, kini menjadi polemik karena kebijakan peniadaan kegiatan berkumpul dalam massa yang banyak. Melihat situasi saat ini, PKKMB di era pandemi harus dikemas dalam bentuk yang baru dan berbeda dari tahun – tahun sebelumnya.

Berkolaborasi Dengan Media

Ketua panitia PKKMB UNS 2020, Raditia Yoke Pratama menerangkan bahwa tujuan dari PKKMB ialah membentuk mahasiswa baru agar mempunyai nilai-nilai yang ditetapkan dalam PKKMB.

Berkaitan dengan pandemi, maka diperlukan akselerasi khusus yang berupa pemanfaatan media informasi. Apabila PKKMB dilaksanakan secara daring, maka akan terjadi peralihan media. Media yang akan digunakan dapat berupa Zoom, Instagram, atau Google Meet. “Kalau PKKMB luring nanti dalam bentuk selebrasi, mau ga mau harus ada kerumunan gitu. Perlu strategi khusus agar tidak terjadi kerumunan dan ada protokol kesehatan yang diterapkan ketika berkerumun.” ujar Raditia kala diwawancarai VISI (01/06).

Raditia juga menambahkan, terkait pembentukan kesan bagi mahasiswa baru berhubungan dengan pengenalan dunia kampus dan kehidupan di Solo. Terutama berbicara tentang bagaimana cara bertahan hidup di Kota Solo, antusiasme mahasiswa baru, kerjasama tim, dan implementasi dari nilai-nilai PKKMB yang disalurkan melalui manggala atau kakak pendamping. “Secara on line nanti ya mereka yang menjadi perantara pengetahuan tersebut. Jadi nanti nilai-nilainya bakal kita berikan ke kakak pendamping kemudian langsung ke mahasiswa baru selain pengetahuan dari website dan instagram.” imbuh Raditia.

Realita di Belakang Layar

Internet memegang peran utama saat berinteraksi di dunia digital. Secara garis besar, keberjalanan kegiatan daring memiliki pola permasalahan yang sama. Menilik keterangan dari Shintia Nur Kartini yang merupakan mahasiswi Sosiologi UNS 2018 mengenai kegundahan saat kuliah daring dalam hal jaringan internet.

 “Harapan saya mahasiswa baru dapat menyusun strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Misalnya mencari sinyal di tempat yang strategis.” ujar Shintia. Selain itu, Shintia juga berpendapat bahwa panitia PKKMB telah mengatur penyelenggaraan acara dan mempertimbangkan sarana yang tepat untuk PKKMB daring.

Pada kenyataaannya PKKMB daring merupakan keputusan yang berat untuk diterapkan jika ditinjau dari segi perlunya interaksi sosial di lingkungan kampus secara langsung. Meskipun begitu diperlukan sinergi antara panitia PKKMB dan mahasiswa baru sehingga nilai-nilai yang diberikan tersampaikan secara maksimal. 

Senin, 22 Juni 2020

Aspirasi dan Diskusi Mahasiswa: Semua Elemen Harus Bijak!

Aspirasi dan Diskusi Mahasiswa: Semua Elemen Harus Bijak!

Dok.Internet/Wendy Keningsberg
      

 Oleh: Stella Maris M.R

Istilah "Mahasiswa sebagai Penyambung Lidah Rakyat", nampaknya tepat digunakan untuk mewakili keterlibatan mahasiswa sebagai penyalur aspirasi rakyat. Mengapa demikian? Mahasiswa bisa dikatakan sebagai garda terdepan dari “masyarakat” itu sendiri. Contoh sederhananya semisal bila terjadi ketidakselarasan kebijakan atau aturan dari pemerintah kepada masyarakat, biasanya pihak yang maju terlebih dahulu untuk mengkritik bahkan menentang adalah mahasiswa. Mulai dari mengadakan mimbar diskusi terbuka hingga menggerakan massa untuk berdemo. Semua itu dilakukan untuk mencapai puncak keadilan baik untuk masyarakat maupun pihak pemerintah

Namun belakangan ini, acara dialog atau diskusi seakan menjadi mimpi buruk bagi mahasiswa. Hal ini dikarenakan adanya intimidasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Kasus yang terkait dengan hal tersebut adalah aksi teror terhadap "Diskusi Fakultas Hukum UGM” pada 29 Mei 2020. Diskusi tersebut dinilai memiliki judul yang mengandung unsur makar. Pihak panitia diskusi yaitu mahasiswa Constitutional Law Society (CLS) mengalami intimidasi melalui pesan yang berisi ancaman pemanggilan polisi hingga ancaman pembunuhan dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Hal ini kemudian menjadi viral di masyarakat dikarenakan judul acara diskusi yang dinilai “terlalu berani”. Selain itu, tertulis juga bahwa instansi perguruan tinggi negeri, Universitas Gadjah Mada (UGM), turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Tak hanya itu saja, panitia hingga pembicara pun tak luput dari terror ancaman melalui pesan singkat. Kasus ini kemudian memancing sekelompok orang untuk turut berkomentar di kanal media sosial mereka. Sudah bukan barang baru jika muncul pro dan kontra terhadap suatu kasus, tak terkecuali dengan masalah ini. Berada di pihak pro maupun kontra tentu sah-sah saja. Turut berkomentar atas masalah ini pun juga tidak menjadi masalah asalkan kita dapat mempertanggungjawabkan pernyataan kita.

Kebebasan berpendapat, berdiskusi, ataupun berdialog, khususnya yang dilakukan oleh para mahasiswa seharusnya tidak menjadi masalah. Kegiatan tersebut seharusnya bisa berjalan dengan lancar. Hal ini dikarenakan semua elemen bebas berekspresi, bebas menyalurkan aspirasinya. Namun perlu diingat bahwa apa yang kita lakukan harus tetap berada di jalur yang tepat. Jangan sampai tindakan kita menjadi celah bagi oknum tak bertanggung jawab. Selain itu, bagi pihak yang menjadi topik utama dalam diskusi, alangkah lebih bijak jika menyikapinya dengan arif. Sebab segala sesuatu bisa mencapai mufakat bila semua pihak dapat menurunkan ego masing-masing. Selain itu, diharapkan agar kasus ancaman tersebut dapat diusut tuntas oleh pihak kepolisian agar tidak menjadi celah konfrontasi ataupun menimbulkan trauma ketakutan berdialog di masa mendatang.

Terlepas dari masalah “Kasus Diskusi Fakultas Hukum UGM”, saat ini Indonesia tengah berjuang melawan pandemi virus corona atau COVID-19. Akibat pandemi ini, semua elemen dan sektor kehidupan terkena imbasnya. Salah satu sektor yang terkena imbasnya yakni sektor pendidikan. Pandemi telah membuat pelajar hingga tenaga pendidik “dirumahkan” yang kemudian sistem pembelajaran diubah menjadi sistem daring. Banyak kegiatan pendidikan yang diganti menjadi daring. Banyak kegiatan mahasiswa yang terganggu seperti perkuliahan, penelitian, Kuliah Kerja Nyata (KKN), magang, konsultasi skripsi, bahkan wisuda menjadi terhambat. 

Sejak awal pandemi hingga saat ini, kebijakan perubahan sistem pendidikan menjadi sistem daring telah banyak menuai pro kontra di kalangan pelajar khususnya mahasiswa. Bagi pendukung sistem ini, mereka menilai bahwa sistem ini sebagai salah satu cara untuk meminimalisir penyebaran virus corona. Mereka beralasan bahwa cara ini dianggap dapat mengurangi kemungkinan orang untuk berkumpul di satu wilayah dalam jumlah banyak. Bagi mereka yang kontra, mereka beralasan bahwa mahasiswa mengalami banyak kerugian. Beberapa contoh kerugian tersebut adalah tagihan paket kuota internet yang membengkak, jangkauan sinyal internet yang kurang merata, beban tugas mata kuliah yang semakin menumpuk, janji subsidi pihak kampus kepada mahasiswa yang tidak terpenuhi seluruhnya, tuntutan bebas UKT (Uang Kuliah Tunggal) untuk semester berikutnya, hingga bantuan logistik bagi mahasiswa yang tidak dapat pulang ke kampung halaman.

Tuntutan yang digaungkan mahasiswa bukan tanpa alasan. Faktor ekonomi akibat pandemi dinilai sebagai latar belakang merebaknya aksi tuntutan mahasiswa kepada pihak rektorat. Beberapa kendala umum yang dialami mahasiswa adalah tagihan internet yang membengkak, koneksi jaringan internet yang tidak merata hingga ke pelosok, dan lain sebagainya. Tuntutan mahasiswa tentunya tdak lepas dari masalah UKT. Mulai dari tuntutan keringanan hingga pengembalian atau pembebasan UKT, pemberian pulsa atau kuota, hingga bantuan sembako bagi mahasiswa yang tidak dapat pulang ke kampung halamannya. Semua pemohonan tersebut tentu harus dikaji secara lebih mendalam agar tidak ada pihak yang dirugikan. Untungnya, masih banyak kampus yang memberikan berbagai bantuan dan kebijakan yang cukup meringankan beban mahasiswa, walaupun hal tersebut tidak dapat menutup segala kendala dan kerugian yang dihadapi mahasiswa itu sendiri.