Senin, 20 Mei 2024

Gelar Pemilihan Umum, General Manager FiestA Radio Periode 2024/2025 Menang Telak 98,3% Suara

Gelar Pemilihan Umum, General Manager FiestA Radio Periode 2024/2025 Menang Telak 98,3% Suara

(Sesi foto penyerahan jabatan General Manager dan Program Director periode 2023/2024 kepada General Manager dan Program Director periode 2024/2025 FiestA Radio /Dok. Dhaniska)

Lpmvisi.com, Solo – FiestA Radio melangsungkan acara “Suksesi General Manager FiestA Radio 2024/2025” dalam rangka regenerasi kepengurusan FiestA Radio pada hari Minggu (19/5). Acara yang dilangsungkan di Ruang Seminar FISIP UNS tersebut dimulai pukul 09.15 WIB dan berakhir pada pukul 11.00 WIB.


Acara “Suksesi General Manager FiestA Radio 2024/2025” diawali dengan sambutan dari General Manager FiestA Radio periode 2023/2024, Janet Devagaluh Athalla, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Kandidat General Manager 2024/2025, Efraim Nicholas Hutapea. Dalam pemaparannya yang berjudul #kulikefra, Efra meng-highlight nilai inklusivitas dan kekeluargaan sebagai nilai organisasi yang ingin beliau capai, “yang terpenting di FiestA ini teman-teman bisa menganggap kita sebagai keluarga,” pungkasnya. Pemaparan diakhiri dengan sesi QnA dari para panelis dari FiestA Radio yang terdiri dari Selena selaku General Manager 2022/2023, Janet Devagaluh Athalla selaku General Manager 2023/2024,  dan Zsa Zsa Nur Fajriah Mallu selaku Program Director 2023/2024. Usai pemaparan materi, para anggota FiestA Radio melakukan voting General Manager FiestA Radio periode 2024/2025 melalui Google Form.


Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Huwaida Rania Putri selaku Kandidat Program Director FiestA periode 2024/2025. Dalam pemaparannya, ia menyebutkan berbagai program kerja yang akan dilakukan pada periode berikutnya, seperti SenSaSi Fiesta, Cerita Kampus, Info Aktual, “Bubur Ayam” dan Sportline, Fiesta Maksimum dan sebagainya. Sama halnya dengan sesi pemaparan kandidat General Manager, pemaparan dari kandidat Program Director  diakhiri dengan sesi QnA dari para panelis dan juga dengan peserta FiestA Radio yang hadir dalam forum tersebut. 


Hasil voting diumumkan secara langsung setelah pemaparan materi kandidat Program Director oleh Huwaidah Rania Putri. Berdasarkan data respon yang didapat melalui Google Form, total sebanyak 98,3% atau sejumlah 59 orang peserta dari keseluruhan anggota FiestA Radio memilih Efra sebagai General Manager 2024/2025. Dengan ini, Efra dinyatakan menang telak dalam pemilihannya melawan kotak kosong. Acara tersebut sekaligus sebagai simbol serah terima jabatan pengurus lama kepada pengurus baru. 


Dalam sambutannya setelah resmi dinyatakan menang dalam pemilihan, Efra mengungkapkan harapan kepada anggotanya agar menjadikan FiestA Radio sebagai rumah yang mana bisa menjadi tempat menyampaikan apapun yang ingin disampaikan, saling menghargai dan saling mencintai satu sama lain. Selain itu, ia meminta doa agar dapat mengemban tanggung jawab yang telah dipercayakan dari 98,3% voters dan agar kabinet yang baru ini bisa berjalan bersama untuk memajukan FiestA Radio kearah yang lebih baik, “Semoga kita kabinet 2024/2025 bisa berjalan bersama memajukan FiestA, nggak perlu ada perubahan yang penting ada perkembangan dan kemajuan,” tambahnya. Sedangkan Huwaida, dalam sambutannya sebagai Program Director baru, menyatakan, “Semoga kita bisa terus kerjasama bareng-bareng sampai akhir periode,”. Acara “Suksesi General Manager FiestA Radio 2024/2025” ditutup dengan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta acara. (Dhaniska, Diva)


Jumat, 17 Mei 2024

  Aksi Bela Palestine : Permanent Cease Fire!

Aksi Bela Palestine : Permanent Cease Fire!


 (Aksi Bela Palestina di Danau UNS / Dok. Nabila)

Lpmvisi.com, Solo - Universitas Sebelas Maret menggelar long march dari Masjid Nurul Huda sampai Boulevard UNS.  Kegiatan ini merupakan sebuah aksi yang ditujukkan untuk membela Palestina dan mengecam tindakan genosida yang dilakukan oleh Israel. 

Terhitung sudah 223 hari Israel secara masif menyerang Palestina tanpa ampun. Peringatan gencatan senjata dari berbagai negara tidak diindahkan oleh Israel. Hal ini menjadi trigger bagi banyak orang untuk menuntut Israel secara massive. Kegiatan aksi bela Palestina sudah ramai dilakukan oleh berbagai kampus di luar negeri, seperti Columbia University. Berangkat dari aksi-aksi tersebut, Universitas Sebelas Maret turut berpartisipasi menunjukkan dukungannya kepada Palestina, yang dihadiri oleh banyak mahasiswa UNS.

Adapun seperti yang disampaikan oleh Aidi (20), bahwa aksi ini merupakan sebuah bentuk kesadaran kepada masyarakat luas untuk kembali memperketat boikot produk-produk yang berafiliasi atau mendukung Israel terhadap genosida yang terjadi di Palestina. “Orang-orang jadi lebih aware dengan yang terjadi di Palestina karena itu merupakan kejahatan kemanusiaan (genosida) dan kembali memperketat aksi boikot,” ungkap Aida. 

Aksi Bela Palestina ini berlangsung dari pukul 16.00 sore sampai pukul 17.38, yang kemudian ditutup dengan agenda sholat magrib berjamaah di Masjid Nurul Huda. (Azra, Nabila)



Engkau Sangatlah Cantik

Engkau Sangatlah Cantik

(Ilustrasi wanita berhijab berkacamata bundar / Dok.Pinterest)

Oleh: Mohandish Mozart Muthahhari Ahmad


Cantik, seperti lagu kahitna

Bersinar dari mentari

Hingga terbit di utara

Hati ku hanya untuk mu


Engkau memakai kacamata

Kacamata merah frame bulat

Tiap hari engkau memakainya

Dari bangun hingga tidur kembali


Sebenarnya kamu ingin softlens

Namun sayang tidak dibolehkan

Aku pun ikut takut

Takut kamu lupa melepasnya


Kacamata mu menghias mu

Selalu menempel di mukamu

Dari kecil engkau memakainya

Menghiasi dirimu hingga kini


Waktu pun terus berjalan

Kini kamu menjadi gadis

Gadis cantik yang berhijab

Yang cantiknya bagaikan bidadari




Aku pun menatap dia

Menatap dengan tatapan salting

Salting terhadap muka dia

Yang begitu cantik sekali


Aku pun lulus kuliah

Aku memberanikan diri

Memberanikan diri ke rumahnya

Demi melamar sang kekasih


Aku pun menikah dengan dia

Dia yang indah dan berkacamata

Aku akan selalu mencintainya

Hingga akhir hayat nanti


Kamis, 16 Mei 2024

Patriarki dalam Budaya Jawa

Patriarki dalam Budaya Jawa

(Ilustrasi Patriarki dalam Budaya Jawa / Dok. pexels.com oleh Wahyu Widiatmoko)

Lpmvisi.com, Solo – Patriarki dalam budaya di Indonesia telah membentuk konstruksi terlebih pada budaya Jawa. Budaya patriarki sendiri menganggap laki-laki sebagai pemegang kontrol utama masyarakat dan mempunyai kekuasaan untuk melakukan apapun, sedangkan perempuan diposisikan sebagai kaum lemah serta mempunyai sedikit pengaruh dalam masyarakat. Hal ini menyebabkan perempuan berasa dalam posisi inferior. Struktur tersebut terbentuk karena historis yang panjang. Masyarakat Jawa sendiri menganut paham patrilineal, dimana seseorang ditarik garis keturunan dari ayahnya. Budaya patriarki yang mengakar di masyarakat Jawa seakan membentuk sebuah tatanan dan kodrat yang harus dilakukan. Patriarki membentuk sebuah konstruksi sosial yang menimbulkan ketidakadilan gender.

Budaya patriarki yang cukup kental di Suku Jawa menghasilkan istilah-istilah yang memposisikan kaum perempuan lebih rendah daripada laki-laki, baik di sektor publik maupun domestik. Berikut istilah-istilah yang digunakan masyarakat Jawa dalam menggambar seorang perempuan (istri), diantaranya “kanca wingking” yang artinya teman di belakang (maksud belakang di sini adalah dapur). Istilah “dapur, pupur, kasur, sumur”, berarti perempuan hanya dikaitkan dengam dapur, pupur (bedak dalam make up), kasur, dan sumur (mata air di dalam rumah). Selain itu, peran istri (seorang perempuan) dalam masyarakat Jawa adalah macak, masak, manak (3M). Seorang istri harus berdandan untuk suaminya, memasak untuk keluarga, dan melahirkan anak untuk melanjutkan keturunan. Istilah 3M seakan menjadi patokan perempuan Jawa untuk menjadi ideal. Sistem patriarki yang kental dalam masyarakat Jawa membentuk sebuah konstruksi sosial yang dianggap sesuatu yang lazim. Bentuk kelaziman tersebut membuat ketidakadilan pembagian peran di keluarga pada masyarakat Jawa. Diskriminasi yang dialami perempuan Jawa membuat mereka seakan dikengkang oleh aturan dan nilai sosial yang ada. Perempuan Jawa seakan tidak punya ruang untuk bergerak dan mengekspresikan diri mereka. 

Masyarakat Jawa menjadikan patriarki sebagai budaya yang turun-temurun karena ketidakseimbangan pembagian peran dalam keluarga. Patriarki merupakan konstruksi sosial yang terbentuk melalui sejarah yang panjang. Dominasi kaum laki-laki di segala sektor kehidupan memposisikan kaum perempuan dalam taraf lemah dan tidak bebas dalam berekspresi. (Herditya Sinta R)


Selasa, 14 Mei 2024

Partisipasi 3 Keraton dalam Rangka Merayakan Hari Tari Sedunia

Partisipasi 3 Keraton dalam Rangka Merayakan Hari Tari Sedunia

(Penampilan Beksan Kuda Gadhingan yang dibawakan oleh Kasultanan Yogyakarta/Dok. Nabila)

 Lpmvisi.com, Solo – Sudah terhitung lebih dari 12 jam ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta mendendangkan alunan musik sedari pukul 6 pagi pada hari Senin (29/04/24) tepat di Hari Tari Internasional diselenggarakan acara Skena Menari. Tersebar di beberapa titik pertunjukan, Pendhapa Ageng “Mr. GPH Djojo Kusumo” menjadi salah satu pusat diadakannya pertunjukan. Meski telah berjalan lebih dari setengah hari, antusiasme penonton masih membumbung di udara, beralih dari venue ke venue petang itu masyarakat disuguhi penampilan memukau dari 3 Keraton Mataram secara langsung di Pendhapa Ageng ISI Surakarta.


Berperan sebagai pembuka acara pada sesi malam hari, pertunjukan Beksan Kuda Gadhingan mampu memberikan kesan yang kuat bagi penonton. Beksan Kuda Gadhingan persembahan dari Kasultanan Yogyakarta merupakan Yasan Dalem (karya) dari Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855). Diciptakan pada 29 September 1847, beksan ini terinspirasi dari karya Sri Sultan Hamengku Buwono I, seperti Beksan Lawung, Guntur Segoro, dan Tugu Waseso. Beksan Kuda Gadhingan merupakan salah satu karya unggulan Sri Sultan Hamengku Buwono V selain Srimpi Renggawati


Beksan ini mengambil kisah roman Panji dalam wayang gedog yang menceritakan peperangan antara Raden Kuda Gadhingan dengan Patih Mandra Sudira. Raden Kuda Gadhigan merupakan kadeyan (karib) dan senapati Panji Asmarabangun dari Kerajaan Jenggala, sedangkan Patih Mandra Sudira merupakan patih Prabu Dasalengkara dari Kerajaan Pudhak Sategal. Mereka berperang demi memperebutkan Dewi Candrakirana, yang dipercaya sebagai titisan Dewi Anggraeni oleh kedua pihak. Peperangan ini akhirnya dimenangkan oleh Raden Kuda Gadhingan. 


Beksan Kuda Gadhingan juga diilhami Srimpi Renggawati terkait filosofi keblat papat lima pancer. Filosofi tersebut merupakan Wasiat Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono V kepada adiknya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Mangkubumi ketika menciptakan Srimpi Renggawati. Wasiat tersebut berasal dari kitab Betaljemur Adammakna.


Keblat papat lima pancer melambangan hawa nafsu yang ada dalam diri setiap manusia, mutmainah (sinar) berwarna kuning, supiyah (kesucian) berwarna putih, aluamah (makan) berwarna hitam, dan amarah (kemurkaan) berwarna merah. Filosofi keblat papat lima pancer juga diterapkan pada Beksan Kuda Gadhingan, meski filosofi tersebut jarang ditemukan pada beksan kakung gaya Yogyakarta. 


Beksan Kuda Gadhingan memiliki pola lantai tunjung teratai. Pola ini menjadi tata gelar ketika enjeran (adu kekuatan sebelum maju perang). Bentuknya menyerupai bunga teratai yang mengembang menguncup. Pola ini terwujud oleh ragam gerak lampah sekar dan kipat gajahan untuk berputar. Iringan khas untuk Beksan Kuda Gadhingan adalah Gendhing Kemanakan yang diperkaya dengan instrumen khusus berupa kemanak dan klinthing robyong bernama Kiai Sekar Delima. Dalam beksan ini, Gendhing Kemanakan dipadukan dengan gerak enjer untuk menggambarkan suasana sebelum maju perang. 


(Penampilan persembahan Pura Pakualaman pada 29/04/24 di Pendhapa Ageng ISI Surakarta/Dok. Nabila)

Riuh tepuk tangan penonton setelah ditutupnya penampilan dari Kasultanan Yogyakarta kembali mereda digantikan dengan senyap, tanda para penonton sudah mempersiapkan diri menyambut penampilan selanjutnya. Pergantian pemain musik dan masuknya para penampil berlangsung dalam waktu yang cukup cepat. Beksan Lawung Alit gaya Pakualaman menjadi penampilan kedua pada sesi acara malam hari yang telah dimulai dari pukul 19.15 WIB pada penampilan pertama.


Persembahan Pura Pakualaman ini, seperti yang dituturkan oleh Master of Ceremony (MC), merupakan karya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (Paku Alam I) putra Sri Sultan Hamengku Buwono I. Tertera pada Babat Pakualaman bahwa tradisi pementasan Beksan Lawung Alit dilestarikan di Pura Pakualam, beksan ini ditampilkan pada acara-acara tertentu, misalnya saat penyambutan tamu khusus. Dalam berjalannya waktu Beksan Lawung Alit mengalami perkembangan terutama pada masa Paku Alam III.


Dibawakan 8 orang penari dengan 4 peraga sebagai prajurit yang sedang berlatih dan 4 peraga sebagai abdi dalem kerajaan. Beksan ini menceritakan tentang prajurit yang sedang berlatih, penari memperagakan keterampilan menggunakan lawung atau tombak. Penampilan semakin menarik menjelang akhir, terutama saat bunga-bunga yang terpasang di ujung tombak tercecer ketika senjata itu beberbenturan satu sama lain.


(8 orang penari yang menampilkan Beksan Wireng Lawung gaya Mangkunegaran disaksikan penonton (Skena Menari)/Dok. Nabila)

Penampilan dari Keraton Jogja-Solo pada malam itu malam itu memanglah kurang lengkap, dikarenakan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tidak dapat mengirimkan penampil untuk acara tersebut, berbarengan dengan Hari Tari Internasional pada hari tersebut Keraton Solo juga memiliki agenda lain. Meski begitu acara tetap berlangsung dengan dilanjutkan penampilan ketiga yaitu Beksan Wireng Lawung gaya Mangkunegaran.


Selain tarian dan gendhing yang mengiringinya, kostum yang dikenakan para penampil tidak luput dari sorotan lampu dan mata penonton malam hari itu. Desain baju yang digunakan mengacu pada tata busana Ringgit Madya gaya Mangkunegaran, dengan 2 jenis pakaian yang berbeda untuk masing-masing 4 penampil. Persembahan Pura Mangkunegaran ini memiliki genre wireng dengan properti lawung (tombak), sama seperti penampilan sebelumnya yang juga menggunakan senjata dalam koreografinya.


Dibawakan oleh 8 orang penampil, dijelaskan pula oleh MC bahwa penampilan ini menceritakan peperangan Panji Inu Kertapati yang sedang menyamar. Penampilan tari ini tentu tidak luput mendapatkan perhatian dari masyarakat umum, salah satunya ada Ling (53) yang berasal dari Jakarta. “Kebetulan nanti saya juga mengisi acara di Teater Besar, jadi menurut saya event ini sangat baik karena selain memperingati Hari Tari Sedunia juga menyediakan media bagi semua pelaku seni terutama tari untuk berekspresi dan menampilkan tarian mereka begitu,” jelas Ling ketika ditanyai tentang bagaimana kesan dan perasaannya setelah menonton serangkaian acara tari ini. 


Setelah penampilan dari Pura Mangkunegaran, pertunjukan dilanjutkan dengan persembahan dari tuan rumah, Program Studi Tari ISI Surakarta dan keseluruhan acara masih berlanjut hingga keesokan hari pukul 06.00 WIB hari Selasa (30/04/24). Terbagi menjadi 2 jenis yaitu Skena dan Festival, venue Skena Menari yang tersebar ini menyuguhkan penampilan non-stop dari fajar hingga matahari terbit kembali, penampilan yang ditunjukkan juga beragam dari tradisional sampai modern. Acara tahunan ini mendatangkan penampil dari banyak daerah hingga mancanegara, penonton yang datang juga berasal dari banyak kalangan usia dan latar belakang. (Kahfi, Nabila, Novrea, Windy)


Biaya UKT UNS diisukan Mengalami Kenaikan, BEM UNS Gelar Audiensi Terbuka

Biaya UKT UNS diisukan Mengalami Kenaikan, BEM UNS Gelar Audiensi Terbuka

(Pelaksanaan Audiensi Terbuka oleh BEM UNS dalam Rangka Menyuarakan Keadilan Penambahan Golongan UKT UNS di Auditorium UNS pada Senin (13/5) / Dok. Mohan)

Lpmvisi.com, Solo — BEM UNS gelar audiensi terbuka bertajuk “Gerebek Rektorat” di Auditorium UNS pada hari Senin, 13 Mei 2024. Gerebek Rektorat dilakukan dalam rangka menyuarakan keadilan penambahan golongan UKT di UNS sekaligus sebagai sikap atas isu yang beredar terkait kenaikan jumlah UKT dan IPI di UNS. Acara tersebut berlangsung sejak pukul 14.30 WIB hingga pukul 16.30 WIB. 


Kailani (19), menyebutkan bahwa isu kenaikan UKT ini telah menjadi keresahan bagi para mahasiswa UNS, tak terkecuali bagi calon mahasiswa baru yang ingin melanjutkan pendidikannya ke UNS. Atas dasar keresahan tersebut, BEM UNS melayangkan 8 tuntutan kepada pihak rektorat, di antaranya pada poin kedua tertuang “Menuntut dan mendesak rektorat agar menghapus UKT Golongan 9 dan menurunkan tarif UKT agar lebih terjangkau bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi”. Terlebih lagi adanya kenaikan IPI di Fakultas Kedokteran yang semula Rp25 juta, meningkat 8 kali lipat menjadi Rp200 juta, menimbulkan keresahan, apakah Fakultas Kedokteran hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mampu saja. 


Dalam acara yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa yang terdiri dari anggota BEM UNS dan mahasiswa umum serta perwakilan rektorat tersebut, pihak rektorat menjelaskan bahwa UNS tidak menaikkan UKT sebagaimana yang telah diisukan. UNS sebagai PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum) memiliki dasar aturannya dalam menetapkan UKT yang diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) No. 2 Tahun 2024 tentang Standar Satuan Operasional Perguruan Tinggi (SSBOPT) pada PTN di Lingkungan Kemendikbud Ristek. 


Perguruan Tinggi Negeri khususnya PTN-BH pada masa kini mulai dituntut untuk mencari sumber dana pemasukan bagi kampus secara mandiri dikarenakan subsidi dari pemerintah cenderung menurun. Namun, sayangnya pihak kampus cenderung memberikan solusi berupa kenaikan UKT dan IPI yang tidak sebanding dengan fasilitas sarana dan prasarana di UNS. “Disayangkan, ketika mencari pendanaan dari mahasiswa tentu akan menjadi komersialisasi pendidikan, apalagi kuliah bukan untuk menuntut ilmu tetapi untuk ladang berbisnis bagi para pimpinan,” ucap Agung, Presiden BEM UNS.


Hal ini terasa dengan kenaikan jumlah UKT hingga pelebaran golongan UKT. Kini UNS juga mulai terlihat perubahannya tersebut dengan berdasarkan Keputusan Rektor Universitas Sebelas Maret No. 416/UYN27/HK.02/2024 tentang penetapan besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Iuran Pengembangan Institusi (IPI) Universitas Sebelas Maret. Awalnya terjadi peningkatan golongan UKT yang dahulunya 8 golongan (Berdasarkan Permenristekdikti No.39 Tahun 2016 tentang BKT dan UKT pada PTN) menjadi 9 golongan yang mengakibatkan naiknya biaya berkuliah di UNS. Penambahan golongan 9 sendiri merupakan kebijakan sesuai dengan kementerian serta merupakan bentuk subsidi silang untuk kelompok tertentu di bawahnya, namun sayangnya minimnya sosialisasi membuat kebijakan ini dirasa cukup tergesa-gesa. 


Amalia (21), berpendapat bahwa audiensi terbuka menjadi cara yang tepat untuk menyuarakan tuntutan-tuntutan dan keresahan tersebut karena audiensi tersebut dapat membuka kesempatan dialog yang lebih terbuka guna memastikan apa yang tengah terjadi di UNS.  Amalia juga menambahkan terkait aksi tersebut, “Sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara aksi ini dengan aksi sebelumnya, hanya menyuarakan kembali tuntutan yang belum dipenuhi. Hal tersebut juga menjadi evaluasi bagi kami selaku BEM UNS untuk terus mem-follow up mengenai tuntutan-tuntutan mahasiswa dan tindakan yang diambil oleh pihak rektorat untuk menanggapi tuntutan tersebut,” pungkasnya. 


Berdasarkan audiensi terbuka yang telah digelar, pihak BEM UNS sebagai mitra strategis dan kritis berharap audiensi tersebut dapat menghasilkan output berupa kajian yang dapat dibaca dan ditanggapi serta ditindaklanjuti secara serius oleh pihak rektorat, sehingga audiensi tersebut dapat menjadi solusi yang efektif bagi permasalahan yang ada. (Diva, Mohan)


Minggu, 12 Mei 2024

Laskar Adat Betawi Peragakan Seni Pencak Silat di Panggung Semarak Budaya Indonesia 2024

Laskar Adat Betawi Peragakan Seni Pencak Silat di Panggung Semarak Budaya Indonesia 2024

(Penampilan Tari Tradisional di Malam Pagelaran Seni (11/5) / Dok. Ayesa)

Lpmvisi.com - Ajang tahunan Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2024 sukses digelar di Balaikota Surakarta pada Jumat dan Sabtu (10-11/5). Acara yang bertujuan untuk membangun ruang apresiasi bagi generasi seniman sekaligus mengenalkan kesenian Indonesia kepada masyarakat ini mengusung tema “Gelar Imaji Nusantara”. Berkat dukungan dari berbagai pihak, acara ini berhasil menghadirkan ragam hiburan yang menjadi sarana untuk melestarikan budaya lokal.


Dari semua rangkaian kegiatan yang ada, Malam Pagelaran Seni menjadi puncak acara yang dinanti-nantikan masyarakat setempat. Berbagai sanggar dari kota-kota besar di Indonesia turut meriahkan panggung utama Semarak Budaya Indonesia dengan menyuguhkan berbagai tarian-tarian tradisional.


Salah satu penampilan yang berhasil memukau penonton ialah Pencak Silat dari perguruan silat Laskar Adat Betawi yang berada di bawah naungan Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi. Bamus Betawi merupakan sebuah organisasi yang mengayomi seluruh elemen masyarakat Betawi, seperti organisasi, perguruan, dan lain sebagainya. Bamus Betawi merupakan wadah bagi segenap masyarakat Betawi untuk berhimpun yang memperjuangkan hak-hak dan kepentingan serta memajukan kesejahteraan Masyarakat Betawi.


Penampilan yang satu ini menjadi cukup berkesan di mata penonton karena keunikannya yang berbeda dengan panggung lainnya. Pertunjukkan tersebut merupakan demonstrasi dari tradisi ‘Maen Pukul’ atau ‘Sambut Pukul’, yang biasanya dipakai dalam acara ‘palang pintu’ dalam pernikahan adat Betawi. Dalam budaya Betawi, ketika seorang laki-laki ingin menikahi perempuan yang disukainya, maka ia harus ‘merobohkan’ jawara atau jagoan dari perempuan tersebut. Apabila pengantin pria gagal, maka pernikahan tidak bisa dilakukan. 


Penampilan ini secara implisit memberi tahu penonton bahwa Pencak Silat bukan hanya sebuah cabang olahraga atau bela diri, tetapi juga menjadi warisan budaya dan memiliki nilai seni yang layak dijadikan tontonan. “Kalau pencak silat kan masuk ke dalam Dinas Kebudayaan, jadi masuk sebagai olahraga. Kalau bicara kesenian, kita juga bisa masuk seni budaya karena jurus-jurus di pencak silat itu berbeda-beda dan unik,” pungkas Hasbi Yallah (39), salah satu ‘jawara’ yang tampil.


Dengan dipimpin oleh para guru yang berpengalaman dan diikuti oleh pemain yang bersemangat, Laskar Adat Betawi mempersembahkan serangkaian gerakan yang memukau, meliputi teknik pukulan, tendangan, dan kelincahan dalam pergerakan tubuh yang dinamis. “Karena yang tampil saat pertunjukan tadi adalah guru-guru dari perguruan masing-masing. Jadi, kalau tentang gerakan, mereka pasti jauh lebih paham, sehingga kita tinggal menyelaraskan dan menyatukan gerakan-gerakan mereka saja dengan latihan-latihan,” ujar pria yang akrab disapa Abi itu.


(Penampilan Pencak Silat dari Laskar Adat Betawi / Dok. Alya)

Selain menjadi hiburan, penampilan ini juga menyoroti pentingnya melestarikan seni bela diri tradisional sebagai bagian yang tak terpisahkan dari identitas budaya sebuah bangsa. Laskar Adat Betawi bukan hanya sekadar perguruan pencak silat, melainkan juga penjaga dan pewaris sebuah warisan budaya yang berharga. “Harapan ane selaku pelestari dan penggiat budaya, ingin anak-anak muda Indonesia lebih mencintai budayanya sendiri dibandingkan budaya orang lain sebelum diambil oleh orang lain. Itu yang mau kita jaga,” pungkas Abi. (Alya, Syeikha)