Sabtu, 21 Desember 2019

Wabah Cidro di Kalangan Anak Muda

Wabah Cidro di Kalangan Anak Muda

dok.internet/YouTube Channel Gofar Hilman


“Remuk ati iki yen eling janjine, ora ngiro jebul lamis wae, dek opo salah awakku iki, kowe nganti tego mbelanjani janji...” Begitulah sepenggal lirik lagu Cidro yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh Didi Kempot.

Tidak disangka, nama Didi Kempot menjadi sangat populer di kalangan anak muda belakangan ini. Sosok yang dikenal sebagai “Godfather of Broken Heart” tersebut, menarik perhatian publik dengan lirik patah hati di setiap lagunya. Lagu-lagu Didi kempot dinyanyikan dengan bahasa jawa sehari-hari yang dapat menyentuh hati para pendengar, salah satunya adalah lagu berjudul Cidro.

Lagu Cidro bercerita mengenai seseorang yang menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasihnya lalu kemudian dikhianati. Banyak anak-anak muda yang merasa lirik lagu tersebut sesuai dengan yang sedang mereka alami. Sehingga, lagu Cidro mendadak populer di kalangan mereka. Di sosial media sendiri, tersebar sebutan Wabah Cidro. Orang-orang yang terserang wabah tersebut menamai diri mereka sebagai Sobat Ambyar. Atau dalam istilah kerennya, mereka terdiri dari Sad Boys and Sad Girls. Selain lagu Cidro, adapun lagu-lagu lain dari Didi Kempot yang sedang digandrungi kaum muda. Diantaranya yaitu Suket Teki, Pamer Bojo, Layang Kangen, Dalan Anyar, dan masih banyak lagi.

Dalam karya-karyanya, Didi Kempot dianggap mengangkat narasi yang memiliki korelasi kuat dengan realitas percintaan anak-anak masa kini. Hampir setiap anak muda pernah mengalami permasalah cinta seperti yang digambarkan pada lagu-lagu Didi Kempot.

“Didi Kempot mampu menyuarakan keresahan yang sedang dialami oleh anak-anak muda, terutama dalam urusan percintaan. Dalam membawakan lagu-lagunya, ia selalu mampu membuat pendengar menggali kesedihan yang mendalam.” ujar Gede (20), salah satu pendengar lagu Didi Kempot.

Bulan Juli lalu, salah satu influencer yaitu Gofar Hilman sempat mengundang Didi Kempot untuk menjadi bintang tamu acara #NGOBAM (Ngobrol Bareng Musisi) di channel YouTube-nya. Dalam videonya, terlihat acara tersebut juga dihadiri banyak penonton yang sebagian besar adalah kalangan anak muda.

Godfather of Broken Heart. Beliau bukan penyanyi, tapi lebih dari itu, beliau adalah nyanyian itu sendiri.” tulis Abdul Ghofar dalam kolom komentar video tersebut.

Setiap lagu Didi Kempot memang selalu memiliki makna yang luar biasa. Setiap kata adalah kesedihan dan setiap bait adalah rapatan. Semua kisah dalam lagu-lagu Didi Kempot dapat dirangkum dalam narasi : “We fall in love with people we can’t have.”


Zulfatin Naila

Jumat, 20 Desember 2019

Ilmu Komunikasi 2016 Gelar Pameran Advertising

Ilmu Komunikasi 2016 Gelar Pameran Advertising



dok,pribadi/Ardea

Lpmvisi.com- Pameran yang terletak di Public Space 2 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) ini merupakan tugas Prodi Ilmu Komunikasi 2016 peminatan advertising. Pameran ini digelar dari tanggal 18 hingga 20 Desember 2019.

Pameran tersebut memamerkan beberapa konsep kreatif yang sudah direncanakan sebelumnya oleh tiap kelompok. “iya jadi tiap kelompok yang kebetulan ini berjumlah lima orang harus memamerkan karyanya masing-masing” ungkap Windy Yulistiyani, salah satu panitia pameran. Dirinya juga mengungkapkan bahwa tiap kelompok telah diberikan tempatnya masing-masing untuk memamerkan apa yang ingin mereka pamerkan.

“Kalo sistemnya di Ilmu Komunikasi tuh tiap kelompok sudah dikondisikan menjadi advertising agency yang dipamerkan ini juga beberapa diantaranya sudah diupload di instagram” ungkap Windy. Ia juga turut mengungkapkan bahwa mereka nantinya juga perlu melakukan presentasi di depan klien mempresentasikan perencanaan komunikasi dan juga eksekusi kreatif yang telah mereka buat.

Pameran yang berlangsung selama tiga hari ini dibuka dari jam 8.00 hingga 16.00 WIB dan terbuka untuk umum sehingga baik dari mahasiswa FISIP maupun non FISIP bisa mengunjungi pameran tersebut. Pameran ini memiliki sistem voting dimana pengunjung yang dapatng dapat memberikan apresiasinya kepada salah satu karya dan caption terbaik. pengunjung akan diberikan stiker berwarna berbeda untuk ditempelkan kepada karya terbaik menurutnya.

Pameran ini merupakan serangkaian tugas akhir yang harus dikerjakan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi 2016 yang nantinya akan diutup oleh acara awarding yang akan dihadiri secara internal.

Dania

Jumat, 06 Desember 2019

Menyambangi Manis dan Langkanya Petolo Mayang

Menyambangi Manis dan Langkanya Petolo Mayang


Salah satu sisi dari gerobak Petolo Mayang di Solo

Bila menyelisik secara lebih dalam tentang Kota Solo, ada salah satu hal yang cukup menarik dan tentu tidak jauh dari yang namanya “kuliner”. Petolo Mayang, memang seperti itulah nama yang sedari awal diberikan kepada minuman hangat yang memiliki cita rasa manis ini. Kuliner tradisional yang berasal dari Malang tersebut hingga saat ini masih menyambangi salah satu sudut Kota Solo.

Berlokasi di seberang Pura Mangkunegaran atau tepatnya di depan Gedung Majelis Tafsir Alquran (MTA), di sana lah Pak Petolo (nama julukan) memangkalkan gerobaknya yang merupakan satu-satunya gerobak Petolo Mayang di Kota Solo. Keberadaan Petolo Mayang memang sudah sangat jarang ditemui di sudut kota manapun, tentu tidak mengherankan bila hanya ada satu penjual Petolo Mayang di Kota Solo.

Pak Petolo, penjual kuliner Petolo Mayang

Pak Petolo sendiri mengaku telah berjualan Petolo Mayang selama sepuluh tahun, “Saya dapat resepnya dari bapak yang dulu juga jualan Petolo Mayang, orang tua asalnya juga dari Jawa Timur. Kemudian saya teruskan dan udah sepuluh tahun ini, awalnya dari tahun 2009,” ujarnya.


Hanya dengan membayar lima ribu rupiah saja, pembeli sudah bisa menikmati kuliner ini lengkap dengan isiannya. Kuliner yang juga disebut dengan Putu Mayang ini biasa disajikan dalam mangkuk yang berisi ketan srikaya, serabi dan juga petolo mayang yang dibuat dari tepung beras dan berbentuk keriting. Isian tersebut kemudian disiram kuah hangat yang merupakan perpaduan dari gurihnya santan dan manisnya gula jawa.

Semangkuk Petolo Mayang yang terdiri dari ketan srikaya, serabi, petolo mayang, dan kuah santan-gula jawa.

Petolo Mayang saat ini memang tidak banyak dikenal masyarakat. Keberadaannya pun juga jarang bisa ditemui di berbagai sisi kota, bahkan di kota asalnya sendiri. Karenanya, saat ini Petolo Mayang sudah pantas untuk disebut sebagai kuliner tradisional Indonesia yang langka dan terancam mengalami kepunahan. (Alif)

Minggu, 24 November 2019

Pesta yang Tak Akan Pernah Usai

Pesta yang Tak Akan Pernah Usai

Judul: Deleilah Tak Ingin Pulang dari PestaPenulis: Puthut EA  | Penerbit: Insist Pers | Cetakan: Pertama, Maret 2009 | Halaman: 125 halaman  | ISBN : 9786028384193
(Dok. Internet)
oleh: Rachma Dania 

Waria, ingatan, pesta, menjadi sebuah pertautan. Tiga hal yang saling berpagutan. Mosaik yang melengkapi sebuah dunia yang terus menerus menagih pengakuan.

Buku ini merupakan buku naskah drama dimana terdapat dua judul di dalamnya yakni “Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta” yang bercerita tentang pangung kehidupan waria yang terangkum dari tokoh-tokonya. Sedangkan “Jam 9 Kita Bertemu” menceritakan tentang kisah cinta segitiga yang bisa jadi memang lebih rumit daripada romantisme kisah cinta segitiga biasa.
Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta

Nyatanya hidup memang kerap diasumsikan sebagai panggung dan pesta. Semua orang terkadang dituntut untuk selalu baik-baik saja di depan namun harus berkubang dalam lumpur permasalahannya di belakang. Begitu pula yang ingin Puthut EA sampaikan, kehidupan waria dalam pesta yang tak pernah usai.

Bertokohkan Rosiana, Happy, dan Luna “Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta” menceritakan tentang kisah ketiganya yang dulu pernah menjadi cebongan, yakni pelacur dalam kamus waria. Akan tetapi dengan kelebihan yang mereka miliki yakni wajah yang lebih cantik dan suara yang memikat dan banyak faktor lainnya membawa mereka ke panggung hiburan malam yakni Metro Nire Club kelab malam yang paling terkenal di Kota.

Di dalam Group yang bernama Deleilah mereka mencoba untuk mengekspresikan diri dengan identitas waria setelah sebelumnya nyebong. Eksistensi mereka sebagai penghibur kian melesat dan juga membawa keuntungan bagi Metro sendiri. Dimanajeri oleh Dedi Deleilah memiliki jadwal manggung seminggu sekali, tak melulu sebagai penghibur mereka juga memiliki kesibukan, permasalahan, dan panggungnya masing-masing.

Rosiana digambarkan sebagai seorang waria yang kecil, lincah, mungil, dan periang akan tetapi dibayangi dengan kekhawatirannya terhadap umurnya yang kian menua. Luna yang memiliki sifat ambisius terhadap dunia hiburan. Serta Happy yang seolah merangkum kisah klasik dunia hiburan yakni entertainer yang tertarik di dunia politik serta hidup di dalamnya, dirinya tertarik terhadap isu kesetaraan waria.

Puthut berusaha menggambarkan kehidupan ketiga waria ini kedalam 3 panggung. Panggung pertama menceritakan tengang semua pesta kolosal akan digelar dimana Deleikah mendapatkan pengakuan. Panggung kedua yakni hulu dan muara bagi Deleilah sebagai waria tempat cebongan dan interaksi antar waria, serta lintas pedagang. Selanjutnya Panggung ketiga dimana kisah personal Deleilah diceritakan beserta alasan dibaliknya.

Tak hanya berhenti disitu konflik lain juga turut bermunculan seperti kabar Metro yang akan ditutup serta baluran cinta tak terbalas yakni Happy dan Luna yang jatuh cinta kepada Dedi namun Dedi malah mencintai Rosiana yang sedang gundah terhadap karier dan juga umurrnya. Semakin lama eksistensi  Deleilah seolah mengabur oleh masalah personal tiap anggotanya yang semakin berkembang. Pesta Deleilah terancam usai dan mereka terancam harus pulang dari pesta.

Dalam penyampaian cerita keputusan baik bagi Puthut untuk menyampaikan konsepsinya di awal  mengenai waria yang berbeda dengan gay, lesbian, dan transgender. Ia mengungkapkan bahwa dalam kehidupan tidak ada sesuatu yang hitam sejati maupun putih sejati selalu ada tingkatannya dan selalu ada kemungkinan muncul warna lain yakni abu-abu. Pada saat itulah pandangan waria dan konsepnya di dalam masyarakat umum terbentuk.

Dalam bukunya yang berbentuk naskah ini tiap pembaca dapat merasakan sudut pandang setiap tokohnya dan segala keresahan yang juga tokoh rasakan sebagai seorang waria dan segala permasakahannya. Pembaca dibawa ke dalam masa lalu dan mendapati istilah “dimana pada asap pasti ada api” dari ketiga tokoh yang bertahan dengan identitas baru mereka.

Pembaca juga turut dibawa ke dalam dunia waria mulai dari yang gemerlapan yang penuh pesta hingga dunia sebaliknya saat mereka pulang. Oleh karena itu ketiga tokoh bagaimanapun caranya tak ingin pulang dari pesta karena dalam pesta mereka mendapat pengakuan ajan tetapi ketika pulang mereka hanya akan kembali ke dalam bilik hitam kesendiriran dengan masalah dan masa lalu yang membayanginya.

Bahasanya cukup mudah dipahami dan semakin hidup karena banyak istilah waria yang tentunya tidak ada di KBBI maupun diajarkan di sekolah-sekolah. pembaca diajak untuk memahami kehidupan waria beserta pemikiran-pemikiran mereka yang sebenarnya sama saja dengan manusia biasa hanya latar belakangnya yang lebih istimewa.

Jam 9 Kita Bertemu

Setelah kita membaca   Deleilah yang dibumbui sedikit romansa kisah cinta segi tiga kini pembaca diajak untuk membaca kisah cinta segi tiga sebagai konflik utama. Berkisah tentang Kenes, Doni dan Lisa yang kisahnya tanpa mereka sadari terpaut satu sama lain.

Puthut sendiri menuliskan bahwa cerita ini seperti makan soto, terasa kurang ketika makan satu mangkuk akan tetapi akan kekenyangan dan membuat perut begah apabila nambah satu mangkuk lagi. Hal ini serasa benar karena akhir cerita yang memang terasa belum selesai, segala kemungkinan bisa terjadi akan tetapi Puthut lebih senang mengembalikan akhir kepada pembacanya.

Doni merupakan pria yang sudah beristri, akan tetapi ia memang digambarkan sebagai pro player dalam urusan hati. Memiliki isteri tak membuatnya berhenti untuk memiliki pacar lain yakni Kenes yang bekerja sebagai aktivis LSM yang juga sahabat baik dari Lisa, yang merupakan seorang wartawan.

Naskah drama yang terjadi diantara Doni dan Kenes kebanyakan terjadi di telepon karena lokasi mereka yang memang berbeda kota. Doni sebagai pembuat film berdomisili di Jogja dan Kenes sebagai aktivis LSM yang ada di Aceh. Dalam percakapannya juga dijelaskan pertemuan mereka yang sering berlangsung ketika akhir minggu saja.

Kisah keduanya memiliki pola klasik dalam dunia perselingkuhan dimana pihak yang mendua seolah dikejar tuntutan dari berbagai pihak serta pihak yang menjadi selingkuhan yang awalnya menyetujui hubungan penuh tantangan lambat laun mulai menuntut banyak hal. Hal semakn runyam dengan keputusan Kenes untuk pindah di Yogyakartam, kota yang sama dengan Doni.

Di tengah padatnya tuntutan Doni meminta seseorang yang tak lain adalah Lisa untuk datang menemuinya, Lisa  yang merasa kasihan terhadap mantan selingkuhannya akhirnya menyetujui Doni untuk menjemputnhya jam 9 Malam di bandara. Di sisi lain Lisa juga meminta Kenes untuk menjemputnya di jam dan waktu yang sama.

Puthut selalu bisa membawa pembacanya merasakan apa yang tokoh rasakan seperti halnya ketiga tokoh diatas akan tetapi pada cerita kali ini background cerita kurang dijelaskan sehingga kita hanya mengetahui ketiga orang ini yang memang gemar bermain-main dengan cinta, terutama Doni akan tetapi tidak ada alasan lain. Ibarat berita karya ini bisa disamakan dengan straight news kisah yang diceritakan hanya kisah yang tejadi pada masa sekarang, tidak ada masa lalu pun masa depan, tidak ada alasan, mauoun emosi lain yang ada di baliknya.

Terakhir buku ini terlihat seperti buku normal yang berisi cerita pada umumnya sehingga kalau tidak cermat pembeli bisa saja tak menyangka bahwa buku ini merupakan buku yang berisi naskah drama,  seperti yang penulis lakukan dulu. 

Jumat, 18 Oktober 2019

Kompleksitas Kisah Kolosan Berbalur Komedi yang Menawan

Kompleksitas Kisah Kolosan Berbalur Komedi yang Menawan

Judul: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi | Penulis: Yusi Avianto Pareanom  | Penerbit: Banana Publishing  | Cetakan: Pertama, Maret 2016 | Halaman: 468 halaman  | ISBN : 9789791079525
(Dok. Internet)

oleh: Rachma Dania 

"Aku memang belum pernah mendengar atau membaca syair tentang Watugunung, tapi aku yakin isinya pasti pujian murahan. Pada saat yang bersamaan, aku harus mengakui bahwa Gilingwesi memang makmur. Orang melamun saja dibayar mahal. Anjing betul."--- Sungu Lembu takjub juga sekaligus mengumpat.


Buku yang berlatar belakang zaman lampau atau yang kental dengan nuansa kolosal ini menceritakan tentang Sungu Lembu yang membawa misi pembalasan dendam atas masa lalunya. Dalam misinya tersebut ia merantau menuju kerajaan yang telah menjajah negeri kecilnya, yakni Gilingwesi.

Sekilas pandang memang plot terlihat sederhana, akan tetapi kompleksitas yang terkandung di dalamnya bisa jadi lebih dari yang dibayangkan. Dalam perjalanannya menuju Gilingwesi, Sungu lembu melewati berbagai peristiwa dan pelaku di dalamnya. Salah satu pertemuan yang cukup penting yakni pertemuannya dengan Nyai Manggis, perempuan pemiliki rumah judi yang ternyata sekampung halaman dengannya. Tanpa diduga ternyata Nyai Manggis juga memiliki sekelompok pemberontak dari Banjaran Waru yang juga ingin melawan Gilingwesi.

Melalui pertemuan tersebut, tanpa sengaja Sungu bertemu dengan Raden Mandasia, yakni anak kembar ke 7 dari 13 pasang anak kembar Watugunung, penguasa Gilingwesi. Melalui pertemuan inilah akhirnya Sungu mulai menjalankan misi dengan ditemani dengan Raden Mandasia yang memiliki kebiasaan aneh mencuri daging sapi, menyembekih dan meracik sediri bagian yang ia sukai. Kebiasaan ini juga yang kadang membawa mereka ke dalam peristiwa mara bahaya.

Mereka berdua melakukan perjalanan hebat, petualangan yang tak tanggung-tanggung membuat pembaca terkesima. Jika Sungu Lembu membawa dendam kepada ayah Mandasia selama perjalanannya, Mandasia justru membawa keinginan untuk menghentikan perang yang akan dilakukan Gilingwesi ke Kerajaan Gerbang Agung.   

Berbicara mengenai kompleksitas di bahas di atas, maka kompleksitas dan kebergaman cerita itu sendiri muncul saat petualangan dimulai. Bukan hanya perkara balas dendam namun juga diselipkan keseruan, komedi, dan tak jarang juga terdapat alur membawa pesan yang membuat hati tersentuh.

“Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih,"- Loki Tua

"Aku tak paham pikirannya. Aku tak akan pernah paham pemikiran perempuan. Kalau aku bisa membaca hati perempuan, barangkali aku bisa jadi penguasa dunia." -- Sungu Lembu.

Tak jarang juga kita bisa menemukan banyaknya cerita yang nampaknya serupa dengan cerita dongen zaman dahulu sebut saja kisah bapak tua yang mirip Gepetto, kisah Sangkuriang, kisah Nabi Yunus, dan lain sebagainya.

Yusi menyajikan kompleksitas cerita dengan bahasa yang seolah menawan para pembacanya, tak hanya itu penulis juga turut menampilkan cerita dengan latar belakang yang terperinci dan jelas sehingga bisa membantu pembaca untuk memvisualisasikan peristiwa yang sedang dialami oleh tokoh. Detail cerita ini nampaknya baik untuk dinikmati secara cermat tak heran ketika pembaca perlu memberikan sedikit waktu lebih banyak untuk memahami dan menikmak alur yang disajikan oleh penulis ini.

Buku ini memiliki label dewasa dan nampaknya pembaca memang harus bijaksana akan hal tersebut.  Petualangan dari dua bujangan ini memang banyak menggunakan bahasa-bahasa umpatan untuk mengekpresikan perasaan yang mereka rasakan. Adegan intim yang sarat akan hubungan seksual juga turut disertakan dalam buku ini.

Secara keseluruhan buku ini memang layak dan patut untuk dibaca, buku ini bisa menambah wawasan dan kekritisan pikiran bagi orang yang membacanya. Tak mengherankan apabila buku ini berhasil memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2016 untuk kategori Prosa.

Senin, 07 Oktober 2019

Petrikor di tahun 2019

Petrikor di tahun 2019


ilustrasi: internet (https://www.freepik.com/makyzz)

Oleh : Ade Uli Fitriyani

Saya fikir Indonesia masih menghijau
Nyatanya dia kini mulai kacau
Tempo hari aku masih mencium aroma petrikor
Ternyata itu ilusi bikinan para pesohor
Dan bisa bisanya saya bangga mengenali wajah wajah pesohor
Nyatanya ada wajah nanar di balik deru mesin mesin yang bocor
Bocor dan imbasnya saudaraku yang menelan mentah mentah
Saudaraku yang ternyata menanti kepulangan pemilik wajah nanar itu

Mengapa semua berteriak?
Karena memang gaung modernisasi membuyarkan kegusaran di bawah semen semen dan beton
Mana mungkin rintihan itu melewati celah semen berangka besi-besi berjuta ton

Cerita berlanjut,
Semua lari, semua baris, semua mengadu
Tapi apa rayu mu?
Katamu jangan tertipu, apa lagi habiskan recehmu
Pulanglah semua sudah akan berlaku
Saudaraku kau dorong mundur perlahan namun kekecewaan masih tergambar
Berkendara saja kau begitu di jalan-jalan yang kami bangun dari peluh kami

Katamu semua akan aman, 
Seolah kami tak mendapatkan banyak pelajaran dari lembaga yg kau tunjuk untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
Saudaraku mati matian keluar masuk studi, katamu saudaraku tak berbudi
Jadi sudah sejak kapan negeriku mulai kehilangan tempat berlindung ?
Sudah sejak kapan petrikor itu ternyata lahir dari tebaran garam ?
Tanah airmu dan keseluruhan darimu tak akan menemukan kebenaran itu 
Semua punya hajat semua bisa bejat
Kini petrikor paling sendu datang, petrikor air mata pertiwi atas ulah manusiamu, 
termasuk aku

Kamis, 26 September 2019

Bengawan Melawan, Aksi Massa Berujung “Air Mata”

Bengawan Melawan, Aksi Massa Berujung “Air Mata”

Demonstrasi di depan Gedung DPRD Surakarta (Dok.Visi/Gede)
lpmvisi.com,Solo-Panas matahari pada Selasa (24/09/2019) tidak menghalangi perwakilan mahasiswa dari seluruh kampus di Kota Surakarta untuk menyuarakan pendapatnya. Ribuan mahasiswa Surakarta tersebut bersatu padu turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi “Bengawan Melawan” di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Aksi mengacu kepada banyaknya keputusan Rancangan Undang Undang yang dikeluarkan oleh DPR di akhir masa jabatannya, yang tentu saja putusan tersebut banyak meresahkan rakyat Indonesia. Hal tersebut terbukti dari banyaknya gerakan mahasiswa berskala besar yang diadakan untuk mengawal isu yang sama. Sebut saja Gejayan Memanggil di Jogjakarta (23/09/2019), Demo Senayan di Jakarta Pusat (24/09/2019), Demo Bandung (24/06//2019) dan masih banyak lagi.

Aksi di beberapa kota tersebut membawa beberapa isu yang serupa, dan untuk “Bengawan Melawan” isu yang dibawa yakni  Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), menolak revisi Rancangan Undang Undang (RUU) KPK, Pengesahan RUU PKS, serta menolak RUU Pertahanan.

“Bengawan Melawan” diawali dengan kegiatan Long March dari parkiran Edu Park menuju ke gedung DPRD Surakarta yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Selanjutnya aksi berjalan dengan damai dan tentunya dengan pengawalan ketat dan persiapan dari kedua belah pihak.

Berakhir Ricuh
Akan tetapi disayangkan sekitar jam 14.20 WIB kerusuhan tak dapat dihindarkan. Aksi berakhir dengan kericuhan, dan berulangkali gas air mata ditembakan oleh pihak kepolisian untuk mengamankan massa. Menurut pengamatan dan data yang dihimpun VISI kericuhan tersebut dimulai dengan saling melempar tempat air minum, disusul oleh lemparan benda berat, aksi dorong-dorongan, dan ditutup dengan lemparan gas air mata.



Sesaat sesudah penembakan gas air mata (Dok.Visi/Fajrul)
Kericuhan yang terjadi mengakibatkan korban cidera, terutama karena efek dari gas air mata. Disebutkan oleh Duta Agung Nugroho salah satu mahasiswa Universitas Muhamadiyah Surakarta bahwa ada beberapa orang diangkut oleh ambulans “tadi kena gas air mata terus mungkin kaget, langsung kaku ga bisa gerak. Kayaknya kaget kena gas air mata” ungkapnya.

“Setahu saya ada 3, yang pertama dari IAIN perempuan, trus Riko, yang terakhir perempuan juga. Tapi kayaknya banyak, tapi yang saya tangani Cuma 3 yang lain-lain itu tadi mungkin dibawa motor dan segala macem.” Ungkapnya menambahkan.

Tak hanya dari segi mahasiswa gedung DPR yang berdiri kokoh juga turut menjadi sasaran. Diungkapkan oleh salah satu karyawan di Gedung DPR “ tadi di lantai atas ada kaca yang pecah, karena batu.  Kalo air minum pasti engga bakal tembus” ungkapnya.  

Dugaan Tunggangan Beberapa Oknum

Diduga aksi yang dilaksanakan tersebut tak lepas dari tunggangan beberapa golongan tertentu saja yakni seruan tuntutan untuk diturunkannya Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia. Hal tersebut menimbulkan spekulasi bahwa ‘Bengawan Melawan’ telah ditunggangi oleh oposisi. Namun, salah satu koordinator dalam aksi ‘Bengawan Melawan’ membantah hal tersebut.

“Di sini, kami lebih menuntut kepada para DPR terkait revisi UU dan yang lain sebagainya. Kami tidak pernah menyuarakan tunturan turunkan Presiden Jokowi.” Ujar Iklil, Koordinator dari FISIP UNS Surakarta.


Mahasiswa saat melakukan Long March (Dok. Visi/Gede)

Berdasarkan penjelasan dari Iklil selaku salah satu koordinator dari UNS Surakarta, massa dari ‘Bengawan Melawan’ tidak pernah diarahkan untuk membuat seruan diturunkannya Presiden Joko Widodo. Mereka lebih diarahkan untuk menuntut revisi undang-undang yang dibuat oleh DPR.


“Jika memang ada seruan untuk menurunkan Jokowi, Saya rasa itu bukan dari kami dari ‘Bengawan Melawan’ tapi oknum lain yang juga ikut aksi. Karena aksi tadi juga massanya cukup banyak.” Jelas Iklil. (Naila, Syam)
Kumbang yang Jatuh Tanpa Disadari

Kumbang yang Jatuh Tanpa Disadari


Dok. Internet (commons.wikimedia)
Oleh : Alif Nurmardiyanto

Terlahir dan tumbuh melalui garis takdir
Sebagai lumut dalam hutan pinus
Sebagai semut dalam rombongan gajah yang mengentak
Sebagai manusia yang terabaikan

Berjalan di antara orang-orang yang dinamis
Memijaki batas sosial yang hidup
Tapi tanpa saling menghidupi,
Nafasku bukan nafas untuk mereka

Dahulu bukan begitu
Hari ini juga tidak dapat disalahkan
Hanya bumi benar-benar berputar
Hanya bumi benar-benar harus berputar

Kumbang yang dulu saling hinggap menghinggapi, 
Sekarang lebih memilih terbang dan hinggap
Tanpa menghinggapi
Manusia adalah kumbang, 

Dan aku, salah satu kumbang
Yang jatuh tanpa ada yang menyadari

Minggu, 22 September 2019

Duduk dan Berkontemplasi Bersama “mono.”

Duduk dan Berkontemplasi Bersama “mono.”


Oleh : Lailaurieta Salsabila Mumtaz
Gambar: cover album “mono.” Sumber: btsblog.ibighit.com

Artis                : RM
Album             : mono.
Genre              : Underground hip-hop, R&B
Durasi             : 24 menit
Produksi         : 2018
Label               : Big Hit Entertainment
Produser        : RM, Pdogg, Hiss noise  

Tiap orang punya cara tersendiri untuk mengatasi kesedihan atau stres yang dialaminya. Ada yang mengekspresikannya dengan menangis, makan yang banyak, atau dengan mendengarkan musik. Untuk cara yang terakhir, mungkin album ini bisa menjadi salah satu pilihan untukmu yang sedang butuh penghiburan.

Setelah sukses mengguncang dunia dengan album “Love Yourself: Answer” yang dirilis pada Agustus 2018, rapper dari grup musik BTS, RM merilis album solo keduanya yang berjudul “mono.” Berbeda dengan album self-titled-nya pada 2015 yang terkesan agresif dan ‘galak’, kali ini RM mengajak pendengar untuk berkontemplasi melalui irama yang lembut dan melankolis.

Ditulis dan diaransemen oleh RM sendiri, lagu-lagu dalam album ini terinspirasi dari refleksi dan pengalaman pribadi sang artis. Seperti yang tercermin pada track 1 dan 2, “Tokyo” dan “Seoul”, judul kedua lagu tersebut diambil dari nama kota yang sering disinggahi oleh penyanyi rap bernama asli Kim Namjoon ini. Diawali dengan suara ambience di rel kereta, “Tokyo” menceritakan tentang rasa kesepian yang muncul di tengah hingar bingar kota, dan kerinduan pada orang terkasih. Sementara itu, track kedua “Seoul” yang berkolaborasi dengan band elektronik asal Inggris, HONNE, menceritakan tentang ‘love-hate relationship’ antara RM dengan kota yang kini menjadi tempat tinggalnya itu. Pada reff-nya, RM menulis If love and hate are the same word / I love you Seoul / If love and hate are the same word / I hate you Seoul. Di sini, RM bermain kata dalam pengucapan “Seoul” dan soul yang hampir mirip, untuk menunjukkan bagaimana jiwanya telah menjadi satu dengan kota ini.

RM menujukan lagu ketiga, “Moonchild”, untuk orang-orang yang lebih menyukai malam hari seperti dirinya. Malam hari adalah saat di mana ia merasa terbebas dari belenggu dan tatapan orang-orang. Irama rap khas RM ditunjukkan jelas di sini, dengan lirik yang bertujuan untuk menguatkan para pendengarnya: “Even when it seems as though we’re destined to suffer / we’re strong enough to overcome it all / That even in times we said we wanted to die / we lived zealously”.

Billboard menggambarkan lagu “Moonchild” sebagai “a smooth, sorrowful, introspective bilingual alt R&B track”. Lewat album “mono.” tidak hanya RM membuat pendengarnya merasa ‘ditemani’ dalam menghadapi kegalauan hati, namun juga ia berhasil melintasi batasan genre dan bahasa dalam bermusik. Dari total tujuh lagu yang disajikan dalam albumnya, hanya “Tokyo” yang seluruh liriknya berbahasa Inggris. Sisanya, bahasa Korea mendominasi lirik lagu. Namun tampaknya itu bukan halangan bagi album ini untuk diterima oleh telinga para pendengar lama maupun baru. Tak heran jika album ini berhasil memuncaki tangga lagu iTunes Top Albums di 88 negara dalam waktu singkat. RM membuktikan bahwa perbedaan bahasa bukanlah penghalang bagi musik untuk dapat menyentuh penikmatnya.

Selanjutnya pada lagu “uhgood”, RM menceritakan bagaimana ia merasa terbebani dengan ekspektasi orang-orang terhadap dirinya. Lagu ini yang mungkin punya banyak keterkaitan dengan para pendengar, terutama bagi mereka yang sedang berjuang untuk menerima diri sendiri dan menyingkirkan komentar buruk orang lain.  Dalam pidatonya di pertemuan Majelis Umum PBB pada 24 September 2018, RM mengkampanyekan pesan serupa, yaitu mengajak pendengar untuk untuk mengikuti kata hati dan tetap menjadi diri yang sebenarnya. “No matter who you are, where you’re from, your skin color, your gender identity, just speak yourself.” ujarnya.

Sebagai title track, lagu ketujuh “Forever Rain” divisualisasikan dalam video bernuansa hitam-putih menampilkan seorang pemuda yang berjalan sendirian di tengah kota yang diguyur hujan.
Gambar 2: Visualisasi track 7 “Forever Rain” pada video klipnya. Sumber: YouTube.

Diiringi alunan piano dan beat yang pelan, lagu ini bercerita tentang perasaan sang artis saat berjuang melawan depresi yang pernah dideritanya. Menggunakan istilah ‘when it rains it pours’, ia menggambarkan seburuk apa depresi dapat berefek pada penderitanya. Saat itu, ia hanya ingin hujan turun setiap saat agar tidak ada yang bisa melihat air matanya yang jatuh, dan bagaimana rintik hujan yang mengenai jendela terdengar seperti teman yang menyapanya.
Dirilis secara cuma-cuma oleh label yang membawahinya, para penggemar RM dapat mengunduh langsung album ini lewat berbagai platform musik. Vulture mengekspresikan album ini sebagai " ...the free therapy your body, soul, and bank account collectively to ease into whatever hell this week will bring.”

Definisi mono sendiri adalah tunggal; sendiri; satu. RM ingin audiens untuk menangkap bahwa kita akan tetap bisa bertahan dengan kesendirian tanpa merasa kesepian. Album ini memang paling pas didengarkan ketika kita sedang sendirian, ditemani secangkir teh atau kopi sambil membaca buku.

Subjek dari album ini sendiri cukup sulit untuk diekspresikan, mengingat topik mengenai kesehatan mental belum banyak dibahas oleh masyarakat umum khususnya di Korea Selatan. Namun RM mampu mengemasnya secara apik, bukan hanya dalam mengungkapkan isi hatinya, tetapi juga meyakinkan para pendengar untuk berjuang untuk tetap hidup. Ia mengakui bahwa ia pernah mengalami situasi yang sama, maka dia ingin berbagi kenyamanan dan kedamaian bagi orang-orang yang tengah berjuang.

Bagaimana? Tertarik untuk mendengarkan album ini? ;;)

Rabu, 18 September 2019

Air Mata Air Bengawan: Bersama Mengangkat Kebesaran Bengawan Solo

Air Mata Air Bengawan: Bersama Mengangkat Kebesaran Bengawan Solo

Salah satu sudut pameran "Air Mata Air Bengawan". (Dok. Visi/Nova)

Lpmvisi.com, Solo - Bentara Budaya Solo kembali mengadakan kegiatan pameran fotografi yang bertajuk "Air Mata Air Bengawan" pada Selasa (10/09/2019) hingga Kamis (19/09/2019) di Balai Soedjatmoko.

Pameran kali ini diadakan karena diharapkan mampu mengangkat kembali kebesaran Sungai Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa. Hasil karya yang dipamerkan di sana berasal dari seniman atau fotografer yang berasal dari Solo, Yogjakarta, Jakarta dan sekitarnya. Ada sekitar 34 seniman atau fotografer yang ikut andil dalam pameran tersebut, seperti misalnya Andry Prasetyo, Dodi Sandradi, Boy Harjanti, dan lain sebagainya. Event digelar dengan serangkaian acara mulai dari pembukaan di Hari Selasa, diskusi buku dan juga pemutaran film.

Pihak Bentara Budaya Solo sengaja mengundang seniman atau fotografer guna mengirimkan hasil karya mereka yang sesuai dengan tema. Setiap seniman atau fotografer mampu menyumbangkan 1-4 karyanya. Kemudian diadakan proses kurasi oleh para kurator yang telah dianggap ahli pada bidang tersebut, hingga akhirnya karya dapat dipamerkan pada kesempatan kali itu.. Para pengunjung yang datang sebagian besar merupakan warga Solo sendiri yang beberapa di antaranya juga merupakan penikmat atau pecinta seni fotografi.

Salah satu pengunjung pameran, Budi (50) beranggapan bahwa acaranya tersebut cukup menarik baginya, "Temanya sudah bagus, tapi sisi artistiknya saja yang menonjol, harusnya sisi isi atau pesan sosial yang harusnya ditonjolkan," ujar Budi

Pada hari pertama, pameran berlangsung dengan meriah dan ramai oleh pengunjung karena dibuka langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. AN-PLUCK Band juga turut hadir untuk memeriahkan pembukaan pameran di hari tersebut. Pada hari Kamis, pameran juga diselingi oleh diskusi dengan tajuk yang sama dengan judul pameran. Dengan mengundang Subur Tjahjono yang merupakan editor buku “Ekspedisi Bengawan Solo” dan Prof. Soeprapto Soedjono sebagai salah satu fotografer sekaligus Dosen ISI Yogyakarta, diskusi membahas tentang pameran dan sedikit menyinggung mengenai buku Ekspedisi Bengawan Solo. Diskusi dimoderatori langsung oleh Risman Marah yang juga merupakan praktisi fotografi.

Bentara Budaya Solo sendiri menjadikan pameran sebagai acara rutin bersama dengan agenda-agenda lain seperti “Keroncong Bale”, “Klenengan Selasa Legen”, dll. Dengan mengusung konsep dan menggaet seniman yang berbeda-beda di setiap eventnya, Bentara Budaya Solo selalu mampu menarik masyarakat Solo untuk hadir tiap bulan maupun setiap tahunnya ke Balai Soedjatmoko. (Nova, Stella)