Selasa, 13 Desember 2022

 Upcycling, Trend Fashion Baru Ramah Lingkungan

Upcycling, Trend Fashion Baru Ramah Lingkungan

 

Bagi sebagian besar orang, fashion atau mode mungkin menjadi bagian dari gaya hidup. Banyaknya variasi pilihan membuat orang bebas mengekspresikan diri melalui pakaian. Tak hanya kalangan tertentu, kini fashion bisa diakses oleh semua kalangan. Hal ini karena menjamurnya industri fashion murah dengan model yang beragam. Industri ini belakangan sering disebut dengan industri fast fashion. Namun, dibalik keterjangkauannya yang luas industri fast fashion memberi dampak negatif bagi lingkungan.


Fast Fashion dan Dampak yang Ditimbulkan

Dengan julukan fast fashion, sudah dapat ditebak bahwa industri ini memproduksi barang dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak. Jika melihat produk seperti H&M, 3Second, Nevada, dst cenderung mengeluarkan koleksi sesuai musim. Pada musim panas mereka akan memproduksi koleksi untuk musim panas dan dalam waktu dekat mereka akan memproduksi koleksi musim dingin ketika musim dingin datang.


Karena tingkat produksi yang tinggi, biaya yang dikeluarkan perlu ditekan. Maka industri fast fashion cenderung menggunakan bahan baku berkualitas rendah. Dampak buruknya adalah produk-produk yang dihasilkan tidak bertahan lama atau mudah rusak. Tak hanya itu, kain kain sisa potongan produksi pun berakhir di pembuangan tanpa pengolahan lebih lanjut padahal kain kain ini termasuk limbah yang sulit terurai.


Selain itu, dalam satu tahun produsen fast fashion rata rata menghasilkan 42 model fashion. Kelebihan produksi mungkin saja terjadi yang ujungnya adalah pembakaran sisa stok pakaian tidak terjual. Hal ini pernah terjadi pada tahun 2017, retailer H&M membakar sekitar 19 ton stok pakaian tidak terjual atau setara dengan 50.000 helai jeans.


Pekerja memilah limbah sisa kain di tempat pengepul limbah tekstil, Jakarta/ Dok. Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO


Berdasarkan laporan yang ditulis oleh Global Fashion Aenda dan McKinsey and Company (cnnindonesia.com) industri fashion pada tahun 2018 telah menyumbang sebanyak 2,1 miliar metrik ton emisi gas rumah kaca atau 4% dari total emisi global. Para peneliti memperkirakan emisi gas rumah kaca dari industri fesyen akan meningkat menjadi hampir 2,7 miliar ton setiap tahun pada tahun 2030 jika tidak ada tindakan lebih lanjut.


Di dalam negeri, menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2021) Indonesia menghasilkan 2,3 juta ton limbah tekstil atau setara dengan 12 persen dari limbah rumah tangga (menurut data dari SIPSN KLHK per tahun 2021). Dari keseluruhan limbah tekstil tersebut, hanya 0,3 juta ton limbah tekstil yang didaur ulang.


Mengenal Upcycled Fashion, Kreasi Pakaian Bekas yang Didaur Ulang

Belakangan ini, semakin banyak masyarakat yang paham dengan konsep industri fast fashion dan dampak yang ditimbulkan. Tak hanya mendaur ulang sampah rumah tangga, namun kini limbah fashion juga bisa didaur ulang. Seperti trend yang sedang populer beberapa tahun kebelakang yakni trend upcycled fashion.


Konsep upcycle berbeda dengan recycle. Jika recycle membutuhkan bahan pengurai untuk merekonstruksi limbah menjadi sesuatu yang lain, upcycle justru menggunakan kembali kain yang sama dan mengubahnya menjadi bentuk yang baru. Tak perlu bahan pengurai, upcycle pada fashion hanya memerlukan kreatifitas dan keterampilan dalam mengolah berbagai limbah kain atau pakaian yang sudah tidak terpakai.


Gerakan ramah lingkungan ini mulai populer pada tahun 2019 lalu dengan sebutan the sustainable fashion trends yang disambut baik oleh para penikmat fashion. Salah satu yang sangat populer pada saat itu adalah trend thrifting atau membeli baju bekas pakai. Nah, seiring waktu berjalan trend ini berkembang menjadi trend upcycled fashion yang menghasilkan produk unik dengan nilai jual yang bersaing. 


Trend upcycling ini cukup ramai digandrungi oleh penikmat fashion. Dilihat dari banyaknya hashtag tentang trend ini di media sosial. Hashtag #upcycledclothing sudah digunakan lebih dari 700.000 unggahan di Instagram dan di TikTok hashtag #upcycledfashion sudah dilihat lebih dari 427juta pengguna.


Hashtag #upcycledclothing turut meramaikan tren upcycled fashion melalui sosial media/ Dok.Instagram


Tampaknya, tak hanya konsumen fashion yang tertarik dengan trend ini, brand-brand fashion besar seperti Coach, Levis & Ganni, dan J.W. Anderson turut menghadirkan upcycled fashion dalam koleksinya. Balenciaga pada koleksi Spring/Summer 2021 lalu juga menampilan kreasi upcycled fashion dari tali sepatu bekas yang kemudian dinamai “Shoelace Fur”.


Tampilan “Sholace Fur” dalam koleksi Spring/Summer 2021 Balenciaga/ Dok. Vogue Singapore


Menyulap Bahan Bekas Pakai menjadi Fashion yang Ciamik


Desainer dalam negeri, Diana Rikasari tidak kalah kreatif. Pemilik fashion line @iwearup dan @schmileymo ini kerap membagikan karya-karya upcycled fashionnya di instagram pribadi @dianarikasari. Berawal dari hobi menjahit, Diana berhasil menyulap bahan-bahan bekas pakai menjadi fashion dengan gaya ciamik dan tentunya bernilai jual.


Beberapa koleksinya digandeng oleh beberapa brand luar negeri. Salah satunya adalah perusahaan fashion multinasional Urban Outfitters yang berkantor pusat di Philadelphia, Pennsylvania. Kolaborasinya bersama Urban Outfitters diberi nama “Urban Renewal” yang 100% dibuat dari bahan-bahan bekas pakai.


Tampilan koleksi upcycled fashion “Urban Renewal” Diana Rikasari x Urban Outfitters/ Dok. Instagram @dianarikasari


Diana menyulap 5 box bahan bekas pakai menjadi pakaian siap pakai hanya dalam waktu satu bulan. Peluncuran koleksi “Urban Renewal” ini sekaligus memperingati hari bumi pada tanggal 22 April 2022 lalu. Bangganya lagi, koleksi-koleksi ini dipajang langsung di salah satu in-store Urban Outfitters di New York. 


Selain unik dan eksklusif karena hanya bisa diproduksi 1 kali setiap modelnya, upcycled fashion juga tentunya ramah lingkungan. Dengan mengubah bahan atau pakaian bekas menjadi pakaian baru yang layak pakai, trend upcycled fashion ini dapat membantu mengurangi sampah fashion akibat stok tidak terpakai. (Saras)


Terpaan Perilaku Konsumtif di Tengah Masyarakat

Terpaan Perilaku Konsumtif di Tengah Masyarakat

 

Ilustrasi (Dok. Internet/ Pinterest)

Oleh: Naomi


"Ehh produk A lagi promo nih, beli yuk?"

"Boleh. Aku juga mau beli"

"Iyaa, kamu harus beli. Soalnya jarang banget, aku aja mau beli 5"

"Hah emangnya mau diapain?


Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, beragam kemudahan tersedia untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan manusia. Mulai dari munculnya aplikasi layanan belanja online, delivery online, dan sebagainya. Hal tersebut juga didukung oleh pemahaman masyarakat yang semakin tinggi mengenai teknologi, terlebih rata-rata masyarakat mungkin sudah memiliki gadget. Jadi, ketika mau belajar tentang apapun atau melakukan apapun, jadi lebih mudah!


Tak selalu berdampak positif, beberapa masyarakat dirasa semakin “kalap” karena semua kemudahan yang diberikan. Seperti dapat kita lihat pada tingginya minat masyarakat dalam membeli produk yang dipasarkan secara online. Misalnya melalui Aplikasi Lazada, Shopee, Tokopedia, dan yang lainnya. Terlebih, ada promo besar-besaran di setiap tanggal kembar, misal setiap 8 Agustus menjadi promo 8.8, hal tersebut terjadi setiap bulan. 


Beragam keuntungan yang juga ditawarkan seperti voucher cashback atau voucher gratis ongkir serta adanya flash sale, membuat jiwa para konsumen rasanya semakin meronta-ronta ingin membeli produk tersebut. Padahal belum tentu benda tersebut benar-benar dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan hidupnya. Bahkan di tanggal kembar ini, kabarnya paket yang sampai ke tangan pihak ekspedisi sampai membludak karena banyaknya transaksi. Dari sini dapat kita lihat, beragam faktor mempengaruhi tingkat konsumerisme masyarakat.


Bukan hanya secara online, bahkan secara langsung pun perilaku konsumtif ini dapat dilihat. Misalnya pada promosi produk di mall atau pasar. Masyarakat akan semakin terdorong membeli suatu produk meskipun tidak benar-benar membutuhkannya. Selain itu alasan lain yang dirasa menjadi alasan seseorang membeli produk adalah karena tren. Tren yang sedang berlangsung di masyarakat juga sangat mempengaruhi minat dalam pembelian suatu produk. 


Seperti dapat kita lihat di tahun-tahun sebelumnya, ada tren mainan squishy yang dipopulerkan oleh para youtuber, karena itu beberapa kalangan pun turut membeli squishy. Ada juga tren make up korean look, para beauty enthusiast maupun penggemar K-wave berbondong-bondong membeli produk terkait, dan masih banyak lagi tren lainnya. Selain itu, minat atau rasa tertarik secara pribadi, dapat juga menjadi alasan seseorang membeli suatu produk. Misalnya karena packaging produknya bagus, karena rasa ingin mencoba suatu produk, dan sebagainya.


Dampak dari perilaku konsumtif antara lain; bergaya hidup boros, tidak adanya simpanan masa depan, adanya kecemburuan dan rasa iri terhadap orang lain, serta krisis jati diri karena meniru orang lain. Selain itu, perilaku ini juga meningkatkan produksi limbah di bumi dan mencemari lingkungan. Bagaimana tidak, mulai dari sampah packaging hingga polusi dari produksi dan proses pengantaran produk ke tangan konsumen.


Sebaiknya masyarakat mulai menyadari seluruh dampak konsumtif tersebut sebelum melakukannya. Perilaku konsumtif ini rasanya lebih banyak berdampak negatif dibanding positif.  Maka dari itu, mari menolak godaan perilaku ini. Sayangi bumi, sayangi dirimu, perubahan dimulai dari anda.


Senin, 12 Desember 2022

Enggan yang Ditemui

Enggan yang Ditemui

Ilustrasi (Dok. Internet/Pinterest)


Oleh: Naila Elief Avinda

Riuh duka terus terdengar

Air mata jadi sumber bingar

Pikiran jadi akar

nan menjalar keluar nalar

Menerima dengan rasa sukar


Banyak yang selesai sebelum usai

Banyak yang ditanam tapi belum dituai

Kamu, kita, sama merasakan

Memperdaya diri dari ketidakmampuan raga

yang dipaksa menerima 

dan terus menerima

dekat yang menjauhkan


Mata jadi senjata

ketika ketidaksempurnaan yang menyempurnakan tertutup rapat; senyuman

Kamu menanamkan ingatan

Aku menuai keasingan

‘Ini siapa, ya? Maaf.’


Semua menjadi anyar

Tapi tak dipandang menawan

Pun enggan kudambakan

Aku ingin ke masa yang bisa

Mendekapmu erat

tanpa dihalau sekat


Kini mulai menjalani hari baru

Yang bukan semestinya

Kehilangan masih jadi pemeran utama

menyelesaikan cerita yang tak seharusnya 


Minggu, 11 Desember 2022

Solo Art Market : Surga Para Pencinta Seni

Solo Art Market : Surga Para Pencinta Seni

 

(Suasana Solo Art Market 21 yang diadakan di Kauman/Dok. Mutiah Wulandari)


Lpmvisi.com, Solo – Solo Art Market (SAM) kembali digelar pada Minggu (11/12/2022) di Kampung Wisata Batik, Kauman, Solo. Event yang diikuti berbagai UMKM bidang seni ini diadakan setiap bulan. Pada bulan November ini sudah memasuki penyelenggaraan yang ke-21. Artinya, pihak Solo Art Market cukup konsisten dalam menyelenggarakan event yang memanjakan para pencinta seni ini.  SAM ke-21 kali ini diikuti oleh 60 UMKM, diantaranya OmahSeni by Kartika, Gayatri Aesthetic Candle, Malmil Craft, Tana Flora, Babe Beads, dan masih banyak lagi. 

Jenis produk yang terdapat di SAM 21 sangat beragam, mulai dari batik, hiasan interior rumah, perlengkapan makan dan dapur, kerajinan resin, serta aksesoris. Sedangkan, bentuk produknya antara lain, payung lukis, kemeja batik, kaos lukis, topi, hiasan resin, gelang, kalung, cincin, tote bag, tatakan piring, vas bunga kering, sendok beserta garpu dari kayu, boneka mini, dan lain-lain. Semua produk memiliki keunikan masing-masing. Setiap produk juga memiliki nilai seni yang beragam. Teknik pembuatannya pun bermacam-macam, ada yang dibuat dengan teknik rajut maupun lukis. Bahkan, ada yang menggabungkan teknik pengerjaan dengan mesin dan tangan seperti Malmil Craft yang menjual berbagai kerajinan dari bahan kayu.

“Dan kami mengerjakannya pake mesin kebetulan. Mesin CNC (Computer Numerical Control), mesin CNC itu kayak produk berjalan.” Ucap Wijaya, penjaga stand Malmil Craft

Dalam membuat kerajinan dari kayu ini, Wijaya menjelaskan bahwa pertama-tama pengrajin mendesain produk dalam bentuk tiga dimensi (3D) lalu diproses di  komputer dan mesin. Setelah itu, hasil kerajinan yang sudah dibuat menggunakan mesin baru dilakukan finishing secara manual (tangan).

(Contoh kerajinan yang ada di SAM 21/Dok. Mutiah Wulandari)

Pengunjung yang datang ke SAM 21 ini pun semakin banyak ketika menjelang siang pukul 12.00 WIB. Pengunjung datang dari berbagai kalangan, dari mulai anak muda hingga orang tua. Mereka bebas melihat-lihat kerajinan, membeli karya yang disukai atau sekadar mengambil foto untuk mengabadikan momen. Dafa, salah satu pengunjung SAM 21, menuturkan tujuannya datang ke SAM 21 adalah untuk melihat di event ini ada kerajinan apa saja yang kebetulan sempat masuk FYP (For Your Page) akun TikTok-nya. Menurut Dafa, SAM 21 ini merupakan event yang bagus. Melalui Solo Art Market para pengrajin bisa memperkenalkan produk-produknya. 


(Salah satu kerajinan yang ada di SAM 21/Dok. Mutiah Wulandari)

“Harapannya, sih, lebih apa ya, lebih meluas lagi atau kalau enggak tu karena di lingkungan kecil gitu, ya, kayak kurang banyak yang tau, karena jalannya kecil juga.” Tutur Dafa, ketika ditanya tentang harapan untuk SAM kedepannya oleh VISI pada Minggu (11/12/2022).

Secara keseluruhan, Dafa menyampaikan bahwa Solo Art Market ini menarik karena lokasinya juga sangat mendukung, yaitu di Kampung Batik, Kauman, Solo, yang tentunya nuansa seninya cukup kental. Hanya saja karena akses jalan lokasi kecil menjadikan space jalan kaki dengan tempat penjualan kerajinan cukup sempit. (Wulan)



Sabtu, 10 Desember 2022

The Lawu Park, Destinasi Liburan 3 in 1 Bersama Keluarga

The Lawu Park, Destinasi Liburan 3 in 1 Bersama Keluarga



(Sangat cocok berkunjung ke The Lawu Park bersama keluarga/Dok. Qisti)

Tawangmangu menyajikan berbagai destinasi wisata bernuansa alam yang cocok untuk dikunjungi, salah satunya yaitu The Lawu Park. Destinasi wisata ini terletak di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. The Lawu Park menawarkan berbagai wahana wisata, resto dan penginapan nyaman untuk kebutuhan liburan keluarga. 

Sepanjang perjalanan ke lokasi wisata yang terletak di kaki Gunung Lawu tersebut, pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan pegunungan, hamparan perkebunan serta jalanan yang berkelok. Sesampainya di The Lawu Park, kalian akan disambut dengan pepohonan pinus yang menjulang tinggi, dan tak jarang juga hamparan kabut turun dari Gunung Lawu yang menambah hawa dingin. 

The Lawu Park dibagi menjadi dua bagian, yaitu The Lawu Park 1 dan The Lawu Park 2. Kedua bagian ini tidak menjadi satu lokasi, melainkan bersebelahan dan dipisahkan oleh jalan raya.  Kalian akan menemukan penginapan dengan berbagai jenis bentuk dan harga yang bervariasi di The Lawu Park 1, seperti glamour camping (glamping), super glamping, cottage, dan tenda mini. 

(Tempat yang dapat digunakan menginap di The Lawu Park/Dok. Qisti)

Pengunjung juga dapat menikmati makanan dan minuman dengan harga terjangkau di resto The Lawu Park. Selain itu, terdapat juga taman mini yang dilengkapi dengan kolam yang bernama Sendang Drajat. Akses menuju kolam tersebut melewati sebuah jembatan merah dan Torii, yakni gerbang tradisional khas Jepang yang sering ditemukan di pintu masuk kuil. Uniknya lagi, terdapat miniatur Ka’bah yang menghiasi area The Lawu Park 1, tepatnya berlokasi di sebelah restoran. 

Sementara itu, The Lawu Park 2 merupakan bagian yang berupa area wisata, seperti area outbond, animal feeding, dan spot foto. Bagi kalian yang ingin merasakan suasana musim dingin, area snow park menawarkan sensasi salju buatan yang didukung dengan hawa dingin alami. Walaupun salju tersebut hanya berupa busa buatan, tetapi lantai yang berwarna putih khas warna salju serta ranting yang ditempeli kapas putih akan membawa kalian merasakan suasana musim dingin yang seakan-akan nyata seperti di luar negeri. Di dekat lokasi tersebut biasanya juga terdapat cosplayer robot yang bisa diajak foto oleh pengunjung.

Selain itu, kalian akan disuguhkan dengan berbagai spot wahana yang sekaligus cocok untuk lokasi berfoto, seperti jembatan gantung yang cukup panjang membentang dan menghubungkan beberapa rumah pohon, kreasi motor dari ban serta kereta kuda yang terbuat dari kayu. Terdapat juga spot kreasi Rumah Iglo, rumah khas Suku Eskimo yang berbentuk setengah lingkaran. Namun, bedanya di area tengah The Lawu Park 2 ini, Rumah Iglo yang berdiri hanya berupa rangkaian besi saja, tidak ditutupi dengan tembok putih seperti Rumah Iglo yang aslinya. 

Dekat dengan lokasi Rumah Iglo tersebut, terdapat area animal feeding, yakni Rabbit Arena dan Shaun the Sheep Arena. Bagi pengunjung yang ingin memberi makan kelinci maupun domba tersebut cukup mengeluarkan uang sebesar Rp5.000 per paket makanan. Disisi lain, jika kalian berjalan ke area atas The Lawu Park 2, kalian akan menemukan wahana flying fox dan wahana outbound. 

(Dok/ Qisti)

Tempat wisata yang berjarak 9 km dari wisata Air Terjun Grojogan Sewu ini juga menawarkan wahana adventure berupa berkeliling lokasi wisata menggunakan mini jeep, jeep, trail mini, kuda, dan ATV. Kendaraan tersebut bisa disewa mulai dari Rp20.000 hingga Rp275.000. The Lawu Park dapat menjadi salah satu destinasi wisata pilihan untuk berlibur praktis dan lengkap bersama keluarga. Bahkan, tanpa menginap pun, kalian dapat berswafoto di berbagai spot The Lawu Park 2 dengan cukup membayar Rp20.000. (Qisti)


Jumat, 09 Desember 2022

Meraih Asa di Ujung Masa

Meraih Asa di Ujung Masa

 

C:\Users\Arvin\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\Picsart_22-12-04_15-43-47-795.jpg

(Mbah Sri yang hidup sebatang kara/Dok. Nur Windy)

Hidup nyaman dan tenang di masa senja tentu merupakan impian sebagian besar orang. Tinggal dengan anak dan cucu, makan dan minum yang sesuai dengan standar kesehatan, serta menenangkan pikiran dari segala bisingnya dunia. Akan tetapi, realita kehidupan tidak melulu indah seperti kisah dongeng yang biasanya digunakan sebagai pengantar tidur. Dimana di semua cerita akan ada tokoh protagonis yang selalu mendapat happy ending. Realita dunia saat ini mungkin akan lebih cocok jika digambarkan dengan istilah “Bagaikan bumi dan langit” dimana semua hal tidak pernah berjalan dengan kesamaan, akan tetapi selalu berketerbalikan. Seperti jika ada putih, maka akan ada hitam. Jika ada orang kaya, maka akan ada orang yang kurang mampu. Jika ada orang yang beruntung, maka akan ada orang yang tidak beruntung. 

Perbedaan yang terjadi tentu berada pada segala aspek kehidupan, termasuk dalam aspek kesejahteraan dan ekonomi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kesejahteraan dan perekonomian merupakan aspek yang paling penting dalam menentukan maju atau tidaknya sebuah negara. Kesejahteraan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, dimana hal tersebut akan dapat tercapai oleh usaha yang dilakukan oleh setiap warga negara dan dibantu oleh pihak pemerintah. Sedangkan ekonomi adalah aspek utama dalam menunjang kehidupan masyarakat, dimana tidak sedikit orang yang sering merasa kelelahan hanya untuk memenuhi aspek yang satu ini. Akan tetapi dalam suatu keluarga, pemenuhan aspek kesejahteraan dan ekonomi biasanya merupakan tugas dari seorang kepala keluarga. Dimana anggota keluarga lainnya hanya akan mengisi beberapa bagian yang kosong saja. Lalu bagaimana jika dalam suatu keluarga hanya berisi satu orang saja? Terlebih satu orang tersebut merupakan seorang lansia wanita yang jangankan bekerja berat, untuk berjalan sejauh beberapa meter saja diperlukan usaha yang sangat luar biasa.

Fenomena tersebut terjadi pada seorang lansia wanita yang bertempat tinggal di salah satu pasar di Kota Surakarta, yaitu Pasar Gede. Lansia itu adalah Mbah Sri (86), Wanita yang kesehariannya berjualan minuman ringan ini sudah 3 tahun terakhir tinggal di pinggir jalan di dalam sebuah warung tenda seadanya tanpa seorang keluarga pun mendampingi. Walaupun hidup sebatang kara, hal itu tidak membuat Mbah Sri menyerah pada hidup. Masyarakat sekitar dan prinsip hidup yang kuat menjadi alasan Mbah Sri bertahan sampai saat ini. Banyaknya masyarakat sekitar yang membantu dalam aksesibilitas pemenuhan kebutuhan, membuat wanita yang pernah bekerja sebagai sopir bus ini sangat bersyukur. Masyarakat yang ringan tangan dan tidak pernah mencela adalah sebuah berkah yang selalu Mbah Sri syukuri. Akan tetapi, seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, tidak semua hal berjalan mulus sesuai keinginan. Tinggal di pinggir jalan seorang diri sama sekali tidak menjamin sebuah keamanan bagi seseorang, terlebih seorang wanita lanjut usia. Tidak jarang Mbah Sri kehilangan harta yang sudah ia kumpulkan dalam waktu yang cukup lama. Kasus kriminalitas yang dilakukan oleh orang tidak bertanggung jawab ini tentu sangat melukai hati Mbah Sri, akan tetapi berkat bantuan masyarakat sekitar, pelaku berhasil ditangkap dan uang yang dicuri pun berhasil dikembalikan. Walaupun demikian, kejadian semacam itu tentu memberikan dampak psikis tersendiri bagi Mbah Sri.

Keterbatasan yang dimiliki membuat Mbah Sri harus berjuang lebih keras untuk bertahan hidup. Selain karena usianya yang sudah tidak lagi muda, kesehatan fisik juga sangat mempengaruhi perjuangan Mbah Sri. Dimana tangan sebelah kanan milik wanita dengan rambut yang sudah beruban itu tidak bisa digerakkan. Sehingga ia terpaksa melakukan berbagai aktivitas hanya dengan menggunakan satu tangan, mulai dari berdagang sampai dengan melakukan aktivitas lainnya. Tentu bukan hal yang mudah untuk bertahan dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut. 

Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya, apa alasan Mbah Sri tinggal seorang diri tanpa ada satupun keluarga? Bagaimana bisa ia tetap bekerja di usianya yang sudah tidak lagi muda? Kenapa hidupnya seakan terlantar? Dimana peran pemerintah dalam menangani kasus seperti ini?. “Nggak mau merepotkan anak,” jawab Mbah Sri ketika ditanya mengapa tidak tinggal bersama keluarganya. Alasan klasik yang diucapkan oleh banyak lansia, akan tetapi keberadaannya merupakan masalah sosial yang marak terjadi di kalangan masyarakat. Stereotype “Tidak mau merepotkan anak” seakan menjadi boomerang dalam sebuah ikatan keluarga. Sebab dalam permasalahan ini yang menjadi pemeran utama adalah lansia itu sendiri. Prinsip yang terlalu kukuh dan ketidakmampuan kaum yang lebih muda untuk membelokkan pendapat, menimbulkan adanya fenomena sosial seperti ini terhadap lansia. Dalam situasi ini, peran pemerintah merupakan hal yang dibutuhkan. “Mereka sudah nawarin tapi saya nggak mau,” papar Mbah Sri ketika ditanya apakah sudah ada tindakan yang diambil oleh pemerintah. Keterangan tersebut menandakan bahwa pemerintah pun sudah tahu dan sudah memberikan tindakan atas keadaan yang dialami oleh Mbah Sri. Akan tetapi dengan segala usaha yang telah dilakukan oleh pihak keluarga dan juga pemerintah, walaupun mendapat penolakan dari lansia itu sendiri, bukan berarti usaha bisa berhenti di titik itu saja. Banyak upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan sosial pada lansia terlantar seperti ini. Bisa dengan pendekatan secara langsung atau melalui sisi emosional, dimana pihak keluarga juga disarankan untuk bekerja sama dengan pihak pemerintah menjadi satu kelompok yang saling memenuhi tanggung jawab masing-masing. 

Permasalahan sosial seperti kesejahteraan dan ekonomi pasti akan selalu ada walaupun zaman sudah jauh lebih berkembang. Anak-anak, wanita, dan lansia merupakan golongan yang paling sering mengalaminya. Penyebab yang melatarbelakanginya pun beragam mulai dari faktor kemiskinan sampai pada faktor kepribadian masyarakat itu sendiri. Penanganan masalah sosial tidak hanya dilakukan oleh anggota keluarga terkait saja, masyarakat dan pemerintah pun juga mendapat andil dalam fenomena sosial ini. Kepedulian dan aksi sosial adalah hal yang penting untuk dilakukan masyarakat. (Nur Windy R.)


Menutup Tahun 2022 dengan Gemerlap di Balai Kota Solo

Menutup Tahun 2022 dengan Gemerlap di Balai Kota Solo


Ilustrasi (Dok. Internet/Pinterest)


Ada banyak cara untuk menghabiskan waktu di penghujung tahun 2022 ini. Beberapa orang memutuskan untuk berkumpul dengan keluarga, entah itu untuk liburan, sekadar bercengkrama, ataupun memakan makanan khas akhir tahun dan natal. Beberapa lainnya memutuskan untuk menetap di kota perantauan dan menghabiskan waktu akhir tahun sendirian. Namun, tak bisa terelakkan juga jika bulan Desember selain menunjukkan ke-khas-an bulan akhir tahun juga menjadi penanda dekatnya masa natal. 

Kota Solo tahun tampil beda dalam merayakan natal tahun ini. Beberapa hari lalu tepatnya tanggal 29 November, pohon natal mengiringi jalan mulai dari daerah jenderal sudirman sampai balaikota. Di balai kota sendiri juga tak mau kalah gemerlap. Dengan ornamen natal dan berbagai lampu kelap kelip, Balai Kota Solo terlihat lebih meriah dan ramai. Bersiap menyambut natal tahun ini

Tak hanya ketika malam saja, namun sejak sore sudah banyak pengunjung yang datang ke balai kota, bersiap menyambut gemerlap lampu di malam hari. Saking ramainya Balai Kota Solo, Presiden Indonesia, Jokowi, sampai harus mengalami macet dalam kunjungannya ke Solo. Walau begitu, melihat antusias dari warga dapat terlihat tingginya tingkat toleransi di Kota Solo.

Para pemilik usaha kecil menengah pun tak perlu risau. Karena Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa para UKM bisa dengan mudah mendaftarkan diri menjadi panitia untuk bergabung di tengah keramaian balaikota sambil berjualan. 

Selain itu, beliau dengan tegas mengatakan bahwa balaikota adalah public space yang dapat digunakan untuk siapa saja. Wali Kota Solo tersebut juga mengatakan bahwa Balai Kota Solo bisa digunakan untuk event apapun dan tidak khusus untuk acara keagamaan saja. Masyarakat dibebaskan berfoto-foto atau sekedar datang dan meramaikan balaikota.

Dengan antusias yang tinggi, masyarakat tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Khususnya bagi kalangan remaja, sempat trending ‘balai kota date’ balai kota date sendiri mengandung maksud pergi jalan-jalan ke balai kota bersama dengan pasangan masing-masing. 

Melalui akun Twitter @UNSfess_ beberapa pengguna Twitter sempat mengirimkan menfess ajakan untuk balaikota date bersama-sama. Balai kota date ini dengan cepat menjadi tren di kalangan remaja Solo, mengingat sepertinya akan lebih menyenangkan untuk menghabiskan waktu bersama dengan orang terdekat. Bisa juga dijadikan ajang untuk mencari kenalan baru.

Akhir kata, entah apa yang mungkin masing-masing dari kita lalui sepanjang 2022 ini, mungkin banyak baiknya atau banyak buruknya, hanya kita sendiri yang tahu dan merasakan. Namun, seperti lembaran buku yang sudah sampai di bagian akhir, tahun 2022 boleh ditutup dengan perasaan senang ataupun lega. Berkumpul dengan orang-orang terkasih ataupun menikmati waktu sendiri untuk merenung. Bersiap untuk membuka lembaran baru di tahun 2023. (Tiurma Shirley)