Senin, 26 Februari 2024

 Himakom FISIP UNS Siap Sambut Era Baru

Himakom FISIP UNS Siap Sambut Era Baru

 

  

(Sejumlah mahasiswa pengurus Himakom setelah resmi dilantik di ruang seminar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret pada Minggu (25/2)/Dok. Himakom UNS/Panitia)

    Lpmvisi.com, Solo — Organisasi Himakom (Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi) Universitas Sebelas Maret telah resmi memasuki babak baru setelah pemilihan ketua yang dilaksanakan pada beberapa waktu yang lalu dimenangkan oleh Naufal Sayidina (19). Pada hari Minggu (25/2), Naufal secara langsung memimpin sumpah jabatan yang diikuti oleh para pengurus baru. Ia bersamaan dengan 75 mahasiswa Ilmu Komunikasi lainnya resmi menyandang gelar sebagai ketua dan pengurus Himakom periode 2024/2025.


    Pelantikan Naufal sebagai ketua Himakom sendiri sebenarnya telah dilakukan tiga hari pasca pengumuman kandidat terpilih melalui pemilu yang telah dilaksanakan pada Selasa (30/12/2023) lalu. Pelantikan tersebut diselenggarakan melalui media online berupa Zoom yang dihadiri oleh seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS.


    Naufal mengungkapkan alasannya mencalonkan diri sebagai ketua, yaitu sebagai bentuk balas budi terhadap berbagai macam kesempatan yang telah ia dapatkan melalui keanggotaannya di Himakom. “Ini merupakan cara saya untuk memberi feedback terhadap Himakom," ungkapnya pada Minggu (25/2).


    Kampanye berlangsung selama dua minggu pada Desember lalu dengan dibantu oleh tim sukses yang telah dibentuk. Strategi yang digunakan ialah dengan publikasi melalui cerita WhatsApp ataupun sorotan Instagram. Naufal mengaku bahwa ia tidak mengalami kendala selama masa kampanye karena memiliki timses yang kooperatif dan koordinatif.


    Persiapan kegiatan pelantikan memakan waktu dua hingga tiga minggu. Selama proses tersebut, kendala yang dihadapi cukup banyak. Salah satunya ialah tamu undangan yang tidak memberikan respon hingga acara dimulai. Namun, pihak Himakom dapat mengatasi masalah tersebut dengan mencari perwakilan yang lain. 


    Harapan Naufal untuk Himakom dalam periode kepemimpinannya adalah pengembangan program kerja yang lebih baik dari periode sebelumnya. Selain itu, ia juga mengapresiasi antusiasme yang ditunjukan anggota baru Himakom terkait program kerja yang telah dibebankan. Acara ini menjadi batu pijakan bagi mereka dalam menjalankan tanggung jawab serta tugas-tugas untuk kedepannya. (Dhaniska, Syeikha)



Minggu, 17 Desember 2023

Realitas Kota Ramah Anak: Keseharian Anak Berkebutuhan Khusus di PLDPI Kecamatan Jebres

Realitas Kota Ramah Anak: Keseharian Anak Berkebutuhan Khusus di PLDPI Kecamatan Jebres

    

(PLDPI sebagai salah satu upaya pemerintah terhadap ABK yang termarginalisasi/Dok. Kelompok 5 Sosiologi Perkotaan 21 B)


Pendidikan merupakan kegiatan universal di dalam kehidupan manusia sebagai salah satu upaya untuk mengembangkan potensi, bakat, dan kualitas diri. Berdasarkan pembagiannya, pendidikan sendiri dibagi menjadi dua, yaitu pendidikan formal dan pendidikan non-formal. Salah satu cara untuk mengupayakan agar pendidikan dapat merangkul setiap jenis lapisan masyarakat, yaitu dengan cara digunakannya model pelayanan inklusif atau inclusive development - inclusive society di berbagai layanan pendidikan. Namun, pada kenyataannya penerapan dari model pelayanan inklusif masih belum sepenuhnya terealisasikan, terutama di sekolah-sekolah umum. 


        Penerapan dari model pelayanan inklusif yang masih belum  terealisasikan secara penuh sejalan dengan keterangan dari narasumber (P), sebagai orang tua dari anak yang memiliki ASD dan sedang menempuh pendidikan PAUD:


“[...] ketahuan kalau ternyata anak saya itu ASD [...] sebenernya bisa dibilang iya bisa dibilang nggak sih. Dulu tuh pas di PAUD umum sempet dirundung kali ya bahasanya karena mungkin teman-temannya ngeliat kalo anak saya kok beda gitu dari mereka.”


Anak dari narasumber (P), ketika sedang menempuh pendidikan PAUD telah mendapatkan pengalaman diskriminatif dari teman-temannya hanya karena dirinya berbeda. Teman-teman di sekolahnya  merasa bahwa perbedaan yang dimiliki oleh anak dari narasumber (P) merupakan sebuah ketidaknormalan. Hal tersebut menyebabkan anak dari narasumber (P) lebih rawan untuk dijadikan sebagai sasaran perundungan. Perundungan pada akhirnya mengakibatkan adanya perasaan teralienasi yang mengakibatkan korbannya menjadi terisolasi. 

Dengan demikian, marginalisasi terhadap ABK di lingkungan sekolah masih dapat ditemui. Marginalisasi biasanya ditemukan dalam bentuk subordinasi dari kelompok dominan. Salah penyebab dari marginalisasi adalah stereotip negatif yang berkembang di masyarakat. Hal ini sesuai dengan data yang ditemukan, yaitu anak dari narasumber mengalami subordinasi dan diskriminasi akibat dari kurangnya pemahaman anak-anak ataupun orang tua terhadap ABK, sehingga dalam praktik kehidupan bersosial, mereka masih terjebak dengan cara berpikir dikotomis seperti “normal” dan “tidak normal”.

Dalam lingkungan masyarakat, semua elemen masyarakat atau organisme sosial memiliki fungsi yang mempertahankan stabilitas dan kekompakan dari organisme. Dengan kata lain, manusia saling bergantung satu dengan yang lainnya untuk menjaga keutuhan masyarakat. Begitu pula dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Tentunya, mereka ingin ikut terlibat dalam dunia disekitarnya dan ingin mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya. 


Adanya pemahaman dan kesadaran yang minim ini mengakibatkan perlakuan yang tidak sesuai dan kurangnya dukungan yang diperlukan.

 

“Mungkin kalau di masyarakat luas, seperti kalo saya ajak ke mall kan mungkin banyak orang yang belum tau jadi mereka ngeliatin terus dengan memandang aneh atau sinis gitu. Awalnya sih jengkel tapi saya tegur dan jelaskan saja. Kalo di lingkungan sekitar rumah, paling lebih ke tetangga-tetangga memandang aneh aja karna mereka kan belum pernah atau mungkin belum terbiasa melihat anak saya yang berbeda gitu.”


Dalam hal ini, anak-anak berkebutuhan khusus realitanya masih menghadapi beberapa tantangan dalam mengintegrasikan diri di lingkungan masyarakat, baik lingkungan rumah maupun pada masyarakat luas. Masyarakat mungkin tidak sepenuhnya paham akan kebutuhan dan keistimewaan dari anak-anak ini sehingga masih memandang ABK dengan tatapan yang kurang baik atau sebelah mata. Keberadaan stigma sosial dan cultural beliefs yang masih melekat kuat di lingkungan sosial juga membuat orang tua memutuskan untuk tidak menyekolahkan anaknya dan memutuskan untuk menjaga anaknya di rumah.

Sadar ataupun tidak, kondisi yang berbeda yang melekat pada diri ABK kerap menjadi stimulus yang memancing respons yang kurang bersahabat bagi proses perkembangan diri anak berkebutuhan khusus. Pengalaman ABK terkait sikap resistensi lingkungan terhadap mereka, seperti marginalisasi serta penolakan-penolakan yang disadari atau tidak bagi pelakunya akan berdampak pada ketidakmampuan ABK untuk menerima dirinya. 

Dampak dari marginalisasi ini beragam, tergantung pada jenis dan bentuk marjinal yang terjadi pada korban marginalisasi itu sendiri. Adapun contoh dari dampak marginalisasi terhadap anak berkebutuhan khusus ini yaitu, adanya penurunan kualitas hidup seperti menurunnya rasa percaya diri, kaum yang termarjinalkan tersebut akan merasa terintimidasi, masyarakat atau kelompok yang terpinggirkan merasa haknya di masyarakat telah dirampas dan tidak terpenuhi, kelompok yang termarginalkan merasa dirinya mendapatkan pembedaan dalam berbagai hal di masyarakat dan mendapatkan ketidakadilan. Hal ini sejalan dengan yang dipaparkan oleh informan dengan inisial (P) sebagai orang tua ABK yang terapi di PLDPI, dimana pada pernyataan beliau anaknya yang memiliki kebutuhan khusus tersebut mengalami marginalisasi oleh lingkungannya. 


“Sejauh ini kalo di lingkungan sekitar rumah ya khususnya, tiap anak saya mau main keluar gitu sama temen-temennya pada nolak gitu pada gamau. Makanya dia lebih nyaman kalo main sama yang lebih tua gitu, kayak mbah-mbah depan rumah.”


Anak berkebutuhan khusus seringkali mengalami diskriminasi dan marginalisasi di masyarakat. Namun, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu mereka. Beberapa cara untuk membantu mereka melewati marginalisasi dengan  memberikan pengertian kepada setiap orang bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan anak spesial, yang mana dirawat dengan penuh kasih sayang lebih dari keluarga. Anak berkebutuhan khusus yang termarginalisasi hanya perlu penyesuaian di masyarakat, karena terdapat harapan orang tua yang menginginkan anaknya dapat bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. 

Dukungan juga merupakan upaya bagi anak berkebutuhan untuk terus semangat dalam menjalani hari-hari. Dukungan dan penerimaan dari setiap anggota keluarga akan memberikan “energi’’ dan kepercayaan dalam diri anak dan remaja yang berkebutuhan khusus untuk lebih berusaha meningkatkan setiap kemampuan yang dimiliki, sehingga hal ini akan membantunya untuk dapat hidup mandiri, lepas dari ketergantungan pada bantuan orang lain. 

Selain dari pihak keluarga, dukungan pemerintah dirasa penting bagi anak berkebutuhan khusus karena dapat membantu mereka mendapatkan hak yang sama dengan anak normal lainnya. Pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai anak berkebutuhan khusus, seperti menerbitkan peraturan perundang-undangan mengenai hak-hak anak berkebutuhan khusus dan memperkenalkan program inklusivitas di berbagai sekolah di seluruh negeri. Selain itu, ada pula Peraturan Perundang-undangan mengenai Anak Berkebutuhan Khusus sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Pasal 54 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pasal ini menyatakan bahwa setiap anak yang cacat fisik dan atau mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk menjamin kehidupannya sesuai dengan martabat kemanusiaan.


Pelayanan yang diberikan pemerintah dalam bentuk sekolah inklusi, merupakan bentuk upaya pemenuhan hak anak-anak berkebutuhan khusus. Adapun berdirinya Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (PLDPI). Pusat ini dibentuk berdasarkan peraturan Gubernur nomor 0101 tanggal 21 Desember 2018, dahulunya bernama Pusat Layanan Autis (PLA). PLDPI bertujuan untuk memberikan pelayanan pada anak-anak penyandang disabilitas, termasuk anak berkebutuhan khusus, dalam menuju pendidikan inklusi. Untuk kota Surakarta, PLDPI berada di Kecamatan Jebres,  pusat pelayanan ini menyediakan pelayanan konsultasi, pelayanan assessment, pelayanan intervensi terpadu (pelayanan intervensi keterapian terpadu: terapi okupasi, fisioterapi, terapi wicara, terapi perilaku dan pelayanan intervensi medis) dan layanan pendidikan. 


“Untuk pelayanan assesment di sini tidak melihat latar belakang apapun, baik anak tersebut sudah sekolah maupun belum, baik dari golongan mampu ataupun tidak, baik anak ini berasal dari Kota Solo ataupun luar Solo. Kita tidak membedakan dari segi ekonomi atau pendidikan. Dan semuanya dibiayai oleh pemerintah, jadi masyarakat disini gratis. Terkait pelayanan intervensi terpadu juga dibiayai oleh pemerintah. “


Pernyataan dari salah satu staf PLDPI Kota Surakarta tersebut menunjukan bahwa anak berkebutuhan khusus di kota ini dan sudah diberikan opsi untuk mendapat akses pendidikan dan bimbingan. Dengan 264 anak penyandang disabilitas yang mendapat pelayanan saat ini, diharapkan mereka dapat terpenuhi haknya dan terhindar dari segala bentuk marginalisasi di masyarakat. Dukungan orangtua hingga bantuan yang disediakan pemerintah diperlukan anak berkebutuhan khusus untuk membantu mereka secara moral dan materi. (Dian Ayu Puspasari, Jennifer Aisha, Nabila Mahadewi, Nafisa Sausan Fadhila, Ryan Putra Saladenta)

Anak Berkebutuhan Khusus di Kecamatan Pasar Kliwon Solo dan Persepsi Masyarakat

Anak Berkebutuhan Khusus di Kecamatan Pasar Kliwon Solo dan Persepsi Masyarakat

Kecamatan Pasar Kliwon berdasarkan data Surakarta Dalam Angka 2022 yang dilansir Badan Pusat Statistik, Pasar Kliwon merupakan kecamatan paling padat penduduk di Kota Solo. Padatnya penduduk ini membuat Kecamatan Pasar Kliwon memiliki banyak perhatian termasuk penduduk berkebutuhan khusus di dalamnya. Jumlah penduduk berkebutuhan khusus di Kecamatan Pasar Kliwon berdasarkan data Dinas Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta berjumlah 284 jiwa. Dimana jumlah tersebut termasuk anak berkebutuhan khusus yang berada di Sekolah Luar Biasa seperti Sekolah Luar Biasa Autis Harmony. SLB ini menjadi salah satu sarana pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dengan tipe berkebutuhan khusus kognitif. Keberadaan mereka di suatu lingkup masyarakat tentu tidak terlepas dari beragam masalah sosial salah satunya marginalisasi. Keadaan marginalisasi yang dialami anak berkebutuhan khusus di SLB Harmony dibagi menjadi dua bagian, yaitu di lingkungan sekolah dan lingkungan rumah.

Di sekolah luar biasa, penghilangan marginalisasi menjadi landasan utama dalam menciptakan lingkungan inklusif yang mendukung perkembangan setiap individu. Staf pengajar dan tenaga pendukung di sekolah tersebut menerapkan pendekatan yang memahami keberagaman siswa. Mereka memberikan perhatian khusus kepada kebutuhan setiap siswa, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau kondisi fisiknya. Dengan demikian, semua siswa merasa dihargai dan diterima tanpa adanya batasan yang dapat menciptakan perasaan marginalisasi.

Dalam lingkungan rumah anak berkebutuhan khusus masih terdapat marginalisasi yang dialami oleh ABK maupun orang tua ABK. Marginalisasi anak berkebutuhan khusus di lingkungan rumah mereka menjadi tantangan serius yang mempengaruhi perkembangan dan kesejahteraan mereka. Salah satu bentuk marginalisasi yang umum terjadi adalah kurangnya pemahaman dan kesadaran lingkungan rumah terhadap kebutuhan khusus mereka. Pemahaman yang minim terhadap kondisi kesehatan atau perkembangan anak dapat mengakibatkan perlakuan tidak sesuai dan kurangnya dukungan yang diperlukan.

(Wawancara dengan narasumber di SLB Harmony/Dok. Kelompok 1 Sosiologi Perkotaan 21 B)

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya marginalisasi yang dialami anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Pasar Kliwon Solo. Faktor pertama penyebab terjadinya marginalisasi oleh karena adanya stereotip yang sudah ada dan berkembang di masyarakat itu sendiri. Masyarakat memiliki pemikiran negatif terhadap anak berkebutuhan khusus seperti mengganggu lingkungan atau tidak bisa bersatu dengan orang normal lain, sehingga secara tidak langsung meminggirkan ABK. Alasan yang kedua adalah karena faktor kurangnya sosialisasi mengenai anak berkebutuhan khusus kepada masyarakat yang menyebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang keadaan yang dimiliki oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Sosialisasi yang kurang mengenai cara berinteraksi, memberikan dukungan, atau bahkan memahami kondisi-kondisi khusus yang dimiliki anak berkebutuhan khusus bisa mengakibatkan ketidakpedulian atau penolakan dari masyarakat

Masyarakat di sekitar SLB Harmony di Kecamatan Pasar Kliwon Solo beranggapan dan memandang anak-anak berkebutuhan khusus selayaknya anak kecil pada umumnya yang memiliki perilaku nakal. Masyarakat cenderung kurang berinteraksi dan bahkan mengisolasi anak-anak berkebutuhan khusus. Hal tersebut terjadi akibat dari minimnya pemahaman, pengetahuan, serta kesadaran dari masyarakat tentang kondisi yang dimiliki oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Sehingga, marginalisasi dialami oleh anak-anak SLB Harmony pada awal berdirinya sekolahan tersebut yang mana juga terdapat kekurangan dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar sebelum mendirikan sekolahan tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, dan dengan adanya upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah untuk melakukan sosialisasi dan komunikasi dengan warga sekitar, warga mulai dapat memahami kondisi yang dimiliki oleh siswa SLB, dan marginalisasi terhadap SLB Harmony terus berkurang hingga sekarang ini.  (Adelia Rossa Putri Maharani, Alfin Satria Kristianto, Dara Amarlia Karismaningrum, Hanafi Yusron, Mustika Ayu Dika)

Marginalisasi Anak Berkebutuhan Khusus di Solo

Marginalisasi Anak Berkebutuhan Khusus di Solo

(Ilustrasi/ Dok. GTK Dikmendiksus Kemdikbud)


    
Anak berkebutuhan khusus di Kota Solo menghadapi berbagai tantangan dalam mengakses pendidikan, perawatan kesehatan, dan dukungan sosial dengan berbagai bentuk marginalisasi terhadap anak berkebutuhan khusus yang seharusnya tidak dilakukan dan dinormalisasikan. Penting bagi pemerintah serta masyarakat bekerja sama guna mengurangi marginalisasi anak berkebutuhan khusus di Kota Solo. Apalagi Kota Solo dijuluki sebagai Kota Layak Anak. Maka, dibutuhkan peran dari pihak Pemerintah dan LSM untuk bekerja sama dalam menghadapi persoalan anak berkebutuhan khusus lewat kebijakan dan programnya.

    Langkah yang diberikan Dinas Sosial secara rutin yaitu seminar edukasi di lingkungan pendidikan mulai dari pendidikan usia dini mengenai apa, bentuk, akibat, sanksi hukum dan pencegahan tindakan bullying . Selain itu terdapat program rutin setiap bulannya salah satunya permakanan disabilitas untuk pertumbuhan gizi anak berkebutuhan khusus. Lalu DP3AP2KB Kota Solo juga berperan dalam memberdayakan anak bersama dengan FAS (Forum Anak Surakarta) untuk mencegah marginalisasi anak berkebutuhan khusus.  Mereka juga mengadakan pentas seni dan program pusat pembelajaran keluarga untuk memberikan pengajaran terhadap pola asuh anak berkebutuhan khusus. Dinas Pendidikan Kota Solo turut berpartisipasi dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas. Pada Peraturan Walikota Kota Surakarta No 25-A Tahun 2014 tentang penyelenggaraan pendidikan inklusi menaungi PAUD, TK, SD, dan SMP. Sekolah inklusi Kota Surakarta terdiri dari 32 PAUD, 19 SD, dan 10 SMP. 

Dinas Pendidikan Kota Surakarta juga menjalankan tugas sesuai Peraturan Walikota, dimana perlu asesmen bagi anak berkebutuhan khusus apabila ingin menuju sekolah inklusi. Peran Dinas Pendidikan juga memonitoring sekolah inklusi dan SLB. Dinas Pendidikan bersama PLDPI pun memfasilitasi pengajaran guru pendamping khusus yang akan dipekerjakan di sekolah inklusi negeri maupun swasta.  Terdapat total 167 GPK dimana 62 mendampingi di PAUD, 91 di SD, dan 14 di SMP. PLDPI sendiri berkaitan dengan teknis operasional dan penunjang serta urusan pemerintahan yang bersifat pelaksanaan di wilayah kerjanya dalam memberikan layanan anak penyandang disabilitas guna mendukung pendidikan inklusif usia dini, pendidikan dasar, dan non formal oleh Kepala Dinas Pendidikan. 

Adapun LSM PPRBM yang bergerak pada rehabilitas penyandang difabel yang bersumberdaya masyarakat. Dalam pelaksanaannya PPRBM bersama Dinas Pendidikan berupaya meningkatkan kualitas SDM guru pendamping khusus. Dalam pelaksanaanya PPRBM juga mengajak Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Children Empowerment Resource Center (CERC) untuk peningkatan kompetensi dengan menghadirkan tenaga pendidik dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus.

Dari berbagai program yang dicanangkan oleh pemerintah dalam penanganan anak berkebutuhan khusus, ternyata kurang sesuai dengan kondisi senyatanya. Terdapat pula ketidaksesuaian terhadap program yang dicanangkan pemerintah untuk tidak membedakan anak berkebutuhan khusus. Hal ini dilihat dari adanya pihak pemerintah yaitu dinas yang bekerja tidak sesuai hingga tidak dapat dipercaya oleh masyarakat. Selain itu, program dinilai tidak maksimal dan kurang sosialisasi. Selain itu LSM PPRBM dirasa kurang mengakomodasi kebutuhan penyandang difabel karena jangkauan yang kurang efektif karena dalam melakukan program kurang dinamis. Hal itu dikarenakan program hanya bersama dengan Dinas Pendidikan lewat program peningkatan kualitas guru pendamping khusus yang bekerja sama dengan Jepang. 

Bentuk marginalisasi juga masih sering ditemukan di sekolah sendiri, yang seharusnya menjadi tempat belajar justru terjadi marginalisasi. Salah satunya yaitu ketika anak berkebutuhan khusus mengalami keterlambatan dalam belajar, guru tersebut mengatakan dia ini anak bodoh dan menunjukkan jari kepada anak tersebut di ruang publik yang menjadi bentuk marginalisasi guru terhadap anak berkebutuhan khusus. Selain itu, orang tua dalam mendidik dinilai kurang sabar maka anak berkebutuhan khusus dipukul oleh orang tuanya. Ditambah lagi, masih ada marginalisasi di lingkungan sekitar, misalnya anak berkebutuhan khusus keluar rumah temannya justru mengejek, menjauhi, hingga kekerasan fisik karena dianggap berbeda dengan lainnya. Pada kasus lain, anak berkebutuhan khusus yang berada di tempat umum dipandang dengan kesan mengintimidasi oleh sekitarnya dan ditolak lingkungannya. (Ardhini Oktavianingtyas, Indyra Bernice Azhary, Maestu Kunma Kukuh, Tatiana Pramudya R, Wahyu Tri Utomo)

Selasa, 21 November 2023

Jejak Masa Lampau di kota Surakarta

Jejak Masa Lampau di kota Surakarta

(Sudut antik di pojok Pasar Triwindu/Dok. Ayesa)


Lpmvisi.com, Solo – Menjelajahi kota Surakarta dengan sejuta kekayaan budaya di dalamnya, tak akan lengkap rasanya jika tak menyambangi salah satu tempat yang menyimpan ratusan ‘mesin waktu’ dengan beragam kisah di dalamnya. Triwindu, sebuah pasar yang menyediakan berbagai macam koleksi barang antik yang  beragam, mulai dari guci antik, piring antik, lampu antik, topeng, hingga uang logam antik  yang digunakan pada tahun 1800-an. Pasar Triwindu terletak di pusat kota Surakarta, tidak jauh dari Pura Mangkunegaran, di daerah Ngarsopuro. Pasar ini berhubungan erat dengan Mangkunegaran, sebab Pasar Triwindu dibangun pada saat jumenengan atau  peringatan kenaikan tahta Mangkunegara VII di tahun 1939. Hingga saat ini, Pasar Triwindu masih menjadi destinasi favorit para kolektor barang antik bahkan wisatawan mancanegara  yang tengah berkunjung ke kota Surakarta. 

Selain menjadi daya tarik wisatawan karena banyaknya spot yang bisa dijadikan tempat berfoto, di Pasar Triwindu terdapat banyak pedagang yang memperjualbelikan barang antik yang  beragam jenisnya, mulai dari bahan, ukuran, tahun pembuatan, hingga asal barang antik itu  sendiri. Salah satu dari banyaknya pedagang di Pasar Triwindu adalah Karjo, yang  memulai petualangan di dunia bisnis pada tahun 1998 dengan menjual spare part kendaraan  motor kemudian menjual barang-barang antik hingga saat ini yang didasarkan pada besarnya minatnya terhadap penemuan barang antik. 

“Hobi dulu seneng nglumpuk-nglumpuke, nilai ekonomisnya ada, nuwun sewu dari barang bekas kita bikin bagus terus laku dijual,” ujar Karjo saat menceritakan awal mula ia menjual barang-barang antik.


Pada tahun 2008, di mana kota Surakarta saat itu dipimpin oleh Joko Widodo, Pasar Triwindu mengalami renovasi, sehingga aktivitas jual beli dialihkan ke daerah Sriwedari sebagai pasar  darurat, dan kembali lagi pada tahun 2011. Sehingga untuk sentra spare part kendaraan  bermotor dipindahkan ke daerah Notoharjo, yang kemudian membuat Pasar Triwindu  dikhususkan untuk perdagangan barang-barang antik. 

Menurut Karjo, terdapat tiga kategori barang antik jika dilihat dari bahan pembuatannya. Pertama, barang antik asli yang tidak mengalami modifikasi sedikitpun saat diperjualbelikan, kedua adalah barang repro material lama dimana barang tersebut menggunakan material lama,  seperti barang bekas dan dibuat persis seperti barang aslinya. Terakhir adalah barang repro  material baru, sesuai dengan namanya barang antik ini dibuat menggunakan material baru. 

Pengunjung Pasar Triwindu berasal dari berbagai macam kalangan, mulai dari pengunjung yang hanya ingin berkunjung dan mengabadikan momen hingga penggiat barang antik yang  biasanya sekaligus menjadi kolektor. Sehingga beragam pula jenis barang antik yang mereka  cari di Pasar Triwindu. Seperti orang-orang yang ingin mendekorasi rumah atau bangunan  usaha mereka dengan gaya tempo dulu biasanya mencari barang yang memiliki nilai estetika tinggi demi tujuan keindahan ruang. Berlainan dengan kolektor barang antik yang mencari  barang bernilai historis dan budaya yang tinggi sehingga memiliki keunikan tersendiri dan  tidak dapat ditemukan secara bebas di jejaring pasar daring. Terlebih lagi, jika barang antik  tersebut adalah barang orisinil, maka akan memiliki nilai ekonomis yang tinggi apabila ingin dijual kembali pada masa yang akan datang. Para penikmat barang antik biasanya mencari barang peninggalan kolonial yang memiliki kualitas tinggi dan mampu mempertahankan bentuknya tak lekang oleh waktu, juga disertai oleh perawatan dan penanganan barang yang  tepat. 

Dalam membeli suatu barang misalnya, lampu gantung ukiran, penikmat barang antik tidak  ingin jika barang repro karena mereka meyakini bahwa setiap motif dari suatu ukiran memiliki  makna tertentu. Motif dengan ukiran seperti angsa atau bangau sering dicari penggiat barang  antik karena menunjukkan kasta derajat seseorang. Untuk orang Jawa sendiri, memilih motif  bunga atau oriental dari Semarang sampai Banyuwangi. Bagi orang-orang yang bekerja untuk  kolonial, motif singa sering dicari karena menunjukkan kegagahan. Ada pula motif kapal yang  berhubungan dengan air sebagai sumber kehidupan, banyak dimiliki oleh pedagang atau  saudagar. Selain lampu gantung, pistol juga sering dicari, seperti pistol yang berasal dari Kerajaan  Mangkunegaran dan Kasunanan pada zaman Pakubuwono X. Namun, barang tersebut tidak  diperjualbelikan secara umum terlebih di pasar Triwindu. 

Mengoleksi barang antik tentu tidak mudah, maka dari itu cara merawatnya perlu  diperhatikan. Pertama-tama barang antik dapat dibersihkan menggunakan cairan pembersih.  Setelahnya dapat dilengkapi apabila terdapat bagian yang rusak dan siap untuk dipajang. 

Dalam merawat juga dapat disesuaikan oleh permintaan atau peminat. Seperti untuk interior cafe harus dilakukan penyempurnaan. Jika pembeli itu ibu-ibu cenderung suka barang yang  cantik sehingga direstorasi dengan dicat ulang. Sedangkan bapak-bapak mintanya barang yang  otentik, tak perlu direstorasi. Para penikmat juga menganggap nilai otentiknya hilang jika dibersihkan. 

Cara seseorang dalam melakukan jual beli memang beragam. Terkadang itu lah yang membuat  para pembeli nyaman dan klop sehingga memilih penjual itu sebagai sasaran transaksi mereka. “Kalau  sudah saya buka, monggo pembeli saya silahkan mau ngorak-ngarik barang saya. Kadang kan orang mau masuk kan sungkan, kadang seninya orang belanja disini kan mungkin menikmati cari barang sendiri,” ungkap Karjo yang menyampaikan bagaimana ia menjual barangnya.

Selain membuka toko di Pasar Triwindu, Karjo juga melayani transaksi melalui WhatsApp (WA) atau telepon. Proses pengemasan barang yang dibeli melalui WA atau panggilan suara, untuk  barang orisinil dan barang pecah belah dibungkus menggunakan bubble wrap, styrofoam dan kayu. Biasanya ia mengirim barang terlebih dahulu pada konsumen, apabila tidak  sesuai dengan yang diharapkan dapat dikembalikan, sebab kepercayaan antara penjual dan  pembeli menjadi hal yang sangat krusial dalam aktivitas jual beli. 

Oleh karena itu, Karjo mempersilakan pelanggannya untuk melihat dan menelusuri  terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli. Bukan suatu masalah bagi Karjo apabila pelanggan bertanya-tanya terlebih dahulu untuk memastikan keaslian barang antik  yang akan dibeli oleh pelanggan seperti yang dikatakannya. 

“Kalau sudah saya buka, monggo pembeli saya silahkan mau ngorak-ngarik barang saya.  Kadang kan orang mau masuk kan sungkan, kadang seninya orang belanja disini kan mungkin  menikmati cari barang sendiri.” ungkap Karjo.


Sebab tak jarang pula pelanggan yang membeli melalui online tidak sesuai dengan barang  aslinya, misal yang ada di foto atau deskripsi mengatakan barang asli namun yang datang  adalah barang repro, seperti yang pernah dialami oleh Karjo sendiri. 

Pada dasarnya keaslian barang antik dapat dilihat secara kasat mata dari materialnya karena  terdapat perbedaan yang signifikan antara barang asli dengan barang repro. Namun pada dasarnya setiap barang repro terdapat material aslinya. 

Misal salah satu patung yang dijual oleh Pak Karjo merupakan repro dengan material baru dan  diproses kembali menjadi arca. Lalu, repro dengan material lama yang dibuat dari koin-koin  lama uang gobog Tiongkok yang diperoleh dari penggalian kuburan. Kemudian, kalung yang  dimiliki Pak Karjo berasal dari batuan lama yang ditemukan di penggalian kuburan, yang menunjukkan derajat atau kasta pemakainya, seperti kasta Brahmana biasanya menggunakan motif biji salak dan kasta Sudra menggunakan batu merah bata. 

Terdapat pula penemuan keramik yang berasal dari Pecinan di sepanjang Laut Jawa. Jenis keramik lain juga ditemukan atau dibuat di daerah Tasikmalaya dan Singkawang yang  memiliki kualitas tinggi dengan ragam karakteristik keramik. 

Dengan berkunjung ke tempat seperti Pasar Triwindu dapat memberi pengalaman memasuki  mesin waktu dan berdialog dengan masa lampau melalui peninggalannya yang masih dapat  diamati hingga saat ini. Sehingga, ingatan masyarakat tidak akan pernah luntur seputar sejarah, khususnya sejarah Indonesia dan kebudayaan Indonesia yang berinteraksi dengan ribuan kebudayaan asing. Di samping itu, barang antik adalah barang yang memiliki esensi sejarah tinggi sehingga dalam perawatannya diperlukan konsistensi. Keamanan dan kelestarian  barang antik tidak hanya menjadi tanggung jawab sang penjual, melainkan pengunjung perlu  ikut andil dalam menjaga barang langka ini. Apabila ingin ber-swafoto, hendaknya meminta  izin terlebih dahulu kepada penjual dan memiliki jarak aman dengan barang untuk  meminimalisir kerusakan. (Ayesa Nazhifah Humaira, Novrea Katarisna, Yohana Dwi Linda Wijayanti)


Senin, 20 November 2023

Dinamika Pasar Triwindu, Perkembangan dari Masa ke Masa

Dinamika Pasar Triwindu, Perkembangan dari Masa ke Masa

(Kardjo, penjual barang yang ditemui tim LPM VISI di kiosnya/Dok. Diva, Mohan, Elfaraz)

Lpmvisi.com, Solo – Pasar Triwindu, sebuah pasar unik di pusat Kota Surakarta. Pasar ini berdiri sejak tahun 1939 sebagai peringatan 24 tahun masa pemerintahan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VII. Mulanya pasar ini menjual berbagai jenis barang pasar pada umumnya. Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada tahun 1970, Pasar Triwindu berubah menjadi pasar yang berfokus untuk menjual barang antik layak jual. Pasar ini dulunya merupakan sebuah kandang kuda milik Mangkunegaran yang terletak di Jalan Diponegoro. Pada tahun 2008, pasar ini sempat mengalami renovasi yang tujuannya agar antar kios tidak saling berhimpitan. Selain itu, renovasi tersebut juga bertujuan untuk merubah arsitektur pasar agar sesuai dengan budaya Solo. 

Telah beroperasi selama 84 tahun menjadikan Pasar Triwindu sebagai pasar aktif tertua di Kota Surakarta. Pasar ini telah melalui berbagai perubahan hingga dapat berdiri hingga saat ini. Sebelumnya pasar ini menjual barang seperti suku cadang mobil dan motor, baju, tas, alat-alat pertukangan dan rumah tangga, majalah, koran, dan lain-lain. Kini seiring berjalannya waktu, pasar Triwindu hanya menjajakan barang-barang antik maupun barang-barang baru yang diproduksi dengan gaya antik. Perubahan ini memberikan dampak positif bagi perkembangan Pasar Triwindu. Pasar barang antik telah menjadi ciri khas dari pasar Triwindu, menjadikan pasar ini sebagai salah satu pasar unik serta memiliki sasaran konsumen tersendiri. 

Pasar Triwindu merupakan salah satu objek wisata kesenian menarik bagi wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Mayoritas pengunjung Pasar Triwindu merupakan pengunjung yang memiliki ketertarikan pada barang-barang antik dan barang-barang seni. Di samping itu, banyak pula kalangan muda yang mengunjungi Pasar Triwindu untuk membeli barang, mengulas sejarah pasar, maupun hanya sekadar berfoto. Walaupun intensitas pengunjung di pasar tersebut tidak cukup padat, tetapi ada saja pelanggan yang membeli barang-barang tersebut setiap harinya. 

Salah seorang pemilik kios, Kiky (26), yang telah berjualan sejak tahun 2015 menyatakan antusiasme pengunjung dari tahun ke tahun cenderung meningkat pada bulan Agustus. “Kalau yang ramai itu dari mancanegara biasanya bulan Agustus, kalau bulan biasa sepi, masih ramai online,” tuturnya. Selain menjual melalui toko luring, Kiky juga menjual produk-produknya melalui toko daring. Pelanggannya pun bervariasi mulai dari anak muda, orang tua, masyarakat awam hingga penikmat barang antik. Tak semua barang yang dijual di kios “Kiky Antique & Retro Shop” merupakan barang antik. Sebagian merupakan barang baru yang didapatkan dari pelosok-pelosok desa maupun dari orang yang sengaja datang ke kios untuk menjual barangnya. Sehingga, selain barang-barang antik, tak ada perawatan khusus untuk barang-barang yang dijualnya. Target 

pasar dari produk-produk Kiky sendiri lebih ditujukan kepada penjual atau reseller, serta pemakai umum. 

Kios “Kiky Antique & Retro Shop” merupakan warisan keluarga yang berdiri sejak tahun 1997. Kiky sendiri merupakan generasi ke-4 dari usaha keluarganya. Pada tahun 2010 usaha ini mengalami perkembangan signifikan pada aspek interior kiosnya. Hal tersebut didukung dengan dibukanya toko daring pada tahun 2015, sehingga pelanggan kios semakin meningkat. “Zaman sekarang ndak mungkin cuma duduk nunggu pembeli datang apalagi dengan kondisi pasar yang seperti sekarang, kita yang harus jemput bola,kita cah enom yang paham teknologi harus pintar-pintar mencari cara supaya toko tetap laris, salah satunya ya dengan buka toko online,” jelas Kiky. Namun, kios Kiky sempat tutup selama tiga bulan akibat pandemi COVID-19 yang melanda saat itu. Hal tersebut membuat Kiky hanya mengandalkan penjualan melalui toko daring ketika pandemi. Kiky mengaku sejak pandemi aktivitas pasar semakin sepi dan berdampak pada intensitas penjualannya. 

Berbeda dengan Kiky, Kardjo, seorang pemilik kios di Pasar Triwindu yang aktif berjualan sejak tahun 1998 menyatakan bahwa pandemi COVID-19 kala itu tidak terlalu berdampak terhadap penjualannya. “Kalau dulu waktu pandemi kan pelanggan punya kontak saya, kalau mau beli tinggal difoto barangnya nanti dikirim lewat ekspedisi, jadi kalau bagi saya sama saja,” ungkapnya. Kardjo mengaku intensitas pelanggan di kiosnya tidak menentu, tetapi kegemarannya terhadap barang antik membuatnya tetap setia menggeluti bidangnya. 

Berawal dari hobi hingga menjadi bisnis. Kardjo melihat peluang pada hobi yang digelutinya. Barang-barang antik yang dijualnya merupakan barang yang benar-benar antik dan bukan merupakan barang barang copy maupun produksi ulang. Barang dengan kategori tersebut dapat diperjual belikan dengan nilai jual yang tinggi. Barang-barang antik yang dijual di kios Kardjo cukup bervariasi dan memiliki nilai ekonomis yang menguntungkan. Kardjo mendapatkan barang-barang antik tersebut dari orang-orang yang datang ke kiosnya untuk menjual barang. Selain itu, barang antik yang dimiliki Kardjo juga berasal dari peninggalan kota-kota tua dan bekas kerajaan. Bangunan-bangunan tua tersebut berisi berbagai barang antik yang nantinya akan ia jual kembali. 


Tak semua barang yang ia dapatkan dalam kondisi baik, terkadang Kardjo perlu membersihkan barang-barang tersebut supaya layak jual. Kardjo biasanya membersihkan barang-barang tersebut dengan cara disikat secara berkala bergantung pada kondisi masing-masing barang. “Nek saya kira sing penting seneng sek to, kalau seneng kan kita ngerawate lebih enak,” ungkapnya. Pasar Triwindu buka setiap hari pada pukul 09:00-16:00 WIB. Fasilitas yang disediakan cukup memadai, antara lain meliputi toilet, area parkir, aula, ATM, kantor pasar, sarana bongkar muat, alat pemadam kebakaran, dan sarana kebersihan. Pada area sekitar pasar juga menjual aneka macam jajanan mulai dari jajanan pasar hingga jajanan kekinian. Area sekitar pasar ini cukup strategis. Dengan fasilitas dan berbagai macam kulinernya, pengunjung dapat menyamankan diri di area pasar. Memiliki sekitar 270 kios, Pasar Triwindu memungut biaya retribusi sebesar Rp7.500,00 untuk kios berukuran kecil, dan Rp15.000,00-Rp16.000,00 untuk kios berukuran besar. (Diva, Mohan, Elfaraz)
Mengapresiasi Seni Lukis dalam Solo Art Market

Mengapresiasi Seni Lukis dalam Solo Art Market

(Potret stand Lumiku Art di Solo Art Market/Dok. Alya, Syeikha)


Lpmvisi.com, Solo Sebagai kota yang dikenal akan budayanya, Solo kental akan nuansa kesenian yang dapat dilihat dari seluruh penjuru kota. Bagi para pecinta karya seni dan kerajinan tangan, Solo Art Market merupakan tempat perhentian yang wajib dikunjungi karena hanya diadakan tiap minggu pertama dan ketiga setiap bulannya. Selain menjadi tempat untuk pameran kerajinan biasa, Solo Art Market juga menjadi wadah bagi para seniman lokal dan pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memamerkan kreativitas mereka, serta memperkaya destinasi wisata bagi warga lokal maupun turis.

Pasar seni yang digelar di jalur pedestrian, Jalan Diponegoro, Ngarsopuro ini setidaknya menampung 50 lapak seniman yang turut serta meramaikan. Para kreator tersebut menjual aneka ragam bentuk karya seni, seperti seni ukir, pakaian, aksesoris, aneka kerajinan tangan, dan masih banyak lagi. Di antara banyaknya penjaja seni tersebut, salah satu kios yang menarik perhatian kami ialah kerajinan seni kriya yang menggunakan media seperti tas, dompet, dan sepatu. Lapak tersebut dinamai Lumiku Art oleh pendirinya, Sarief Adi Nugroho. 

Sarief adalah seorang seniman yang sudah menggeluti bidang seni lukis sejak kecil. Beliau mewarisi bakat melukis dari ayahnya yang juga seorang pelukis, sehingga beliau sudah sangat dekat dengan dunia seni sejak usia dini. Kecintaannya terhadap seni membuat Sarief untuk belajar seni lebih dalam lagi. Beliau bersekolah di jurusan Seni Rupa pada bangku SMK Negeri 9 Surakarta, kemudian melanjutkan pendidikannya di program studi Seni Rupa Murni ISI Surakarta. Ia mulai berjualan di Solo Art Market sejak 2018, yaitu saat pertama acara tersebut diselenggarakan. 

Sarief mengatakan bahwa beliau mengutamakan nilai fungsionalitas dalam kerajinannya. Hal tersebutlah yang membuat produk-produknya cepat laris dan diminati banyak orang. Meskipun demikian, Sarief tetap teliti dalam melukis demi mempertahankan nilai estetikanya. Desain yang digambar Pak Sarief cukup unik dan beragam, mulai dari karakter kartun, hewan, hingga ke gambar yang memiliki nilai kearifan lokal seperti becak dan pasar. 

Desain produk yang memiliki nilai kearifan lokal ini berlatar belakang dari keinginan Sarief untuk memperkenalkan kota Solo kepada wisatawan lokal maupun asing. Karyanya ini berhasil menarik minat wisatawan, terutama wisatawan asing, karena desain tersebut memiliki ciri khas kebudayaan Solo yang melekat kuat namun jarang diberi spotlight oleh seniman lain sehingga memberikan keunikan tersendiri. 

“Jadi, kita punya visi misi bahwa kota Solo bukan hanya ada wayang dan tari tetapi juga ada kuliner, bangunan tua, serta alat transportasi yang unik,” ujar Sarief ketika diwawancarai oleh tim LPM VISI. Selain itu, beliau juga ingin menunjukkan bahwa produk yang dijualnya tidak hanya sekadar barang, tetapi juga memiliki makna dan pesan. 

Sarief mematok harga mulai dari Rp25.000,00 hingga Rp100.000,00. Dirinya juga menambahkan alasannya tidak menjual produk menengah ke atas dikarenakan produk tersebut biasanya hanya ia jual dengan sistem pre-order, sehingga pelanggan harus memesan terlebih dahulu. Meskipun begitu, Solo Art Market sudah dengan sangat baik memfasilitasi dan mendukung para seniman untuk mengekspresikan kreativitas dan mengembangkan usahanya, termasuk Sarief sendiri. 

Selain berjualan, Sarief juga aktif mengadakan workshop bagi orang-orang yang tertarik dengan seni lukis. Timnya mengadakan lokakarya lukis secara reguler setiap hari Rabu di Palur Plaza. Beliau juga mengajar anak-anak melukis di sanggar lukisnya, membuat event lomba melukis, menjadi juri, dan mengikuti pameran-pameran lukis. Ia berharap seni lukis bisa semakin berkembang dan dihargai oleh masyarakat. Pembaca dapat mengunjungi laman instagram @lumikuart untuk mengenal lebih dekat mengenai Lumiku Art. (Alya, Syeikha)