Rabu, 09 September 2020

Dory Harsa, Seniman Solo Jadi Maskot SIPA 2020

Dory Harsa, Seniman Solo Jadi Maskot SIPA 2020

Dory Harsa. (Dok.Gede)


    Lpmvisi.com, Solo -Dory Harsa dinobatkan sebagai maskot Solo International Performing Arts (SIPA) 2020 yang mengusung tema “Recognition and Acceleration”. Terpilihnya Dory Harsa sebagai ikon ajang pertunjukan bergengsi tersebut tidak hanya memamerkan kehebatan seniman asli Solo, tetapi juga perwujudan dari partisipasi generasi muda dalam pengembangan kesenian tradisional.

    Dory Haryanto Saputra, atau kerap disapa Dory Harsa, adalah seniman kelahiran 27 November 1992 yang tengah menggeluti karir di dunia tarik suara dengan genre Pop Jawa- Campursari. Dory meraih banyak penghargaan, salah satunya adalah meraih urutan pertama pada Trending Chart di Youtube selama satu pekan, serta menduduki 20 Trending Chart Worldwide di platform yang sama.

    Dory memiliki tekad untuk mengangkat budaya daerah di mata dunia, sehingga karya yang ia hasilkan mayoritas menggunakan bahasa jawa. Selain itu, Dory berkeinginan untuk  mengedukasi generasi muda tentang seni pertunjukan. Hal ini juga sejalan dengan komitmen SIPA untuk terus menyuguhkan acara seni yang menarik dan berkualitas.

    Sebagai maskot SIPA 2020, Dory mengungkapkan harapannya, “Semoga SIPA bisa memberikan pertunjukan yang baik, yang mendidik, dan tentunya bisa mendorong kreativitas teman - teman pelaku seni yang terlibat di dalamnya. Saya harap SIPA tahun ini bisa memberikan satu tolok ukur untuk event - event yang lain,” ungkap Dory.

    SIPA adalah festival seni bertaraf internasional yang rutin digelar setiap tahun. SIPA 2020 Recognition and Acceleration merupakan tahun ke-12 penyelenggaraan festival. Tema SIPA  tahun ini, menitikberatkan pada pehamahan seni sebagai sesuatu yang bertumpu dari penghargaan serta apresiasi guna akselerasi kemajuan serta persatuan. Pertujukan megah ini digelar selama tiga hari pada tanggal 10, 11, dan 12 September. Acara ini dapat disaksikan secara gratis melalui kanal Youtube SIPA FESTIVAL mulai pukul 17.00 hingga 22.00 WIB. SIPA diharapkan dapat menjadi sarana pelestarian seni pertunjukan agar masyarakat selalu mengingat keberadaan seni sebagai salah satu budaya asli Indonesia.

(Fitri Ana R)

Senin, 07 September 2020

16 Tahun Kematian Munir, Kami Tidak Lupa!

16 Tahun Kematian Munir, Kami Tidak Lupa!

Munir Said Thalib. Dok.Internet


 Lpmvisi.com, Solo - Tepat hari ini 16 tahun lalu, menjadi hari yang kelam bagi Indonesia. Munir Said Thalib, seorang aktivis yang membela kasus HAM berat, meninggal dunia dalam penerbangan GA 974 menuju Amsterdam, 7 September 2004.

Munir dikenal karena kegiatannya sebagai aktivis yang kerap kali mengadvokasi kasus-kasus besar seperti kasus Marsinah 1993 hingga penculikan aktivis 1997-1998. Ia  lahir di Malang pada 8 Desember 1965. Putra Said Thalib dan Jamilah ini merupakan lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB), Malang. Semasa kuliah, Munir juga aktif di beberapa organisasi seperti menjadi Ketua Senat Mahasiswa UB, Sekretaris Al Irsyad Kabupaten Malang pada tahun 1988, hingga menjadi Koordinator Wilayah IV Asosiasi Mahasiswa Hukum Indonesia pada tahun 1989.

Setelah meraih gelar sarjana hukum, Munir melanjutkan kariernya di Koordinator Badan Pekerja, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) pada 1998-2001. Ia juga menjadi bergabung dalam Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sebagai sekretaris bidang operasional pada 1996, wakil ketua bidang operasional pada 1997, dan wakil ketua dewan pengurus pada 1998. Munir juga aktif sebagai koordinator divisi perburuhan dan divisi hak sipil politik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya; selain itu, Munir juga bergabung dalam Lembaga Pemantau HAM Indonesia Imparsial sebagai direktur eksekutif.

Munir juga dikenal karena aktif sebagai penasihat hukum kasus-kasus besar di Indonesia. Beberapa kasus besar yang melibatkan peran serta Munir antara lain kasus pembunuhan Marsinah pada tahun 1993, kasus Jose Antonio De Jesus Das Neves (Samalarua) di Malang dengan tuduhan melawan pemerintah untuk memisahkan Timor Timur dari Indonesia pada tahun 1994, kasus Muchtar Pakpahan (Ketua Umum Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) dalam kasus subversi pada tahun 1997, kasus hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta 1997-1998, hingga kasus penembakan mahasiswa di Semanggi pada tahun 1998-1999. Tak hanya itu, Munir juga aktif sebagai anggota Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM di Timor Timur pada tahun 1999.

Atas kiprahnya membela kasus-kasus HAM, Munir menerima banyak penghargaan. Beberapa penghargaan tersebut antara lain Right Livelihood Award 2000, Penghargaan pengabdian bidang kemajuan HAM dan kontrol sipil terhadap militer, Swedia; Mandanjeet Singh Prize, UNESCO, untuk kiprahnya mempromosikan Toleransi dan Anti-Kekerasan pada tahun 2000; Salah satu Pemimpin Politik Muda Asia pada Milenium Baru dari Majalah Asiaweek, pada tahun 1999; Yap Thiam Hien Award pada tahun 1998; hingga Satu dari seratus tokoh Indonesia abad XX, majalah Forum Keadilan.

Munir Berpulang

Jelang akhir hayatnya, Munir menerima beasiswa untuk melanjutkan studi S-2nya di Belanda dengan mengambil jurusan International Protection on Human Rights. Dengan menaiki pesawat Garuda Indonesia GA 974 tujuan Amsterdam, Munir berangkat meninggalkan Jakarta pada 6 September 2004. Pada tanggal 7 September dini hari, selepas transit di Singapura, Munir dilaporkan mengalami kondisi yang kurang baik. Menurut kesaksian persidangan di Jakarta, Munir diduga mengalami muntaber. Kondisi Munir saat itu terlihat pucat dan lemas.

Tarmizi Hakim, seorang penumpang sekaligus dokter ahli jantung, dibangunkan untuk membantu menangani Munir. Dalam laporan Matranews, Hakim menyatakan bahwa Munir telah bolak-balik ke kamar mandi sebanyak enam kali dalam jeda waktu setiap setengah jam. Munir akhirnya diberi beberapa obat yang setidaknya mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Munir juga sempat meminta untuk dipindahkan ke tempat duduk yang dekat dengan kamar mandi. Berselang lima jam, tubuh Munir terbujur kaku, dingin, dan tidak sadarkan diri. Munir dinyatakan meninggal di langit Belanda sebelum mendarat di Amsterdam, 7 September 2004.

Dalam beberapa jam, meledaklah kabar kematian Munir di Indonesia. Dalam laporan yang dikeluarkan di awal kematian, Munir dinyatakan meninggal akibat penyakit yang dideritanya. Akan tetapi, rilis awal tersebut tidak digunakan lagi setelah dua minggu berselang. Dalam waktu dua minggu itu, Badan Forensik di Belanda mengungkapkan ada racun arsenik dalam jumlah yang melebihi ambang batas wajar dalam tubuh Munir. Hal ini memunculkan dugaan bahwa Munir diracun.

Penyelidikan menyatakan bahwa racun arsenik tersebut ditaruh ke dalam jus jeruk yang diberikan kepada Munir oleh pramugari. Penyelidikan yang dilakukan pemerintah juga hanya berhasil mengungkap Pollycarpus, mantan pilot Garuda, sebagai pelaku yang menaruh racun dalam minuman tersebut. Pemerintah tidak mampu mengungkap siapa otak dibalik kasus ini. 16 tahun pun berlalu, hingga kini kasus tersebut seolah sengaja dilupakan. Tidak ada pengusutan lebih mendalam mengenai siapa dalang di balik kasus ini. Slogan “menolak lupa” terus digaungkan agar masyarakat tetap ingat bagaimana kesewenang-wenangan mengalahkan hati nurani. Bagaimana hak asasi kita hampir tak terjamin lagi.

Berpulangnya Munir menjadi duka cita mendalam bagi pejuang keadilan HAM di Indonesia dan bagi kita semua. 16 tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama itu pula, dalang dari kejadian ini masih tertawa bebas tanpa mendapat pengusutan yang jelas. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Fajar Merah, “aku akan tetap ada dan berlipat ganda”. Nyatanya, harapan untuk terwujudnya keadilan HAM di Indonesia terus menerus ada hingga saat ini. Api semangat itu tidak pernah padam meski ribuan kali diintervensi oleh berbagai pembungkaman. Engkau pergi meninggalkan kami, Munir, Namamu abadi. (Gede)


Minggu, 06 September 2020

Intip Perayaan Hari Kemerdekaan Di Tiga Negara ASEAN Selama Pandemi

Intip Perayaan Hari Kemerdekaan Di Tiga Negara ASEAN Selama Pandemi

         Lpmvisi.com, Solo - Peringatan hari kemerdekaan oleh sebuah negara merupakan hal yang selalu dinantikan oleh warganya. Di hari itu, seluruh warga negara bergembira memperingati terbebasnya negara dari penjajahan dan penindasan.

Peringatan kemerdekaan biasanya dilakukan dengan cara yang unik. Tidak terkecuali tiga negara di ASEAN yaitu Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Ketiga negara merdeka di bulan yang sama yaitu bulan Agustus ini memiliki caranya masing-masing untuk memperingati hari kemerdekaannya. Meskipun di tengah masa pandemi seperti saat ini, ketiga negara tersebut tetap merayakan kemerdekaan dengan meriah. Seperti apa sih perayaannya?


1.      Indonesia

Di Indonesia, pelaksanaan upacara 17 Agustus tahun ini  diselenggarakan di Istana Negara dengan menjalani protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Petugas upacara yang bertugas hanya berjumlah 67 orang yang terdiri dari komandan upacara, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka sebanyak 3 orang, pasukan upacara 20 orang, Korps musik sebanyak 24 orang, 2 orang MC, dan Pasukan Pelaksana Tembakan Kehormatan saat Detik-detik Proklamasi sebanyak 17 orang.

Selain itu, upacara kemerdekaan tidak mengundang pejabat dan masyarakat. Adapun, yang hadir hanya presiden, wakil presiden, ketua MPR, Menteri Agama, panglima TNI, dan Kapolri. Sementara itu, menteri dan pimpinan lainnya mengikuti upacara 17 Agustus dan penurunan bendera secara virtual di kantor masing-masing. Seluruh masyarakat Indonesia yang menyaksikan upacara secara virtual juga dihimbau menghentikan aktivitasnya sejenak selama 3 menit yaitu pukul 10.17 hingga 10.20 WIB dan berdiri tegap saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan.

Perayaan kemerdekaan juga dilakukan oleh instansi lain seperti Bank Indonesia yang secara khusus mengeluarkan uang pecahan senilai Rp 75.000. Ada juga yang memperingati kemerdekaan dengan perlombaan seperti yang dilakukan oleh SMKN 1 Depok. Lomba tujuhbelasan kali ini digelar secara virtual dan ditujukan untuk seluruh siswa dari kelas X-XII dari semua jurusan. Lomba tersebut antara lain lomba video kreatif, lomba cover lagu, dan lomba membuat serta membaca puisi tentang kemerdekaan.

2.      Malaysia

Bila sebelumnya Malaysia selalu merayakan hari jadi dengan parade militer dan budaya multi-etnis, kini Malaysia terpaksa membatalkan semua agenda tersebut. Pandemi Covid-19 membuat Malaysia mengusung tema “Malaysia Prihatin” sebagai tajuk peringatan hari kemerdekaan tahun ini.  Pembatalan itu merupakan antisipasi jika nanti terjadi kesulitan dalam menjaga jarak sosial dalam pertemuan massa.

Meskipun begitu, pengibaran Jalur Gemilang (bendera nasional Malaysia -red) tetap berlangsung dengan mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Pengibaran Jalur Gemilang dilanjutkan dengan parade tari yang menggambarkan ketiga belas negara bagian Malaysia. Peringatan hari ulang tahun kemerdekaan ke-63 atau yang lebih dikenal dengan nama hari kebangsaan Malaysia ini berlangsung di Dataran Pahlawan Putrajaya mulai pukul 06.30 waktu setempat. Sementara itu, sejumlah warga malaysia sempat menyalakan kembang api sehari sebelumnya untuk menyambut hari kemerdekaan Malaysia.

3.      Singapura

Perayaan National Day Parade (NDP) di Singapura tahun ini cukup berbeda. Tahun ini Singapura mengusung tema “Together A Stronger Singapore”. Pemerintah setempat melarang warganya untuk menghadiri NDP dan memerintahkan untuk tetap di rumah. Meskipun begitu, pada ulang tahun Singapura ke-55 ini, warga Singapura bisa menyaksikan pertunjukan proyeksi digital dan cahaya pada 10 tempat wisata Singapura di Bras Basah Precinct and Civix District.

Tempat wisata yang menampilkan pertunjukan proyeksi digital antara lain, the Armenian Church, Asian Civilisations Museum (ACM), Cathedral of the Goof Shepherd, Central Fire station, CHIJMES, Esplanade – Theatres on the Bay, National Gallery Singapore, National Museum of Singapore, The Arts House, dan Victoria Theatre and Victoria Concert hall. Masing-masing karya proyeksi tersebut mengandung cerita tersendiri.

Uniknya, secara khusus, Singapura mendedikasikan peringatan kemerdekaan tahun ini untuk petugas medis sebagai garda terdepan penanganan Covid-19. Hal ini terlihat dalam siaran langsung acara yang juga tayang dari beberapa atap rumah sakit di Singapura. Mereka yang tampil dalam siaran tersebut merupakan dokter dan perawat yang berjuang menangani pasien Covid-19.

Selain itu, NDP 2020 juga tetap melaksanakan parade militer di Padang dan The Star Performing Arts Center di Star Vista, meskipun jumlah peserta yang hadir sangat dibatasi. Parade ini merupakan acara khusus dengan tingkat keamanan tinggi di bawah Public Order Act (undang-undang ketertiban umum di Singapura). Area sekitarnya pun ditetapkan sebagai kawasan khusus dan dijaga dengan tingkat keamanan tinggi.

Pandemi bukan menjadi halangan bagi berbagai negara untuk tetap merayakan kemerdekaan. Banyak cara yang dapat  dilakukan untuk merayakan kemerdekaan. Karena dewasa ini, merdeka dapat dimaknai oleh banyak hal. Merdeka dalam berpendapat, merdeka dalam bersuara, dan yang lebih utama ialah merdeka dari pandemi. Tetap gunakan masker, jaga jarak, dan patuhi protokol Kesehatan. Salam! (Hida Essin)


Jumat, 04 September 2020

Mengabdi itu Tidak Rugi Tapi Seri

Mengabdi itu Tidak Rugi Tapi Seri

 

(Dok.Indah)

Oleh: Indah Sonia Siregar

Mahasiswa UIN Sumatra Utara, Fak. Ilmu Sosial, Jur. Ilmu Komunikasi/Jurnalistik Sem.VI

 

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan suatu bangsa. Pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Hal itu tercantum dalam UUD 1945 Pasal 31  ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Artinya, pendidikan itu adalah hak mutlak untuk setiap warga sesuai dengan uraian pembukaan UUD 45 alinea ke 4 yaitu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Namun faktanya, tidak semua anak di Indonesia dapat mengenyam pendidikan. Hal itu disebabkan oleh belum adanya pemerataan pendidikan baik dari segi tenaga pengajar, fasilitas, sarana, prasarana, hingga siswa-siswanya yang kelak menjadi generasi penerus bangsa. Banyak anak yang tidak sekolah dengan alasan yang bermacam-macam. Ada yang yang terhambat karena akses jalan ke sekolah terlalu jauh, ada pula yang terhambat kemiskinan.

Sering kita lihat baik itu di media telivisi, surat kabar, radio dan media massa lainnya tentang betapa mirisnya nasib banyak putra-putri negeri ini. Hanya untuk menuntut ilmu, mereka harus bejalan jauh melewati titi dan bahkan diharuskan menyeberangi sungai. Mengerikan memang melihat mereka harus bertaruh nyawa demi mendapatkan hak mereka yaitu menuntut ilmu.

Hal ini memang seharusnya sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memperbaikinya. Tapi, apakah ini hanya menjadi tugas pemerintah semata? Tentu tidak. Kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang memiliki ribuan suku dan budaya yang berbeda tapi tetap satu, dapat ikut andil dalam  membantu pemerintah menanggulangi hal tersebut. Lalu, dengan cara apa kita dapat membatu?

Menjadi relawan adalah salah satu kontribusi yang besar. Ikut membantu dalam meminimalisir kurangnya pemerataan pendidikan yang masih menjadi pe-er negara akan segera terselesaikan kalau saja masyarakatnya, terutama anak mudanya, mau bergerak. Bukankah Bapak Proklamator Indonesia juga pernah menyampaikan, “berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya berikan aku satu pemuda, maka kuguncangkan dunia? Kemerdekaan Indonesia juga tidak lepas dari perjuangan para pemudanya. Itulah bukti bahwa anak muda berperan penting dalam maju tidaknya suatu negara. Pemikiran mereka yang terus berubah mengikuti zaman yang ada, merupakan kunci negara untuk terus bertransformasi menjadi negeri yang lebih baik lagi.

Gerakan Indonesia Mengajar menjadi pelopor anak muda untuk membentuk lebih banyak komunitas relawan di bidang pendidikan. Sampai sejauh ini pergerakan anak muda dalam mengabdikan dirinya untuk negeri makin ramai. Dimulai dari pergerakan relawan yang bersifat kedaerahan hingga nasional. Mereka berkumpul menjadi satu dan menghasilkan solusi-solusi baru untuk persoalan pendidikan yang kian tertinggal.

Tak hanya itu, baru-baru ini sedang viral putri Indonesia yang baru terpilih pada 6 Maret 2020, Ayu Maulidia, yang ternyata terlibat dalam kegiatan sosial lewat program Senyum Desa. Senyum Desa adalah sebuah komunitas independen sosial yang bertujuan untuk menigkatkan kesetaraan pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan.

Tercatat Indonesia menjadi negara paling dermawan  dari 148 negara yang disurvei Giving Index 2018 oleh Charties Aid Foundation (CAF). Indonesia mendapat skor tertinggi di bidang donasi untuk amal dan sukarelawan. Apakah semboyan kita, Bhinneka Tunggal Ika masih bertahan? Terbukti sampai sekarang semangat gotong royong kita masih menjadi perhatian dunia. Berkat siapa? Tentu berkat masyarakatnya, berkat anak mudanya yang melakukan pergerakan membantu negara tanpa mengharap bayaran ataupun penghargaan. Dapat memberi guna bagi negara dan dapat melihat senyum anak bangsa sudah cukup bagi para relawan.

Ikut melakukan aksi mengabdi menjadi relawan merupakan cara yang baik bagi anak muda untuk memperbaiki pendidikan. Hal ini karena bagi yang beruntung mendapatkan pendidikan sudah seharusnya berbagi apa yang didapat. Dengan mengabdi, setidaknya dapat mengurangi beban pemerintah dalam pemerataan tenaga pendidik. Hal ini karena tenaga pendidik merupakan faktor utama dalam permasalahan ini. Ada anggapan bahwa anak yang cerdas merupakan hasil didikan seorang guru dan seorang guru lah yang dapat menuntun anak-anak bangsa ini menuju cita-citanya yang tinggi.

Kita sebagai orang Indonesia sudah seharusnya ikut andil membangun bangsa, agar Indonesia dapat menyelesaikan salah satu tujuannnya sesuai yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 Alinea ke-4 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kita anak muda yang telah beruntung mendapatkan pendidikan tinggi tidaklah rugi jika sedikit berbagi. Apa lagi untuk negeri sendiri. Ingatlah apa yang seharusnya kau berikan untuk negara bukan hanya apa yang negara berikan untukmu.


Rabu, 02 September 2020

Mengelola Keuangan di Tengah Resiko Resesi

Mengelola Keuangan di Tengah Resiko Resesi

(Dok.Internet)


        Lpmvisi.com, Solo - Akhir-akhir ini, topik seputar resesi
ekonomi menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (PDB) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara serentak pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan.

Pandemi Covid-19 yang belum kelihatan ujungnya, ditambah perlambatan pertumbuhan ekonomi dinilai menjadi pemicu utama terjadinya resiko resesi di Indonesia. Setidaknya sampai dengan 17 Agustus 2020, sejumlah negara mengonfirmasi telah mengalami resesi. Beberapa di antaranya adalah Filipina, Amerika Serikat, Inggris, Polandia, Malaysia, Uni Eropa, Korea Selatan, Hong Kong, hingga Singapura.

Indonesia pun kini sedang di ambang resesi. Jumlah penderita Covid-19 yang tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan, ditambah melambatnya laju pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal pertama di tahun 2020, dinilai merupakan fase awal sebelum Indonesia mengalami resesi sepenuhnya.

Lalu, hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk memastikan keuangan tetap aman? Berikut ini merupakan tips mengelola keuangan jelang resesi:

1.    Cari Pemasukan Sampingan

Di masa yang serba sulit ini, pemasukan bisa saja berkurang banyak. Penting untuk mencari sumber pemasukan sampingan untuk menambah pendapatan. Kamu harus lebih kreatif dan inovatif dalam hal ini.

Kamu bisa memulai bisnis kecil-kecilan, melakukan pekerjaan freelance, mencari sumber pendapatan yang pasif, dan lainnya. Ini akan membantu kamu membangun benteng keuangan dan lebih bersiap menghadapi perubahan yang bisa saja secara tiba-tiba terjadi.

2.    Tingkatkan Keterampilan

Masa pandemi membuat angka pengangguran semakin tinggi dan menambah ketatnya persaingan di bursa lowongan pekerjaan. Banyak perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pegawai karena ketidakstabilan finansial yang dihadapi. Jadi, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah berinvestasi pada diri sendiri dengan meningkatkan keterampilan.

Manfaatkan media sosial seperti LinkedIn untuk memantau perkembangan kamu. Publikasikan karya orisinilmu, perbarui profilmu, serta pertahankan jaringan yang kuat dengan rekan-rekan kamu.

3.    Pertimbangkan Asuransi

Pertimbangkan untuk membeli produk asuransi. Baik itu asuransi kesehatan untuk menjamin pengobatan di masa depan, maupun asuransi jiwa untuk jadi bekal jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirimu dan keluargamu.

4.    Beli Produk Lokal

Membeli produk lokal, selain murah, juga membantu perekonomian masyarakat di tengah resesi. Dengan membeli produk lokal, kita menjamin bahwa perputaran uang di dalam negeri tetap terjaga. Hal ini tentu untuk menjaga kestabilan perekonomian dalam negeri dalam menghadapi resesi.

Resesi memang menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang. Tidak hanya Indonesia yang sedang terancam resesi, negara lain pun secara terbuka telah menyatakan kondisi perekonomian mereka. Untuk itu, mari kita persiapkan segala hal dan kebutuhan dengan sebaik mungkin. Tetap patuhi protokol Kesehatan, cuci tangan secara rutin, jaga kebersihan, dan selalu gunakan masker ke manapun kamu pergi.  (Lucky Ikhlasul)

Selasa, 01 September 2020

Feminazi : Aku Merdeka, Kalian Terbelenggu

Feminazi : Aku Merdeka, Kalian Terbelenggu

 

(Dok.Internet)

Oleh: Stella Maris Mbangga Radja

Apa yang kalian bayangkan saat membaca kalimat di atas? Kalimat itu seolah menyiratkan sebuah makna, bahwa selama ini kalangan feminazi mengkonstruksikan ideologi feminisme dengan tafsir yang menyimpang dari konsep ideologi feminisme itu sendiri. Kesetaraan kaum perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang kehidupan merupakan sebuah cita-cita luhur yang diharapkan dari ideologi feminisme. Namun, hal ini kerap kali diserap secara tidak sempurna oleh beberapa pihak. Hal ini tentu mengakibatkan mispersepsi di khalayak luas khsususnya kaum perempuan itu sendiri. Para feminazi ini merupakan sebuah bukti konkret dari mispersepsi tersebut, salah satunya mereka ingin lebih dari kata setara dengan laki-laki. Hal ini juga bisa diasumsikan bahwa mereka (kaum feminazi) ingin melebihi laki-laki.

Gerakan feminisme sendiri muncul sebagai salah bentuk protes atas ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini sebagai akibat fungsi gender yang dimiliki masing-masing pihak membuat salah satu pihak tidak dapat bergerak bebas atau minimnya kesempatan untuk mengeksepresikan diri di depan publik. Sebagai salah satu contoh, misal dalam suatu struktur kepengurusan sebuah organisasi pastilah mayoritas ketua dari organisasi tersebut berasal dari kaum lelaki. Mengapa lelaki? Karena dianggap lebih tegas, bisa lebih mengayomi, bertanggung jawab dan sebagainya.

Hal ini kerap kali terjadi karena sudah menjadi sebuah anggapan yang lumrah di kalangan masayarkat. Dapat dikatakan bahwa anggapan ini telah terpatri sebagai stigma yang melekat di pikiran masyarakat, terkait maskulinitas dan feminitas seseorang pada hal kepemimpinan. Hal ini termasuk bentuk ketidakadilan gender yang disebut sebagai subordinas yang artinya memandang lebih rendah peran atau tanggung jawab yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin, dalam contoh kasus ini yaitu pihak perempuan. Sebenarnya masih banyak bentuk ketidakdilan yang terjadi pada perempuan, misalnya kekerasan, pelecehan, dan lainnya. Maka dari itu dengan kemunculan gerakan feminisme, salah satu harapannya adalah agar membantu menyetarakan hak dan derajat  antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan nyata. Tentunya hal ini diharapkan agar tidak terjadi lagi ketimpangan maupun ketidakadilan yang dialami oleh pihak perempuan diamanpun mereka berada.

Lalu, apa itu feminazi? Feminazi merupakan pihak-pihak yang menanggapi ideologi feminisme secara radikal bahkan bisa sampai pada tahap pemikiran yang ekstrim. Menurut laman Wikipedia, istilah feminazi sendiri lahir sebagai bentuk sindirian kepada mereka yang menganut ideologi feminisme secara radikal.  Para feminazi ini cenderung lebih bersifat egois dari pemikiran maupun tindakannya. Egois di sini memiliki pengertian hanya memikirkan bahwa dirinyalah yang paling benar atas perspektif yang mereka miliki, serta cenderung tidak bisa berpikiran terbuka atau menolak menerima argumen dari pihak lain. Akibat inilah yang mengakibatkan spekulasi para awam terkait paham feminisme itu sendiri tanpa mengetahui kebenaran dari paham feminis itu sendiri. Masyarakat secara umum berasumsi bahwa feminisme adalah sebuah paham atau ideologi untuk membenci lelaki, budaya pekerjaan rumah, atau hal kodrati yang dimiliki oleh setiap perempuan.

Sebagai contoh spekulasi dari tindak pemikiran para feminazi, baru-baru ini terdapat cuitan viral di Twitter terkait “Bekal Buat Suami Hari Ini” yang diunggah oleh pemilik akun @rainydecember. Unggahan ini menjadi viral karena beberapa komentar negatif yang dilontarkan oleh beberapa pihak. Secara garis besar, komentar negatif yang muncul berisi “dasar patriarki”, “untuk apa capek-capek membuat bekal untuk suami, bisa saja dia selingkuh”, dan berbagai komentar negatif sejenisnya. Miris melihatnya. Mengapa unggahan dengan tujuan baik seperti ini masih saja dikomentari buruk? Akibatnya, netizen yang membaca komentar negatif tersebut turut berspekulasi dan  memberikan  label bahwa komentar negatif yang ada berasal dari tindakan para feminis atau feminazi, walaupun yang berkomentar negatif tidak memproklamirkan dirinya adalah seorang feminis atau feminazi. Jelas hal ini pun juga merugikan para pegiat ideologi feminis karena semakin dipandang sebelah mata oleh masyarakat luas.

Para feminazi menganggap bahwa perempuan yang masih melakukan ataupun membantu pekerjaan rumah dianggap sebagai korban patriarki yang terkungkung dengan tradisi primitif warisan nenek moyang. Menjadi sebuah perbudakan bila terdapat unsur keterpaksaan dan penyiksaan kepada pihak lain di dalamnya. Padahal kegiatan rumah tangga merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan untuk menunjang kehidupan. Padahal unggahan tersebut menunjukkan sebuah kecintaan sang pemilik akun tersebut kepada suaminya tanpa unsur paksaan. Selain itu, banyak nilai positif yang bisa dipetik dari unggahan tersebut. Misalnya, dapat menjadi inspirasi bagi para pasangan suami istri lainnya dalam menyiasati penghematan pengeluaran ketika berada di luar rumah. Dari contoh kasus ini, sangat perlu mengedukasi masyarakat terkait penjabaran paham feminisme dan apa bedanya dengan para feminazi. Masyarakat juga harus lebih objektif dalam membedakan antara feminis, feminazi, atau sekedar tukang julid di media sosial agar meminimalisir mispersepsi yang terjadi. 

Senin, 31 Agustus 2020

Menilik Persiapan Kuliah Daring Semester Ganjil 2020 di UNS

Menilik Persiapan Kuliah Daring Semester Ganjil 2020 di UNS

Ilustrasi pelaksanaan kuliah daring. (Dok.Internet)

Pelaksanaan kuliah daring semester ganjil tahun ajaran 2020/2021 di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), telah dimulai sejak Senin, (31/08/2020). Setelah melaksanakan perkuliahan secara daring selama semester genap tahun ajaran yang lalu, UNS memperpanjang kebijakan kuliah daring hingga akhir tahun 2020. Hal ini dikarenakan pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

Lpmvisi.com, Solo - Menyambut tahun ajaran baru 2020/2021, sejumlah mahasiswa telah mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Ade Safana Alawiyah misalnya, mahasiswi Proram Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UNS angkatan 2019 menyampaikan bahwa dirinya bersemangat menyambut semester baru ini.

Excited, sih, karena semakin naik semester, di prodiku khususnya, sudah mulai bisa mengambil mata kuliah pilihan yang tentunya tergantung minat, walau nggak bisa banyak sekaligus,” ungkap Ade saat ditemui VISI.

Ade juga ikut menyampaikan strategi yang sudah direncanakannya sebagai mahasiswa untuk kuliah daring kali ini.

“Yang pertama evaluasi sisa waktu pandemi semester lalu. Curi start materi yang akan dipelajari dengan tanya-tanya ke kakak tingkat, baca-baca dulu materinya, dan yang tidak kalah penting sih siapkan aplikasi atau perlengkapan apapun yang sekiranya dibutuhkan untuk perkuliahan daring,” tambahnya.

Ia juga menambahkan, saat-saat seperti ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengeluh.  “Kita tidak bisa statis dan nengok ke keadaan ideal terus, move on! Udah saatnya untuk menetapkan kurikulum dan standar baru yang perlu dicapai di semester ini. Kita yang dituntut kreatif, inovatif. Usahakan menang dalam kondisi apapun,” pungkasnya.

Sementara itu, Christian Widi Nugraha, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNS juga ikut menyampaikan perasaanya dalam menyambut semeter baru.

“Karena baru pertama ini kuliah daring, semester kemarin saya tidak ada kelas, maka saya harus segera menyesuaikan dan membuat rencana perkuliahan sesuai dengan sistem dari UNS,” ujarnya saat ditemui VISI.

Terkait dengan strategi apa yang akan dilakukan untuk mengajar nantinya, Ia menuturkan bahwa akan menyesuaikan dengan sistem dari kampus. “Disesuaikan dengan sistem dari kampus dan memaksimalkan tugas praktek serta menerapkan trial and error sebagai pendalaman materi mahasiswa. Karena porsi praktek di matkul (mata kuliah -red) saya lebih utama,” tambahnya saat ditemui VISI.

Widi berharap bahwa semester ganjil ini tidak akan terjadi kendala dalam berbagai bidang termasuk sistem pembelajaran nantinya. (Prissilia Novi)

Senin, 17 Agustus 2020

Mengenal Sejarah dan Makna Lomba Tujuhbelasan

Mengenal Sejarah dan Makna Lomba Tujuhbelasan

 

Dok.Internet/Suara.com

Lpmvisi.com,Solo-17 Agustus merupakan tanggal yang bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Pada tanggal tersebut, bangsa ini memproklamasikan diri sebagai bangsa yang merdeka setelah terbelenggu oleh penjajahan sekian lama. Tak heran, kehadirannya setiap tahun selalu disambut dengan gegap-gempita. Mulai dari menghias gapura hingga berbagai macam lomba.

Membahas mengenai lomba, hal ini sepertinya sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dengan penyambutan hari kemerdekaan. Bahkan, ada sebagian masyarakat yang merasa kurang lengkap bila merayakan kemerdekaan tanpa lomba. Lomba dalam menyambut hari kemerdekaan ini sangat khas, seperti balap karung, panjat pinang dan juga tarik tambang. Pernah bertanya-tanya sejak kapan tradisi lomba ini ada di Indonesia?

Dilansir dari Kompas, sejarawan dan budayawan, JJ. Rizal, mengatakan, tradisi lomba ini muncul di tahun kelima setelah kemerdekaan tepatnya pada tahun 1950. Masyarakat pada waktu itu sangat antusias dalam menyambut hari kemerdekaan dengan berbagai macam lomba, tidak terkecuali juga Ir. Soekarno selaku presiden pada saat itu.

Lomba yang ada pada acara "tujuhbelasan" juga memiliki makna tersendiri. Seperti lomba tarik tambang yang menggambarkan gotong royong yang dilakukan bangsa Indonesia dalam menghadapi penjajah. JJ. Rizal juga menjelaskan bahwa lomba egrang bermaksud untuk menyindir penjajah Belanda yang mempunyai postur badan tinggi.

Ada lagi lomba balap karung. Kalau lomba ini lebih erat hubungannya dengan penjajahan zaman Jepang. Saking sulitnya kehidupan ekonomi pada masa itu, masyarakat menjadikan karung goni sebagai bahan pakaian mereka sehari-hari. Lomba balap karung menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia pasca kemerdekaan sudah tidak menggunakan bahan karung goni lagi untuk memenuhi kebutuhan sandang mereka.

Dan yang paling khas dari lomba 17 Agustus adalah panjat pinang. Lomba panjat pinang mengandung sejarah kelam di baliknya. Pada zaman dahulu, Bangsa Belanda menjadikan lomba ini sebagai ajang olok-olok bagi kaum pribumi. Mereka meletakkan berbagai barang berharga pada saat itu seperti susu, keju, gula, dan pakaian untuk digantungkan pada pohon pinang yang tinggi dan dilumuri dengan minyak dan oli agar para pribumi kesulitan dalam mengambilnya. Kesulitan pribumi yang merebutkan barang-barang itulah yang menjadi hiburan bagi para kolonialisme Belanda. Namun, hal ini juga mengajarkan kita tentang kerja keras dan kerja sama untuk mendapatkan hal yang kita inginkan.

Ternyata banyak sejarah dan filosofi dalam lomba yang selama ini kita lakukan. Tapi di balik itu semua, sudah seharusnya kita lebih menghargai perjuangan orang-orang terdahulu dalam meraih kemerdekaan. Sekarang adalah tugas kita untuk mempertahankan dan memajukan negara yang sudah dibela dengan keringat, darah, dan air mata.  (Tiara)


Memaknai Kemerdekaan: Lebih dari Sekadar Seremoni

Memaknai Kemerdekaan: Lebih dari Sekadar Seremoni

 

Dokumentasi pelaksanaan upacara peringatan 74 tahun Indonesia merdeka tahun 2019, Halaman Rektorat, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Dok.Visi/Gede

Lpmvisi.com, Solo - Hari ini, 17 Agustus 2020, Indonesia memperingati hari ulang tahun kemerdekaan yang ke-75. Peringatan kemerdekaan tahun ini menjadi cukup berkesan mengingat kini Indonesia sedang diuji masalah pandemi, ancaman resesi, hingga rancangan undang-undang yang penuh kontroversi. Di tengah keruhnya suasana, kita diminta untuk berhenti sejenak mengheningkan cipta. Mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan dan mengingat kembali tujuan-tujuan kita sebagai bangsa yang merdeka. Hal ini membuat hari ulang tahun Indonesia kali ini makin bermakna. 

Dalam gempita semangat kemerdekaan, VISI menanyakan makna kemerdekaan bagi pemuda saat ini. Brilyan Duta, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) memaknai kata “merdeka” sebagai kondisi yang bebas dari pemaksaan dan represi. Menurutnya, bebas dari pemaksaan ini juga termasuk bebas dalam menyuarakan pendapat dan berserikat. “Selain itu, merdeka juga berarti terjaminnya hak asasi, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk bekerja, mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan,” ujar Duta.

Sementara itu bagi Lintang Madani, Mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UNS menuturkan bahwa kemerdekaan baginya adalah keadaan ketika kita merasa terbebaskan untuk memilih jalan hidup sendiri. “Untukku pribadi, aku ingin meraih kemerdekaan dari rasa malas. Karena rasa malas itu menjadi hambatan terbesar untuk bisa mencapai tujuan hidup, mulai dari hal paling kecil sampai hal yang besar,” ujar Lintang ketika dihubungi VISI pada Senin (17/8/2020).

Ketika ditanya soal harapan untuk Indonesia, Lintang berharap di usia Indonesia yang ke-75 ini tidak ada lagi konflik yang timbul karena perbedaan. Menurut Lintang, kemerdekaan Indonesia bisa diraih karena kuatnya persatuan dari keanekaragaman yang ada. Baik suku, agama, ideologi, dan lainnya. “Menurutku, justru keberagaman yang ada di Indonesia itu harus kita embrace dan jadikan sebagai kekuatan,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Lintang berharap agar Indonesia segera pulih dari pandemi dan tidak ada lagi pihak-pihak yang memanfaatkan keadaan demi kepentingan pribadi atau golongan. Ia juga menyatakan, Indonesia punya banyak sekali potensi yang ia harap dapat lebih diapresiasi dan berkembang di bidang apapun.

Sementara itu, Duta berharap di usia Indonesia yang ke-75 ini, masyarakat semakin sadar atas nilai kebersamaan dan gotong royong membangun lingkungan. Ia juga memiliki mimpi agar bangsa ini dapat rukun, bertoleransi, dan saling mengambil peran untuk membuat hebat bangsa ini dengan cara masing-masing.

Menurut Duta, masih banyak PR untuk Indonesia jadi betul-betul merdeka. Masih banyak hak asasi manusia yang belum terpenuhi. Masih banyak kasus pelanggaran HAM di masa lalu yang belum terselesaikan, juga tindakan represif aparat maupun penguasa kepada rakyat. “Aku harap tidak ada pengebirian hak-hak manusia di dunia, khususnya pada warga Indonesia,” ujar Duta..

Duta juga berharap agar warga sipil Indonesia lebih dilibatkan dalam ruang-ruang dialog dan diskusi untuk perumusan kebijakan dan diberi jaminan untuk bebas menyampaikan pendapat. “Aku berharap Indonesia bisa mengejar ketertinggalan dalam praktik demokrasi yang sejati, dan rakyatnya bisa hidup rukun dan bertoleransi sehingga Indonesia menjadi tempat yang aman dan nyaman ditinggali oleh semua golongan.” pungkasnya.

Menjadi bangsa yang maju perlu semangat juang dan rasa persatuan yang tinggi dari seluruh rakyatnya. Semoga kita dapat memaknai kemerdekaan bukan hanya sebagai seremonial tahunan, namun mengimplementasikan dalam wujud konkret menuju Indonesia yang benar-benar merdeka dan berdaulat. (Ola)


UNS Gelar Upacara Peringatan Kemerdekaan Secara Daring

UNS Gelar Upacara Peringatan Kemerdekaan Secara Daring

Pelaksanaan upacara peringatan kemerdekaan Indonesia secara daring di Auditorium UNS. (Dok. Gede)

Lpmvisi.com, Solo- Suasana pandemi bukan halangan bagi civitas akademika Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk tetap merayakan kemerdekaan. Upacara daring dan luring menjadi pilihan.

Peringatan 75 tahun Kemerdekaan Indonesia tahun ini berbeda dari peringatan tahun-tahun sebelumnya. UNS menyelenggarakan upacara peringatan kemerdekaan Indonesia secara daring dan luring pada Senin (17/08/2020). Hal ini terjadi akibat pandemi Covid-19. Tak hanya itu, dalam upacara kali ini, UNS membatasi jumlah peserta yang hadir. Peserta yang menghadiri upacara adalah rektor beserta jajarannya dan Dharma Wanita Persatuan UNS.

Upacara peringatan kemerdekaan diselenggarakan di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram dan disiarkan melalui Zoom Meeting,  kanal Youtube Universitas Sebelas Maret dan akun Instagram @uns.official. Meskipun terdapat banyak keterbatasan, upacara ini tetap berlangsung dengan khidmat.


Upacara juga dapat disaksikan melalui live streaming lewat aplikasi Zoom. (Dok. Riga)

Proses pengibaran bendera dilaksanakan oleh anggota Paskibra UNS. Proses pengibaran merupakan rekaman video yang sudah direkam sebelumnya. Pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dilakukan oleh Rektor UNS,  Prof. Jamal Wiwoho, S.H, M.Hum., selaku inspektur upacara. Dilanjutkan pembacaan teks Pancasila oleh Ketua Senat UNS, Prof. Dr. Trisno Martono, M.M. Kemudian pembacaan teks Pembukaan UUD 1945 oleh Sekretaris Senat UNS, Prof. Drs. Hasan Fauzi, MBA, Ph.D., Ak. Upacara pun ditutup dengan pembacaan doa yang dibacakan oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama, Prof. Dr.rer.nat. Sajidan, M.Si.


Sambutan yang dibacakan oleh Rektor UNS. (Dok. Gede)


        Situasi Indonesia
saat ini yang sedang dilanda musibah Covid-19, memantik berbagai harapan untuk Indonesia di hari kemerdekaan tahun ini. Arlin Kuncoro Diharjo, selaku perwakilan dari Dharma Wanita Persatuan UNS menyampaikan bahwa hari kemerdekaan kali ini dapat menjadi titik balik bagi bangsa Indonesia untuk kembali bangkit dari musibah yang sedang terjadi. “Semoga di masa pandemi ini kita dapat bertahan dan justru bertambah menjadi sosok yang kuat. Indonesia dapat semakin kuat, maju sehingga tujuan-tujuan mulia bangsa ini dapat diwujudkan,” ujar Arlin saat ditemui VISI.

Hal senada juga diungkapkan oleh Novi Tri Astuti, tenaga kependidikan di UPT Perpustakaan UNS. Ia menyampaikan bahwa pandemi ini bukan menjadi alasan untuk tidak bersemangat dalam mengikuti serangakaian Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Walaupun hanya mengikuti live streaming dari rumah, Novi mengikuti serangkaian upacara tersebut hingga usai. “Tidak menjadi masalah apabila upacara saat ini hanya bisa dilakukan secara terbatas dan daring. Saya ingin menekankan bahwa hari kemerdekaan kali ini meskipun berbeda, justru dapat mendorong semangat kami sebagai civitas akademika UNS untuk tetap semangat dan melakukan yang terbaik untuk bangsa ini,” ujar Novi saat ditemui VISI.

Hal unik dalam upacara kali ini adalah, seluruh peserta upacara mengenakan busana adat dari berbagai daerah Indonesia. Dalam pantauan VISI, terlihat Rektor UNS mengenakan pakaian adat Nusa Tenggara Timur. Upacara kemudian diakhiri dengan pemutaran video lagu Syukur yang dinyanyikan oleh Voca Erudita UNS. (Riga, Gede)