Senin, 01 November 2021

UNS Gelar Doa Bersama untuk Gilang

UNS Gelar Doa Bersama untuk Gilang

 

Suasana berkabung tampak di rumah orang tua Gilang saat sesi doa bersama. (Dok.Internet)



    Lpmvisi.com, Solo – Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar acara doa bersama untuk memperingati tujuh hari kepergian Mahasiswa Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Sekolah Vokasi UNS, Gilang Endi Saputra (21), yang tewas saat mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) Resimen Mahasiswa (Menwa). Acara berlangsung secara hybrid, yakni di rumah duka sebagai tempat berkumpul luring dan aplikasi Zoom sebagai tempat berkumpul daring. Doa bersama untuk Gilang juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Universitas Sebelas Maret pada Sabtu (30/10/2021).

    "Alhamdulillah kita bisa berkumpul bersama-sama di Rumah Bapak Sunardi untuk mendoakan Mas Gilang yang pada hari ini tepat dengan 7 hari kepergiannya. Semoga Allah menerima almarhum di sisi-Nya," ungkap pemimpin doa, Syafaat.

    Doa bersama untuk Gilang dihadiri oleh Rektor UNS Jamal Wiwoho, Perwakilan MWA UNS, dosen dari berbagai fakultas, serta mahasiswa seperjuangan Gilang. Tampak suasana khidmat dan berkabung menyelimuti rumah duka ketika acara berlangsung.

    "Kami turut berduka atas meninggalnya Gilang Endi Saputra, mahasiswa K3 Sekolah Vokasi UNS. Mudah mudahan Husnul khatimah. Aamiin," ucap Jamal saat menyampaikan sambutan usai pembacaan surat Yasin dan tahlilan berakhir.

    Jamal menegaskan seluruh pimpinan UNS menyerahkan semuanya kepada pihak berwajib terkait dengan siapa yang harus bertanggung jawab atas musibah yang menimpa Gilang.

"Mudah-mudahan keluarga bisa ikhlas dan menerima takdir ini," pungkasnya.(Mijen)

 


Rabu, 27 Oktober 2021

Soal Hasil Konfrensi Pers Meninggalnya Gilang, Presiden BEM UNS : Belum Ada Kesiapan Data

Soal Hasil Konfrensi Pers Meninggalnya Gilang, Presiden BEM UNS : Belum Ada Kesiapan Data

 

Ilustrasi tuntutan mahasiswa (Dok.Gede)


    Lpmvisi.com, Solo - Universitas Sebelas Maret (UNS) akhirnya menggelar konferensi pers mengenai kasus meninggalnya Mahasiswa Sekolah Vokasi UNS, Gilang Endi Saputra usai mengikuti Pedidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Resimen Mahasiswa (Menwa) pada Minggu (24/10/2021). Pernyataan UNS dalam jumpa pers tersebut dirasa sebagian pihak belum menjawab semua pertanyaan yang muncul saat ini.

    Salah satu pihak tersebut adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS. BEM UNS mengaku kurang puas dengan penjelasan yang disampaikan saat konferensi pers tersebut. Presiden BEM UNS, Zakky Musthofa Zuhad, mengatakan, pihak kampus kurang melakukan investigasi lebih lanjut dan hanya menyampaikan asumsi panitia Diklatsar Menwa.

    “Kampus pada saat konferensi pers belum punya kesiapan data jadi hanya sekedar asumsi dari panitia, kemudian tanpa ada investigasi dari pihak yang lain. Jadi menurut saya itu agak prematur untuk kemudian disampaikan sehingga kurang memuaskanlah dari kawan-kawan mahasiswa”, ungkap Zakky saat ditemui VISI, Selasa (26/10/2021).

    Zakky menambahkan, pihaknya akan berkonsolidasi dengan pihak-pihak terkait untuk mendapatkan kejelasan sebagai tindak lanjut tuntutan BEM UNS.

   “Kami akan mengkonsolidasi pembicaraan kawan-kawan. Mungkin besok akan ada kejelasan melalui komunikasi dengan pihak-pihak yang terkait entah dari keluarga, dari polres, dari kampus, dari mahasiswa juga akan duduk bareng untuk menghadirkan titik terang bersama. Tadi kampus juga menyampaikan 3x24 jam itu kita tunggu saja dari kampus seperti apa. Selebihnya komunikasi-komunikasi yang perlu kita bangun,” sambung Zakky.

    Lebih lanjut Zakky mengatakan akan memberi dukungan secara moril dan publikasi. Ia mengatakan pihaknya siap untuk membantu penggalangan dana dari mahasiswa.

    “BEM UNS akan mendukung secara moril, lalu secara sikap lembaga kita akan membantu publikasi juga. Apa yang jadi sikap kami dan fakta kejanggalan akan kami sampaikan. Lalu untuk penggalangan dana yang diusulkan mahasiswa bisa kita dukung bersama. Insya Allah untuk kasus ini apapun semampu BEM UNS akan kita bantu,” pungkas Zakky. (Bagas)

Aliansi Mahasiswa UNS Gelar Aksi Nyalakan 100 Lilin untuk Gilang

Aliansi Mahasiswa UNS Gelar Aksi Nyalakan 100 Lilin untuk Gilang


Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UNS menggelar aksi menyalakan lilin di Boulevard UNS, Selasa (26/10/2021) malam. (Dok.Gede)


    Lpmvisi.com, SoloSejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar aksi menyalakan 100 lilin di Boulevard UNS, Selasa (26/10/2021) malam. Aksi ini merupakan buntut dari kematian Mahasiswa UNS, Gilang Endi Saputra (21) yang meninggal usai mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) yang digelar Resimen Mahasiswa (Menwa) pada Minggu (24/10/2021).

    Salah satu panitia acara, Elang Muhammad Fikhri mengatakan, acara ini bertujuan untuk menyatakan sikap atas kejadian yang dialami Gilang.

  “Di sini kami menyatakan sikap, membacakan doa, dan menuntut rektorat agar secepat-cepatnya melakukan klarifikasi siapapun pelakunya,” tutur Elang.

    Simbolisasi 100 lilin sendiri dimaknai sebagai ungkapan duka cita atas kematian Gilang. Selain menyalakan lilin, sejumlah mahasiswa melakukan orasi orasi dan membacakan tuntutan kepada pihak kampus dan Menwa untuk segera memberi kejelasan terhadap peristiwa yang menimpa Gilang.

    Lingga (20), salah satu teman sekelas Gilang, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak kampus dan Menwa karena masih bungkam atas kematian temannya tersebut.

    “Kami menuntut kampus dan mereka (Menwa-red) untuk segera bertanggung jawab atas kematian teman kami. Karena ini benar-benar diluar nalar,ujar Lingga saat ditemui VISI.

    Kekecewaan terhadap kasus ini juga dirasakan oleh peserta aksi lainnya yakni Burhan (21). Burhan menyayangkan tidak adanya transparansi dari kampus dan Menwa terhadap kasus ini.

    “Harusnya kampus bisa lebih transparan lagi terhadap kasus ini. Dan juga harus ada regulasi yang jelas agar kejadian semacam ini tidak terulang, ungkap Burhan saat ditemui VISI.

    Hingga berita ini diturunkan, pihak kampus dan Menwa UNS hanya memberikan tanggapan berupa kronologi kasus ini. Pihak kampus menyerahkan kasus ini kepada kepolisian agar diusut secara tuntas. Belum ada kejelasan mengenai sanksi yang akan diberikan kepada Menwa ataupun 21 panitia yang terlibat dalam acara Diksar Menwa tesebut. (Falah).


Kronologi Meninggalnya Gilang Peserta Diksar Menwa: Sempat Alami Sakit Punggung

Kronologi Meninggalnya Gilang Peserta Diksar Menwa: Sempat Alami Sakit Punggung

 


Meninggalnya Gilang (21) usai mengikuti Diksar Menwa menimbulkan tanda tanya terkait kronologi kejadian tersebut. UNS akhirnya merilis kronologi versi panitia dalam jumpa pers Selasa (26/10/2021). (Dok.Gede)


    Lpmvisi.com, Solo – Kasus meninggalnya Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), Gilang Endi Saputra (21) usai mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) Resimen Mahasiswa (Menwa) menuai tanda tanya dari berbagai pihak mengenai kronologi kejadian. Meskipun Menwa belum angkat bicara, jajaran Rektorat UNS merilis kronologi kematian mahasiswa Sekolah Vokasi tersebut melalui konferensi pers yang digelar Selasa (26/10/2021).

    Kronologi tersebut disusun berdasarkan pengakuan panitia pada Senin (25/10/2021) saat dikumpulkan oleh pihak kampus dan dimintai keterangan oleh Polsek Jebres dan Polresta Solo.

    “Kami akan menyampaikan apa yang kami ketahui yang bersumber dari pengakuan pihak panitia” ujar Direktur Reputasi Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Sutanto.

    Sutanto mengatakan Diksar sedianya dilakukan tanggal 23 – 31 Oktober 2021. Kegiatan dimulai pada tanggal 23 Oktober. Agenda pada hari itu ialah penyambutan pada pukul 06.00 WIB dan berakhir pukul 23.00 WIB. Sutanto mengatakan acara dilaksanakan di lingkungan kampus UNS.

   “Penyambutan ada di markas mereka. Kemudian bergerak ke GOR Kampus, lalu ke Musala Fakultas Teknik. Dari Musala Fakultas Teknik kemudian menuju jembatan di danau, jelas Sutanto.

   Menurut Sutanto, Gilang mengikuti seluruh kegiatan di hari itu. Tetapi Gilang sempat mengeluhkan kram di kakinya. Pihak Menwa pun menyikapi dengan mencarikan seorang pendamping. Hingga titik itu, Sutanto mengatakan belum ada tanda-tanda kelelahan.

    Pada tanggal 24 oktober, kegiatan dimulai dari subuh untuk senam senjata dan apel pagi. Setelah itu, kegiatan diksar mulai dilakukan di luar kampus, yaitu di jembatan jurug.

  “Kegiatannya saya tidak tahu apa namanya, meluncur menggunakan tali dari atas ke bawah,lanjut Sutanto.

    Sutanto menambahkan Gilang masih mengikuti kegiatan tersebut. Setelah selesai dan kembali ke kampus, panitia menuturkan Gilang mengeluhkan sakit punggung. Pada pukul 14.00 WIB, Gilang mendapat perawatan berupa kompres di bagian dahi.

    Disinggung mengenai informasi kesurupan yang diduga sempat terjadi dan telah beredar  di media sosial, Sutanto mengatakan pihaknya tidak tahu mengenai hal tersebut.

    “Kami tidak pernah mengatakan ada kejadian kesurupan. Kami tidak pernah pengeluarkan statement ini. Kami juga tidak tahu apakah statement ini keluar dari pihak panitia sendiri atau memang orang-orang di sekitar mengatakan bahwa yang bersangkutan (Gilang -red) mengigau dalam keadaan tidak sadar,sambung Sutanto.

    Pukul 21.00 WIB panitia berinisiatif untuk membawa Gilang ke RSUD Dr. Moewardi. Pukul 22.05 WIB, menurut pengakuan panitia, Gilang sudah tidak bernafas. Kondisi saat itu sedang di dalam mobil menuju rumah sakit. Setibanya di RSUD Dr. Moewardi, Gilang dinyatakan meninggal.

   Pihak keluarga akhirnya mendapat kabar kematian Gilang pada Senin dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Buntut dari kasus ini adalah pihak UNS akan menghentikan semua kegiatan UKM  yang berkenaan dengan fisik.

 “Sementara ini kita hentikan semua kegiatan fisik di dalam maupun di luar kampus. Kemudian, ke depannya praktik-praktik kemenwaan di kampus akan kita evaluasi, disesuaikan bahwa kampus bukan seperti militer,” pungkas Sutanto. (Muthia).


Bukan Kali Pertama, Ini Sederet Kasus Meninggalnya Peserta Diksar Menwa di Indonesia

Bukan Kali Pertama, Ini Sederet Kasus Meninggalnya Peserta Diksar Menwa di Indonesia

 




Kasus kematian Gilang Endi Saputra menambah daftar kasus kematian mahasiswa usai mengikuti Diksar Menwa di Indonesia. (Dok.Gede)



Lpmvisi.com, Solo – Mahasiswa Jurusan K3 Universitas Sebelas Maret (UNS), Gilang Endi Saputra (21) meninggal usai mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) Resimen Mahasiswa (Menwa). Menurut keterangan panitia yang disampaikan oleh pihak UNS, korban mengeluh sakit punggung setelah menyelesaikan kegiatan Diksar di Jurug. Sekembalinya ke kampus, panitia mengompres kepala korban sebagai pertolongan pertama.

“Pukul sepuluh almarhum dibawa ke Moewardi. Namun, pada pukul sepuluh lewat lima menit korban sudah tidak menghembuskan napas lagi. Setelah sampai di rumah sakit, almarhum dinyatakan telah meninggal dunia. Jadi tidak ada kasus kesurupan seperti yang diberitakan,” ungkap Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan UNS Sutanto pada Konferensi Pers, Selasa (26/10/2021).

Sementara itu, belum ada konfirmasi apapun dari Menwa sebagai penyelenggara acara serta peserta Diksar sebagai saksi. UNS sendiri menyatakan akan menyerahkan sepenuhnya penyelidikan kasus meninggalnya Gilang pada kepolisian.

Kasus kematian Gilang menambah daftar kasus kematian mahasiswa saat menjalani proses rekrutmen anggota Menwa. Berdasarkan informasi yang dihimpun VISI, kasus ini bukan kali pertama mahasiswa ditemukan tak bernyawa usai mengikuti diksar yang diselenggarakan Menwa. Berikut ini rangkuman beberapa kejadian diksar menelan korban di Indonesia:

1. Mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) tewas saat mengikuti Diksar Menwa

Pada tahun 2015, seorang mahasiswi jurusan Fisika bernama Piky Puspitasari tewas saat mengikuti diksar. Piky diduga tewas pada hari kedua Diksar akibat mengalami kelelahan. Sebelum meninggal, Piky sempat pingsan dua kali dan saat dilarikan ke rumah sakit, nyawanya tak tertolong. Kasus Piky ini diselesaikan secara kekeluargaan dan pihak keluarga tidak menginginkan adanya visum terhadap jasad korban.

2. Meninggalnya Mahasiswa Universitas Taman Siswa (Unitas) Palembang saat melakukan Diksar

Kejadian tersebut terjadi pada tahun 2019. Korban yang meninggal bernama Muhammad Akbar (19), mahasiswa Fakultas Hukum Unitas. Akbar mendapat siksaan dari panitia berupa tendangan keras ke arah kemaluan korban. Akibatnya, korban sempat berguling-guling sambil memegang Kemaluannya karena merasa kesakitan. Tak hanya itu, kaki dan tubuh korban diikat menggunakan tali tambang oleh salah satu senior yang ada di lokasi. Polisi menetapkan tiga panitia sebagai tersangka berdasarkan hasil visum dan otopsi dokter forensik dari Polda Sumatera Selatan. Pasal yang diterapkan kepada tersangka adalah pasal 170 dan 351 ayat 3 KUHP. Orang tua korban berharap tersangka dihukum dengan hukuman yang setimpal, yakni hukuman mati.

3. Mahasiswa Universitas Jayabaya meninggal saat mengikuti Diksar Menwa

Seperti halnya Akbar, kejadian mahasiswa meninggal saat mengikuti Diklat Menwa juga terjadi pada Bagaskara di tahun yang sama. Korban dilarikan ke RSUD Cempaka Putih sekitar pukul 11.30. Namun dalam perjalanan, korban sudah dinyatakan meninggal dunia. Akan tetapi pada kasus ini polisi tidak menemukan adanya tindak kekerasan, melainkan korban meninggal karena menderita penyakit hernia.

4. Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tewas di hari terakhir mengikuti longmarch saat Diksar Menwa

Seorang mahasiswi UMS bernama Nailah Khalisah dinyatakan tewas setelah mengikuti longmarch di hari terakhir Diksar. Nailah meninggal pada 4 April 2021. Sebelum meninggal, Naila sempat mengeluhkan kapalan di kakinya pecah. Belum genap 100 meter, Naila sudah berjalan dengan tertatih-tatih. Melihat hal itu, pihak Menwa berinisiatif untuk membawa Nailah ke barisan paling depan menggunakan sepeda motor dan memberinya minum. Baru melanjutkan beberapa langkah saja, Nailah berhenti untuk meminta pembalut yang akan dijadikan bantalan kaki. Tak berselang lama, Nailah tak sadarkan diri. Pihak Menwa langsung membawanya ke puskesmas menggunakan mobil. Akan tetapi, karena peralatan di puskesmas sangat minim, dirujuklah Naila ke Rumah Sakit UNS. Nailah  sempat ditangani oleh dokter di Unit Gawat Darurat (UGD), namun kurang lebih tiga puluh menit kemudian, dokter menginformasikan bahwa Nailah telah meninggal dunia.

Terlepas dari penyebab meninggalnya mahasiswa-mahasiswa melalui tindak kekerasan atau tidak, kegiatan Diksar yang dilakukan oleh Menwa sangat menguras tenaga dan fisik, sehingga banyak korban berjatuhan. Masyarakat terutama Mahasiswa UNS berharap agar kasus ini dapat diusut tuntas. Keadilan harus diberikan bagi keluarga korban. (Mijen).

Selasa, 26 Oktober 2021

BEM SV UNS Akan Mengawal Kasus Meninggalnya GE Hingga Tuntas

BEM SV UNS Akan Mengawal Kasus Meninggalnya GE Hingga Tuntas


BEM SV UNS siap mengawal kasus kematian GE saat mengikuti Diklatsar Menwa UNS hingga tuntas. (Dok.Nur Afif/Fisip)


    Lpmvisi.com, Solo – Meninggalnya Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) berinisial GE (21) saat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Resimen Mahasiswa UNS (Menwa) pada Minggu (24/10/2021) membuat sejumlah pihak geram. Hal ini lantaran muncul dugaan kekerasan yang dialami korban karena terdapat luka dan memar pada tubuh korban.

    Menanggapi kasus ini, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Vokasi (BEM SV) UNS, Dessy Latifatul Layla pun angkat bicara. Ia mengatakan BEM SV UNS berkomitmen untuk mengawal kasus ini dan mendesak kampus untuk segera memberikan kejelasan.

    “BEM SV akan terus mendesak kampus untuk memberikan pernyataan dan juga akan mendesak kampus untuk melakukan pendampingan kepada korban serta memberikan apapun yang seadil-adilnya untuk korban karena kasus ini tidak bisa dilepas begitu saja tapi kita akan kawal kasus ini sampai korban benar-benar mendapatkan keadilan,” ungkap Dessy saat dihubung VISI, Selasa (26/10/2021).

    Dessy menambahkan BEM SV UNS sudah menyiapkan Lembaga Badan Hukum (LBH) untuk memberikan bantuan advokasi kepada keluarga korban apabila memang dibutuhkan.

    “Untuk advokasi kita sudah menyediakan LBH tetapi nanti akan kita tawarkan dulu kepada keluarga apakah berkenan atau tidak,” sambung Dessy.

    Selain itu, BEM SV UNS turut mengeluarkan pernyataan sikap yang dirilis melalui Instagram resmi BEM SV UNS. Rilis tersebut memuat enam poin tuntutan BEM SV UNS yang ditujukan kepada pihak Rektorat UNS. Adapun keenam poin tersebut ialah:

  1. Mendesak pihak UNS dan Korps Mahasiswa Siaga Batalyon 905 Jagal Abilawa untuk segera memberikan keterangan pers terkait kasus meninggalnya GE pada kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Dasar Pra Gladi Patria XXXVI Korps Mahasiswa Siaga Batalyon 905 Jagal Abilawa Tahun 2021.
  2. Menuntut pihak UNS dan Korps Mahasiswa Siaga Batalyon 905 Jagal Abilawa untuk bertanggung jawab atas meninggalnya GE.
  3. Menuntut pihak UNS bersikap transparansi terhadap segala bentuk tindak pidana dan informasi terkait meninggalnya GE.

  4. Menuntut UNS untuk mendukung penuh proses hukum dan tidak menutup-nutupi segala bentuk tindak pidana yang menyebabkan meninggalnya GE.

  5. Mengajak seluruh mahasiswa UNS untuk ikut serta dalam pengawalan kasus GE dan Korps Mahasiswa Siaga Batalyon 905 Jagal Abilawa.Lebih lanjut, Dessy berharap kasus ini tidak terjadi kembali di kemudian hari.

    Lebih lanjut, Dessy berharap kasus ini tidak terjadi kembali di kemudian hari.

“Kita juga mengajak teman-teman semua untuk ikut serta mengawal kasus ini karena tidak bisa jika kasus ini hanya dikawal oleh satu pihak atau dua belah pihak saja, tapi kita juga harus bareng-bareng mengawal kasus ini agar tidak ada lagi kejadian yang seperti ini yang bakal terulang,” pungkas Dessy. (Bagas).

UNS Gelar Jumpa Pers Terkait Tewasnya "GE" Usai Diksar Menwa

UNS Gelar Jumpa Pers Terkait Tewasnya "GE" Usai Diksar Menwa

UNS gelar konferensi pers menanggapi kasus tewasnya mahasiswa Jurusan K3 UNS berinisial GE (21), Selasa (26/10/2021). (Dok.Gede)

 Lpmvisi.com, Solo - Universitas Sebelas Maret (UNS) akhirnya angkat bicara terkait kasus meninggalnya mahasiswa Jurusan K3 berinisial GE (21) usai menjalani kegiatan Pendidikan Dasar (diksar) Pra Gladi Patria XXXVI Menwa UNS Resimen Mahasiswa UNS (Menwa), Selasa (26/10/2021). Hadir dalam jumpa pers Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Ahmad Yunus

Yunus mengatakan UNS turut berbela sungkawa atas meninggalnya GE. Pihaknya sampai saat ini menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada pihak kepolisian.

“Untuk sepenuhnya kami menyerahkan ke pihak kepolisian,” ujar Yunus. 

Yunus mengungkapkan terdapat 21 panitia yang dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Selain panitia, beberapa pihak lain seperti anggota senior hingga pembina turut dimintai keterangan.

“Ada 21 panitia yang sedang dimintai keterangan pihak kepolisian. Senior, pembina juga dimintai keterangan,” beber Yunus. 

Tak hanya itu, dalam keterangan pers tersebut, Yunus merilis kronologi kejadian tersebut. Namun Yunus hanya menceritakan kronologis berdasar keterangan panitia di mana kronologi tersebut telah beredar melalui aplikasi WhatsApp. 

Selain menjelaskan mengenai kronologi, Yunus mengaku dirinya mengikuti prosesi persemayaman jenazah. Akan tetapi, berbeda dari kesaksian keluarga, Yunus mengatakan tidak ada tanda-tanda luka pada tubuh korban. 

“Saya sempat melihat kondisi jenazah sebelum dibawa ke rumah sakit. Kami tidak melihat ada luka atau lebam. Kami menunggu hasil autopsi dari rumah sakit,” sambung Yunus. 

Ihwal kondisi tubuh korban sendiri telah dikonfirmasi kepada pihak keluarga yang menyatakan terdapat beberapa memar dan perdarahan pada tubuh korban. 

Hingga kini, Yunus mengaku pihak kampus telah menyegel Sekretariat Menwa UNS dan membekukan kegiatan menwa untuk sementara waktu. Pihaknya juga memberikan bantuan pendampingan hukum bagi keluarga korban. 

Disinggung mengenai kemungkinan pembekuan sementara kegiatan menwa hingga pembubaran menwa, UNS akan mengambil sikap tegas jika ditemukan pelanggaran dalam kasus ini.

“Kami pun juga bergerak. Kalau memang itu kelalaian atau bahkan kesengajaan dan itu dilakukan murni secara bersama-sama, maka kita harus mengambil sikap tegas karena urusan ini sudah menyangkut urusan manusia. Hal seperti itu tidak bisa ditolerir,” pungkas Yunus. (Disti)


Senin, 25 Oktober 2021

Mahasiswa UNS Meninggal Usai Mengikuti Diksar Menwa

Mahasiswa UNS Meninggal Usai Mengikuti Diksar Menwa

 

Sebuah poster berisi tuntutan untuk mengusut tuntas kasus meninggalnya Mahasiswa UNS yang mengikuti Diksar Menwa UNS terpasang di Boulevard UNS, Senin (25/10/2021) malam. (Dok.Nur Afif/Fisip)

Lpmvisi.com, Solo – Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) bernama Gilang Endi Saputra (21) meninggal usai mengikuti pendidikan dasar (diksar) Resimen Mahasiswa UNS (Menwa) di Jurug, Minggu (24/10/2021).

Menurut informasi yang dihimpun VISI, korban sempat mengalami kejang-kejang saat menjalani kegiatan diksar. Belum diketahui secara pasti penyebab meninggalnya mahasiswa Jurusan K3 UNS itu.

Pihak keluarga menduga Gilang mengalami kekerasan sebelum akhirnya meninggal. Hal ini diungkapkan pihak keluarga saat menerima jenazah di rumah duka, Senin (25/10/2021).

"Kondisi korban mukanya sudah memar, banyak mengeluarkan darah. Di tengkuk juga ada luka," ujar ayah Gilang, Sadarno, melalui detik.com, Senin (25/10/2021).

Melihat banyaknya luka pada tubuh Gilang membuat keluarga merasa janggal. Keluarga akhirnya melaporkan kasus ini ke Polresta Karanganyar dan akan ditangani bersama Polresta Solo.

Pihak keluarga saat ini tengah menanti hasil otopsi Satreskrim Polresta Solo. Tak hanya itu, Satreksrim Polresta Solo berencana akan memanggil seluruh pihak yang terlibat guna menyelidiki kronologi kasus tersebut.

Sebelumnya Gilang mengikuti acara Diksar Menwa UNS yang bernama Pendidikan Pra Gladhi Patria XXXVI. Kegiatan yang diikuti Gilang tersebut sedianya akan berlangsung tanggal 23-31 Oktober 2021. Kegiatan tersebut dilaksanakan di lingkungan kampus dan area Jurug.

Kegiatan yang diikuti 12 orang tersebut akhirnya dihentikan pasca meninggalnya Gilang. Pihak kampus mengatakan sejumlah panitia tengah menjalani proses pemeriksaan.

"Kami sedang mendata siapa saja panitianya, kemudian kita jadwalkan untuk pemeriksaan saksi-saksi,” ujar Kasat Reskrim Polresta Solo, AKP Djohan Andika melalui detik.com. (Gede)

Minggu, 03 Oktober 2021

BEM FISIP UNS Ajak Mahasiswa Wujudkan Demokrasi di Era Digital

BEM FISIP UNS Ajak Mahasiswa Wujudkan Demokrasi di Era Digital

 

Materi yang disampaikan oleh Gloria Fransisca dalam diskusi yang diselenggarakan oleh BEM FISIP UNS (Dok.Disti)

Lpmvisi.com, Solo - Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret (BEM FISIP UNS) mengajak mahasiswa untuk mewujudkan demokrasi di era digital. Ajakan tersebut disampaikan melalui diskusi isu strategis dengan tema Kontroversi Kebebasan Berekspresi : Pembatasan Aktivisme Konvensional Hingga di Ruang Digital pada Rabu (29/09/2021).

Diskusi kali ini menghadirkan Dosen FISIP UNS, Rezza Dian Akbar dan Perwakilan Aliansi Jurnalis Independen, Gloria Fransisca sebagai pembicara.

Dalam pemaparannya, Rezza, menjelaskan bagaimana demokrasi seharusnya berjalan dan merefleksikan pada keadaan Indonesia saat ini. 

“Demokrasi itu kedaulatan yang eksis atau dipegang oleh rakyat. By people,” ujar Rezza.

Rezza menegaskan esensi demokrasi adalah ketika rakyat diberi kebebasan berpendapat atau berekspresi dalam bentuk apapun. Menurutnya, kritik merupakan control mechanism dan dijamin oleh undang-undang.  Karena itu, negara tidak boleh menindak siapapun hanya karena itu dianggap mengganggu.

“Kritik itu bentuk control mechanism, dijamin undang-undang. Rakyat bebas berpendapat atau berekspresi dan negara tidak bisa menindak hanya karena dia nggak comfortable,” sambung Rezza.

Menyoal sikap negara yang represif, Rezza mengatakan sikap tersebut tidak dapat dibenarkan karena akan membuat rakyat takut untuk bersuara dan merasa terancam. Rezza menganggap reaksi pemerintah belakangan ini tidak demokratis dan mengancam demokrasi di Indonesia. 

Selain dari sudut pandang akademisi, diskusi kali ini juga membahas demokrasi dari sudut pandang jurnalisme. Gloria Fransisca dari Aliansi Jurnalis Independen mengatakan kekerasan terhadap wartawan pada tahun 2020 naik dan menjadi yang tertinggi. 

Tak hanya kekerasan terhadap wartawan, di era digital saat ini media dihadapkan pada media lain yang menyajikan informasi yang tidak kredibel. Masyarakat yang hanya bermodal “click and share” tanpa membaca keseluruhan isi berita, dan perlombaan kuantitas berita, bukan pada kualitas. Gloria menambahkan, perubahan model bisnis media juga menjadi tantangan tersendiri pada era digital.

“Media saat ini mengejar kuantitas, bukan kualitas. Siapa yang paling cepat dan banyak memproduksi berita. Karena hal tersebut, media memberitakan hal-hal yang sama sekali tidak penting dan tidak memiliki nilai berita,” beber Gloria.

Gloria menginginkan masyarakat untuk memiliki sikap skeptis dan menjadi konsumen cerdas agar demokrasi yang bergizi bisa terwujud.

“Kita harus skeptis dan jadi konsumen cerdas. Ini penting karena dengan skeptis, kita tidak akan buru-buru menyebarkan berita. Dan juga, kami mengharapkan kritik dari masyarakat terhadap berita, bukan jurnalis sebagai individu,” pungkas Gloria. (Disti)
Sosial Ngobral Ajak Mahasiswa Peduli Kekerasan Seksual di Kampus

Sosial Ngobral Ajak Mahasiswa Peduli Kekerasan Seksual di Kampus

 

Angka statistik menunjukkan jumlah kasus kekerasan yang diterima Komnas Perempuan dalam kurun waktu 2017-2020 (Dok.Hida)

Lpmvisi.com, Solo – Kementerian Sosial Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Sebelas Maret (UNS) mengajak mahasiswa UNS untuk peduli terhadap isu kekerasan seksual di lingkungan kampus. Hal ini disampaikan saat menggelar Webinar Sosial Ngobral #2 pada Minggu, (26/03/2021).

Webinar yang mengusung tema “Urgensi RUU PKS Terkait Kekerasan Seksual di Kampus” ini menghadirkan Komisioner Komnas Perempuan, Tiasri Wiandani, S.E., S.H, dan Konselor Psikologi Rifka Annisa WCC, Amalia Rizkyarini, S.Psi.

Dalam webinar kali ini, Tiasri memaparkan latar belakang pembentukan Lembaga Hak Asasi Manusia (HAM) Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) yang bertujuan untuk mengembangkan kondisi yang kondusif bagi penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan penegakan HAM, khususnya hak asasi perempuan di Indonesia.

Dalam catatan tahunan Komnas Perempuan, terdapat 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama 2019. Angka tersebut merupakan fenomena gunung es.

Tiasri menjelaskan kasus kekerasan terhadap perempuan juga seringkali terjadi di dunia maya atau dikenal dengan sebutan Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) berbasis siber. Kasus ini seringkali berhubungan dengan tubuh perempuan yang dijadikan objek pornografi dengan cara menyebarkan foto atau video pribadi di media sosial atau website pornografi. Dalam catatan tahunan Komnas Perempuan, terdapat 281 kasus di 2019 dan 942 kasus di 2020.

Trias menambahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) telah berubah nama menjadi Rancangan Undang-Undang (RUU) Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Tujuan dari RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual yakni mencegah segala bentuk tindak pidana kekerasan seksual. Selain itu juga untuk menangani, melindungi, dan memulihkan korban, serta menindak pelaku, dan mewujudkan lingkungan bebas dari kekerasan seksual.

“Tujuan dari RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual menjadi payung hukum yang lebih komprehensif karena tidak hanya berbicara mengenai pemidanaan, tetapi juga memuat subtansi pencegahan, penanganan, pemulihan. Hal ini karena dalam KUHP belum ada satu pasalpun yang memberikan akses hak bagi korban. Padahal pemberian akses hak bagi korban merupakan sesuatu yang substansif dan mendesak,jelas Tiasri.

Hal senada turut diungkapkan oleh pembicara kedua, Amalia yang memaparkan Urgensi RUU PKS terkait kekerasan seksual di kampus. Menruutnya, angka kekerasan seksual merupakan fenomena gunung es. Hal ini diketahui dari survei terhadap mahasiswa beberapa universitas di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dari 324 responden dalam survei tersebut, hanya ditemukan 163 kasus mahasiswa yang mengalami, mendengar, dan melihat kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus. Sedangkan 161 responden, tidak mengetahui ada atau tidaknya kekerasan seksual di kampus mereka.


Amalia menjelaskan terdapat beberapa hambatan dalam penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. Menurutnya, hambatan tersebut disebabkan tingginya angka kasus kekerasan seksual tidak dibarengi dengan data yang terlihat, tidak adanya peraturan yang jelas, partisipasi mahasiswa yang minim, serta minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang peduli terhadap kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Amalia turut menyarankan kepada mahasiswa mengenai sikap dan peran yang diperlukan ketika menghadapi korban kasus kekerasan seksual. Ia mengatakan, sikap yang dapat diambil adalah mendengarkan cerita korban, memberikan rasa aman, dan membantu korban mengakses bantuan. Hal tersebut dilakukan dengan merujuk ke lembaga layanan yang terdekat. Selanjutnya jika memungkinkan, ia menyarankan untuk lakukan advokasi di level universitas.

“Advokasi di level universitas dapat dilakukan oleh BEM ataupun DEMA. Hal pertama yang diperlukan ketika melakukan advokasi adalah data, mengenai jumlah kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. Selanjutnya melihat pada peraturan yang terdapat di kampus, berkolaborasi dengan teman-teman, mendekati tokoh-tokoh penting, dan yang terakhir rencana aksi itu penting banget,pungkas Amalia. (Hida)