Sabtu, 15 Juni 2024

 Mulai Dengan Topik yang Dekat, Mahasiswa Hibah MBKM Riset UNS Lakukan Penelitian  Konsumsi Mahasiswa pada Event dan Konser di Surakarta

Mulai Dengan Topik yang Dekat, Mahasiswa Hibah MBKM Riset UNS Lakukan Penelitian Konsumsi Mahasiswa pada Event dan Konser di Surakarta

(Mahasiswa Hibah MBKM sedang melakukan wawancara di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta/Dok. Tim Hibah MBKM Riset ID 868)

Lpmvisi.com, Solo —  Melihat banyaknya event dan konser yang diselenggarakan di Surakarta serta tingginya antusias masyarakat khususnya mahasiswa, kelompok ini tertarik untuk mengkaji lebih lanjut terkait perilaku konsumsi yang terjadi dalam aktivitas tersebut. Hal- hal yang kami kaji lebih lanjut mulai dari proses persebaran informasi terkait event dan konser, pembelian tiket, persiapan, aktivitas ketika event berlangsung hingga berakhir. Pengambilan informasi didapatkan melalui mahasiswa laki-laki dan perempuan dari beberapa kampus negeri dan swasta di Kota Surakarta. Selain itu, para mahasiswa peserta Hibah MBKM juga sempat berbincang dengan beberapa Event Organizer yang pernah menyelenggarakan event musik di Surakarta untuk berbagi pengalaman serta mencari informasi terkait mekanisme penyelenggaraan konser. Mereka juga berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Surakarta untuk memperoleh data dan informasi yang terjamin validitasnya terkait perizinan penyelenggaraan konser oleh pemerintah daerah.

(Event Musik “Berani Jadi Beda” yang menjadi salah satu tempat observasi riset/Dok. Tim Hibah  MBKM Riset ID 868)

Narasumber dalam penelitian berasal dari enam kampus swasta dan negeri seperti yang telah disebutkan sebelumnya, antara lain Akademi Seni dan Desain Indonesia (ASDI), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Slamet Riyadi (Unisri), dan Universitas Surakarta (Unsa), serta masing-masing berjumlah dua mahasiswa. Melalui riset ini, diketahui bahwa para mahasiswa lebih konsumtif pada konser dan jajanan di sekitar konser. Mahasiswa juga lebih menyukai konser berbayar daripada konser gratis dikarenakan mendapat benefit yang lebih banyak. Para mahasiswa juga sadar perilaku konsumtif yang dilakukan, tetapi mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut karena menganggapnya sebagai self-reward.

(Wawancara dengan mahasiswa Universitas Slamet Riyadi/Dok. Tim Hibah MBKM Riset ID 868)

Dengan jawaban narasumber yang beragam tersebut, Tim Hibah MBKM Riset yang dinaungi Direktorat Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan (DRAK) Universitas Sebelas Maret (UNS) ini akan mengolah data wawancara yang nantinya dikaji pula dengan teori Sosiologi. Penelitian yang telah dilaksanakan mulai dari bulan Februari 2024 ini selain menuntut mahasiswa bekerja On Desk, juga meningkatkan interaksi terutama dengan mahasiswa dari universitas lain, pihak Event Organizer, dan juga instansi maupun masyarakat yang ditemui semasa observasi lapangan dan penyebaran informasi.

(Pemasangan poster untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait perilaku konsumsi/Dok. Tim Hibah  MBKM Riset ID 868)

Kelompok Hibah MBKM Riset dengan nomor ID 868 yang beranggotakan 10 orang mahasiswa Sosiologi Universitas Sebelas Maret ini, berhasil melakukan penelitian yang luarannya akan diterbitkan di jurnal terakreditasi SINTA 4. Selain itu, informasi dan pengetahuan lainnya juga disebarluaskan melalui laman instagram mereka yaitu @cec.research dan membuat poster edukasi yang dipajang di tempat umum agar dapat dilihat banyak orang. Penelitian berjudul “Perilaku Konsumsi Mahasiswa pada Event dan Konser di Surakarta” ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu kedepannya dan memotivasi mahasiswa lain untuk terus berkarya terutama dengan adanya dukungan dari universitas. (Nabila, Tim Hibah MBKM Riset ID 868)


Senin, 10 Juni 2024

 Peringati Hari Jadi Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNS, Malam Puncak Communication Party 2024 Berlangsung Meriah

Peringati Hari Jadi Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNS, Malam Puncak Communication Party 2024 Berlangsung Meriah

(Kemeriahan penonton dalam Malam Puncak Communication Party UNS 2024 / Dok. Panitia)

Lpmvisi.com, Solo —  Malam Puncak Communication Party (Commparty) UNS 2024 telah diselenggarakan pada Jumat (7/6) pukul 16.00-21.00 WIB dengan bertempat di Pendopo Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS). Kepala Program Studi S1 Ilmu Komunikasi UNS Sri Hastjarjo, S.Sos., Ph.D turut hadir memberikan sambutan dalam pembukaan acara ini. Sederet penampilan seperti modern dance, Comcheers, Stand-Up Comedy, Band Angkatan 2021, dan Band Angkatan 2022 juga turut memeriahkan dalam acara yang menjadi puncak dari rangkaian sekaligus sesi awarding dalam Communication Party UNS 2024 ini. 


Commparty merupakan acara yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk memperingati Hari Ulang Tahun Program Studi Ilmu Komunikasi. Acara ini telah berlangsung sejak sekitar 10 tahun yang lalu dengan rangkaian acara mulai dari lomba tingkat nasional, pameran karya mahasiswa Ilmu Komunikasi, hingga seminar nasional. Konsep yang dipilih untuk Communication Party UNS 2024 adalah ‘Exploring Digital Culture’. Hal ini dikarenakan maraknya cyber crime hingga munculnya budaya (digital -red) baru. Sehingga pihak penyelenggara ingin acara ini dapat dijadikan sebagai ruang untuk mengulik lebih dalam seputar digital cyber dan dampak yang ditimbulkan oleh budaya digital. 


Acara ini terdiri dari serangkaian kegiatan, yaitu lomba yang berfokus pada bidang dan spesialisasi Ilmu Komunikasi antara lain video dokumenter, podcast, strategic plan proposal public relation dengan peserta dari berbagai kalangan mahasiswa di seluruh Indonesia. Selain itu, acara ini juga mengadakan Satu Ilkom (SATIL) sebagai bentuk pameran karya berupa karya tulis, foto, comic strip, maupun lukisan dari Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNS. 


(Penampilan modern dance dalam Malam Puncak Communication Party UNS 2024 

pada Jumat (7/6) / Dok. Alya)


Rangkaian acara yang lain adalah Communication Career Day (COCARD) 2024 yang merupakan sebuah program pelatihan berbasis digital yang dirancang bagi para mahasiswa dan calon profesional untuk membantu menghadapi dunia kerja di era digital ini. Program berskala nasional ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada mahasiswa terutama mahasiswa program studi ilmu komunikasi yang ingin menggali lebih dalam mengenai jenjang karir di masa depan dan apa saja yang perlu dipersiapkan. Selaras dengan tema yang diusung dalam program ini, yaitu ‘Digital Branding Bootcamp: Elevating Your LinkedIn Presence and Perfecting Your CV’.


Najwa Putri Syakira (20), Ilmu Komunikasi angkatan 2022, selaku Ketua Pelaksana Communication Party UNS 2024 mengungkapkan terdapat beberapa perbedaan antara pelaksanaan pada tahun ini dengan pelaksanaan di tahun-tahun sebelumnya. Najwa menjelaskan proses pencairan dana lebih mudah karena pihak jajaran program studi mulai memberikan perhatian khusus pada acara Commparty ini. Perbedaan juga terdapat pada topik pembahasan dalam topik workshop di tahun-tahun sebelumnya berfokus pada pengaplikasian, seperti bagaimana belajar menjadi jurnalis, sementara pada tahun ini berfokus pada topik yang lebih umum seperti persiapan curriculum vitae (CV) dan Linkedin. 


Acara Communication Party UNS 2024 ini memakan waktu selama 3,5 bulan dalam proses persiapannya sejak sekitar Maret hingga Juni 2024 dengan total panitia sebanyak 86 anggota. Meskipun menghadapi kendala seperti miskomunikasi di antara panitia dan urusan perizinan, Najwa mengaku sangat terbantu dengan banyaknya panitia yang berpartisipasi.


Improvement di humas yang dipecah, sekarang berfokus jadi tiga divisi ada roadshow, media partner, dan social media specialist jadi semuanya bener-bener kepegang dan fokus,” ungkap Najwa ketika diwawancarai oleh reporter VISI. Ia juga menambahkan lomba bertingkat nasional yang diadakan memperoleh sekitar 90-100 peserta dan sekitar 250-an peserta yang bergabung dalam online meeting Career’s Day. “Harapan aku tahun ini kan udah lebih baik daripada tahun lalu, tapi untuk tahun kedepannya mungkin lebih berprogress lagi dan lebih gokil,” pungkas Najwa ketika ditanya tentang harapannya terhadap acara ini.

Kenya (19), delegasi dari FISIP Basketball UNS (FIBAS), menyampaikan adanya kurangnya pengarahan untuk tempat parkir dan tempat registrasi. Panitia dinilai kurang inisiatif memberi arahan kepada pengunjung sehingga beberapa pengunjung sempat mengalami kebingungan. Selain itu, ia mengharapkan ada lebih banyak stan-stan penjual makanan. “Awalnya berharap ada es teh plastik cup tapi ga ada,” 


Di sisi lain, Kenya mengungkapkan acara berlangsung dengan seru. Ia secara pribadi mengaku semangat untuk datang ke acara ini karena dresscode yang ditentukan oleh panitia menarik, yaitu pink, putih, biru sehingga ia bebas berekspresi dengan balutan konsep warna tersebut. Kenya berharap agar acara dapat berlangsung lebih seru dan ramai lagi di tahun depan. Nindya (19), Mahasiswa D3 Ilmu Komunikasi Terapan, juga turut menyampaikan harapannya untuk acara ini agar dapat diadakan setiap tahun. “Kompak terus. Setelah itu, mungkin Ilkom lebih maju lagi, ya.” (Alya, Ayesa, Dhaniska)













Jumat, 07 Juni 2024

 Mengulik “How to Make Millions Before Grandmother Dies” (2024)

Mengulik “How to Make Millions Before Grandmother Dies” (2024)



(Source : GDH 559)


Bioskop-bioskop di Indonesia sedang ramai-ramainya didatangi pengunjung setelah ditayangkannya film bertajuk "How to Make Millions Before Grandma Dies" sejak 15 Mei 2024 kemarin. Film dengan judul asli Lahn Mah (หลานม่า) ini berasal dari Thailand yang dibintangi oleh Billkin Putthipong dan Tontawan Tantivejakul. 


Di Indonesia, film ini menjadi perbincangan di berbagai media sosial seperti X dan TikTok. Munculnya video-video TikTok yang menunjukkan before dan after orang-orang setelah menonton film ini menjadi sebuah tren di kalangan anak muda yang kemudian menarik minat mereka untuk ikut menonton. Dilansir dari laman CNN.com, How to Make Millions Before Grandma Dies berhasil menggaet lebih dari 3 juta penonton di hari ke-22 penayangannya dan resmi menjadi film Thailand terlaris di Indonesia sejauh ini.


Sebenarnya tidak ada sesuatu yang menakjubkan atau mewah dari film ini. Tidak ada adegan, musik, atau efek yang menegangkan atau membangun bulu kuduk. How to Make Millions Before Grandma Dies hanya berkisah tentang dinamika hubungan keluarga antara nenek dan cucu, ibu dan anak, kakak dan adik, hingga paman dan keponakan. Namun, sutradara Pat Boonnitipat berhasil mengemas premis sederhana itu menjadi sebuah cerita hangat yang menjangkau hati penonton.


Dibuka melalui adegan ziarah kubur keluarga, Meng Ju, sang nenek, atau yang akrab dipanggil Amah, menyampaikan keinginannya untuk dikubur di kuburan yang luas dan indah. Dinamika keluarga Amah dengan anak-anak dan cucunya langsung diperlihatkan di menit-menit pertama tersebut.


M (Billkin Putthipong), merupakan cucu laki-laki dari Amah sekaligus seorang pengangguran yang tidak lulus sekolah. Ia memiliki sifat yang acuh tak acuh terhadap keluarganya dan tidak memiliki prospek masa depan yang bagus.


Di tengah kehidupannya yang begitu-begitu saja, M mendapati bahwa Mui (Tontawan Tantivejakul), sepupunya dari bagian keluarga yang lain, mendapat warisan besar dari Agong, kakek mereka yang belum lama meninggal. Mui menjadi pewaris utama setelah menjadi perawat pribadi Agong di detik-detik terakhir hidupnya. M yang haus akan kekayaan, tergiur dengan prospek yang Mui deskripsikan sebagai "pekerjaan mudah dengan bayaran tinggi" itu. Ditambah lagi, kondisi Amah yang didiagnosis kanker stadium 4 menjadi “kesempatan emas” bagi M untuk melakukan “pekerjaan” tersebut.


(Amah dan M / Dok. GDH 559)

Upaya M dalam menaikkan value-nya untuk memenangkan hati M menjadi titik sentral keseluruhan isi cerita. Namun, kisah ini tidak hanya sekadar tentang perebutan harta saja, tetapi lebih dalam daripada itu. Film ini menyorot lika-liku hubungan kekeluargaan yang cukup kompleks, tetapi tetap realistis, seperti misalnya M yang awalnya cuek tiba-tiba menjadi begitu peduli hingga rela mengesampingkan mimpinya sebagai streamer game online demi warisan yang ia kira bisa mengubah hidupnya itu.


Sebenarnya hanya dengan membaca judulnya saja, siapapun sudah bisa menebak kelanjutan jalan cerita dari film ini. Tidak ada plot twist maupun plot hole yang membuat penonton berteka-teki. Namun, kekuatan dari How to Make Millions Before Grandma Dies tidak terletak pada jalan ceritanya yang tidak bisa ditebak, melainkan ada pada bagaimana ia mampu menggambarkan kompleksitas hubungan antaranggota keluarga yang mungkin relate di banyak rumah terlepas dari latar belakang yang berbeda-beda.


Alurnya yang minimalis dibangun dengan intim tanpa tergesa-gesa. Tidak ada adegan dramatis maupun momen yang dibuat-buat untuk memaksa ledakan emosi penonton. Sebaliknya, emosi asli dari para pemain yang dengan epik memainkan perannya, serta konflik yang ditampilkan secara perlahanlah yang memicu emosi penonton terus mengalir sepanjang film layaknya ombak yang bersaut-sautan


Misalnya saja, adegan pertama akan memancing gelak tawa penonton, kemudian adegan berikutnya penonton dibuat kesal dengan karakter M yang tidak dewasa. Akan tetapi di detik berikutnya, penonton bisa saja dibuat tersedu-sedan akibat interaksi antara cucu dengan neneknya yang begitu menyentuh hati.


(Dok / GDH 559)


Berbicara tentang film, sinematografi menjadi aspek yang sulit untuk ditinggalkan. Sutradara Pat Boonnitipat melalui How to Make Millions Before Grandma Dies menangkap lingkungan suburban Thailand yang autentik dan nyata melalui sudut pandangnya. Latar-latarnya yang sederhana dikemas dengan apik, seperti rumah tua dengan barang-barang antik, suasana pasar tradisional, kereta yang penuh dengan penumpang, hingga rumah sakit lokal dengan antrian yang amat panjang. 


Latar belakang budaya dan tradisi keluarga Thai-Chinese juga amat ditampilkan begitu kental, mulai dari perayaan tahun baru Imlek, Amah yang bersembahyang kepada Dewi Kwan Im, hingga mengunjungi makam leluhur di kuburan Cina yang khas. Sungguh mengagumkan bagaimana Pat membungkus kesederhanaan itu dalam sebuah mahakarya yang berhasil membuat jutaan penonton berdecak kagum. 


Akhir kata, film ini secara implisit mengatakan bahwa keluarga mungkin menjadi sumber rasa sakit, tetapi hanya keluarga jugalah yang bisa menyembuhkan. Melalui konflik, canda, tawa, dan tangis, kita sebagai penonton diajak untuk merefleksikan kembali hubungan kita dengan keluarga dan orang-orang terdekat. (Syeikha) 


Jumat, 31 Mei 2024

FSRD Artweek 2024, Sajian Beragam Karya Seni Kreatif

FSRD Artweek 2024, Sajian Beragam Karya Seni Kreatif


(Salah satu karya yang dipamerkan dalam FSRD Artweek 2024 Babak 2 pada Sabtu (30/5) / Dok. Kahfi)

Lpmvisi.com, Solo – Gedung H.B. Sutopo FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) Universitas Sebelas Maret pada Sabtu, 30 Mei 2024 kembali dipenuhi oleh pengunjung yang datang ke acara FSRD Artweek 2024. Acara Artweek sendiri dilaksankan pada tanggal 29 sampai 31 Mei 2024. 

Artweek merupakan salah satu rangkaian acara seni yang diadakan dua tahun sekali oleh FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) Universitas Sebelas Maret. Acara ini menggabungkan semua program studi di bawah naungan FSRD UNS dengan tujuan menyelenggarakan perayaan atas peresmian FSRD sebagai fakultas ke-10 di lingkungan Universitas Sebelas Maret.

Perhelatan FSRD Artweek 2024 tidak hanya menghadirkan pameran seni rupa dan desain, tetapi juga ada pertunjukan musik, art market, talkshow, hingga bootcamp. Acara yang mengangkat tema besar “Garis Hidup” dengan judul “In-Site” ini dibagi menjadi tiga babak pembagian karya seni sesuai dengan siklus kehidupan manusia. 

Babak satu adalah masa anak-anak yang mengambil tema “Kehidupan Naif Berbalut Imaji yang Menyenangkan”. Babak dua adalah masa remaja dengan tema “Harapan yang Menyala-nyala”. Babak tiga yang merupakan puncak kehidupan berupa masa dewasa-tua mengambil tema “Transformasi, Kecemasan, dan Tujuan yang Terbentuk Melalui Pendewasaan”.

Artweek 2024 dengan karyanya yang mempesona mata, berhasil menarik perhatian mahasiswa dari berbagai fakultas. Bahkan, salah satu mahasiswi FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik), Nasyafa mengatakan bahwa dia tidak menyesal datang ke acara Artweek 2024 dan mengatakan bahwa karyanya cukup memuaskan. (Kahfi)


Kamis, 30 Mei 2024

Usung Tema Emosional Bertajuk ‘In-Site’, Artweek 2024 Resmi Digelar

Usung Tema Emosional Bertajuk ‘In-Site’, Artweek 2024 Resmi Digelar

(Suasana lokasi Artweek 2024 di malam hari pada Rabu (29/5) / Dok. Ayesa)
 

Lpmvisi.com, Solo - Artweek 2024 yang diselenggarakan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret (FSRD UNS) di bawah naungan Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR) resmi digelar. Pada tahun 2024 ini, Artweek diselenggarakan pada hari Rabu-Jumat, 29-31 Mei 2024 yang berlokasi di Gedung FSRD UNS.


Artweek merupakan acara dua tahun sekali sebagai pekan kesenian FSRD sekaligus perayaan keluarnya FSRD UNS dari Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) yang sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya (FIB). 


Aliyah Yasmin (20), Chief Executive Artweek 2024, mengungkapkan Artweek 2024 mengangkat tema ‘In-Site’ dengan subtema masa kanak-kanak, masa remaja, dan masa dewasa. Tema pada tahun ini menitikberatkan pada sisi emosional pribadi dan bagaimana seseorang bisa melihat melalui perspektif

orang lain. 







(Ruang Pameran ‘Masa Anak-Anak’ Artweek 2024 di FSRD UNS / Dok. Ayesa)

Persiapan Artweek 2024 memakan waktu selama 5-6 bulan hingga waktu pelaksanaannya. Meski menghadapi hambatan seperti keperluan legalitas, sulitnya pencairan dana, pemilihan venue, hingga harmonisasi anggota kepanitiaan, semua hal tersebut diatasi dengan manajemen yang baik dari panitia, sehingga Artweek 2024 dapat terselenggara. 


“Mewujudkan leadership yang ada, karena semua orang itu leader. Gimana caranya untuk mengembangkan jiwa leadership di sistematika manajemen (tiap anggota) itu,” jelas Aliyah ketika ditanya mengenai tantangan pada penyelenggaraan event ini dan solusinya.


Tidak hanya ramai di bagian depan gedung FSRD UNS yang menampilkan performance saja, situasi dalam gedung juga cukup dipenuhi pengunjung. Beberapa di antaranya merupakan mahasiswa FSRD UNS dan juga mahasiswa dari fakultas lain yang ingin menikmati instalasi-instalasi seni yang ada.


Axel (20), salah satu pengunjung Artweek 2024 hari pertama mengungkapkan rasa penasarannya terhadap karya-karya di Artweek 2024 ini.  “Ya, datang hanya ingin melihat-lihat dan menikmati karya seni saja. Dibandingkan tahun lalu, ini termasuk kelihatan perkembangannya,” ungkapnya setelah berkeliling pameran, Rabu (29/5/2024).


Pameran seni di Artweek 2024 ini memamerkan berbagai karya dari siswa SMK kesenian hingga mahasiswa daerah Solo, Jogja, dan keseluruhan Jawa Tengah. Karya utamanya merupakan hasil karya dari mahasiswa FSRD itu sendiri, tetapi terdapat juga karya dari mahasiswa universitas lain, seperti ISI Yogyakarta, ISI Solo, hingga Universitas Pendidikan Indonesia. 


Selain itu, di Artweek 2024 ini juga terdapat berbagai bootcamp dan tenant-tenant menarik serta ada juga penjual makanan dan minuman untuk menemani pengunjung setelah lelah melihat pameran. Terdapat juga stand yang cukup menarik dimana pengunjung bisa berfoto ala polaroid dengan hasil foto berupa ilustrasi yang digambar langsung oleh mahasiswa FSRD itu sendiri.


Suksesnya acara ini tentu menambah rasa puas serta harapan akan lancarnya kegiatan hingga hari terakhir Artweek 2024. “Agar menjadi refleksi dan orang lebih mengerti diri sendiri, rame, dan menjadi minggu kesenian yang bisa dirasakan oleh semua orang,” pungkas Aliyah ketika diwawancarai tentang harapannya pada Artweek 2024 ini. (Ayesa, Revalita)