Sunday, December 10, 2017

Lewat FISIPoice, KMF Ajak Mahasiswa FISIP Bermusik

Lewat FISIPoice, KMF Ajak Mahasiswa FISIP Bermusik

Potret riuhnya gelaran FISIPoice. (Dok.VISI/Metta)
lpmvisi.com, Solo – Komunitas Musik FISIP (KMF) kembali menyelenggarakan acara KMF Jamming dengan mengusung nama “Fisipoice” pada Jumat (8/12/2017). Bertempat di Lapangan Parkir Gedung 4 FISIP UNS, grup musik bentukan KMF, IR Coustic, Slokaswara, Sadisahasa, Neeloa, dan Sri Pvnklipur hadir memeriahkan acara. Dengan tagline “The Voice of FISIP” KMF pun memberikan ruang bagi mahasiswa FISIP untuk ikut tampil dalam jamming kali ini.

“Kami menyelenggarakan KMF Jamming seperti ini untuk menghidupkan kembali musik di lingkungan FISIP,” ungkap Albesya Iqbal selaku ketua panitia saat ditemui reporter VISI di sela-sela kemeriahan acara. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi 2017 tersebut berharap “Fisipoice” dapat terus diselenggarakan dan menjadi wadah bagi para pencinta musik di lingkungan FISIP.

Senada dengan Albesya, Fajar Eriyanto Nugroho selaku Ketua KMF mengharapkan acara ini bisa terus berlanjut dan menjadi tempat menyalurkan bakat mahasiswa. Khususnya bagi mahasiswa FISIP UNS di bidang musik maupun menjadi sarana hiburan. 

“Karena, yang aku lihat, FISIP punya bakat yang baik di bidang musik. Banyak band-band yang lahir dari FISIP,” sambung mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi 2015 tersebut.

Para mahasiswa FISIP pun menyambut cukup baik hadirnya Fisipoice. Hal ini terlihat dari antusiasme penonton yang mayoritas merupakan mahasiswa FISIP. Adrian, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional 2016 mengaku sangat mengapresiasi acara tersebut. 

“Keren sih. Di tengah-tengah banyaknya tugas di penghujung semester, diadakannya acara ini bisa menghilangkan stress,” ungkapnya. Adrian juga berharap agar KMF lebih sering menyelenggarakan acara seperti ini.

Tak jauh berbeda dengan Adrian, Arin dan Elsya−dua mahasiswi Hubungan Masyarakat 2017yang hadir untuk menyaksikan penampilan teman-temannya pun mengaku sedang mencari hiburan dari sibuknya perkuliahan. “Senang, acara ini jadi hiburan dari banyaknya tugas. Acaranya juga seru dan pecah,” ungkap mereka. Keduanya berharap Fisipoice dapat berkembang menjadi acara musik yang lebih besar dengan mengundang band-band ternama.

“Mungkin ke depannya kami akan mengonsep acara dengan lebih matang dan guest star seperti yang diharapkan teman-teman bisa dikabulkan. Pokoknya, tunggu saja karya KMF yang selanjutnya,” pungkas Fajar menanggapi saran Arin dan Elsya. (Metta)

Sunday, November 19, 2017

Berburu Bacaan di Susano Book

Berburu Bacaan di Susano Book

Tampilan etalase buku di Susano Book. Dok.VISI/Sekar
Lokasinya memang bukan di pinggir jalan yang begitu mudah ditemukan seperti toko buku pada umumnya. Hanya mengambil tempat di Lantai Dua Pasar Panggungrejo kawasan Jebres, tepatnya belakang kampus Universitas Sebelas Maret. Meski kecil, toko buku yang diberi nama Susano Book itu terbilang lengkap menjual aneka ragam buku, terutama buku-buku penerbit indie.

Buku-buku yang dijual tertata rapi dalam rak-rak kecil di tiga kios berukuran 3 x 3 meter. Berbagai jenis buku sangat mudah ditemukan di toko buku yang baru sekitar enam bulan dibuka itu. Mulai dari fiksi, novel, biografi, hingga buku-buku kuliah yang banyak dicari para mahasiswa. Selain harganya yang terjangkau, Susano Book kerap memberikan promo dan potongan harga di setiap produknya.

Toko buku itu tidak hanya menerima pelayanan penjualan buku di toko saja. Mereka juga melakukan promosi di berbagai platform jual beli daring. Santi, pemilik sekaligus pendiri Susano Book mengaku hal tersebut lebih menjanjikan mengingat perkembangan zaman yang menuntut segala sesuatu berbasis daring. 

"Kami juga melayani penjualan buku secara online, jadi pembeli dari jauh tak perlu repot-repot ke lokasi kami," ujar Santi.

Selain lebih efektif dan jangkauannya yang luas, menjual secara daring membuat produk buku-bukunya bisa dilihat oleh lebih banyak orang. Konsumen bisa datang dari dalam dan luar kota. Tak jarang pembaca dari luar provinsi turut memesan buku di Susano Book.

Susano Book juga melayani pre-order buku. Bagi peminat yang ingin membeli buku-buku yang direncanakan terbit atau stoknya terbatas, dapat memesannya terlebih dahulu dan menunggu beberapa hari untuk mendapatkannya. Buku yang telah dipesan atau dibeli secara daring oleh  pembeli lalu dikirimkan melalui jasa pengiriman barang untuk yang di luar kota, atau bisa juga  dengan jasa trasnportasi daring untuk yang berada di sekitar Solo.

Tak hanya itu, toko buku yang buka mulai pukul 10 pagi hingga 5 sore ini juga menyediakan taman bacaan mini yang memungkinkan para pengunjung membaca buku-buku pilihan di tempat. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa kerap mengunjungi toko buku ini untuk membeli ataupun hanya sekedar membaca buku-buku di taman bacaan.

Meski belum terlalu populer di kalangan mahasiswa UNS yang notabene merupakan kampus terdekat dengan Susano Book, ada saja sebagian dari penghuni Kampus Kentingan yang sudah rutin menjatuhkan pilihan membeli buku di toko tersebut. Fitri (19) , salah satu mahasiswa UNS yang kerap membeli buku di Susano Book mengaku memilih toko tersebut tak hanya karena lokasinya yang dekat. Lebih dari itu, yang digemarinya dari Susano Book adalah pre order untuk buku-buku baru. Bagi mahasiswi yang hobi membaca novel terjemahan ini, buku-buku di Susano book harganya relatif sesuai dengan kantong mahasiswa, dan pelayanannya tak pernah tidak ramah.

"Cukup ramah, leluasa untuk mencari buku sendiri, semoga semakin ramai dikunjungi oleh pengunjung dan tempatnya semakin luas." pungkasnya. (Yuni, Laila)

Saturday, November 18, 2017

Sebuah Bunyi dari Luar

Sebuah Bunyi dari Luar

Ilustrasi. VISI/Fauzan

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan

Sudah berulang kali Tegar memainkan konflik itu dalam hidupnya. Ia memang kerap melakukan kenakalan khas remaja tanggung seusianya. Mulai dari meminjam senapan angin Pak Subarja tanpa izin dan menghabiskan pelurunya untuk menembaki burung, mencuri buah mangga ranum di kebun beberapa tetangga, hingga melempari sepupunya sendiri dengan tahi ayam. Itu semua tak menghentikan cinta ibunya terhadap Tegar. Tidak, kecuali konflik yang sedang dimainkannya kali ini, yang membuat Marsinem naik pitam dan hilang sabar pada putranya itu.

“Bahkan jika ayahmu adalah bajingan dan kamu tak kalah bajingan, kamu tetap anakku. Ah, tidak. Kamu tak punya ayah, aku ibu sekaligus ayahmu,” Marsinem, dalam satu sore yang kuning pernah menghunus Tegar dengan kalimat itu.

Tapi kini kalimat Marsinem seperti menguap. Serupa uapan seceret air yang mendidih setelah dijerang 13 jam. Air itu telah menguap jadi udara, dan Socrates maupun Gandhi bahkan tak lagi mampu mengenalinya.

“Sekarang, ada baiknya kamu kemas semua barangmu. Aku tak mau Tuhan melihatku memelihara iblis,” umpat Marsinem di ruang tamu rumahnya, tepat di depan mata Tegar.

Setelah melempar kalimat yang lebih serupa jarum suntik itu, Marsinem membalik badan dan masuk ke kamarnya. Tak lupa adegan itu dipungkasinya dengan sebuah bantingan pintu.

Tegar tak bergidik. Ia masih berdiri terpaku, menunduk dan menahan air mata. Jika air mata adalah sungai, maka kelopak mata Tegar adalah tanggul paling tangguh di dunia. Ia terbuat dari beton-beton kelewat matang. Rapi dan mampu menahan berbagai beban, kecuali umpatan Marsinem dan selembar foto seseorang yang tersimpan di tas punggungnya.

Perkara tas itu, Tegar jadi teringat lagi. Itu adalah barang yang dibelinya dari uang upah bermain peran sebagai pemain bola di kompetisi tarkam tujuhbelasan. Tegar ingat betul saat itu ia bingung membelanjakan upahnya untuk apa. Bingung untuk membeli novel bersampul hijau karangan Kundera atau tas punggung, karena saat itu ia belum kecanduan sastra sebagaimana sekarang.

Dan soal sastra, Tegar tak akan lupa bahwa ada orang selain Marsinem yang membuatnya kecanduan barang tersebut. Orang kedua yang gambarnya saja sudah mampu menjebol tanggul mata Tegar. Orang lain yang bahkan usianya masih setengah usia Marsinem.

Sempat terpikirkan bagi Tegar untuk lari menghampiri orang itu. Tapi pikiran tersebut bertahan tak lewat dari dua menit. Tegar ingat bahwa ia pernah merundung orang itu dengan konflik yang sama dengan yang dilakukannya pada Marsinem saat ini.

“Kau adalah pria paling bengis di dunia. Tak ada manusia yang betah di sampingmu dalam waktu selama ini, kecuali aku,” orang itu, di kota lain pernah menyerang Tegar dengan kalimat tersebut.

“Kau salah. Ada lainnya, dan wanita itu bernama Marsinem,” saat itu Tegar bergumam demikian, namun itu semua hanya dilafalkannya dalam hati.

Dan kini Tegar tak yakin kalimat itu benar. Lagipula Marsinem sudah mengatainya iblis karena konflik naif yang dibuatnya, sebagaimana orang kedua kini muak dengan Tegar.

Jika boleh berpledoi, Tegar tak ingin jadi seperti ayahnya. Namun justru keinginan untuk jadi diri lain itulah yang membunuh eksistensi seorang lelaki bernama Tegar. Dan Tegar telah kehilangan itu, kehilangan Marsinem dan orang kedua.

Soal orang kedua itu, nampaknya Tegar harus merumuskan ulang definisinya. Selama ini Tegar menyebutnya “orang” karena tak paham jenis kelamin yang dimiliki si orang kedua. Ia bukan laki-laki yang gemar memotong kalimat, bukan pula wanita yang kerap distigmakan sebagai pengikut taat.

Pada akhirnya, di dalam rumah itu, waktu Tegar habis karena terlalu keras memikirkan kemungkinan jenis kelamin orang kedua. Bagaimanapun, tegar mencintainya bukan karena berkelamin perempuan ataupun laki-laki, dan memikirkan orang kedua justru membuat tegar semakin gila.

Sepuluh menit berlalu. Marsinem membuka pintu yang tadi dibantingnya. Ia keluar menghampiri Tegar sambil membawa senapan angin Pak Subarja. Tegar ingin berlari, menyahut tas punggungnya dan berharap orang kedua yang dicintainya menunggu di ambang pintu. 

Ia berharap orang itu dan Marsinem akan menjadi seperti dulu, seperti ketika Tegar belum memainkan konflik terlarang. Sungguh, tidak ada mimpi lain yang ingin diwujudkan Tegar selain membersamai Marsinem dan orang kedua.

Dua detik berlalu dan Tegar tetap bingung. Ia masih terpaku, berdiri di posisi sama, gagal memulai langkah untuk meraih tas punggungnya dan berlari. Lalu tiba-tiba kebingungan Tegar dan langkah Marsinem terhenti. Seseorang mengetuk pintu rumah dari luar. Seseorang yang Tegar tahu persis siapa itu, meski mungkin Marsinem tidak.

Friday, November 17, 2017

Mengasah Jiwa Wirausaha Lewat Danus

Mengasah Jiwa Wirausaha Lewat Danus

Mahasiswa FISIP UNS sedang melakukan Danus. (Dok.VISI/Andi)
Pagi itu, Dian memulai kegiatannya dengan tergesa-gesa. Jam tangannya menunjukkan waktu pukul 07.15 WIB. Ia beranjak menuju kampus karena ada kuliah pagi yang harus dihadiri. Sesampainya di kampus, Dian melihat temannya membawa seperangkat kotak makanan, yang setelah diamati dengan saksama ternyata berisi barang Danus milik organisasinya.

Danus adalah akronim dari Dana Usaha, yakni kegiatan mencari dana dengan melakukan sejumlah usaha seperti menjual makanan, minuman, dan sebagainya. Danus dilakukan anggota organisasai untuk membiayai acara dari organisasi tersebut. Bedanya dengan usaha mandiri, Danus lebih bergantung terhadap dinamika program kerja dan kegiatan di suatu organisasi.

Kalau untuk (dangangan Danus -red) itu biasanya saya ambil di pasar Panggungrejo di belakang kampus, yang biasa langganan,” ujar Natalia Marstella Tambunan, mahasiswa Administrasi Publik 2016 saat ditemui VISI, Selasa  (7/11/2017). 

Natalia biasa melakukan kegiatan Danus di kelas. Ia juga menuturkan kerap memakai tenaga teman-temannya yang lain untuk menjual dagangan Danus milik organisasinya. Para pelaku Danus lebih memilih waktu pagi untuk menjajakan dagangan, karena biasanya para mahasiswa tidak memiliki waktu untuk membeli atau membuat sarapan akibat adanya kelas yang harus dihadiri. 

Bagus, karena bisa untuk mengganjal perut apalagi untuk anak kos yang biasanya kalau pagi belum sarapan,” ujar Sri Widhawati yang biasa disapa Wiwid, mahasiswi jurusan Sosiologi 2016 saat diwawancarai VISI, Selasa (7/11/2017).

Selain di kelas dan daerah kampus, para pelaku Danus juga menjajakan dagangan mereka saat Car Free Day (CFD) yang digelar pada hari Minggu di Jalan Slamet Riyadi. Makanan yang biasanya dijajakan yakni jajanan pasar seperti tahu bakso, sosis ayam, pastel, pisang coklat, risoles, dan sebagainya. 

Meski dipandang sepele, nyatanya ada beberapa kendala yang harus dihadapi oleh para pelaku Danus. Misalnya, keinginan pelanggan terkait dagangan yang ditawarkan. 

“Pernah, sering malah, tapi ya kadang gitu, ketika request-nya (permintaan jenis dagangan -red) sudah dilaksanakan tetap saja tidak dibeli,” imbuh Natalia.  

Selain pesanan oleh konsumen, kendala lain adalah tak bisa dilakukannya pengembalian dagangan yang tidak laku ke pemasok, mengingat barang tersebut sudah tidak fresh lagi. Untuk melayani konsumen yang ingin membeli jajanan lebih dari satu, penyediaan plastik kecil sebagai bungkus juga salah satu faktor penting.

“Kadang mereka juga tidak bawa plastik atau tisu jadi susah jika mau beli banyak," ujar Wiwid. 

Terlepas dari kendalanya, banyak manfaat yang dapat diambil dari kegiatan Danus, misalnya pembagian waktu. Mahasiswa yang mendapat tugas Danus dituntut dapat membagi waktu antara Danus dan kuliah agar studi tidak terganggu,

“Tidak terganggu sama sekali. Karena kalau lagi kuliah ya kuliah dan setelah dosennya keluar baru menjual dagangan Danus, itu kalau saya sebagai penjual,” ujar Alfian Rahardian Afif, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2016 yang kerap melakukan Danus.

Dampak positif lainnya yakni melatih jiwa kewirausahaan mahasiswa. Tak jarang Danus malah membuka ide membuka bisnis bagi seseorang. 

“Kalau saya melihat lebih ke yang positif, karena yang pertama, kalau kuliah pagi biasanya anak-anak (mahasiswa -red) tidak sempat makan, dan juga yang kedua, ini memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berwiraushana,” kata Sudaryanti, dosen Ilmu Administrasi Publik FISIP UNS saat ditemui VISI, Jumat (10/11/2017). 

Begitu banyak yang dihadapi mahasiswa saat melakukan Danus demi melancarkan pendanaan kegiatan keorganisasian. Namun yang paling penting adalah kemampuan mahasiswa untuk membagi waktu, agar kegiatan organisasi dan kegiatan kuliah dapat dilakukan dengan baik, tanpa condong ke salah satu sisinya. (Andi, Nabilah)

Saturday, November 4, 2017

Lelaki yang Dihujam Panah

Lelaki yang Dihujam Panah

Ilustrasi.VISI/Fauzan
Oleh: Herdanang A Fauzan

Wajah lelaki itu menghadap langit, menengadah, serupa telapak tangan pengemis yang beberapa jam sebelumnya meminta koin di sepanjang jalan. Udara keluar dari mulut lelaki itu, namun tak ada gema. Seratus tiga puluh tujuh anak panah yang menghujam punggungnya seperti meredam itu semua.

Kelana, begitu orang-orang memanggil lelaki itu. Tak seperti doa orang yang memberinya nama, pria kurus yang berat badannya tak lebih dari dua karung beras itu belum sekali pun berkelana keluar dari kawasan Prahasta. Andai harus melangkahkan kaki dari kota kecil itu, paling jauh ia hanya pergi 13 kilometer ke barat, ke Kota Astana, untuk menumpas rindu dengan wanita tua yang memberinya nama.

Tapi, siang itu, saat menengadah ke langit Prahasta, Astana bukanlah tempat yang ada di kepala Kelana. Ia memang sedang sekarat, karena seratus tiga puluh tujuh kali dirajam oleh jeruji panah Arjuna yang melesat dari arah belakang, namun bukan kondisi itu yang mengganggu pikirannya. 

Kelana tetap saja menengadah ke langit, bukan karena ia memohon pengampunan dari Tuhan. Ia tahu persis soal ajal, namun tak pernah sekalipun terlintas di pikirannya untuk menghampiri neraka lebih cepat dari waktu salat subuh. Bagaimanapun, Resi tua yang dulu mengajarinya sembahyang tak menganjurkan Kelana pergi menjemput ajal.

“Ajal akan datang sendiri tanpa perlu kau jemput. Ia ibarat seorang ibu, dan kau ibarat balita yang sedang merangkak ke bangku Taman Kanak-Kanak. Tak perlu risau, ia akan datang tepat waktu demi keselamatanmu menuju jalan pulang,” begitu kata si Resi entah berapa tahun silam.

Tapi kini Resi itu tak lagi menemani Kelana. Ia sudah digerogot ajal, secepat petuahnya menancap ke lubuk ingatan Kelana. Siang itu, Kelana hanya ditemani oleh Arjuna yang tak mengucurkan setetes keringat pun meski sudah melesatkan seratus tiga puluh tujuh anak panah ke pungggung si pria kurus.

Ah, mungkin itu salah.

Tepat saat Kelana dalam usaha terakhirnya menampik ajal, sesosok wanita meluncur dari langit. Wanita itu serupa ditarik gaya gravitasi, namun sayap-sayap di punggungnya menahan agar daya tarik yang dipunyai bumi tak rakus membelenggu.

Kelana tahu wanita yang sedang dalam proses mendaratkan diri itu bernama Amba. Seratus tiga puluh tujuh tahun lalu hingga sekarang, wanita itulah yang selalu muncul di tidur lelapnya yang singkat. Ini seperti surga bagi Kelana. Tak pernah dinyana, akhirnya ia bisa menjumpa Amba dengan mata kepalanya.

Tapi ada situasi baru yang membuat dada Kelana pilu. Amba, ternyata tak mendarat ke titik di mana Kelana terseok-seok. Wanita yang perangainya menyerupai bunga krisan itu tetap ditarik gravitasi, namun menuju arah pukul sebelas. Saat menyadari Amba menuju arah tersebut, Kelana mengubah tatapannya. 

Kini ia tahu, tempat di mana Amba akan mendarat. Namun saat memikirkan denah titik jatuh itu, dada Kelana terbakar. Kelana perlahan sadar, perasaan terbakar itu muncul kala ia mendapati titik yang dituju Amba adalah Arsapura, lokasi yang belum pernah dijangkaunya. Bahkan meski tak sedang sekarat oleh jeruji panah Arjuna, Kelana tak mungkin menjangkau Arsapura. Ia sudah bersumpah sehidup semati mengabdikan diri untuk Prahasta, kota yang menjadi musuh Arsapura dalam perang dinasti.

Pada akhirnya, setelah pikirannya menuntaskan pergelutan, Kelana berkeras bahwa hidupnya adalah Amba. Ia menyerongkan langkah menuju arah pukul sebelas. Tepat saat itu ia tak mau peduli lagi tentang sekarat atau dendamnya pada Arjuna. Ia hanya ingin bersua Amba, meski dalam kondisi sudah jadi seonggok mayat. Tekad Kelana bulat, walau dengan kecepatan berjalan yang seadanya butuh tiga pekan baginya untuk sampai di titik mendarat Amba.

“Aku akan abai, aku akan abai, jarak adalah jalan dan waktu adalah jembatan, ” batin Kelana.

Tapi bumi tiba-tiba berhenti berdenyut, seolah mampu membaca batin Kelana. Arjuna, yang berada tepat sepuluh meter di belakang Kelana, memotong jarak dengan kecepatan penuh. Dengan menunggangi seekor kuda perang, si pembawa panah berlalu, menyalip Kelana dan menuju arah pukul sebelas, arah yang dituju pula oleh si pria kurus yang menjadi korban panahnya.

Kelana tahu jika Arjuna tak puas dengan pencapaian merenggut nyawa musuhnya, dan kini bahkan bertekad merebut Amba. Kelana tahu pula, dengan kuda itu Arjuna hanya perlu waktu dua jam untuk berpadu dengan Amba di satu titik. Namun, lagi-lagi Kelana tak berkelit. Ia tetap melangkah terseok-seok menuju arah pukul sebelas. Pria kurus itu paham betul jika dirinya mungkin tak akan pernah mewujudkan mimpi bertemu Amba. Tetapi bukan kemungkinan pilu itu yang ingin diabadikan isi kepalanya.

“Setidaknya, arwah Resi tak akan sedih jika tahu aku dijemput ajal dalam keadaan mengejar Amba,” gumam Kelana, dua puluh tiga jam sebelum kematian tiba di Prahasta.

Friday, October 27, 2017

Lewat Film Kita Bercerita

Lewat Film Kita Bercerita

Suasana diskusi dan pemutaran film oleh Laboratorium Sosiologi di Gedung 4 Lantai 3 FISIP UNS, Kamis (26/10/2017 (Dok.VISI/Muthi)
lpmvisi.com, Solo  Tak lebih dari lima puluh orang berkumpul dalam pelataran kecil sebuah ruang di gedung 4 lantai 3 FISIP UNS Kamis (26/10) kemarin. Tatapan-tatapan mata tertuju pada rangkaian gambar bergerak di hadapan mereka. Sementara suara dengan volume keras menyentuh dinding gedung dan gendang-gendang telinga. Lampu yang dimatikan menambah hening suasana. Penonton pun hanyut dalam dua film garapan Pria Yudi Pamungkas dan Yolanda Christianti.

Ingatan penonton kemudian digiring dalam memori lagu-lagu lawas. Film dibuka dengan gambar piringan hitam yang bergerak. Sementara musik pengiring film mengingatkan kita pada sebuah soundtrack film horror yang naik daun beberapa waktu lalu “pengabdi setan,” namun keduanya berbeda, meski sepintas terdengar mirip. Melalui filmnya yang bertajuk Dendang Nusantara Memori Musik Indonesia, Pria Yudi Pamungkas mencoba bercerita tentang carut marutnya pengarsipan musik-musik lawas Indonesia. Mahasiswa yang hampir menjadi alumni Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung itu mencoba menggali kembali memori musik Indonesia lewat berbagai pengarsipan yang tersisa.

Usai ditayangkannya film karya Pria yang berdurasi tak kurang dari 30 menit, film kedua kemudian diputar dengan tampilan berbeda. Kali ini Yolanda yang juga merupakan mahasiswa ISBI Bandung mencoba membuka tabir di balik peristiwa di gedung Asia Afrika Culture Center (AACC) Bandung, sebuah peristiwa dalam konser musik cadas yang menewaskan 10 penonton. Film yang berjudul “Eargasm” tersebut, menjadi sarana untuk menolak lupa tragedi yang terjadi 9 tahun lalu. Tak berhenti di titik kejadian, film itu juga bercerita bagaimana peristiwa tersebut  kemudian melemahkan gairah musik underground di Bandung, masuknya corporate dalam konser-konser musik indie, hingga dampaknya terhadap perkembangan musik di Bandung saat ini.

Pemutaran film pun selesai, lampu kembali dinyalakan, acara berlanjut dengan diskusi santai. Dalam proses diskusi, Danang Rusdyanto salah satu pembicara yang merupakan pegiat musik dari Lokananta sempat mengungkapkan permasalahan pengarsipan musik di Indonesia saat ini. “Di Indonesia, musik hanya dianggap sebagai sebuah hiburan saja, sehingga membedahnya secara mendalam sangat minim, padahal hanya dari sebuah komoditas musik,  akan terdapat banyak aspek di dalamnya. Kerja-kerja pengarsipan harusnya menjadi kerja-kerja akademis,” terang Danang.

Sementara itu Drajat Tri Kartono, Kepala Laboratorium Sosiologi FISIP UNS, sebelum pemutaran film dimulai, menjelaskan bagaimana esensi film dari kacamata sosiologi. “ Film dapat menjadi refleksi dan juga cermin. Film merupakan representasi dari perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Sesungguhnya para sutradara film adalah sutradara sosial, dimana apa yang mereka lakukan dalam film, secara sistematis berarti sedang merekayasa pikiran dari para penontonnya,” ungkap Drajat. Gunawan Wibisono, yang menjadi moderator diskusipun ikut  menambahkan, “Film buat kami, dari kalangan sosiologi, merupakan alat atau tools untuk melihat suatu peristiwa,” imbuhnya.

Di akhir diskusi, masing-masing penggarap film, baik Pria dan Yolanda mengungkapkan harapannya. “Pengarsipan menurut saya menjadi hal yang sangat penting. Dalam musik, apa yang kita dengar saat ini tidak akan lepas dari apa yang didendangkan pada masa dulu. Di bidang apapun kita bergerak, salah staunya riset, mulailah dengan mengarsipkan apa yang kita miliki. Karena apa yang kita arsipkan saat ini, mungkin di masa mendatang akan di cari,” ungkap Danang. Yolanda kemudian menambahkan, dengan penjelasan yang lebih singkat, “Ekosistem musik harusnya sehat, di mana setiap kalangan saling diuntungkan. Ketika musik tak hanya menyoal materi dan keuntungan, apalagi KPI (Key Performance Indicator-red) dari para corporate,” pungkasnya.

Acara diskusi dan pemutaran film yang diadakan Laboratorium Sosiologi tersebut selesai tepat pukul 17.00 WIB.  Acara yang bertajuk Teras Sosiologi itu, nantinya akan diadakan secara rutin, dan diharapkan mampu menjadi ruang diskusi terbuka bagi mahasiswa UNS, khususnya FISIP.  Seperti yang diungkapkan Khabib Bima ketua lab sosiologi saat ditemui VISI, “Teras Sosiologi memang sengaja diadakan dalam tempat-tempat seperti ini, di pelataran, tanpa terikat ruang-ruang yang formal, harapannya agar esensi diskusi lebih didapatkan jika dilakukan dengan sederhana,” ungkap Bima. (Muthi)

Wednesday, October 25, 2017

Menghadapi Era Cara Baru

Menghadapi Era Cara Baru

Judul: Disruption Penulis: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jumlah Halaman: 528 Tahun: 2017 ISBN: 9786020338682. (Dok. Internet)
Disrupsi berarti inovasi yang akan menggantikan sistem lama dengan cara–cara baru. Disrupsi berpotensi menggantikan pemain–pemain lama dengan yang baru. Menggantikan teknologi lama serba fisik dengan teknologi digital yang benar–benar baru, lebih efisien, dan lebih bermanfaat.

Buku ini menggambarkan potret dunia. khususnya di Indonesia dalam menghadapi era disrupsi. Di dalam buku banyak digambarkan peradaban baru yang disebut dengan peradaban uber, dimana tercipta dunia baru yang berupa marketplace

Model bisnis yang dulu owning economy sekarang menjadi sharing economy. Tradisi lama yang identik dengan on the lane economy kini beralih menjadi on demand economy. Rhenald Kasali menegaskan bahwa dalam era ini dibutuhkan disruptive regulation, disruptive culture, disruptive midset dan disruptive marketing.

Tidak hanya memberikan contoh kasus, Rhenald Kasali juga memberikan panduan bagaimana disrupsi sebaiknya dilakukan dan bagaimana reaksi incumbent jika merasakan dampak dari disrupsi. Di akhir buku Rhenald Kasali menuliskan kalimat penutup bahwa perubahan era saat ini tidak bisa disangkal. 

Kita perlu memandang secara jernih dan memahami betul teori dan teknologi agar dapat menciptakan perubahan. Kita harus berdamai dan menciptakan cara–cara baru untuk menyebut era baru yang lebih inklusif pada hari esok.

Thursday, October 19, 2017

Bookfair Jadi Sarana Eksistensi Censor FISIP UNS

Bookfair Jadi Sarana Eksistensi Censor FISIP UNS

Suasana bazar buku oleh Censor di Public Space 2 FISIP UNS, Rabu (18/10/2017). Acara ini merupakan program kerja bidang Humas. (Dok.VISI/Arif)

lpmvisi.com, Solo
Waktu tak jadi penghalang bagi para anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Center Of Social and Political Research (Censor) untuk menunjukkan eksistensinya. Pada Senin  (16/10/2017) hingga Rabu (18/10/2017), organisasi yang terbentuk sejak 2005 silam itu melaksanakan program kerja bidang Hubungan Masyarakat (HUMAS), yakni bazar buku atau bookfair. Bertempat di Public Space 2 FISIP UNS, kegiatan ini mendapat respon positif dari para pengunjung.

“Bazar buku di kampus (FISIP-red) menarik, karena mahasiswa butuh banyak bahan bacaan untuk menambah wawasan. Buku-bukunya pun bagus-bagus,” ungkap salah seorang pengunjung bernama Niko (20).

Jenis-jenis buku yang memeriahkan kegiatan kali ini beragam. Mulai dari yang bertema sosial humaniora, politik, filsafat, pengetahuan umum, bahkan hingga novel-novel yang layak dibaca mahasiswa FISIP pada khususnya. Dari pihak panitia sendiri mengaku tak mengalami banyak kendala berarti selama proses pelaksanaan bookfair.

“Selama tiga hari bookfair berjalan dengan cukup lancar, hanya ada kendala kecil sewaktu mempersiapkan buku-buku. Karena mengejar waktu agar PS (Public Space-red) tidak dipenuhi mahasiswa, jadi jam enam pagi buku-buku harus siap.” ujar Dedy selaku Koordinator Program.

Dalam bookfair kali ini, Censor menggandeng empat penerbit untuk diajak bekerja sama. Diantaranya adalah Kekata, Yayasan Obor, Jalasutra, dan Bentang Pustaka. Sistem yang digunakan dengan penerbit-penerbit tersebut adalah bagi hasil.

“Setiap penerbit memberi potongan harga terhadap buku, namun masing-masing penerbit memberikan potongan harga yang berbeda, ada yang 30-35%,” pungkas Dedy. (Arif)

Saturday, October 14, 2017

Sulitnya Memindai Sisi Cacat Lionel Messi

Sulitnya Memindai Sisi Cacat Lionel Messi

Lionel Messi sedang merayakan gol pertama timnya pada laga Kualifikasi Piala Dunia melawan Uruguay, 1 September 2016. (Dok. Internet)

Oleh: Herdanang A Fauzan

“Semua yang kutahu tentang moralitas dan kewajiban pria, aku berutang pada sepakbola,” ungkap Albert Camus pada suatu titik dalam hidupnya. Camus barangkali merupakan satu dari segelitntir filsuf yang dalam periode kehidupan singkatnya belajar dari sepakbola.

Melanjutkan ungkapan Camus, bagiku sepakbola memang olahraga yang paling mengejawantahkan dinamika hidup. Kita bisa belajar tentang bagaimana arogansi penguasa dengan menengok kehidupan berantakan Diego Maradona pada periode senja sepakbolanya. Dari karir seorang Ronaldo Nazario de Lima, kita dapat menarik premis bahwa segala yang ada di dunia ini bisa hilang dalam waktu sekejap, sebagaimana gelontoran prestasinya yang raib diguyur siraman alkohol pada waktu dua tahun saja.

Mencari yang positif pun tak sukar. Lihatlah pria Perancis bernama Zinedine Zidane itu. Dari pengabdiannya untuk Real Madrid—sebagai pemain dan kemudian pelatih—ia mengajarkan kesetiaan dididik dan mendidik di satu tempat. Seperti dua biji kacang yang tak lupa pada sang kulit.

Namun, bahkan sosok Zidane tak luput dari cacat. Bagi tuan dan puan yang pernah menyaksikan permainan Zizou semasa muda, tentu sudah tak dapat ditampik lagi gaya bermainnya yang merepresentasikan keangkuhan khas pemain nomor wahid dunia. Semacam keangkuhan yang pernah ditunjukkan Maradona kala menggiring bola seorang diri dari sektor pertahanan hingga kotak penalti lawan, lalu menjebol gawang Timnas Inggris pada Piala Dunia 1968. Atau yang paling baru, serupa keangkuhan Neymar dan Cavani kala beradu rebut jatah tendangan bebas pada laga PSG melawan Lyon beberapa pekan lalu.

Andai Camus masih hidup di periode Zidane, kurasa sosoknya hanya akan bisa tertawa. Entah menertawakan kemalangan dari keangkuhan Zidane, atau mempercandakan lelucon lain tentang sepakbola.

Tapi, jika diberi kekuatan menghidupkan mayat sebagaimana yang dilakukan Orochimaru dalam serial anime Naruto, aku tak akan menghidupkan Camus di era Zidane. Dengan senang hati, aku lebih memilih menghidupkannya lagi saat ini, di era ketika jagat sepakbola berada di tangan pria mungil dari Argentina.

Lelaki yang konon tinggi badannya hanya 170 cm itu bernama Lionel Messi. Ia barangkali adalah pemain sepakbola terunik yang pernah kukenal di seluruh dunia. 

Ini bukan semata karena permainan lincahnya. Kalaupun hendak membahas performanya di atas lapangan, jelas tulisan ini tak cukup untuk menjlentrehkan bakat sang Mesiah. Kakinya seperti bermata. Tiap bersentuhan dengan bola, sepasang penyangga itu seolah dapat menebak kemana benda bulat itu harus dialirkan. Lima penghargaan Ballon d’Or rasanya lebih dari kurang untuk merepresentasikan kejeniusan Messi.

Lebih dari itu, hal paling unik dari Messi adalah betapa minim sisi negatif yang dimilikinya. Andai kita kilas ke belakang, nyaris semua pesepakbola yang pernah memegang suatu era memiliki sisi cacat yang tak sukar dideteksi.

Tak perlu lagi kubahas Maradona dan Ronaldo Nazario. Cukup tengok seorang pria bernama Ronaldinho. Pernah dijuluki raja tiki-taka, pemain bernama asli Ronaldo de Assis Moreira itu harus puas sisi buruknya terekspos setelah menjadi korban candu alkohol dan narkoba.

Atau mari kita tengok pria Brazil lain bernama Ricardo Kaka. Sempat melakoni periode emas di kota Milan, Kaka harus puas sisi cacatnya di luar lapangan terekspos. Setelah dicap pengkhianat karena hengkang ke Madrid bertahun-tahun silam, pekan lalu pemain yang kini merumput di Major League Soccer (MLS) Amerika itu mengatakan dirinya tak lagi menikmati bermain sepakbola sebagaimana dulu.

Ingin contoh lebih nyata?

Mari kita tengok kiblat lawan Messi yang bernama Cristiano Ronaldo. Tak ada yang perlu menafikkan talenta pria Portugis itu. Sebagian bahkan menyebutnya lebih baik tinimbang Messi. Namun, memindai sisi cacat Ronaldo—baik di dalam maupun luar lapangan—jelas bukan perkara sulit.

Cacat Cristiano di lapangan sudah terlihat kala ia mendorong wasit dan menerima skors lima pertandingan di La Liga pada awal musim ini. Di luar lapangan, para ukhti pengagum akhi-akhi bercelana cingkrang di Masjid Enha jelas bakal mencemooh kehidupan Ronaldo yang punya anak tanpa jelas asal muasal rahimnya.

Perlukah sisi gelap tersebut dibandingkan dengan Messi?

Kurasa tidak. Tanpa dijelaskan pun kalian pasti paham bagaimana Messi hidup di luar maupun dalam lapangan. Di luar panggung sepakbola, ia punya kehidupan idaman dengan kekasih yang sekaligus sepupu sahabatnya sejak kecil, Antonella Roccuzzo. Kehidupan yang bakal membuat para abege pembaca buku pra-nikah seketika umbelen dan memimpikan hal serupa.

Atau di dalam lapangan, sudah berapa kali Messi mengikhlaskan panggung protagonis untuk rekannya? Ia bahkan pernah memberikan jatah tendangan penaltinya hanya demi genapnya torehan gol Luis Suarez.

Dari itu semua, kurasa nyaris setiap kepala setuju jika memindai sisi cacat Messi ibarat mencari satu jarum di dalam tumpukan empat kwintal jerami. Tentu aku tak bermaksud menuhankan Messi. Pasti ada sisi cacat yang dimilikinya. Namun, sekali lagi kutekankan, sisi itu sukar untuk didapati—setidaknya hingga detik ini.

Kurasa andai Camus masih hidup, ia bakal mengatakan hal serupa. Lalu dengan langkah gontai sang filsuf akan berjalan ke bandara dan terbang ke Spanyol untuk menyaksikan laga terdekat FC Barcelona.

Ya, daripada memindai dan mencari-cari sisi cacatnya, lebih baik kita duduk dan menikmati permainan indah sang pemegang kunci peradaban sepakbola.

Friday, October 13, 2017

Pameran Arsip Lagu Indonesia Raya dibuka Hingga Kamis Pekan Depan

Pameran Arsip Lagu Indonesia Raya dibuka Hingga Kamis Pekan Depan

Lokasi Pameran Arsip Lagu Indonesia Raya di Kawasan Lokananta, Kamis (12/10/2017). (Dok.VISI/Metta)
lpmvisi.com, Solo – Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) cabang Surakarta masih membuka Pameran Arsip Lagu Indonesia Raya hingga Kamis (19/10/2017) pekan depan. Pameran kali ini telah resmi dibuka sejak Kamis (12/10/2017) kemarin dan dapat dikunjungi hampir setiap hari, kecuali Sabtu dan Minggu.

Berlokasi di kawasan studio rekaman sekaligus museum Lokananta, sekitar 20 literasi lagu Indonesia Raya tersuguh dalam pameran ini. Dengan menyuguhkan beragam artikel, dokumentasi rekaman ulang Lagu Indonesia Raya, buku-buku rujukan mengenai lagu Indonesia Raya, biografi, dan beberapa materi lainnya, pihak Lokananta slaku penyelenggara acara ingin masyarakat luas dapat mengenal Lagu Indonesia Raya secara lebih mendalam.

“Kalau dari Lokananta sendiri, kami ingin masyarakat mengetahui cerita-cerita di balik lagu Indonesia Raya karena itu merupakan identitas bangsa kita, sehingga semua orang harus tahu,” Jelas Danang ketika diwawancarai VISI di sela-sela pembukaan pameran, Kamis (12/10/2017) kemarin.

Pameran Arsip Lagu Indonesia Raya juga menyajikan beberapa lagu yang pernah direkam di Lokananta sebagai bentuk pengenalan aset-aset audio yang dimiliki studio rekaman tertua di Indonesia itu. Pihak panitia menyediakan snack dan minuman bagi para pengunjung yang datang. Untuk masuk ke area pameran, pengunjung juga tak dibebani biaya tiket masuk sepeserpun. Lebih lanjut, Danang juga menyampaikan bahwa pameran ini diselenggarakan sebagai sarana bertukar informasi mengenai seni dan budaya yang berbentuk kearsipan.

“Kami ingin mengajak masyarakat, entah itu perseorangan maupun komunitas untuk berbagi informasi, data, arsip, serta hal-hal yang sifatnya seni dan budaya sehingga nantinya bisa membentuk suatu bank data,” imbuh Danang.

Tifani (19), salah seorang pengunjung pameran mengaku tertarik dengan acara kali ini. Meski begitu, ia menyayangkan karena arsip yang ditampilkan tak banyak. Selain itu ada pula beberapa studio yang tak dibuka.

"Pamerannya (arsipnya-red) sedikit. Banyak studio-studio yang nggak dibuka," keluh Tifani. (Atta, Metta)