Sunday, December 2, 2018

Aku Tertarik pada Lusuh

Aku Tertarik pada Lusuh


(Dok. Internet)

“Beberapa kalimat yang muncul dalam sebuah amarah kecil yang tak kutemukan cara lain untuk mengungkapkanya

Aku Tertarik pada Lusuh

Karya : Ade Uli

Aku adalah kain lusuh di pojok almari kaca
Di antara tumpukan kain bersutra yang mungkin sayang untuk kau sentuh
Itulah aku yang tidak pernah tersibak
Aku tidak memutuskan untuk menjadi kain lusuh
Namun jikalau aku dikehendaki berada di antara kain semacam kalian, 
jelas aku memikul gelar kain lusuh
Tempatku adalah di bawah juntaian kain cacat yang juga kau hardik

Aku yang merasa tak berguna
Jika aku sadar kelak pasti akan berguna diriku
Namun 'ku lalai untuk sadar
Aku hanyalah kain lusuh tak berarti
Jika sebuah baju dapat kutambal
Mungkin aku adalah bagian penghancur keindahan
Namun jadi apa jika saya diam?

Sebuah kata "berarti" tidaklah datang dalam setiap rangkulan
Sebuah kata "berarti" akan sudi tumbuh saat semua benakku tersadar
Lalu apa jadinya jika lusuhku tak berarti?
Ditambah lagi lusuhku yang menyakiti sebuah keindahan?
Mereka yang indah tak pernah tak mempedulikanku
Kau yang bodoh, Si Lusuh!!
Kau tak berarti lusuh yang tak harus disentuh
Kau yang buta lusuh
Kau hanya lusuh karena rasa memilikimu pada almari kaca sangat tak bertujuan

Tidakkah kau ingat pintalan benang yang melekat menjembatani harapan-harapanmu?
Kau lupa tujuan kehadiranmu?
Kau pintalan benang lusuh yang akan indah pada waktunya
Tapi kau culas pada kesempatan
Selamat jatuh terjun sedalam-dalamnya dalam kekecewaan
Wahai kau lusuh yang terkuyuh!

Sunday, November 25, 2018

Parkiran Jazz Goes to Campus Tampil Perdana di FISIP UNS

Parkiran Jazz Goes to Campus Tampil Perdana di FISIP UNS

Salah satu penampilan dalam Parkiran Jazz Goes to Campus di Hutan FISIP UNS pada Kamis (22/11/2018).
(Dok. VISI/Metta)


Lpmvisi.com, Solo – Setelah sukses menggelar pertunjukan musik jazz bertajuk “Parkiran Jazz” setiap dua bulan sekali dalam beberapa tahun belakangan ini, Bentara Budaya Solo mulai melebarkan sayapnya untuk membawa musik jazz ke lingkungan kampus. Mengusung nama “Parkiran Jazz Goes to Campus”, Bentara Budaya Solo menunjuk Universitas Sebelas Maret (UNS), tepatnya Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), sebagai kampus pertama yang dikunjunginya.

Berlokasi di Hutan FISIP UNS, Bentara Budaya Solo menggelar Parkiran Jazz Goes to Campus untuk yang pertama kalinya pada Kamis (22/11/2018). Parkiran Jazz Goes to Campus menyuguhkan jajaran pemain musik jazz seperti Alfado and Friends, Jason Limanjaya, Solo Jazz (Sojazz), Sketsa UNS, serta menggandeng Komunitas Musik FISIP (KMF) UNS.

Muhammad Safroni selaku Koordinator Bentara Budaya Solo mengaku membawa Parkiran Jazz ke lingkungan kampus karena ingin lebih dekat dengan anak-anak muda sekaligus memperkenalkan berbagai acara yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Solo. Koordinator Bentara Budaya Solo yang akrab disapa Roni tersebut juga membubuhkan harapannya supaya anak-anak muda dapat mengapresiasi acara-acara yang diselenggarakan Bentara Budaya Solo dan berminat untuk bergabung.

“Parkiran Jazz ini bagian acara rutin yang kami selenggarakan. Masih banyak acara lain yang mungkin itu bisa diapresiasi oleh teman-teman mahasiswa juga,” jelas Roni saat ditemui VISI di sela-sela acara.

Menurut penjelasan Roni, Bentara Budaya Solo menyelenggarakan Parkiran Jazz bekerjasama dengan Sojazz Society untuk merancang setiap acaranya. Sojazz yang merupakan wadah bagi komunitas pemusik jazz di Kota Solo tersebut akan mengajak komunitas-komunitasnya untuk tampil bergantian di Parkiran Jazz. Penampil dalam Parkiran Jazz pun akan berbeda-beda dalam setiap penyelenggaraannya.

Untuk penyelenggaraan Parkiran Jazz Goes to Campus di FISIP UNS, Roni menceritakan, hal tersebut bermula dari pembentukan Komunitas Bentara Muda yang banyak diisi oleh mahasiswa-mahasiswi FISIP UNS.

“Kita mencoba membawa acara ini ke FISIP sebagai awalan yang mungkin berikutnya kita akan pentas di fakultas lain atau mungkin di kampus lain,” sambung Roni.

Parkiran Jazz Goes to Campus ramai oleh pengunjung. Koordinator Bentara Budaya itu pun mengakuinya. Ia menyebutkan, “Melihat dari audiensnya, ini bagus sekali.” Ia menambahkan, Bentara Budaya tidak menargetkan berapa banyak pengunjung yang hadir. “Kami (menyelenggarakan Parkiran Jazz Goes to Campus –red) lebih untuk memberikan wadah supaya para mahasiswa dapat mengapresiasi musik jazz,” sambung Roni.

Pengunjung Parkiran Jazz Goes to Campus tidak hanya berasal dari mahasiswa FISIP saja, banyak mahasiswa dari fakultas lain yang turut hadir mengapresiasi. Bahkan, tak sedikit yang berasal dari lingkungan luar UNS.

Ata dan Virgin, dua mahasiswi Program Studi Pendidikan Ekonomi Angkatan 2014 UNS, mengaku sangat senang dengan hadirnya musik jazz di lingkungan kampus mereka. “Seru karena musik jazz ini termasuk hiburan yang jarang ada di kampus,” ungkap Virgin. Ata pun berkomentar senada dengan Virgin dan menyampaikan harapannya supaya Parkiran Jazz Goes to Campus dapat terus berlanjut. “Semoga bisa jadi acara tahunan dan diselenggarain di fakultas lain juga,” pungkas Ata. (Metta)


Friday, November 16, 2018

Diplonary 2018: Menyimak tantangan Gold Generation di Era Disrupsi

Diplonary 2018: Menyimak tantangan Gold Generation di Era Disrupsi

Pangi Syarwi Chaniago, salah satu pembicara, sedang memaparkan materi dalam Seminar Nasional Diplonary 2018 pada Minggu (11/11/2018). (Dok. Pribadi)

Lpmvisi.com, SoloHimpunan Mahasiswa Diploma (HMD) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) baru saja melaksanakan Seminar Nasional Diplonary 2018 dengan tema “Peran Pemuda dalam Mewujudkan Visi Indonesia Tahun Emas 2045”. Terlihat dari atensi pengunjung yang hadir pada Minggu (11/11/2018)−hampir memenuhi seluruh Aula Gedung F Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS−Seminar Nasional Diplonary 2018 berlangsung sukses.

Di tahun pertama penyelenggaraannya ini, Diplonary 2018 mengusung tiga subtema sekaligus. Untuk subtema Kemajuan Teknologi di Masa Depan”, Diplonary 2018 menghadirkan Krishna Adityanga, selaku CEO Skynosoft Portal Prime sekaligus Founder of Oorth, sebagai pembicara. Dalam seminarnya, Krishna Adityangga membahas mengenai industri 4.0, era disrupsi, perkembangan teknologi yang menyesuaikan dengan kebutuhan sosial, hingga tantangan milenial ke depan.

Sedangkan subtema kedua, yaitu “Menuju Politik yang Berkualitas”, Diplonary 2018 mengundang Pangi Syarwi Chaniago selaku Pengamat Politik dan Direktur Eksekutif Voxpol Center Reseach and Consulting. Pangi mengulik mengenai generasi milenal dan pentingnya pengetahuan politik untuk menyaring isu politik menjelang Pilpres 2019.

Subtema yang ketiga membahas “Berkembangnya Jiwa Entrepreneur” yang dibawakan oleh Ken Handerson selaku Success Strategist, Property Developer, sekaligus investor muda yang handal dalam memberikan motivasi agar milenial memiliki keberanian untuk memulai sebuah bisnis. Ken mengajarkan agar generasi muda mau memulai langkahnya berbisnis dengan menyisihkan uang secara berkala. Ken pun memperkenalkan sistem Ikigai serta sistem pengelolaan sederhana untuk memanajemen aset dan keuangan.

Anggita Widya, selaku Steering Committee Divisi Acara Diplonary 2018, menuturkan pemilihan tema Diplonary 2018 tidak lepas dari akan hadirnya tahun politik mendatang. Mahasiswi Program Studi (Prodi) Perpustakaan FISIP UNS 2016 itu  pun menjelaskan bahwa Diplonary 2018 merupakan acara berskala besar pertama yang diselenggarakan oleh HMD FISIP UNS. Ia menyebutkan, persiapan Diplonary 2018 telah dimulai sejak bulan Maret lalu, dengan perancangan Grand Design, penentuan tema, pembicara, hingga pematangan persiapan di bulan-bulan selanjutnya.

Anggita pun menceritakan beberapa kendala yang dialaminya bersama panitia dalam penyelenggaraan program kerja terbaru HMD FISIP UNS ini. Ada kendala yang terjadi, mulai dari pemilihan pembicara, dari segi dana, serta dari kepanitiaan juga banyak sekali kendalanya. Tetapi Alhamdulillah hari ini acara berjalan dengan lancar,” jelasnya.

Foto bersama setelah penyerahan kenang-kenangan pada ketiga pembicara serta moderator oleh Widyadewi Metta selaku Ketua Pelaksana Diplonary 2018, Buyung selaku Ketua Umum HMD FISIP UNS, serta beberapa perwakilan Steering Committee Diplonary 2018 di Aula Gedung F FKIP UNS. (Dok. Pribadi)
Diplonary 2018 mendapat respon positif dari pengunjung. Salah satunya, Elvira, Mahasiswi Program Studi Bahasa Indonesia FKIP UNS. Ia berpendapat, ini acaranya milenial banget ya, tentu aku mendapatkan inspirasi di dalamnya.”

Elvira pun menilai konsep acara Diplonary 2018 mampu membantu permasalahan anak muda saat ini. Namun, di sisi lain, Elvira mengkritik jalannya forum diskusi. Ia menyayangkan terbatasnya microphone untuk penanya serta manajemen waktu untuk pembicara dalam menyampaikan materi serta diskusi yang dirasa membuatnya kurang nyaman.

Senada dengan Elvira, Isna yang berasal dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pun merasa Diplonary 2018 sangat menginspirasi pemuda, khususnya yang ingin menjadi entrepreneur. Isna juga mengaku terinspirasi dengan kata-kata Ken Handerson yang menyebutkan bahwa sebagai pemuda kita harus dapat memanfaatkan waktu dan tenaga.
Ini sangat menginspirasi saya untuk tahu tentang bisnis,kata Isna menekankan.  Isna pun berharap agar acara ini dapat dipersiapkan dengan lebih baik terutama bagian teknis acara dan waktu yang dapat diperpanjang, mengingat tema dan pembicara yang sangat menarik. (Yuni, Atta)

Wednesday, October 3, 2018

Pergelaran Musik Keroncong dalam Peringatan 101 Tahun Gesang

Pergelaran Musik Keroncong dalam Peringatan 101 Tahun Gesang

Komunitas Panggung Gesang menggelar Peringatan 101 tahun Gesang pada Minggu (30/09/2018). (Dok. Pribadi)

Lpmvisi.com, SoloDalam rangka mengenang dan memperingati 101 tahun kelahiran Maestro Keroncong Indonesia, Gesang Martohartono, Komunitas Panggung Gesang mengadakan pertunjukan musik keroncong pada Minggu (30/09/2018). Berlokasi di Omah Sinten, pertunjukan tersebut mengangkat tema "Keroncong Untuk Semua". Selain menampilkan musik keroncong, Peringatan 101 Tahun Gesang juga menyuguhkan beberapa tarian tradisional dari beberapa daerah di Indonesia.

Sadra (40), selaku panitia dan relawan dari Panggung Gesang, menuturkan bahwa acara peringatan kelahiran Sang Maestro tersebut telah memasuki tahun kedua. Penyelenggaraan perdananya telah dilaksakan pada 1 Oktober 2017 lalu. Ia pun menambahkan, selain untuk mengapresiasi karya-karya Gesang, acara tersebut diselenggarakan untuk memeriahkan peringatan World Tourism Day.

“Kami juga berasosiasi dengan ASITA (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies) Surakarta sehingga pengunjung yang datang bukan berasal dari Solo saja melainkan ada dari beberapa daerah diluar Solo.” Sambung Sadra.

Perayaan 101 tahun Gesang terbuka untuk umum dan gratis. Tak ayal, kursi yang disediakan oleh panitia tak cukup untuk menampung seluruh pengunjung. Beberapa penonton pun rela berdiri demi menikmati suguhan musik keroncong yang ditampilkan oleh beberapa Komunitas dan pegiat musik keroncong.
Goknang(25), seorang pengunjung yang berasal dari Medan, mengaku bahwa dia sangat menyukai musik keroncong, terutama dari karya-karyanya Gesang. Ia menyampaikan, hadir di acara seperti ini merupakan sebuah keberuntungan karena ia sangat menikmati atmosfer yang ditawarkan pada saat pertunjukan berlangsung.

“Pertunjukan seperti ini sangat seru sekaligus membawa pesan kalau musik keroncong itu bukan hanya untuk orang tua, bahkan generasi muda juga bisa menikmatinya," kata Goknang. Goknang pun menyampaikan pesan agar musik keroncong harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu budaya Indonesia. (Rifki, Avista)