Sabtu, 04 Mei 2019

Ketoprak juga Kekinian

Ketoprak juga Kekinian

Penampilan Ketoprak Ngampung dalam pagelaran "Kebak Kliwat Gancang Pincang", Jumat (03/05/2019). (Dok. Visi/Stella).


Lpmvisi.com, SoloPagelaran acara Ketoprak Ngampung dengan tema “Kebak Kliwat Gancang Pincang” yang berlangsung pada Jumat (03/05/2019) pukul 20.00 WIB di Gedung Ketoprak Taman Balekambang, Surakarta merupakan sebuah event dari Anucara Project yang ditujukan untuk khalayak umum, khususnya masyarakat Solo.

Sarah Diba Azari, sebagai ketua acara tersebut mengungkapkan bahwa acara ini memiliki tema utama yaitu literasi digital, maka dari itu tim Anucara Project mengangkat isu “Hoax” atau berita palsu yang dikemas dalam kesenian ketoprak. Hoax dalam ketoprak ini dikaitkan dengan arti bahwa bila tidak berhati-hati dalam melakukan sesuatu akan mendapat musibah. Dengan bertajuk “Kabar Kabur dari Kampung Kiwil”, judul yang diangkat pun sejalan dengan tema utama yaitu tentang penyebaran berita palsu yang membawa dampak kerugian.

Sarah juga mengungkapkan bahwa ia bersama tim memilih kesenian ketoprak sebagai media penyampai pesan karena ketoprak merupakan kebudayaan asli Solo yang ringan dan cocok untuk dimasuki tema-tema saat ini. Alasan lainnya, Anucara Project juga ingin mengangkat kembali kesenian ketoprak yang mulai ditinggalkan. Selain itu, dipilihnya lokasi acara di daerah Taman Balekambang adalah karena tempat tersebut merupakan salah satu ikon dari kota Surakarta.

 Dwi Mustanto (35), salah seorang lakon ketoprak mengungkapkan bahwa beliau salut dengan diadakannya acara ini. Sebab menurutnya, mayoritas anak muda saat ini telah melupakan kesenian ketoprak. Namun dengan adanya acara ini, beliau berharap dapat memberi kesan kepada generasi muda bahwa kesenian ketoprak itu keren, gaul, dan asik sehingga acara ini dapat membekas di hati para anak muda agar bisa lebih mencintai kebudayaan lokal.

Salah satu penonton dari kalangan mahasiwa, Agata (19) mengungkapkan bahwa ini merupakan acara ketoprak pertama yang ia tonton. ”Penokohan keren,semuanya keren”, imbuhnya. Ia juga berharap semoga lebih banyak lagi anak muda yang mau menonton acara ketoprak. (Nova, Stella)

Forum Bersama Mahasiswa, Momen Bertemu Bapak Baru di Hari Pendidikan

Forum Bersama Mahasiswa, Momen Bertemu Bapak Baru di Hari Pendidikan

Jamal Wiwoho selaku rektor baru sedang menyampaikan tanggapan dari pertanyaan mahasiswa (02/05/2019). (Dok. Pribadi)
Lpmvisi.com, Solo - Menjelang petang mereka telah berpakaian rapi dan bersepatu. Meski berasal dari fakultas yang berbeda, mereka hadir dengan membawa keresahan dan harapan yang akan diadukan kepada rektor baru. Bahkan hujan deras tidak menghalangi semangat mereka, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS  ) untuk berkumpul bersama di Gedung rektorat  Surakarta UNS.

Forum mahasiswa yang diselenggarakan oleh Forum Besar (Forbes) Dalam Negeri (Dagri) UNS   berlangsung pada Kamis, (4/5/2019) malam. Forum yang dilaksankan di Ruang Sidang lantai dua Gedung Rektorat UNS   ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai fakultas. Tak hanya mahasiswa, Prof. Jamal Wiwoho selaku rektor baru UNS   beserta jajarannya ikut pula menghadiri forum tersebut.

Elang Jordan Ibrahim selaku Menteri Analisis Kampus dan Pendidikan Tinggi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS   mengemukakan bahwa acara ini perlu terlaksana karena beberapa tahun belakangan tidak ada forum-forum serupa dimana mahasiswa bisa menemui langsung rektornnya. Ia mengemukakan bersamaan dengan momentum terpilihnya rektor baru, maka pihaknya mewakili BEM UNS   bersama dengan Forbes Dagri mencoba mengusahakan forum mahasiwa ini sebagai penghubung aspirasi mahasiswa dengan jajaran Rektorat UNS.

“Kita ingin tau apakah pak rektor bisa diajak komunikasi yang baik dengan mahasiswa atau sama seperti rektor yang lalu dimana tidak ada kejelasan.” Ujar Elang. 

Sementara itu Prof. Kuncoro Diharjo selaku Wakil Rektor dalam sambutannya menyatakan bahwa agenda Forum Besar tersebut adalah penyampaian tentang konsep pengembangan rektor untuk UNS kedepannya. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi penyampaian masukan-masukan dari mahasiswa UNS .

Forum besar ini sejalan dengan ucapan Prof. Jamal Wiwoho yang menyatakan akan mencoba membuka ruang-ruang komunikasi yang lebih baik kepada mahasiswa. Ia mencoba berusaha membuka diri setiap beberapa bulan sekali untuk melaksanakan forum Bersama mahasiswa supaya komunikasi bisa terjalin dengan baik. “Di dalam rumah tangga yang besar, saya adalah bapak kalian dan kalian adalah anak angkat saya. Anak harus mengetahui orang tua dan orang tua juga harus pengertian dengan anak” ujar Jamal.
Mahasiswa-mahasiswa yang hadir dalam forum besar mahasiswa

Jamal mengungkapkan bahwa bersamaan dengan berpindahnya kepemimpinan maka akan dibarengi dengan klasterisasi UNS   sebagai Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Jamal berujar bahwa dalam waktu dekat UNS   akan berubah dari status Badan Layanan Umum (BLU) menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Berbadan Hukum (BH). Dirinya berharap UNS   menjadi perguruan tinggi yang berlevel internasional seperti Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada ataupun Institut Teknologi Bandung yang sudah terlebih dahulu berstatus PTN-BH.

Berkaitan dengan program PTNBH Jamal mempertimbangkan untuk peningkatan pendanaan dalam bidang kemahasiswaan. Pada tahun ini UNS   mengelola sebanyak Rp 757 milyar. Dan untuk pendanaan kemahasiswaan, masih berada di presentase 5,7% dari total anggaran yang ada.

Agenda berlanjut dengan penyampaian masukan dari mahasiswa. Faith Aqila Silmi yang saat ini menjabat sebagai Presiden BEM UNS   menyampaikan beberapa pertanyaan dan rekomendasi, yang sudah terlebih dahulu dikaji oleh BEM.  Hal yang dinyatakan pertama oleh Faith mengenai biaya kuliah yang tidak terjangkau. Penggolongan Uang Kuliah Tunggal (UKT) jalur Seleksi Mandiri UNS   yang berbeda dibanding mahasiswa lain yang masuk dari jalur Seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SNPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Mahasiswa Ilmu Komunikasi ini menyampaikan pula permasalahan dispensasi UKT yang seringkali belum merata bagi mahasiswa yang membutuhkan. Serta ia menanyakan tentang golongan UKT bagi mahasiswa yang di tengah jalan memiliki beberapa halangan dalam pendanaan. selain itu Faith meminta kejelasan mengenai pembiayaan alternatif lain UNS   selain pendanaan dari Ikatan Alumni UNS.

Berkaitan dengan itu Jamal mengemukakan UKT merupakan Uang Kuliah Tunggal yang sistemnya mulai diikuti UNS   sejak tahun 2012 dan diterapkan secara nasional pada tahun 2013.  UKT adalah uang kuliah yang didesain dengan kepastian dan perincian yang harus dibayarkan oleh mahasiswa, Jamal menjelaskan secara logika ketika UKT sudah dikeluarkan seharusnya sudah tidak perlu pembayaran lagi. 

“Jadi kalo ada laporan pembayaran dari luar UKT nanti saya cek lagi ya,” ujar Jamal yang diamini oleh perserta forum mahasiswa. 

Jamal menambahkan UKT memiliki sifat yang situasional sehingga ada aturan mengenai penudaan pembayaran, penurunan ukt bahkan pembebasan. Ukt bisa dipertimbangkan sesuai kondisi yang dialami keluarga mahasiswa seperti bencana alam, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan lain sebagainya.

Poin selanjutnya yang disampaikan oleh Faith adalah mengenai mutu pendidikan. Terjadi kasus di FISIP dimana Dosen yang jarang mengikuti kelas, serta pusat studi dan kepustakaan yang dinilai masih kurang.

Menanggapi hal tersebut Jamal bebicara mengenai mutu pendidikan banyak factor yang mendukung seperti halnya dari mahasiswanya, dan juga fasilitas pendukung dari pendidikan tersebut. Jamal mengemukakan untuk program sarjana di UNS   sudah ada 70% prodi yang memiliki akreditasi unggul.  Berkaitan dengan minimnya kehadiran dosen, Jamal mengemukakan bahwa diinginkannya kolaborasi antara Wakil Dekan Bidang Akademik dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni di Fakultas terkait untuk menindaklanjuti masalah dosen yang jarang masuk kelas. 

Dr. Drajat Tri Kartono selaku Staf Ahli Rektor Bidang Pengembangan Akademik, juga ikut menambahkan. Pusat studi  Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) merupakan keunggulan UNS   dan akan sangat profuktif ketika bisa digunakan sebaik mungkin. Drajat mengutarakan bahwa pusat studi ini akan diperhatikan secara serius dan sudah dijadikan agenda utama oleh rektor.

Selanjutnya Faith mempertanyakan mengenai transparasi kebijakan, seperti kadang terjadi pengeluaran kebijakan mahasiswa tapi tidak melibatkan mahasiswa dalam pembuatannya. selain itu Faith menambahkan banyak dialog antara mahasiswa dan pejabat kampus yang tidak menghasilkan solusi.  Permasalahan ini dijawab oleh Jamal dengan akan diperbanyak forum-forum mahasiswa yang memang membahas kemahasiswaan.

Faith menyampaikan pula keresahannya terhadap fasilitas UNS  yang meliputi sulitnya mengakses administrasi, Laboratorium yang masih berbayar, Sistem informasi yang belum memenuhi dan lain sebagianya. “Saya juga memahami mengenai sarpras yang kurang memadai” ujar Jamal membalas persoalan fasilitas ini.

Jamal membenarkan bahwa laboratorium UNS   memang sudah tua sehingga ia akan bersama-sama mencoba memperbaiki laboratorium yang disesuaikan dengan pendanaan. Selain itu Jamal juga mendapat laporan dari Kampus UNS   Kebumen ia sudah mengirim dari perwakilan rektorat untuk meninjau langsung ke sana. Poin yang terkahir disampaikan oleh Faith adalah Sistem kemahasiswaan. ada beberapa keresahan di antaranya pembiayaan prestasi, dan juga pendampingan prestasi.

Menanggapi bembiayaan di Kemahasiswaan tersebut, Drajat mengemukakan bahwa mahasiswa terkadang memiliki beberapa agenda yang diikuti, namun tidak ada perencanaan sebelumnya. sehingga terdapat ketimpangan system yang sudah berlaku dimana rencana pendanaan harusnya sudah dibuat terlebih dahulu. Drajat mengemukakan dari segi organisasi biasanya perencanaan dilakukan oleh pengurus sebelumnya untuk pengurus selanjutnya sehingga ada beberapa hal-hal yang sudah tidak relevan.

Heri widijanto dari Fakultas Pertanian juga mengemukakan mengenai dispensasi UKT dan pemindahan golongan dilakukan tiga bulan sebelum pembayaran UKT tiap semsternya. menurutnya pihak dekan mendapat rekomendasi dari BEM Fakultas.  Mengenai mahasiswa yang akan pergi ke luar negeri, sebenarnya bisa dilakukan pendanaa asalkan sudah diturunkannya Surat Keputusan dari pihak UNS  , biasanya pendanaan berkisar antara 30% dari total pengeluaran mahasiswa selama di luar negeri. “Di pertanian kami wakil dekan bidang kemahasiswaan biasa meminjami (uang-red) untuk menalangi terlebih dulu" ujar Heri menambahkan. 

Pertanyaan selanjutnya bermunculan dari mahasiswa, diantaranya mengenai keresahan akan Gedung Olah Raga (GOR) yang berbayar, wacana sekolah vokasi, dan Arif salah satu mahasiswa ilmu komunikasi menanyakan jaminan atas kebebasan berpendapat, berkaitan dengan itu ia mengutarakan banyaknya pembredelan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dan pihak lain yang berusaha mengutarakan kebenaran.

Jamal menanggapi. seharusnya GOR, dan sarana lain bagi mahasiswa tidak seharusnya diadakan biaya peminjaman karena itu merupakan sarana untuk mahasiswa. Berkaitan dengan pembungkaman kebenaran Jamal hanya menambahkan sebagai warga negara yang demokratis hendaknya menggunakan kebebasan dengan sebijaksana mungkin hingga tidak memyusahkan diri sendiri, selain itu ia juga yakin baik rektor dan mahasiswa memiliki tujuan yang sama. Berkaitan dengan sekolah vokasi UNS   sudah menyiapkan sekolah vokasi di daerah Tirtomoyo. dengan adanya wacana sekolah vokasi maka mahasiswan jenjang Diploma bisa melanjutkan hingga Diploma 4 (D4) dan jenjang yang lebih tinggi.

Selain itu Jamal juga mengungkapkan bahwa UNS   ini sudah siap menuju ke PTN BH hal ini merupakan jawaban atas salah satu pertanyaan dari Anisa dari Fakultas Hukum mengenai kesiapan UNS  menghadapi PTN BH. Jamal mengaku UNS   hanya tinggal menunggu Surat Keputusan dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. “Tahun 2017 pemerintah menyiapkan 3 universitas yaitu Andalas, Universitas Brawijaya (UB), dan UNS  . Dari tiga itu hanya UNS   yang sudah siap.” ujar Jamal menambahkan.

Forum berlansung dengan antusias yang tinggi, terbukti dari banyaknya mahasiswa yang tidak mendapatkan tempat duduk dan harus duduk di lantai. Namun sesuai dengan kesepakatan awal yang dikemukakan oleh Kuncoro dimana pada jam 20.30 forum harus diakhiri dikarenanakan rektor dan jajaran yang juga perlu istirahat.

Forum akhirnya ditutup dengan permintaan dari Ihsan Fikri salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran yang meminta penandatanganan notulensi sebagai nota kesepakatan. Nota ini diadakan agar pernyataan pro mahasiswa yang selama ini dikemukakan  di forum tidak menguap begitu saja ujarnya. “Saya itu adalah bapakmu, kalian anaku mengapa kau paksa kan untuk menadatangani, saya berat dan  saya tidak mau,” Ujar Jamal memberi tanggapan.

Jamal menyebutkan bahwa mahasiswa adalah anaknya yang akan diraih dan dilindungi. Maka ia tidak mau menadatangani notulensi. “ketika saya mengingkari (pernyataannya-red) maka tolong diingatkan,” pesan Jamal menutup forum malam itu.  

Usai Forum, kepada VISI Elang menjelaskan penandatanganan notulensi bertujuan memastikan yang disampaikan jajaran rektorat benar-benar di laksanakan. Meski menyayangkan keputusan Jamal untuk tidak menandatangani notulensi, Elang cukup mengapresiasi pihak rektorat yang sudah bersedia menerima aspirasi mahasiswa bahkan menjanjikan adanya forum serupa akan kembali diadakan. “kita tidak menutup kemungkinan dari adanya press release dari berbagai pihak sebagai tanda bahwa beliau sudah menyatakan hal-hal tersebut. Harapannya, pakta integritas yang tidak ditandatangai bukanlah penghalang ” ungkap Elang.

Walaupun dengan pernyataan seperti itu, di akhir wawancara Elang juga mengamini bahwa tanpa adanya kesepakatan hitam diatas putih, mahasiswa hanya bergantung pada janji yang disampaikan rektor. (Dania)

Rabu, 01 Mei 2019

6000 Penari Dalam Satu Harmoni

6000 Penari Dalam Satu Harmoni

Mengangkat tema "Gegara Menari", ISI Surakarta kembali menyelenggarakan 24 Jam Menari pada Senin-Selasa (29-30/04/2019). (Dok. VISI/Rizka)
Lpmvisi.com, Solo - Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali menghadirkan acara peringatan World Dance Day ke-13 yang diselenggarakan pada 29-30 April 2019.

Bertajuk 24 Jam Menari acara tersebut diberi tema "Gegara Menari" dengan tagline “Urip Mawa Urup, Urip Hanguripi” atau yang berarti “hidup dengan semangat, hidup memberi hidup”. Sebuah ungkapan yang seakan menggambarkan bahwa tari adalah suatu unsur yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat serta menghidupi masyarakat.

Acara ini diikuti oleh lebih dari 6000 penari dari 191 kelompok yang datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Yogyakarta, Tangerang, Pacitan, hingga Lampung, dan juga dari mancanegara. Sesuatu yang terbilang unik dari pagelaran tersebut adalah adanya 6 orang penari yang terus menggerakkan tubuhnya selama 24 jam tanpa berhenti. Dimulai dari 29 April pukul enam pagi dan berakhir keesokan harinya di jam yang sama.

Pagelaran yang terbuka untuk umum itu terbagi ke dalam lima titik, antara lain di depan Rektorat ISI Surakarta, Pandhapa Ageng G. P. H. Joyo Kusumo ISI Surakarta, Teater Kecil Gedung KRT Kusuma Kesawan, Teater Besar Gedung Gendhon Humardani, serta Teater Kapal. Untuk masuk kesana pengunjung tidak dikenakan biaya. Disana, para pengunjung juga dapat membeli berbagai hidangan kuliner dan juga merchandise yang dijual di berbagai stand yang telah disediakan oleh panitia acara. 
Salah satu kelompok Penari dari Sanggar Tari Kartika, Depok sedang melenggang diatas panggung menampilkan tariannya.


Acara tersebut bersalngsung meriah, terbukti dari antusiasme para hadirin yang datang menyaksikan. Salah satu pengunjung yang berhasil VISI wawancarai pada (29/04/2019) adalah Ika dari Pacitan. “Saya senang tahun ini bisa datang kesini untuk melihat pagelaran tari yang besar ini secara langsung,” ujarnya saat ditanyai perihal kesannya terhadap acara tersebut.

Cahya (13), salah satu peserta yang berasal dari Sanggar Cipta Budaya juga hadir untuk memeriahkan acara tersebut. Sanggar Cipta Budaya membawakan tiga jenis tarian yakni tari none nyentrik, puspa ligar dan engklek. “Kita pasang semua atribut untuk kostum dan make up ini sendiri,” tegasnya ketika berbincang soal persiapan tari yang dibawakannya kepada VISI.

Kegiatan tahunan ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk melestarikan budaya. Selain itu acara ini juga dapat memberikan semangat bagi generasi muda untuk semakin mencintai budaya lokal, khususnya budaya seni tari. (Rian, Rizka, Stella)

Senin, 29 April 2019

Ajak Ubah Gaya Hidup melalui Talkshow "Minimalism Healthy Lifestyle"

Ajak Ubah Gaya Hidup melalui Talkshow "Minimalism Healthy Lifestyle"

Sesi demo memasak pada salah satu segmen Talkshow dan Workshop "Minimalism Healthy Lifestyle" yang berlangsung pada Sabtu (27/04/2019). (Dok. Tamarind)

Lpmvisi.com, SoloTamarind Event Organizer mengajak masyarakat untuk mengubah bad habit mereka menjadi gaya hidup yang lebih sehat melalui Talkshow dan Workshop yang diselengarakan pada  Sabtu (27/04/2019) di El-Samara Coffee Space.

Dengan mengangkat judul “Minimalism Healthy Lifestyle: How to Prevent Diabetes as Early as Possible”, Tamarind turut mengedukasi masyarakat khususnya mahasiswa dan para pekerja agar lebih menyadari bahwa penyakit diabetes bukan hanya disebabkan oleh keturunan semata, tetapi juga karena gaya hidup. Selain itu, melalui acara ini diharapkan peserta yang hadir dapat menyebarkan ilmu yang mereka dapat kepada orang lain agar dapat mengubah gaya hidup mereka menjadi lebih baik.

Acara diselenggarakan oleh Tamarind Event Organizer, yang merupakan tim even yang berfokus dalam hal kesehatan dan gaya hidup. Acara ini diselenggarakan untuk memenuhi tugas akhir dari mata kuliah Public Relation 2 dalam program studi Ilmu Komunikasi.

Kegiatan berlangsung dengan dibagi menjadi tiga segmen. Dibuka dengan pembahasan mengenai penyakit diabetes dan cara pencegahannya sebagai segmen pertama, dengan menggaet dr. Wikan Basworo, Sp.F. sebagai pembicara yang juga merupakan founder Klinik Jasmine dan Komunitas Padi Mas (penyandang Diabetes Melitus) serta merupakan dosen Fakultas kedokteran UGM.

Dalam segmen kedua, Retno Wulandari, S.Gz., seorang praktisi gizi yang juga merupakan founder sekaligus chef dari Sego Jene menjelaskan mengenai manajemen dan aplikasi makanan sehat sebagai persiapan diri untuk mencegah diabetes. Retno juga mengajarkan bagaimana membuat menu Chicken Shiracha dalam workshop pembuatan menu sehat yang merupakan segmen penutup dari acara ini.
Salah satu pemateri menyisipkan materi demo cuci tangan di sela-sela materinya

Pada segmen tersebut, setiap peserta akan dibuatkan kelompok yang berisi masing-masing lima orang.  Lalu peserta diperlihatkan bagaimana proses menyajikan menu Chicken Shiracha yang kemudian akan dipraktikkan secara langsung oleh masing-masing kelompok. Pada segmen ini, peserta menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi. Terbukti dari partisipasi setiap peserta dalam praktik memasak dan juga usaha dari masing-masing kelompok untuk menyajikan hidangan terbaiknya secara menarik.
Salah satu kelompok sedang mengikuti sesi workshop memasak Chicken Shiracha

Pada akhir segmen, para peserta diharuskan untuk mengunggah foto hidangan dari masing-masing kelompok ke instagram dengan mencantumkan #CegahLebihDini dan caption semenarik dan sekreatif mungkin. Kemudian, diambil dua orang pemenang yaitu Qorina Azza untuk kategori foto terbaik dan juga Aaoron Sulistyo untuk kategori caption terbaik. Selain itu, hadiah juga diberikan kepada kelompok 4 sebagai kelompok terkompak. Acara ditutup dengan penyerahan hadiah kepada pemenang, dan penyerahan vendel kepada pembicara. (Redaksi)

Turnamen Basket SPECTRUM Selesai, Pendaftaran Lomba Esai dan Poster Masih Dibuka

Turnamen Basket SPECTRUM Selesai, Pendaftaran Lomba Esai dan Poster Masih Dibuka

Salah satu pertandingan dalam 3x3 Baketball Competitioan SPECTRUM FISIP UNS, Minggu (28/4/2019) di Gor UNS. (Dok. SPECTRUM)

Lpmvisi.com, Solo - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali gelar acara tahunan bertajuk Sport Education and Art Tournament (SPECTRUM). 3x3 Basketball Competition, menjadi pembuka dari rangkaian acara pada minggu (28/4/2019) yang bertempat di Gor UNS. Total tim yang bertanding sebanyak 11 tim dengan beranggotakan mahasiswa UNS dari berbagai fakultas.

Waskito Khrisna Aji selaku ketua panitia acara menjelaskan turnamen basket 3x3 dipilih karena waktu persiapan acara yang terbilang singkat. Namun menurutnya, dengan begtu acara ini diharapkan dapat fokus melihat antusiasme mahasiswa UNS sendiri. “Dulu (SPECTRUM tahun lalu-red) pertandingan tingkat mahasiswa dan SMA se Solo-Jogja. Karena waktu kita mepet jadi kita ambil yang paling ringkas, mahasiswa se-UNS” tutur Khrisna.

Danis salah satu peserta turnamen, yang merupakan mahasiswa Pendidikan Dokter UNS ini menyayangkan kurangnya sosialisasi dari panitia. Menurutnya peserta lomba masih terlalu sedikit. “Acara kedepannya, infonya di gencarkan lagi ya. Mungkin ada yang mau main tapi masih belum sempat daftar,” ujar Danis.

Lain lagi dengan Letie, alumni program studi Psikologi UNS yang sengaja datang untuk menyaksikan pertandingan merasa senang karena tidak perlu membayar untuk menonton. Namun ia mengharapkan pada acara tahun depan dapat menghadirkan pertandingan basket full team. “Besok besok kalo bisa full team sekalian. kalau 3x3 kan cuma 12 menit ya, sayang,” tutur Letie.

Penyerahan hadiah pemenang turnamen basket 3x3 ini dilakukan pada hari yang sama. Tim Lucky Boys tercatat sebagai juara 1, Juara 2 Tim Art Of Shoot, dan Tim Doa Ibu sebagai Juara 3.
Tim Lucky Boys, Juara 1 3x3 Basketball Competitioan saat berfoto Bersama usai penyerahan hadiah dari perwakilan panitia. (Dok. SPECTRUM)

Selain tunamen basket, SPECTRUM juga mengadakan lomba menulis esai dan design poster tingkat nasional. Reksa Bhuana heal the earth, heal the future menjadi tema untuk SPECTRUM tahun ini. Khrisna menjelaskan, tema tersebut dipilih karena melihat kondisi bumi saat ini yang dianggap memprihatinkan. “Kita ingin mejaga bumi untuk kehidupan yang lebih baik. Tema ini berpengaruh di lomba poster dan lomba esai,” jelas Khrisna.

Khrisna menjelaskan pula bahwa pendaftaran dan pengumpulan karya poster dan esai dapat dilakukan secara online. Penjurian karya akan dilakukan oleh dosen-dosen UNS yang ahli dibidangnya. “Pengumpulan karya melalui link yang sudah di kasih. Akhir pengumpulan tanggal 8 Mei 2019, ujar Khrisna.

Sayangnya, gelaran SPECTRUM tahun ini tidak mengadakan acara puncak sebagai penutup rangkaian kegiatan. Pengumuman pemenang lomba hanya akan diumumkan melalui media sosial Instagram. “Untuk pengumumannya melalui Instagram saja, untuk hadiahnya akan kita paketkan ke alamat yang terdaftar,” ujar Khrisna

Saat ditanya menganai harapannya pada SPECTRUM tahun depan, Khrisna menyebutkan agar cabang lomba dapat lebih bervariasi.  Harapannya, untuk lomba bisa ditingkatkan lagi, cabang lomba mungkin bisa lebih bervariasi. Basketnya mungkin bisa 5x5, bisa ditambah lomba dance, lomba tari atau lomba sastra dan sebagainya, pungkas Khrisna. (Prissil, Yuni)

Kamis, 25 April 2019

Solo Membaca dalam Tajuk "Jelajah Aksara"

Solo Membaca dalam Tajuk "Jelajah Aksara"

Keberlangsungan salah satu acara Solo Membaca yaitu bazar buku yang diselenggarakan di Student Center UNS

Lpmvisi.com, SoloLembaga Pers Mahasiswa Kentingan Universitas Sebelas Maret (LPM Kentingan UNS) mengadakan acara rutin setiap tahunnya yaitu Solo Membaca yang mengusung tema “Jelajah Aksara”. Acara ini dimulai pada Senin (22/04/2019) hingga Minggu (27/04/19).

Solo Membaca terdiri dari berbagai rangkaian acara seperti bazar buku, lomba fotografi, sinau nulis, bedah buku, workshop, dan lomba photostory. Rangkaian acara tersebut dilaksanakan di Student Center Universitas Sebelas Maret, kecuali untuk workshop photostory dilaksanakan di ruang sidang biro kemahasiswaan dan alumni UNS.

Umi selaku panitia acara mengatakan, “Kegiatan utama dari Solo Membaca yaitu Bazar Buku, tapi ada sub-sub acaranya hampir setiap hari.” Umi juga mengatakan bahwa untuk supply buku diambil dari beberapa penerbit seperti Gramedia, Tiga Serangkai, dan 12 penerbit lainnya.

Setiap tahunnya, Solo Membaca mengusung tema yang berbeda, namun sistematika kegiatannya masih tetap sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja yang membedakan Solo Membaca tahun ini dengan  tahun sebelumnya ialah pada acara workshop, yang mana tahun lalu mengangkat tema “Ilustrasi” sedangkan tahun ini bertemakan Photostory”. Pemateri dari workshop photostory kali ini yaitu Boy T. Harjanto yang merupakan Freelancer Photojurnalistik dan Jauhari, S. Sn., M.Sn selaku Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual UNS.

Tujuan diadakannya Solo Membaca  yaitu untuk memfasilitasi mahasiswa UNS yang gemar membaca. Lebih menariknya, buku-buku yang disediakan juga menawarkan potongan harga dari masing-masing penerbit. Target utama untuk  kegiatan Solo Membaca yaitu mahasiswa UNS sendiri, lebih-lebih masyarakat Solo raya. Akan tetapi masih banyak juga mahasiswa UNS yang belum mengetahui tentang Solo Membaca ini.

 “Menurut aku bagus, acaranya juga keren. Awalnya kesini mau ikut bedah buku, eh pas masuk ternyata ada bazar buku juga jadi beli satu buku,ujar  Rina, Mahasiswa D3 Manajemen Bisnis FEB UNS selaku pengunjung Solo Membaca.

“Cuman menurutku kegiatan ini kurang di publikasikan dan di sosialisasikan jadi banyak yang gak tahu. Pas aku ajak temenku, dia malah bilang apa itu Solo Membaca, jadi menurutku lebih digencar-gencarkan lagi untuk publikasinya,” tambah Rina. Rina juga mengaku bahwa ia mengetahui acara Solo Membaca dari Instagram Story.  Trus untuk obral buku seharusnya dijadikan iconnya supaya lebih tertarik karena bukunya murah-murah. Aku tahu kegiatan Solo Membaca ini dari story temenku yang menjadi panitia solo membaca tapi aku gak tahu kalau ternyata ada obral buku,” pungkasnya.

Harapan untuk kegiatan Solo Membaca tahun ini semoga  masyarakat solo khususnya mahasiswa UNS antusias dalam memeriahkan acara ini”. Ujar Umi, panitia acara Solo Membaca. (Kikis, Reni)

Senin, 15 April 2019

Menggiatkan Kembali Budaya Bertutur dengan Sinau Dongeng

Menggiatkan Kembali Budaya Bertutur dengan Sinau Dongeng

Peserta kelas Sinau Dongeng antusias mengikuti kegiatan pada kelas mendongeng dengan Rona Mentari. (Dok.Visi/Naila)
Lpmvisi.com, Solo – Sejak pagi, Warung Inspirasi Manahan telah ramai oleh pengunjung. Wanita dan pria, orang tua dan remaja, duduk takzim mendengarkan pembicara yang menyampaikan materi. Sesekali mereka berdiri, bernyanyi sambil bertepuk tangan.

Organisasi nonprofit Doing Project mengadakan kelas ‘Sinau Dongeng’ pada Sabtu (13/04/19). Bertempat di Warung Inspirasi Manahan. Pembicara kelas mendongeng ini didatangkan dari Rumah Dongeng Mentari, yaitu storyteller profesional Rona Mentari yang berasal dari Yogyakarta. 

Acara ini diramaikan oleh peserta yang sebagian besar adalah orang tua atau pengajar. Namun tak sedikit pula yang datang dari kalangan karyawan swasta yang tertarik untuk belajar mendongeng. Kebanyakan peserta mengetahui acara ini dari akun sosial media Doing Project dan juga akun sosial media Rona Mentari di Instagram.
Salah satu peserta mempresentasikan gambar yang dibuatnya dalam kegiatan praktik metode mendongeng dalam kelas Sinau Dongeng. (Dok. VISI/Naila)

Di acara tersebut, para peserta diajari mengenai berbagai teknik dalam mendongeng, mulai dari cara berekspresi, suara, intonasi, gestur, hingga pernafasan. Peserta juga diajari tentang bagaimana cara menarik perhatian audiens mulai dari anak kecil hingga dewasa, agar tertarik pada dongeng yang disampaikan. Dalam sesi tanya jawab, Rona Mentari juga banyak menceritakan pengalamannya dalam mendongeng dari dulu hingga sekarang. Ia berkata bahwa siapapun dapat mendongeng, karena setiap orang adalah pendongeng.

Rona Mentari yang sudah berkecimpung dalam dunia mendongeng sejak bertahun-tahun lalu, menyampaikan materi pada siang itu secara asyik dan menarik. Seluruh peserta dianggap seperti teman. Sesekali mereka diajak berinteraksi untuk meramaikan suasana. Para peserta terlihat antusias mendengarkan dan melakukan aktivitas-aktivitas kecil dalam ruangan.

“Acaranya seru banget. Aku bisa dapat banyak ilmu tentang mendongeng dan dapat banyak teman baru juga.” ujar Khoir (25), salah satu peserta Sinau Dongeng yang datang dari Boyolali.
Peserta kelas Sinau Dongeng antusias menirukan ekspresi-ekspresi yang dicontohkan pembicara. Ekspresi wajah adalah salah satu hal yang mendukung berhasilnya penyampaian pesan dalam dongeng. (Dok. VISI/Naila)

Para peserta yang datang ke Sinau Dongeng rata-rata memang memiliki minat dalam bidang mendongeng. Namun ada juga peserta yang datang karena perannya sebagai orang tua yang ingin belajar dongeng demi ingin mendongengi anaknya. Contohnya saja Erin (30) yang merupakan salah satu peserta Sinau Dongeng asal Sukoharjo. Ibu Muda ini memiliki keinginan untuk dapat mendongengi anaknya yang masih berumur 3 tahun sehingga ia datang ke acara tersebut dengan harapan bisa mendapatkan banyak ilmu mengenai mendongeng.

Sinau Dongeng ini sukses diselenggarakan oleh kawan-kawan Doing Project yang juga dibantu oleh para volunteer acara yang biasa di panggil dengan sebutan Peri. Sinau Dongeng menjadi salah satu dari rangkaian acara Purana Festival yang pertama kali diadakan di Solo. Rangkaian acara dari Purana Festival sendiri meliputi Kereta Purana Goes To School, Sinau Dongeng, dan Pagelaran Dongeng Solo. Puncak acara Purana Festival akan diadakan pada 20 April 2019 di Taman Cerdas Soekarn-Hatta, Jebres, Solo. Purana yang berasal dari bahasa Sanskerta ‘Puraana’ yang artinya cerita kuno, festival ini menggiatkan kembali budaya bercerita sebagai bentuk afeksi kepada satu sama lain.

Irul (22) yang merupakan ketua pelaksana Purana Festival memiliki harapan dengan diadakannya acara ini, ia bersama kawan-kawan dapat menghidupkan kembali budaya mendongeng di kalangan masyarakat terutama bagi anak-anak. Mahasiswa DKV UNS ini bersama kawan-kawannya di Doing Project sebelumnya juga sering melakukan kegiatan rutin dongeng keliling dan juga workshop dongeng di sekitar Solo. (Naila, Ola)

Sabtu, 06 April 2019

Pameran Seni Rupa Perlawanan, Sarana Kritisi Pemilu 2019

Pameran Seni Rupa Perlawanan, Sarana Kritisi Pemilu 2019


(dok.visi/Nova)

Lpmvisi.com, Solo – Lima pelukis dari Jakarta dan Solo menggelar pameran seni rupa bertemakan “Perlawanan” di  Taman Budaya Jawa Tengah Solo. Pameran dilaksanakan pada Senin (01/04/2019) hingga tanggal 5 April 2019. “Perlawanan” bertujuan sebagai sarana untuk penyampaian pesan kepada kaula muda guna membangun kesadaran politik di indonesia terutama tentang pemimpin indonesia kelak.  

Pameran yang berlangsung sejak 1 April kemarin tidak hanya menampilkan seni lukis, namun juga ada serangkaian acara yang dimulai pukul 14.00 sampai 21.00. Seperti pementasan atau performance art dari para pemrakarsa pameran, diskusi pameran, hingga parade pemilu yang berlangsung mulai dari pukul tujuh malam. Pameran ini sudah dipersiapkan dari satu tahun lalu tepatnya saat lebaran, mereka Ibob Susu Arief, Ableh Deni Kuncoro (Jakarta) yang kebetulan dari satu organisasi Sebumi dan Choiri, Safiuddin Hafiz, J. Christanto (Solo) dari organisasi S3.

Lukisan yang ditampilkan identik dengan warna merah dan bergambarkan babi. Hal tesebut memliki filosofi tersendiri. Merah menggambarkan semangat perlawanan dalam berjuang sedangkan babi menggambarkan hewan yang rakus bahkan kotorannya sendiri pun dimakan lagi. Hal tesebut menggambarkan begitulah pemerintahan indonesia saat ini yang penuh dengan bualan semata.

“Sebenarnya karya-karya ini sudah lama, lukisan Prabowo dan Jokowi  itu sebenarnya prediksi kita dari 2014, dibuat setelah 100 hari kepemimpinan Jokowi terus kita prediksi kalau  dua tokoh tersebut yang bakalan muncul dan ternyata benar,” ujar Ableh Deni Kuncoro atau yang biasa dipanggil Deni salah satu pemrakarsa pameran tesebut.

Pameran ini direncanakan akan diadakan saat momentum pemilihan presiden. Saat ini baru dimulai dari Solo lalu akan berlanjut di Bandung. Sasaran dari pameran ini adalah mahasiswa-mahasiswa.
“Pemuda pinter-pinter melihat situasi politik sekarang, karena politik itu yang mengatur kehidupan kita selanjutnya. Kalau kita diam maka politik akan semena-mena walaupun sejago apapun, kalau diam akan tetap ditindas,” pesan Deni kepada para pemuda Indonesia.

Pameran bertemakan politik ini banyak menarik atensi pengunjung terbukti dari ratusan orang yang telah mengisi buku tamu pameran. “pameran ini menarik, seolah pemuda disadarkan bahwa sebenarnya politik itu akan merasuki segala aspek kehidupan. Namanya pemuda kudu punya independensi agar egga mudah dibawa kesana-kemari” ujar Dania salah satu pengunjung pameran "Perlawanan" tersebut. (Nova)

SICF, Event Tahunan Solo yang Paling Ditunggu

SICF, Event Tahunan Solo yang Paling Ditunggu


Kemeriahan Solo Indonesia Culinary Festival (SICF) yang digelar mulai Kamis (04/04/2019) di Benteng Vastenburg.
Lpmvisi.com, SoloSolo Indonesia Culinary Festival (SICF) merupakan acara tahunan kota Solo yang selalu di gelar saat memasuki bulan April. Acara ini diselenggarakan mulai Kamis (04/04/2019) dan akan berakhir Minggu (07/04/2019).

Event ini digelar terbuka di Benteng Vastenburg, Kedung Lumbu, Pasarkliwon, Kota Surakarta, dan terbuka gratis untuk umum. Tahun ini merupakan tahun SICF spesial karena dimeriahkan oleh 206 booth makanan dan minuman. Selain itu juga disediakan 7000 porsi tengkleng gratis, nasi timlo, sosis solo serta dimeriahkan oleh berbagai acara menarik lainnya. Acara ini diadakan dengan tujuan agar masyarakat mencintai makanan kuliner Indonesia, khususnya kuliner Solo itu sendiri.
Salah satu sudut dalam Benteng Vastenburg.

Acara berlangsung meriah dengan berdirinya panggung yang besar ditengah lapangan sebagai pusat komando acara. Melalui panggung ini, Grand Opening dilaksanakan dan melibatkan Menteri pariwisata RI dan Walikota Solo. Pada panggung ini pula digelar art and music performance, serta beberapa perlombaan yang diselenggarakan seperti vlog competition, photo comprtition, cooking competition, dsb. Tentunya melalui hal tersebut, diharapkan dapat meningkatkan antusias pengunjung sebab mereka tak hanya disugguhkan kenikmatan kuliner Solo saja, melainkan juga pertunjukan hiburan dan perlombaan.

Daryono, salah seorang panitia penyelenggara menyatakan "Harapan saya untuk masyarakat khususnya anak muda mengenal kuliner Indonesia khususnya Solo, dalam hal ini juga termotivasi untuk berwirausaha di bisnis kuliner sehingga mampu membanggakan egara dan juga kota  melalui acara ini." Besar harapan beliau , ada feedback yang bagus dari masyarakat mengenai acara ini.

Acara ini juga disambut hangat oleh berbagai pedagang kuliner serta UKM (Unit Kegiatan Masyarakat) yang mengisi stand-stand makanan. Wahyono, salah satu peserta SICF berkata "Saya sangat mengapresiasi acara ini sebagai ajang pengenalan kuliner tradisional. Bahkan menurut saya event seperti ini yang ditunggu oleh para pedagang dan juga masyarakat tiap tahunnya." Wahyono mengaku telah mengikuti event ini selama 5 tahun berturut-turut dan merasa senang dengan adanya acara ini.

Namun, pernyataan yang cenderung berbeda dilontarkan oleh dua orang pengunjung bernama Sola dan Iccha. Mereka datang ke acara ini dengan tujuan untuk hunting foto. Mereka berkata "Sangat senang dengan acara ini namun kesan kuliner nya kurang kental, dibuktikan dengan masih banyak stand makanan modern. Acaranya juga sudah dimulai namun jalanan masih becek dan beberapa kursi belum tertata rapi, mungkin kedepannya masih harus ditingkatkan perihal kesiapan acara."

Meskipun begitu, adanya makanan modern dalam festival ini bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan oleh peserta itu sendiri. "Sah-sah saja karena saya mengakui ada dua bidang penjual makanan di festival ini, ada tradisional dan juga modern" ujar Wahyono.

Meski acara ini ramai pengunjung, namun keamanan di area festival tidak perlu dikhawatirkan. Hal tersebut karena banyaknya pasukan keamanan yang berjaga. Selain itu, masyarakat juga dimudahkan dengan adanya peta stand makanan di pintu masuk kedua, sehingga pengunjung tidak akan tersesat dan dapat langsung memilih tempat mana yang akan dituju. Dan juga beragam banner event juga menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pengunjung yang hendak berfoto namun tidak ingin berlama-lama mengantri. (Tiara)