Minggu, 17 Maret 2019

Menikmati Eksotisme Memedi Sawah

Menikmati Eksotisme Memedi Sawah


Pengunjung melihat dan negabadikan foto karya perupa Hari Budiono dalam pameran memedi sawah (15/03/2019). (Dok. Visi/Bintang)
Lpmvisi.com, Solo - Bentara Budaya menghadirkan pameran seni rupa tunggal karya Hari Budiono dengan tema "Memedi Sawah". Ditangan seorang Hari Budiono, memedi sawah menjadi objek yang menarik dan unik karena telah membawa pandangan baru untuk melihat memedi sawah tidak hanya sekedar replika manusia untuk menakut-nakuti di sawah.

Pameran yang berlangsung pada 15-20 Maret 2019 di Balai Soedjatmoko Solo ini menampilkan karya instalasi berupa orang-orangan sawah. Orang-orangan tersebut ditata memegang wajah tokoh-tokoh Indonesia yang sedang tertawa, syair ibu pertiwi dan 8 lukisan karya Hari Budiono.

Lukisan tokoh tertawa yang sedang dipamerkan berasal dari berbagai kalangan seperti tokoh politik seperti Jokowi, Prabowo, Susi Pujiastuti, B.J Habibie, Dahlan Iskan dan lainnya.  Selain itu juga ada lukisan tokoh agama seperti Gus Mus dan Quraish Shihab, tidak lupa Hari Budiono juga mengikutsetakan kalangan selebritas seperti Ayu Tingting, Luna Maya dan masih banyak lagi.

Setelah subelumnya sukses di dua kota yakni Jakarta dan Bali, kini Solo menjadi kota ketiga dalam tour pameran Memedi Sawah dan akan berakhir di Jogja. Pada tiap kota yang menjadi lokasi pameran terdapat perbedaan display yang disesuaikan dengan kondisi khas kota masing-masing "Terdapat perbedaan display dari setiap kota, tetapi khas utama yaitu display memedi sawah yang berjajar membawa teks lirik lagu Ibu Pertiwi," ujar Jabri, salah satu panitia.

Pengunjung pameran memedi sawah berasal dari berbagai kalangan baik itu anak muda, dewasa bahkan orang tua. Cindy salah satu pengunjung mengaku merasa senang dan puas dengan diadakannya pameran ini karena pameran Memedi Sawah ini unik dan beda dari pameran lainnya. (Bintang, Rizka, Syam)


Rabu, 13 Maret 2019

Kebebasan Berpendapat Terjamin Dalam Falsafah Kepemimpinan Jawa

Kebebasan Berpendapat Terjamin Dalam Falsafah Kepemimpinan Jawa

(Dok. Internet)
Oleh : Fajrul Affi Zaidan Al Kannur
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan tuhan lainnya karena dianugerahi akal. Manusia juga memiliki keistimewaan berupa hak-hak dasar yang sudah melekat dalam diri manusia sejak dalam kandungan, bersifat universal dan ketika lahir di dunia diakui oleh semua orang. Hak - hak dasar ini sering kita kenal dengan Hak Asasi Manusia (HAM). HAM adalah hak yang diberikan Tuhan kepada manusia secara langsung. Karna itu, tidak ada kekuatan apapun di dunia yang mampu untuk mencabutnya. Namun pada praktiknya, ada banyak sekali pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi di berbagai penjuru dunia. Pelanggaran HAM tersebut dilakukan semata-mata untuk kekuasaan dan kepentingan pribadi.
Baru-baru ini, terjadi sebuah peristiwa yang disinyalir terdapat unsur pelanggaram HAM. Kasus penangkapan Robertus Robet, aktivis HAM sekaligus dosen Sosiologi Universitas Negeri Jakarta merupakan sebuah ancaman terhadap kebebasan berekspresi yang merupakan hak asasi manusia. Penangkapan Robertus dilakukan lantaran orasinya di Aksi Kamisan yang dilakukan Kamis (28/2/2019), dianggap melanggar pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia. Dan karna itu, Robertus sudah ditetapkan sebagai tersangka. Akibat dari peristiwa ini, muncul berbagai tanggapan dan reaksi dari lapisan masyarakat yang menganggap telah terjadi pelanggaran HAM kaitannya dengan kebebasan berpendapat atau berekspresi. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk menguliknya lebih jauh.
Penangkapan Robertus yang bermula ketika orasinya dalam Aksi Kamisan dianggap telah menghina citra dan martabat dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai institusi negara. Robertus diduga menghina TNI dengan memelesetkan lirik lagu Mars ABRI saat dirinya berorasi. Lagu yang populer dikalangan aktivis dan mahasiswa pada zaman Orde Baru. Saat itu lagu ini sangat lumrah untuk dinyanyikan. Dalam aksi itu Robertus juga menyuarakan aspirasinya untuk menolak isu kebijakan Dwifungsi TNI yang sempat diisukan akan dimunculkan kembali.
Jika dilihat dari konteksnya, lagu yang dinyanyikan Robertus sebetulnya memiliki makna agar kita kembali mengingat dan bercermin pada zaman orde baru dimana masuknya militer dalam ranah sipil bukanlah keputusan yang baik karena dapat mengancam kedamaian kehidupan sipil. Jadi lagu yang dinyanyikan Robertus tidak bertujuan untuk menghina TNI, namun untuk mengingatkan kepada pemerintah dan kita semua bahwa Dwifungsi TNI bukanlah kebijakan yang baik dan karna itu dirinya mewanti-wanti untuk tidak diterapkan lagi saat ini. Namun naas bagi Robertus, niat yang baik itu justru tidak ditangkap dengan baik pula. Sehingga, berujung pada penangkapan dirinya dan sekarang ini berada dalam bayang-bayang ancaman pidana.   
Dari peristiwa ini, kita bisa menarik sebuah fakta bahwa pemerintahan saat ini terlalu sensitif terhadap kritik dan terkesan ingin menjaga wibawanya dengan tidak mau disalahkan atau dikritik terhadap kebijakan yang akan mereka ambil. Selain itu, kepolisian terkesan kurang kerjaan karena sibuk berkutat dengan kasus-kasus yang tidak penting, ketimbang mengusut dan menyelesaikan kasus besar yang menyangkut hajat orang banyak. Dari sini kita bisa melihat berbagai macam kepentingan yang akhirnya mengantarkan Robertus Robet menjadi tersangka dalam kasusnya.
Dalam falsafah kepemimpinan jawa terdapat tiga ajaran yang bisa digunakan pemerintah dalam menanggapi permasalahan ini. Pertama, mulat laku jantraning angkasa yang memiliki pengertian bahwa pemimpin harus meneladani langit yang luas tak terbatas hingga mampu menampung segala benda angkasa. Maknanya adalah pemimpin dalam hal ini adalah pemerintah harus memiliki ketulusan hati, mampu mengendalikan perilaku dan tindakannya, serta sanggup menampung seluruh aspirasi atau keluh kesah dari seluruh rakyat. Jadi, dalam konteks kasus Robertus Robet pemerintah yang bertindak sebagai pemimpin harusnya mampu mengendalikan perilaku dan tindakannya dengan tidak gegabah melakukan penangkapan ada seseorang yang mengkritik pemerintah. Selain itu, pemerintah juga harusnya sanggup menampung aspirasi dan keluh kesan dari rakyatnya, apalagi aspirasi yang dilontarkan Robertus Robet bertujuan baik yaitu mengingatkan pemerintah terhadap kebijakan yang akan diambilnya.
Kedua, Momot yang memiliki pengertian bahwa pemimpin harus memiliki jiwa samudra yang bukan hanya sekedar mampu menampung segala pujian, namun juga kritik yang membangun. Maknanya adalah pemerintah tidak boleh sensitif terhadap kritikan karena pemerintah sebagai pemimpin tidak boleh hanya menerima pujian namun juga harus mau menerima kritikan. Maka dari itu penangkapan terhadap Robertus Robet bisa mengindikasikan bahwa pemerintah tidak mau dikritik dan memilih untuk memenjarakan para pengkritiknya.

Ketiga, Peksi yang memiliki arti bahwa pemimpin harus bertindak independen dan tidak terikat oleh kepentingan satu. Lebih jauh lagi, pemimpin tidak mudah diintervensi oleh pihak manapun. Kaitannya dalam kasus Robertus, terdapat kemungkinan bahwa pihak yang merasa tersudutkan akibat kritik tersebut mempunyai kekuatan yang mampu mempengaruhi keputusan dari pemerintah sehingga akhirnya Robertus pun ditangkap. Maka dari itu seharusnya agar pemerintah bisa menepis itu semua pemerintah harus berlaku bijak dan adil.  

Dari fakta-fakta yang ada, peristiwa yang menimpa Robertus Robet sepatutnya tidak terjadi. Peristiwa ini hanya akan menjadi preseden buruk bagi kehidupan demokrasi bangsa Indonesia. Demokrasi yang kita harapkan adil, maju dan lebih baik justru mengalami kemunduran akibat peristiwa ini. Tindakan dan kritik yang dilontarkan Robertus tidak pantas mengantarkannya masuk kedalam jeruji besi, Untuk itu, sudah seyogyanya pihak kepolisian harus bertindak secara adil dan profesional agar polemik ini tidak berlarut-larut dan mengantisipasi kekacauan di tengah masyarakat.

Minggu, 10 Maret 2019

Tunjukkan Eksistensi, UNS Adakan Lomba Kano

Tunjukkan Eksistensi, UNS Adakan Lomba Kano


Keberlangsungan acara lomba kano, Sabtu (9/3/2019). (Dok. Visi/Fajrul)

Lpmvisi.com, Solo - Pertandingan kano sebagai ajang memeriahkan acara Dies Natalis Universitas Sebelas Maret (UNS) ke-43, pada Sabtu (9/3/2019) berlangsung meriah. Acara ini merupakan serangkaian dari acara Peresmian Danau UNS yang berlangsung di hari yang sama. Danau UNS yang baru resmi dibuka menjadi tempat pelaksanaan acara tersebut.

Even lomba kano yang baru terlaksana tahun ini diselenggarakan oleh panitia yang berasal dari Fakultas Kepelatihan Olah Raga (FKOR) UNS. Menurut penuturan Kamilia, salah satu panitia lomba kano, even ini juga bertujuan sebagai ajang FKOR untuk memperkenalkan fakultasnya yang tergolong baru “FKOR kan masih baru di UNS, kita baru berdiri tahun 2018 yang lalu,” ujar Kamilia menambahkan.

Berkat dukungan dari berbagai pihak, khususnya kepada pihak penyelenggara yakni FKOR UNS dan juga pihak sponsor seperti “Eagle”, acara yang memakan biaya tak sedikit ini bisa sukses dan lancar.Untuk peralatan seperti kanonya dari FKOR sediri yang membeli,” imbuh Dian, salah satu panitia lomba kano. “Saya berharap acara ini bisa menjadi agenda rutin tiap tahunnya, dan sebuah kebanggan menjadi panitia, mengingat tujuan yang baik memperkenalkan Fakultas kami yaitu FKOR,” ujar panitia acara perlombaan kano, Kamilia dan Dian.

Acara perlombaan kano tidak hanya menarik perhatian dari kalangan warga kampus saja, beberapa masyarakat Solo juga turut berpartisipasi. Acara dimulai pukul 07.30 WIB, dengan agenda sebelumnya yakni registrasi ulang. Peserta dari berbagai daerah tidak ragu untuk melibatkan diri dalam pertandingan kano. Menurut penuturan Dian jumlah peserta sekitar 150 orang yang terdaftar melalui media daring dan masih ditambah dengan adanya peserta yang mendaftar secara langsung di lokasi lomba. Pendaftaran yang tidak di pungut biaya dan juga hadiah berupa sepeda motor serta sejumlah uang menjadi daya tarik tersendiri bagi pendaftar.Saya pingin ikut lomba karena kalo menang bisa dapet motor,” ujar Hanafi (18) salah satu peserta lomba kano.

Harapan Hanafi dari acara ini agar bisa terus dilaksanakan dari tahun ke tahun. Agar UNS pun juga bisa menjadi salah satu contoh pencentak atlet-atlet olah raga kano di Surakarta. “Sebenarnya banyak bibit-bibit atlet di Solo, cuma wadahnya saja tidak ada, tutur Hanafi. Peserta lainnya, Daffa (16) menyatakan “Acara ini baik apabila bisa terus dilaksanakan mengingat lomba ini seru, hanya saja harapannya peserta bisa digolongan sesuai kemampuannya , supaya lebih fair pelaksanaannya."

Salah seorang pengunjung, Nova juga turut memberikan harapan terhadap keberlangsungan acara, “Melihat perlombaan yang seru seperti ini para penonton pun juga dibuat penasaran melihat perlombaan.” Nova juga menambahkan bahwa perlombaan seperti kano juga berguna bagi masyarakat sebagai hiburan disaat liburan, mengingat danau UNS yang juga telah direnovasi menjadi lebih nyaman. Menurut data keluaran resmi dari UNS, danau tersebut berkedalaman sekitar 2-3 meter, dengan luas genangan danau seluas 1,206 Ha. Danau yang airnya bersumber dari Kali Kendil dan drainase kota ini diharapkan bisa menjadi salah satu fasilitas unggulan di UNS. (Dania, Tiara)

Bingkai Kreativitas Kearifan Lokal dalam FISIP Festival

Bingkai Kreativitas Kearifan Lokal dalam FISIP Festival

Pameran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dalam Open House FISIP Festival (08/02/2019). (Dok. Visi/Ulfa)



Lpmvisi.com, Solo - Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) menghadirkan Open House FISIP Festival dalam rangka memperingati Dies Natalis UNS yang ke-43. Acara yang diselenggarakan di halaman FISIP pada Jumat (08/02/2019) ini mengusung tema “Semangat Bela Negara.”


Tema “Semangat Bela Negara” memilki konsep untuk memunculkan nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air, dan budaya lokal. Acara yang sudah dipersiapkan sejak  bulan Februari dan berlangsung selama dua hari ini merupakan kolaborasi antara dosen dengan mahasiswa. Salah satunya diisi pameran dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di FISIP. “Setiap UKM diwajibkan memunculkan semangat kebangsaan, namun berprestasi. Kita juara di era global tetapi kuat di dalam kebangsaan.” Jelas Rutiana Dwi Wahyuningsih selaku ketua penyelenggara.

Oleh karena itu, setiap UKM menyajikan kreatifitas dalam mendukung semangat bela negara melalui ciri khas masing-masing. Beberapa contoh di antaranya karya penelitian tentang politik yang disuguhkan oleh Center of Social and Political Research (CENSOR). Pameran fotografi yang bertajuk kebangsaan dari Fisip Fotografi Club (FFC) dan karya tentang Eksistensi Budaya Solo yang dikemas dalam majalah oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) VISI.

Selain pameran UKM, acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai hiburan. “Peringatan Dies Natalis untuk Open House FISIP diisi hiburan dari UKM, stand up comedy, tari tradisional, dan paduan suara mahasiswa Hubungan Internasional (HI).” ujar Isnaini Khoirunnisah, selaku panitia, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi 2016 tersebut.

“Perhelatan Festival Dies Natalis UNS ke-43 diharapkan dapat membawa kegembiraan, mewujudkan nilai-nilai gotong royonng antara dosen, mahasiswa dan tenaga pendidik serta atensi dukungan dari mahasiswa.” pungkas Rutiana. (Bintang, Ulfa)

Sabtu, 09 Maret 2019

Kirab Bela Negara, UNS Bawa Pesan Netralitas Berpolitik

Kirab Bela Negara, UNS Bawa Pesan Netralitas Berpolitik

Salah satu rombongan dalam kirab bela Negara Dies Natalis UNS ke-43 pada Jumat (8/3/2019). (Dok. Visi/Aldo)

Lpmvisi.com, Solo- Memperingati Dies Natalis ke 43, Universitas  Sebelas Maret (UNS) kembali menggelar kirab budaya dalam rangkaian Sebelas Maret Festival (Semarfest) pada Jumat (8/3). Berbeda dari tahun sebelumnya, kirab budaya kali ini hanya dilakukan dari gerbang utama menuju halaman Rektorat UNS yang berlangsung sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB. Lebih dari tiga ratus peserta berpartisipasi dalam kirab budaya ini. Tidak hanya mahasiswa, dosen, ataupun civitas akademika UNS saja, warga sekitar Kampus Kentingan dan mahasiswa dari universitas lain pun turut memeriahkan kirab.

“Saya tahu acara ini dari MMT(spanduk-red) yang dipasang di depan kampus, menurut saya acaranya cukup seru dan banyak penampilan yang bagus.” Ujar Rina (31) warga Gendingan yang datang bersama ibu dan anaknya untuk menyaksikan dan memeriahkan kirab budaya.
Nuansa cinta tanah air dan bela negara diangkat di tema kirab tahun ini. Kirab ini menyuguhkan beragam penampilan menarik dan unik diantaranya; Penampilan drum band dari Marching Band UNS, parade duta negara, parade bendera fakultas, kesenian tari, serta peragaan kostum. Banyak persiapan yang dilakukan para penampil agar dapat menampilkan yang terbaik.

“Kami sudah mempersiapkan kurang lebih hampir seminggu untuk acara ini, bahkan kami sampai menginap. Kami membawa sekitar 80-90 orang dalam kirab ini.” Ungkap Chintiya mahasiswa D3 perpustakaan, dan merupakan salah satu anggota marching band UNS yang tampil dalam kirab.

Dalam kirab ini juga di tampilan Solo Fashion Karnival dengan peragaan kostum yang berkonsep Garuda dan juga ogoh-ogoh dengan bentuk burung Jatayu. Kostum dan ogoh-ogoh ini ditampilkan dan didesain oleh mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)  Teater Hitam Putih bersama UKM Karawitan Universitas Setia Budi.

“Kami telah mengikuti Solo Batik Festival sejak 2015. Jadi Teater Hitam Putih dengan UKM karawitan bekerja sama untuk membuat kostum dalam acara Solo Batik Karnival. Ujar Fata ketua UKM Teater Hitam Putih Universitas Setia Budi saat diwawancarai VISI usai kirab berlangsung. Fata mengungkapkan bahwa Pelatih Teater Hitam Putih di percayai untuk mendesain kostum dan ogoh-ogoh ini oleh pak Titis (seorang tenaga kependidikan dari UNS –red).

Ogoh-ogoh yang ditampilkan dan sebagai ikon dalam kirab bela negara ini mempunyai makna filosofi tersendiri. Fata mengungkapkan bahwa ogoh-ogoh tersebut bernama Jatayu, yakni burung keramat di Yunani. Ogoh-ogoh ini berwarna ungu dan emas, karena tahun ini adalah tahun politik dan agar tidak ada kemiripan dengan partai politik di Indonesia” ujar Fata menegaskan bahwa UNS itu netral, Imbuh Fata.  (Aldo, Anggi)

Jumat, 08 Maret 2019

Wajah Baru BEM FISIP UNS Kabinet  Astha Brata 2019

Wajah Baru BEM FISIP UNS Kabinet Astha Brata 2019

Penyerahan bendera BEM FISIP 2019 sebagai tanda serah terima jabatan di Ruang Aula Besar FISIP UNS (06/03/2019)  (Dok. Pribadi)

Lpmvisi.com, Solo Pelantikan  Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNS dilaksanakan Rabu (06/03/2019) di Ruang Aula Besar FISIP UNS. Astha Brata merupakan nama kabinet yang dipilih oleh  BEM FISIP 2019. Astha Brata sendiri diambil dari bahasa sansekerta yang bermakna 8 contoh sifat dewa dan sifat unsur alam. Dari makna tersebut diharapkan BEM FISIP yang diketuai oleh Dwiantoro kedepannya bisa menjiwai 8 sifat dewa dan unsur alam dalam kepemimpinannya.

Pelantikan ini dihadiri oleh Dr. Bagus Haryono, M.Si selaku Wakil Dekan Bidang Alumni dan Kemahasiswaan, Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si selaku Pembina BEM FISIP, Perwakilan dari Kemahasiswaan FISIP dan tamu undangan dari BEM serta ormawa fakultas lainnya. Acara ini berjalan dengan lancar walaupun mengalami keterlambatan waktu hingga setengah jam. Acara dirangkai dengan beberapa agenda, yang pertama adalah sambutan dari Bagus Haryono  selaku Wakil Dekan Bidang Alumni dan Kemahasiswaan.

Selanjutnya sambutan dari Drajat Tri Kartono yang biasa dipanggil Drajat selaku pembina BEM FISIP "Pengurus BEM FISIP diibaratkan sebagai wakil rakyat yang bisa menampung aspirasi rakyatnya," ujarnya. Ia juga mengungkapkan beberapa permasalahan yang harus diberi perhatian khusus oleh BEM FISIP kedepan salah satunya adalah pemilihan rektor. Drajat mengharapkan keikutsertaan BEM FISIP untuk memilih rektor yang pro terhadap aspirasi mahasiswanya.

Drajat juga mengungkapkan kesiapan UNS dalam mempersiapkan Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTN-BH) juga turut menjadi agenda yang harus banyak diberi perhatian oleh BEM FISIP. Selain itu ia mengatakan bahwa revolusi industri 4.0 yang juga berkembang pesat di era digital ini mampu mematikan eksistensi UNS. Menurut Drajat akan ada kurang lebih 120 pekerjaan yang akan hilang dari dunia sehingga bagaimana peran BEM FISIP untuk memberi pemahaman kepada mahasiswa akan hal tersebut. "Harapan saya di BEM adalah isi-isu besar (isu-isu nasional -red) yang nantinya akan dibawa ke kampus," ujar Drajat menambahkan.

Setelah itu, ada sambutan dari perwakilan BEM FISIP 2018 kabinet Sospolicious, Hasan Hanafi, yang menyampaikan keoptimisannya pada BEM tahun ini untuk bisa lebih mendekatkan diri dengan masyarakat FISIP dalam artian civitas akademika. "Permasalahan yang saya rasa semua Badan Eksekutif Mahasiswa adalah kurang mendekatkan diri kepada masyarakatnya," ujar Hasan menambahkan.

Agenda yang kedua adalah pembacaan hasil dan serangkaian sampai tahap akhir penutupan pendaftaran pengurus BEM FISIP yang dibacakan oleh Mentri Koordinator (Menko) Internal, yaitu Ali Ahmad Zainuri. Agenda yang selanjutnya merupakan puncak dari acara pelantikan, yaitu serah terima jabatan dari perwakilan BEM FISIP tahun 2018 dengan presiden BEM FISIP yang baru. Pembacaan sumpah pelantikan dibacakan oleh Dwiantoro, Presiden BEM FISIP 2019 dan diikuti oleh pengurus BEM FISIP. Agenda yang terakhir adalah hiburan yang disusul dengan foto bersama pengurus BEM FISIP UNS. Selamat untuk pengurus BEM FISIP atas dilantiknya, semoga semakin amanah dan membanggakan. (Ika)
Artefac Siap Suguhkan Keceriaan Musim Panas di Maret Ini

Artefac Siap Suguhkan Keceriaan Musim Panas di Maret Ini



Konferensi Pers Artefac 2019 (06/03/2019) di Ruang Multimedia FEB UNS. (Dok. VISI/Ola)

Lpmvisi.com, SoloFakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menghadirkan acara tahunan Artefac yang bertajuk keceriaan musim panas pada sepanjang bulan Maret 2019.

Dengan mengusung tema “The Leisure of Artefac UNS : Sweet Escape in Summer”, Artefac siap memberikan cerita pelarian yang indah dan manis di musim panas. Pelarian yang manis di musim panas mewakili Artefac tahun ini sebagai ajang untuk berkompetisi dengan semangat dan suasana ceria antar peserta perlombaan. “Kita berharap untuk semua pihak yang terkait dengan adanya Artefac UNS, datang dengan rasa senang dan keluar dari Artefac dengan perasaan bahagia,” ujar Dwiyan Nur Fauzi selaku CEO Artefac UNS 2019 melalui konferensi pers (06/03/2019) di Ruang Multimedia FEB UNS.

Sebagai salah satu rangkaian Dies Natalis UNS ke-43, Dwiyan berharap Artefac dapat lebih memperkenalkan UNS, khususnya FEB ke kancah nasional. Selain itu, ajang ini juga dapat dijadikan sebagai wadah bagi siswa maupun mahasiswa untuk menyalurkan minatnya di bidang seni dan olahraga.

Dengan menyajikan total delapan rangkaian acara, Artefac akan diawali dengan Opening Ceremony (10 Maret) yang akan diresmikan langsung oleh Walikota Surakarta di Balikota Surakarta. Kemudian dilanjutkan oleh rangkaian kompetisi seni serta olahraga tingkat Solo Raya hingga Nasional. Kompetisi olahraga terdiri atas Basket Competition (9-17 Maret); Futsal Competition (18-22 Maret); serta K-POP Dance Cover Competition (17 Maret). Sementara dalam kompetisi seni, meliputi Tari Competition (16 Maret); Monologue Competition (18-21 Maret); dan juga Band Competition (22 Maret). Melansir pada rilis yang diterima redaksi, total hadiah yang diberikan mencapai lebih dari Rp 50 juta untuk semua kompetisi.

Sebagai Closing Ceremony, Artefac akan menggelar konser musik agung yang diselenggarakan di YONIF 413 BREMORO, Palur, Karangayar pada Sabtu, (23/03/2019). Dengan turut menghadirkan sederet musisi ternama seperti Tulus, Hivi!, dan Reality Club, Artefac tahun ini diharapkan dapat menjadi pijakan untuk tahun-tahun selanjutnya agar dapat semakin sukses dan berkembang menjadi lebih baik lagi. (Alif, Ola)

Jumat, 21 Desember 2018

Majalah VISI Kembali Raih Penghargaan dalam Kompetisi Internasional

Majalah VISI Kembali Raih Penghargaan dalam Kompetisi Internasional

Sri Hastjarjo selaku Pembina LPM VISI FISIP UNS saat menerima penghargaan Best University Magazine IMPACT 2018 di USM, Penang, Malaysia. (Dok. Pribadi)

Lpmvisi.com, Solo Tidak sia-sia kembali menampilkan wajahnya pada gelaran Immersion Project, Appreciation, and Tribute (IMPACT) 2018. Majalah VISI kembali membawa Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) VISI Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) merebut kemenangannya dalam kategori Best University Magazine.

IMPACT, sebuah kompetisi tahunan yang digelar oleh Pusat Pengajian Komunikasi, Universiti Sains Malaysia (USM) yang terletak di Penang, Malaysia ini, telah berlangsung sejak Senin (17/12/2018) hingga Rabu (19/12/2018). Tak hanya mengadakan kompetisi saja, IMPACT pun menggelar berbagai kegiatan seperti Communication Academics Seminar, Forum Diskusi Mahasiswa Antarbangsa, Festival Film, Studi Banding, City Tour, hingga Malam Budaya.

Penghargaan yang diserahkan langsung oleh Prof. Dr. Adnan Husein selaku Deputy Vice Chancelor for Student Affairs dan Dr. Shuhaida Md. Noor selaku Dean Of Communication School, diterima oleh Kepala Pogram Studi Ilmu Komunikasi Sri Hastjarjo, S. Sos., Ph. D selaku Pembina LPM VISI. Penghargaan ini dberikan pada Selasa (18/12/2018) di gedung Dewan Budaya Universitas Saint Malaysia.

Masih sama seperti tahun sebelumnya, LPM VISI mengirim terbitan terbarunya−Majalah VISI edisi 35−pada kompetisi Best University Magazine. Setelah Majalah VISI Edisi 34 berhasil menyabet gelar Best University Magazine di tahun 2017, melalui Majalah VISI Edisi 35, LPM VISI berhasil mempertahankan gelar juaranya dalam ajang IMPACT 2018.

Bertajuk Eksistensi Warna Solo, tahun ini Majalah VISI Edisi 35 menampilkan berbagai sisi budaya kota Solo dalam setiap halamannya. Kota Solo, yang juga menjadi lokasi pembuatan Majalah VISI, memang menyimpan warna budaya yang beragam, mulai dari Batik Solo yang terkenal hingga berbagai festival kebudayaan yang dimilikinya.

Kurniandi Darmawan Al-Rasyid selaku Pemimpin Redaksi (Pemred) LPM VISI tersebut merasa senang dan bangga melihat Majalah VISI Edisi 35 dapat mempertahankan posisi terbaiknya di antara jajaran Finalis Best University Magazine IMPACT 2018.

Senang juga karena kejuaraan ini bisa menjadi catatan VISI yang berkesan dan mengharumkan nama FISIP,” imbuhnya.

Pemred LPM VISI, atau yang biasa disapa Andi, menuturkan Majalah VISI Edisi 35 tidak memiliki persiapan khusus untuk berpartisipasi dalam IMPACT 2018. Keikutsertaan LPM VISI tersebut atas saran dan dukungan dari Pembina LPM VISI FISIP UNS, setelah Majalah VISI Edisi 35 terbit.

Melihat LPM VISI yang berhasil meraih Best University Magazine untuk kedua kalinya, Andi berharap, “semoga pengurus LPM VISI ke depannya dapat mempertahankan kejuaraan ini dengan kualitas majalah yang lebih baik lagi,”

Senada dengan Andi, Laila Mei Harini selaku Pemimpin Umum LPM VISI turut bangga dan bersyukur atas kemenangan yang diraih. “Semoga ini (prestasi LPM VISI –red) bisa jadi motivasi kami untuk terus berusaha membuat konten majalah yang lebih berkualitas lagi,ujarnya. (Banyu)

Minggu, 02 Desember 2018

Aku Tertarik pada Lusuh

Aku Tertarik pada Lusuh


(Dok. Internet)

“Beberapa kalimat yang muncul dalam sebuah amarah kecil yang tak kutemukan cara lain untuk mengungkapkanya

Aku Tertarik pada Lusuh

Karya : Ade Uli

Aku adalah kain lusuh di pojok almari kaca
Di antara tumpukan kain bersutra yang mungkin sayang untuk kau sentuh
Itulah aku yang tidak pernah tersibak
Aku tidak memutuskan untuk menjadi kain lusuh
Namun jikalau aku dikehendaki berada di antara kain semacam kalian, 
jelas aku memikul gelar kain lusuh
Tempatku adalah di bawah juntaian kain cacat yang juga kau hardik

Aku yang merasa tak berguna
Jika aku sadar kelak pasti akan berguna diriku
Namun 'ku lalai untuk sadar
Aku hanyalah kain lusuh tak berarti
Jika sebuah baju dapat kutambal
Mungkin aku adalah bagian penghancur keindahan
Namun jadi apa jika saya diam?

Sebuah kata "berarti" tidaklah datang dalam setiap rangkulan
Sebuah kata "berarti" akan sudi tumbuh saat semua benakku tersadar
Lalu apa jadinya jika lusuhku tak berarti?
Ditambah lagi lusuhku yang menyakiti sebuah keindahan?
Mereka yang indah tak pernah tak mempedulikanku
Kau yang bodoh, Si Lusuh!!
Kau tak berarti lusuh yang tak harus disentuh
Kau yang buta lusuh
Kau hanya lusuh karena rasa memilikimu pada almari kaca sangat tak bertujuan

Tidakkah kau ingat pintalan benang yang melekat menjembatani harapan-harapanmu?
Kau lupa tujuan kehadiranmu?
Kau pintalan benang lusuh yang akan indah pada waktunya
Tapi kau culas pada kesempatan
Selamat jatuh terjun sedalam-dalamnya dalam kekecewaan
Wahai kau lusuh yang terkuyuh!