Jumat, 13 September 2019

RUU KPK Disetujui, Presiden Nampaknya Ingin Kembali ke Masa Lalu

RUU KPK Disetujui, Presiden Nampaknya Ingin Kembali ke Masa Lalu


oleh: Rachma Dania

(dok. internet/ harnas.co)

Sepeninggalnya Presiden B J Habibie pada Rabu (11/09/2019) seakan memberikan pernyataan patah hati yang sesungguhnya bagi bangsa Indonesia. Seakan belum kering, luka tersebut ditambah dengan siraman air garam atas direstuinya revisi Undang- Undang (UU) KPK lewat Surat Presiden (Supres) oleh Presiden kita saat ini Joko Widodo kepada DPR RI.

Sebagaimana dikutip pada laman resmi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yakni www.kpk.go.id tertulis 10 persoalan di Draft RUU KPK yang dianggap bisa melemahkan dan juga mengganggu fungsi dari KPK itu sendiri. Berikut ringkasan dari poin-poin penting persoalan di Draft RUU KPK:

Independensi KPK Terancam
Dituliskan bahwa KPK tidak disebut lagi sebagai lembaga independen yang bebas dari pengaruh kekuasaan manapun. Selain itu hal ini diperkuat dengan dijadikannya posisi KPK sebagai lembaga Pemerintah Pusat. Selanjutnya pegawainya berstatus ASN/PNS

Penyadapan dipersulit dan dibatasi. Penyadapan hanya dapat dilakukan setelah ada izin dari Dewan Pengawas. Sementara itu, Dewan Pengawas dipilih oleh DPR dan menyampaikan laporannya pada DPR setiap tahunnya; Penyadapan diberikan batas waktu 3 bulan.

Pembentukan Dewan Pengawas yang dipilih oleh DPR. DPR memperbesar kekuasaannya yang tidak hanya memilih Pimpinan KPK tetapi juga memilih Dewan Pengawas. Dewan Pengawas ini akan bertanggung jawab kepada DPR atas tanggung jawabnya mengawasi KPK

Sumber penyelidik dan penyidik dibatasi. Penyelidik KPK cuma berasal dari Polri. Adapun penyidik KPK berasal dari Polri dan PPNS (tak ada lagi penyidik dan penyelidik independen.

Penuntutan perkara korupsi harus koordinasi dengan Kejaksaan Agung

Perkara yang mendapat perhatian masyarakat tidak lagi menjadi kriteria

Kewenangan pengambilalihan perkara di penuntutan dipangkas. KPK tidak lagi bisa mengambil alih Penuntutan sebagaimana sekarang diatur di Pasal 9 UU KPK

Kewenangan strategis pada proses penuntutan dihilangkan. KPK tidak berwenang lagi melakukan pelarangan bepergian ke luar negeri, menghentikan transaksi keuangan terkait korupsi, meminta keterangan perbankan, serta meminta bantuan Polri dan Interpol.

KPK bisa menghentikan penyidikan dan penuntutan

Wewenang KPK mengelola pelaporan dan pemeriksaan LHKPN dipangkas. Lembaga ini hanya bisa melakukan koordinasi dan supervisi terkait LHKPN.

10 poin tersebut merupakan poin-poin yang nantinya bisa saja tewujud. Poin-poin tersebut seakan merubah dari dasar pembentukan KPK itu sendiri yakni pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002.

UU tersebut menyebutkan bahwa Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diberi amanat melakukan pemberantasan korupsi secara profesional, intensif, dan berkesinambungan. KPK merupakan lembaga negara yang bersifat independen, yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bebas dari kekuasaan manapun.

Pelemahan terhadap KPK seakan bukan ungkapan yang berelebihan hal inipun juga diamini oleh lembaga Ombudsman yang menyebutkan ada beberapa keganjilan sebagaimana dilansir dari laman resmi tirto.id

Dituliskan bahwa RI Ninik Rahayu selaku Komisioner Ombudsman menyatakan keganjilan pada RUU ini karena tidak memasukan KPK sebagai institusi yang berkenaan langsung dengan pembahasan RUU KPK.  Kejadian ini berbanding terbalik dengan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang dalam pembahasannya melibatkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak atau surpres revisi UU Kesehatan yang melibatkan Kementerian Kesehatan.

Melihat dari poin perubahan diatas KPK akan ada di bawah pemerintahan DPR lewat Dewan Pengawas, lalu dimana independensinya? Korupsi bisa berasal dari mana saja bahkan tak menutup kemungkinan dari pihak elit pemerintahan sendiri yang melakukannya.

Apablia RUU KPK benar disahkan fungsi lembaga KPK kelihatannya akan kembali kepada lembaga-lembaga pemberantasan korupsi terdahulu yang lebih terkenal akan kegagalannya dalam memberantas Korupsi. Sebut saja Bapekan, Paran, Operasi Budhi, dan Kotrar karya presiden Soekarno.

Atau bahkan KPK kini seolah sedang dikembalikan menjadi lembaga setengah hati dalam memberantas korupsi, seperti pada pada masa Orde Baru yakni Tim Pemberantas Korupsi (TPK). Pada akhirnya lembaga ini tidak memiliki taring yang cukup tajam untuk menguak kasus korupsi yang pernah terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru.

Kejadian ini mengingatkan penulis terhadap salah satu karya puisi milik Widji Thukul, yang dikenal sebagai sastrawan dan juga aktivis HAM yang hilang dan tidak ditemukan hingga sekarang. Berikut puisinya:

PERINGATAN

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.

(Wiji Thukul, 1986)

Rabu, 11 September 2019

Mimbar Terbuka Peringati 15 Tahun Misteri Kematian Munir

Mimbar Terbuka Peringati 15 Tahun Misteri Kematian Munir


Lpmvisi.com, Solo- 15 tahun berlalu,  pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir masih menyimpan misteri dibaliknya. Alasan inilah yang yang menjadi salah satu alasan bagi Badan Eksekutif (BEM) Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk mengadakan acara mimbar bebas Munir dan Penegakan Hukum HAM di Indonesia.

“Jelas kita perlu memperingatui hal seperti ini karena kita merawat ingatan dan menolak lupa mengenai permasalahakan HAM dan penegakan hukum di Indonesia” ujar Muhammad Rizki Almalik selaku Menteri Pengetahuan dan Siasat Gerak BEM UNS 2019.

Selanjutnya, ia menyebutkan bahwa sebenarnya permasalah tersebut tidak sebatas kasus Munir, masih ada kasus Semanggi II, kasus G30S dan lain sebaganya. Ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa dengan adanya kasus tersebut beserta ketidakjelasannya, bisa jadi penyuara pendapat yang lain akan bernasib sama  seperti Munir.

Ia mengungkapkan bahwa pemerintah sebenarnya dahulu pernah membuat tim khusus untuk menyeldiki kasus munir, namun hingga kini belum diketahui kejelasan mengenai dalang pembunuhannya.

“Maka hari ini saya bisa menyimpulkan bahwa pemerintah masih gagal dalam menangani HAM masa lalu” imbuhnya. 
Beberapa mahasiswa turut meramaikan Mimbar Bebas Munir yang diselenggarakan BEM UNS

Munir sendiri bernama lengkap Munir Said Thalib merupakan aktivis HAM yang diketahui dibunuh dengan racun pada saat perjalanannya ke Amsterdam. Pada saat dibunuh ia bahkan belum menyentuh usia 40 tahun.

Seperti yang dikutip pada e-book Menulis Munir dan Merawat Ingatan yang disunting oleh Amalia Puri Handayani bahwa semasa hidupnya ia banyak membela kepentingan petani, buruh dan mahasiwa. Ia banyak membantu terutama di bidang hukum, hal ini terkait dengan disiplin keilmuan yang ia pelajari semasa kuliah yakni Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya.

Dituliskan dari sumber yang sama, untuk memahami penderitaan para buruh ia hidup dan bergaul juga bersama para buruh. Hal ini menjadikannya sebagai pemebelajar yang tidak hanya mengandalkan buku-buku akademis tentang hak-hak asasi manusia. Ia banyak membela kaum buruh terutama yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah, salah satunya adalah pembelaannya terhadap Marsinah pada tahun 1993.

Akan tetapi dapat disayangkan bahwa mimbar terbuka yang dilaksanakan terlihat tidak bisa menarik atensi besar mahasiswa. Hal inipun diamini oleh Muhammad “Sebenanya hal-hal seperti ini yang mulai luntur di mahasiswa” ungkapnya kepada VISI.

“Oke akademis itu ngga salah. Cuma kita perlu melakukan hal-hal seperti ini karena siapa lagi yang  bisa mengontrol pemerintah kalo bukan mahasiswa? Memang ada DPR tapi bisa dilihat DPR aja seperti itu” ungkapnya.

Pendapat ini juga disepakati oleh Ahmad mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) 2018 yang turut mengikuti acara mimbar terbuka tersebut.

“Kalo menurutku antusiasmenya masih kurang ya, bisa dilihat semakin sore lingkarannya semakin menyusut dan semakin menyusut” ungkapnya.

Sedangkan untuk Ahmad sendiri menyatakan alasannya mengikuti mimbar terbuka tersebut karena kekagumannya kepada munir semasa hidupnya. Ia juga menyayangkan bahwa kematiannya merupakan kematian yang penuh dengan kejanggalan

“Kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya namun kematian itu penuh pertanyaan yang penuh kejanggalan dan tidak terjawab hingga saat ini” ujarnya.

Akan tetapi bukan semua kesalahan mahasiswa ketika mimbar terbuka ini serasa kurang peminat. Muhammad turut mengakui bahwa sedikitnya peserta yang datang bisa jadi sejalan dengan publikasi acara tersebut yang hanya dilakukan dengan waktu singkat. Publikasi dimulai dari Jumat melalui publikasi tidak resminya, sedangkan untuk publikasi resmi baru diunggah di instagram sehari sebelum acara resmi yang dilaksanakan pada Selasa (10/09/2019).


Senin, 15 Juli 2019

Di Tengah Kemajuan Modernisasi, Pementasan Wayang Orang Sriwedari Tetap Eksis

Di Tengah Kemajuan Modernisasi, Pementasan Wayang Orang Sriwedari Tetap Eksis

Para pemain memerankan toko pewayangan dalam pertunjukan Wayang Orang Sriwedari di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo. Pencahayaan dan tata panggung yang epik menambah daya tarik pertunjukan ini. (Dok. Pribadi)
Kota Budaya merupakan julukan bagi Kota Solo yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Kota yang kaya akan kebudayaan ini memiliki berbagai destinasi pariwisata. Salah satu destinasi pariwisata unggulan yang ditawarkan oleh Pemerintah Kota Solo adalah pertunjukan wayang orang Sriwedari. Pertunjukan wayang orang Sriwedari menjadi salah satu destinasi malam di Kota Solo yang bisa menjadi pilihan wisata untuk dikunjungi bagi wisatawan domestik maupun wisatawan asing yang ingin lebih mengenal kekayaan budaya Indonesia.

Pertunjukan wayang orang Sriwedari merupakan sebuah destinasi budaya yang tetap eksis di tengah-tengah perkembangan zaman modern. Ditemui di sela-sela persiapan pagelaran, Harsini (47), menjabat koordinator kostum merangkap sutradara dari pementasan wayang orang Sriwedari. Selama 29 tahun kariernya dalam pagelaran wayang orang Sriwedari, Harsini hampir telah melakoni semua posisi bidang di tempat kerjanya itu. Dari situlah, banyak pengalaman yang diperoleh dan wayang orang Sriwedari dapat diselami oleh Harsini.  Harsini mengatakan bahwa pertunjukan wayang orang Sriwedari pada tahun ini akan berusia 109 tahun. Kunci dari tetap eksisnya pertunjukan wayang orang Sriwedari adalah bahwa dalam menampilkan pertunjukannya selalu mengikuti perkembangan zaman, begitu katanya.

Ide garapan baru muncul dari para pemain dan sutradara wayang orang Sriwedari. Dengan pemeran yang rata-rata adalah seniman kaliber berat, bahkan rata-rata sudah lulus sarjana bahkan ada yang sudah menjadi pegawai negeri sipil (PNS), kualitas pementasan wayang orang ini tak perlu dirugikan lagi. Kualitas tersebut telah dipertahankan sejak 109 tahun yang lalu dimana Wayang Orang Sriwedari pertama kali berdiri. Iyem (52), mengaku bahwa keterlibatannya dalam pertunjukan wayang orang Sriwedari adalah bukti dari rasa “handarbeni” terhadap budaya kesenian tradisi. Ide-ide garapan baru itu lah yang membedakan pertunjukan wayang orang Sriwedari dengan pertunjukan wayang orang lainnya. 

“Biasanya satu pentas/lakon paling lama 2,5 sampai 3 jam terhitung dari jam 8 sampai selesai. Itu tergantung pemainnya telat apa nggak, atau kalo misal ada pemain yang ijin mendadak mencari pemain pengganti kan butuh waktu juga,” ungkap Harsini. Satu kali pementasan biasanya akan bertemakan sebuah lakon atau kisah yang diambil dari kitab Mahabarata atau Ramayana.

Okupansi penonton pun bervariasi, namun biasanya mencapai puncaknya pada hari Sabtu malam Minggu atau pada saat hari libur. Penonton wayang orang Sriwedari mayoritas merupakan warga asli Kota Solo, pelajar, wisatawan domestik, bahkan wisatawan mancanegara yang ingin melestarikan dan juga mengatahui mengenai kebudayaan Jawa. Satu hal yang menarik dari pertunjukan wayang orang Sriwedari adalah pertunjukan selalu dilakukan secara spontan, dengan keunikan dari tiap produksi suasana dan cerita oleh tiap pemain yang membuat wayang orang Sriwedari otentik, dan selalu unik pada setiap pementasannya. Selain itu komedi yang ditampilkan oleh para tokoh Punakawan juga menjadi daya tarik. Handayani (32) yang merupakan penonton setia pertunjukan wayang orang Sriwedari mengatakan bahwa wayang orang Sriwedari tidak pernah kehabisan ide untuk terus menggarap pertunjukannya. Hal tersebut yang membuat Handayani tidak pernah bosan dengan pertunjukan wayang orang tersebut.

Pertunjukan wayang orang Sriwedari ini digelar setiap hari Senin hingga Sabtu dan dimulai pada pukul 20.00 WIB bertempat di Gedung Wayang Orang Sriwedari Solo. Untuk menontonnya, pengunjung dikenakan tarif biaya yang cukup miring mulai dari Rp.5000,- hingga Rp.10.000,- untuk kelas VIP. Pementasan wayang menampilkan lakon yang berbeda setiap harinya. Hal ini bertujuan agar para penonton yang terdiri dari berbagai kalangan usia tidak merasa bosan. Durasi waktu pertunjukan kurang lebih 3 jam, tergantung pada lakon yang dimainkan. Oleh karena itu di tengah-tengah perkembangan zaman modern ini, Wayang Orang Sriwedari merupakan destinasi pariwisata yang tetap eksis dan menjadi destinasi wisata unggulan Kota Solo yang patut untuk di kunjungi. (Bimbi, Novan, Pradipta, Rizka, Romero)

Sabtu, 29 Juni 2019

PKM Sebagai Sarana Pengembangan Potensi Daerah

PKM Sebagai Sarana Pengembangan Potensi Daerah

Salah satu peserta program mencoba alat pembuat mie dengan didampingi tim PKM. (Dok, Pribadi)

Jika kita terjun ke dunia kampus, kita tidak akan asing lagi dengan kegiatan PKM. PKM adalah singkatan dari Program Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Dikti guna memberi ruang untuk para Mahasiswa menunjukkan kreativitasnya. PKM merupakan salah satu bentuk upaya yang dilakukan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M), Ditjen Dikti dalam meningkatkan kualitas peserta didik (mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan meyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian serta memperkaya budaya nasional. Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang cendekiawan, wirausahawan serta berjiwa mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggungjawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni. Ada enam jenis PKM yang biasa dilaksanakan setiap tahun yaitu: PKM Penelitian (PKMP), PKM Kewirausahaan (PKMK), PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM), PKM Penerapan Teknologi (PKMT), PKM Gagasan Tertulis (PKM GT), dan PKM Artikel ilmiah (PKM AI).

Alma, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional  UNS beserta ketiga temannya yakni Herlina, Atika dan Krisna memilih untuk membuat PKMM dengan mengembangkan ide Mie Labu Kuning guna memberdayakan masyarakat Desa Majasem, Kec. Kendal, Kab. Ngawi, Jawa Timur. Alma memilih Mie Labu Kuning karena labu adalah produk yang paling banyak dihasilkan oleh desa tersebut. Setiap pekarangan rumah di sana pasti ditumbuhi tanaman labu. Oleh sebab itu, labu menjadi sumber penghasilan dari sebagian besar masyarakat Desa Majasem. Namun, karena hampir seluruh masyarakatnya menjual buah labu secara utuh, hal tersebut terkesan biasa saja. Itu lah yang kemudian membuat Alma memiliki ide agar masyarakat Desa Majasem tidak hanya menjual buah labu utuh tetapi menjual sebuah produk yang berbahan labu yang dapat menarik para pendatang. Dan tercetuslah ide membuat Mie Labu Kuning yang dapat dijadikan  salah satu oleh-oleh khas Desa Majasem selain buah labu utuh.
Tim PKM FISIP, dari kiri, Alfaradi Krisna Ocsyta (Sosiologi 2018), Atika Susilo Putri (Ilmu dan Teknologi Pangan 2016), Austiva Alma Rahmawati Hasyim (Hubungan Internasional 2017), dan Herlina (Hubungan Internasional 2017)

Awal mulanya, Alma sempat bimbang ingin mengikuti program PKM ini atau tidak. Disamping bingung ingin mengajak siapa yang mau ikut bergabung dengan PKM-Nya, ia juga bingung ingin membuat PKM mengenai apa. Hingga kemudian Alma mengikuti banyak seminar-seminar di kampus yang membahas seputar PKM yang dapat menambah pengetahuannya. Dan juga mendapat saran dari dosennya, akhirnya ia memutuskan untuk membuat PKM ini. Ia memilih Desa Majasem sebagai objek PKM kali ini karena itu adalah desa tempat asalnya sehingga ia mengetahui seluk beluk hingga watak masyarakatnya.  Alma dan tim PKM-nya datang kesana untuk melakukan sosialisasi dan mengajari masyarakat step by step produksi Mie Labu Kuning. Bahkan mereka juga menyediakan alat-alat guna membantuk proses produksi.
Ketua Tim menyampaikan materi kepada masyarakat tentang manfaat labu kuning dan kandungannya
Foto Bersama dengan bapak kepala desa dan perwakilan dinas koperasi dan UMKM Ngawi

Saat pertama kali ingin mengembangkan PKM ini, Alma sempat merasa kesulitan. Kesulitan yang dialaminya diantaranya adalah mengumpulkan orang-orang yang benar-benar memiliki niat untuk bergabung di kelompoknya, hingga pada masalah jarak tempuh dari Kota Solo ke Kota Ngawi sendiri yang menyulitkan mereka untuk melaksanakan program pemberdayaan masyarakat. Namun, berbagai rintangan itu pun dapat di lewati Alma beserta kawan-kawannya dengan lancar. Kini masyarakat Desa Majasem sudah dapat membuat Mie Labu Kuning sendiri. Tapi untuk saat ini, Mie Labu Kuning baru bisa dikonsumsi masyarakatnya sendiri karena tim PKM masih menunggu surat ijin dari BPOM untuk dapat menjual produk Mie Labu Kuning. (Fitri, Naila)

Rabu, 26 Juni 2019

Perkenalkan Pariwisata Digital, D3 Pariwisata UNS Gelar Tourism Expo

Perkenalkan Pariwisata Digital, D3 Pariwisata UNS Gelar Tourism Expo

Ikon UNS Tourism Expo 2019 yang terletak di pintu masuk lokasi (24/06/2019). (Dok. Pribadi)

Lpmvisi.com, Solo - Senin (23/06), mahasiswa D3 Usaha Perjalanan Pariwisata Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2017 dan 2018 menyelenggarakan sebuah acara bertajuk UNS Tourism Expo 2019. Mengangkat tema “Road to Digital Tourism”, kegiatan ini menggabungkan konsep tradisional dan modern dalam dunia pariwisata. Bertempat di Danau UNS, acara yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 22.00 WIB ini berupaya menarik mahasiswa UNS, masyarakat sekitar, agen travel, serta pengurus desa wisata. Expo tersebut diisi oleh booth kuliner, kerajinan tangan, desa wisata, serta info tour and travel. Tak hanya itu, Expo ini juga dimeriahkan dengan berbagai lomba dan pertunjukan musik.

“Alasan dalam memilih tema ini adalah perkembangan zaman yang pesat dan perkembangan teknologi. Digital tourism sendiri mengarah ke sekarang pesan hotel dan tiket transportasi dengan digital,” tutur panitia divisi acara, Restu Ning. “Tema ini berbeda dengan tahun lalu yang mengambil tema tradisional, masih banyak dolanan-nya kayak congklak dan egrang. Kalo yang sekarang dibanyakin travel dan desa wisata kerajinannya.”

Dr. Deria Adi Wijaya, S.ST.Par., M.Sc., selaku Kepala Program Studi D3 Usaha Perjalanan Pariwisata UNS menyampaikan dukungannya. Ia menyampaikan jika acara ini sudah ketiga kalinya digelar, dan kali ini menargetkan agar pengunjung melek media. UNS Tourism Expo 2019 juga merupakan bagian dari pemenuhan tugas akhir semester bagi mahasiswa program studi tersebut. Pihak kampus dan usaha ekonomi kreatif dari mahasiswa menunjang berlangsungnya acara ini.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pertunjukan musik secara live oleh beberapa band indie, seperti Trox, BerryRock, dan Nomaden. Kehadiran OUTPLAIN, dan KKMS (Komunitas Keroncong Muda Surakarta) sebagai bintang tamu juga ikut menambah kemeriahan acara. Tidak hanya hiburan, panitia juga memasukkan agenda talkshow bersama Pembimbing Desa Wisata, Hannif Andy Al-Anshori, untuk menambah wawasan seputar pariwisata. Berbagai kompetisi turut diselenggarakan untuk melengkapi acara, yaitu speech contest, fotografi, dan tour package yang dibuka untuk umum. Pengumuman pemenang dilakukan pada sore hari sebelum acara ditutup. Penampilan dari DJ Henry pada akhir acara berlangsung semarak dengan diiringi oleh antusiasme pengunjung yang tinggi. (Ainaya, Anita, Dea, Naila, Yulita)

Senin, 17 Juni 2019

Peringatan Waisak di Solo Tampilkan Pertunjukan Tari

Peringatan Waisak di Solo Tampilkan Pertunjukan Tari

Penari dari ISI Surakarta dan Yogyakarta mementaskan pertunjukan tari pada puncak acara Waisak 2563TB (15/06/2019). (Dok. Visi/Gede)

Lpmvisi.com, SoloSebuah pertunjukan tari ditampilkan dalam Peringatan Waisak 2563 TB (Tahun Buddhis) dengan tajuk "Praptaning Pratima" yang berlangsung pada Sabtu (15/06/2019) di Vihara Dhamma Sundara di Pelataran Vara Stupa Sala Budha Prakasha atau lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Candi Putih.

Peringatan Waisak tahun ini menampilkan berbagai pertunjukan tari dari penari ISI Surakarta dan Yogyakarta, sekolah minggu Buddhis Vihara Dhamma Sundara, dan muda mudi vihara Dhamma Sundara. Acara puncak peringatan Waisak kali ini menampilkan pertunjukan tari dari ISI Surakarta dan Yogyakarta yang menceritakan tentang dewa Indra yang merasa prihatin melihat kehidupan di dunia dan memberikan buddha rupang yang melambangkan ketenangan batin manusia.

Acara yang terbuka untuk umum  ini dihadiri oleh pengurus vihara se-Indonesia, wakil wali kota Surakarta, dan pemuka lintas agama Surakarta. Selain itu acara juga turut dimeriahkan oleh mahasiswa dari sekolah buddha di Wonogiri, Boyolali, Salatiga, dan Universitas Sebelas Maret (UNS) serta masyarakat sekitar vihara dengan berbagai agama. "Kita membuka diri supaya masyarakat ikut menikmati kegembiraan dan keindahan pertunjukan seni budaya dan pesan dhamma (ajaran Buddha -red) yang universal yang bisa membangkitkan perenungan tentang nilai kebajikan didalam perayaan yang indah tetapi tidak melupakan pesan moral yang diselipkan dalam acara," ujar  Jaya Silo Lilik Suryono, salah seorang pengurus saat ditanya alasan mengapa acara keagamaan ini terbuka untuk umum.

Novi, Salah seorang pengunjung dari Sekolah Tinggi Agama Buddha Raden Wijaya, mengaku sangat puas dengan acara waisak tahun ini karena berbeda dengan tahun kemarin dengan mengundang masyarakat lintas agama dan juga pertunjukan tari yang megah yang menggabungkan tari Jawa dengan Thailand. (Bintang,Dania,Gede)

Sabtu, 04 Mei 2019

Ketoprak juga Kekinian

Ketoprak juga Kekinian

Penampilan Ketoprak Ngampung dalam pagelaran "Kebak Kliwat Gancang Pincang", Jumat (03/05/2019). (Dok. Visi/Stella).


Lpmvisi.com, SoloPagelaran acara Ketoprak Ngampung dengan tema “Kebak Kliwat Gancang Pincang” yang berlangsung pada Jumat (03/05/2019) pukul 20.00 WIB di Gedung Ketoprak Taman Balekambang, Surakarta merupakan sebuah event dari Anucara Project yang ditujukan untuk khalayak umum, khususnya masyarakat Solo.

Sarah Diba Azari, sebagai ketua acara tersebut mengungkapkan bahwa acara ini memiliki tema utama yaitu literasi digital, maka dari itu tim Anucara Project mengangkat isu “Hoax” atau berita palsu yang dikemas dalam kesenian ketoprak. Hoax dalam ketoprak ini dikaitkan dengan arti bahwa bila tidak berhati-hati dalam melakukan sesuatu akan mendapat musibah. Dengan bertajuk “Kabar Kabur dari Kampung Kiwil”, judul yang diangkat pun sejalan dengan tema utama yaitu tentang penyebaran berita palsu yang membawa dampak kerugian.

Sarah juga mengungkapkan bahwa ia bersama tim memilih kesenian ketoprak sebagai media penyampai pesan karena ketoprak merupakan kebudayaan asli Solo yang ringan dan cocok untuk dimasuki tema-tema saat ini. Alasan lainnya, Anucara Project juga ingin mengangkat kembali kesenian ketoprak yang mulai ditinggalkan. Selain itu, dipilihnya lokasi acara di daerah Taman Balekambang adalah karena tempat tersebut merupakan salah satu ikon dari kota Surakarta.

 Dwi Mustanto (35), salah seorang lakon ketoprak mengungkapkan bahwa beliau salut dengan diadakannya acara ini. Sebab menurutnya, mayoritas anak muda saat ini telah melupakan kesenian ketoprak. Namun dengan adanya acara ini, beliau berharap dapat memberi kesan kepada generasi muda bahwa kesenian ketoprak itu keren, gaul, dan asik sehingga acara ini dapat membekas di hati para anak muda agar bisa lebih mencintai kebudayaan lokal.

Salah satu penonton dari kalangan mahasiwa, Agata (19) mengungkapkan bahwa ini merupakan acara ketoprak pertama yang ia tonton. ”Penokohan keren,semuanya keren”, imbuhnya. Ia juga berharap semoga lebih banyak lagi anak muda yang mau menonton acara ketoprak. (Nova, Stella)

Forum Bersama Mahasiswa, Momen Bertemu Bapak Baru di Hari Pendidikan

Forum Bersama Mahasiswa, Momen Bertemu Bapak Baru di Hari Pendidikan

Jamal Wiwoho selaku rektor baru sedang menyampaikan tanggapan dari pertanyaan mahasiswa (02/05/2019). (Dok. Pribadi)
Lpmvisi.com, Solo - Menjelang petang mereka telah berpakaian rapi dan bersepatu. Meski berasal dari fakultas yang berbeda, mereka hadir dengan membawa keresahan dan harapan yang akan diadukan kepada rektor baru. Bahkan hujan deras tidak menghalangi semangat mereka, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS  ) untuk berkumpul bersama di Gedung rektorat  Surakarta UNS.

Forum mahasiswa yang diselenggarakan oleh Forum Besar (Forbes) Dalam Negeri (Dagri) UNS   berlangsung pada Kamis, (4/5/2019) malam. Forum yang dilaksankan di Ruang Sidang lantai dua Gedung Rektorat UNS   ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai fakultas. Tak hanya mahasiswa, Prof. Jamal Wiwoho selaku rektor baru UNS   beserta jajarannya ikut pula menghadiri forum tersebut.

Elang Jordan Ibrahim selaku Menteri Analisis Kampus dan Pendidikan Tinggi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS   mengemukakan bahwa acara ini perlu terlaksana karena beberapa tahun belakangan tidak ada forum-forum serupa dimana mahasiswa bisa menemui langsung rektornnya. Ia mengemukakan bersamaan dengan momentum terpilihnya rektor baru, maka pihaknya mewakili BEM UNS   bersama dengan Forbes Dagri mencoba mengusahakan forum mahasiwa ini sebagai penghubung aspirasi mahasiswa dengan jajaran Rektorat UNS.

“Kita ingin tau apakah pak rektor bisa diajak komunikasi yang baik dengan mahasiswa atau sama seperti rektor yang lalu dimana tidak ada kejelasan.” Ujar Elang. 

Sementara itu Prof. Kuncoro Diharjo selaku Wakil Rektor dalam sambutannya menyatakan bahwa agenda Forum Besar tersebut adalah penyampaian tentang konsep pengembangan rektor untuk UNS kedepannya. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi penyampaian masukan-masukan dari mahasiswa UNS .

Forum besar ini sejalan dengan ucapan Prof. Jamal Wiwoho yang menyatakan akan mencoba membuka ruang-ruang komunikasi yang lebih baik kepada mahasiswa. Ia mencoba berusaha membuka diri setiap beberapa bulan sekali untuk melaksanakan forum Bersama mahasiswa supaya komunikasi bisa terjalin dengan baik. “Di dalam rumah tangga yang besar, saya adalah bapak kalian dan kalian adalah anak angkat saya. Anak harus mengetahui orang tua dan orang tua juga harus pengertian dengan anak” ujar Jamal.
Mahasiswa-mahasiswa yang hadir dalam forum besar mahasiswa

Jamal mengungkapkan bahwa bersamaan dengan berpindahnya kepemimpinan maka akan dibarengi dengan klasterisasi UNS   sebagai Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Jamal berujar bahwa dalam waktu dekat UNS   akan berubah dari status Badan Layanan Umum (BLU) menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Berbadan Hukum (BH). Dirinya berharap UNS   menjadi perguruan tinggi yang berlevel internasional seperti Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada ataupun Institut Teknologi Bandung yang sudah terlebih dahulu berstatus PTN-BH.

Berkaitan dengan program PTNBH Jamal mempertimbangkan untuk peningkatan pendanaan dalam bidang kemahasiswaan. Pada tahun ini UNS   mengelola sebanyak Rp 757 milyar. Dan untuk pendanaan kemahasiswaan, masih berada di presentase 5,7% dari total anggaran yang ada.

Agenda berlanjut dengan penyampaian masukan dari mahasiswa. Faith Aqila Silmi yang saat ini menjabat sebagai Presiden BEM UNS   menyampaikan beberapa pertanyaan dan rekomendasi, yang sudah terlebih dahulu dikaji oleh BEM.  Hal yang dinyatakan pertama oleh Faith mengenai biaya kuliah yang tidak terjangkau. Penggolongan Uang Kuliah Tunggal (UKT) jalur Seleksi Mandiri UNS   yang berbeda dibanding mahasiswa lain yang masuk dari jalur Seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SNPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Mahasiswa Ilmu Komunikasi ini menyampaikan pula permasalahan dispensasi UKT yang seringkali belum merata bagi mahasiswa yang membutuhkan. Serta ia menanyakan tentang golongan UKT bagi mahasiswa yang di tengah jalan memiliki beberapa halangan dalam pendanaan. selain itu Faith meminta kejelasan mengenai pembiayaan alternatif lain UNS   selain pendanaan dari Ikatan Alumni UNS.

Berkaitan dengan itu Jamal mengemukakan UKT merupakan Uang Kuliah Tunggal yang sistemnya mulai diikuti UNS   sejak tahun 2012 dan diterapkan secara nasional pada tahun 2013.  UKT adalah uang kuliah yang didesain dengan kepastian dan perincian yang harus dibayarkan oleh mahasiswa, Jamal menjelaskan secara logika ketika UKT sudah dikeluarkan seharusnya sudah tidak perlu pembayaran lagi. 

“Jadi kalo ada laporan pembayaran dari luar UKT nanti saya cek lagi ya,” ujar Jamal yang diamini oleh perserta forum mahasiswa. 

Jamal menambahkan UKT memiliki sifat yang situasional sehingga ada aturan mengenai penudaan pembayaran, penurunan ukt bahkan pembebasan. Ukt bisa dipertimbangkan sesuai kondisi yang dialami keluarga mahasiswa seperti bencana alam, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan lain sebagainya.

Poin selanjutnya yang disampaikan oleh Faith adalah mengenai mutu pendidikan. Terjadi kasus di FISIP dimana Dosen yang jarang mengikuti kelas, serta pusat studi dan kepustakaan yang dinilai masih kurang.

Menanggapi hal tersebut Jamal bebicara mengenai mutu pendidikan banyak factor yang mendukung seperti halnya dari mahasiswanya, dan juga fasilitas pendukung dari pendidikan tersebut. Jamal mengemukakan untuk program sarjana di UNS   sudah ada 70% prodi yang memiliki akreditasi unggul.  Berkaitan dengan minimnya kehadiran dosen, Jamal mengemukakan bahwa diinginkannya kolaborasi antara Wakil Dekan Bidang Akademik dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni di Fakultas terkait untuk menindaklanjuti masalah dosen yang jarang masuk kelas. 

Dr. Drajat Tri Kartono selaku Staf Ahli Rektor Bidang Pengembangan Akademik, juga ikut menambahkan. Pusat studi  Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) merupakan keunggulan UNS   dan akan sangat profuktif ketika bisa digunakan sebaik mungkin. Drajat mengutarakan bahwa pusat studi ini akan diperhatikan secara serius dan sudah dijadikan agenda utama oleh rektor.

Selanjutnya Faith mempertanyakan mengenai transparasi kebijakan, seperti kadang terjadi pengeluaran kebijakan mahasiswa tapi tidak melibatkan mahasiswa dalam pembuatannya. selain itu Faith menambahkan banyak dialog antara mahasiswa dan pejabat kampus yang tidak menghasilkan solusi.  Permasalahan ini dijawab oleh Jamal dengan akan diperbanyak forum-forum mahasiswa yang memang membahas kemahasiswaan.

Faith menyampaikan pula keresahannya terhadap fasilitas UNS  yang meliputi sulitnya mengakses administrasi, Laboratorium yang masih berbayar, Sistem informasi yang belum memenuhi dan lain sebagianya. “Saya juga memahami mengenai sarpras yang kurang memadai” ujar Jamal membalas persoalan fasilitas ini.

Jamal membenarkan bahwa laboratorium UNS   memang sudah tua sehingga ia akan bersama-sama mencoba memperbaiki laboratorium yang disesuaikan dengan pendanaan. Selain itu Jamal juga mendapat laporan dari Kampus UNS   Kebumen ia sudah mengirim dari perwakilan rektorat untuk meninjau langsung ke sana. Poin yang terkahir disampaikan oleh Faith adalah Sistem kemahasiswaan. ada beberapa keresahan di antaranya pembiayaan prestasi, dan juga pendampingan prestasi.

Menanggapi bembiayaan di Kemahasiswaan tersebut, Drajat mengemukakan bahwa mahasiswa terkadang memiliki beberapa agenda yang diikuti, namun tidak ada perencanaan sebelumnya. sehingga terdapat ketimpangan system yang sudah berlaku dimana rencana pendanaan harusnya sudah dibuat terlebih dahulu. Drajat mengemukakan dari segi organisasi biasanya perencanaan dilakukan oleh pengurus sebelumnya untuk pengurus selanjutnya sehingga ada beberapa hal-hal yang sudah tidak relevan.

Heri widijanto dari Fakultas Pertanian juga mengemukakan mengenai dispensasi UKT dan pemindahan golongan dilakukan tiga bulan sebelum pembayaran UKT tiap semsternya. menurutnya pihak dekan mendapat rekomendasi dari BEM Fakultas.  Mengenai mahasiswa yang akan pergi ke luar negeri, sebenarnya bisa dilakukan pendanaa asalkan sudah diturunkannya Surat Keputusan dari pihak UNS  , biasanya pendanaan berkisar antara 30% dari total pengeluaran mahasiswa selama di luar negeri. “Di pertanian kami wakil dekan bidang kemahasiswaan biasa meminjami (uang-red) untuk menalangi terlebih dulu" ujar Heri menambahkan. 

Pertanyaan selanjutnya bermunculan dari mahasiswa, diantaranya mengenai keresahan akan Gedung Olah Raga (GOR) yang berbayar, wacana sekolah vokasi, dan Arif salah satu mahasiswa ilmu komunikasi menanyakan jaminan atas kebebasan berpendapat, berkaitan dengan itu ia mengutarakan banyaknya pembredelan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dan pihak lain yang berusaha mengutarakan kebenaran.

Jamal menanggapi. seharusnya GOR, dan sarana lain bagi mahasiswa tidak seharusnya diadakan biaya peminjaman karena itu merupakan sarana untuk mahasiswa. Berkaitan dengan pembungkaman kebenaran Jamal hanya menambahkan sebagai warga negara yang demokratis hendaknya menggunakan kebebasan dengan sebijaksana mungkin hingga tidak memyusahkan diri sendiri, selain itu ia juga yakin baik rektor dan mahasiswa memiliki tujuan yang sama. Berkaitan dengan sekolah vokasi UNS   sudah menyiapkan sekolah vokasi di daerah Tirtomoyo. dengan adanya wacana sekolah vokasi maka mahasiswan jenjang Diploma bisa melanjutkan hingga Diploma 4 (D4) dan jenjang yang lebih tinggi.

Selain itu Jamal juga mengungkapkan bahwa UNS   ini sudah siap menuju ke PTN BH hal ini merupakan jawaban atas salah satu pertanyaan dari Anisa dari Fakultas Hukum mengenai kesiapan UNS  menghadapi PTN BH. Jamal mengaku UNS   hanya tinggal menunggu Surat Keputusan dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. “Tahun 2017 pemerintah menyiapkan 3 universitas yaitu Andalas, Universitas Brawijaya (UB), dan UNS  . Dari tiga itu hanya UNS   yang sudah siap.” ujar Jamal menambahkan.

Forum berlansung dengan antusias yang tinggi, terbukti dari banyaknya mahasiswa yang tidak mendapatkan tempat duduk dan harus duduk di lantai. Namun sesuai dengan kesepakatan awal yang dikemukakan oleh Kuncoro dimana pada jam 20.30 forum harus diakhiri dikarenanakan rektor dan jajaran yang juga perlu istirahat.

Forum akhirnya ditutup dengan permintaan dari Ihsan Fikri salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran yang meminta penandatanganan notulensi sebagai nota kesepakatan. Nota ini diadakan agar pernyataan pro mahasiswa yang selama ini dikemukakan  di forum tidak menguap begitu saja ujarnya. “Saya itu adalah bapakmu, kalian anaku mengapa kau paksa kan untuk menadatangani, saya berat dan  saya tidak mau,” Ujar Jamal memberi tanggapan.

Jamal menyebutkan bahwa mahasiswa adalah anaknya yang akan diraih dan dilindungi. Maka ia tidak mau menadatangani notulensi. “ketika saya mengingkari (pernyataannya-red) maka tolong diingatkan,” pesan Jamal menutup forum malam itu.  

Usai Forum, kepada VISI Elang menjelaskan penandatanganan notulensi bertujuan memastikan yang disampaikan jajaran rektorat benar-benar di laksanakan. Meski menyayangkan keputusan Jamal untuk tidak menandatangani notulensi, Elang cukup mengapresiasi pihak rektorat yang sudah bersedia menerima aspirasi mahasiswa bahkan menjanjikan adanya forum serupa akan kembali diadakan. “kita tidak menutup kemungkinan dari adanya press release dari berbagai pihak sebagai tanda bahwa beliau sudah menyatakan hal-hal tersebut. Harapannya, pakta integritas yang tidak ditandatangai bukanlah penghalang ” ungkap Elang.

Walaupun dengan pernyataan seperti itu, di akhir wawancara Elang juga mengamini bahwa tanpa adanya kesepakatan hitam diatas putih, mahasiswa hanya bergantung pada janji yang disampaikan rektor. (Dania)

Rabu, 01 Mei 2019

6000 Penari Dalam Satu Harmoni

6000 Penari Dalam Satu Harmoni

Mengangkat tema "Gegara Menari", ISI Surakarta kembali menyelenggarakan 24 Jam Menari pada Senin-Selasa (29-30/04/2019). (Dok. VISI/Rizka)
Lpmvisi.com, Solo - Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali menghadirkan acara peringatan World Dance Day ke-13 yang diselenggarakan pada 29-30 April 2019.

Bertajuk 24 Jam Menari acara tersebut diberi tema "Gegara Menari" dengan tagline “Urip Mawa Urup, Urip Hanguripi” atau yang berarti “hidup dengan semangat, hidup memberi hidup”. Sebuah ungkapan yang seakan menggambarkan bahwa tari adalah suatu unsur yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat serta menghidupi masyarakat.

Acara ini diikuti oleh lebih dari 6000 penari dari 191 kelompok yang datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Yogyakarta, Tangerang, Pacitan, hingga Lampung, dan juga dari mancanegara. Sesuatu yang terbilang unik dari pagelaran tersebut adalah adanya 6 orang penari yang terus menggerakkan tubuhnya selama 24 jam tanpa berhenti. Dimulai dari 29 April pukul enam pagi dan berakhir keesokan harinya di jam yang sama.

Pagelaran yang terbuka untuk umum itu terbagi ke dalam lima titik, antara lain di depan Rektorat ISI Surakarta, Pandhapa Ageng G. P. H. Joyo Kusumo ISI Surakarta, Teater Kecil Gedung KRT Kusuma Kesawan, Teater Besar Gedung Gendhon Humardani, serta Teater Kapal. Untuk masuk kesana pengunjung tidak dikenakan biaya. Disana, para pengunjung juga dapat membeli berbagai hidangan kuliner dan juga merchandise yang dijual di berbagai stand yang telah disediakan oleh panitia acara. 
Salah satu kelompok Penari dari Sanggar Tari Kartika, Depok sedang melenggang diatas panggung menampilkan tariannya.


Acara tersebut bersalngsung meriah, terbukti dari antusiasme para hadirin yang datang menyaksikan. Salah satu pengunjung yang berhasil VISI wawancarai pada (29/04/2019) adalah Ika dari Pacitan. “Saya senang tahun ini bisa datang kesini untuk melihat pagelaran tari yang besar ini secara langsung,” ujarnya saat ditanyai perihal kesannya terhadap acara tersebut.

Cahya (13), salah satu peserta yang berasal dari Sanggar Cipta Budaya juga hadir untuk memeriahkan acara tersebut. Sanggar Cipta Budaya membawakan tiga jenis tarian yakni tari none nyentrik, puspa ligar dan engklek. “Kita pasang semua atribut untuk kostum dan make up ini sendiri,” tegasnya ketika berbincang soal persiapan tari yang dibawakannya kepada VISI.

Kegiatan tahunan ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk melestarikan budaya. Selain itu acara ini juga dapat memberikan semangat bagi generasi muda untuk semakin mencintai budaya lokal, khususnya budaya seni tari. (Rian, Rizka, Stella)