Thursday, April 27, 2017

BEM FISIP Selenggarakan Kegiatan Sedekah Nasi Untuk Tukang Becak

BEM FISIP Selenggarakan Kegiatan Sedekah Nasi Untuk Tukang Becak

Salah seorang mahasiswa sedang memberikan nasi kotak kepada tukang becak dalam kegiatan Sedekah Nasi (Desi) yang diselenggarakan BEM FISIP pada Kamis (27/04/2017) kemarin. (Dok.VISI/Syam)

lpmvisi.com, Solo - BEM FISIP mengadakan kegiatan sosial bertajuk Desi (Sedekah Nasi) pada Kamis (27/04/2017) kemarin. Desi merupakan kegiatan menyedekahkan nasi kotak kepada masyarakat yang membutuhkan. Pada Desi kali ini, BEM FISIP menargetkan para tukang becak sebagai penerima sedekah.

“Setelah perundingan panjang, akhirnya dipilihlah sasaran tukang becak, karena banyak tukang becak di daerah solo dan sekitarnya,” ujar Nadia selaku salah satu penanggung jawab Desi ketika diwawancari VISI di sela-sela kesibukan pelaksanaan Desi.

Desi kali ini dilakukan di tiga lokasi berbeda yang telah ditentukan oleh pihak BEM FISIP. Lokasi yang dimaksud antara lain daerah sekitar Stasiun Jebres, Pasar Gede, dan di kawasan Pusat Grosir Solo (PGS). Total 120 buah nasi kotak dan air mineral dibagikan kepada para tukang becak di ketiga lokasi tersebut. Rinciannya 40 buah untuk para tukang becak di daerah Stasiun Jebres, 50 buah untuk para tukang becak di daerah Pasar Gede, serta 30 buah untuk para tukang becak di PGS dan sekitarnya.

Pada Desi kali ini, BEM FISIP juga mengajak sejumlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di FISIP untuk turut serta, baik dalam hal penyumbangan dana hingga terkait teknis pelaksanaan pembagian nasi kotak di lapangan. Beberapa UKM yang turut berpartisipasi antara lain LPM VISI, Himpunan Mahasiswa D3 (HMD), Komunitas Musik FISIP (KMF), MAHAFISIPA, FISIP Fotografi Club (FFC), FISIP Basketball, Lembaga Kegiatan Islam (LKI), Teater SOPO, KINE KLUB, Censor, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM), UKM Bola, dan FIESTA FM.  (Syam)

Monday, April 24, 2017

Marginalisasi Perempuan dan Gerakan Feminisme Radikal di Surga

Marginalisasi Perempuan dan Gerakan Feminisme Radikal di Surga

(Dok.VISI/Eko)

Judul : Adam Hawa 
Pengarang : Muhidin M Dahlan 
Penerbit : ScriPtaManent 
Dimensi : 12 x 19 cm
Tebal : 167 halaman 
Cetakan : Cetakan II Juni 2015 

Oleh: Eko Hari Setyaji 

Hawa bukan perempuan pertama... 

Adam dalam kitab-kitab suci agama langit, Islam, Nasrani, dan Yahudi, dipercaya sebagai manusia pertama ciptaan Tuhan. Makhluk berjenis kelamin lelaki ini dibuat dari tanah. Sebelum kemudian ia diusir dari Surga, Tuhan telah berbaik hari memberinya seorang kawan yang–sebagaimana tertulis dalam ayat-ayat Tuhan –diciptakan dari seruas tulang iga Adam sebelah kiri (barangkali dari sini berawal penempatan perempuan dalam saf salat berjamaah). Tersebab Adam melanggar larangan Tuhan untuk tidak menyentuh atau apa lagi sampai berani memakan buah khuldi–buah yang hanya tumbuh di Surga–ia pun dihukum Tuhan dengan dilemparkan ke bumi bersama “rusuk kirinya”. Itulah sejarah yang selama ini diimani sebagai asal mula adanya manusia di bumi. Semua seakan dibuat “terbalik dan nyeleneh ” dalam novel karya Muhidin atau yang akrab Gus Muh ini. 

Kisah bermula dari kegundahan hati Adam mengenai penciptaannya. Adam hidup bersama tujuh kurcaci di Taman Eden –kurcaci, makhluk ciptaan Tuhan yang biasa membuat “onar” dan ditugaskan menjadi pengasuh Adam– tiap malam “ditemani tidurnya” oleh dongeng si Juru Cerita (Penjaga Mimpi) – yang sejatinya merupakan jelmaan malaikat yang diutus Tuhan untuk membimbing Adam. Adam merasa terhina dan tidak terima dengan cerita penciptaan dirinya yang diceritakan Penjaga Mimpi. 

Muhidin menyajikan dua versi “unik” mengenai penciptaan Adam. Pertama, ia mengartikan secara harfiah Adam yang dibuat dari tanah “lempung”. Tuhan telah memerintahkan malaikatmalaikatnya yang setia untuk menemui kaum kurcaci yang terkenal mahir membuat patung. Pada orang-orang mungil ini, Malaikat Pesolek memesan sebuah patung lempung makhluk terbaru yang kelak dikenal sebagai manusia. Gambar dan rancangan patung tersebut dibuat sendiri oleh Tuhan dengan detail yang sangat sempurna. Ketika saatnya tiba, Tuhan menghembuskan kehidupan ke dalam tubuh patung lempung tersebut dan memanggilnya dengan nama Adam. Kedua, Tuhanlah yang “melahirkan Adam”. Gus Muh menafsirkan Tuhan berkelamin laki-laki, maka Adam lalu dikisahkan lahir lewat ketiak Tuhan yang dipenuhi bulu. Dengan kekuatan mantra “KunFaYakUnNuKaYfAnKu” makhluk yang ada dalam pikiran Tuhan meronta keluar dari ketiak Tuhan. Tak heran, Adam pun berpikir kalau rambut yang ada di kepala dan sekitar kemaluannya merupakan rambut ketiak Tuhan. 

Adam ternyata lebih suka dan sepakat dengan versi kedua. Sebab menurutnya versi pertama sangat tidak keren “Lahir dari lempung? Ah, sungguh tak elok di kuping” ucap Adam kepada si Juru Cerita. Adam beranggapan sebutan “putra Tuhan” tentu jauh lebih terhormat. Meskipun begitu, si Juru Cerita telah berpesan bahwa cerita versi pertamalah yang kelak akan diyakini sebagai asal-usul nenek moyang mereka, karena telah tertulis dengan rapih di kitab suci yang tersembunyi di petala langit ke-6 Negeri Kabut. 

Setelah sekian lama sendiri di Taman Eden, pada suatu pagi Adam terkejut lantaran mendapati seorang makhluk lain yang sangat mirip dengan dirinya nangkring di batang pohon khuldi. Ah, tetapi setelah ia dekati, makhluk itu ternyata sedikit berbeda dengan dirinya. Ia meraba sekujur tubuh makhluk tersebut dan didapatinya tiga perbedaan mendasar dengannya. Pertama, bagian dadanya menggelembung, tidak rata seperti miliknya, kedua, di antara selangkangannya tidak terdapat gumpalan daging yang mirip akar tunjang seperti di tubuhnya, hanya rata, sedikit cembung serta mirip selongsong gua bergaris lurus kebawah, serta ketiga, lehermu lurus tidak ada tonjolan seperti buah pelir disana. Makhluk itu menyebut dirinya Perempuan bernama Maia.

Tinggallah Maia bersama Adam di Taman Eden, di sebuah rumah batu (entah belajar dari mana Adam cara membuat rumah itu). Setiap detik mereka lewati dengan bercinta sampai kelelahan. Rupanya, Tuhan yang pandai itu telah melengkapi Adam dan Maia dengan hasrat berahi yang membuat keduanya saling tertarik dan bergairah satu sama lain. Tiada hari tanpa bercinta. Hingga pada suatu masa Maia tiba pada titik jenuh karena pasangannya kelewat dominan dan suka memerintah. Maia tak diperkenankan memiliki inisatif, bahkan dalam soal bercinta sekalipun. Ia harus selalu mematuhi kehendak Adam, tanpa boleh membantah sedikitpun. Maka, kemudian ia memutuskan minggat dari lelaki bejat itu. 

Barulah setelah kepergian Maia entah ke mana, Tuhan memberikan Hawa sebagai penggantinya. Sosok Hawa yang lahir dari angan dan doa Adam diawal pertemuannya dengan Adam berkata,” Aku lahir dari doa dan harapanmu, Adam. Karena itu aku abdikan diriku sepenuhnya sebagai balas budi baikmu.” Hawa yang penurut serta tak pernah menuntut. Disuruh apapun akan ia laksanakan dengan kepatuhan seorang budak kepada majikannya.

Setelah setiap hari memadu kasih, Adam dan Hawa dikaruniai Tuhan sepasang anak kembar, Khabil dan Munah. Sejak masih berada di kandungan, kehadiran buah cinta Adam dan Hawa telah membuat sikap Adam berubah, hingga Khabil dan Munah tumbuh dewasa mereka tak pernah akur dengan Adam. Mereka menganggap Adam hanya lelaki kasar yang memperbudak ibu mereka. Puncaknya Adam “mengusir” Khabil untuk mengembara enam purnama sebagai tanda lelaki dewasa. Ditinggal kembarannya, Munah jadi stres dan hilang ingatan, hingga akhirnya dibunuh Adam dan digantung di dahan pohon khuldi. 

Khabil dalam pengembaraannya bertemu Marfu’ah (perempuan yang akhirnya ia nikahi karena terpaksa) –anak Maia dari hasil bercintanya bersama Idris (adik Adam)– dan tinggal beberapa lama di rumah batu Maia. Layaknya cerita sinetron FTV, Maia memendam dendam kesumat untuk membunuh dan membinasakan Adam. Diawali memuncaknya amarah Khuldi dengan keadaan Munah, Maia bersama Khabil dan Marfu’ah menyusun rencana pembunuhan Adam, memanfaatkan kelemahan Adam yang haus berhubungan seks. Marfu’ah menjadi umpan rencana Maia, menemui Adam di dekat pohon khuldi (tempat pertama kali Adam bertemu Maia).

Adam akhirnya terbunuh oleh nafsu birahinya, Marfu’ah pulang membawa dengan membawa bukti batu tajam bekas bercak darah Adam. Khabil berselingkuh dengan Maia, setelah membunuh Idris, dan Hawa yang kelak hidup bersama delapan anak kembar Adam –Hawa sedang hamil– menangis tertunduk meratapi kematian suaminya di Taman Eden.

Feminisme Radikal

Novel karya Gus Muh ini, sempat mendapat hujatan kelompok Islam karena sudut pandang penulisannya yang dianggap menyesatkan umat dan mempermainkan ajaran agama. Penulis juga berasumsi, pembaca novel ini pasti akan merasa kupingnya kepanasan dengan alur cerita nyeleneh  yang disajikan Gus Muh.

Di novel yang tipis ini, pembaca seolah digiring berasumsi perempuan adalah makhluk lemah yang harus patuh serta tunduk terhadap kaum laki-laki. Disinilah asal mula gerakan feminisme radikal muncul (di Taman eden, Surga). Dikutip dari buku Mansour Fakih, Analisis Gender & Transformasi Sosial, Penindasan kaum perempuan berakar dari kaum laki-laki hingga lahirlah bentuk patriarki, dimana laki-laki memiliki kekuasaan superior dan privilege ekonomi atas perempuan. Maka muncullah pergerakan penentangan terhadap sistem patriarki ini lewat sosok Maia yang tidak puas hanya menjadi perempuan pemuas nafsu Adam.

Di luar kontroversi yang menyertainya, novel Adam Hawa ini cukup relevan dengan keadaan masyarakat pada zaman dahulu, yang masih menganggap kedudukan laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Selain itu, cocok pula dijadikan sebagai bahan penelitian dan kajian, terbukti dengan beberapa kali novel ini menjadi objek penelitian mahasiswa terkait marginalisasi perempuan.


Pesan saya, Adam Hawa memang telah membongkar, merusak, merubuhkan pagar, merapuhkan kekokohan tafsir tekstual terhadap teks suci. Akan tetapi jangan menilai sebuah karya dari sampulnya sajamembaca novel itu, menyelami ceruk-ceruk terdalamnya, menemukan asbab alwurud-nya, menafsirkannya secara kontekstual dan tak tergesa-gesa menyimpulkannya sebagai buku sesat lagi menyesatkan, apalagi memurtadkan novelis yang (konon) masih berdarah santri itu. Sebagaimana sebuah novel hanyalah buah karya imajinasi pengarang, bukan kisah nyata.

Friday, April 21, 2017

Kupas Tuntas Mega Korupsi e-KTP

Kupas Tuntas Mega Korupsi e-KTP

Oleh : Mahardika Ditya

dok. internet/detik.com
Media seolah tidak pernah berhenti meliput perihal korupsi yang terjadi di negara ini. Seperti halnya dewasa ini, di mana masyarakat digegerkan dengan kasus e-KTP yang menghabiskan dana negara sebesar Rp 2,3 triliun. e-KTP merupakan program Kemendagri yang telah dimulai sejak bulan Febuari 2011 silam. Tujuan terbentuknya e-KTP adalah untuk menghindari kecurangan individu untuk memiliki KTP ganda yang dapat berujung menjadi tindak kriminal.
Kasus e-KTP sudah terdengar sejak 2012 silam. Kasus e-KTP mendakwa dua mantan pejabat Dirjen Dukcapil Kemendagri, masing-masing Irman selaku mantan Dirjen dan Sugiharto selaku mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Ditjen Dukcapil Kemendagri. KPK menyampaikan bahwa kasus ini menghabiskan dana negara sebesar 2,3 triliun untuk masuk ke kantong-kantong pribadi. Angka tersebut bukan angka yang kecil bagi KPK jika melihat sejarah penuntasan korupsi paling besar adalah 1,2 triliun perihal Hambalang di Jawa Barat. Maka dari itu, KPK menyebut kasus ini dengan Mega Korupsi.
Ada dua kejanggalan yang terjadi dalam proyek e-KTP ini menurut Tama Langkun dari Indonesia Corruption Watch (ICW). Pertama,  setelah tender ditutup, spesifikasi alat yang akan digunakan dalam proses pembuatan e-KTP, yaitu signature pad, diubah. Tindakan itu jelas melanggar Pasal 79 ayat 2 Peraturan Presiden No. 54 tahun 2010 yang melarang post-bidding—tindakan mengubah, menambah, mengganti, dan/atau mengurangi dokumen pengadaan dan/atau dokumen penawaran setelah batas akhir pemasukan penawaran. Kedua, Gamawan Fauzi yang saat itu menjabat Menteri Dalam Negeri, menandatangani kontrak pengadaan e-KTP saat proses lelang berada pada masa sanggah sehingga tidak memberi kesempatan kepada dua peserta lelang, Konsorsium Telkom dan Konsorsium Lintas Bumi Lestari. LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/jasa Pemerintah) menyarankan penandatanganan kontrak ditunda setelah masa sanggah banding selesai. Sebab, sesuai pasal 82 Peraturan Presiden 54 tahun 2010 sanggahan banding menghentikan proses lelang. Tapi saran LKPP ini tidak diindahkan.
Jika membahas korupsi, seharusnya pemerintah bertindak tegas untuk menuntaskan korupsi di Indonesia. UU no 20 tahun 2001 pasal 2 dan 3 secara jelas memaparkan bahwa melakukan korupsi akan mendapatkan sanksi yang setimpal. KPK sebagai lembaga yang menuntaskan kasus korupsi harus bertindak netral, jangan karena ada diskusi di balik layar sehingga kasus korupsi tersebut seperti angin berlalu, dana sebesar 2,3 triliun bukanlah sedikit. KPK selaku lembaga yang sangat berperan penting diharapkan untuk menuntaskan kasus ini dengan sebaik-baiknya. Masyarakat sangat membutuhkan kejelasan atas kasus yang menyangkut 19 politikus ini.
Masih di ambang kebingungan terhadap orang orang yang memiliki status pengabdian untuk negara tetapi hanya memikirkan pribadi atau kroni tersebut. Sedangkan negara membutuhkan tenaga lebih untuk memajukan bangsa ini. Sebenarnya etika dalam pemerintah yang sering marak terjadi korupsi harus dibenahi, bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan tetapi etika yang yang dimaksud adalah rasa nasionalis terhadap bangsa sendiri bukan merusaknya dengan berbagai konflik yang terjadi khususnya korupsi yang sudah menjadi ciri khas dalam dunia pemerintahan indonesia. Tetapi bagaimana cara untuk memajukan bangsa ini, bukan hanya dari kalangan pemerintah saja melainkan seluruh warga negara di indonesia. Pesan tersirat untuk pemerintah yang memiliki pandangan buruk dari masyarakat karena kasus korupsi yang merajalela yaitu jadilah seorang yang negarawan karena seorang yang menjadi negarawan adalah seorang yang memikirkan negara untuk kedepannya, bukan menjadi seorang politik yang hanya memikirkan negara dalam jangka waktu 5 tahun.

Saturday, April 15, 2017

Di Balik Gurihnya Tempe

Di Balik Gurihnya Tempe

Oleh : Pulung Prasiwi

Tempe, salah satu produk pangan hasil olahan kedelai. Lauk yang cukup terkenal di Indonesia dan sering berpasangan dengan tahu, serta dikenal karena kaya akan manfaat bagi kesehatan, seberapa banyak kita tahu tentang pembuatannya? LPM VISI menyajikan kisahnya dalam foto-foto berikut yang diambil di Yogyakarta, Mei 2016 lalu.


Tukinah (68), salah satu perajin tempe yang masih bertahan memproduksi tempe secara rumahan di kampungnya, Kelurahan Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta. Di Kampung ini, perajin tempe rumahan hanya tinggal dua keluarga saja, yaitu Tukinah serta kakaknya.



Mulanya, kedelai yang telah direndam semalaman dicuci terlebih dahulu dengan air, lalu direbus selama 1 jam
Setelah matang, kedelai kemudian dicuci lagi dengan cara diinjak-injak. Hal ini dilakukan untuk memecahkan biji kedelai agar lebih mudah difermentasi nantinya. Setelah biji kedelai terpisah dari kulitnya, kedelai direndam semalaman, untuk kemudian di kukus lagi esok harinya. 



Setelah dikukus, kedelai didinginkan sebentar, kemudian diberi ragi.


Ada dua cara dalam peragian, yaitu dengan menggunakan ragi bubuk, atau yang lebih tradisional lagi, dengan menggunakan daun jati yang sudah berjamur. Daun jati yang berjamur tersebut diremaskan pada kedelai sambil diratakan. 

Setelah ragi merata, kedelai dibungkus. Untuk menjadi tempe, setidaknya membutuhkan waktu tiga hari.

Tempe yang sudah membentuk jamur sempurna setelah beberapa hari didiamkan
Fermentasi kedelai dengan wadah plastik lebih cepat dibandingkan tempe yang dibungkus daun pisang, karena wadah plastik lebih cepat menghangatkan kedelai yang sudah diragi dari pada daun pisang.

Friday, April 7, 2017

 Benang Merah Baru di Sisi Barat Kota Solo

Benang Merah Baru di Sisi Barat Kota Solo

Proses mencanting Alquran batik yang dilakukan oleh salah satu pekerja di Batik Mahkota, Laweyan. Terinspirasi oleh ide metode membaca follow the line, proyek yang dimulai pada Oktober 2016 tersebut diperkirakan akan selesai pada awal tahun 2018. (Dok.VISI/Fauzan)

Matahari bersinar terang. Kesan hangat yang ditimbulkan langit seirama dengan geliat kampung bersejarah yang terletak di sisi barat Kota Solo itu. Di perkampungan seluas 24,83 hektar tersebut, masih banyak kendaraan hilir mudik. Wisatawan—baik yang berwajah lokal maupun satu dua orang berwajah bule—berjalan di sepanjang trotoar, menenteng ransel mereka masing-masing.

“Saya ke sini mau lihat proses pembuatan batik. Sekalian cari oleh-oleh, mumpung di Solo,” kisah Handi (38), wisatawan asal Bandung ketika ditemui VISI di sela-sela kunjungannya ke Kampung Batik Laweyan pada Rabu (22/3/2017).

Laweyan sudah pasti akan jadi destinasi pertama yang terlintas di pikiran kita apabila mencari garis hubung antara Kota Solo dengan sejarah batik nusantara. Sebagaimana dilansir oleh situs resmi Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL), kegiatan membatik di wilayah ini sudah dimulai sejak sebelum abad ke-15 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Selain itu, berdasarkan dokumen resmi FPKBL, wilayah yang hingga kini masih mempertahankan lorong-lorong serta arsitektur bangunan-bangunan tingginya ini juga merupakan saksi bisu perjuangan para pengrajin batik bumiputera bersama Sarekat Dagang Islam-nya Kyai Haji Samanhudi.

Jumlah rumah industri batik yang menembus angka 200 menggambarkan betapa tingginya tingkat ketergantungan ekonomi warga Laweyan terhadap si industri kain bermotif. Di sisi lain, hal tersebut juga menuntut tiap rumah industri batik yang ada untuk menemukan ide-ide kreatif agar pamor usaha mereka tidak kalah dari para tetangganya.

Hal itu pula yang dilakukan oleh Batik Mahkota. Berlokasi di Sayangan Kulon Nomor 9, Laweyan, rumah batik yang sudah berdiri sejak tahun 1956 ini merupakan satu dari sedikit produsen batik asal Laweyan yang produk-produknya sudah diberi jaminan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Yang khas dari Mahkota adalah desain produk. Di almari koleksi kami, produk satu dan yang lain desainnya beda. Satu desain hanya untuk satu produk, kecuali apabila ada pesanan (desain-red) dari pihak tertentu,” papar Eko Margiyanto selaku Humas Batik Mahkota ketika ditemui VISI di kantornya pada Rabu (22/3/2017).

Bicara soal produk, saat ini Batik Mahkota sendiri sedang mengerjakan proyek Alquran batik. Proyek non-profit ini bertujuan untuk membuat kitab Alquran dengan material kain bermotif batik.

Setiap selembar kain berukuran 85x110 cm mewakili satu halaman Alquran. Teknis pembuatannya dimulai dengan menggandakan Alquran yang ukurannya sudah diperbesar. Kemudian, Alquran tersebut dijiplak dan dilukis di atas kain menggunakan pensil dan spidol. Kain yang sudah dilukis kemudian dicanting, dicelup, dan dilorot seperti halnya prosesi pembuatan batik tulis pada umumnya.

“Ini akan kami buat 30 juz. Nantinya setelah jadi kain-kain akan dijilid dan dijadikan satu seperti Alquran,” imbuh Eko.

Proses pengerjaan Alquran batik sendiri memakan waktu yang tidak singkat. Untuk membatik satu halaman Alquran saja, rata-rata memakan waktu pengerjaan sekitar dua hari.  

Proyek yang dimulai sejak tanggal 2 Oktober 2016 lalu ini pun tidak hanya melibatkan unsur internal. Batik Mahkota turut mengundang perwakilan dari Departemen Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) guna melakukan verifikasi terhadap kebenaran huruf-huruf hijaiyah yang sudah ditorehkan di atas kain batik.

Biasanya, tahap verifikasi ini dilakukan setiap sepuluh halaman kain sudah dilukis dengan pensil. Tujuan dari verifikasi sendiri adalah agar apabila ada kesalahan penulisan huruf, penggantian bisa dilakukan dengan lebih mudah tanpa perlu membuang-buang kain. Mengenai kesalahan yang sering terjadi, biasanya tidak terlalu fatal.

“Paling hanya beberapa huruf melenceng. Tidak sampai salah tulis huruf atau tanda. Soalnya, pelukisan garis polanya dengan cara ngeblat (menempelkan kain di atas kertas yang sudah digambar, kemudian menjiplaknya -red),” ujar Eko.

Lebih lanjut, Eko juga menuturkan bahwa proses pembuatan Alquran batik tidak mengganggu jalannya pekerjaan produk-produk lain. Hal ini karena di Batik Mahkota sendiri pekerjaan Alquran dan batik-batik komersial dilakukan secara terpisah dan oleh pekerja yang berbeda.

Kondisi tersebut juga diamini oleh Warti (49), salah satu pekerja di Batik Mahkota. “Sudah dibagi-bagi. Untuk pengerjaan Alquran Batik dilakukan di halaman belakang (oleh pekerja lain -red),” tutur Warti.

Awal mula ide membuat Alquran batik sendiri bersumber dari salah satu kerabat Alpha Fabela, pemilik Batik Mahkota. Kerabat Alpha saat itu berpikir untuk mempopulerkan kembali cara membaca Alquran dengan metode follow the line.

Follow the line merupakan metode membaca Alquran dengan cara menuliskannya terlebih dahulu. ‘Membaca belum tentu menulis, tapi menulis sudah pasti membaca’, kurang lebih filosofi itulah yang dijadikan acuan sebagian umat muslim untuk menggunakan metode ini dalam pembacaan kitab suci. Alquran yang digunakan dalam metode follow the line pun berbeda dengan Alquran pada umumnya. 

“Kalau Alquran follow the line biasanya hurufnya terdiri dari titik-titik, bukan garis. Jadi kita harus menghubungkan titik tersebut dengan pena supaya menjadi garis-garis yang bisa dibaca,” jelas Wilih (43), salah satu pemasok buku yang sempat ditemui VISI tak jauh dari kompleks perbukuan Sriwedari.

Follow the line dirancang dalam berbagai macam tahap yang harus dikerjakan secara berurutan. Tahap paling awal adalah keharusan untuk bisa membaca huruf arab; tingkat berikutnya adalah menulis; lalu memahami bahasa yang digunakan; dan yang terakhir adalah fase di mana seseorang diasah berulang-ulang kemampuannya sehingga dapat memahami logika dan bahasa Alquran dengan benar. Berangkat dari situ, Batik Mahkota kemudian menggagas ide untuk menerapkan follow the line dalam industri batik, yakni dengan menuliskan motif Alquran terlebih dahulu sebelum mencantingnya.

Bila sesuai perkiraan, proses pembuatan Alquran batik sendiri baru akan selesai pada awal tahun 2018 mendatang. Nantinya, Alquran batik akan dijadikan aset oleh showroom Batik Mahkota. Melalui Alquran batik ini, pihak Batik Mahkota berharap para pengunjung showroom akan tergugah untuk lebih mempelajari ajaran agama.

Keberadaan Alquran batik mendapat respon positif dari warga Laweyan. Sukamto (39) misalnya, warga Laweyan ini menuturkan apresiasinya kala ditemui VISI pada Rabu (22/3/2016) kemarin.

“Bagus sih, bisa jadi bukti kalo budaya lokal juga bisa berdampingan dengan agama,” ungkap pria yang akrab disapa Kamto tersebut. Lebih lanjut ia juga berharap agar pengerjaan Alquran ini juga dibantu oleh para pengrajin batik selain Batik Mahkota, sehingga pengerjaannya dapat lebih cepat.

Respon positif juga datang dari Fina. Meski bukan merupakan warga Laweyan dan merupakan pendatang baru di Solo, perempuan asal Banyumas yang sedang menempuh studi di salah satu perguruan tinggi di Solo ini juga menuturkan hal tak beda jauh dari Kamto . Namun, Fina menambahkan bahwa akan lebih baik lagi jika keberadaan Alquran batik tersebut tidak hanya sekedar jadi sarana simbolik belaka.

“Jangan hanya simbolik, harus diikuti dengan nambah iman pada Tuhan,” jelas Fina.

Pada akhirnya, Alquran batik tidak hanya dimaknai oleh publik sebagai suatu cara mempopulerkan kembali follow the line. Lebih dari itu, Alquran batik justru dimaknai sebagai suatu langkah positif untuk menekankan kembali nilai-nilai agama sekaligus nilai-nilai kesenian pada saat bersamaan. Laweyan masih akan tetap jadi benang merah yang menghubungkan Kota Solo dengan sejarah batik nusantara, sebagaimana Alquran batik yang mulai menempatkan diri sebagai benang merah penghubung kearifan lokal Laweyan dengan kearifan firman Tuhan. (Fauzan)

Thursday, April 6, 2017

Kendeng dan Seruan dari Kota Bengawan

Kendeng dan Seruan dari Kota Bengawan

Lukisan Sosok Bu Patmi dan Kartini Kendeng (Dok. VISI/Muthi)

Public  Space 3 FISIP UNS menjadi saksi bisu seruan Solo untuk Kendeng. Dalam acara Kartini Kendeng: Ruwatan Giribawono pada Rabu (5/4/2017), beragam kelompok dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun organisasi pergerakan mahasiswa berkumpul dan melebur menyuarakan Kendeng Lestari. Beberapa di antaranya ialah Kampungnesia, SATUNAMA, Jejer Wadon, Guyub Bocah, HMI dan PMII cabang Surakarta, BEM FISIP UNS, dan Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu.

Pukul 13.30 siang, satu persatu peserta mulai hadir, alunan lagu-lagu karya Sisir Tanah menyambut peserta dan terus mengiringi hingga akhir acara. Di sisi depan forum, nampak tiga lukisan buatan Dewi Candraningrum, salah satunya ialah lukisan sosok Bu Patmi, warga Kendeng yang meninggal dunia saat melakukan aksi tanam kaki dalam semen. Aksi tersebut dilakukannya sebagai upaya penolakan pembangunan pabrik Semen. Selain itu, peserta juga diajak hanyut dalam bacaan beberapa puisi. Suasana dalam forum dibuat sedemikian rupa untuk menghadirkan narasi perjuangan Kendeng.

“Sebenarnya hari ini kita cukup terlambat mendiskusikan Kendeng, karena sudah banyak teman-teman lain yang memeperjuangkannya. Namun harapan besar kegiatan ini ialah, agar kita bisa mengurai bersama problema apa yang terjadi, dan memberi dukungan atau rekomendasi yang bisa kita sarankan kepada pihak-pihak terkait,” ungkap Siti Zunariyah, salah satu dosen Sosiologi FISIP UNS yang juga tergabung dalam Kampung Nesia saat mengawali acara.
Persoalan Kendeng bukan persoalan yang serta merta terjadi kemarin dan hari ini. Maria Suciana, salah satu perwakilan dari SATUNAMA  mengatakan, “Saya cukup terkejut dengan sebuah kertas besar yang dimiliki oleh negara kita yang kemudian disebut sebagai rencana pembangunan beberapa puluh tahun kemudian. Di kertas itu begitu mudahnya dipetakan tempat-tempat seperti, di sini ada minyak, di sini ada batu bara, dan lain-lain. Persoalan Kendeng apakah begitu serta merta menjadi persoalan yang baru dimulai satu dua tahun kemarin, bukankan itu juga bisa dimulai dalam periode waktu yang jauh ke belakang,” ujar Maria dalam kesempatannya berbicara.
https://pbs.twimg.com/media/C8pp-uSUAAAoeTu.jpg
Siti Zunariyah saat membuka acara (Dok.@Kampungnesia /https://twitter.com/kampungnesia)

Satu persatu perwakilan dari LSM maupun organisasi pergerakan mahasiswa  yang hadir kemudian diminta untuk menyampaikan sikap dan pendapat mereka terkait konflik pembangunan pabrik semen di Kendeng, dan semua selaras menyatakan penolakannya. Yunanto Sutyastomo, perwakilan dari Balai Soedjatmoko melihat dari sudut pandang lain di luar konteks ekologis, “Pabrik semen di Kendeng persoalan keberdayaan. Pendirian pabrik semen akan membunuh Samin, tradisi Samin, masyarakat Samin, dan budaya Samin, hal itu yang selama ini kurang ditonjolkan, di luar persoalan terkait lingkungan.”
“Negara hari ini seakan sedang takut dengan kerugian 5 triliun, sedangkan hancurnya Samin tidak sebanding dengan angka itu,” ungkap Akhmad Ramdhon salah satu dosen Sosiologi FISIP UNS,. Ramdhon juga menghimbau peserta yang hadir untuk melakukan aksi dukungan kepada petani Kendeng di dunia maya, dengan memposting kegiatan ini dan menuliskan #KendengLestari atau #RuwatanGiriBawana.
Arief Rahman Hakim Presiden BEM FISIP UNS menyatakan bahwa kampus termasuk UNS mengusung Tri Dharma Perguruan Tinggi, sedangkan pada poin ke tiga yaitu terkait pengabdian masyarakat tidak terlalu ditonjolkan. Kampus seakan tutup mata dengan hal ini, utamanya terhadap konflik Kendeng.
Acara kemudian ditutup dengan pembacaan Seruan Moral Akademisi Indonesia, di antaranya berisi uraian terkait darurat ekologis pulau Jawa, masalah manusia dan kebudayaan, pernyataan sikap akademisi, dan rekomendasi. Salah satu pernyataan sikap yang diungkapkan yaitu, “Masih banyak cara untuk memajukan pembangunan bangsa termasuk dalam menyediakan semen, dengan cara yang lebih mementingkan manusia dan kelestarian alam.” Sedangkan dalam rekomendasinya, seruan moral akademisi yang di sampaikan oleh Universitas Indonesia di Salemba ini, mendesak Presiden untuk membatalkan rencana penambangan semen sebagai mana diamanatkan dalam putusan Mahkaman Agung. (Muthi)

Monday, April 3, 2017

Jarak

Jarak

Dok. Internet


Oleh: Oryza Sativa

(Mahasiswa Pendidikan Guru Raudhatul Athfal IAIN Surakarta)



Kau dan aku...
hanyalah sisa-sisa perasaan.
Dari percakapan bermula hingga akal lupa dimana kita berada.
Setelah sekian lama mengalami ilusi,
kita mencoba mengerti, memeluk hati cukuplah seperlunya.
Masih ada hari-hari kita bisa dengarkan desah daun basah.
Helai-helai rumput tersipu,
hujan bernyanyi sepi,
mungkinkah terlalu yakin pada sendiri.
Aku ragu,
bisakah sejenak kita berbeda sapa.
Aku takut,
rasa kalut mengusik kesendirian kita.
Sebab inilah kita yang memilih ilusi,
dibanding sendiri sebagai sepi.
Sebab aku belum mendefinisikan rindu,
maka biarlah tak ada sudut pada percakapan kita.
Biarkan begitu saja.
Bilapun aku harus berhenti mencintaimu dalam detik dan detak.
Biarlah aku pergi,
meninggalkanmu pelangi dan senja.
Langit merah mega,
Kepak-kepak malaikat memetik gitar sebagai pengiring pergiku.
Sebab pergi itu pasti,
anggaplah itu caraku mencintaimu.
Mari kita mengenal rindu.

Sunday, April 2, 2017

Merayakan Hari Film Nasional dengan Hangout Bareng KINE

Merayakan Hari Film Nasional dengan Hangout Bareng KINE

Suasana pemutaran film dalam acara Hangout Bareng KINE. (Dok.VISI/Metta)
lpmvisi.com, SoloKINE KLUB FISIP UNS merayakan Hari Film Nasional dengan menyelenggarakan pemutaran film dan diskusi bertajuk Hangout Bareng KINE pada Jumat, 31 Maret 2017. Berlokasi di Lantai 2 Pasar Gede, KINE mengemas acara tersebut dengan suasana hangout yang santai dan hangat. Menghadirkan tiga film produksi komunitas-komunitas film di Solo serta enam film produksi sendiri, Hangout Bareng KINE terbilang sukses menarik perhatian penonton pada perayaan Hari Film Nasional tahun ini. Terbukti dari ramainya penonton yang masih memenuhi lokasi pemutaran film dari awal hingga penghujung acara.

Mengusung tema Ragam Indonesia, pada acara tersebut KINE menyuguhkan hasil produksi film mereka dengan menampilkan tempat-tempat khas di Solo. Film-film berjudul Stranger, Kalana, Kamar I-7, Kalapuna, Cinta on Delivery, dan Epilog mengambil latar tempat di daerah Ngarsopuro, Pasar Triwindu, Pasar Gede, Stasiun Balapan, serta sejumlah kafe yang ada di Solo. 

“Melalui acara ini, kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih mengapresiasi film-film karya anak Indonesia dan mengurangi pembajakan,” ungkap Indriani Mega Kresna selaku Ketua Pelaksa Hangout Bareng Kine. Mahasiswi Ilmu Komunikasi 2016 ini juga berharap tidak ada lagi paradikma bahwa anak bangsa tidak bisa memproduksi film yang bermutu.

Halim Rois Al Asy’ari, Ketua KINE KLUB FISIP UNS juga menyampaikan harapannya atas diselenggarakannya acara ini, “Kami ingin mengenalkan film pendek pada masyarakat luas supaya masyarakat tahu kalau film itu bukan hanya yang berdurasi panjang dan ditayangkan di bioskop,” imbuh mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi 2014 ini saat ditemui reporter VISI pada sela-sela acara pemutaran film.

Dewi, salah satu penonton, mengakui bahwa dirinya cukup menikmati acara ini, “Acaranya asyik dan film-film yang ditampilkan bagus. Sayangnya, tidak tepat waktu,” Pungkas mahasiswi Manajemen Administrasi 2016 tersebut. (Metta, Mira)

Saturday, April 1, 2017

Simfoni Kehidupan

Simfoni Kehidupan

Ilustrasi.VISI/Hernowo
Oleh: Hernowo Prasojo

Hari Selasa pukul tujuh di hari Minggu. Suasana hari ini sangatlah damai, mengingatkan diriku tentang masa-masa indah di remaja dahulu. Sudah beberapa hari ia berada dalam naunganku. Seorang anak laki-laki berumur 12 tahun yang selalu ingin tahu tentang dunia dan yang ada di sekitarnya. Setiap hari ia berlari ke sana ke mari mencari sepenggal kisah dari tiap sudut ruang tamuku. Mataku tak pernah jemu melihat setiap tingkah konyolnya. Kadang ia bermain anggar dengan sapu, kadang ia melaju melawan sofa, kadang ia menari dengan meja serta kursi. Setiap diriku pulang, tak pernah jemu mataku melihat tingkahnya. Tak terkecuali Minggu pagi ini.

Sambil menikmati secangkir teh dan duduk meresapi keindahan pagi. Kupandangi ia yang sedang terlarut dalam pesta teh bersama beberapa pasang sepatu. Dia terlihat asik bercakap-cakap dengan setiap pasang sepatu. Sesekali terlihat raut muka sedih, namun tak jarang muka bahagia terpancar dari wajahnya. Entah mengapa, aku mulai mendekatinya.   

“Sedang apa kamu?” Ujarku dengan seulas senyuman kecil

“Hsssttt….. jangan berisik. Dodot bau tidur,” katanya sembari menunjuk sebuah sepatu yang tergeletak dilantai.

Mendengar jawabannya, aku pun kembali ke sofaku dan untuk menikmati secangkir tehku. 

Waktu berlalu bagaikan kilat. Berlalu cepat dan tak meninggalkan apapun, kecuali hanya sedikit. Anak laki-laki tersebut kini berusia 20 tahun. Ia telah cukup dewasa untuk mengetahui dunia di sekitarnya. Ia tak lagi menari dengan sapu, maupun minum teh dengan sepatu. Ia mulai menjadi manusia. Manusia seutuhnya yang ingin mengetahui lebih jauh tentang dunia. Dunia yang ada di sekitar ruanganku kini terasa kecil baginya.

Ia pun meminta izin padaku untuk pergi. Aku tau bahwa hal ini pasti terjadi suatu saat nanti. Cepat atau lambat dia akan pergi meninggalkanku sendiri. Ingin diriku menahannya. Namun aku tahu, bahwa hal itu hanyalah keegoisanku yang justru akan menyusahkannya. Aku pun memberinya sepenggal nasihat tentang kehidupan. Ia menerimanya dengan mata tertunduk dan air mata yang menetes.

Ingin rasanya diriku menangis terisak di hadapannya. Namun aku menyadari, bahwa aku tak pernah punya hak untuk melakukannya. Akhirnya ia pun pergi. Ia pergi meninggalkanku sendiri bersama ruangan hampa yang kini tak lagi terasa seperti dahulu kala.

Setahun... dua tahun… sepuluh tahun berlalu sejak ia meninggalkanku di ruangan ini. Rasa rindu tak henti-hentinya menyerang diriku. Ya… rasa rindu akan kepulangannya. 

Bagaikan kejaiban, tepat pada hari Minggu, dua belas tahun sejak kepergiannya, ia kembali. Ia kembali dengan raut muka yang berbeda. Muka teduhnya kini berubah menjadi garang. Rambutnya kini acak-acakan berwarna perak terang. Bajunya yang dulu syahdu, kini berwarna hitam legam menyeringai ganas. Sejenak diriku ragu untuk memeluknya, namun pada akhirnya diriku menyadari bahwa aku tetap menyayanginya. Kupeluk ia dengan erat. Walaupun hatiku ragu, tapi inilah dunia yang ia pilih dan aku hanya bisa menerimanya.

“Bagamimana kabarmu selama ini?” tanyaku dengan senyuman kecil

Namun ia hanya diam. Setiap diriku bertanya tentang apapun, yang ia berikan hanyalah kesunyian dan tatapan kosong. Selama hidupku, tak pernah aku merasakan kehancuran sebesar ini. Aku pun bertanya kembali,

“Apakah ada sesuatu yang bisa kubantu?” Ia pun mulai memandangku dengan tatapan nanar, dan berkata dengan lirih

“I….ya,” jawabnya dengan penuh keraguan

Aku pun mulai menyadari betapa rapuhnya ia, seolah-olah ia akan hancur jika aku mengatakan sesuatu yang salah.

“Apakah yang bisa kubantu?” aku melanjutkan dengan senyum kecil yang kuharap memberinya kekuatan.

“Apakah diriku bisa meminta hatimu?” ujarnya, masih dengan keragu-raguan yang sama.
  
Sejenak aku mulai berfikir. Inilah yang mengganggu harinya, menghapus tawanya, dan membelenggunya dalam kegelapan.

“Tentu saja,” jawabku dengan percaya diri dan tanpa keragu-raguan.

Ia pun mulai menangis, menangis tersendu-sendu dan berteriak histeris. Di dalam hatiku, aku menyadari bahwa ia berharap aku berkata tidak. Namun, dia tak pernah tau bahwa aku menyayanginya lebih dari diriku sendiri.

Aku pun memberikan hatiku, dan ia pun menerimanya masih dengan keraguan. Kupegang erat tangannya sambil memberi isyarat, bahwa aku baik-baik saja. Ia pun kembali pergi meninggalkanku.

Setahun…Dua Tahun...Sepuluh Tahun...ia tak kunjung kembali. Rasa rindu dalam diriku semakin dalam. Dan kali ini pun Tuhan kembali mendengarkan doaku. Lima belas tahun sejak kepergiannya yang terakhir, ia kembali padaku. Kali ini ia datang dengan keteguhan hati yang terpancar jelas. Aku pun merasa amat bahagia, melihat ia yang dulu telah kembali. Empat hari kulalui penuh kebahagiaan bersamanya. Penuh canda serta gelak tawa. Tepat pada hari kelima sejak kepulangannya, ia tiba-tiba menatapku dengan tatapan tajam. 

“Bolehkah aku meminta kedua kaki dan tanganmu?” tanyanya.

Sejenak aku berfikir. Aku tak pernah sedikitpun keberatan memberikan kedua kaki dan tanganku padanya. Namun, melihat raut mukanya, aku menyadari bahwa ia tidaklah jujur. Dan aku menyadari bahwa pilihan salahku akan menghancurkannya sekali lagi. Walaupun merasa berat, aku menyadari bahwa hanya inilah yang dapat kulakukan untuk membantunya.

Aku pun memintanya duduk di Sofa. Setelah ia duduk, aku meminta izin untuk pergi ke dapur. Saat tiba di dapur, tanpa keraguan kuambil sebilah pisau. Kulihat di ruang tamu, ia masih asyik memandang halaman dengan tatapan damai. 

Kemudian aku mulai mendekatinya dari belakang dan kugorok lehernya. Darah segar mengalir dari lehernya dan meresap merah ke dalam sofaku. Bersama dengan tubuhnya yang tergeletak di sofa, kulihat wajahnya untuk terakhir kali. Kulihat senyum bahagia merekah dari wajahnya yang kini tak bernyawa.

Setelah kupastikan ia tak bernyawa, aku mulai menaiki tangga menuju atap rumahku. Aku meloncat dari atap ke bagian luar. Tubuhku terjun bebas menuju jalanan. Dalam setiap detik menuju kematianku, wajahnya tak pernah hilang dari pikiranku. Seperti sebuah potret kecil, aku ingat kembali kelucuan dan tingkah konyolnya di ruanganku dulu, wajah bahagia, serta keceriannya. 

“Kini Dodot akan tidur.”

“Dodot terlalu lelah untuk bermain.”

“Namun, Dodot berjanji. Dodot akan menemani minum teh di lain hari.”