Friday, February 16, 2018

Meskipun Gerimis, Perayaan Tahun Baru Imlek di Solo Tetap Ramai

Meskipun Gerimis, Perayaan Tahun Baru Imlek di Solo Tetap Ramai

Potret antusiasme masyarakat saat menyaksikan pertunjukan musik dalam Perayaan Tahun Baru Imlek 2569 di kawasan Pasar Gede Surakarta. (Dok. VISI)

Lpmvisi.com, Solo – Perayaan Tahun Baru Imlek 2569/2018 sebagai penutup rangkaian acara Grebeg Sudiro baru saja terselenggara semalam, pada Kamis (15/02/2018) hingga Jumat (16/02/2018) dini hari. Kembali berlokasi di kawasan Pasar Gede Surakarta, penampilan musik serta pertunjukan barongsai hadir menghibur masyarakat. Meskipun diguyur gerimis, masyarakat tetap berbondong-bondong menuju kawasan Pasar Gede.

Tak hanya difasilitasi pertunjukan musik serta barongsai, masyarakat juga dapat memilih berbagai jenis jajanan seperti bakso goreng, cilok, sosis bakar, kue putu, hingga wedhang ronde yang dijajakan mulai dari area depan Bank Indonesia sampai di depan Pasar Gede. Sejumlah 5000 lampion serta 12 neon box shio pun disajikan untuk semakin mempercantik latar suasana malam pergantian tahun. Tak heran, gerimis yang mengguyur pun tidak menyurutkan minat masyarakat untuk melewati malam pergantian tahun di sana. (Metta)

Sejumlah 5000 lampion menjadi penghias acara Perayaan Tahun Baru Imlek di kota Solo. (Dok. VISI)


Penjual jajanan berjajar menjajakan dagangannya di depan Pasar Gede. (Dok. VISI)
Pertunjukan Barongsai di depan Kelenteng Tien Kok Sie pada hari Kamis(15/02/2018). (Dok. VISI)

Wednesday, February 14, 2018

Solo Imlek Festival, Upaya Menjadikan Solo Destinasi Wisata Imlek

Solo Imlek Festival, Upaya Menjadikan Solo Destinasi Wisata Imlek

Potret padatnya pengunjung yang datang untuk menikmati keindahan lampion di kawasan Pasar Gede pada Senin (12/02/2018) / (Dok. VISI/Syam)

Lpmvisi.com, Solo – Solo Imlek Festival kembali menyapa masyarakat dalam perayaan Imlek di kota Solo. Berlangsung selama satu bulan di bulan Februari, Panitia Imlek Bersama Kota Solo hendak menjadikan rangkaian acara perayaan Imlek sebagai media promosi kota yang dapat menjadikan Solo sebagai salah satu destinasi wisata Imlek di Indonesia.

Tahun ini, Solo Imlek Festival akan diisi oleh serangkaian acara yang dimulai dengan pemasangan lampion di kawasan Pasar Gede, pemasangan Gapura Imlek, Solo Imlek Fair−yang berlangsung mulai tanggal 10-14 Februari 2018−di Benteng Vastenburg, Grebeg Sudiro, Kirab Barongsai, hingga perayaan malam tahun baru Imlek bersama Pemerintah Kota Solo.

Di sela-sela acara Solo Imlek Fair, Sumartono Hadinoto selaku Ketua Panitia Solo Imlek Festival, menyebutkan kepada VISI bahwa rangkaian acara Solo Imlek Festival bertujuan untuk mempromosikan kota Solo sebagai salah satu destinasi wisata Imlek di Indonesia yang wajib dikunjungi.

“Melalui rangkaian acara perayaan Imlek ini, kami ingin menjadikan Solo sebagai tujuan wisata saat Imlek. Dan tahun ini kami berhasil,” tegas Sumartono.

Rangkaian acara Solo Imlek Festival berhasil menarik perhatian masyarakat. Hal tersebut dibuktikan oleh ramainya pengunjung yang memadati setiap rangkaian acara Solo Imlek Festival. Tak hanya menarik perhatian masyarakat Solo saja, rangkaian Solo Imlek Festival pun berhasil menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah di luar kota Solo.

“Acaranya unik banget ya, karena di daerah-daerah yang lain belum tentu ada yang kayak gini. Bahkan, di Semarang pun perayaannya enggak semeriah ini,” ujar Dian, pengunjung asal Semarang, saat ditemui VISI di sela-sela acara Solo Imlek Fair. (Syam)

Baca juga : Merajut Kebhinekaan Melalui Kirab Grebeg Sudiro

Monday, February 12, 2018

Merajut Kebhinekaan Melalui Kirab Grebeg Sudiro

Merajut Kebhinekaan Melalui Kirab Grebeg Sudiro

Potret kemeriahan perhelatan Kirab Grebeg Sudiro di kawasan Pasar Gede pada Minggu (11/02/2018).
(Dok. VISI/Uum)


Lpmvisi.com, Solo – Ribuan masyarakat memadati kawasan Pasar Gede Solo pada Minggu (11/02/2018) untuk menyaksikan perhelatan Kirab Grebeg Sudiro. Sekitar 2000 peserta memulai kirab pukul 14.30 WIB setelah dibuka oleh FX Hadi Rudyatmo selaku Walikota Solo. Di tahun ke-11 ini, karnaval perpaduan Jawa-Tionghoa tersebut mengusung tema “Melestarikan Budaya Bangsa Untuk Merajut Kebhinekaan”.

Peserta kirab menempuh rute yang dimulai dari Klenteng Tien Kok Sie menuju Jalan Jendral Sudirman, Jalan RE Martadinata sampai kembali lagi ke Pasar Gede. Ketua panitia Grebeg Sudiro 2018, Bul Hartomo, mengatakan ada sebanyak 66 kelompok, berkisar 2000 peserta ikut berpartisipasi menampilkan beragam kesenian dan budaya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kirab Grebeg Sudiro ramai diserbu masyarakat dari berbagai kalangan. Tak hanya warga lokal, para turis asing pun tampak turut menyaksikan kemeriahan perayaan keberagaman budaya tersebut.

Salah seorang pengunjung asal Solo, Winda (32), mengaku sangat antusias. “Acaranya meriah, bahkan saya rela berdesakan dan berpanas-panasan menyaksikan atraksi rombongan karnaval,” ujarnya saat ditemui reporter VISI di sela-sela kemeriahan acara.

Kirab Grebeg Sudiro menjadi bagian dari rangkaian acara menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2569. Puncak acara perayaan Imlek direncanakan akan dimeriahkan oleh penyalaan warna-warni lampu sorot di kawasan Klenteng Tien Kok Sie, Pasar Gede, pada 15 Febuari 2018 mendatang. (Uum)

Tuesday, February 6, 2018

Belajar Teori Caci Maki

Belajar Teori Caci Maki

Judul : Karnaval Caci Maki | Penulis : Prima Sulistya W., dkk | Penerbit : EKSPRESI Buku | Cetakan : Pertama, Januari 2012 | Halaman : 278 halaman | ISBN : 978-979-99631-5-4
(Dok. Internet)

Oleh : Eko Hari Setyaji

“Asu, Munyuk, Bajingan, Bajigur, fuck, shit

Mungkin kata-kata semacam itu akrab di telinga kita. Semacam bentuk ungkapan perasaan yang terucap secara spontan maupun terstruktur untuk menanggapi suatu keaadaan yang dialami. Maki-makian atau dalam bahasa Jawa disebut misuh, kerap dilontarkan di sekitar saya, tak terkecuali saya lakukan sendiri dengan sesuai konteks keadaan.
Agaknya kegiatan mencaci maki atau misuh telah mengakar jauh di bumi yang kita huni ini. Dalam cerita pewayangan Jawa, ada tokoh bernama Sisupala yang merupakan sepupu dari Kresna. Sisupala dendam terhadap Kresna karena calon istrinya, Rukmini, dilarikan Kresna untuk diperistri. Demi membalaskan dendamnya, ia pun berguru dan mengabdi pada Jarasanda. Dengan bantuan Jarasanda, Sisupala berhasil merebut tahta Kerajaan Mathura, kerajaan milik ayah Kresna.
Syahdan, amarah Sisupala pun meledak di Upacara Rajasuya yang digelar Yudhistira di Negeri Kuru. Di bawah kepemimpinan Yudhistira, Negeri Kuru berhasil menaklukkan para raja di Bharatawarsha. Para raja yang kalah dalam perang diundang ke upacara Rajasura, tak terkecuali Sisupala. Yudhistira yang berbahagia ingin memberikan hadiah kepada sahabatnya yang dianggap paling berjasa dalam kemenangan perang. Ia meminta saran kepada kakek Bisma dan sepakat menunjuk Kresna sebagai orang yang paling berjasa atas kemenangan perang. Mendengar pengumuman Yudhistira, sontak Sisupala menolak keputusan tersebut dan memaki serta menghina Kresna. Sisupala terhitung lebih dari seratus kali menghina dan memaki Kresna. (hlm 30)
Dari cerita tokoh pewayangan tersebut, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hasratlah yang memancing makian terlontar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, hasrat merupakan keinginan (harapan) yang kuat.

Teori Memaki
Beranjak dari kisah pewayangan Jawa–yang memunculkan hasrat sebagai cikal munculnya makian–ke ilmu pengetahuan, sejarah adanya makian berawal dari munculnya kata-kata. Karena makian bagian dari sebuah kata-kata. Terdapat tiga teori besar yang berkembang. Teori teologis, kata-kata berasal dari Tuhan; Teori naturalis, kodrat dasar manusia ialah berkata-kata dan kata-kata sudah ada dalam diri manusia; serta teori konvensionalis, lahirnya kata-kata karena ada kesepakatan antara orang yang memakainya dalam konteks tertentu. (hlm 19)
Adanya ilmu pengetahuan dan teori akan selalu berkembang menyesuaikan tingkat intelektualitas manusianya. Akan ada banyak yang mendebat suatu teori dengan teori lain. Agaknya dalam mendokumentasikan kumpulan esainya, teman-teman Ekspresi UNY menganut teori konvensionalis itu. Caci maki merupakan bagian dari sebuah konvensi dalam ruang, waktu, dan konteks tertentu. Dimana kata-kata bermakna sangat beragam bergantung situasi yang berbeda.
***
Buku ini cukup komplit dalam membahas makian, terutama dari sudut pandang linguistik dan budaya. Secara pribadi, saya sudah merasakan hampir semua kata makian yang terlontar dan dibahas buku ini. Namun didalam buku ini dijelaskan proses lahirnya sebuah makian. Terdapat tiga bagian dalam buku setebal lebih dari 200 halaman ini; mekanisme makian, fenomena makian, dan persepsi atas makian.
Salah satu opini yang bisa diambil contoh adalah mengenai bahasa Indonesia yang didesain sulit untuk dipakai memaki. Memaki “seperti setan kau itu” tentu tidak lebih menyakitkan dibanding dengan “pukimak kau itu.” (hlm 22) Sama-sama memaki namun bisa menghasilkan kesan yang berbeda. Ini adalah hasil dari politisasi dan ideologisasi pada bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia kadung menjadi simbol resmi dan formal yang bahkan sudah di doktrin sejak kita mengenyam bangku sekolah dasar sehingga kesannya lebih baik dan sopan. Sedangkan dalam bahasa daerah, pendekatannya lebih ke historis dan kultur. Bahasa yang turun temurun dan apa adanya, sehingga bebas dari kesan formal. Dan nyatanya juga bahasa daerah lebih ampuh untuk digunakan daripada bahasa Indonesia. “Asu” lebih menohok daripada “anjing”, “jancuk” lebih menohok daripada “bersetubuh”, dsb…
Ada pula opini menarik mengenai terjadinya diskriminasi gender dalam memaki. Dan diskriminasi ini masih terjadi sampai sekarang. Laki-laki akan dianggap lumrah dan bisa dimaafkan secara moral jika memaki. Namun tidak dengan perempuan. Laki-laki mengucap “anjing” atau “anjir” itu biasa saja, namun perempuan akan dicap buruk jika mengucap kata yang sama (hlm 119). Diskriminasi pun berlanjut dari subyek ke obyek makian. Contoh nya seperti makian yang cenderung memilih istilah-istilah feminin seperti motherfucker” bukan “fatherfucker”. Atau anggapan pelacur yang kerap diartikan pada istilah WTS (wanita tuna susila). Mengapa lelaki tidak ada istilah serupa? Padahal banyak pula pelacur lelaki. Fenomena ini seakan mengamini bahwa makian adalah milik kaum adam dan wanita adalah obyeknya. Jika ini masih terjadi, bukankah ini bukti bahwa wanita masih dijajah laki-laki dalam lingkup bahasa?
Saya pribadi juga mengamini opini maraknya makian luar negeri seperti “fuck”, “shit”, “asshole” yang lambat laun menggeser makian-makian lokal. Impor makian barat ini selain dampak masuknya budaya-budaya luar juga mempunyai fungsi untuk menghaluskan makian agar tidak terlalu frontal (hlm 24). Saya kerap mengucap makian “shit” saat kesal dan kecewa dengan suatu keadaan. Dan itu memang terkesan lebih halus di telinga orang lain.
***

Satu yang mungkin menjadi kekurangan dari buku ini menurut saya adalah minimnya ilustrasi . Saya berpendapat mungkin karena ini merupakan buku kumpulan esai yang membahas makian dengan “agak serius” jadi salah satu alasan tak ada ilustrasi di dalamnya. Dengan mempelajari makian dari berbagai sudut pandang, saya berpikir bahwa makian harus disikapi layaknya pakaian. Kita dapat menggunakannya asal tahu tempat. Kata “jancuk” atau “cuk” bisa dipakai sebagai panggilan sayang atau simbol keakraban antar teman. Namun jika dipakai dalam forum resmi atau pada orang yang lebih tua, tentu bisa berakibat fatal. Maka dari itu, kita perlu bijak dalam memilih makian, baik katanya, tempatnya, waktunya, maupun yang menerimanya.
Tentang Suatu Masa

Tentang Suatu Masa

(Dok. Internet)

Oleh : Yu

Pada kisah yang pernah tertulis
Atau yang sekedar menjadi angan
Nama-nama yang datang, singgah, lalu pergi lagi
Buku ini masih tebal, mungkin
Tak kan habis lembarnya
Sampai bilangan warsanya tidak lagi bertambah

Lihat
Aku sedang mengenang
Membaca kembali sebuah halaman pada suatu masa
Tentang hari ini di tahun tahun yang lalu
Ingat kamu juga ada disana?
Menjadi bagian cerita dari lembar itu
Dibawah bintang-bintang
Kita bersama

Sepertiku, apakah kamu juga sedang mengenang?

Monday, January 22, 2018

Promosikan Koperasi Lewat Kopma Fair

Promosikan Koperasi Lewat Kopma Fair

Penampilan dance cover sebagai hiburan pengunjung Kopma Fair di Hartono Mall. (Dok. VISI/Fio)

Lpmvisi, Sukoharjo –  Koperasi Mahasiswa (Kopma) UNS baru saja menyelenggarakan acara Kopma Fair pada Kamis (18/1/2018) hingga Minggu (21/1/2018). Bertempat di Hartono Mall, Kopma UNS menggelar Kopma Fair sebagai ajang mempromosikan koperasi−khususnya Kopma UNS−pada masyarakat luas.   

Bukan tanpa alasan, panitia memilih pusat perbelanjaan sebagai lokasi Kopma Fair untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa koperasi mampu mengikuti perkembangan zaman. Dengan merambah ke era modern maka koperasi diharapkan dapat lebih dikenal dan diterima masyarakat.

Selama empat hari, Kopma Fair menggelar berbagai macam acara yaitu seminar dan talkshow tentang literasi, kesehatan, digital preneur dan sosio preneur, lomba stand up comedy, lomba makan, lomba mewarnai anak-anak, serta pelatihan make up. Tak hanya itu, Kopma Fair juga memfasilitasi berbagai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di masyarakat untuk mempromosikan usahanya melalui stan-stan yang disediakan.

"Kita mengundang tenant supaya kita bisa bekerja sama dengan usaha yang ada di luar dan tidak hanya dikenal menjual produk dari mahasiswa,” jelas Avista selaku panitia. Avista menambahkan, dance cover, fun games, dan berbagai hiburan lainnya tak ketinggalan untuk disajikan pada pengunjung.

Shinta, salah satu pengunjung, mengakui  ketertarikannya pada acara Kopma Fair namun ia menyayangkan dekorasi yang kurang menarik. "Seru sih, cuma dekorasi kurang menarik, jadi terkesan sepi,” ujarnya. Shinta pun berharap, Kopma  Fair dapat terus dikembangkan menjadi acara yang lebih menarik.

Menanggapi penyelenggaraan Kopma Fair 2018, Muhammad Aditya selaku ketua panitia berharap penerus Kopma UNS dapat lebih kreatif, inovatif dan memiliki gebrakan-gebrakan yang mampu membuat Kopma UNS lebih dikenal dan lebih memasyarakat.


Lebih lanjut, Muhammad Aditya mengatakan, "untuk acara tahun depan, saya harap acaranya bisa lebih menarik lagi, mungkin bisa juga mengundang guest star  agar banyak masyarakat yang tertarik datang di acara ini," pungkasnya. (Fio)
Keroncong Bale dan Upaya Pelestarian Langgam Klasik

Keroncong Bale dan Upaya Pelestarian Langgam Klasik

Salah satu penampilan pada acara Keroncong Bale di Balai Soedjatmoko (Dok. VISI/Atta)

Lpmvisi.com, Solo − Bentara Budaya Surakarta kembali menggelar pementasan orkes keroncong bertajuk “Keroncong Bale” pada hari Jumat (19/01/2018), pukul 20.00 WIB. Berlokasi di selasar Balai Soedjatmoko, Keroncong Bale menjadi wadah para musisi keroncong lokal untuk menunjukkan eksistensinya. Dengan menggandeng Swadeshi Mandiri−orkes keroncong asal Sukoharjo−serta beberapa musisi keroncong lainnya, Keroncong Bale menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung Gramedia.

Swadeshi Mandiri mengaku telah lima kali menjadi pengisi gelaran Keroncong Bale. Tak hanya tampil di pagelaran rutin tersebut, Swadeshi Mandiri pun tampil di Joglo Sriwedari, Metta FM, dan RRI. “Bagi kami, bukan sekedar pentas, disini kami menciptakan persaudaraan antar seniman,” tutur Sri Wahono, selaku pemilik Orkes Keroncong Swadeshi Mandiri kepada VISI seusai acara.
Tak hanya menampilkan Langgam Jawa Klasik, Keroncong Bale juga menyuguhkan lagu-lagu Keroncong Dangdut serta Keroncong Pop.

Adi, Kepala Bagian Organisasi Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) menyebutkan bahwa dukungan pemerintah sangat penting bagi penyelenggaraan dan pelestarian musik keroncong yang menjadi ikon Kota Solo. “Untuk upaya pemerintah sendiri meliputi pendanaan dalam rangka pengadaan alat dan setiap kelurahan pasti dibantu kok. Untuk (kota− red) Solo sudah bagus,” ungkap Adi.

Tak jauh berbeda dengan Adi, Sri Wahono menuturkan bahwa dukungan pemerintah dalam membantu budayawan sangat penting untuk mengadakan kegiatan yang dapat menarik minat generasi muda untuk turut andil dalam pelestarian budaya lokal. “Bukan untuk mencari prestasi. Kalau (generasi−red) kami sudah terlewat, mestinya generasi muda ini yang perlu kami rangkul, kami support” lanjutnya.


Meskipun Keroncong Bale sudah ada sejak tahun 2014, masih terdapat penonton yang mengaku baru mengetahui adanya acara tersebut. Damar, salah satu penonton, mengaku baru mengetahui Keroncong Bale sekitar dua tahun terakhir. “Baru tahu sekitar dua tahunan. Dulu tahunya karena beli buku terus cari-cari informasi,” ungkapnya. Penikmat musik keroncong tersebut berharap musik keroncong semakin banyak diminati oleh kalangan anak muda. (Atta, Anggi, Naya)

Sunday, January 14, 2018

Sendiri dalam Rindu

Sendiri dalam Rindu

(Dok. Internet)

Oleh : Dian Anggita Pratiwi


Mengapa malam ini terasa berbeda
Tiada rupa yang menemani di dalam sepi
Dia yang selalu aku rindukan
Walaupun aku tak tau apakah dia juga merindukanku
Rindu yang semakin tak tertahankan
Rindu yang terperangkap dalam batin
Rindu yang tak pernah bisa terungkapkan
Hanya dapat membayangkan rupa yang tak bisa dimiliki
Hanya dapat berharap sebuah senyuman indah untukku
Hingga aku berharap waktu yang akan mengikis rasa ini
Kucoba hilangkan dia bersama angan-angan
Namun mata yang terpejam ini masih saja melihat wajah rupawannya
Namun telinga yang kusumpal ini masih saja mendengar suara lembutnya
Entah mengapa dalam hampa aku semakin merindukannya
Dia telah masuk kedalam jiwaku
Mengalir disela bulir darahku
Keluar masuk dinding jantung ini
Menyapa setiap sel tubuhku
Menjelma denyut nadiku
Dia memikat dalam pekat
Menggoda akal sehat
Memikat dengan hangat

Hingga aku sekarat dalam peluh rindu yang menjerat

Tuesday, January 9, 2018

Gelar Gartdo², Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Pamerkan Karyanya

Gelar Gartdo², Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Pamerkan Karyanya

Suasana Pameran Nirmana dan Gambar Bentuk bertajuk Gartdo² pada Selasa (9/1/2018) di Gedung E FKIP UNS.
(Dok. VISI/Ade Uli)
Dalam rangka memenuhi tugas akhir dua mata kuliah−Gambar Bentuk dan Nirmana−mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa angkatan 2017, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menggelar Pameran Nirmana dan Gambar Bentuk bertajuk Gartdo². Pameran akan berlangsung selama tiga hari, yaitu mulai hari Senin (8/1/2018) hingga Rabu (10/1/2018). Bertempat di Gedung E FKIP UNS, para mahasiswa berhasil menyajikan sekitar 160-an karya lukis buatan mereka.

Pemecahan kendi, sambutan ketua panitia, kepala program studi, dan para dosen pengampu, serta penampilan seni menjadi rangkaian acara pembukaan pameran. Untuk hari ini hingga besok, para mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa 2017 akan memamerkan karya asli mereka dalam gelaran Gartdo². Setiap mahasiswa memamerkan satu karya terbaiknya, dari masing-masing mata kuliah, yang telah melewati proses seleksi selama satu semester.

Potret beberpa lukisan karya mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa 2017 dalam Pameran Nirmana dan Gambar Bentuk bertajuk Gartdo².  (Dok. VISI/Ade Uli)
Gartdo² cukup menyita perhatian di kalangan mahasiswa. Terhitung sejak Senin (8/1/2018) hingga Selasa (9/1/2018) pukul 12:30 WIB, sekitar 190-an mahasiswa telah tercatat dalam buku tamu.

Peminatnya lumayan sih, terutama bagi mahasiswa penghuni Gedung E FKIP sendiri. Bahkan, ada yang dari UNNES kemarin 2 orang, sama UNY juga, tutur Wening Ryani selaku sie acara. Wening menyelipkan harapan agar peminat pameran bukan datang dari lingkungan mahasiswa FKIP saja melainkan seluruh mahasiswa UNS maupun universitas lainnya.


Alfi, salah satu pengunjung pameran, mengaku senang dengan adanya Gartdo². Konsepnya menarik, yang dipemerin juga nggak bosenin jadi aku suka,” ungkap mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia 2015 tersebut. Alfi pun berharap pameran-pameran seperti Gartdo² dapat selalu diselenggarakan. (Ade Uli)

Monday, January 8, 2018

Drama Politik Cinta Dasamuka, Penutup Pagelaran yang Memukau

Drama Politik Cinta Dasamuka, Penutup Pagelaran yang Memukau

Penampilan Teater Dimar dalam Pagelaran Drama Angkatan 2015 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah.
(Dok. VISI/Banyu)
Lpmvisi.con, Solo − Dalam rangka memenuhi tugas akhir mata kuliah Pengkajian Drama, para mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia 2015, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan “Pagelaran Drama Angkatan 2015” bertajuk “Pagelaran Panca Hasta”. Berlokasi di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), selama lima hari berturut-turut−Rabu (3/1/2018) hingga Minggu (7/1/2018)−pagelaran menampilkan lima pertunjukan teater. Naskah berjudul “Maaf maaf maaf, Politik Cinta Dasamuka” karya N. Riantiarno−dibawakan oleh Teater Dimar−sukses menjadi penutup pagelaran yang memukau.

Pembacaan puisi yang kemudian berlanjut dengan lantunan musik keroncong, mengantar penonton untuk menyaksikan pertunjukan. Mengangkat kisah tentang sebuah keluarga yang bersandiwara dengan menjadikan diri mereka sebagai tokoh pewayangan−demi menuruti Sang Kepala Keluarga yang menganggap dirinya sebagai Dasamuka−pementasan berhasil menyita perhatian penonton. Pementasan pun sukses mengundang gelak tawa penonton saat menyaksikan tingkah lucu para lakon.

Fauziah, salah seorang penonton, mengakui keelokan penampilan Teater Dimar. “Bagus sih ceritanya, alurnya runtut, seru, dan akhirnya nggak ketebak.” Ujar Fauziah. Namun, Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya UMS tersebut menyayangkan pagelaran tersebut tidak dimulai tepat waktu. “Tapi, overall, bagus kok,” sambungnya.

Tak berisi lucu-lucuan saja, kritik sosial, citra pemerintahan yang carut-marut, serta kesenjangan dalam masyarakat yang menuntut penyetaraan pun turut mewarnai panggung. Dasamuka, dengan kepemimpinan otoriternya, mendapat sorotan tersendiri dalam pertunjukan.

Rianti Wahyu Ningrum selaku sekretaris acara menyebutkan bahwa Pagelaran Drama Angkatan 2015 merupakan ajang berekspresi bagi para mahasiswa. “Selain untuk memenuhi tugas akhir, dari pagelaran ini, kita juga dapat mengapresiasi karya seni, terutama drama,” sambung Rianti.
Antusiasme pengunjung yang mayoritas datang dari kalangan mahasiswa menunjukkan bahwa minat pemuda terhadap dunia seni terbilang masih cukup tinggi.

Rianti pun berharap, pertunjukan teater dapat membuat anak muda lebih mencintai karya seni−terutama seni peran−dan dapat mengapresiasinya. “Karena dalam drama seperti ini, ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dan diterapkan dalam kehidupan,” Pungkasnya. (Atta,Banyu)