Monday, August 13, 2018

Berburu Fashion di Hello Solo Radio Garage Sale

Berburu Fashion di Hello Solo Radio Garage Sale

Suasana malam di Hello Solo Radio Garage Sale yang berlangsung di area Kantor Solo Radio pada Sabtu (11/08/2018). (Dok. VISI/Laila)

Lpmvisi.com, Solo -
Hello Market Solo kembali menggelar Garage Sale untuk yang ke-11 kalinya. Bertajuk Happy Weekend, tahun ini, Hello Market Solo berkolaborasi dengan Solo Radio. Berlokasi di area Kantor Solo Radio, Manahan,Hello Solo Radio Garage Sale−yang diadakan dalam rangka menyambut HUT RI ke-73−berlangsung sejak Jumat (10/08/2018) hingga Minggu (12/08/2018).

Potret kegiatan Sharing Session Komunitas dalam acara Hello Solo Radio Garage Sale. (Dok. VISI/Laila)

Selama tiga hari, Hello Solo Radio Garage Sale diwarnai dengan berbagai konten acara. Mulai dari bazar preloved, talkshow, sharing session bersama komunitas, penampilan akustik, acara amal, dan berbagai lomba. Terdapat 15 stan dari para Fashionista Solo yang ikut berpartisipasi dalam acara ini. Mereka menyediakan barang-barang preloved seperti baju, celana, sepatu, tas, hingga make up dengan kualitas terbaik yang dapat dibeli oleh para pengunjung.

Para pengunjung sedang mendatangi stan di Hello Solo Radio Garage Sale. (Dok. VISI/Laila)

Beberapa barang yang dijual dari salah satu stan di Hello Market Solo. (Dok. VISI/Laila)

Fairuz, salah satu pemilik online shop khusus baju-baju impor bekas yang ikut berpartisipasi dalam acara ini mengaku sangat terbantu dengan adanya Hello Solo Radio Garage Sale. Selain menarik pengunjung yang datang, acara ini juga bisa mengenalkan produk-produk yang ia jual kepada masyarakat luas. Beberapa baju impor yang ia dapat dari luar Jawa dijual dengan harga miring namun tetap dalam kondisi yang masih bagus dan layak pakai.

Berbeda dengan Fairuz, Berlin hanya menjual baju-baju bekas dari seseorang saja yang memang berniat menjual baju-baju bekasnya. Ia juga merasa sangaat terbantu dengan banyaknya pengunjung yang datang ke acara Hello Solo Radio Garage Sale. “Barang yang kami jual jadi banyak dilihat. Kalau nyewa tempat sendiri belum tentu sebanyak ini orangnya,” sambung Berlin.
                                                                                
Abigail, salah satu Karyawan Solo Radio yang turut mengurus Hello Solo Radio Garage Sale menjelaskan, bazar preloved diadakan untuk memberi wadah bagi pelaku-pelaku usaha, khususnya di bidang fashion, agar dapat mengenalkan produk-produknya. Selain itu, pengadaan bazar preloved ini juga bertujuan untuk memberitahu masyarakat bahwa tidak semua barang bekas murahan. Banyak barang bekas yang berkualitas dan masih bermanfaat.

“Mungkin orang gengsi ya beli barang-barang preloved? Padahal, kalo keadaanya masih bagus, why not?Ujar Abigail kepada VISI.

Yang menarik di acara ini adalah peniadaan kantong plastik dari para penjual. Hal ini sebagai bentuk dukungan terhadap aksi gerakan environmental sustainability dan eco lifestyle, salah satu gerakan cinta lingkungan yang ditujukan kepada masyarakat.

“Sebisa mungkin kami tidak menyediakan plastik. Kan ini mengurangi sampah dan bentuk dukungan untuk recycle sampah juga,” lanjutnya.

Dukungan untuk acara ini juga datang dari para pengunjung. Devi, salah satu mahasiswa UMS, yang mengaku sering datang ke acara bazar preloved, menjelaskan keinginannya untuk berburu barang-barang bekas di sini.

Barang bermerk pasti kualitasnya lebih bagus. Misal tas di konter yang biasanya harga 800.000 sampai sejuta, disini cuma dapat 100.000 sampai 500.000. Meski model lama kan kualitasnya masih bagus,” pungkasnya. (Laila)

Friday, August 10, 2018

Mendengar Alunan Gamelan di Kampung Halaman

Mendengar Alunan Gamelan di Kampung Halaman

Potret kemeriahan International Gamelan Festival  yang berlangsung di Benteng Vastenburg Solo pada Kamis (09/08/2018). (Dok. VISI/Metta) 
Lpmvisi.com, Solo Gamelan Homecoming alias pulang kampungnya gamelan, merupakan istilah yang digemakan dalam perhelatan akbar kesenian tradisional bertajuk International Gamelan Festival (IGF) Solo 2018 pada Kamis (09/08/2018). IGF Solo 2018 sengaja mengajak pengunjung untuk larut dan hanyut dalam nostalgia pada masa jaya gamelan yang sempat hilang gaungnya. Dilansir dari laman igfsolo.com, meskipun gamelan dapat kita temukan di hampir seluruh penjuru Nusantara, bahkan telah muncul kelompok-kelompok gamelan di berbagai Negara Eropa, Amerika, Asia, dan Australia, fakta bahwa gamelan hidup, berkembang, dan menemukan ekspresi terbaiknya di Nusantara telah cukup menjadi landasan klaim bahwa Indonesia adalah rumah bagi gamelan dan Solo serta Yogyakarta menjadi rumah terbaiknya.

Sekitar pukul 19.00 WIB, parkiran Benteng Vastenburg Surakarta mulai dipenuhi kendaraan. Jalan menuju pintu masuk benteng pun sudah dipadati antrian penonton yang hendak mengisi buku tamu sebelum memasuki area pertunjukan. Dengan berbusana batik sesuai dengan dress code IGF 2018, para penonton berbaris dengan tertib menunggu gilirannya.

Setelah memasuki pintu masuk berhias tulisan “Sugeng Rawuh”, pengunjung disambut oleh deretan foto-foto Maestro Gamelan seperti Ki Bambang Sukma Pribadi, I Wayan Sadra, Ki Tjakrawarsita, Ki Rahayu Supanggah, dan banyak Maestro Gamelan Lainnya. Foto yang dilengkapi dengan biografi singkat tersebut cukup untuk memperkenalkan para pengunjung dengan beberapa maestro gamelan.

Pengunjung dapat lebih mengenal sosok-sosok Maestro Gamelan melalui International Gamelan Festival yang diselenggarakan di Benteng Vastenburg. (Dok. VISI/Metta)

Seremonial Pembukaan IGF dimulai pada pukul 19.45 WIB dengan sebuah tarian yang diiringi Gending Puspowarno kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Selepasnya, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari Rahayu Supanggah selaku Direktur Festival dan Muhadjir Effendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam sambutannya, Muhadjir Effendy memberikan apresiasi besar terhadap para maestro serta pegiat gamelan yang telah mengabdikan diri untuk terus berkarya dan mengembangkan kesenian gamelan. Muhadjir Effendy juga menyebutkan, “di tengah hiruk pikuk peristiwa yg terjadi di dunia, keselarasan gamelan sebagai sebuah bentuk apresiasi budaya melambangkan makna kerukunan, saling menghargai, dan saling bekerjasama guna menciptakan kehidupan masyarakat yg toleran, harmonis, dan damai.”

Selanjutnya, International Gamelan Festival resmi dibuka dengan penabuhan kendang oleh Muhadjir Effendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Rahayu Supanggah selaku Direktur Festival, F.X. Hadi Rudyatmo selaku Walikota Surakarta, serta Hilman Farid selaku Dirjen Kebudayaan.

Acara pembukaan perhelatan akbar ini juga dilengkapi dengan beragam stan kuliner yang menawarkan aneka makanan khas Kota Solo, seperti soto gerabah, timlo, sate kere, hingga berbagai sajian di angkringan.

Dendi Agung (23) dan Firzan (20), dua orang mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, mengaku sangat menikmati acara IGF. Dendi menyebutkan bahwa acara seperti IGF dapat menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia. “Kota-kota lain harus iri dengan melihat acara seperti ini karena acara ini benar-benar mengangkat harkat seni budaya Indonesia,” imbuhnya kepada VISI.

Senada dengan Dendi, Firzan mendukung acara seperti IGF dapat terus dilanjutkan dan semakin terkenal di kancah internasional. Saat ditanya soal peran pemuda terhadap pelestarian kesenian gamelan, Firzan menyampaikan bahwa anak muda tidak boleh malu untuk melestarikan kesenian tradisional. “Kalau kita tidak tahu tradisi mulanya, apa salahnya mengenal sedikit tentang tradisi? Kita juga bisa mengolaborasikannya dengan alat musik modern,” sambungnya.

Tak hanya dinikmati oleh masyarakat lokal saja, banyak pengunjung yang hadir dari berbagai negara. Hana, salah satu pengunjung asal Polandia juga mengaku menikmati pertunjukan di IGF Solo 2018. “Acaranya sangat menarik, terarah, dan benar-benar bagus. Saya sangat senang,” ungkapnya.

Hana pun menyampaikan harapannya supaya IGF dapat terus berlanjut. "Saya berharap acara ini dapat terus berlanjut karena menarik bagi turis untuk mengenal kebudayaan,” pungkasnya.

Rangkaian acara IGF Solo 2018yang diwarnai dengan beragam program untuk menelusuri semesta gamelanakan berlangsung hingga Kamis (16/08/2018).  (Atta, Metta)

Thursday, May 24, 2018

Ngabuburit di Boulevard UNS, Banyak Rasa, Banyak Pilihan

Ngabuburit di Boulevard UNS, Banyak Rasa, Banyak Pilihan


Oleh : Laila Mei Harini

Aneka ragam sajian buka puasa dijajakan di sekitar Boulevard Universitas Sebelas Maret.

Lpmvisi.com, Solo − Boulevard Universitas Sebelas Maret (UNS) tentunya sudah tak asing lagi bagi para mahasiswa UNS maupun masyarakat di Kota Solo. Namun, ada yang berbeda di Boulevard UNS selama bulan Ramadan. Mahasiswa dan masyarakat sekitar bisa ngabuburit sembari berburu takjil di sana. Aneka ragam sajian untuk berbuka puasa tersaji di sepanjang trotoar boulevard UNS. Anak rantau pun tak perlu khawatir lagi bila tidak ada yang menyiapkan menu berbuka puasa. 
Salah satu makanan yang tersaji di Boulevard UNS.

Bakso bakar juga dapat dipilih sebagai santapan berbuka puasa.

Tak hanya makanan, aneka sajian minuman juga tersedia.

Es buah masih menjadi minuman favorite di bulan Ramadan. Aneka jenis buah dapat kita santap dalam satu gelas minuman.

Es sari buah juga dapat dipilih oleh para pengunjung Boulevard UNS.
Es Kepal Milo yang sedang hits di kalangan masyarakat pun tersaji di deretan penjaja takjil.

Para mahasiswi tampak sedang berburu makanan berbuka puasa.

Potret para pengunjung yang tengah ngabuburit di Boulevard  UNS pada Rabu (23/05/2018)

Anak-anak kecil pun turut menikmati sajian di Boulevard UNS.

Ngabuburit di Boulevard UNS juga menjadi ajang wirausaha para mahasiswa.

Paradigma Gerakan Reformasi Dulu dan Masa Kini

Paradigma Gerakan Reformasi Dulu dan Masa Kini


Lpmvisi.com, Solo - Gerakan Mahasiswa pada Mei 1998 menjadi puncak dari pergolakan sosial politik pada saat itu. Tahun 1997 Soeharto kembali terpilih menjadi presiden dan memimpin Indonesia selama 32 tahun. Sementara banyak hal yang menjadi dampak dari kebijakan masa orde baru, yang tidak juga terselesaikan. Keterpurukan ekonomi Indonesia di tahun 1997, seiring dengan terpuruknya perekonomian dunia, mengakibatkan kenaikan harga besar-besaran. Sementara itu, masyarakat kesulitan mendapat uang. Namun kemudian tidak ada kebijakan pemerintah yang mengindikasikan dukungan kepada masyarakat agar memiliki ketahanan ekonomi. Ini menjadi salah satu pemantik pecahnya gerakan Reformasi tahun 1998.

20 tahun berlalu, rupanya reformasi tidak berhenti begitu saja. Lima puluhan mahasiswa berkumpul di Teater Arena Taman Cerdas Jebres pada Minggu sore (20/05/2018). Mereka berkumpul untuk mengenang reformasi dan menggelar diskusi bertajuk “Apa Kabar Reformasi?” bersama Sugeng Riyanto, seorang aktivis mahasiswa pada masa reformasi. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) bersama Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS).

 


Mengingat reformasi dalam diskusi "Apa Kabar, Reformasi?" yang berlangsung di Teater Arena Taman Cerdas Surakarta (Dok. VISI/Yuni)


Sugeng Riyanto menceritakan bagaimana situasi politik, sosial, dan ekonomi pada masa sebelum pecahnya reformasi. Anggota DPRD Kota Surakarta tersebut juga bercerita mengenai dominasi partai penguasa pemerintahan yang begitu luar biasa dan minimnya ruang publik untuk menyampaikan aspirasi. Sugeng kembali mengenang ketika tahun 1997, ia bersama kawan-kawannya sesama mahasiswa yang tergabung dalam aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hendak mengadakan sebuah diskusi dengan menghadirkan Slamet Suryanto yang pada saat itu menjabat Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Diskusi tersebut diselenggarakan untuk membahas seperti apa sudut pandang PDI mencermati dinamika sosial politik Indonesia secara makro.

“Diskusi yang belum berlangsung, dibubarkan oleh intel dari aparat. Padahal itu merupakan diskusi resmi dan terbuka untuk umum, tidak secara sembunyi-sembunyi,” tuturnya.
Selain mengenang reformasi tahun 1998, diskusi sore itu juga menyoroti pergerakan mahasiswa pada masa ini bersama Adin Hanifa, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi FISIP UNS. Presiden BEM FISIP 2016 tersebut menegaskan tentang pentingnya pergerakan mahasiswa untuk memiliki keresahan bersama, konsisten dengan apa yang diperjuangkan, dan adanya regenerasi pergerakan. Regenerasi, bukan hanya perihal adanya adik tingkat yang meneruskan, melainkan adanya spirit pergerakan yang harus ditegakkan meskipun sudah tidak menjadi mahasiswa lagi. Adin juga mengungkapkan keprihatinannya pada gerakan mahasiswa saat ini yang menyekatkan diri dengan batas batas ideologi tertentu.

Muhammad Shidiq, Mahasiswa Prodi Sosiologi FISIP UNS, yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri BEM FISIP UNS menjelaskan, momentum reformasi bukan satu-satunya alasan diskusi ini dilakukan. Menurutnya, yang menjadi hal penting dalam agenda ini adalah analisis mengenai pergerakan mahasiswa pada masa ini. 
“Harapannya agar peserta yang hadir juga ikut terpantik, mengetahui seperti apa sih analisa gerakan mahasiswa dulu dan saat ini.” Uangkapnya
.
Selain diskusi, acara tersebut juga menampilkan live mural oleh mahasiswa FSRD. Ditemui usai acara, Amanda selaku Wakil Ketua KMSR mengungkapkan agenda ini sekaligus menjadi kesempatan besar bagi KMSR untuk menjalin hubungan baik dengan fakultas lain. Ia juga menambahkan, melalui seni dapat menjadi salah satu cara untuk  menyalurkan aspirasi.

Amanda juga mengaku senang dengan adanya diskusi “Apa Kabar, Reformasi?”. “Aspirasi dari mahasiswa manapun dapat secara langsung tersalurkan. Dan aspirasi tidak hanya dari omongan, kita mahasiswa seni menyalurakan aspirasi dengan gambar,” sambungnya.

Dari bangku peserta, Fera Wati−mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)− yang menyempatkan hadir mengaku dirinya tertarik mengikuti agenda tersebut karena menurutnya diskusi tersebut masih jarang dijumpai. Ia juga menyebutkan, dua puluh tahun peringatan Reformasi bukan momentum yang dapat dijumpai berkali-kali.

“Harapannya acara semacam ini akan semakin menjamur, tidak hanya sekali. Follow-up-nya juga, setelah acara ini ada apa lagi. Biar mahasiswa juga semakin tertarik,” pungkasnya. (Yuni)