Thursday, June 15, 2017

Tradisi Bubur Samin Gratis di Masjid Darussalam Masih Berlangsung

Tradisi Bubur Samin Gratis di Masjid Darussalam Masih Berlangsung

Antusiasme masyarakat pada acara pembagian bubur samin di Masjid Darussalam, Jeyengan, Solo.
lpmvisi.com, Solo - Ada tradisi unik yang menjadi agenda rutin tiap bulan Ramadan di Masjid Darussalam, Solo. Setiap hari, menjelang waktu berbuka masjid yang terletak di Jalan Gatot Subroto No.161, Jeyengan, Serengan tersebut membagikan bubur samin secara gratis kepada warga sekitar dan masyarakat umum. Tradisi tersebut telah rutin dilakukan sejak 20 tahun lalu.

Para panitia pembagian bubur rata-rata membagikan bubur sebanyak 175 sampai 200 porsi kepada warga setempat setiap harinya. Sementara itu, 300 porsi bubur lainya dibagikan kepada masyarakat umum.

“Kan ini disukai sama semua orang, dari anak kecil sampai orang tua,” jelas Syaroh selaku panitia pembagian bubur ketika diwawancarai VISI pada Jumat (9/6/2017) kemarin.

Bahan dasar yang digunakan untuk membuat bubur samin di Masjid Darussalam. (Dok.VISI/Laila)
Syaroh menambahkan bahwa setiap harinya panitia bisa menghabiskan hingga 48 kilogram beras, ditambah cincangan daging sapi, aneka sayuran, bawang Bombay, dan rempah-rempah untuk bumbu penyedapnya. Bahan-bahan ini dimasak oleh lima orang juru masak. Proses memasak sendiri biasanya dilakukan selepas salat dzuhur. Karena mengaduk nasi menjadi bubur merupakan pekerjaan yang melelahkan, para juru masak saling bergantian dalam proses mengaduk. Setelah diaduk selama dua jam, bubur-bubur tersebut kemudian siap dibagikan kepada para warga yang sudah mengantre.

Proses memasak bubur samin di Masjid Darussalam, Jeyengan, Solo. (Dok.VISI/Laila)
Tak lama salat ashar berjamaah di masjid usai, panitia memberi aba-aba. Satu persatu warga langsung mengantre berbaris sambil membawa wadah masing-masing. Proses pembagian dilakukan berulang-ulang hingga seluruh warga yang antre mendapat jatah.

“Gratis kan, juga enak buburnya untuk buka puasa,” ujar Restu (27), salah seorang warga yang ikut mengantri untuk mendapatkan bubur pada Jumat (9/6/2017).

Sumber permodalan untuk pembuatan bubur Samin berasal dari para donatur yang membantu masjid. Selain gratis, rasa enak dan gurih menjadi alasan utama bagi warga untuk ikut mengantri bubur. Di luar bulan Ramadhan, Masjid Darussalam juga mengadakan pembagian bubur samin setiap perayaan Assyuro dan malam Nisfu Syaban. (Laila)

Saturday, June 3, 2017

Mengunjungi Semesta Kundera Lewat Tiga Untai Cerpen

Mengunjungi Semesta Kundera Lewat Tiga Untai Cerpen

Judul: Laughable Loves | Penulis: Milan Kundera | Penerbit:Papyrus Publishing | Tahun: 2017 | Tebal: vii + 196 halaman | Bahasa: Indonesia (diterjemahkan dari bahasa Inggris) | Penerjemah: Lutfi Mardiansyah

Oleh: Hedanang A Fauzan

Pada salah satu sesi wawancara dengan jurnalis Plinio Apuleyo Medoza, bapak sastra dunia, Gabriel Garcia Marquez pernah bertukas bahwa seorang penulissehebat apapun ituhanya akan mampu menulis satu novel saja di sepanjang hidupnya. Gabo menyodorkan dirinya sendiri sebagai contoh. Kendati telah menulis banyak novel, ia menuturkan bahwa semua novelnya cenderung bercerita tentang hal yang sama: kesepian. Oleh musabab tersebut, Gabo menganggap semua itu—novel-novel karyanya—tak ubahnya sebagai ‘satu tubuh’ saja.

Senada dengan Gabo, dalam sesi wawancara dengan jurnal The Paris Review, Milan Kundera juga pernah berkata bahwa seluruh novelnya bisa diberi satu judul yang sama: The Unbearable Lightness of Being (cahaya ringan yang tak tertahankan—red). Dan, memang seperti itulah Kundera. Ia seperti cahaya yang tak tertahankan, yang sampai-sampai sinarnya mampu menangkap hasrat paling gelap dalam diri seorang manusia.

Tokoh-tokoh dalam novel Kundera acap kali digambarkan dengan tingkat paradoks yang kelewat kentara. Di satu sisi, si tokoh menampilkan sifat pemujian nan agung. Di sisi lain, pada saat bersamaan tokoh tersebut juga ditampilkan dengan cemoohan yang lebih dari sekedar busuk. Gaya menampilkan tokoh penuh paradoks tersebut kemudian membawa Kundera menciptakan semestanya sendiri. Di dalam semesta itulah tokoh-tokoh Kundera hidup dan saling menghidupi.

Hal yang sama—menurut saya—juga dilakukan Kundera dalam karya-karyanya yang berbentuk cerpen. Pada antologi cerpen Laughable Loves misal, setiap cerpen di dalamnya senantiasa menampilkan tokoh-tokoh yang manis sekaligus busuk. Antologi yang diterjemahkan oleh Lutfi Mardiansyah ini berisi tiga cerpen buah tangan Kundera, yakni: Tak Seorangpun Akan Tertawa, Simposium, dan Biarkan yang Telah Lama Mati Memberi Ruang Kepada yang Baru Mati.

Dalam cerpen Tak Seorangpun Akan Tertawa, Kundera menggunakan sudut pandang orang pertama dan menggambarkan sosok ‘aku’ sebagai orang yang memiliki keteguhan, baik dalam hal karir maupun percintaan. Karena paradoks dalam keteguhan itulah, pada akhirnya si tokoh utama justru menghancurkan dirinya sendiri. Ia menjadi manis karena bersikeras menjauhkan wanita yang dicintainya—Klara—dari berbagai macam bahaya. Sedangkan di saat bersamaan, keteguhan yang membuatnya menolak mereview salah satu artikel karya Tuan Zaturecky menyebabkan Klara terus menerus mendapat ancaman dari keluarga Zaturecky.

Pada cerpen Biarkan yang Telah Lama Mati Memberi Ruang Kepada yang Baru Mati, Kundera juga menyuguhkan tingkat paradoks tokoh yang hampir serupa. Seorang wanita empat puluh tahunan yang kehilangan suaminya karena meninggal dunia dihadapkan pada kondisi yang teramat gelap tatkala ia bertemu kembali dengan lelaki lain yang dulu pernah memikatnya. Dan, pada titik itulah kepribadian dan pengalaman dalam diri si wanita kembali bergelut dan merobek-robek diri sendiri.

Ketiga cerpen dalam antologi Laughable Loves menyajikan semesta khas Kundera, di mana setiap tokohnya saling bergelut dengan kompleksitas kepribadian masing-masing. Kemudian, di tengah pergelutan tersebut Kundera menciptakan sebuah wadah hitam yang menampung hasrat-hasrat gelap setiap tokohnya. Di dalam wadah hitam ini juga terjadi—tidak hanya interaksi antar tokoh—tetapi juga interaksi antar kepribadian satu tokoh dengan kepribadian tokoh lain.

Sebagaimana para pembaca buku kerap memuji kesederhanaan Hemmingway, maka dengan cara serupa pula sekiranya saya boleh memuji kompleksitas Kundera. Penjelasannya terkadang memang rumit. Namun, cerita-cerita Kundera membawa kita berani menyusuri sebuah drama unik yang tetap mengasyikkan meski telah berkisah terlalu jauh.

Meminjam istilah Abe Raviz, Milan Kundera adalah intelektual kelas berat dan virtuoso sastra sejati. Ia mengambil berbagai kompleksitas untuk kemudian membalikkan semua itu dalam aksi sulap yang sanggup mengungkap hasrat paling gelap dalam diri kita sebagai seorang manusia. Kundera dan dunianya begitu rumit, penuh olok-olok dan paradoks.

Friday, June 2, 2017

Cinta

Cinta

Dok. Internet

Oleh: Hernowo Prasojo

Sudah lama diriku tak melihat Cinta
Hari ini pun, ia terlihat luar biasa
Amat cantik, menawan, memesona
serta  dipuja-puja selayaknya dewa

Namun, lonceng nasib pun menggema
Nyaring, menyayat…..
Bersama darah yang tumpah
Semua mulai berubah

Cinta ditinggalkan
Ia disingkirkan dan terbuang
Terasing dan terbawa arus kegelapan
Hingga layu dalam dekapan

Kesedihanku pun memuncak
Kuberdoa pada cinta
Agar Cinta kembali ke dunia
cinta pun mengabulkan doaku

Kini Cinta telah kembali
Ia kini hidup bahagia di antara manusia
Walaupun diriku tak bisa lagi bersamanya

Namun diriku hidup selamanya bersama cinta

Tuesday, May 30, 2017

Penjelajah Pikiran

Penjelajah Pikiran

Dok. Internet
Oleh: Iim Fathimah

Freya pertama kali mendengar suara-suara aneh di benaknya sekitar dua bulan yang lalu. Suara seorang pria yang ringan, seperti bunyi percikan hujan di bulan November yang manyapa jendela kamar. Suara itu berbicara, sesekali menyebut namanya, bertanya apakah Freya bisa merasakan kehadirannya.

Suara itu muncul secara acak, seringkali saat malam, ketika Freya hendak bergulat dengan kasur kesayangannya atau di tengah hari saat Freya sedang menikmati makan siang. Freya sempat berpikir mungkin itu suara hantu atau sebangsanya, namun pikiran itu segera enyah. Ia tidak pernah percaya dengan keberadaan hantu atau makhluk halus yang suka menganggangu manusia. Baginya, yang telah tiada tidak punya urusan lagi di dunia.

Kalau bukan suara hantu, itu suara apa? Barangkali tugas-tugas kuliah secara perlahan membuat Freya menjadi gila sehingga ia menciptakan semacam kawan imajinatif di dalam otaknya. Freya bahkan sempat berkonsultasi dengan temannya yang kuliah di jurusan psikologi mengenai suara-suara aneh itu. Temannya yang baru memasuki semester tiga hanya memicingkan mata dan menjawab, “Kamu lelah, istirahatlah,” sembari mengibaskan tangan sebagai isyarat agar Freya segera melaksanakan saran tersebut. Sudah barang pasti, saran yang demikian tak akan membantu. Suara-suara itu tetap menyapa Freya, seperti alarm pukul lima subuh yang senantiasa membangunkannya.

Beberapa hari diteror sesuatu yang tak dikenalnya membuat Freya frustrasi. Seringkali ia mengabaikan suara-suara itu, menganggapnya sebagai angin lalu. Namun, mengabaikan pun bukan jawaban. Akhirnya, Freya memutuskan untuk berbicara dengan suara aneh tersebut, mencoba bernegosiasi dan mengenalnya, sekalipun hal itu bertolak belakang dengan nilai-nilai kenormalan yang selama ini dianutnya.

Malam itu, setelah malam-malam sebelumnya harus berkutat dengan perasaan horor karena merasa dihantui, Freya mengenyampingkan semua ketakutan yang ia rasakan. Ia bersedekap dalam pembaringan, menunggu, mencoba mendengar kalau-kalau suara itu datang lagi. Demi menenangkan hatinya, ia bersumpah akan mengajak suara itu berdiplomasi, paling tidak agar suara itu tidak muncul di malam hari ketika ia sedang sangat ingin tidur.

Kau di sana?” suara itu datang. Freya menarik napas dalam.

“Aku di sini,” bisik Freya perlahan dengan rasa takut yang teramat sangat. Ia bisa merasakan ritme detak jantungnya yang meningkat tanpa dikomando. Apakah para nabi juga ketakutan saat mendengar malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kali?

Kukira kau tidak merasakan suaraku..,” tandas suara itu lagi
Freya mendengus kesal, bagaimana mungkin Freya tidak mendengarkan suara itu. Si pemilik suara yang entah darimana asalnya inilah yang sudah menciptakan malam-malam panjang mencekam bagi Freya.

“Aku mendengarmu, hampir setiap saat,” balas Freya mencoba kalem.

Tolong pastikan padaku bahwa kau benar-benar Freya...

“Kau siapa? Apa kau nyata? Tolong pastikan bahwa aku tidak gila!” Freya balik mencecar.

Ah... tentu saja kau Freya. Freya gila yang berbicara sendiri di malam hari. Apa kau tidak takut jadi bahan gosip teman-teman satu kosmu esok pagi?

Freya menarik napas dalam-dalam. Jam 11 malam dan suasana bangunan yang ia tempati sudah sepi. Ia pasti benar-benar gila karena berbicara sendiri di tengah malam seperti ini. Suara asing itu benar-benar mulai menguji kesabarannya.

“Jadi... siapa kau sebenarnya?” tanya Freya kemudian, dengan nada pelan yang terkontrol.

Suara itu tidak segera membalas. Ada  interval panjang yang bahkan sesuatu berkecapatan cahaya tidak bisa tembus. Freya bisa mendengar bunyi jangkrik-jangkrik di kedalaman tanah, ia bisa merasakan berkas-berkas sinar lampu koridor yang menembus fentilasi pintunya lebih redup dibanding hari-hari sebelumnya.

Aku dirimu, 4,37 tahun cahaya dari bumi.
Dan Freya bisa merasakan pikiran seseorang menyapanya dari salah satu pendar cahaya di langit malam itu.

***
Suara itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Sho. Sho saja, tanpa imbuhan apa-apa. Ia berada 4,37 tahun cahaya dari bumi yang berarti berada di salah satu planet yang mengitari bintang-bintang di alam semesta. Bintang yang mana satu? Entahlah, Sho bilang planetnya mengitari bola gas bernama Roxena dan bola gas dengan ukuran lebih kecil yang ia sebut Dumas. Jika jaraknya hanya 4,37 tahun cahaya, barangkali Freya bisa melihatnya dari bumi di malam hari.

Sho bilang ia bisa membaca pikiran Freya, ia bisa mengetahui apa yang diinginkan Freya atau bagaimana ia merasakan sesuatu, ia bisa menggambarkan apa yang dilihat Freya di dalam pikirannya, ia bisa melakukan semua itu sementara Freya hanya bisa mendengar suara Sho seperti gema.

“Bagaimana kau melakukan itu semua?” Tanya Freya lebih kepada diri sendiri saat ia sibuk mencari teleskop hadiah dari ayahnya. Kenyataan bahwa ada spesies ekstrateretrial yang mengawasinya dari jauh membuat ia bergidik ngeri. Hal ini bahkan lebih buruk dari aksi spionase yang sempat heboh diberitakan di media massa.

Ia menemukan teleskop yang lama tidak ia gunakan tersebut di salah satu sudut lemari pakaiannya. Masih tersimpan rapi dalam kotak penyimpanan. Freya memandangi kotak itu lama, sembari mengingat-ingat kapan terakhir kali ia naik ke balkon dan mengamati langit malam hanya untuk memuaskan ketertarikannya terhadap jejeran konstelasi bintang. Sepertinya sudah lama sekali, sebelum tugas-tugas kuliah datang menyambangi.

Aku bisa melakukannya karena kau menginginkan hal itu,” jawab Sho, terdengar begitu dekat. Rasa-rasanya hampir mirip seperti ketika berbicara lewat sambungan telepon.

Malam itu, sehari setelah komunikasi dua arah antarkeduanya terjadi, Freya memutuskan untuk mengamati bintang, mencoba mencari tahu dari mana Sho sebenarnya. Freya sangat bersyukur saat mendapati langit yang cukup cerah terhampar di atas balkon. Ia mengenali satu per satu bintang bermagnitude rendah yang ia lihat.

“Apa mungkin kau berasal dari salah satu planet yang mengitari Alpha Centauri?” Tanya Freya dengan mata yang fokus mengamati salah satu bintang di langit selatan dengan menggunakan teleskopnya. Alpha Centauri atau Rigil Kent, bintang yang paling terang di rasi Centaurus dan berada di dekat horizon.

Aku bisa merasakan kau melihatku. Tapi karena pikiran kita bergerak lebih cepat dari cahaya, kau mungkin sedang melihat masa lalu.

“Sepertinya kau memang benar dari sana. Aku baru ingat Alpha Centauri terdiri dari dua bintang yang mengitari satu sama lain,” Freya kemudian melepaskan pandangannya dari teleskop, lebih memilih memandang bintang dengan mata telanjang.

“Jadi kalian menyebutnya Alpha Centauri?” Sho bertanya.

“ Ya, kira-kira seperti itu... nama lainnya Rigil Kent dan jangan tanya kenapa kami menyebutnya seperti itu.”

Aku tidak akan mempertanyakannya…

“Bagaimana kalian menyebut matahari, bintang yang planetku kelilingi?” tanya Freya, dalam hati.

Kami menyebutnya NG-1069,” jawab Sho di sana.

Freya yang mendengar jawaban itu hanya mengerinyitkan dahi, “Kenapa namanya sangat tidak menarik?”
Entahlah, nama itu muncul sudah sejak lama, leluhur kami yang memberikan nama itu.

Sudah sejak lama... Sebuah pikiran tiba-tiba lewat di benak Freya. Namun sebelum mengutarakan langsung pikiran itu, Sho segera bersuara, “Jika kau ingin menanyakan sejak kapan kehidupan di sini dimulai, kau tidak akan mengerti. Kita memiliki pemahaman yang berbeda akan konsep waktu.

Freya mendengus kesal, ia lalu membalas dengan suara cetus, “Oke tuan yang berasal dari bintang.”

Sho tidak membalas lagi dan Freya tidak terlalu ambil pusing. Mungkin dia sedang punya urusan di planetnya yang sangat jauh itu atau dia sudah lelah bertelepati dengan Freya.

Kenapa kau diam? Tanyakan padaku, apapun. Aku lebih mengenalmu dibanding dirimu sendiri, jadi aku tidak akan banyak bertanya.

“Bagaimana kau bisa melakukan ini semua? Melihatku? Mendengarku? Dan kenapa aku tidak bisa melakukan hal yang sama? Aku ingin bisa melihat kehidupanmu di sana,” pertanyaan bertubi-tubi itu terlontar tanpa suara, bertransformasi menjadi sinyal yang berlari ke salah satu sudut angkasa.

Ada jeda yang cukup lama sebelum akhirnya Sho menjawab, “Baiklah... demi memuaskan rasa penasaranmu, aku akan menjelaskannya. Jadi, dengarkanlah dengan seluruh kemampuan pendengaran yang kau miliki. Karena kisahku akan panjang.

Bola mata Freya membesar, ia sampai jatuh terduduk demi mendengar kisah yang akan dituturkan Sho. Sambil mengarahkan pandangannya ke arah langit selatan, tempat bintang Alpha Centauri bernaung, Freya mulai mendengarkan.

Secara fisik kita tidak jauh berbeda, aku memiliki anatomi yang menyerupai manusia di planetmu. Yang membedakan mungkin, di sini semua warna rambut kami sama, tinggi badan kami sama, begitu pun berat badan, yang tampaknya menjadi masalah bagimu?” Sho terkekeh, Freya mendengus, “yang membedakanku dengan yang lainnya hanyalah bentuk hidung, bibir, mata, dan telinga.

Freya lalu membayangkan semua orang di dunia memiliki tinggi 175 sentimeter. Tidakkah hidup menjadi begitu menyenangkan? Ia tidak perlu mendengarkan kucilan teman-teman kuliahnya yang jauh lebih tinggi karena semua memiliki tinggi badan yang sama.

Sho kemudian menceritakan tentang sebuah sistem yang membuat semua manusia di planetnya hanya bisa membeli sesuatu dengan kebaikan. Semakin banyak kebaikan yang dilakukan, maka ia akan semakin mampu memenuhi kebutuhannya. Kejahatan adalah sesuatu yang terasa janggal di dunia Sho karena jika seseorang berlaku jahat, maka perlahan tapi pasti ia akan jatuh miskin. Pilihan agar tidak menjadi  miskin hanya satu, berbuat baik.

“Bagaimana kalian menentukan bahwa suatu hal adalah tindakan yang baik atau buruk? Bukankah yang baik dan buruk itu relatif?” Freya bertanya, hampir-hampir tidak mengerti.

Sistem telah melakukan standardisasi untuk menilai apakah perilaku kami tergolong baik atau tidak.

“Siapa yang membuat sistem seperti itu? Pemerintah? Kalian percaya pemerintah?” kejar Freya.

Tidak. Hanya Yang Terpilihlah yang bisa menentukan standar, mengubah, dan memperbaikinya.

“Yang Terpilih?” suara Freya lirih mengawang di udara, dibawa angin entah kemana.

Kami menyadari terdapat sekelompok orang yang terlahir dengan tanda-tanda yang berbeda, kami meyakini alam telah memilih mereka, Yang Terpilih.

“Tanda-tanda seperti apa?”

Seperti yang tengah kita lakukan saat ini,” jawab Sho tenang di ujung sana.
Kedua alis mata Freya bertaut, ia kemudian berkata, “Kau adalah Yang Terpilih?”

Aku tidak ingin jumawa tapi memang begitu adanya,” dari nada suara Sho, Freya berani bertaruh saat ini Sho tengah tersenyum bangga.

“Jadi hanya Yang Terpilih yang bisa bertelepati seperti yang kau lakukan?” tanya Freya kemudian.

Mengenal isi terdalam hati manusia memungkinkan kami—Yang Terpilih—mengetahui apa yang ideal dan tidak,” terang Sho lebih lanjut, mengingatkan Freya pada kelas teori hubungan internasional dengan salah satu paradigma yang digunakan adalah idealisme. Nilai-nilai kebaikan dan keluhuran umat manusia yang secara alami ada di dalam diri setiap insan... benarkah ada?

“Sulit membayangkan hidup di planetmu Sho...” suara Freya tiba-tiba terdengar sendu, “dengan kemampuanmu tentu kau bisa melihat bagaimana kehidupan manusia di sini.”

Dengan kemampuanku juga, aku bisa melihat orang-orang sepertimu masih ada.

Freya menghembuskan napas keras-keras, seolah tengah menghempaskan beban berton-ton dari kepalanya. Semakin jauh obrolan ini terasa utopis. Membandingkan kehidupan di bumi dengan kehidupan di planet Sho tak berbeda dengan membandingkan jurnal ilmiah dengan novel imajinatif yang kemudian diangkat ke layar lebar. Jurang antara yang nyata dan fana adalah pikiran manusia itu sendiri. Freya merutuk dalam hati. Masa bodoh kalau Sho tahu isi pikirannya! Telanjangi saja aku dengan pikiranmu!

Freya...

“Ya?”

Tidakkah kau ingin tahu warna langit di sini?

“Hmm... ya. Tapi bagaimana caranya?”

Itu kejutan.

***

Setelah obrolan malam itu, secara aneh Sho tidak muncul dalam pikiran Freya. Fakta bahwa Sho adalah Yang Terpilih tentu membuat dirinya sibuk. Ia mungkin tengah berkutat dengan sistem yang harus dijaganya. Atau mungkin ia sedang dihadapkan dengan suatu masalah yang kompleks di sana? Freya tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah ia merasa rindu. Sedang kemarau di sini dan suara Sho yang menenangkan seperti hujan itu entah kenapa membuat Freya senang. Ia ingin mendengar lebih banyak. Ia ingin bercerita lebih banyak.

Pada malam sebelum tidur, Freya memandangi langit-langit kamarnya lama sembari menduga-duga kapan Sho akan menyapa. Stiker-stiker bintang yang menempel di langit-langit dan dinding kamarnya berpendar halus, mengingatkan Freya pada Alpha Centauri, Hadar, Sirius, Canopus, dan bintang-bintang lain yang ia lupa namanya.

“Sho... kau dimana?” tanyanya tanpa jawab. Matanya yang berat lambat laun mengalahkan keinginannya untuk terjaga. Freya tertidur, dengan pikiran yang berkelana.

***

“Freya...” suara itu membangunkan Freya. Ia memandang sekelilingnya dengan wajah linglung. Saat ini ia tengah terbaring di sebuah kasur dalam sebuah ruangan dengan aksen putih di setiap sudut. Mirip seperti ruangan-ruangan di rumah sakit.

“Sho?” bisiknya nyaris tanpa suara, di sampingnya seorang pria berdiri dengan wajah khawatir. Freya mengucek-ucek mata, ia pasti sedang bermimpi. Namun saat membuka mata lagi Sho masih di situ. Apa ini nyata?

“Kau baik-baik saja?” tanya Sho, suaranya tidak berbeda dari terakhir kali Freya mendengarnya. Yang berbeda hanyalah kali ini Freya mendengarnya secara langsung, lengkap dengan keberadaan Sho di sisinya.

“Di mana aku?”

Mendengar pertanyaan Freya, Sho hanya melayangkan sebuah senyum simpul.

“Selamat datang di planet Aruna. Bukankah aku berjanji untuk menunjukan warna langit di sini?”

Freya memiringkan kepalanya. Tidak. Dia pasti sudah gila. Ini pasti hanya imajinasinya saja.

“Oh... dan aku lupa mengatakan padamu,” Sho tampak berpikir sebelum kemudian melanjutkan, “Yang terpilih hanya bisa bertelepati dengan sesama yang terpilih. Dan adalah suatu kehormatan bagiku untuk bisa membawamu ke sini. Kebaikan hatimu akan membuat kehidupan menjadi lebih baik lagi di sini.”

Yang ada setelahnya adalah kebingungan di benak Freya dan pikiran-pikirannya yang terus berkecamuk. Ia berharap pikiran itu dapat sampai ke bumi. Ia berharap ada yang mendengar pikirannya. Ia hanya tidak ingin di sini. Ia mau pulang ke bumi.

Thursday, May 18, 2017

Kerja Sama dengan PMI, Mahafisippa Kembali Adakan Kegiatan Donor Darah

Kerja Sama dengan PMI, Mahafisippa Kembali Adakan Kegiatan Donor Darah

Salah satu mahasiswa turut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah yang diselenggarakan oleh Mahafisippa dan PMI pada Rabu (17/05/2017) di Public Space 1. (Dok. VISI/Andi)
lpmvisi.com, Solo — Mahasiswa FISIP Pencinta Alam (Mahafisippa) kembali menggelar kegiatan donor darah yang berlangsung pada Rabu (17/05/2017). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB di Public Space 1 FISIP UNS ini merupakan hasil kerja sama Mahafisippa dengan Palang Merah Indonesia (PMI).

Kegiatan donor darah yang rutin dilakukan oleh Mahafisippa ini merupakan suatu bentuk pengabdian masyarakat, demikian terang Ni’am, ketua umum Mahafisippa. 

“Kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kepedulian sosial warga FISIP,” tambahnya ketika diwawancarai VISI.

Mahafisippa sendiri rutin menggelar kegiatan ini setiap tiga bulan sekali dengan menggandeng PMI. Tujuannya adalah untuk membantu persediaan darah PMI yang nantinya akan digunakan untuk pemenuhan permintaan transfusi dan operasi bagi yang membutuhkan. Dalam acara ini, Mahafisippa juga menggelar pemutaran film supaya para pendonor yang mengantre tidak merasa jenuh.

"Tujuan ikut acara donor darah ini karena sudah menjadi rutinitas setiap 3 bulan sekali,”  ujar Angga, mahasiswa Administrasi Negara 2016 yang turut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah ketika ditanyai VISI  mengenai alasannya berpartisipasi.  

Mahasiswa yang rutin mendonorkan darahnya ini juga mengungkapkan pesan dan kesannya terkait acara tersebut. Ia berharap kegiatan seperti ini lebih sering  dilakukan karena dapat memudahkan mahasiswa yang ingin mendonorkan darah tanpa harus datang ke PMI. (Andi)

Tuesday, May 16, 2017

Gandeng Kampungnesia, The Mudub Rilis Kicau Kacau Kota di Lokananta

Gandeng Kampungnesia, The Mudub Rilis Kicau Kacau Kota di Lokananta

The Mudub menyanyikan sejumlah lagu andalan mereka dalam acara perilisan mini album Kicau Kacau Kota pada Sabtu (13/5/2017) di Pendopo Lokananta, Solo. (Dok.VISI/Andi)
lpmvisi.com, Solo - The Mudub bekerja sama dengan Kampungnesia menyelenggarakan acara perilisan mini album baru mereka yang bertajuk Kicau Kacau Kota pada Sabtu (13/5/2017). Acara yang berlangsung di Pendopo Lokananta dan dimulai pukul 20.00 WIB ini berlangsung selama kurang lebih tiga jam.

“Ketemu dengan Kampungnesia, Karena ada kesatuan visi misi, jadinya (kamired) mengeluarkan mini album Kicau Kacau Kota. Temanya cocok jadinya kita jadiin proyek,” ujar Arum, vokalis The Mudub ketika diwawancarai VISI seusai acara perilisan mini album Kicau Kacau Kota.

Selain penampilan The Mudub dengan lagu-lagu andalan mereka, pada acara tersebut dibedah pula lagu-lagu yang terdapat pada mini album Kicau Kacau Kota. Pesan dari lagu-lagu itu sendiri berisi tentang masalah kecil yang ada di kota. Salah satunya seperti masalah ketidakteraturan lalu lintas yang disajikan secara gamblang dalam lagu Emosi di Jalan. Dengan merilis mini album tersebut, The Mudub berharap pesan-pesan positif yang ingin mereka sampaikan dapat diterima oleh masyarakat, khususnya anak muda.

Suasana acara malam itu terbilang meriah. Devic (18), salah seorang penonton yang mengaku baru pertama kali menyaksikan The Mudub secara langsung mengungkapkan kesannya terhadap acara tersebut.

Tau The Mudub emang band yang mengkritisi sesuatu lewat komedi. Katanya sih candaanya juga gokil-gokil dan cenderung dewasa gitu. Penasaran dengan aslinya, dan ternyata gokil banget,” ujar Devic ketika diwawancarai VISI di sela-sela kemeriahan acara yang dihadiri penonton dari berbagai kalangan tersebut.

Sementara itu, Arif (18) yang juga merupakan salah seorang pengunjung dalam acara tersebut mengungkapkan harapannya untuk The Mudub.

“Harapannya untuk the Mudub, ya terus berkarya. Ciptakan lagu-lagu yang sekiranya mengandung sebuah makna positif untuk kemajuan negeri kita dan dapat membangkitkan semangat para pemuda,” ungkap mahasiswa yang sedang menempuh studi di FISIP UNS tersebut.

Total ada enam lagu yang mengisi playlist Kicau Kacau Kota. Selain Emosi di Jalan, lima lagu lain yang terdapat dalam mini album tersebut antara lain Andai Aku Jadi Tarzan, Menuntut Ilmu, Sego Kucing, Bakso Bakar Bang Brewok, dan Utamakan Karya. (Andi, Iim, Mekar)

Monday, May 15, 2017

Mengenal Tagore, Rumah, dan Dunianya

Mengenal Tagore, Rumah, dan Dunianya

Judul: Rumah dan Dunia | Penulis: Rabindranath Tagore | Penerbit: Bentang Budaya | Tahun: 2002 | Tebal: 301 halaman | Bahasa: Indonesia (diterjemahkan dari bahasa India) | Penerjemah: Hartono Hadikusumo. 

Oleh: Herdanang A Fauzan

Hingga detik ini, saya masih percaya bahwa cara terbaik untuk mengenali seseorang adalah dengan membaca tulisannya. Saya punya sahabat yang tiap menulis acap kali menggunakan istilah-istilah barat. Dan benar saja, sahabat saya tersebut memang seorang penggila tren-tren barat. Sama halnya ibu saya, di mana ia sering menuliskan sesuatu dengan paragraf-paragraf deduktif karena memang dirinya—sejauh yang saya kenal selama 19 tahun menjalani hidup—adalah seorang pribadi yang memiliki kecenderungan gaya bertindak ‘umum ke khusus’.

Tulisan, terkadang juga dapat merefleksikan selera baca seseorang. Adalah hal yang lazim ketika penggemar karya-karya Yasunari Kawabata dan Gao Xingjian cenderung menarasikan suatu cerita dengan plot lamban. Sebaliknya, sangat mungkin para pembaca cerita-cerita beralur cepat akan menuliskan karya atau tulisannya secara cepat pula.

Kepercayaan di atas pula yang saya gunakan untuk mengenali sosok Rabindranath Tagore. Sebagaimana yang sering kita baca dari buku-buku sejarah, Tagore adalah salah satu sosok yang berpengaruh bagi India. Bersama sahabat seperjuangannya, Mahatma Gandhi, ia menelurkan berbagai pemikiran-pemikiran anti-kekerasan yang cukup merevolusi kedewasaan mental orang-orang di negeri Bengala. Maka tak berlebihan pula jika pada akhirnya jasa-jasa tersebut mengantarkan Tagore menjadi orang Asia pertama yang berhasil mendapat penghargaan nobel di bidang kesusastraan, tepatnya pada tahun 1913.

Salah satu karya yang mencerminkan pemikiran-pemikiran Tagore adalah Ghare Baire. Karya ini sendiri sudah diterbitkan ke Bahasa Indonesia oleh Bentang Budaya dengan judul Rumah dan Dunia. Diterjemahkan oleh Hartono Hadikusumo, Novel setebal 301 halaman ini mengisahkan konflik idealisme antara Nikhil, istrinya yang bernama Bimala, serta seorang sahabat Nikhil yang bernama Sandip.

Tagore menggambarkan ketiga tokoh utama tersebut dengan tegas dan tidak setengah-setengah. Nikhil si protagonis misalnya. Ia digambarkan sebagai sosok saudagar arif dan bijaksana yang menentang praktik swadesi dengan cara-cara brutal dan merugikan. Sedangkan Sandip yang menjadi tokoh antagonis digambarkan sebagai sesosok pria picik dan khianat yang menghalalkan segala cara untuk memperjuangkan kemerdekaan India. Salah satu praktik yang dihalalkan Sandip untuk menentang kolonialisme adalah dengan membakar barang-barang buatan Inggris yang beredar di India.

Dalam novel ini, sangat terlihat tujuan Tagore untuk menggambarkan kondisi pergolakan internal di India pada awal abad 20. Baik Nikhil dan Sandip sejatinya memilliki tujuan yang sama, yakni untuk memerdekakan negeri mereka. Hanya saja, keduanya memiliki idealisme yang berbeda. Jika Sandip melegalkan dan mendorong praktik-praktik swadesi dengan cara brutal, Nikhil justru berpikiran sebaliknya. Si protagonis berpandangan bahwa melakukan swadesi dengan cara membakar barang-barang produksi asing justru akan merugikan para pedagang kelas bawah di India yang masih memasarkan produk-produk asing. Hal ini dikarenakan pedagang-pedagang tersebut harus merelakan dagangan mereka dibakar oleh sekelompok ekstrimis tanpa ada ganti rugi.

Nikhil digambarkan sebagai sebaik-baiknya malaikat, sementara Sandip digambarkan sebagai seburuk-buruknya setan. Keduanya kemudian memperebutkan Bimala yang digambarkan sebagai senaif-naifnya manusia. Posisi Bimala seolah menentukan idealisme siapa yang lebih unggul. Di satu sisi, Bimala ingin setia kepada Nikhil sang suami. Di sisi lain, Bimala juga mulai tergoyahkan oleh daya tarik Sandip yang selalu mengucapkan kalimat berapi-api di hadapan para pengikutnya.

Dari segi penulisan, Rumah dan Dunia sejatinya tidak bisa begitu saja dikategorikan sebagai ‘karya sastra yang baik’. Banyak transisi cerita yang terkesan melompat dan dipaksakan. Misalnya pada bagian akhir ketika Nikhil hendak mengajak Bimala untuk pindah rumah, sangat terasa nuansa ‘memaksa’ agar cerita cepat selesai.

Tagore juga terkesan terlalu banyak menjelaskan hal-hal yang sebenarnya berada di luar konteks cerita. Sekilas, penjelasan-penjelasan tersebut sebenarnya bukan hal yang anti-mainstream, khususnya di kesusastraan Asia. Banyak penulis-penulis Asia lain macam Yasunari Kawabata dan Mo Yan yang juga kerap melakukan hal serupa. Hanya saja, baik Kawabata maupun Mo Yan melakukannya pada cerita yang plotnya bergerak lamban.

Menjadi aneh ketika Tagore banyak menyisipkan 'penjelasan di luar konteks' pada cerita Rumah dan Dunia yang plotnya tergolong cepat. Hal ini mengakibatkan Rumah dan Dunia terlihat seperti sebuah novel berkonten tipis yang dipaksakan sedemikian rupa agar terlihat tebal.

Kekurangan dari segi penulisan ini sebenarnya merupakan hal yang wajar apabila dikaitkan dengan latar belakang Tagore yang bukan murni sastrawan. Tagore adalah seorang filsuf, seniman, aktivis, penyair, sastrawan, serta musikus. Barangkali hal tersebut pula yang mengakibatkan tulisan Tagore terkesan seperti ‘campur aduk’.

Di luar kurang dan lebihnya, menurut saya Rumah dan Dunia sudah cukup berhasil menggambarkan  seperti apa sosok penulisnya. Setidaknya, membaca novel ini membuat siapapun akan dapat lebih mengenal latar belakang, karakter, dan idealisme seorang Rabindranath Tagore. 

Sunday, May 14, 2017

SOCeo Ajak Pengunjung CFD Dukung Odapus

SOCeo Ajak Pengunjung CFD Dukung Odapus

Penandatangan spanduk putih sebagai bentuk dukungan kepada odapus dalam acara Final Campaign lupus, Minggu (14/5/2017). (Dok.VISI/Ratna)
lpmvisi.com, Solo - Social Event Organizer (SOCeo) mengadakan kegiatan Final Campaign: Make it Purple for Lupus. Kegiatan yang merupakan satu dari rangkaian acara Live The Life ini terselenggara pada pada Minggu (14/5/2017) di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Slamet RiyadiKetua SOCeo, Rahmad Nurfakin menuturkan bahwa diselenggarakannya acara ini merupakan bentuk ajakan agar masyarakat mau memberikan dukungan terhadap odapus (penderita penyakit lupus—red), serta pengenalan dini tentang penyakit lupus kepada masyarakat.

Lupus seringkali tidak begitu banyak diketahui masyarakat, karena ciri dasar penyakit lupus sama dengan penyakit ringan pada umumnya dan baru diketahui ketika sudah parah, inilah yang menjadi alasan kami menyelenggarakan acara ini,” ujarnya saat ditemui VISI di sela-sela acara Final Campaign lupus.

Dalam kegiatan ini antara lain dilangsungkan kampanye lupus, face painting, cek kesehatan gratis, photobooth, bagi-bagi susu gratis dan special performing art yang bekerjasama dengan Prodia dan Teater SOPO.

Face painting sebagai bentuk dukungan kepada kepada odapus dalam acara Final Campaign lupus, Minggu (14/5/2017). (Dok.VISI/Ratna)


Selain Final Campaign, akan diselenggarakan pula talkshow Bersama Odapus Kenali Lupus pada tanggal 20 Mei 2017 mendatang. Nantinya, pada talkshow tersebut juga akan diumumkan pemenang kompetisi foto 1000 Kupu Untuk Lupus yang sudah dilombakan sebelumnya. (Ratna)