Wednesday, October 3, 2018

Pergelaran Musik Keroncong dalam Peringatan 101 Tahun Gesang

Pergelaran Musik Keroncong dalam Peringatan 101 Tahun Gesang

Komunitas Panggung Gesang menggelar Peringatan 101 tahun Gesang pada Minggu (30/09/2018). (Dok. Pribadi)

Lpmvisi.com, SoloDalam rangka mengenang dan memperingati 101 tahun kelahiran Maestro Keroncong Indonesia, Gesang Martohartono, Komunitas Panggung Gesang mengadakan pertunjukan musik keroncong pada Minggu (30/09/2018). Berlokasi di Omah Sinten, pertunjukan tersebut mengangkat tema "Keroncong Untuk Semua". Selain menampilkan musik keroncong, Peringatan 101 Tahun Gesang juga menyuguhkan beberapa tarian tradisional dari beberapa daerah di Indonesia.

Sadra (40), selaku panitia dan relawan dari Panggung Gesang, menuturkan bahwa acara peringatan kelahiran Sang Maestro tersebut telah memasuki tahun kedua. Penyelenggaraan perdananya telah dilaksakan pada 1 Oktober 2017 lalu. Ia pun menambahkan, selain untuk mengapresiasi karya-karya Gesang, acara tersebut diselenggarakan untuk memeriahkan peringatan World Tourism Day.

“Kami juga berasosiasi dengan ASITA (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies) Surakarta sehingga pengunjung yang datang bukan berasal dari Solo saja melainkan ada dari beberapa daerah diluar Solo.” Sambung Sadra.

Perayaan 101 tahun Gesang terbuka untuk umum dan gratis. Tak ayal, kursi yang disediakan oleh panitia tak cukup untuk menampung seluruh pengunjung. Beberapa penonton pun rela berdiri demi menikmati suguhan musik keroncong yang ditampilkan oleh beberapa Komunitas dan pegiat musik keroncong.
Goknang(25), seorang pengunjung yang berasal dari Medan, mengaku bahwa dia sangat menyukai musik keroncong, terutama dari karya-karyanya Gesang. Ia menyampaikan, hadir di acara seperti ini merupakan sebuah keberuntungan karena ia sangat menikmati atmosfer yang ditawarkan pada saat pertunjukan berlangsung.

“Pertunjukan seperti ini sangat seru sekaligus membawa pesan kalau musik keroncong itu bukan hanya untuk orang tua, bahkan generasi muda juga bisa menikmatinya," kata Goknang. Goknang pun menyampaikan pesan agar musik keroncong harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu budaya Indonesia. (Rifki, Avista)

Saturday, September 15, 2018

Lewat Festival Pedas, Hello Market Solo Hadirkan Surga Pencinta Cabai

Lewat Festival Pedas, Hello Market Solo Hadirkan Surga Pencinta Cabai

Potret keramaian Festival Pedas #2 yang berlangsung di Solo Paragon Mall pada Jumat (14/09/2018). (Dok. Pribadi)


Lpmvisi.com, Solo – Setelah sukses menggelar acara Festival Pedas pada Febuari 2018 lalu, kini Hello Market Solo menghadirkan Festival Pedas #2 selama tiga hari berturut-turut. Festival yang menjadi surga bagi para pencinta cabai tersebut digelar mulai Jumat (14/09/2018) hingga Minggu (16/09/2018). Berlokasi di Upper Ground (UG) Floor Solo Paragon Mall, Festival Pedas ini hadir dengan 40 stan kuliner serta dilengkapi dengan konten-konten acara yang menarik.  
Fajar (25), selaku Media Relations Hello Market Solo, menyebutkan bahwa antusias pengusaha kuliner untuk bergabung dalam Festival Pedas #2 kali ini terbilang tinggi. Mereka harus melewati proses seleksi terlebih dahulu untuk mendapatkan tempat di Festival Pedas #2.
“Total yang daftar ada seratusan, jadi tidak semua dimasukin. Kami pilih mana yang menarik, yang akun sosial medianya aktif, dan juga pengikutnya banyak,” jelas Fajar saat ditemui VISI pada Pembukaan Festival Pedas, Jumat (14/09/2018).
Festival ini pun menuai respon dari para pendiri stan, salah satunya yaitu Stephanie (25). Penjual Chick Me Up dan Ini Kopi. Apa tersebut mengaku baru pertama kali berpartisipasi dalam Festival Pedas #2. “Kalo ikut festival pedas ini baru pertama kali. Tapi sebelumnya sudah pernah ikut Hello Market dan Union Project,” tutur Stephanie.

Stephanie menambahkan, alasannya mengikuti Festival Pedas #2 dikarenakan ia pernah mengikuti Hello Market Solo dan mendapatkan respon yang baik. Selain itu, ia memang aktif mengikuti acara-acara kuliner seperti ini.

Desti dan Dita (26), pengunjung Festival Pedas #2, mengaku bahwa sebenarnya tidak merencanakan datang ke festival tersebut. “Pernah lihat di instagram tapi enggak tahu tanggalnya kapan dan ini kebetulan aja,” ujar Desti pada VISI.

Meskipun awalnya memang tidak direncanakan namun mereka mengaku menikmati acara tersebut dan senang karena mereka dapat menemukan makanan khas Thailand yang menjadi kesukaannya. (Diah, Nabilah)

Kreasso 2018, Disdikpora Giatkan Kreativitas Pelajar Solo

Kreasso 2018, Disdikpora Giatkan Kreativitas Pelajar Solo

Salah satu penampilan dalam Kreaso 2018 di Benteng Vastenburg. (Dok. VISI/Ditya)

Lpmvisi.com, Solo – Benteng Vastenburg kembali menjadi saksi bisu salah satu perhelatan akbar Kota Solo bertajuk Kreasso (Kreatif Anak Sekolah Solo). Acara yang digagas oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Surakarta tersebut akan berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai Kamis (13/09/2018) hingga Minggu (15/09/2018). Kreasso 2018 berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB. Melalui Kreasso, Disdikpora merangkul segenap pelajar di Kota Solo untuk terlibat dalam perhelatan besar tersebut. Tak hanya menyediakan panggung untuk mementaskan bakat, untuk para pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), mereka pun dilibatkan menjadi panitia Kreasso 2018.

Mengusung tema Mekaring Budaya Rumaketing Bangsa, Panitia Kreasso 2018 menyampaikan pesan untuk menyatukan budaya Indonesia yang beranekaragam serta menjaga kerukunan di antara perbedaan budaya tersebut. Diselenggarakan sejak tahun 2010 oleh Jokowi, hingga kini Kreasso masih berlanjut sebagai wadah bagi pelajar Solo untuk berkarya, melatih kepercayaan diri, dan mengasah potensi.

Terlibatnya pelajar Solo dalam hal pertunjukan maupun penyelenggaraan acara Kreasso menjadikan acara tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat, khususnya para wali murid.
Dalam Kreasso, pelajar SMP, SMA, dan SMK di Kota Solo membawakan pertunjukan khas Indonesia, mulai dari tari, musik, paduan suara, hingga teater. Afdriani, salah seorang pelajar SMK yang menampilkan Tari Incling secara beregu, mengaku gugup karena ini merupakan pengalaman pertamanya. Akan tetapi, ia juga merasa bangga karena dapat menampilkan salah satu tari tradisional Indonesia.

Tak hanya menampilkan pertunjukan seni saja, Kreasso 2018 juga diisi dengan expo education, expo community, talk show, serta gallery. Para pelajar dari berbagai sekolah menengah mengisi stan-stan yang telah disediakan dengan beragam kerajinan tangan karya mereka. Pada hari-hari sekolah, pengunjung yang hadir pun cukup banyak, terutama dari kalangan pelajar.

Potret pengunjung Kreasso yang tampak banyak berasal dari kalangan pelajar. (Dok. VISI/Ditya)

Rahma, salah satu siswi SMK yang bertugas di stan sekolahnya mengaku bahwa persiapannya cukup mendadak. Ia pun mengaku baru menemukan konsep pada H-1 Kreasso.

Jadi bener-bener baru dipikirin kemarin banget untuk persiapan bahan-bahan dan hiasan kayak jarik, janur baru dicari kemarin sore dan malam baru dipasang, dibantu guru juga,” jelas Rahma.

Di stan mereka, Rahma dan teman-temannya memamerkan berbagai gambar, lukisan, miniatur rumah dan kereta api yang dibuat sendiri oleh para murid. Karya-karya tersebut merupakan karya terbaik yang ditunjuk oleh sekolah untuk ditampilkan karena memiliki nilai komersial sehingga dapat diperjualbelikan.

Sementara itu, para pelajar di Kota Solo juga mengambil peran dalam penyelenggaraan Kreasso 2018 sebagai panitia. Panitia yang berasal dari kalangan siswa/siswi SMA maupun SMK tersebut dipilih melalui seleksi wawancara oleh Disdikpora Kota Surakarta. Berada di bawah binaan panitia Kreasso angkatan sebelumnya, panitia Kreasso 2018 telah melakukan persiapan selama tiga bulan dengan rapat rutin selama tiga kali dalam seminggu. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi mereka, terutama saat mengurus dispensasi sekolah dan izin orangtua.

Ketua Divisi Publikasi Kreasso 2018 menyampaikan, pengunjung Kreasso terus bertambah setiap tahunnya. Ia mengaku, hal tersebut tidak terlepas dari peran media sosial yang mempermudah promosi acara mereka.

“Puncak acara paling ramai biasanya di hari terakhir karena ada kembang api dan akan lebih meriah,” ujar Ketua Divisi Publikasi Kreasso 2018.

Ia pun menambahkan, Kreasso 2018 mengundang para penari dari SMP Negeri 5 Yogyakarta yang baru saja menjadi pemenang Festival Lomba Seni dan Sastra Nasional (FLS2N) 2018 Kategori Tari.
Semakin malam, pengunjung semakin ramai memadati Benteng Vastenburg. Sebagian besar pengunjung adalah pelajar dan orangtua siswa yang anaknya ikut berpartisipasi baik di atas panggung maupun pameran.

Tidak sedikit pula pengunjung yang datang untuk mendukung teman-temannya, seperti Zellika dari SMA Negeri 2 Solo yang sudah beberapa kali mengunjungi Kreasso. Ia menuturkan, pertunjukan seni menjadi hal yang paling ia gemari karena menyenangkan untuk dilihat. Zellika juga mengaku, melalui Kreaso, ia bisa memperoleh pengetahuan budaya. Ia menjadi tahu mengenai tarian-tarian dan darimana asalnya. Zellika juga berharap, Kreasso dapat terus dilaksanakan setiap tahunnya. 

“Mari kita dukung teman-teman yang punya potensi lebih, misal dalam hal menari dan bisa tampil di acara ini,” ungkap Zellika.

Zellika pun menambahkan harapannya untuk penyelenggaraan Kreasso tahun selanjutnya. “Semoga tahun selanjutnya bisa lebih meriah kembali, lebih tertata, mungkin seperti ada tempat sampahnya,” pungkas Zellika. (Bening, Ditya)

Friday, September 14, 2018

Kalimantan Timur Tampilkan Tari Hudoq dalam Srawung Seni Sakral Internasional

Kalimantan Timur Tampilkan Tari Hudoq dalam Srawung Seni Sakral Internasional

Potret para penari dari Sanggar Bera'an Pare usai menampilkan Tari Hudoq di Srawung Seni Sakral Internasional 2018 pada Rabu (12/09/2018). (Dok. VISI/Ratna)

Lpmvisi.com, Solo  Dalam rangka memperingati Satu Suro, Pemerintah Kota Surakarta menyelenggarakan sebuah pergelaran seni sakral sedunia pada Rabu (12/09/2018). Berlokasi di Pelataran Museum Radya Pustaka, pergelaran bertajuk Srawung Seni Sakral Internasional 2018 tersebut menyuguhkan penampilan seni sakral dari para seniman yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga dari lintas negara. Kalimantan Timur, sebagai salah satu penampil dalam negeri, menampilkan tarian khasnya yang berjudul “Tari Hudoq”.


Penari Mexico sedang menampilkan tariannya dalam Srawung Seni Sakral Internasional 2018. (Dok. VISI/Ratna)

Ledau Timang (60), salah satu penari Hudoq, mengaku harus berlatih rutin dari sore hingga pagi untuk mempersiapkan penampilannya di Panggung Srawung Seni Sakral Internasional 2018. Penari yang tergabung dalam Sanggar Bera’an Pare−yang memiliki arti padi yang lebat−itu pun menyampaikan bahwa sanggarnya telah berulangkali mengikuti Srawung Seni Sakral Internasional dan tampil di berbagai daerah lain di Indonesia, seperti Jakarta dan Bali.

Di tahun ini, Sanggar Bera’an Pare menampilkan Tari Hudoq sebagai sebuah tarian yang memiliki makna tersendiri. Tarian tersebut biasa ditampilkan sebelum dan sesudah panen padi.

“Makna dari tarian ini yaitu dewa sakti dari khayangan yang turun ke bumi untuk menjaga dan melindungi manusia dari roh jahat,” jelas Ledau kepada VISI. Ia juga menyampaikan bahwa tarian tersebut biasa ditampilkan sebelum maupun sesudah masa panen padi.

Srawung Seni Sakral Internasional 2018 cukup banyak diminati oleh masyarakat Solo. Kursi untuk tamu undangan tampak penuh dan beberapa penonton pun rela berdiri untuk menyaksikan pergelaran seni sakral tersebut. 

Harsono (40), salah satu pengunjung dari Solo, mengaku bahwa dirinya hampir setiap tahun datang dalam acara Srawung Seni Sakral. Ia menyampaikan, menghadari acara tersebut membuat pengetahuan kebudayaannya menjadi bertambah.

“Acara ini merupakan warisan kebudayaan dan salah satu cara untuk promosi pariwisata, makanya saya rutin datang setiap tahun,” jelas Harsono. (Ratna, Meilly)

Sunday, September 9, 2018

SIPA 2018 Tebarkan Semangat Bhinneka Tunggal Ika

SIPA 2018 Tebarkan Semangat Bhinneka Tunggal Ika

Pembawa acara tengah membuka acara SIPA 2018 yang berlangsung di Benteng Vastenburg pada Jumat (07/09/2018).
(Dok. VISI / Nafila)

Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta baru saja selesai menggelar pertunjukan seni tahunan bertajuk Solo International Performing Arts (SIPA) untuk yang kesepuluh kalinya. Berlokasi di Benteng Vastenburg Surakarta, pergelaran maha karya seni pertunjukan tersebut berlangsung sejak Kamis (06/09/2018) hingga Sabtu (08/09/2018). Dengan mengusung tema “We Are The World, We Are The Nations”, SIPA 2018 hadir sebagai perwujudan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang diharapkan mampu menjadi landasan kerukunan, bukan hanya bagi masyarakat Indonesia saja, melainkan bagi seluruh masyarakat dunia dalam menghargai keberagaman budaya yang ada. 

Pemerintah pun menuangkan gagasan tersebut ke dalam SIPA dengan melibatkan seniman-seniman dari berbagai negara, seperti Taiwan, Philiphina, Spanyol, Belanda, Zimbabwe, serta Amerika untuk tampil secara khusus dalam acara ini. Seniman-seniman Indonesia yang berasal dari Solo, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, Palu, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua, pun turut andil dalam mempersembahkan pertunjukan seni yang tak kalah menawan.

Potret dekorasi SIPA 2018 yang menampilkan bendera negara-negara yang terlibat dalam pertunjukan SIPA 2018.
(Dok. VISI / Nafila)

Di tahun ini, penyelenggara SIPA 2018 menargetkan pergelaran pertunjukan seni tersebut mampu menjadi pertunjukan berstandar internasional. Selain itu, panitia juga berharap bahwa antusiasme masyarakat dapat meningkat sehingga pengunjung pun dapat bertambah lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk mencapai target tersebut, panitia mengaku telah menjalankan berbagai inovasi dalam pergelaran SIPA 2018.  

 “Kami dari panitia sudah melakukan beberapa inovasi yang berbeda dari tahun sebelumnya seperti mengadakan SIPA Goes to Caffee dan SIPA Goes to Campuss,” tutur Henggar selaku Humas SIPA 2018.

Henggar menegaskan, adanya acara pancingan tersebut bertujuan untuk menambah kepekaan masyarakat terhadap acara inti SIPA 2018 yang diselenggarakan mulai Kamis (06/09/2018) hingga Sabtu (08/09/2018). Henggar pun menuturkan bahwa SIPA 2018 dimulai tiga jam lebih awal dari tahun sebelumnya, yaitu dimulai pukul 16.00 WIB, supaya para penikmat seni yang masih duduk di bangku sekolah tetap dapat menikmatinya.

Nafira (19), salah seorang pengunjung, mengakui keelokan pertunjukan SIPA 2018. Ia pun menyampaikan harapannya supaya SIPA dapat terus berlanjut dengan konsep yang lebih matang. “Saya berharap, untuk SIPA selanjutnya dapat mementaskan pertunjukan yang spektakuler di setiap harinya, bukan di hari terakhir saja,sambung Nafira. (Nafila, Dea)