Monday, July 31, 2017

Berkreasi dan Berbagi Lewat International Relation Festival

Berkreasi dan Berbagi Lewat International Relation Festival

Salah satu penampilan dalam Charity Concert International Relation Festival yang diadakan di The Park Mall, Solo. (Dok. VISI/Laila)

lpmvisi.com, Solo - Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himaters) FISIP UNS untuk pertama kalinya menyelenggarakan acara International Relation Festival dengan mengambil tema Enhanching Humanity Among Youth. Acara ini bertujuan menanamkan rasa kemanusian sekaligus mengajak masyarakat untuk berdonasi dan berkreasi dengan berbagai lomba yang diadakan.

"Sebagai mahasiswa, kita ingin menanamkan kembali rasa kemanusiaan dalam diri kita kepada orang lain sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat," ungkap Jihan Annisa, mahasiswa Hubungan Internasional (HI) 2015 yang sekaligus merupakan ketua penyelenggara acara.

Rangkaian acara International Relation Festival berlangsung selama satu minggu, dimulai dengan diselenggarakannya "One Day as an IR" pada 23 Juli lalu yang merupakan acara seminar bagi para siswa SMA ataupun umum yang ingin merasakan menjadi mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dalam sehari. Seminar ini sekaligus menjadi ajang promosi dan pengenalan Prodi HI kepada masyarakat luas. Lalu ada lomba fotografi dan akustik untuk kalangan masyarakat umum.

Selain itu, panitia penyelenggara juga mengadakan open donation bagi para masyarakat yang ingin menyumbangkan sebagian dananya. Masyarakat dapat menyumbang dana open donation melalui rekening ataupun diberikan secara langsung oleh panitia.

"Keuntungan dari acara tersebut akan disumbangkan kepada dua yayasan yaitu Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC-red) dan yayasan Lentera (untuk penderita HIV-red)," tambah Jihan.

Kegiatan dilanjutkan dengan acara puncak Charity Concert sekaligus penggalangan dana pada Minggu (30/7/2017) berlokasi di The Park Mall. Acara tersebut dimeriahkan oleh  Kireishi, Slokaswara, Anak - anak dari YPAC, IR Vocal Group, IR Dance, dan IR Band.

Salah satu penampilan dalam Charity Concert International Relation Festival. (Dok. VISI/Laila)

Para penonton nampak antusias menyaksikan acara puncak tersebut. Mulai dari para remaja hingga orang tua terlihat begitu menikmati rangkaian konser yang diadakan dari siang hingga malam. Juwita, salah satu penonton yang ditemui VISI mengaku acara ini sangat bermanfaat khususnya bagi mahasiswa mahasiswa.

“Sebagai mahasiswa, kita seperti diajak untuk menumbuhkan rasa kemanusiaan kepada orang lain, dan berharap kesadaran masyarakat akan acara-acara charity seperti ini," pungkasnya. (Mira, Laila)

Tuesday, July 25, 2017

Prosedur Penggunaan Pipa di SPAM UNS (Masih) Salah

Prosedur Penggunaan Pipa di SPAM UNS (Masih) Salah

Reservoir di Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) UNS. (Dok.Redaksi/VISI)
Fadhil (20) sibuk mengamati jamur dan kotoran yang mulai bermunculan pada galon air minum di kontrakannya. Mahasiswa rantau yang hampir setiap hari mengonsumsi air minum gratis dari kampusnya ini tak menduga bahwa niat berhematnya ternyata justru memunculkan risiko mengeluarkan uang berlebih untuk biaya pengobatan. Pada hari ketiga setelah menyimpan air SPAM UNS ke dalam galon, ia akhirnya membuang air yang tersisa karena tak ingin mengalami risiko tersebut.

“Satu hari itu udah nggak enak rasanya. Terus dua hari mulai bau, tiga hari sudah bau banget. Terus akhirnya saya buang,” ungkap Fadhil ketika menceritakan pengalamannya menyimpan air minum SPAM UNS kepada VISI, Kamis (8/6/2017).

Setelah mengalami pengalaman tidak menyenangkan tersebut, hingga saat ini Fadhil dan teman-teman satu kontrakannya hanya menyimpan setengah galon air SPAM dan lebih memilih melakukan isi ulang di tap water kampus setiap hari. Meski harus lebih sering bolak-balik ke kampus karena kebijakan tersebut, ia mengaku tidak keberatan. 

“Takutnya nggak habis dan malah jadi bau,” imbuh Fadhil.

Sebenarnya Fadhil tak seorang diri. Aziz (21), salah seorang mahasiswa UNS yang juga sering mengonsumsi air minum SPAM UNS turut mengungkapkan keluhannya terhadap kualitas air yang meragukan. 

“Kalau kondisi lagi nggak sehat terus minum air yang dingin, tenggorokannya jadi kering, seperti radang,” ungkap Aziz kepada VISI di sela-sela kesibukan kuliahnya.

Menindaklanjuti keluhan mahasiswa terkait kondisi air minum yang kurang layak, VISI kemudian mencoba melakukan klarifikasi perihal tersebut kepada pengelola SPAM UNS. Sayangnya, pihak SPAM tidak banyak memberi keterangan dan hanya menyodorkan hasil uji lab.

“Ini buktinya, hasil uji lab memang menunjukkan kalau tidak ada masalah,” ungkap salah seorang pegawai SPAM sambil menyodorkan lembar hasil uji kandungan air SPAM kepada VISI, Jumat (9/6/2017).

Jika meninjau SOP yang memang sudah ketat, kemungkinan terjadinya proses pencemaran air selama proses pengolahan terbilang sangat kecil. Terlebih, sistem pengolahan sudah dibuat sedemikian rupa tertutup sehingga tidak memungkinkan ada kotoran yang masuk.

Sebelum melalui proses pengaliran di pipa, proses pembersihan sendiri dilakukan ke dalam beberapa tahap. Setelah tahap pengambilan air baku dari dalam sumur berkedalaman 120 meter, pompa kemudian mendorong air naik hingga masuk ke media filter. Di dalam media filter, dilakukan dua proses pembersihan, yakni sign filter dan carbon filter. 

Sign filter bertujuan untuk menyaring kotoran, sedangkan carbon filter bertujuan untuk mengikat rasa dan bau.  Setelah dilakukan dua proses di media filter, kemudian air dipompa lagi agar masuk ke micro filter. Di dalam micro filter, dilakukan proses penyaringan dengan ukuran membran 0,01 mikron. 

Kemudian, dari micro filter air dipompa lagi ke ultra filter untuk dilakukan penyaringan kedua dengan ukuran membran lebih kecil. Setelah dua kali pembersihan dan dua kali penyaringan, air yang sudah 80% bersih dipompa ke reservoir.  Dari reservoir air lalu dibersihkan lagi untuk diarahkan ke menara. Menara air di SPAM sendiri memiliki daya tampung 30 meter kubik. Air di menara kemudian dialirkan ke titik-titik yang ada di kampus menggunakan gravitasi dan media berupa pipa bawah tanah. 

Proses di media filter dan ultra filter tidak serta merta berjalan tanpa regulasi tambahan. Di media filter misalnya, berlangsung backwash system yang secara otomatis membersihkan air yang sudah tertampung tiap 60 menit sekali. Sedangkan pada ultra filter, berlangsungnya proses pembersihan otomatis kurang lebih sekitar 30 menit sekali. Alat-alat dalam semua filter pun mengalami pembersihan otomatis tiap 90 kali penggunaan.

Pendapat Ahli

Karena tak kunjung mendapat keterangan secara lebih mendalam dari pihak SPAM UNS, VISI kemudian menemui ahli kimia dan penjernihan air, Dr. Pranoto. Ia kemudian menuturkan jika keberadaan material-material seperti pasir dan batu dalam air minum sangat berpotensi membahayakan kesehatan siapapun yang mengonsumsinya.

Pranoto yang sekaligus merupakan dosen di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS ini juga menambahkan bahwa sebaiknya pihak SPAM tetap melakukan pengelolaan air yang mengacu indikator-indikator pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) Nomor.42 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Indikator-indikator dalam baku mutu tersebut antara lain menyebutkan bahwa kandungan kimia air minum seperti logam, timbal, kalsium, magnesium, dan sebagainya—termasuk bakteri E.coli dan bakteri pathogen—tidak boleh melebihi batasan-batasan tertentu. 

Sementara itu, menanggapi keluhan beberapa mahasiswa mengenai keanehan rasa air minum SPAM, Pranoto tidak berkenan menjawab terlalu spesifik. Menurutnya, sebaiknya dilakukan pengujian secara ilmiah karena ada banyak faktor yang memungkinkan perubahan rasa. 

Bisa jadi air SPAM yang sudah dalam keadaan bersih tercemar di dalam pipa sewaktu perjalanan menuju titik-titik distribusi. Bisa pula hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi dispenser atau tap water, sehingga di titik satu dan yang lainnya bisa berbeda. 

Dia berpendapat penyebab permasalahan air SPAM UNS adalah prosedur pengaliran air dalam pipa di SPAM UNS tidak tepat. Seharusnya, pada dispenser SPAM UNS air panas dan dingin tidak dialirkan pada pipa yang sama. 

Air panas sebaiknya dialirkan pada jenis pipa berbeda. Hal ini dikarenakan penggunaan pipa biasa pada air panas akan menyebabkan bagian dalam pipa terkelupas. Terkelupasnya bagian dalam pipa ini dapat mencemarkan air. Bahkan, menurut Pranoto kandungan logam atau timbal pada pipa yang mencemari air dapat menyebabkan penyakit-penyakit berbahaya.

"Lebih bahayanya jika air terkena kandungan logam, dapat memincu kanker, misalnya kanker prostat. Sementara, apabila mengandung timbal (lebih banyak-red), maka dapat menurunkan kemampuan otak seseorang,” pungkas Pranoto.

(Redaksi LPM VISI)

Monday, July 17, 2017

Event Edukasi Tahunan SBC Kembali Digelar

Event Edukasi Tahunan SBC Kembali Digelar


Salah satu pertunjukan musisi kota pada acara exhibition Solo Batik Carnival yang berlangsung di Benteng Vastenburg pada Minggu (16/7/2017). (Dok.VISI/Laila)

lpmvisi.com, Solo - Event tahunan Kota Solo, Solo Batik Carnival (SBC) yang merupakan ajang edukasi budaya kembali digelar. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pagelaran budaya yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat Solo ini diadakan selama tiga hari berturut-turut yaitu 14-16 Juli 2017. Sekitar 150 hingga 180 peserta turut berpartisipasi dalam acara yang sudah memasuki penyelenggaraan kesepuluhnya tersebut.

"Menurut budaya Jawa, dasawarsa merupakan pencapaian puncak prestasi, apalagi sepuluh tahun berturut-turut," jelas Sotama (61) selaku perwakilan panitia SBC 2017 saat ditemui VISI di salah satu stand batik pada Minggu (16/7/2017) kemarin.

Tahun ini, perayaan prestasi satu dasawarsa Solo Batik Carnival mengusung tema "Astimurti Kawijayan" yang merupakan kolaborasi tema-tema SBC sebelumnya. Sebelumnya, SBC pernah mengangkat beragam tema lain, seperti Wayang, Sekar Jagad, Topeng, Ratu Pantai Selatan, hingga Mustika Jawa Dwipa.

Tak hanya itu, panggung exhibition yang bertempat di Benteng Vestenburg juga turut menampilkan musisi-musisi daerah yang sekaligus menjadi penutup dari rangkaian acara SBC tahun ini. Suasana semakin meriah karena terdapat banyak stand makanan dan minuman di sekitar area panggung.

"Menurut saya dan panitia yang lain, kalau cuma grand carnival kan sayang sekali. Apalagi event ini hanya setahun sekali," ungkap Jessica selaku koordinator volunteer.

Meski persiapan panitia sangat mendadak, yakni hanya satu bulan, Jessica menilai acara tahun ini berjalan dengan lancar. Terlebih, antusias masyarakat terlihat semakin meningkat.

"SBC merupakan cerminan budaya Kota Solo. Kalau bisa, harus selalu ada dan lebih inovatif lagi setiap tahunnya," harap Jessica kemudian.

Selain sebagai hiburan masyarakat, SBC juga dinilai sebagai penyampai edukasi budaya Solo. Acara ini menyuguhkan kesenian batik Solo dengan kemasan modern yang disukai masyarakat. Apalagi tahun ini juga dilengkapi dengan penampilan Tari Gambyong dan Tari Golek Sri Rejeki yang merupakan tari tradisional Solo yang harus diperkenalkan dan dilestarikan.

"Tentunya ini sangat bermanfaat terutama untuk anak-anak agar lebih mengenal budaya daerahnya," ucap Sri (60) ketika diumpai VISI di kursi penonton pada acara penutupan. Kepada VISI, dengan bangga ia memperkenalkan anak cucunya yang ikut serta bersamanya.

Antusiasme masyarakat dari dalam dan luar kota, bahkan turis mancanegara dinilai cukup baik. Untuk itu, acara tahunan ini diharapkan dapat memberi manfaat serta pengaruh yang lebih besar kepada masyarakat terutama dalam hal edukasi. Tentu saja, dengan disertai peningkatan melalui inovasi yang lebih baik agar mampu menarik lebih banyak wisatawan hingga kancah internasional. (Laila,Erna)


Friday, July 7, 2017

Tegar

Tegar


(Dok.internet)

Oleh : Laila Mei Harini


Kadang semua terasa hambar, meski intuisi tentang manis dan asam perlahan membungkam kenyataan.

Juga kau, yang mungkin akan lari, meninggalkan problematika brutal yang tampak tak bergeming

Menghindar memang semudah mengubah putih menjadi abu-abu,
atau sepiring nasi menjadi semangkok bubur aneka rasa

Namun itu bukan jalan keluar, saat kau terjebak di mercusuar penuh masalah sekalipun

Bahkan dengan serbuan rudal yang terasa rancu akan konflik, kau masih bisa menyerbu hari dengan jemari,
atau hujan deras dengan nafas

Ambil langkah yang membuat barisanmu selalu berseteru di depan, demi membombardir prahara bisu

Bukan hilang ditelan ego, khas pecundang malang


Badai memang pasti berlalu, namun seberapa kuat kau bertahan, tegar, dan berdiri gagah tanpa berteriak, menyerah!

Sunday, July 2, 2017

Sekelumit Remeh Temeh dari Istana Pak Beye

Sekelumit Remeh Temeh dari Istana Pak Beye

Judul : Istana Bla Bla Bla (Dari Sedot WC sampai Sayembara Berburu Kucing) | Pengarang : Wisnu Nugroho Penerbit : Noura Books (PT. Mizan Publika) Dimensi 14x21 cm | Tebal  : 276 halaman Cetakan : Cetakan I Juli 2014

Oleh: Eko Hari Setyaji


Kucing di istana tidak memangsa tikus di istana karena sama-sama memburu sisa-sisa jamuan dan pesta di istana (Sayembara Berburu Kucing)

Dalam benak saya, telah ter-stereotype bahwa kucing adalah hewan yang bermusuhan dengan tikus dan hidupnya seolah-olah ditakdirkan untuk berburu tikus, akibat terlalu sering menonton serial kartun Tom and Jerry. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari seolah hal tersebut hanya karangan semata, sampai umur saya saat ini, saya belum pernah sama sekali melihat dengan mata kepala sendiri, kucing berburu tikus. Akan tetapi, pemandangan yang kerap saya jumpai ialah kucing hewan pemalas dan tak pernah mau berburu tikus – layaknya kodrat kucing di serial kartun Tom and Jerry – justru kucing dan tikus saling berebut jatah makan majikan atau orang yang rumahnya kerap disinggahi kucing.

Mungkin hal itu pula yang mengilhami kucing-kucing lingkungan istana kepresidenan tak mau menjalankan kodrat dengan semestinya, justru bekerjasama dengan tikus bahu membahu berburu makanan sisa jamuan dan pesta di istana kepresidenan periode 2004-2009.  Jengkel dan jengah dengan polah kucing di istana, sayembara berburu kucing  pun digaungkan. Petugas istana pun dikerahkan guna menangkap dan membersihkan kucing-kucing dari lingkungan istana. Usut punya usut, kucing tersebut bukanlah kucing yang secara khusus dipelihara penghuni istana maupun Pak Beye sekaluarga, melainkan ialah kucing-kucing terlantar yang dibuang majikannya di sekitar Monas dan berkumpul ke istana karena mencium aroma sedap makanan sisa jamuan dan pesta disana. Walhasil, sayembara pun sukses menurunkan populasi kucing di Istana Kepresidenan.

Kucing sudah beres, tikus masih ada. Jika pemerintahan presiden Jokowi gencar mengkampanyekan pemberantasan tikus (baca: koruptor), maka pemerintahan Pak Beye membasmi tikus dalam makna sebenarnya. Untuk mengatasi permasalahan tikus istana, pegawai istana sampai membayar perusahaan asing guna menjaga kebersihan istana dan membasmi hewan sejenis tikus. Kedatangan petugas berseragam ISS yang bermarkas di Copenhagen, Denmark itu pun akhirnya mampu mengurangi populasi tikus yang berkeliaran di lingkungan istana.

Menjadi jurnalis Kompas di kompleks istana, Wisnu Nugroho tak hanya menjalankan kewajiban jurnalisnya, namun ia juga merekam sekelumit kisah Pak Beye, keluarga dan kabinet yang jarang terekspos publik. Hal-hal tidak penting yang sebenarnya turut andil sebagai kisah dibalik layar lahirnya kebijakan yang dikeluarkan pemerintahan Pak Beye dan kabinet selama dua periode (2004-2014) ditulisnya di buku ini.

Remeh Temeh

Wisnu menjabarkan kejadian-kejadian kecil menjadi seolah luar biasa penting – yang memang cocok dengan gaya pemerintahan Pak Beye “mementingkan hal-hal tak penting”. Sindiran tajam namun kocak menjadi ciri khas Wisnu yang bertebaran di sepanjang buku. Tentang Pak Beye yang gemar merombak kabinetnya, selalu berusaha menghapuskan KKN namun akhirnya menciptakan jabatan-jabatan baru bagi para kerabatnya, tentang hobi membentuk berbagai jenis “tim” dan “komite” yang seringkali berbenturan dengan tugas para anggota resmi kabinet.

Terdiri atas tiga plot yang terbagi menjadi: “Bla”, “Bla Bla”, dan “Bla Bla Bla”, Wisnu menulis 34 kisah remeh-temeh istana dengan sudut pandang jurnalis politik. Sifat Pak Beye yang seringkali jaim, reaktif menanggapi keluhan rakyat dan berita negatif di luar sana, serta kecenderungannya untuk melebih-lebihkan yang tidak perlu, digambarkan dengan sangat pas oleh Wisnu yang memang cukup lama menyaksikan sendiri keseharian presiden ke-6 kita ini. 

Mendapat cukup banyak komentar positif dari beberapa tokoh, buku ini cukup menarik dari segi ilustrasi, karena layoutnya yang variatif. Meskipun begitu, penempatan kutipan di beberapa bagian cerita terlalu memaksakan dari segi layout karena hanya untuk meminimalisir ruang kosong semata. 


“Karena banyaknya hal tidak penting, terjaganya hal-hal penting selama dua periode Pak Beye tidak perlu dikhawatirkan. Bukankah hal-hal penting akan tetap menjadi penting ketika banyak didapati hal-hal tidak penting? Seperti eksistensi orang suci yang terjaga karena hadirnya para pendosa”.

Thursday, June 29, 2017

Menelisik Tindak Plagiasi Pada Mahasiswa

Menelisik Tindak Plagiasi Pada Mahasiswa

Dok. VISI

Tindakan plagiasi menjadi masalah serius yang menghantui kalangan akademisi di perguruan tinggi. Himbauan yang kerap didengungkan untuk para akademisi di lingkungan kampus−baik dosen dan mahasiswa− nampaknya belum dijadikan perhatian serius dalam membuat sebuah karya ilmiah.

Disadari atau tidak, larangan untuk melakukan plagiasi oleh sivitas akademika di perguruan tinggi sudah diatur dalam Permendiknas No. 17 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi. Sedangkan, Universitas Sebelas Maret (UNS –red) melarang tindakan plagiasi sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Rektor UNS No. 828/H27/KM/2007 tentang Tata Tertib Kehidupan Mahasiswa di UNS. Namun, tindakan plagiasi masih marak ditemukan oleh sivitas akademika pendidikan tinggi, khususnya mahasiswa. Berikut ini adalah laporan redaksi dalam menelisik tindakan plagiasi dikalangan mahasiswa UNS.

Motif

Tindakan plagiasi merupakan tindakan yang dilarang bagi seluruh sivitas akademika perguruan tinggi. Namun, tindak kejahatan intelektual tersebut masih ‘dihalalkan’ oleh mahasiswa dengan beribu alasan. Anto (bukan nama sebenarnya –red), mahasiswa S1 Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD -red) UNS, merasa santai dalam melakukan tindakan plagiasi. “Santai , dosen mah cuek, ga merhatiin gituan, asal numpuk tugas aja“, ujar ia.

Senada dengan Anto, Deni (bukan nama sebenanya –red), mahasiswa D3 Periklanan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP –red) UNS, mengatakan bahwa banyak dosennya yang tidak peduli dengan tindak plagiasi. “Alah skors apa, dosen mah banyak yang ga peduli ama gitu-gituan plagiasi-plagiasi apalah”, pungkas ia. Ia pun mengatakan bahwa faktor suasana hati memengaruhi motivasi dalam melakukan tindakan plagiasi. “kalo mood bagus ya baca-baca dikit cari-cari benar tidaknya, kalo mood lagi jelek ya wusss... langsung jadi (melakukan plagiasi –red)”, kata Deni dengan nada santai.

Tindakan plagiasi yang dilakukan mahasiswa ternyata tidak sebatas karena ada kesempatan. Namun, kekecewaan mahasiswa terhadap kinerja dosen juga dapat menjadi pendorong tindakan plagiasi terjadi. Sebut saja Diana (bukan nama sebenarnya –red), yang melakukan plagiasi karena dosen mata kuliah yang memberikan nilai acak pada tugasnya. “Jadi, mau ngerjain serius apa nggak, gak akan ada bedanya”, pungkas mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNS tersebut. Ia pula mengatakan bahwa ada dosen yang memberikan nilai acak pada tugas mahasiswa tersebut tidak peduli apakah pekerjaan mahasiswanya plagiasi atau tidak.

Hal serupa juga dialami dengan Yasmin, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UNS, yang merasa dosennya tidak peduli dengan pekerjaan mahasiswanya. “Lebih karena dosen yang ga peduli sih, soalnya mau kita ngerjain serius atau nggak ga ada gunanya, akhir-akhirnya nilainya cuman random aja”, kata Yasmin. Ia pun menambahkan jika dirinya melihat karakter dosen terlebih dahulu sebelum melakukan plagiasi. “Kalau dosennya galak, ya mikir-mikir mau plagiasi. Pasti bakal buat tugas yang orisinil”, ujar ia dengan ketus.

Selain karena tidak pedulinya dosen pada plagiasi dan kinerja dosen yang mengecewakan, plagiasi juga dilakukan oleh mahasiswa karena kekurangan literasi. Mahasiswa tidak mengetahui pembahasan yang cocok untuk topik tugas mereka. Hal ini terungkap saat redaksi mewawancara Rama (bukan nama sebenarnya –red), mahasiswa D3 Perpustakaan FISIP UNS angkatan, yang mengaku menggunakan tugas kakak tingkat sebagai referensi. “Kebanyakan karena bingung ya mau bahas bahane gimana, jadi yawes plagiat deh. Jadi kaya nek udah ada acuan, nah mau ngembanginnya gimana terus jadi pengen lihat punya kating (kakak tingkat –red)”, pungkasnya.

Alasan kurangnya literasi juga muncul dari Bayu (bukan nama sebenarnya –red), mahasiswa D3 Periklanan FISIP UNS, yang memilih co-paste tulisan kakak tingkatnya untuk penulisan landasan teori di tugas akhirnya. Selain itu, faktor kemalasan mahasiswa juga menjadi pendukung kurangnya mahasiswa mencari literasi. “Ya sebenarnya males juga baca buku, toh landasan teorinya sama itu-itu juga”, ujar Bayu.

Metode

Beragam metode dilakukan oleh mahasiswa dalam melakukan plagiasi. Mulai dari copy-paste sampai dengan plagiasi ide pemikiran tulisan dilakukan oleh mahasiswa. Hal ini disampaikan oleh Diana sebagai berikut, “Ambil ide tulisannya aja. Nanti tak tambah-tambahin tak ubah dikit-dikit”, pungkasnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Yasmin, namun ia mengaku tidak pernah melakukan tindakan copy-paste tulisan orang lain ke tulisannya. “Kalau co-paste total yg 100% ga pernah. Aku kaya cuman copas idenya tapi tak kembangin sendiri, atau tak ganti pakai kata-kataku. Kalau co-paste plek bener-bener ga pernah sih”, ujar ia.

Metode serupa juga dilakukan oleh Anto. Ia memilih melakukan copy-paste tulisan orang lain dan mengeditnya agar menyamarkan tindak plagiasi yang ia lakukan. “Kan gampang tinggal salin tempel , ketik-delete-ketik-delete, kasih pemanis dikit dah jadi”, pungkasnya dengan tenang.

Mengenai sumber plagiasi, para narasumber mengatakan bahwa banyak bahan yang dapat dijadikan sumber plagiat. Sumber yang digunakan mulai dari blog, paper, sampai tugas akhir kakak tingkat. Hal tersebut dikemukakan oleh Yasmin, ia berkata, “Semua kelihatannya tak gabung-gabung gitu. Ebook, jurnal, blog, makalah, karya ilmiah”, ujarnya.

Selain Yasmin, Rama pun mengatakan hal serupa. Namun, ia lebih memilih untuk merekonstruksi kembali pekerjaan kakak tingkatnya yang sekiranya berkualitas. “Pernah. Kalo plagiasi sih buat tugas-tugas biasa. Kaya punya kating (kakak tingkat –red) yang udah oke sedikit di remake lah”, kata Rama. Untuk menyamarkan tindak plagiasi yang dilakukan, ia mengaku mengembangkan kembali ide tulisan dari sumber yang ia plagiat.

Dalam melakukan tindakan plagiasi, pemalsuan daftar pustaka juga sarat terjadi. Hal ini seperti yang diungkapkan Deni. Ia berkata, “Elah, daftar pustaka mah gampang kan di makalah download gitu juga ada daftar pustakanya, tapi yang susah kalo makalahnya ga ada daftar pustakanya, suka bingung ngarangnya gimana”, ujar Deni.

Adakah Tindakan Dosen?

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan beragam narasumber dari mahasiswa, redaksi mendapatkan bahwa tindakan dosen dalam menangani kasus plagiasi masihlah minim. Rizki, mahasiswa D3 Periklanan FISIP UNS mengatakan bahwa dosen hanya memberikan tindakan yang ringan pada tindak plagiasi. “Aku sih mikirnya aman-aman aja, paling kalo ketahuan sama cuma suruh revisi dikit ,lagian gak sedikit juga kan yang copas-copas gitu? Ya sebenarnya males juga baca buku, toh landasan teorinya sama itu-itu juga”, ujar ia.

Hal senada juga diutarakan Fuad, yang ketahuan melakukan plagiasi saat sidang tugas akhir. “Haha.. pernah pas ujian kemarin, disuruh revisi daftar pustakanya aja”, kata Fuad. Selain itu, ia menambahkan bahwa tindakan plagiasi yang dilakukan olehnya tidak terlalu dipikirkan oleh dosen.

Berbeda dengan Fuad, Diana mengatakan bahwa ia tidak pernah mendapatkan peringatan dari dosennya karena melakukan plagiasi. “Engga pernah soalnya dosennya random banget ngasih nilai, jadi kaya ngga peduli gitu”, ujarnya. Hal serupa juga dikatakan Yasmin. Ia berkata, “Lebih karena dosen yang ga peduli sih, soalnya mau kita ngerjain serius atau nggak ga ada gunanya, akhir-akhirnya nilainya cuman random aja”, kata Yasmin. Ia pun mengatakan pula bahwa dosen terlihat sepele dengan masalah plagiasi.

Selain itu, tidak ada perbedaan pemberian nilai tugas mahasiswa antara pekerjaan yang plagiasi dengan yang tidak. Diana mengatakan bahwa ia pernah mendapatkan nilai lebih rendah daripada temannya yang melakukan plagiasi, padahal ia mengerjakan tugas itu secara orisinal.
“Pernah. Karena random yaa nilainya sama semua sekelas, 70/80 gitu. Malah pernah ada dosen yang killer anti plagiat club, nah salah satu temenku tu copas bener bener copas dari internet semuanya. Dapet A+. Sedangkan aku yang ngerjain sendiri dapet nilai A-“, ujar Diana dengan kesal.

Tidak adanya koreksi dari dosen juga memengaruhi niatan mahasiswa dalam melakukan plagiasi. Seperti yang dikatakan Anto. Ia berkata, “Gatau sih, selama ini ga dapet teguran atau apa-apa dari dosen, dosen juga ga ngasih tau kerjaan kita bener apa salah tau-tau nilainya keluar aja”. Ia juga mengatakan mendapatkan nilai B+ (lebih dari sama dengan 75 -red) dari dosen sudah membuatnya gembira.

Pandangan Dosen

Di Lingkungan UNS, tindakan plagiasi sering sekali ditemui oleh mahasiswa dari berbagai angkatan. Hal ini diungkapkan oleh salah satu dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNS, Diah Kusumawati, “jadi semua angkatan saya selalu bisa menemukan ada saja mahasiswa yang melakukan tindakan plagiasi.” Sebelum adanya aplikasi pendeteksi plagiasi secara otomatis, Dosen yang akrab disapa Didi ini mengungkapkan dirinya melakukan cek terhadap tugas mahasiswa secara manual. “Jadi biasanya ngecek tugas mahasiswa dalam satu kelas saya mengerjakan selama satu minggu biar gak lupa.” imbuhnya.

Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNS, Sri Hastjarjo, mengatakan bahwa tindak plagiasi sering ditemukan, baik karena unsur teknis maupun kesengajaan penulis.
“Ada beberapa praktek plagiarisme, yang pertama sifatnya teknis, artinya mahasiswa yang bersangkutan mengambil dari sumber tertentu tetapi tidak mencantumkan sumber kutipannya. Yang kedua, penulis menjiplak karya orang lain. Jadi dia benar-benar meng-copy, entah itu makalah, paper maupun pekerjaan yang lain dan kemudian diganti dengan identitasnya,” ujar Hast.

Ada beragam penyebab plagiasi tumbuh subur dikalangan mahasiswa. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya bimbingan penelitian yang kurang maksimal. Hal ini diungkapkan oleh Sudarmo, Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UNS. Ia mengatakan bahwa seharusnya dosen berfungsi sebagai gatekeeper dalam menanggulangi tindak plagiasi. Namun, fungsi gatekeeper tersebut belum berjalan secara maksimal.

“Dosen harus lebih teliti dalam membimbing. Kita tahu dosen itu tugasnya banyak, dan kalau tugas banyak itu biasanya jadi kurang cermat. Akhirnya, tugas/ skripsi yang dikonsultasikan mahasiswa ke dosen tidak diperhatikan,” ujar Darmo.

Hal serupa juga dikatakan Wakil Rektor Bidang Akademik UNS, Sutarno, yang mengatakan kewajiban mengecek tugas mahasiswa merupakan hal terpenting bagi dosen. “Makanya Dosen itu harus teliti, ngajar paling cuman tiga SKS (Sistem Kredit Semester –red), ya mungkin ada penelitian sama pengabdian itu. Tapi ngajar ini penting, kan ini juga bagian dari pembentukan karakter,” pungkas Tarno.

Selain meningkatkan ketelitian dosen, tindakan plagiasi juga dapat dicegah dengan adanya perhatian dan himbauan secara serius kepada mahasiswa. Adanya sanski tegas untuk plagiator juga perlu diterapkan. “Kalau ada tindak plagiasi di skripsi, tesis, atau disertasi, ya tinggal cabut saja ijazahnya. Kalau di tugas kuliah, mahasiswa yang plagiasi tidak usah dikasih nilai,” ujar Tarno dengan tegas.

Selain itu, adanya regulasi yang pasti tentang persentase suatu karya ilmiah bisa dikatakan sebagai plagiasi. “Jadi sebetulnya harus ada aturan yang tegas berapa persen sebetulnya yang masuk tindakan plagiasi.” ungkap Didi.

Perkembangan teknologi di dunia pendidikan juga telah merambah kepada antisipasi untuk mengangulangi plagiarisme. Dalam menghadapi plagiarisme, UNS telah menggunakan Turnitin sebagai alat pendeteksi plagiasi yang dikelola oleh UPT (Unit Pelaksana Teknis -red) Perpustakaan UNS.

“Jadi Turnitin ini udah sejak dua tahun lalu kita sosialisakan ke smua prodi, lewat rapat bidang satu. Kan kita melanggankan untuk 2000 pengguna, kalo kita punya 1800-an dosen harusnya itu cukup, semua tugas bisa dimasukkan lewat situ dan dipastikan tidak ada plagiasi.” Kata Tarno di ruang kerjanya.

Tarno menambahkan bahwa dalam pelaksanaannya, penggunaan Turnitin belum sepenuhnya dipakai oleh dosen. “Tidak semua dosen mau memakai ya mungkin karena meribetkan, misal ada 60 mahasiswa per matakuliah, kan cukup makan waktu juga untuk memakai, itu masalahnya,” pungkas ia.

Kendala dalam pengimplementasian Turnitin dalam menanggulangi plagiarisme juga terjadi karena kurangnya sosialisasi. Hal ini dikatakan oleh Sri Hastjarjo di ruang kerjanya. “UNS sendiri sebenarnya sudah mengadopsi software yang namanya Turnitin, hanya saja belum disosialisasikan secara luas ya. ... , Itu kayaknya kok saya belum pernah mendengar sosialisasi ke mahasiswa tentang pelatihan penggunakan alat tersebut,” ujar ia.

Dalam hal kurang luasnya sosialisasi, hal ini dibantah oleh Koordinator Layanan Koleksi Digital dan Koleksi Khusus (Jawa dan Hibah Buku Asing) UPT Perpustakaan UNS, Riah Wiratningsih. Riah, begitu sapaannya, mengatakan bahwa Turnitin telah disosialisasikan secara luas oleh UPT Perpustakaan UNS ke setiap fakultas.

Oh sudah, kami sudah menyosialisasikan. Kami melanggan Turnitin mulai akhir tahun 2014, sudah 2,5 tahun. Kami membeli kuota 2000 user dan sekarang sudah ada 1500 user di UNS yang melanggan Turnitin. Tinggal seperempatnya sekarang akun yang masih free. Tapi saya yakin, karena ada surat edaran wakil rektor bahwa setiap dosen wajib mengecekkan ke Turnitin jadi sudah banyak dosen yang minta akun Turnitin,” pungkasnya.

Ia pula mengatakan bahwa semua informasi terkait sosialisasi Turnitin telah diumumkan melalui portal library.uns.ac.id. Namun begitu, penyelenggaraan sosialisasi juga menemui tantangan, yaitu banyak peserta undangan yang ternyata tidak datang ke sosialisasi. Untuk itu, Riah berkata bahwa sivitas akademika dapat datang langsung ke UPT Perpustakaan UNS untuk dilatih menggunakan Turnitin.

“Untuk mengantisipasi yang belum tahu, sebenernya Pak Rochmadi (Kepala UPT Perpustakaan UNS –red) mengatakan bahwa para sivitas akademika bisa datang ke perpustakaan secara langsung. Mahasiwa juga boleh untuk mendapatkan training Turnitin secara langsung oleh pustawakan. Kalau mahasiswa sudah tahu, mahasiswa bisa kasih tahu ke dosen yang bersangkutan,” ujat Riah.  

Namun sebaik-baiknya sistem yang dibangun dalam mencegah plagiasi, faktor individu sivitas akademika menjadi penentu merebak atau tidaknya tindakan plagiasi. “Kejujuran individu menjadi titik kunci dalam memberantas tindak plagiasi. Walaupun begitu tetep pada akhirnya balik kepada individu ya. Sebagus apapun sistem, kalau memang seseorang itu niat untuk nrobos dia pasti akan menemukan caranya entah bagaimana,” pungkas Sri Hastjarjo.

Selain itu, penekanan untuk mematuhi etika akademis juga dilakukan. “Memang dari segi mahasiswa, penekanan dari etika akademis terus menerus dilakukan. Dikatakan berkali-kali oleh dosen dalam kontrak belajar kalau sampai ada plagiarise resikonya ini, ini, ini. Selain itu juga dosen juga menekankan setiap kali presentasi, penulisan makalah jangan sampai praktek itu terjadi. Tapi kembali lagi balik ke diri tiap-tiap orang ya”, ujar ia. (Redaksi LPM VISI FISIP UNS)

Thursday, June 15, 2017

Tradisi Bubur Samin Gratis di Masjid Darussalam Masih Berlangsung

Tradisi Bubur Samin Gratis di Masjid Darussalam Masih Berlangsung

Antusiasme masyarakat pada acara pembagian bubur samin di Masjid Darussalam, Jeyengan, Solo.
lpmvisi.com, Solo - Ada tradisi unik yang menjadi agenda rutin tiap bulan Ramadan di Masjid Darussalam, Solo. Setiap hari, menjelang waktu berbuka masjid yang terletak di Jalan Gatot Subroto No.161, Jeyengan, Serengan tersebut membagikan bubur samin secara gratis kepada warga sekitar dan masyarakat umum. Tradisi tersebut telah rutin dilakukan sejak 20 tahun lalu.

Para panitia pembagian bubur rata-rata membagikan bubur sebanyak 175 sampai 200 porsi kepada warga setempat setiap harinya. Sementara itu, 300 porsi bubur lainya dibagikan kepada masyarakat umum.

“Kan ini disukai sama semua orang, dari anak kecil sampai orang tua,” jelas Syaroh selaku panitia pembagian bubur ketika diwawancarai VISI pada Jumat (9/6/2017) kemarin.

Bahan dasar yang digunakan untuk membuat bubur samin di Masjid Darussalam. (Dok.VISI/Laila)
Syaroh menambahkan bahwa setiap harinya panitia bisa menghabiskan hingga 48 kilogram beras, ditambah cincangan daging sapi, aneka sayuran, bawang Bombay, dan rempah-rempah untuk bumbu penyedapnya. Bahan-bahan ini dimasak oleh lima orang juru masak. Proses memasak sendiri biasanya dilakukan selepas salat dzuhur. Karena mengaduk nasi menjadi bubur merupakan pekerjaan yang melelahkan, para juru masak saling bergantian dalam proses mengaduk. Setelah diaduk selama dua jam, bubur-bubur tersebut kemudian siap dibagikan kepada para warga yang sudah mengantre.

Proses memasak bubur samin di Masjid Darussalam, Jeyengan, Solo. (Dok.VISI/Laila)
Tak lama salat ashar berjamaah di masjid usai, panitia memberi aba-aba. Satu persatu warga langsung mengantre berbaris sambil membawa wadah masing-masing. Proses pembagian dilakukan berulang-ulang hingga seluruh warga yang antre mendapat jatah.

“Gratis kan, juga enak buburnya untuk buka puasa,” ujar Restu (27), salah seorang warga yang ikut mengantri untuk mendapatkan bubur pada Jumat (9/6/2017).

Sumber permodalan untuk pembuatan bubur Samin berasal dari para donatur yang membantu masjid. Selain gratis, rasa enak dan gurih menjadi alasan utama bagi warga untuk ikut mengantri bubur. Di luar bulan Ramadhan, Masjid Darussalam juga mengadakan pembagian bubur samin setiap perayaan Assyuro dan malam Nisfu Syaban. (Laila)