Saturday, October 14, 2017

Sulitnya Memindai Sisi Cacat Lionel Messi

Sulitnya Memindai Sisi Cacat Lionel Messi

Lionel Messi sedang merayakan gol pertama timnya pada laga Kualifikasi Piala Dunia melawan Uruguay, 1 September 2016. (Dok. Internet)

Oleh: Herdanang A Fauzan

“Semua yang kutahu tentang moralitas dan kewajiban pria, aku berutang pada sepakbola,” ungkap Albert Camus pada suatu titik dalam hidupnya. Camus barangkali merupakan satu dari segelitntir filsuf yang dalam periode kehidupan singkatnya belajar dari sepakbola.

Melanjutkan ungkapan Camus, bagiku sepakbola memang olahraga yang paling mengejawantahkan dinamika hidup. Kita bisa belajar tentang bagaimana arogansi penguasa dengan menengok kehidupan berantakan Diego Maradona pada periode senja sepakbolanya. Dari karir seorang Ronaldo Nazario de Lima, kita dapat menarik premis bahwa segala yang ada di dunia ini bisa hilang dalam waktu sekejap, sebagaimana gelontoran prestasinya yang raib diguyur siraman alkohol pada waktu dua tahun saja.

Mencari yang positif pun tak sukar. Lihatlah pria Perancis bernama Zinedine Zidane itu. Dari pengabdiannya untuk Real Madrid—sebagai pemain dan kemudian pelatih—ia mengajarkan kesetiaan dididik dan mendidik di satu tempat. Seperti dua biji kacang yang tak lupa pada sang kulit.

Namun, bahkan sosok Zidane tak luput dari cacat. Bagi tuan dan puan yang pernah menyaksikan permainan Zizou semasa muda, tentu sudah tak dapat ditampik lagi gaya bermainnya yang merepresentasikan keangkuhan khas pemain nomor wahid dunia. Semacam keangkuhan yang pernah ditunjukkan Maradona kala menggiring bola seorang diri dari sektor pertahanan hingga kotak penalti lawan, lalu menjebol gawang Timnas Inggris pada Piala Dunia 1968. Atau yang paling baru, serupa keangkuhan Neymar dan Cavani kala beradu rebut jatah tendangan bebas pada laga PSG melawan Lyon beberapa pekan lalu.

Andai Camus masih hidup di periode Zidane, kurasa sosoknya hanya akan bisa tertawa. Entah menertawakan kemalangan dari keangkuhan Zidane, atau mempercandakan lelucon lain tentang sepakbola.

Tapi, jika diberi kekuatan menghidupkan mayat sebagaimana yang dilakukan Orochimaru dalam serial anime Naruto, aku tak akan menghidupkan Camus di era Zidane. Dengan senang hati, aku lebih memilih menghidupkannya lagi saat ini, di era ketika jagat sepakbola berada di tangan pria mungil dari Argentina.

Lelaki yang konon tinggi badannya hanya 170 cm itu bernama Lionel Messi. Ia barangkali adalah pemain sepakbola terunik yang pernah kukenal di seluruh dunia. 

Ini bukan semata karena permainan lincahnya. Kalaupun hendak membahas performanya di atas lapangan, jelas tulisan ini tak cukup untuk menjlentrehkan bakat sang Mesiah. Kakinya seperti bermata. Tiap bersentuhan dengan bola, sepasang penyangga itu seolah dapat menebak kemana benda bulat itu harus dialirkan. Lima penghargaan Ballon d’Or rasanya lebih dari kurang untuk merepresentasikan kejeniusan Messi.

Lebih dari itu, hal paling unik dari Messi adalah betapa minim sisi negatif yang dimilikinya. Andai kita kilas ke belakang, nyaris semua pesepakbola yang pernah memegang suatu era memiliki sisi cacat yang tak sukar dideteksi.

Tak perlu lagi kubahas Maradona dan Ronaldo Nazario. Cukup tengok seorang pria bernama Ronaldinho. Pernah dijuluki raja tiki-taka, pemain bernama asli Ronaldo de Assis Moreira itu harus puas sisi buruknya terekspos setelah menjadi korban candu alkohol dan narkoba.

Atau mari kita tengok pria Brazil lain bernama Ricardo Kaka. Sempat melakoni periode emas di kota Milan, Kaka harus puas sisi cacatnya di luar lapangan terekspos. Setelah dicap pengkhianat karena hengkang ke Madrid bertahun-tahun silam, pekan lalu pemain yang kini merumput di Major League Soccer (MLS) Amerika itu mengatakan dirinya tak lagi menikmati bermain sepakbola sebagaimana dulu.

Ingin contoh lebih nyata?

Mari kita tengok kiblat lawan Messi yang bernama Cristiano Ronaldo. Tak ada yang perlu menafikkan talenta pria Portugis itu. Sebagian bahkan menyebutnya lebih baik tinimbang Messi. Namun, memindai sisi cacat Ronaldo—baik di dalam maupun luar lapangan—jelas bukan perkara sulit.

Cacat Cristiano di lapangan sudah terlihat kala ia mendorong wasit dan menerima skors lima pertandingan di La Liga pada awal musim ini. Di luar lapangan, para ukhti pengagum akhi-akhi bercelana cingkrang di Masjid Enha jelas bakal mencemooh kehidupan Ronaldo yang punya anak tanpa jelas asal muasal rahimnya.

Perlukah sisi gelap tersebut dibandingkan dengan Messi?

Kurasa tidak. Tanpa dijelaskan pun kalian pasti paham bagaimana Messi hidup di luar maupun dalam lapangan. Di luar panggung sepakbola, ia punya kehidupan idaman dengan kekasih yang sekaligus sepupu sahabatnya sejak kecil, Antonella Roccuzzo. Kehidupan yang bakal membuat para abege pembaca buku pra-nikah seketika umbelen dan memimpikan hal serupa.

Atau di dalam lapangan, sudah berapa kali Messi mengikhlaskan panggung protagonis untuk rekannya? Ia bahkan pernah memberikan jatah tendangan penaltinya hanya demi genapnya torehan gol Luis Suarez.

Dari itu semua, kurasa nyaris setiap kepala setuju jika memindai sisi cacat Messi ibarat mencari satu jarum di dalam tumpukan empat kwintal jerami. Tentu aku tak bermaksud menuhankan Messi. Pasti ada sisi cacat yang dimilikinya. Namun, sekali lagi kutekankan, sisi itu sukar untuk didapati—setidaknya hingga detik ini.

Kurasa andai Camus masih hidup, ia bakal mengatakan hal serupa. Lalu dengan langkah gontai sang filsuf akan berjalan ke bandara dan terbang ke Spanyol untuk menyaksikan laga terdekat FC Barcelona.

Ya, daripada memindai dan mencari-cari sisi cacatnya, lebih baik kita duduk dan menikmati permainan indah sang pemegang kunci peradaban sepakbola.

Friday, October 13, 2017

Pameran Arsip Lagu Indonesia Raya dibuka Hingga Kamis Pekan Depan

Pameran Arsip Lagu Indonesia Raya dibuka Hingga Kamis Pekan Depan

Lokasi Pameran Arsip Lagu Indonesia Raya di Kawasan Lokananta, Kamis (12/10/2017). (Dok.VISI/Metta)
lpmvisi.com, Solo – Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) cabang Surakarta masih membuka Pameran Arsip Lagu Indonesia Raya hingga Kamis (19/10/2017) pekan depan. Pameran kali ini telah resmi dibuka sejak Kamis (12/10/2017) kemarin dan dapat dikunjungi hampir setiap hari, kecuali Sabtu dan Minggu.

Berlokasi di kawasan studio rekaman sekaligus museum Lokananta, sekitar 20 literasi lagu Indonesia Raya tersuguh dalam pameran ini. Dengan menyuguhkan beragam artikel, dokumentasi rekaman ulang Lagu Indonesia Raya, buku-buku rujukan mengenai lagu Indonesia Raya, biografi, dan beberapa materi lainnya, pihak Lokananta slaku penyelenggara acara ingin masyarakat luas dapat mengenal Lagu Indonesia Raya secara lebih mendalam.

“Kalau dari Lokananta sendiri, kami ingin masyarakat mengetahui cerita-cerita di balik lagu Indonesia Raya karena itu merupakan identitas bangsa kita, sehingga semua orang harus tahu,” Jelas Danang ketika diwawancarai VISI di sela-sela pembukaan pameran, Kamis (12/10/2017) kemarin.

Pameran Arsip Lagu Indonesia Raya juga menyajikan beberapa lagu yang pernah direkam di Lokananta sebagai bentuk pengenalan aset-aset audio yang dimiliki studio rekaman tertua di Indonesia itu. Pihak panitia menyediakan snack dan minuman bagi para pengunjung yang datang. Untuk masuk ke area pameran, pengunjung juga tak dibebani biaya tiket masuk sepeserpun. Lebih lanjut, Danang juga menyampaikan bahwa pameran ini diselenggarakan sebagai sarana bertukar informasi mengenai seni dan budaya yang berbentuk kearsipan.

“Kami ingin mengajak masyarakat, entah itu perseorangan maupun komunitas untuk berbagi informasi, data, arsip, serta hal-hal yang sifatnya seni dan budaya sehingga nantinya bisa membentuk suatu bank data,” imbuh Danang.

Tifani (19), salah seorang pengunjung pameran mengaku tertarik dengan acara kali ini. Meski begitu, ia menyayangkan karena arsip yang ditampilkan tak banyak. Selain itu ada pula beberapa studio yang tak dibuka.

"Pamerannya (arsipnya-red) sedikit. Banyak studio-studio yang nggak dibuka," keluh Tifani. (Atta, Metta)

Saturday, September 23, 2017

Pemkot Solo Promosikan Pasar Tradisional Lewat Acara Festival

Pemkot Solo Promosikan Pasar Tradisional Lewat Acara Festival

Suasana salah satu titik pada lokasi Festival Kuliner, Kamis (21/9/2017). Festival Kuliner merupakan salah satu dari rangkaian acara Festival Ragam Pasar Tradisional 2017. (Dok.VISI/Fauzan)
lpmvisi.com, Solo Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menyelenggarakan Festival Ragam Pasar Tradisional bertajuk "Kumandange Pasar” pada Kamis (21/9/2017) hingga Minggu (24/9/2017). Bertempat di Benteng Vestenburg, 44 pasar tradisional yang tersebar di Kota Solo tercatat mengikuti acara ini. Dengan menampilkan beberapa dagangan khas masing-masing pasar, Pemkot Solo berniat untuk mempromosikan pasar-pasar tersebut kepada masyarakat luas.

“Kami mempromosikan pasar-pasar tradisonal ini supaya pasar tradisional tetap eksis pada era persaingan yang kompetitif. Di era globalisasi ini, kami ingin pasar trasional tetap ada, hidup, dan diminati masyarakat,” ungkap Sigid selaku Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Dinas Perdagangan Kota Solo saat ditemui VISI di sela-sela persiapan pembukaan acara, Kamis (21/9/2017).

Sigid menambahkan jika Festival Ragam Pasar Tradisional digelar untuk meyakinkan masyarakat agar menjadikan pasar tradisional sebagai tujuan utama berbelanja. Hal ini dibarengi  usaha Pemkot dalam membenahi pasar tradisional agar mampu bersaing dengan pasar modern yang kian menjamur. 

"Kami menjadikan pasar tradisional yang bersih, menyediakan eskalator serta lift, dan mempunyai pengelolaan yang profesional sehingga pasar tradisional tidak ketinggalan zaman,” tutur Sigid.

Gelaran festival ini menuai beragam respon dari para pedagang yang berpartisipasi. Dodi Sudarsono, Ketua Paguyuban Pasar Triwindu berharap kehadiran Festival Ragam Pasar Tradisional memiliki dampak baik pada peningkatan pengunjung di Pasar Triwindu. 

“Mudah-mudahan banyak pengunjung dari luar kota di pameran ini sehingga semakin menambah jumlah pengunjung di Pasar Triwindu,” tutur Dodi saat menyampaikan harapannya.

Berbeda dari Dodi, Jalil, salah seorang pedagang asal Pasar Sibela Mojosongo menyampaikan masukan untuk gelaran ini. Masukan Jalil terutama berkait konsep acara.

"Acaranya bagus, bisa memperkenalkan pasar tradisional kepada masyarakat luas. Tapi dari segi penyelenggaraan menurut saya belum menunjukkan sisi tradisionalnya."

Ia juga menambahkan saran bagi panitia penyelenggara untuk menyediakan brosur profil pasar tradisional. Tujuannya supaya pengunjung yang datang tidak hanya sekedar lewat dan melihat, tapi juga disuguhi informasi soal pasar.

Selain menampilkan 44 pasar tradisional di Kota Solo, Festival Ragam Pasar Tradisional turut menyelenggarakan festival kuliner, lomba mewarnai, talkshow di radio, hingga jalan sehat. Festival kuliner menjadi salah satu acara yang mampu menarik banyak pengunjung. Bahkan, sejumlah pengunjung yang VISI wawancarai mengaku tidak tahu-menahu soal kehadiran Fesitval Ragam Pasar Tradisional dan justru datang karena tertarik dengan acara festival kuliner.

“Saya tidak tahu ada Fesitval Ragam Pasar Tradisional di sini,” kisah Ervi (17), salah satu pengunjung yang datang bersama rekan-rekannya dari Matesih. 

Salah satu pemilik stan kesehatan yang enggan disebutkan identitasnya juga mengaku bahwa sebelum acara dimulai ia tidak mengetahui adanya Festival Ragam Pasar Tradisional. “Saya sebelumnya tidak tahu tetapi saya tertarik dengan festival pasar tradisional ini,” pungkasnya. (Iim, Metta)

Monday, September 18, 2017

Riuhnya Sepayung Indonesia 2017

Riuhnya Sepayung Indonesia 2017

Beberapa payung yang dipamerkan di acara Festival Payung Indonesia 2017. (Dok.Visi/Laila)
Lpmvisi.com, Solo - Festival Payung Indonesia kembali berlangsung tahun ini. Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, kali ini agenda rutin Kota Solo yang berlangsung selama tiga hari, yakni dari Jumat (15/9/2017) hingga Minggu (17/9/2017) tersebut dihelat di kawasan Pura Mangkunegaran.

Ratusan payung-payung khas nusantara yang ditata sedemikian rupa menarik minat pengunjung yang menyempatkan datang ke festival tersebut, atau sekedar berfoto dengan gambar latar aneka ragam payung. Pengunjung pun datang dari usia beragam, mulai dari anak kecil, dewasa, hingga orang tua. Mereka seolah berbaur menjadi satu dan membanjiri kawasan Pura Mangkunegaran dari pagi hingga larut.

Keramain pengunjung di festival payung Indonesia 2017. (Dok.Visi/Laila)
Agus (42), salah satu pengunjung yang selalu hadir di acara serupa tiap tahunnya, mengatakan jika acara kali ini lebih bagus. Menurutnya, salah satu indikator bagus atau tidaknya suatu acara adalah tingkat keramaian pengunjung.

"Lebih bagus dari tahun kemarin, soalnya lebih rame," ucapnya kala ditemui VISI di sela-sela acara, Minggu (17/9/2017).

Sementara itu, Sri (56) mengungkapkan ketertarikannya terhadap acara ini. Selain sebagai ajang edukasi, menurut Sri Festival Payung Indonesia dapat mengenalkan budaya-budaya lampau, khususnya payung kepada generasi muda. 

Apa yang diungkapkan Sri memang beralasan. Tak hanya di area lapangan, ketika masuk ke area pendopo Pura Mangkunegaran pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan aneka jenis payung. Umumnya payung-payung ini dipamerkan di stand-stand yang berjajar. Jenis payung pun beragam, mulai dari payung lukis, payung rajut, payung batik, payung kain, dan masih banyak lagi.

Salah satu stand pameran aneka payung  (Dok.Visi/Laila)

Beberapa payung yang dipamerkan di acara Festival Payung Indonesia 2017. (Dok.Visi/Laila)
Tak hanya pameran aneka payung, festival kali ini juga menampilkan berbagai acara lain, diantaranya fashion show payung dari desainer-desainer ternama. Sosok-sosok seniman kondang seperti Dian Oerip (Jakarta), Maharani Styawan (Klaten), Ofie Laim (Bandung), dan Rory Wardana (Solo) turut memamerkan kreasi masing-masing. Ada pula acara sarasehan, workshop fotografi, pentas tari, hingga lomba lukis payung anak.

Festival Payung 2017 sendiri mengusung tema Sepayung Indonesia. Tema ini merupakan simbol dari keberagaman budaya yang ada di nusantara. 

"Di Indonesia banyak payung tradisi, dan festival ini menjadi wadah dalam satu payung, payung-payung dari berbagai daerah," ungkap Lia selaku panitia acara kepada VISI.

Tingginya antusiasme pengunjung menyumbang andil besar dalam kemeriahan festival tahun ini. Tak hanya masyarakat lokal saja, beberapa bahkan berasal dari luar kota hingga luar negeri. 

"Harapannya pengunjung lebih tertib, terutama soal sampah yang pengunjung masih kurang sadar. Karena bukan cuma dari Indonesia (pengunjungnya-red), tapi juga dari internasional," lanjut Lia kemudian. (Laila)

Saturday, September 16, 2017

Mereka yang Hidup dan Mati Karena Koran

Mereka yang Hidup dan Mati Karena Koran

Ilustrasi Koran. (Dok. Internet)
Solekhan tak tahu lagi cara memohon nubuat. Kepalanya nyaris hilang akal. Saat ditemui di tempat kerjanya, penjual koran yang saban hari ngetem dengan gerobak kecil di depan Gerbang Kampus UNS itu hanya bisa menghela nafas dan mengisahkan kondisinya.

Delapan tahun silam, saat memutuskan berjualan koran di daerah Kampus UNS, pria berusia 50 tahun itu yakin mahasiswa yang notabene kaum intelektual membutuhkan asupan bacaan koran tiap hari. Kini, tahun demi tahun berlalu dan keyakinan Solekhan menggundul.

“Menurun sekali. Jadi di sini dulu saya jualan koran semuanya laku. Sekarang itu paling lima eksemplar per hari. Dulu bisa sampai terjual 50 eksemplar per harinya,” tutur Solekhan saat ditemui VISI, Kamis (14/9/2017).

Solekhan sempat melakukan pengamatan kecil terhadap para pembelinya akhir-akhir ini. Hasilnya, ia justru makin dibuat gundah oleh motif sebagian mahasiswa UNS.

“Hanya kalau ada perlu, ada tugas mereka baru cari. Sebagian lain membeli karena ingin melihat tulisannya yang dimuat di koran. Biasanya mereka datang sambil bilang ‘wong tulisan saya masuk di koran kok pak’,” kelakar Solekhan.

Oleh penurunan tersebut, Solekhan dipaksa mundur langkah demi langkah. Jumlah rupiah yang bisa ia kantongi dari kerja berjualan koran terus anjlok. Kini, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, Solekhan harus sembari bekerja di ranah lain.

“Ini seandainya saya nggak sambil ngojek, mungkin saya sudah kukut (bangkrut-red). Karena hasilnya dari berjualan koran ya segitu saja.”

Solekhan pun tak menampik jika pemutakhiran teknologi gawai turut menjadi faktor penyebab menurunnya minat baca koran di kalangan mahasiswa. Oleh yang satu ini, ia tak sampai daya untuk berkutik.

“Sekarang sudah ada HP. Jadi mau cari berita apa itu kan sudah bisa lebih mudah,” timpalnya.

Berbeda dengan, Solekhan, Agus Sari Gunawan punya nasib yang lebih mujur perihal berjualan koran. Pria berusia 45 tahun itu saban harinya masih dapat menjual 50 eksemplar koran.

Insya Allah bisa laku 50 (eksemplar-red) per hari. Kalau saya khusus pengasong sambil mencari pelanggan,” ungkapnya ketika ditemui VISI pada Rabu (6/9/2017) di kawasan FISIP UNS, .

Namun, untuk mendapat nasib mujur itu Agus perlu menjemput bola. Saban hari ia harus berkeliling ke tiap fakultas di UNS guna menjajakan koran. Tanpa kemauan berkeliling, Agus paham betul usahanya berjualan koran mungkin sudah bangkrut sejak dulu.

Seperti halnya Solekhan, pria yang sudah 10 tahun berjualan koran itu mengakui adanya penurunan minat baca koran di kalangan mahasiswa UNS. Selain karena pemutakhiran gawai dan teknologi, Agus menambahkan penurunan ini turut disebabkan semakin jarang mahasiswa yang benar-benar punya 'niat' berkuliah.

“Perkembangan minat baca mahasiswa makin tak terarah. Ini karena kalau saya lihat sekarang mahasiswa ke kampus hanya sekedar formalitas. Absen, masuk kelas, mendengarkan dosen, lalu pulang. Kelanjutan dari pembahasan materi dosen tidak ada, jadi mereka juga tidak mencari referensi bacaan (termasuk dari koran-red),” tandas Agus.

Menanggapi komentar Solekhan dan Agus, VISI kemudian mewawancarai sejumlah mahasiswa UNS. Dari keterangan yang dihimpun, sebagian memang mengakui adanya penurunan minat baca koran dalam diri mereka.

“Untuk intensitas baca koran saya memang tidak terlalu rutin. Paling seminggu sekali, biasanya yang edisi hari Minggu,” ujar Sholahuddin Akbar, mahasiswa Fakultas Pertanian UNS.

Lebih lanjut, pria yang juga merupakan anggota BEM UNS itu punya alasan tersendiri mengapa memilih koran edisi Minggu. Bagi Sholahuddin, koran di hari Minggu menarik karena memuat rubrik fotografi kegemarannya.

Klinik Fotografi Kompas, itu muncul tiap hari Minggu. Di situ cukup menarik, karena banyak referensi mengenai angle fotografi,” papar Sholahuddin ketika diwawancarai VISI, Kamis (7/9/2017).

Muhammad Shidiq Fathoni, mahasiswa Sosiologi 2015 juga mengakui dirinya mulai jarang membaca koran. Kesibukan kuliah dan berorganisasi di kampus merupakan alasan utama.

“Karena banyak kesibukan lumayan jarang baca. Kadang kalau sempat baca biasanya saya rangkap, sekalian baca beberapa edisi sebelumnya.”

Pula dengan Kaffa Hidayati, mahasiswi Sastra Indonesia UNS. Ia mengaku akhir-akhir ini hanya membaca koran sekitar dua kali tiap pekannya. Koran-koran yang biasa ia baca antara lain Tempo dan Media Indonesia.

"Yang langganan bapakku, kalau koran Tempo itu memang langganan dari situ. Media Indonesia biasanya beli," imbuh Kaffa saat diwawancarai VISI, Rabu (5/9/2017).

Meski banyak mahasiswa mulai meninggalkan, masih ada segelintir yang tetap menjadikan koran sebagai bacaan rutin. Salah satu dari segelintir yang dimaksud adalah Vera Safitri.

“Aku langganan Kompas. Kalau Solopos aku juga baca, biasanya di Sekretariat LPM Kentingan karena berlangganan. Kadang juga di Perpustakaan UNS,” tutur mahasiswi Sosiologi FISIP UNS itu.

Selain Kompas dan Solopos, Vera juga kerap membaca koran lain seperti Jawa Pos, Republika, Media Indonesia, hingga Tempo yang sekarang mulai sukar didapat. Dari koran-koran yang dibacanya, Vera paling gemar memindai berita headline, opini, dan rubrik sosial budaya. Mengenai penurunan minat baca koran di kalangan mahasiswa UNS, Vera tak berani mengamini hal tersebut. Namun dari sejumlah informasi yang sampai ke telinganya, ia tak menampik jika penurunan minat baca koran memang sedang terjadi.

“Contohnya Tempo, mereka koran besar nasional tapi beberapa waktu terakhir tidak cetak selain di Jakarta. Berarti kan mereka menganggap omsetnya sudah menurun. Di belakang kampus, dulu ada dua kios langganan koran dan sekarang sudah tutup dua-duanya. Ya nggak bagus lah,” pungkas Vera. (Fauzan, Yuni)

Sunday, September 10, 2017

SIPA 2017, Usung Kemeriahan dalam Tema Bahari

SIPA 2017, Usung Kemeriahan dalam Tema Bahari

Penampilan dari Sanggar Seni Jinggo Sobo (Banyuwangi) di SIPA 2017 (Dok. VISI/Laila)


Lpmvisi.com, Solo - Hadir sebagai ajang edukasi budaya, acara tahunan Solo International Performing Art (SIPA) kembali berlangsung. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini pagelaran budaya yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat Solo tersebut mengusung tema Bahari Kencana Maestro Karya.
Penampilan Sanggar Seni Jinggo Sobo (Banyuwangi) di SIPA 2017 (Dok.VISI/Laila)


Menurut keterangan Rendra (22) selaku panitia bagian koordinator, ekosistem laut yang mulai menurun kualitas lingkungannya menjadi salah satu alasan tersendiri dipilihnya tema kelautan untuk acara SIPA tahun ini. Acara yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut, yakni pada 7-9 September 2017 di kawasan Benteng Vastenburg itu juga menampilkan pertunjukan yang lebih variatif baik dari delegasi lokal maupun luar negeri. Beberapa delegasi tersebut seperti dari Banyuwangi, Banyumas, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, serta masih banyak lagi.

"Lebih variatif. Negara yang sebelumnya belum ada jadi ada," tandas Rendra ketika ditemui VISI di sela-sela pertunjukan, Sabtu (9/9/2017).

Hanoi Solo Artist dari Vietnam (Dok.VISI/Laila)

Tak hanya itu, panggung SIPA yang yang didesain berbentuk kapal layar Dewa Ruci ini sukses menghipnotis penonton. Acara puncaknya pada Sabtu,  (9/9/17) diramaikan dengan suguhan teater musikal Nor Slip Art Sprouts (Thailand), Sanggar Seni Jinggo Sobo (Banyuwangi), Silhoutte Art Performance (Malaysia), La Salle Teatro Gundegan (Filipina), Sangga Seni Tiara Selatan (Bangka Belitung), Hanoi Solo Artist (Vietnam) dan diakhiri closing ceremony oleh walikota Solo FX Hadi Rudyatmo. 

Mita (19), salah satu penonton yang ditemui VISI di tengah-tengah acara menuturkan jika tahun ini SIPA tahun ini lebih meriah ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Wanita yang mengaku telah melihat pertunjukan SIPA selama tiga tahun berturut-turut ini menilai salah satu penyebab SIPA edisi kali ini lebih menarik adalah semakin banyaknya pertunjukan tarian.

Penampilan La Salle Teatro Gundegan dari Filipina (Dok.VISI/Laila)

Sementara itu Buyung (21), yang baru kali ini menonton penutupan SIPA 2017 beranggapan pertunjukan SIPA 2017 cukup meriah karena banyaknya jumlah delegasi yang ikut menyemarakan acara tersebut. Ia juga berharap kemeriahan yang lebih untuk acara SIPA berikutnya serta delegasi-delegasi yang lebih variatif lagi dari negara-negara lain.

"Saya berharap lebih banyak lagi delegasi-delegasi dari negara lain untuk ditampilkan, juga lebih banyak penampil budaya dari Indonesia Timur seperti Papua dan Maluku," pungkasnya. (Laila, Sekar)

Tuesday, September 5, 2017

Narasi Jokowi & Teater Wayang dalam Obrolan Politik

Narasi Jokowi & Teater Wayang dalam Obrolan Politik

Judul : Jokowi, Sangkuni Machiavelli Pengarang : Seno Gumira Ajidarma Penerbit : PT. Mizan Pustaka | Dimensi : 21 cm | Tebal : 216 halaman | ISBN : 978-979-433-977-0 
(Dok. VISI/Eko)

Oleh: Eko Hari Setyaji

“Manusia bertarung memperebutkan kekuasaan atas nama agama dan bukan sebaliknya. Agama apa pun tidak membenarkan pertarungan antar agama dan tidak akan pernah ada kecuali manusia yang begitu bodoh sehingga menafsirkan yang sebaliknya.” – Seno Gumira Ajidarma (SGA)

Masih ingat slogan Jokowi-JK adalah kita? Sebuah slogan pemenangan kampanye pasangan Jokowi-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) yang terkesan sepele dan sederhana, tetapi amat efektif dalam membangun citra lewat politik identitasnya di Pilpres 2014. Jokowi identik dengan kita; orang biasa. Ia berasal dari kita, bekerja bersama-sama dengan kita. Kita adalah pekerja. Kerja, kerja, dan kerja! Tanpa bekerja, kita bisa mati kelaparan. Mengapa? Karena kita bukan darah biru. Oleh sebab itu, kita mesti memilih Jokowi. Karena Jokowi adalah kita, dan kita adalah Jokowi. Jokowi-JK adalah kita!

Benarkah demikian?
Setidaknya, barangkali itulah skenario yang dibuat para konsultan politik dalam merumuskan wacana kampanye Jokowi. Tentu, kita tak boleh asal percaya begitu saja. Pada akhirnya, pun strategi tersebut cukup ampuh memilitansi massa untuk memenangkan Jokowi hingga berhasil menduduki presiden republik ini;  dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Obrolan Politik
Dikompilasi menjadi “obrolan politik”, buku Jokowi, Sangkuni, Machiavelli terdiri dari kumpulan artikel populer Seno Gumira Ajidarma (SDA) atau yang acap dikenal dengan sebutan Sukab menggambarkan realitas politik Indonesia kontemporer. Seno membedah narasi politik kekinian lewat analisis pisau budaya dan realitas media. Lewat berbagai referensi, ia mengidentikkan dunia politik Indonesia sebagai sebuah teater yang berantakan, lengkap dengan para aktor dan banyak gimmick dalam bumbu drama.
Dalam konsepsi Seno, terdapat tiga karakter dominan dalam politik Indonesia kontemporer, yang direpresentasikan melalui tiga tokoh: Jokowi, Sangkuni, dan Machiavelli. Jokowi adalah perwujudan rakyat kecil yang mengalami euforia, dan mendadak ketiban pulung kekuasaan pasca robohnya rezim otoriter selama dua periode. Sangkuni adalah perwujudan simbol dari tangan-tangan yang tak tampak, sebagai pembisik yang samar-samar. Sedangkan Machiavelli menunjukkan tabiat asli politik, hasrat terdalam manusia yang haus akan kuasa.
Euforia politik bagi wong cilik, misalnya, tergambarkan dalam artikel “Petruk jadi Raja”. Dalam artikel ini, Seno menggambarkan realitas politik mutakhir seperti lakon wayang Petruk jadi Raja. Pada saat perebutan Jamus Kalimasada antara Dewi Mustakaweni (yang mencuri pusaka itu dari Kerajaan Amarta) dan Priyambada (anak Arjuna yang merebutnya kembali), Petruk mendapat amanah titipan agar menjaga pusaka Kalimasada. Namun, Petruk justru kabur dan menghilang. Ia kemudian muncul kembali setelah menaklukkan sebuah kerajaan dan menjadi raja bergelar Prabu Belgeduwelbeh Tongtongsot (hal 78–79).
Kisah wayang ini tentu relevan dengan kondisi politik Indonesia pasca jatuhnya rezim. Rakyat biasa kini disebut sebagai pemegang kedaulatan negara. Rakyat adalah penentu dari nasib mereka sendiri. Jamus kalimasada, perwujudan dari pusaka kekuasaan, telah kembali pada Petruk (rakyat biasa). Namun, mampukah Petruk menggunakan pusaka itu untuk mewujudkan sebuah kerajaan yang makmur? Benarkah bahwa kini rakyat telah sungguh-sungguh berdaulat?
Dalam artikel “Sangkuni Tidak Dibantu Dewa”, Seno menyatakan bahwa perilaku politik Indonesia dibentuk oleh wacana kebudayaan. Bahkan di era online abad 21, referensi politik Indonesia masih merujuk pada tokoh-tokoh pewayangan. Secara mengejutkan, lewat penelusuran di dunia maya terhadap 337 media online (2013) di Indonesia, tokoh Sangkuni menempati peringkat teratas sebagai tokoh yang paling identik dengan dunia perpolitikan Indonesia, melebihi tokoh-tokoh politik dunia wayang seperti Durna, Widura, ataupun Kresna (hal 23).
Mengapa Sangkuni? Tak lain karena ia merupakan faktor penentu yang mempengaruhi kebijakan raja. Karena pengaruhnya tersebut, ia justru menjadi otak dan tangan-tangan tak tampak dari rangkaian peristiwa politik. Perannya kerap kali lebih besar dari raja itu sendiri. Sangkuni akan selalu dirujuk sebagai representasi kelicikan, dengan ucapan dan tindakan tak jujur untuk meraih tujuan, serta kerap mengandalkan tipu daya dan tak segan menumpahkan darah (hal 24).
Segala kebobrokan politik tersebut sebetulnya bersumber pada apa yang dituturkan oleh Machiavelli. Dalam “Machiavelli dan Korupsi Politik”, Seno menafsir bahwa gagasan Machiavelli merupakan parodi dalam moralitas kekuasaan. Machiavelli membongkar praktik kemunafikan politik dan menyuguhkan apa yang ada senyata-nyatanya (hal 165). Celakanya, tulisan Machiavelli justru menjadi rumus yang jitu bagi oportunis-oportunis kekuasaan. Politikus kini tak ubahnya seperti pemain teater yang bermain plot drama, seolah-olah menjunjung tinggi daulat rakyat. Namun, semua itu hanyalah topeng, karena yang sejati hanya naluri untuk berkuasa.
Hampir dua dekade rezim otoriter tumbang dan Indonesia menjalani periode reformasi. Akan tetapi, apakah kita telah sungguh-sungguh ikut merayakan reformasi? Atau hanya Jokowi, para Sangkuni, dan pengikut Machiavelli yang menikmati buahnya?

Saturday, September 2, 2017

Ngekos di Sekitar UNS Masih (Bisa) Ringan Diongkos

Ngekos di Sekitar UNS Masih (Bisa) Ringan Diongkos

Ilustrasi kamar kos. (Dok.VISI/Redaksi)
Bido tak akan hilang rindu dengan gudeg di Kantin Mbok Jum. Lima tahun setelah lulus dari Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR), jebolan Ilmu Sejarah UNS itu kembali menyambangi kampusnya. Untuk menggenapi nostalgia, selain singgah ke kantin yang konon terkenal murah itu, Bido juga mampir ke rumah indekos yang pernah dihuninya selama lima tahun.

Sosok pemilik kos tempat Bido pernah tinggal tak jauh berubah. Dari wanita yang bernama Suratin itu, hanya rambut yang terlihat makin putih. Bido dan Suratin berbincang banyak. Dimulai dengan satu topik ke topik lain, sampailah keduanya menyinggung tentang tarif kos.

Dari obrolan itu Suratin bercerita jika sekarang tarif satu kamar kos di tempatnya hanya naik Rp.500.000,00 dibanding semasa Bido masih tinggal. Padahal dulu Bido hanya membayar Rp.1.800.000,00 setiap tahun.

Bido lantas heran, kenapa dalam lima tahun kenaikan tarif kos hanya sekecil itu. Ia tahu persis jika harga tanah terus merangkak naik tanpa kenal ampun. Namun Suratin tak menanggapi keheranan Bido dan menyambar dengan sebuah kalimat receh ala simbah-simbah.

“Kalau adik-adikmu ada yang cari kos, bisa kamu tawarkan kamarmu yang dulu,” timpal Suratin sambil terkekeh.

Faktanya, tak pernah ada kata sukar untuk mencari kos-kosan bertarif miring di sekitar UNS. Kos tempat Dimas Adi Nugroho tinggal misal. Dalam setahun mahasiswa Ilmu Komunikasi itu ‘hanya’ perlu membayar sewa Rp.2.500.000,00.

Dengan tarif tersebut, Dimas mendapati kamarnya terisi fasilitas standar ala anak kos Solo. Mulai dari kursi dan meja belajar, almari, serta tempat tidur. Di luar tarif sewa, Dimas hanya perlu membayar ongkos listik. Itupun tak seberapa. Paling banter, mahasiswa asal Pacitan itu hanya merogoh kocek hingga Rp.15.000,00 per bulan.

“Buat saya, tarif segitu sudah termasuk murah. Pengalaman(ngekos-red) di Jogja, tarifnya tak semurah di sini,” imbuh Dimas saat diwawancarai VISI pada Sabtu (2/9/2017).

Tarif di tempat kos Dimas bukan yang paling murah. Masih tak jauh dari kampus, Puji Juharida hanya membayar uang sewa senilai Rp.1.800.000,00 per tahun. Bahkan uang yang dirogoh Puji dari kantongnya sudah termasuk untuk membayar ongkos listrik.

"Murah sih. Dekat, letaknya di depan kampus. Aksesnya juga mudah," imbuh mahasiswi Agroteknologi tersebut.

Sebenarnya tarif sewa satu kamar yang dihuni Puji mencapai angka Rp.5.500.000,00 per tahun. Namun kamar tersebut dihuni bersama dua teman lainnya. Jadilah masing-masing mahasiswi hanya perlu membayar sepertiga dari tarif sewa.

Indikator 'murah' memang berbeda untuk tiap mahasiswa. Bagi Luthfi Farah Arifah, tarif kamar kosnya yang mencapai Rp.4.000.000,00 tidak tergolong mahal. Dengan tarif tersebut, mahasiswi Administrasi Negara 2017 itu sudah mendapatkan fasilitas air galon gratis, tempat tidur, meja belajar, dan almari.

“Dengan fasilitas segitu ya murah aja, meskipun belum termasuk wi-fi,” tandas Luthfi.

Meski definisi tiap mahasiswa berbeda, pendapat Dimas, Puji, dan Luthfi mewakili pandangan para mahasiswa di Kentingan, bahwa tarif sewa kos di sekitar kampus masih terjangkau. Redaksi VISI lantas melakukan survei acak ke 30 mahasiswa di beberapa fakultas. Hasilnya, hanya satu orang yang mengatakan keberatan dengan tarif kosnya. 15 mahasiswa lain mengatakan murah, sedangkan 14 lainnya mengatakan 'biasa saja'.

Faktor Listrik dan Air

VISI juga sempat mewawancarai sejumlah pemilik kos untuk mengetahui faktor apa saja yang mendorong kenaikan tarif kos di sekitar kampus. Hampir semua sepakat mengatakan faktor yang paling mempengaruhi adalah menanjaknya tarif listrik dan air.

Di kos milik Heru (54) yang terletak di daerah Gendingan, dalam tiga tahun terakhir mengalami kenaikan senilai Rp.250.000,00. Si pemilik menuturkan kenaikan tersebut lebih banyak disebabkan oleh lonjakan biaya listrik dan air PAM. 

Pada pertengahan 2015 Heru sempat menerapkan listrik token untuk para penghuni kos. Namun hal tersebut justru tidak efektif karena mahasiswa malah menjadi boros dan mengusulkan untuk kembali menggunakan sistem pajak listrik lama.

“Umumnya kalau mahasiswa sudah pakai token justru jadi boros,” pungkasnya.

Anis Puji Astuti (50), salah seorang pemilik kos di daerah Jebres punya cara lain untuk menarik minat para pencari kos tanpa merugikan diri sendiri. Biasanya ia menerapkan tarif murah pada tahun pertama. Di tahun berikutnya, barulah Anis menaikkan nilai sewa sesuai dengan kenaikan biaya listrik.

Umumnya hal seperti ini ia lakukan untuk para mahasiswa baru yang belum memiliki pemahaman tentang tingginya biaya listrik. Pasalnya, mahasiswa lama yang sudah pernah ngekos di tempat lain lebih paham tentang tingginya tarif listrik, sehingga cenderung tidak menawar tarif sewa secara berlebihan.

“Kalau masuk awal (tahun ajaran baru-red) belum tahu harga listrik dan air, itu kita naikkan di tahun kedua. Kalau mahasiswa lama biasanya sudah paham dan mau menerima tarif normal,” pungkas Anis.

Di tempat Anis sendiri, saat ini tarif satu kamar kos adalah Rp.3.000.000,00, atau naik Rp.500.000,00 dibandingkan tarif pada 2012. Nominal tersebut sudah termasuk ongkos listrik dan air PAM. (Andi, Fauzan)

Monday, August 28, 2017

Mahasiswa UNS Memang Gemar Makan Ayam

Mahasiswa UNS Memang Gemar Makan Ayam

Ilustrasi ayam goreng. (Dok.VISI/Redaksi)

Pada pertengahan 2017, Kementerian Pertanian (Kementan) merilis data rerata tingkat konsumsi ayam nasional. Data tersebut menyebutkan masyarakat Indonesia hanya mengonsumsi sekitar 10 kilogram ayam setiap tahunnya. Bayangkan, per orang hanya mengonsumsi 10 kilogram dalam kurun 12 bulan.

Pemerintah lantas gusar dan membuat berbagai kebijakan baru. Salah satu yang paling terdengar adalah peningkatan upah guna meningkatkan daya beli masyarakat. 

Kegusaran pemerintah bukannya tanpa alasan. Angka 10 kilogram menempatkan rerata konsumsi ayam Indonesia jauh di bawah rerata negara-negara lain di dunia. Bandingkan dengan Thailand misal, yang angka konsumsi ayam per kapita per tahunnya menyentuh angka rerata 17 kilogram, atau Malaysia yang unggul jauh dengan 38,5 kilogram.

Uniknya, fenomena rendahnya konsumsi ayam nasional seolah tak terasa jika kita mengamati kecenderungan pola makan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS). Di kampus yang konon sering dipromosikan oleh rektornya sendiri ini, tingkat konsumsi ayam para mahasiswa jauh mengungguli angka rerata nasional.

“Lima kali dalam seminggu saya mengonsumsi ayam,” ujar Rizka Zahra, salah seorang mahasiswi FISIP UNS ketika diwawancarai VISI pada Jumat (25/8/2017).

Mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional itu menambahkan jika jenis makanan berbahan dasar ayam yang biasa ia konsumsi adalah ayam geprek dan ayam penyet. Rizka menuturkan alasan utamanya sering mongonsumsi ayam disebabkan minimnya jenis makanan lain yang dijual di sekitar kampus.

“Aku suka ayam, ikan, dan seafood (makanan laut-red). Tapi banyaknya di daerah sini ayam, kan. Seandainya makan prasmanan, kebanyakan juga ayam. Ayam itu sudah seperti makanan sejuta umat,” imbuhya.

Kecenderungan serupa juga dilakukan Danisa Alda Razaq, salah seorang mahasiswi Fakultas Teknik angkatan 2016. Berbeda dengan Rizka, mahasiswi yang biasa mengonsumsi empat porsi ayam dalam sepekan itu memiliki alasan lain.

“Karena ayam itu enak, sehat, dan bergizi,” tandasnya.

Kesenjangan

Data ini kian diperkuat dengan ‘survei kecil-kecilan’ yang dilakukan Redaksi LPM VISI pada pertengahan bulan Agustus 2017. Dari 50 narasumber yang tersebar acak di 10 fakultas, 21 diantaranya mengaku mengonsumsi ayam minimal enam porsi dalam sepekan. Sementara itu, 27 mahasiswa lain mengonsumsi ayam empat hingga lima porsi dalam sepekan. Hanya dua mahasiswa saja yang mengonsumsi ayam di bawah tiga porsi tiap satu pekan.

Dengan asumsi rerata berat satu porsi ayam adalah 85 gram, diperoleh angka konsumsi ayam mahasiswa UNS tiap pekannya menyentuh angka 0,425 kg.  Lalu, jika angka itu dikalikan 40 (jumlah pekan perkuliahan dalam setahun) akan diperoleh total 17 kilogram.

Angka tersebut surplus 7 kilogram dibanding rerata konsumsi ayam nasional. Padahal, total jumlah hanya dihitung selama delapan bulan. Jika hendak dibandingkan dari angka rerata nasional selama 8 bulan (yang hanya 6,6 kilogram), angka rerata konsumsi ayam mahasiswa UNS bisa surplus lebih dari 10 kilogram.

Berkah Warung Makan

Tingginya tingkat konsumsi ayam di kalangan mahasiswa UNS menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku kuliner sekitar kampus. Warung Ayam Penyet Bandung (APB) misal, yang dalam sehari bisa menjual sekitar 50 ekor ayam.

“Kalau anak kuliah masuk semua ya habis 50 ekor. Kalau lagi liburan paling 30 ekor. Kalau hari Sabtu paling 40-45 ekor,” ujar Anik Priyati selaku pemilik APB saat diwawancarai VISI pada Sabtu (26/8/2017).

Ketika ditanyai jumlah pelanggan, Anik mengatakan APB bisa mendapat 500 hingga 600 pelanggan tiap harinya. Jumlah ini fluktuatif, tergantung dari rentang masa kuliah. Secara pribadi, Anik mengakui akhir-akhir ini ada kecenderungan mahasiswa kian 'tak pikir-pikir' untuk mengonsumsi ayam.

“Jika dulu, orang untuk mau makan ayam masih berpikir lagi. Waktu jaman saya pertama di sini itu kan masih belum rame, kebanyakan mereka (mahasiswa-red) pilihan makannya ke nasi sayur,” imbuh Anik.
Ayam Penyet Bandung (APB) merupakan salah satu warung makan yang ramai didatangi oleh mahasiswa UNS. Saat ini, daging ayam masih menjadi salah satu menu yang kerap dikonsumsi oleh mahasiswa Kampus Kentingan. (Dok.VISI/Nabilah)
APB sendiri mendapat penghasilan kotor Rp5.000,00 untuk satu porsi ayam. Jika dikalikan jumlah pelanggan dalam sehari, warung makan yang terletak di Jalan Awan, Jebres ini menghasilkan pemasukan sekitar Rp2,5 hingga Rp3 juta.

Berkah dari tingginya tingkat konsumsi ayam mahasiswa UNS tak hanya dirasakan APB. Kondisi serupa juga dialami para pelaku industri kuliner lain.

Di Kopi Jahat misal, dalam sehari setidaknya ada 90 hingga 100 pelanggan yang memesan porsi makanan berbahan dasar ayam. Angka ini terbilang tinggi, mengingat tempat makan yang berdiri sejak 28 Juli 2016 ini tidak meniatkan daging ayam sebagai 'sajian andalan' mereka.

Lebih lanjut, Akbar selaku perwakilan pihak Kopi Jahat menuturkan jika peluang membuka usaha kuliner dengan menu ayam di sekitar UNS masih terbuka lebar. Saat ditemui VISI pada Jumat (25/8/2017) lalu, pria berusia 26 tahun ini mengatakan hal tersebut disebabkan banyaknya peminat daging ayam di Solo.

“Peminat daging ayam di Solo itu lebih banyak jadi mesti laris untuk menu ayam, kebanyakan begitu saat saya survei sebelum membuka warung. Saya rasa peluang untuk buka bisnis kuliner warung makan ayam di Solo itu tetap nomor satu,” pungkas Akbar. (Fauzan, Nabilah)