Senin, 15 April 2019

Menggiatkan Kembali Budaya Bertutur dengan Sinau Dongeng

Menggiatkan Kembali Budaya Bertutur dengan Sinau Dongeng

Peserta kelas Sinau Dongeng antusias mengikuti kegiatan pada kelas mendongeng dengan Rona Mentari. (Dok.Visi/Naila)
Lpmvisi.com, Solo – Sejak pagi, Warung Inspirasi Manahan telah ramai oleh pengunjung. Wanita dan pria, orang tua dan remaja, duduk takzim mendengarkan pembicara yang menyampaikan materi. Sesekali mereka berdiri, bernyanyi sambil bertepuk tangan.

Organisasi nonprofit Doing Project mengadakan kelas ‘Sinau Dongeng’ pada Sabtu (13/04/19). Bertempat di Warung Inspirasi Manahan. Pembicara kelas mendongeng ini didatangkan dari Rumah Dongeng Mentari, yaitu storyteller profesional Rona Mentari yang berasal dari Yogyakarta. 

Acara ini diramaikan oleh peserta yang sebagian besar adalah orang tua atau pengajar. Namun tak sedikit pula yang datang dari kalangan karyawan swasta yang tertarik untuk belajar mendongeng. Kebanyakan peserta mengetahui acara ini dari akun sosial media Doing Project dan juga akun sosial media Rona Mentari di Instagram.
Salah satu peserta mempresentasikan gambar yang dibuatnya dalam kegiatan praktik metode mendongeng dalam kelas Sinau Dongeng. (Dok. VISI/Naila)

Di acara tersebut, para peserta diajari mengenai berbagai teknik dalam mendongeng, mulai dari cara berekspresi, suara, intonasi, gestur, hingga pernafasan. Peserta juga diajari tentang bagaimana cara menarik perhatian audiens mulai dari anak kecil hingga dewasa, agar tertarik pada dongeng yang disampaikan. Dalam sesi tanya jawab, Rona Mentari juga banyak menceritakan pengalamannya dalam mendongeng dari dulu hingga sekarang. Ia berkata bahwa siapapun dapat mendongeng, karena setiap orang adalah pendongeng.

Rona Mentari yang sudah berkecimpung dalam dunia mendongeng sejak bertahun-tahun lalu, menyampaikan materi pada siang itu secara asyik dan menarik. Seluruh peserta dianggap seperti teman. Sesekali mereka diajak berinteraksi untuk meramaikan suasana. Para peserta terlihat antusias mendengarkan dan melakukan aktivitas-aktivitas kecil dalam ruangan.

“Acaranya seru banget. Aku bisa dapat banyak ilmu tentang mendongeng dan dapat banyak teman baru juga.” ujar Khoir (25), salah satu peserta Sinau Dongeng yang datang dari Boyolali.
Peserta kelas Sinau Dongeng antusias menirukan ekspresi-ekspresi yang dicontohkan pembicara. Ekspresi wajah adalah salah satu hal yang mendukung berhasilnya penyampaian pesan dalam dongeng. (Dok. VISI/Naila)

Para peserta yang datang ke Sinau Dongeng rata-rata memang memiliki minat dalam bidang mendongeng. Namun ada juga peserta yang datang karena perannya sebagai orang tua yang ingin belajar dongeng demi ingin mendongengi anaknya. Contohnya saja Erin (30) yang merupakan salah satu peserta Sinau Dongeng asal Sukoharjo. Ibu Muda ini memiliki keinginan untuk dapat mendongengi anaknya yang masih berumur 3 tahun sehingga ia datang ke acara tersebut dengan harapan bisa mendapatkan banyak ilmu mengenai mendongeng.

Sinau Dongeng ini sukses diselenggarakan oleh kawan-kawan Doing Project yang juga dibantu oleh para volunteer acara yang biasa di panggil dengan sebutan Peri. Sinau Dongeng menjadi salah satu dari rangkaian acara Purana Festival yang pertama kali diadakan di Solo. Rangkaian acara dari Purana Festival sendiri meliputi Kereta Purana Goes To School, Sinau Dongeng, dan Pagelaran Dongeng Solo. Puncak acara Purana Festival akan diadakan pada 20 April 2019 di Taman Cerdas Soekarn-Hatta, Jebres, Solo. Purana yang berasal dari bahasa Sanskerta ‘Puraana’ yang artinya cerita kuno, festival ini menggiatkan kembali budaya bercerita sebagai bentuk afeksi kepada satu sama lain.

Irul (22) yang merupakan ketua pelaksana Purana Festival memiliki harapan dengan diadakannya acara ini, ia bersama kawan-kawan dapat menghidupkan kembali budaya mendongeng di kalangan masyarakat terutama bagi anak-anak. Mahasiswa DKV UNS ini bersama kawan-kawannya di Doing Project sebelumnya juga sering melakukan kegiatan rutin dongeng keliling dan juga workshop dongeng di sekitar Solo. (Naila, Ola)

Sabtu, 06 April 2019

Pameran Seni Rupa Perlawanan, Sarana Kritisi Pemilu 2019

Pameran Seni Rupa Perlawanan, Sarana Kritisi Pemilu 2019


(dok.visi/Nova)

Lpmvisi.com, Solo – Lima pelukis dari Jakarta dan Solo menggelar pameran seni rupa bertemakan “Perlawanan” di  Taman Budaya Jawa Tengah Solo. Pameran dilaksanakan pada Senin (01/04/2019) hingga tanggal 5 April 2019. “Perlawanan” bertujuan sebagai sarana untuk penyampaian pesan kepada kaula muda guna membangun kesadaran politik di indonesia terutama tentang pemimpin indonesia kelak.  

Pameran yang berlangsung sejak 1 April kemarin tidak hanya menampilkan seni lukis, namun juga ada serangkaian acara yang dimulai pukul 14.00 sampai 21.00. Seperti pementasan atau performance art dari para pemrakarsa pameran, diskusi pameran, hingga parade pemilu yang berlangsung mulai dari pukul tujuh malam. Pameran ini sudah dipersiapkan dari satu tahun lalu tepatnya saat lebaran, mereka Ibob Susu Arief, Ableh Deni Kuncoro (Jakarta) yang kebetulan dari satu organisasi Sebumi dan Choiri, Safiuddin Hafiz, J. Christanto (Solo) dari organisasi S3.

Lukisan yang ditampilkan identik dengan warna merah dan bergambarkan babi. Hal tesebut memliki filosofi tersendiri. Merah menggambarkan semangat perlawanan dalam berjuang sedangkan babi menggambarkan hewan yang rakus bahkan kotorannya sendiri pun dimakan lagi. Hal tesebut menggambarkan begitulah pemerintahan indonesia saat ini yang penuh dengan bualan semata.

“Sebenarnya karya-karya ini sudah lama, lukisan Prabowo dan Jokowi  itu sebenarnya prediksi kita dari 2014, dibuat setelah 100 hari kepemimpinan Jokowi terus kita prediksi kalau  dua tokoh tersebut yang bakalan muncul dan ternyata benar,” ujar Ableh Deni Kuncoro atau yang biasa dipanggil Deni salah satu pemrakarsa pameran tesebut.

Pameran ini direncanakan akan diadakan saat momentum pemilihan presiden. Saat ini baru dimulai dari Solo lalu akan berlanjut di Bandung. Sasaran dari pameran ini adalah mahasiswa-mahasiswa.
“Pemuda pinter-pinter melihat situasi politik sekarang, karena politik itu yang mengatur kehidupan kita selanjutnya. Kalau kita diam maka politik akan semena-mena walaupun sejago apapun, kalau diam akan tetap ditindas,” pesan Deni kepada para pemuda Indonesia.

Pameran bertemakan politik ini banyak menarik atensi pengunjung terbukti dari ratusan orang yang telah mengisi buku tamu pameran. “pameran ini menarik, seolah pemuda disadarkan bahwa sebenarnya politik itu akan merasuki segala aspek kehidupan. Namanya pemuda kudu punya independensi agar egga mudah dibawa kesana-kemari” ujar Dania salah satu pengunjung pameran "Perlawanan" tersebut. (Nova)

SICF, Event Tahunan Solo yang Paling Ditunggu

SICF, Event Tahunan Solo yang Paling Ditunggu


Kemeriahan Solo Indonesia Culinary Festival (SICF) yang digelar mulai Kamis (04/04/2019) di Benteng Vastenburg.
Lpmvisi.com, SoloSolo Indonesia Culinary Festival (SICF) merupakan acara tahunan kota Solo yang selalu di gelar saat memasuki bulan April. Acara ini diselenggarakan mulai Kamis (04/04/2019) dan akan berakhir Minggu (07/04/2019).

Event ini digelar terbuka di Benteng Vastenburg, Kedung Lumbu, Pasarkliwon, Kota Surakarta, dan terbuka gratis untuk umum. Tahun ini merupakan tahun SICF spesial karena dimeriahkan oleh 206 booth makanan dan minuman. Selain itu juga disediakan 7000 porsi tengkleng gratis, nasi timlo, sosis solo serta dimeriahkan oleh berbagai acara menarik lainnya. Acara ini diadakan dengan tujuan agar masyarakat mencintai makanan kuliner Indonesia, khususnya kuliner Solo itu sendiri.
Salah satu sudut dalam Benteng Vastenburg.

Acara berlangsung meriah dengan berdirinya panggung yang besar ditengah lapangan sebagai pusat komando acara. Melalui panggung ini, Grand Opening dilaksanakan dan melibatkan Menteri pariwisata RI dan Walikota Solo. Pada panggung ini pula digelar art and music performance, serta beberapa perlombaan yang diselenggarakan seperti vlog competition, photo comprtition, cooking competition, dsb. Tentunya melalui hal tersebut, diharapkan dapat meningkatkan antusias pengunjung sebab mereka tak hanya disugguhkan kenikmatan kuliner Solo saja, melainkan juga pertunjukan hiburan dan perlombaan.

Daryono, salah seorang panitia penyelenggara menyatakan "Harapan saya untuk masyarakat khususnya anak muda mengenal kuliner Indonesia khususnya Solo, dalam hal ini juga termotivasi untuk berwirausaha di bisnis kuliner sehingga mampu membanggakan egara dan juga kota  melalui acara ini." Besar harapan beliau , ada feedback yang bagus dari masyarakat mengenai acara ini.

Acara ini juga disambut hangat oleh berbagai pedagang kuliner serta UKM (Unit Kegiatan Masyarakat) yang mengisi stand-stand makanan. Wahyono, salah satu peserta SICF berkata "Saya sangat mengapresiasi acara ini sebagai ajang pengenalan kuliner tradisional. Bahkan menurut saya event seperti ini yang ditunggu oleh para pedagang dan juga masyarakat tiap tahunnya." Wahyono mengaku telah mengikuti event ini selama 5 tahun berturut-turut dan merasa senang dengan adanya acara ini.

Namun, pernyataan yang cenderung berbeda dilontarkan oleh dua orang pengunjung bernama Sola dan Iccha. Mereka datang ke acara ini dengan tujuan untuk hunting foto. Mereka berkata "Sangat senang dengan acara ini namun kesan kuliner nya kurang kental, dibuktikan dengan masih banyak stand makanan modern. Acaranya juga sudah dimulai namun jalanan masih becek dan beberapa kursi belum tertata rapi, mungkin kedepannya masih harus ditingkatkan perihal kesiapan acara."

Meskipun begitu, adanya makanan modern dalam festival ini bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan oleh peserta itu sendiri. "Sah-sah saja karena saya mengakui ada dua bidang penjual makanan di festival ini, ada tradisional dan juga modern" ujar Wahyono.

Meski acara ini ramai pengunjung, namun keamanan di area festival tidak perlu dikhawatirkan. Hal tersebut karena banyaknya pasukan keamanan yang berjaga. Selain itu, masyarakat juga dimudahkan dengan adanya peta stand makanan di pintu masuk kedua, sehingga pengunjung tidak akan tersesat dan dapat langsung memilih tempat mana yang akan dituju. Dan juga beragam banner event juga menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pengunjung yang hendak berfoto namun tidak ingin berlama-lama mengantri. (Tiara)

Hujan Bulan April

Hujan Bulan April


Oleh : Adika Sandra

Rintik hujan turun membasahi tanah pohon dedaunan
Aroma air segar turun dari langit mengingatkan
Ada waktu yang terus berjalan tak henti
Merubah segala hal yang awalnya ada menjadi tiada
Semua di awal adanya harus berakhir
Hujan ini jadi saksi tanah yang rindu langit

Basahnya tanah oleh hujan ini
Mengingatkanku pada basahnya pipimu oleh air mata
Seorang ibu yang kehilangan anak karena perang
Istri yang bersedih kehilangan suami
Anak yang bersedih kehilangan orangtua
Air hujan ini menghapus panas
Tapi tidak kesedihanmu

Hujan hari pertama bulan april
Syahdu menyambut senja yang datang
Membawa kebahagiaan insan dan penghuni alam
Rintiknya menenangkan hati
Setelah sekian hari perih tak terperi
Mengajarkan kami akan arti bahagia
Melihat merasakan hujan dengan kebaikannya

Hujan akan selalu sama
Turun dengan rintik air.
Menyapu debu membasahi dahan
Menghidupkan benih menghijau
Bahagia selalu sederhana
Melihatmu (istri) di antara rintik hujan
Merasakan nikmat tuhan
Bahagianya orang tercinta
Segalanya sumber bahagia

Rabu, 03 April 2019

Bincang Iklan Rokok Kemas Gaya Hidup

Bincang Iklan Rokok Kemas Gaya Hidup

Suasana Bincang Buku "Siasat Mengemas Nikmat" pada (02/04/2019) di Ruang Seminar FISIP UNS. (Dok. VISI/Dhania)
Lpmvisi.com, Solo - Iklan itu bisa dijadikan bukti fakta sejarah gaya hidup,” begitulah pembuka yang diucapkan oleh Bedjo Riyanto pada bincang buku Siasat Mengemas Nikmat”, Rabu (02/04/2019). Bincang buku tersebut dilaksanakan di ruang seminar FISIP dengan antusiasme tinggi dari persertanya, terlihat dari jumlah kursi yang hampir tak tersisa di ruangan tersebut.

Acara Bincang Buku Siasat Mengemas Nikmat merupakan acara bedah dan diskusi dari buku yang berjudul sama, yaitu Siasat Mengemas Nikmat (Ambiguitas Gaya Hidup Dalam Iklan Rokok Di Masa Hindia Belanda Sampai Pasca Orde Baru 1925-2000). Acara bincang buku ini menghadirkan langsung penulisnya, yaitu Bedjo Riyanto sebagai salah satu pembicara bersama dengan Kepala Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNS, Sri Hastarjo sebagai pembicara kedua. Acara ini dimoderatori oleh Albertus Rusputranto, salah satu dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Sekitar pukul 10.00 WIB acara dimulai dan berlangsung dengan lancar. Sesi awal dibuka oleh Bedjo yang menceritakan sekilas mengenai iklan rokok dan bagaimana pendekatannya disampaikan dalam buku tersebut.  Bedjo menyampaikan beberapa hal seperti mengenai bagaimana peran serta keadaan sosial dan politik dalam aspek pembuatan iklan-iklan tersebut.

Bedjo mengungkapkan pada zaman Hindia Belanda iklan rokok merupakan penggambaran mengenai harmonisasi yang diinginkan oleh pembuatnya. Sementara itu setelahnya, rokok pada zaman revolusi banyak mengangkat semangat nasionalisme. “Pada pemerintahan Habibie pada tahun 1999-2000 dilarang iklan rokok, ya tapi aturannya banci, yang dilarang iklannya bukan produsennya,” ungkap Bedjo mengungkapkan asal mula pelarangan munculnya rokok di iklan rokok itu sendiri.

Selanjutnya Sri hastarjo yang akrab dipanggil Has mengungkapkan bahwa iklan itu sendiri berfungsi menyemai suatu pesan.Iklan itu menyemai ideologi, tidak hanya mengenalkan produk-produk. Hal ini yang biasanya dibongkar dengan analisis semiotika,” ujarnya menambahkan.  

Diskusi berjalan dengan baik dan kesempatan tanya jawab sukses disikat oleh para penanya. Pertanyaan pertama dari Yogi, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2015 menanyakan peran wanita sebagai yang diiklankan, dan juga dari Niken, mahasiswa pasca sarjana Ilmu Komunikasi tentang perempuan yang menjadi sasaran rokok tersebut. Bedjo menjawab bahwa perempuan sendiri banyak ikut diiklankan menjadi iklan rokok namun hanya berporsi sebagai pendamping bukan sebagai sasaran utama. Sejalan dengan itu, Has juga menyampaikan bahwa beberapa iklan rokok ada yang masih mengeksploitasi perempuan.

Selain dari beberapa penanya, ada pula masukan mengenai sampul buku yang dinilai masih kurang. Kabut, salah satu peserta diskusi memberikan pesan bahwa sebenarnya pemerintah mendukung rokok, terlihat dari buku-buku anak sekolah yang biasanya mengaitkan peran ayah yang berhubungan dengan rokok.Contoh dalam buku hitung, anak pergi membeli rokok dengan uang sekian berapa rokok yang didapat?” ujarnya. (Dhania)

Senin, 01 April 2019

Collaboration of Arts: Kolaborasi UKM Seni, Persembahan Untuk Negeri

Collaboration of Arts: Kolaborasi UKM Seni, Persembahan Untuk Negeri

Penampilan Marching Band UNS dalam Collaboration of Arts, Sabtu (30/03/2019). (Dok. Visi/Gede)

Lpmvisi.com, Solo - Tiga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) kesenian Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar pentas kolaborasi dalam rangka penutupan serangkaian acara Dies Natalis UNS ke-43 yang bertajuk "Collaboration of Arts (CoA)". Acara yang diselenggarakan di gedung Auditorium UNS pada Sabtu (30/03/2019) ini mengusung tema "Persembahan Untuk Negeri."

Ketiga UKM tersebut yaitu Voca Erudita, Badan Koordinasi Kesenian Tradisional (BKKT) UNS, dan Marching Band UNS. Diadakannya acara ini merupakan hasil persetujuan serta mandat dari ketiga pembina UKM tersebut. Pada pementasan ini, setiap UKM menampilkan pertunjukan dari ciri khas masing-masing.

Reinhart, selaku ketua panitia mengatakan, “Untuk proses kepanitiaan dan latihan baru berjalan efektif sekitar dua minggu terakhir.” Reinhart juga mengatakan bahwa acara ini memiliki kendala saat proses latihan bersama. Kendala muncul saat proses penyatuan musik dan pikiran agar menghasilkan sebuah karya.  Namun ia mengaku senang dan merasa puas dengan hasil yang ditampilkan pada pementasan kali ini.

Penonton Collaboration of Arts sendiri kebanyakan berasal dari kalangan mahasiswa UNS. Dina, salah seorang pengunjung mengaku tertarik melihat CoA pada tahun ini karena penasaran dengan kolaborasi tiga UKM seni ini. "Keren banget, acara dikemas secara sederhana tetapi isinya menarik," ujar Dina saat ditanya kesan setelah melihat CoA.

Selain penonton, para pemain juga tampak puas dengan hasil yang telah mereka berikan. Salah satu pemain dari UKM BKKT UNS, Wella menceritakan bahwa untuk ikut serta dalam acara ini UKM akan memilih secara langsung anggota–anggotanya untuk dijadikan pemain. “Semoga kedepan acaranya dipersiapkan lebih matang. Hasilnya juga pasti lebih bagus” ujarnya saat ditemui selepas tampil.

Acara ini juga menampilkan beberapa UKM seni lain dari beberapa fakultas seperti Kelompok Kerja Teater Tradisional (KKTT) Wiswakarman FIB UNS yang menghadirkan seni peran, serta Tari Saman yang dibawakan oleh mahasiswa dari Fakultas Kedokteran UNS. (Bintang,Gede)

Sabtu, 30 Maret 2019

Wastra Fest: Kenalkan Seni, Lestarikan Tradisi

Wastra Fest: Kenalkan Seni, Lestarikan Tradisi

Kerajinan kain yang menceritakan kisah pewayangan dipamerkan dalam Wastra Fest, Pura Mangkunegaran, Surakarta. (Dok. VISI/Ola) 


Bentangan kain warna-warni menghiasi langit–langit pendopo Pura Mangkunegaraan. Coraknya yang menawan, melambai tertiup angin, merayu pengunjung untuk melihat lebih dekat. Wastra Fest atau Festival Kain Nusantara adalah bagian dari rangkaian acara Mangkunegaran Jazz Festival yang diselenggarakan pada 29-30 Maret 2019. Bertajuk “Cerita Kain Tentang Kain”, pameran ini diramaikan oleh 18 pengrajin kain dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Solo, Yogyakarta, Badui, Bali sampai Flores.

Setelah sukses menyelenggarakan Mangkunegaran Jazz Festival 2018, tahun ini kembali digelar pertunjukan yang sama di area Pura Mangkunegaran, Banjarsari, Surakarta. Acara yang diklaim sebagai satu-satunya event musik berlatar kerajaan ini sudah menjadi agenda tahunan Kota Solo di mana pengunjung bisa menikmati musik sambil merasakan atmosfer kebudayaan Jawa yang kental.

Pentas musik yang diinisiasi oleh generasi muda keluarga Mangkunegaran ini diawali dengan rangkaian pra-event untuk menyambut acara puncaknya pada 30 Maret 2019. Salah satunya adalah Festival Kain Nusantara. Festival ini menampilkan aneka kreasi kain nusantara yang dipamerkan di Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran.

“Di sini saya ingin memperkenalkan kain khas Bali Barat. Ini adalah hasil inovasi daerah kami, corak unik dan berbeda pada songket tenun,” ujar Christina, pengrajin kain ‘Bali Moglong’ sambil menunjukkan kain songket yang sudah dimodifikasi dengan motif yang unik, berbeda dari songket pada umumnya. “Untuk pengerjaan selembar kain songket ini memakan waktu tiga sampai lima bulan,” ujar Christina. Karena prosesnya memakan waktu dan usaha yang lama, maka harga kain-kain inipun dibanderol dengan harga 1,5 -3,7 juta rupiah. Hadir pula kerajinan batik khas Solo yang dipamerkan oleh Hartini, pengrajin Batik Canting Wisanggeni. Batik-batik ini memakan waktu satu hingga tiga bulan dalam pengerjaannya.


Selama acara berlangsung, jangan takut bosan karena beberapa stand menawarkan workshop kecil-kecilan untuk pengunjung yang tertarik untuk belajar membuat kain kreasinya. Seperti belajar membatik dengan canting, merasakan sensasi menenun langsung dari alat tenun tradisional, sampai belajar merajut dengan flanel. Diiringi dengan senandng musik klasik yang mengalun membuat suasana semakin asyik.

Pengunjung menikmati pameran kain dalam festival kain Nusantara Wastra Fest, Pura Mangkunegaran, Surakarta (Dok. VISI/Ola)


Ardhia (37), salah satu pengunjung festival kain, mengaku senang dengan adanya pameran kain Wastra Fest. Ardhia yang senang mengoleksi kain dari berbagai daerah di Indonesia merasa terinspirasi dari ragam corak kain nusantara. “Kebetulan saya memang pecinta kain, jadi senang bisa tahu variasi kain yang ada di Indonesia, tanpa perlu jauh jauh datang ke tempat asalnya.” Ardhia juga memaparkan harapan, "karena ide acara ini bagus, harapannya variasi kreasi yang ditampilkan diperbanyak lagi agar lebih lengkap,” ujarnya saat ditemui VISI pada (29/3).


Sementara itu, pada acara puncaknya Mangkunegaran Jazz Festival menghadirkan musisi-jazz kenamaan lokal maupun internasional. Dari dalam negeri akan hadir Eva Celia, D'Masiv dan Ardhito Pranomo. Sementara dari luar negeri, Lianne La Havas, musisi jazz internasional yang telah melahirkan banyak prestasi juga akan turut memeriahkan panggung di malam puncak Mangkunegaran Jazz Festival. (Ola/Widya)

Kembangkan Softskill Anak melalui Festival Dalang Cilik

Kembangkan Softskill Anak melalui Festival Dalang Cilik

Salah satu sudut penampilan wayang cilik di Pendhapi Gedhe (Dok. VISI/Gede)
Lpmvisi.com, Solo – Bunyi gamelan ditabuh bersama suara nyanyian berbahasa Jawa memenuhi Pendhapi Gedhe, Balaikota Surakarta. Di sanalah Festival Dalang Cilik diadakan, tepatnya pada hari Rabu dan Kamis (27-28/3/2019) jenis wayang yang ditampilkan adalah Wayang Kulit Purwa (Gaya Surakarta).

Festival Dalang Cilik diadakan selama dua hari dan dibuka untuk umum sejak pukul delapan pagi. Festival yang juga dilombakan ini diikuti oleh siswa laki-laki kelas satu hingga enam dengan total 20 anak, semuanya adalah siswa yang bersekolah di Solo.

“Ada dua kategori, hari pertama kategori A, hari kedua kategori B. Setiap kategori kita ambil juara satu sampai tiga sama dalang favorit menggunakan voting penonton.” ujar Naim Rizal salah satu panitia pelaksana dari event tersebut saat ditemui VISI pada Kamis sore (28/3). Ia juga membeberkan indikator yang dinilai yakni lakon, saben, iringan gendhing dan cara berbicara dalang. "Kita menyebutnya bukan juara tapi dalang cilik terbaik karena ini festival bukan lomba" ujar Naim menambahkan. 

Gelaran itu cukup menarik minat masyarakat untuk mengunjungi Pendhapi Gedhe, tak ayal sekitar 600 orang memadati tempat itu untuk melihat kepiawaian tiap siswa dalam memainkan wayang. Beberapa dari mereka merupakan siswa yang diundang untuk menonton sekalian membuat tugas laporan mengenai gelaran tersebut.

Ratini Setiawati, ibu dari salah satu dalang turut menceritakan mengenai motivasi anaknya ikut dalam festival ini. Menurutnya, anaknya tertarik seni pedalangan sejak kecil saat ayahnya memberikannya tontonan wayang. Ia kemudian dibelikan wayang kertas dan mulai diajari wayang oleh gurunya sejak umurnya tiga setengah tahun.

Ibu (kanan) dari seorang dalang cilik bernama Karestu Pitutur Mapajaesi (Dok. VISI/Gede)

“Kalau kami sebagai orang tua, saya berlatar bahasa inggris, bapaknya matematika, jadi tidak ada unsur seninya, jadi anaknya suka yasudah kita ikuti saja." ujar Ratini. Ia juga mengungkapkan sebagai orang tua lebih mengutamakan soft skill daripada hard skill"Jika anaknya berani tampil udah buat kami juara mas, kemarin juga dia maju lomba macapat tingkat provinsi.” tambahnya.

Ibu dari pedalang cilik itu juga mengungkapkan harapannya kepada pemerintah kota Surakarta untuk terus mengadakan event budaya seperti itu karena menurutnya banyak anak-anak yang tertarik budaya namun belum terekspos kemampuannya.

“Anak-anak itu ada yang mateng di hard skill, ada yang juga menguasai soft skillnya. Mohon terus untuk pemkot surakarta, event-event budaya seperti ini perlu diadakan" ujar Ratini. Ia juga menambahkan  pengadaan jenis lomba lain tidak masalah, yang penting memacu anak-anak untuk berbudaya. (Banyu, Gede)