Monday, January 22, 2018

Promosikan Koperasi Lewat Kopma Fair

Promosikan Koperasi Lewat Kopma Fair

Penampilan dance cover sebagai hiburan pengunjung Kopma Fair di Hartono Mall. (Dok. VISI/Fio)

Lpmvisi, Sukoharjo –  Koperasi Mahasiswa (Kopma) UNS baru saja menyelenggarakan acara Kopma Fair pada Kamis (18/1/2018) hingga Minggu (21/1/2018). Bertempat di Hartono Mall, Kopma UNS menggelar Kopma Fair sebagai ajang mempromosikan koperasi−khususnya Kopma UNS−pada masyarakat luas.   

Bukan tanpa alasan, panitia memilih pusat perbelanjaan sebagai lokasi Kopma Fair untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa koperasi mampu mengikuti perkembangan zaman. Dengan merambah ke era modern maka koperasi diharapkan dapat lebih dikenal dan diterima masyarakat.

Selama empat hari, Kopma Fair menggelar berbagai macam acara yaitu seminar dan talkshow tentang literasi, kesehatan, digital preneur dan sosio preneur, lomba stand up comedy, lomba makan, lomba mewarnai anak-anak, serta pelatihan make up. Tak hanya itu, Kopma Fair juga memfasilitasi berbagai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di masyarakat untuk mempromosikan usahanya melalui stan-stan yang disediakan.

"Kita mengundang tenant supaya kita bisa bekerja sama dengan usaha yang ada di luar dan tidak hanya dikenal menjual produk dari mahasiswa,” jelas Avista selaku panitia. Avista menambahkan, dance cover, fun games, dan berbagai hiburan lainnya tak ketinggalan untuk disajikan pada pengunjung.

Shinta, salah satu pengunjung, mengakui  ketertarikannya pada acara Kopma Fair namun ia menyayangkan dekorasi yang kurang menarik. "Seru sih, cuma dekorasi kurang menarik, jadi terkesan sepi,” ujarnya. Shinta pun berharap, Kopma  Fair dapat terus dikembangkan menjadi acara yang lebih menarik.

Menanggapi penyelenggaraan Kopma Fair 2018, Muhammad Aditya selaku ketua panitia berharap penerus Kopma UNS dapat lebih kreatif, inovatif dan memiliki gebrakan-gebrakan yang mampu membuat Kopma UNS lebih dikenal dan lebih memasyarakat.


Lebih lanjut, Muhammad Aditya mengatakan, "untuk acara tahun depan, saya harap acaranya bisa lebih menarik lagi, mungkin bisa juga mengundang guest star  agar banyak masyarakat yang tertarik datang di acara ini," pungkasnya. (Fio)
Keroncong Bale dan Upaya Pelestarian Langgam Klasik

Keroncong Bale dan Upaya Pelestarian Langgam Klasik

Salah satu penampilan pada acara Keroncong Bale di Balai Soedjatmoko (Dok. VISI/Atta)

Lpmvisi.com, Solo − Bentara Budaya Surakarta kembali menggelar pementasan orkes keroncong bertajuk “Keroncong Bale” pada hari Jumat (19/01/2018), pukul 20.00 WIB. Berlokasi di selasar Balai Soedjatmoko, Keroncong Bale menjadi wadah para musisi keroncong lokal untuk menunjukkan eksistensinya. Dengan menggandeng Swadeshi Mandiri−orkes keroncong asal Sukoharjo−serta beberapa musisi keroncong lainnya, Keroncong Bale menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung Gramedia.

Swadeshi Mandiri mengaku telah lima kali menjadi pengisi gelaran Keroncong Bale. Tak hanya tampil di pagelaran rutin tersebut, Swadeshi Mandiri pun tampil di Joglo Sriwedari, Metta FM, dan RRI. “Bagi kami, bukan sekedar pentas, disini kami menciptakan persaudaraan antar seniman,” tutur Sri Wahono, selaku pemilik Orkes Keroncong Swadeshi Mandiri kepada VISI seusai acara.
Tak hanya menampilkan Langgam Jawa Klasik, Keroncong Bale juga menyuguhkan lagu-lagu Keroncong Dangdut serta Keroncong Pop.

Adi, Kepala Bagian Organisasi Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) menyebutkan bahwa dukungan pemerintah sangat penting bagi penyelenggaraan dan pelestarian musik keroncong yang menjadi ikon Kota Solo. “Untuk upaya pemerintah sendiri meliputi pendanaan dalam rangka pengadaan alat dan setiap kelurahan pasti dibantu kok. Untuk (kota− red) Solo sudah bagus,” ungkap Adi.

Tak jauh berbeda dengan Adi, Sri Wahono menuturkan bahwa dukungan pemerintah dalam membantu budayawan sangat penting untuk mengadakan kegiatan yang dapat menarik minat generasi muda untuk turut andil dalam pelestarian budaya lokal. “Bukan untuk mencari prestasi. Kalau (generasi−red) kami sudah terlewat, mestinya generasi muda ini yang perlu kami rangkul, kami support” lanjutnya.


Meskipun Keroncong Bale sudah ada sejak tahun 2014, masih terdapat penonton yang mengaku baru mengetahui adanya acara tersebut. Damar, salah satu penonton, mengaku baru mengetahui Keroncong Bale sekitar dua tahun terakhir. “Baru tahu sekitar dua tahunan. Dulu tahunya karena beli buku terus cari-cari informasi,” ungkapnya. Penikmat musik keroncong tersebut berharap musik keroncong semakin banyak diminati oleh kalangan anak muda. (Atta, Anggi, Naya)

Sunday, January 14, 2018

Sendiri dalam Rindu

Sendiri dalam Rindu

(Dok. Internet)

Oleh : Dian Anggita Pratiwi


Mengapa malam ini terasa berbeda
Tiada rupa yang menemani di dalam sepi
Dia yang selalu aku rindukan
Walaupun aku tak tau apakah dia juga merindukanku
Rindu yang semakin tak tertahankan
Rindu yang terperangkap dalam batin
Rindu yang tak pernah bisa terungkapkan
Hanya dapat membayangkan rupa yang tak bisa dimiliki
Hanya dapat berharap sebuah senyuman indah untukku
Hingga aku berharap waktu yang akan mengikis rasa ini
Kucoba hilangkan dia bersama angan-angan
Namun mata yang terpejam ini masih saja melihat wajah rupawannya
Namun telinga yang kusumpal ini masih saja mendengar suara lembutnya
Entah mengapa dalam hampa aku semakin merindukannya
Dia telah masuk kedalam jiwaku
Mengalir disela bulir darahku
Keluar masuk dinding jantung ini
Menyapa setiap sel tubuhku
Menjelma denyut nadiku
Dia memikat dalam pekat
Menggoda akal sehat
Memikat dengan hangat

Hingga aku sekarat dalam peluh rindu yang menjerat

Tuesday, January 9, 2018

Gelar Gartdo², Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Pamerkan Karyanya

Gelar Gartdo², Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Pamerkan Karyanya

Suasana Pameran Nirmana dan Gambar Bentuk bertajuk Gartdo² pada Selasa (9/1/2018) di Gedung E FKIP UNS.
(Dok. VISI/Ade Uli)
Dalam rangka memenuhi tugas akhir dua mata kuliah−Gambar Bentuk dan Nirmana−mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa angkatan 2017, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menggelar Pameran Nirmana dan Gambar Bentuk bertajuk Gartdo². Pameran akan berlangsung selama tiga hari, yaitu mulai hari Senin (8/1/2018) hingga Rabu (10/1/2018). Bertempat di Gedung E FKIP UNS, para mahasiswa berhasil menyajikan sekitar 160-an karya lukis buatan mereka.

Pemecahan kendi, sambutan ketua panitia, kepala program studi, dan para dosen pengampu, serta penampilan seni menjadi rangkaian acara pembukaan pameran. Untuk hari ini hingga besok, para mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa 2017 akan memamerkan karya asli mereka dalam gelaran Gartdo². Setiap mahasiswa memamerkan satu karya terbaiknya, dari masing-masing mata kuliah, yang telah melewati proses seleksi selama satu semester.

Potret beberpa lukisan karya mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa 2017 dalam Pameran Nirmana dan Gambar Bentuk bertajuk Gartdo².  (Dok. VISI/Ade Uli)
Gartdo² cukup menyita perhatian di kalangan mahasiswa. Terhitung sejak Senin (8/1/2018) hingga Selasa (9/1/2018) pukul 12:30 WIB, sekitar 190-an mahasiswa telah tercatat dalam buku tamu.

Peminatnya lumayan sih, terutama bagi mahasiswa penghuni Gedung E FKIP sendiri. Bahkan, ada yang dari UNNES kemarin 2 orang, sama UNY juga, tutur Wening Ryani selaku sie acara. Wening menyelipkan harapan agar peminat pameran bukan datang dari lingkungan mahasiswa FKIP saja melainkan seluruh mahasiswa UNS maupun universitas lainnya.


Alfi, salah satu pengunjung pameran, mengaku senang dengan adanya Gartdo². Konsepnya menarik, yang dipemerin juga nggak bosenin jadi aku suka,” ungkap mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia 2015 tersebut. Alfi pun berharap pameran-pameran seperti Gartdo² dapat selalu diselenggarakan. (Ade Uli)

Monday, January 8, 2018

Drama Politik Cinta Dasamuka, Penutup Pagelaran yang Memukau

Drama Politik Cinta Dasamuka, Penutup Pagelaran yang Memukau

Penampilan Teater Dimar dalam Pagelaran Drama Angkatan 2015 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah.
(Dok. VISI/Banyu)
Lpmvisi.con, Solo − Dalam rangka memenuhi tugas akhir mata kuliah Pengkajian Drama, para mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia 2015, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan “Pagelaran Drama Angkatan 2015” bertajuk “Pagelaran Panca Hasta”. Berlokasi di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), selama lima hari berturut-turut−Rabu (3/1/2018) hingga Minggu (7/1/2018)−pagelaran menampilkan lima pertunjukan teater. Naskah berjudul “Maaf maaf maaf, Politik Cinta Dasamuka” karya N. Riantiarno−dibawakan oleh Teater Dimar−sukses menjadi penutup pagelaran yang memukau.

Pembacaan puisi yang kemudian berlanjut dengan lantunan musik keroncong, mengantar penonton untuk menyaksikan pertunjukan. Mengangkat kisah tentang sebuah keluarga yang bersandiwara dengan menjadikan diri mereka sebagai tokoh pewayangan−demi menuruti Sang Kepala Keluarga yang menganggap dirinya sebagai Dasamuka−pementasan berhasil menyita perhatian penonton. Pementasan pun sukses mengundang gelak tawa penonton saat menyaksikan tingkah lucu para lakon.

Fauziah, salah seorang penonton, mengakui keelokan penampilan Teater Dimar. “Bagus sih ceritanya, alurnya runtut, seru, dan akhirnya nggak ketebak.” Ujar Fauziah. Namun, Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya UMS tersebut menyayangkan pagelaran tersebut tidak dimulai tepat waktu. “Tapi, overall, bagus kok,” sambungnya.

Tak berisi lucu-lucuan saja, kritik sosial, citra pemerintahan yang carut-marut, serta kesenjangan dalam masyarakat yang menuntut penyetaraan pun turut mewarnai panggung. Dasamuka, dengan kepemimpinan otoriternya, mendapat sorotan tersendiri dalam pertunjukan.

Rianti Wahyu Ningrum selaku sekretaris acara menyebutkan bahwa Pagelaran Drama Angkatan 2015 merupakan ajang berekspresi bagi para mahasiswa. “Selain untuk memenuhi tugas akhir, dari pagelaran ini, kita juga dapat mengapresiasi karya seni, terutama drama,” sambung Rianti.
Antusiasme pengunjung yang mayoritas datang dari kalangan mahasiswa menunjukkan bahwa minat pemuda terhadap dunia seni terbilang masih cukup tinggi.

Rianti pun berharap, pertunjukan teater dapat membuat anak muda lebih mencintai karya seni−terutama seni peran−dan dapat mengapresiasinya. “Karena dalam drama seperti ini, ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dan diterapkan dalam kehidupan,” Pungkasnya. (Atta,Banyu)
Konser Angklung Anak Nusantara Sukses Memukau Penonton

Konser Angklung Anak Nusantara Sukses Memukau Penonton

Pertunjukan angklung oleh siswa-siswi SDN Gayam 1 Sukoharjo di Atrium Hartono Mall pada hari Minggu (7/1/2018).
(Dok. VISI/Metta)

Lpmvisi.com, Sukoharjo – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gayam 1 Sukoharjo baru saja menggelar acara Konser Angklung Anak Nusantara pada hari Minggu (7/1/2018). Bertempat di Atrium Hartono Mall, permainan angklung siswa-siswi SDN Gayam 1 Sukoharjo sukses memukau para penonton.

Konser Angklung Anak Nusantara menjadi gelaran pertama SDN Gayam 1 Sukoharjo yang dilaksanakan di luar lingkungan sekolah. Bertujuan membangun mental serta mengapresiasi bakat para peserta didik, SDN Gayam 1 Sukoharjo tak hanya menyajikan permainan angklung saja. Berbagai ekstrakurikuler seperti tari, karawitan, vocal, hingga fashion show turut tampil memeriahkan acara.

Lilis Suryani selaku Kepala Sekolah SDN Gayam 1 Sukoharjo mengaku bangga dengan keberanian murid-muridnya untuk tampil di depan umum. “Mereka baru berlatih satu bulan dan sudah bisa tampil seperti ini, meskipun masih banyak kekurangan, saya sangat bangga,” ujarnya saat ditemui VISI di sela-sela kemeriahan acara.

Lilis menambahkan, ia tidak ingin murid-muridnya hanya sekadar mengejar nilai akademik tanpa mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakat. Ia pun berharap, pertunjukan kesenian siswa seperti Konser Angklung Anak Nusantara dapat terselenggara secara rutin.

Tania, salah seorang pengunjung, mengaku terhibur dengan pertunjukan yang dibawakan oleh siswa-siswi SDN Gayam 1 Sukoharjo. “Untuk anak-anak tingkat SD, pertunjukan seperti ini sudah sangat bagus,” Pungkasnya. (Metta)
Masyarakat Sambut Baik Hello Market Solo

Masyarakat Sambut Baik Hello Market Solo

Potret ramainya pengunjung Hello Market Solo ke-11 di Atrium Solo Paragon Mall (Dok. VISI/Metta)

Lpmvisi.com, Solo – Hello Market Solo kembali hadir untuk yang kesebelas kalinya. Acara yang berlangsung sejak hari Jumat (5/01/2018) hingga Minggu (7/01/2018) tersebut sukses menarik minat masyarakat Solo untuk berbelanja serta berwisata kuliner. Bertempat di Atrium Solo Paragon Mall, sebanyak 39 stan fesyen dan 20 stan makanan tampak mewarnai acara bertajuk “Painting the Silence”.

Hello Market Solo tak hanya menyajikan stan fesyen dan makanan yang telah terseleksi dari berbagai Usaha Kecil Menengah (UKM) maupun online shop yang ikut mendaftar untuk berpartisipasi. Serangkaian acara seperti make up demo, hena painting, live painting on denim, dan fashion show turut memeriahkan acara. 

Anisa, salah seorang penjaga stan pakaian menyebutkan bahwa toko pakaiannya sudah terhitung dua kali berartisipasi dalam acara Hello Market Solo. “Hello Market ini bagus soalnya sudah punya pasarnya sendiri dan setiap tahun selalu ramai,” ungkap Anisa. Ia pun menyampaikan harapannya agar Hello Market Solo dapat terus berkembang dan lebih tematik.

Salma dan Anggun, dua orang pengunjung yang datang bersama rekan-rekannya, mengaku senang dengan hadirnya Hello Market Solo di setiap tahunnya. Dua siswa tersebut selalu menyempatkan diri berkunjung ke Hello Market Solo untuk mencicipi berbagai kuliner yang ditawarkan.

“Pengennya stan makanan di Hello Market bisa tambah banyak dan harganya lebih murah lagi,” ujar dua siswa SMA asal Solo tersebut.

Andika, pengunjung yang baru pertama kali mengunjungi Hello Market Solo, pun mengaku sangat mengapresiasi acara tersebut. “Bagus sih. Banyak stan makanan dan banyak diskon juga,” Ungkapnya. Senada dengan Salma dan Anggun, Andika berharap Hello Market Solo dapat menghadirkan stan fesyen dan stan makanan yang lebih banyak lagi. (Metta)


Sunday, January 7, 2018

Paud Expo 2018, Seni sebagai Metode Pengajaran Anak Usia Dini

Paud Expo 2018, Seni sebagai Metode Pengajaran Anak Usia Dini

Pameran dalam PAUD Expo 2018 yang berlokasi di Kampus IV FKIP UNS pada hari Sabtu (06/01/2018). (Dok. VISI/Yuni)

Lpmvisi.com, Solo – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru-Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali selenggarakan serangkaian acara “PAUD Expo” bertajuk “Master 2 Pieces”. Berlokasi di Kampus IV FKIP UNS, PAUD Expo 2018 berlangsung selama dua hari, Sabtu (06/01/2018) hingga Minggu (07/01/2018) dengan rangkaian acara berupa pameran, workshop, serta pertunjukan seni.

PAUD Expo 2018 memamerkan karya seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi yang berfungsi sebagai Alat Permainan Edukasi (APE) bagi anak usia dini. Riska Ayu Kurniawati selaku Humas PAUD Expo 2018 menuturkan bahwa karya seni yang dipamerkan merupakan tugas Ujian Akhir Semester (UAS) yang dibuat oleh mahasiswa Program Studi PG-PAUD. Riska menambahkan, kegiatan tersebut merupakan kolaborasi dari seluruh mahasiswa PG-PAUD.

“Kita ingin menunjukan kepada masyarakat bahwa inilah hasil karya mahasiswa PG-PAUD,” sambung mahasiswa semester lima tersebut.

Di hari pertama rangkaian acara, workshop bertajuk “Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Melalui Seni” turut menghadirkan Warananingtyas Palupi selaku Kepala Program Studi PG-PAUD dan Sri Wahyuningsih selaku dosen Program Studi PG-PAUD. Membahas penanaman seni sebagai metode pengajaran bagi anak usia dini, para guru TK dan PAUD, yang mayoritas berasal dari Solo, tampak antusias mengikuti workshop.

Warananingtyas Palupi sedang memberikan materi dalam workshop bertajuk "Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Melalui Seni" (Dok. VISI/Yuni)

Mulyani (52), salah satu peserta workshop yang ditemui VISI di sela-sela acara, mengatakan dirinya menyambut baik acara tesebut. Dia juga menuturkan bahwa tema yang diangkat dalam workshop sesuai dengan kondisi anak-anak zaman sekarang yang sangat minim etika dan sopan santun.

Pendidikan dulu dan sekarang kan berbeda. Sekarang, sudah lebih maju. Generasi sekarang lebih cerdas dan kreatif.” Ungkap Mulyani. Guru TK Desa Plumbon 2 Mojolaban, Sukoharjo tersebut pun berharap ia mampu mengembangkan kemampuannya untuk lebih kreatif dalam mendidik murid-muridnya.


Sementara itu, pertunjukan seni yang menampilkan gerak dan lagu serta tari anak usia dini oleh para mahasiswa PG-PAUD akan menjadi puncak acara yang dilaksanakan pada hari ini. Riska berharap, PAUD Expo dapat terus diadakan setiap tahun sehingga APE−karya mahasiswa PG-PAUD−dapat diaplikasikan oleh para guru PAUD dan TK untuk murid-muridnya. (Yuni)

Wednesday, January 3, 2018

Hilangkan Gengsi, Kunci Sukses Berwirausaha

Hilangkan Gengsi, Kunci Sukses Berwirausaha

Judul : Chairul Tanjung Si Anak Singkong | Penyusun : Tjahja Gunawan Diredja |Penerbit : PT. Kompas Media Nusantara | Halaman : xviii + 384 halaman | ISBN : 978-979-709-650-2
(Dok. Internet)

Oleh : Eko Hari Setyaji

Siapa tak mengenal Chairul Tanjung? Sosok itu kerap terkenang manakala kita melihat saluran televisi Trans 7, masuk ke pusat perbelanjaan Carefour, atau menikmati wahana–wahana yang ada di Trans Studio. Ialah pemilik CT Group yang membawahi Mega Corp, Trans Corp, serta CT Global Resources.
Kesuksesan Chairul Tanjung membawahi perusahaan-perusahaan tersebut bukanlah tanpa proses. Siapa sangka, jauh sebelumnya ia adalah satu dari segelintir manusia tak penting yang tinggal di sebuah lingkungan kumuh? Perjalanan hidupnya tidak mudah. Ia bukan anak yang terlahir dari keluarga kaya.
Dibesarkan di lingkungan kelas menengah ke bawah, tak lantas membuat Chairul Tanjung patah semangat untuk mengejar kemapanan. Justru, karena berasal dari keluarga kurang mampu, ia ditempa dengan prinsip, Agar bisa keluar dari jerat kemiskinan, pendidikan merupakan langkah yang harus ditempuh dengan segala daya dan upaya.” (hal.5).
Chairul, uang kuliah pertamamu yang ibu berikan beberapa hari yang lalu ibu dapatkan dari menggadaikan kain halus ibu. Belajarlah dengan serius, nak, ujar Halimah, sang ibunda kepada Chairul Tanjung kecil. Chairul pun masuk Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas Indonesia dengan biaya awal dari hasil jerih payah ibunya menjual ikan halus. Hal itu menjadikannya berpikir mengenai apa yang harus dilakukannya untuk dapat kuliah hingga lulus. Kuliahnya di FKG UI yang begitu banyak praktikum akhirnya menciptakan kesempatan untuk mulai bergerak dan memulai wirausaha. Ia memanfaatkan kondisi teman-temannya yang membutuhkan jasa fotokopi dengan melahirkan usaha di bidang tersebut. Dengan menggunakan relasinya, Chairul bisa menawarkan harga fotokopi yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan tarif rerata fotokopi di tempat lain. Kunci suksesnya sederhana; jaringan dan kepercayaan. (hal.11)
Buku ini tidak hanya menceritakan usaha Chairul Tanjung memulai wirausaha tetapi juga menceritakan tentang bagaimana kehidupannya di bangku kuliah. Status sebagai mahasiswa pula yang mengantarkannya untuk mengenal dunia politik . Chairul akhirnya lulus dari FKG UI dengan hasil yang tidak mengecewakan.
Usaha Chairul pun tidak selamanya sukses. Ada kalanya ia harus mengalami kegagalan namun langkahnya untuk terus bangkit tak pernah surut. Kesuksesan memang selalu menyertai orang-orang yang punya tekad kuat dan terus berusaha untuk maju. Sampai sukses pun, Chairul tetap menjadi seorang yang rendah hati. Meskipun kini Chairul telah menjadi seorang pengusaha yang sukses, ia tetap memakai handphone jadul hingga sering diremehkan oleh rekan-rekannya.
Terlepas dari cerita tentang Chairul dan segala kelebihan di buku ini, ada sedikit yang saya sesalkan. Cerita di buku ini kerap melompat–lompat. Saya sempet bingung juga pas baca. Namun, tetap saja buku ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi siapapun yang berkeinginan untuk sukses berwirausaha. Untuk kiprah selengkapnya, silahkan membaca bukunya, ya.

Monday, January 1, 2018

Gong, Simbol Baru Pergantian Tahun Kota Solo

Gong, Simbol Baru Pergantian Tahun Kota Solo

Pemukulan gong oleh salah satu perwakilan dari Kelurahan Joyosuran dalam gelaran perayaan pergantian tahun di
Car Free Night. (Dok. VISI/Yuni)

Lpmvisi.com, Solo − Kota Solo kembali mengadakan gelaran Car Free Night pada Minggu (31/12/2017) malam hingga Senin (01/01/2018) dini hari. Bertempat di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Kota Solo menjadikan pemukulan gong sebagai simbol baru yang menandai pergantian tahun.

Sejumlah 75 gong, yang berasal dari berbagai paguyuban budaya di Kota Solo, berjajar di sepanjang jalan, mulai dari Simpang Empat Purwosari hingga Bundaran Gladag. Tepat pukul 00.00 WIB, FX Hadi Rudyatmo selaku Walikota Solo memukul gong pertama yang kemudian diikuti pemukulan gong lainnya secara bersahutan. Rudi menjelaskan, pemukulan gong memiliki filosofi memperpanjang gaung informasi Kota Solo kepada masyarakat Indonesia supaya mereka tertarik untuk berkunjung.

Samin (63), salah satu pemukul gong dari Kecamatan Banjarsari, mengaku antusias berpartisipasi meskipun informasi mengenai keikutsertaannya baru ia dapatkan dua hari sebelumnya. Senada dengan Samin, Bayu (25)−pemukul gong dari Kelurahan Joyosuran−menyatakan bahwa paguyubannya baru mendapat informasi dua hari sebelumnya.

Penampilan di salah satu panggung Car Free Night pada Minggu (31/12/2017) malam. (Dok. VISI/Yuni)
Penampilan berbagai genre musik dari para pemusik lokal yang tersebar di lima titik−Diamond, Solo Grand Mall, Sriwedari, Ngarsopuro, dan Bundaran Gladag−turut menghibur pengunjung CFN. Berbagai tanggapan pengunjung pun ikut mewarnai perubahan perayaan tahun baru di CFN semalam.

Saya sudah empat tahun berturut-turut datang di acara ini. Dan tahun ini lebih meriah, tambah bagus lagi," ungkap Gatot (52), salah satu pengunjung dari Sragen,

Berbeda dengan Gatot, Rinda Yanuar (20) mengaku kurang puas dengan perayaan pergantian tahun kali ini. "Sedikit beda, kalau tidak ada petasan dan kembang apinya jadi sedikit tidak seru, kurang meriah gitu," ungkap warga asli Solo tersebut. (Fio, Yuni)