Thursday, May 24, 2018

Ngabuburit di Boulevard UNS, Banyak Rasa, Banyak Pilihan

Ngabuburit di Boulevard UNS, Banyak Rasa, Banyak Pilihan


Oleh : Laila Mei Harini

Aneka ragam sajian buka puasa dijajakan di sekitar Boulevard Universitas Sebelas Maret.

Lpmvisi.com, Solo − Boulevard Universitas Sebelas Maret (UNS) tentunya sudah tak asing lagi bagi para mahasiswa UNS maupun masyarakat di Kota Solo. Namun, ada yang berbeda di Boulevard UNS selama bulan Ramadan. Mahasiswa dan masyarakat sekitar bisa ngabuburit sembari berburu takjil di sana. Aneka ragam sajian untuk berbuka puasa tersaji di sepanjang trotoar boulevard UNS. Anak rantau pun tak perlu khawatir lagi bila tidak ada yang menyiapkan menu berbuka puasa. 
Salah satu makanan yang tersaji di Boulevard UNS.

Bakso bakar juga dapat dipilih sebagai santapan berbuka puasa.

Tak hanya makanan, aneka sajian minuman juga tersedia.

Es buah masih menjadi minuman favorite di bulan Ramadan. Aneka jenis buah dapat kita santap dalam satu gelas minuman.

Es sari buah juga dapat dipilih oleh para pengunjung Boulevard UNS.
Es Kepal Milo yang sedang hits di kalangan masyarakat pun tersaji di deretan penjaja takjil.

Para mahasiswi tampak sedang berburu makanan berbuka puasa.

Potret para pengunjung yang tengah ngabuburit di Boulevard  UNS pada Rabu (23/05/2018)

Anak-anak kecil pun turut menikmati sajian di Boulevard UNS.

Ngabuburit di Boulevard UNS juga menjadi ajang wirausaha para mahasiswa.

Paradigma Gerakan Reformasi Dulu dan Masa Kini

Paradigma Gerakan Reformasi Dulu dan Masa Kini


Lpmvisi.com, Solo - Gerakan Mahasiswa pada Mei 1998 menjadi puncak dari pergolakan sosial politik pada saat itu. Tahun 1997 Soeharto kembali terpilih menjadi presiden dan memimpin Indonesia selama 32 tahun. Sementara banyak hal yang menjadi dampak dari kebijakan masa orde baru, yang tidak juga terselesaikan. Keterpurukan ekonomi Indonesia di tahun 1997, seiring dengan terpuruknya perekonomian dunia, mengakibatkan kenaikan harga besar-besaran. Sementara itu, masyarakat kesulitan mendapat uang. Namun kemudian tidak ada kebijakan pemerintah yang mengindikasikan dukungan kepada masyarakat agar memiliki ketahanan ekonomi. Ini menjadi salah satu pemantik pecahnya gerakan Reformasi tahun 1998.

20 tahun berlalu, rupanya reformasi tidak berhenti begitu saja. Lima puluhan mahasiswa berkumpul di Teater Arena Taman Cerdas Jebres pada Minggu sore (20/05/2018). Mereka berkumpul untuk mengenang reformasi dan menggelar diskusi bertajuk “Apa Kabar Reformasi?” bersama Sugeng Riyanto, seorang aktivis mahasiswa pada masa reformasi. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) bersama Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS).

 
Mengingat reformasi dalam diskusi "Apa Kabar, Reformasi?" yang berlangsung di Teater Arena Taman Cerdas Surakarta (Dok. VISI/Yuni)


Sugeng Riyanto menceritakan bagaimana situasi politik, sosial, dan ekonomi pada masa sebelum pecahnya reformasi. Anggota DPRD Kota Surakarta tersebut juga bercerita mengenai dominasi partai penguasa pemerintahan yang begitu luar biasa dan minimnya ruang publik untuk menyampaikan aspirasi. Sugeng kembali mengenang ketika tahun 1997, ia bersama kawan-kawannya sesama mahasiswa yang tergabung dalam aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hendak mengadakan sebuah diskusi dengan menghadirkan Slamet Suryanto yang pada saat itu menjabat Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Diskusi tersebut diselenggarakan untuk membahas seperti apa sudut pandang PDI mencermati dinamika sosial politik Indonesia secara makro.

“Diskusi yang belum berlangsung, dibubarkan oleh intel dari aparat. Padahal itu merupakan diskusi resmi dan terbuka untuk umum, tidak secara sembunyi-sembunyi,” tuturnya.
Selain mengenang reformasi tahun 1998, diskusi sore itu juga menyoroti pergerakan mahasiswa pada masa ini bersama Adin Hanifa, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi FISIP UNS. Presiden BEM FISIP 2016 tersebut menegaskan tentang pentingnya pergerakan mahasiswa untuk memiliki keresahan bersama, konsisten dengan apa yang diperjuangkan, dan adanya regenerasi pergerakan. Regenerasi, bukan hanya perihal adanya adik tingkat yang meneruskan, melainkan adanya spirit pergerakan yang harus ditegakkan meskipun sudah tidak menjadi mahasiswa lagi. Adin juga mengungkapkan keprihatinannya pada gerakan mahasiswa saat ini yang menyekatkan diri dengan batas batas ideologi tertentu.

Muhammad Shidiq, Mahasiswa Prodi Sosiologi FISIP UNS, yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri BEM FISIP UNS menjelaskan, momentum reformasi bukan satu-satunya alasan diskusi ini dilakukan. Menurutnya, yang menjadi hal penting dalam agenda ini adalah analisis mengenai pergerakan mahasiswa pada masa ini. 
“Harapannya agar peserta yang hadir juga ikut terpantik, mengetahui seperti apa sih analisa gerakan mahasiswa dulu dan saat ini.” Uangkapnya
.
Selain diskusi, acara tersebut juga menampilkan live mural oleh mahasiswa FSRD. Ditemui usai acara, Amanda selaku Wakil Ketua KMSR mengungkapkan agenda ini sekaligus menjadi kesempatan besar bagi KMSR untuk menjalin hubungan baik dengan fakultas lain. Ia juga menambahkan, melalui seni dapat menjadi salah satu cara untuk  menyalurkan aspirasi.

Amanda juga mengaku senang dengan adanya diskusi “Apa Kabar, Reformasi?”. “Aspirasi dari mahasiswa manapun dapat secara langsung tersalurkan. Dan aspirasi tidak hanya dari omongan, kita mahasiswa seni menyalurakan aspirasi dengan gambar,” sambungnya.

Dari bangku peserta, Fera Wati−mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)− yang menyempatkan hadir mengaku dirinya tertarik mengikuti agenda tersebut karena menurutnya diskusi tersebut masih jarang dijumpai. Ia juga menyebutkan, dua puluh tahun peringatan Reformasi bukan momentum yang dapat dijumpai berkali-kali.

“Harapannya acara semacam ini akan semakin menjamur, tidak hanya sekali. Follow-up-nya juga, setelah acara ini ada apa lagi. Biar mahasiswa juga semakin tertarik,” pungkasnya. (Yuni)  


Saturday, May 19, 2018

Animo Masyarakat Tinggi, Pameran Foto Refleksi Peristiwa Mei 1998 Diperpanjang

Animo Masyarakat Tinggi, Pameran Foto Refleksi Peristiwa Mei 1998 Diperpanjang

Pengunjung tengah menikmati karya-karya Sunaryo Haryo Bayu pada Pameran Foto Refleksi Peristiwa Mei 1998 di Monumen Pers Nasional. (Dok. VISI/Dela)


Lpmvisi.com, Solo − Bekerjasama dengan Monumen Pers Nasional, Solopos menggelar pameran foto bertajuk "Refleksi Peristiwa Mei 1998" di Monumen Pers Nasional. Pameran Foto Refleksi Peristiwa Mei 1998 telah digelar sejak Jumat (11/05/2018) dan sukses menyita perhatian masyarakat. Pameran yang dijadwalkan berakhir pada Jumat (18/05/2018) tersebut akhirnya diperpanjang hingga Senin (25/06/2018) karena tingginya animo masyarakat yang ingin menyaksikan.

"Jadi, pameran ini menceritakan tentang Peristiwa Mei 1998," jelas Andi saat ditanya soal makna tema yang diangkat pada Pameran Foto Refleksi Peristiwa Mei 1998. Pimpinan Informasi Monumen Pers Nasional tersebut juga menyebutkan bahwa refleksi foto sebuah peristiwa akan mampu membawa penikmat foto ke dalam peristiwa yang terpotret di dalamnya.

Lebih lanjut, Andi memaparkan bahwa Pameran Foto Refleksi Peristiwa Mei 1998 digelar sebagai media edukasi mengenai suatu kericuhan besar yang pernah terjadi di Kota Solo. Dengan adanya Pameran Foto Refleksi Peristiwa Mei 1998, Andi berharap masyarakat dapat belajar dari peristiwa besar tersebut.

”Semoga masyarakat bisa mengingat kembali dan masyarakat menjadi tidak mudah terpengaruh atau asal tangkap terhadap isu yang tersebar sehingga peristiwa itu tidak terulang," ujarnya.

Pameran Foto Refleksi Peristiwa Mei 1998 menekankan pada refleksi karya Sunaryo Haryo Bayu serta makna dari karya itu sendiri. Beraneka ragam foto ekslusif karya Pewarta Foto Solopos tersebut mewarnai pameran. Foto-foto yang dipamerkan pun diletakkan berdasarkan tema. Selain itu, pameran foto juga dilengkapi dengan Sarasehan Kebhinekaan serta Diskusi Foto Bersama Sunaryo Haryo Bayu dan Andry Prasetyo.

Salah satu karya yang disajikan dalam Pameran Refleksi Peristiwa Mei 1998. (Dok. VISI/Dela)

Selama acara berlangsung, antusias pengunjung tampak begitu besar. Setiap hari, pengunjung terus berdatangan memberikan apresiasinya terhadap karya Sunaryo Haryo Bayu.

"Pameranya menarik karena saya bisa tahu sejarah yang pernah terjadi di Kota Solo," ungkap Kartika (17), salah satu pengunjung pameran. (Dela, Anggita)

Wednesday, May 16, 2018

Pentas Bikin-Bikin XXIII, Edukasi Politik dalam Drama

Pentas Bikin-Bikin XXIII, Edukasi Politik dalam Drama

Salah satu adegan dalam pementasan teater dalam Pentas Bikin-Bikin XXIII pada Senin (14//05/2018). (Dok. VISI/Rifa)

Lpmvisi.com, Solo − Teater SOPO Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menggelar pementasan teater bertajuk Pentas Bikin-Bikin XXIII dengan tema “SOPO Berkarya”. Tak hanya menyajikan hiburan bagi penonton saja, Pentas Bikin-Bikin XXIII juga menyisipkan edukasi politik dalam pementasannya. Digelar dalam lingkup fakultas, pementasan teater tersebut berlangsung mulai pukul 19.30 WIB di Hutan FISIP pada Senin (14/05/2018).

Tema “SOPO Berkarya” diangkat bukan tanpa alasan. Sarah Dhiba Ashari selaku Stage Manager menyebutkan bahwa panitia memilih tema tersebut dengan maksud tertentu. “Yang dimaksudkan (dari mengambil tema “SOPO Berkarya –red) adalah (Teater SOPO –red) sebagai wadah dan merupakan karya pertama bagi anggota baru Teater SOPO,” jelas Sarah.

Ardea Ningtias Yuliawati, Pimpinan Produksi Pentas Bikin-Bikin XXIII, menyebutkan bahwa pentas tersebut digelar sebagai ajang latihan bagi para anggota baru. Ia menjelaskan, melalui pementasan tersebut, anggota baru Teater SOPO dapat belajar secara langsung mengenai proses pembuatan pentas teater.

“Dalam kegiatan ini, kami mencoba mengembangkan bakat dari anggota Teater SOPO di luar bidang akademik, seperti seni tata panggung, musik, dan drama,” tambah Andrea saat ditemui VISI.

Dalam aksinya, Teater SOPO menghadirkan dua karya cerita menarik dengan alur yang berbeda. Pada drama pertama yang berjudul “Lawan Catur”−disutradarai oleh Asrori Arrafat dengan penulis Kenneth Arthur−drama tersebut mengisahkan seorang ratu yang memiliki pemikiran tangguh dan pandai dalam berstrategi. Baik strategi perang, politik, maupun pemerintahan. Sang Ratu mempunyai hobi bermain catur untuk melatih kecerdasannya. Suatu hari, pemerintahannya menghadapi sebuah pemberontakan dan kisah ini pun berpusat pada bagaimana Sang Ratu menghadapi pemberontak tersebut.

Pada cerita kedua yang disutradarai Dimas Prasojo, dengan penulis Rudyaso Febriadhi, drama tersebut menceritakan lima orang cerdas yang terasingkan dari negaranya dan berupaya untuk melarikan diri menuju negara tetangga. Dalam perjalanan tersebut, terdapat berbagai konflik akan kepercayaan dan harapan antar masing-masing tokoh.

Bondan Kurniasih, salah satu penonton, mengaku menikmati dan merasa terhibur akan karya yang ditampilkan dalam Pentas Bikin-Bikin XXIII. “Pentas Bikin-Bikin XXIII dari Teater SOPO ini juga mendidik karena cerita yang dibawakan ada kaitannya dengan politik masa kini,” ungkap Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi 2016 tersebut.

Dipentaskan selama lebih dari dua jam, rupanya proses persiapan pementasan tersebut menghabiskan waktu sekitar satu bulan lebih untuk pembuatan alat peraga dan latihan. Panitia pun memiliki beberapa harapan dalam penyelenggaraan Pentas Bikin-Bikin XXIII. “Harapan untuk Teater SOPO ke depannya lebih dikenal lagi serta dapat berkarya terus dan sukses selalu.” pungkas Ardea. (Rifa)