Saturday, September 15, 2018

Lewat Festival Pedas, Hello Market Solo Hadirkan Surga Pencinta Cabai

Lewat Festival Pedas, Hello Market Solo Hadirkan Surga Pencinta Cabai

Potret keramaian Festival Pedas #2 yang berlangsung di Solo Paragon Mall pada Jumat (14/09/2018). (Dok. Pribadi)


Lpmvisi.com, Solo – Setelah sukses menggelar acara Festival Pedas pada Febuari 2018 lalu, kini Hello Market Solo menghadirkan Festival Pedas #2 selama tiga hari berturut-turut. Festival yang menjadi surga bagi para pencinta cabai tersebut digelar mulai Jumat (14/09/2018) hingga Minggu (16/09/2018). Berlokasi di Upper Ground (UG) Floor Solo Paragon Mall, Festival Pedas ini hadir dengan 40 stan kuliner serta dilengkapi dengan konten-konten acara yang menarik.  
Fajar (25), selaku Media Relations Hello Market Solo, menyebutkan bahwa antusias pengusaha kuliner untuk bergabung dalam Festival Pedas #2 kali ini terbilang tinggi. Mereka harus melewati proses seleksi terlebih dahulu untuk mendapatkan tempat di Festival Pedas #2.
“Total yang daftar ada seratusan, jadi tidak semua dimasukin. Kami pilih mana yang menarik, yang akun sosial medianya aktif, dan juga pengikutnya banyak,” jelas Fajar saat ditemui VISI pada Pembukaan Festival Pedas, Jumat (14/09/2018).
Festival ini pun menuai respon dari para pendiri stan, salah satunya yaitu Stephanie (25). Penjual Chick Me Up dan Ini Kopi. Apa tersebut mengaku baru pertama kali berpartisipasi dalam Festival Pedas #2. “Kalo ikut festival pedas ini baru pertama kali. Tapi sebelumnya sudah pernah ikut Hello Market dan Union Project,” tutur Stephanie.

Stephanie menambahkan, alasannya mengikuti Festival Pedas #2 dikarenakan ia pernah mengikuti Hello Market Solo dan mendapatkan respon yang baik. Selain itu, ia memang aktif mengikuti acara-acara kuliner seperti ini.

Desti dan Dita (26), pengunjung Festival Pedas #2, mengaku bahwa sebenarnya tidak merencanakan datang ke festival tersebut. “Pernah lihat di instagram tapi enggak tahu tanggalnya kapan dan ini kebetulan aja,” ujar Desti pada VISI.

Meskipun awalnya memang tidak direncanakan namun mereka mengaku menikmati acara tersebut dan senang karena mereka dapat menemukan makanan khas Thailand yang menjadi kesukaannya. (Diah, Nabilah)

Kreasso 2018, Disdikpora Giatkan Kreativitas Pelajar Solo

Kreasso 2018, Disdikpora Giatkan Kreativitas Pelajar Solo

Salah satu penampilan dalam Kreaso 2018 di Benteng Vastenburg. (Dok. VISI/Ditya)

Lpmvisi.com, Solo – Benteng Vastenburg kembali menjadi saksi bisu salah satu perhelatan akbar Kota Solo bertajuk Kreasso (Kreatif Anak Sekolah Solo). Acara yang digagas oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Surakarta tersebut akan berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai Kamis (13/09/2018) hingga Minggu (15/09/2018). Kreasso 2018 berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB. Melalui Kreasso, Disdikpora merangkul segenap pelajar di Kota Solo untuk terlibat dalam perhelatan besar tersebut. Tak hanya menyediakan panggung untuk mementaskan bakat, untuk para pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), mereka pun dilibatkan menjadi panitia Kreasso 2018.

Mengusung tema Mekaring Budaya Rumaketing Bangsa, Panitia Kreasso 2018 menyampaikan pesan untuk menyatukan budaya Indonesia yang beranekaragam serta menjaga kerukunan di antara perbedaan budaya tersebut. Diselenggarakan sejak tahun 2010 oleh Jokowi, hingga kini Kreasso masih berlanjut sebagai wadah bagi pelajar Solo untuk berkarya, melatih kepercayaan diri, dan mengasah potensi.

Terlibatnya pelajar Solo dalam hal pertunjukan maupun penyelenggaraan acara Kreasso menjadikan acara tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat, khususnya para wali murid.
Dalam Kreasso, pelajar SMP, SMA, dan SMK di Kota Solo membawakan pertunjukan khas Indonesia, mulai dari tari, musik, paduan suara, hingga teater. Afdriani, salah seorang pelajar SMK yang menampilkan Tari Incling secara beregu, mengaku gugup karena ini merupakan pengalaman pertamanya. Akan tetapi, ia juga merasa bangga karena dapat menampilkan salah satu tari tradisional Indonesia.

Tak hanya menampilkan pertunjukan seni saja, Kreasso 2018 juga diisi dengan expo education, expo community, talk show, serta gallery. Para pelajar dari berbagai sekolah menengah mengisi stan-stan yang telah disediakan dengan beragam kerajinan tangan karya mereka. Pada hari-hari sekolah, pengunjung yang hadir pun cukup banyak, terutama dari kalangan pelajar.

Potret pengunjung Kreasso yang tampak banyak berasal dari kalangan pelajar. (Dok. VISI/Ditya)

Rahma, salah satu siswi SMK yang bertugas di stan sekolahnya mengaku bahwa persiapannya cukup mendadak. Ia pun mengaku baru menemukan konsep pada H-1 Kreasso.

Jadi bener-bener baru dipikirin kemarin banget untuk persiapan bahan-bahan dan hiasan kayak jarik, janur baru dicari kemarin sore dan malam baru dipasang, dibantu guru juga,” jelas Rahma.

Di stan mereka, Rahma dan teman-temannya memamerkan berbagai gambar, lukisan, miniatur rumah dan kereta api yang dibuat sendiri oleh para murid. Karya-karya tersebut merupakan karya terbaik yang ditunjuk oleh sekolah untuk ditampilkan karena memiliki nilai komersial sehingga dapat diperjualbelikan.

Sementara itu, para pelajar di Kota Solo juga mengambil peran dalam penyelenggaraan Kreasso 2018 sebagai panitia. Panitia yang berasal dari kalangan siswa/siswi SMA maupun SMK tersebut dipilih melalui seleksi wawancara oleh Disdikpora Kota Surakarta. Berada di bawah binaan panitia Kreasso angkatan sebelumnya, panitia Kreasso 2018 telah melakukan persiapan selama tiga bulan dengan rapat rutin selama tiga kali dalam seminggu. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi mereka, terutama saat mengurus dispensasi sekolah dan izin orangtua.

Ketua Divisi Publikasi Kreasso 2018 menyampaikan, pengunjung Kreasso terus bertambah setiap tahunnya. Ia mengaku, hal tersebut tidak terlepas dari peran media sosial yang mempermudah promosi acara mereka.

“Puncak acara paling ramai biasanya di hari terakhir karena ada kembang api dan akan lebih meriah,” ujar Ketua Divisi Publikasi Kreasso 2018.

Ia pun menambahkan, Kreasso 2018 mengundang para penari dari SMP Negeri 5 Yogyakarta yang baru saja menjadi pemenang Festival Lomba Seni dan Sastra Nasional (FLS2N) 2018 Kategori Tari.
Semakin malam, pengunjung semakin ramai memadati Benteng Vastenburg. Sebagian besar pengunjung adalah pelajar dan orangtua siswa yang anaknya ikut berpartisipasi baik di atas panggung maupun pameran.

Tidak sedikit pula pengunjung yang datang untuk mendukung teman-temannya, seperti Zellika dari SMA Negeri 2 Solo yang sudah beberapa kali mengunjungi Kreasso. Ia menuturkan, pertunjukan seni menjadi hal yang paling ia gemari karena menyenangkan untuk dilihat. Zellika juga mengaku, melalui Kreaso, ia bisa memperoleh pengetahuan budaya. Ia menjadi tahu mengenai tarian-tarian dan darimana asalnya. Zellika juga berharap, Kreasso dapat terus dilaksanakan setiap tahunnya. 

“Mari kita dukung teman-teman yang punya potensi lebih, misal dalam hal menari dan bisa tampil di acara ini,” ungkap Zellika.

Zellika pun menambahkan harapannya untuk penyelenggaraan Kreasso tahun selanjutnya. “Semoga tahun selanjutnya bisa lebih meriah kembali, lebih tertata, mungkin seperti ada tempat sampahnya,” pungkas Zellika. (Bening, Ditya)

Friday, September 14, 2018

Kalimantan Timur Tampilkan Tari Hudoq dalam Srawung Seni Sakral Internasional

Kalimantan Timur Tampilkan Tari Hudoq dalam Srawung Seni Sakral Internasional

Potret para penari dari Sanggar Bera'an Pare usai menampilkan Tari Hudoq di Srawung Seni Sakral Internasional 2018 pada Rabu (12/09/2018). (Dok. VISI/Ratna)

Lpmvisi.com, Solo  Dalam rangka memperingati Satu Suro, Pemerintah Kota Surakarta menyelenggarakan sebuah pergelaran seni sakral sedunia pada Rabu (12/09/2018). Berlokasi di Pelataran Museum Radya Pustaka, pergelaran bertajuk Srawung Seni Sakral Internasional 2018 tersebut menyuguhkan penampilan seni sakral dari para seniman yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga dari lintas negara. Kalimantan Timur, sebagai salah satu penampil dalam negeri, menampilkan tarian khasnya yang berjudul “Tari Hudoq”.


Penari Mexico sedang menampilkan tariannya dalam Srawung Seni Sakral Internasional 2018. (Dok. VISI/Ratna)

Ledau Timang (60), salah satu penari Hudoq, mengaku harus berlatih rutin dari sore hingga pagi untuk mempersiapkan penampilannya di Panggung Srawung Seni Sakral Internasional 2018. Penari yang tergabung dalam Sanggar Bera’an Pare−yang memiliki arti padi yang lebat−itu pun menyampaikan bahwa sanggarnya telah berulangkali mengikuti Srawung Seni Sakral Internasional dan tampil di berbagai daerah lain di Indonesia, seperti Jakarta dan Bali.

Di tahun ini, Sanggar Bera’an Pare menampilkan Tari Hudoq sebagai sebuah tarian yang memiliki makna tersendiri. Tarian tersebut biasa ditampilkan sebelum dan sesudah panen padi.

“Makna dari tarian ini yaitu dewa sakti dari khayangan yang turun ke bumi untuk menjaga dan melindungi manusia dari roh jahat,” jelas Ledau kepada VISI. Ia juga menyampaikan bahwa tarian tersebut biasa ditampilkan sebelum maupun sesudah masa panen padi.

Srawung Seni Sakral Internasional 2018 cukup banyak diminati oleh masyarakat Solo. Kursi untuk tamu undangan tampak penuh dan beberapa penonton pun rela berdiri untuk menyaksikan pergelaran seni sakral tersebut. 

Harsono (40), salah satu pengunjung dari Solo, mengaku bahwa dirinya hampir setiap tahun datang dalam acara Srawung Seni Sakral. Ia menyampaikan, menghadari acara tersebut membuat pengetahuan kebudayaannya menjadi bertambah.

“Acara ini merupakan warisan kebudayaan dan salah satu cara untuk promosi pariwisata, makanya saya rutin datang setiap tahun,” jelas Harsono. (Ratna, Meilly)

Sunday, September 9, 2018

SIPA 2018 Tebarkan Semangat Bhinneka Tunggal Ika

SIPA 2018 Tebarkan Semangat Bhinneka Tunggal Ika

Pembawa acara tengah membuka acara SIPA 2018 yang berlangsung di Benteng Vastenburg pada Jumat (07/09/2018).
(Dok. VISI / Nafila)

Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta baru saja selesai menggelar pertunjukan seni tahunan bertajuk Solo International Performing Arts (SIPA) untuk yang kesepuluh kalinya. Berlokasi di Benteng Vastenburg Surakarta, pergelaran maha karya seni pertunjukan tersebut berlangsung sejak Kamis (06/09/2018) hingga Sabtu (08/09/2018). Dengan mengusung tema “We Are The World, We Are The Nations”, SIPA 2018 hadir sebagai perwujudan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang diharapkan mampu menjadi landasan kerukunan, bukan hanya bagi masyarakat Indonesia saja, melainkan bagi seluruh masyarakat dunia dalam menghargai keberagaman budaya yang ada. 

Pemerintah pun menuangkan gagasan tersebut ke dalam SIPA dengan melibatkan seniman-seniman dari berbagai negara, seperti Taiwan, Philiphina, Spanyol, Belanda, Zimbabwe, serta Amerika untuk tampil secara khusus dalam acara ini. Seniman-seniman Indonesia yang berasal dari Solo, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, Palu, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua, pun turut andil dalam mempersembahkan pertunjukan seni yang tak kalah menawan.

Potret dekorasi SIPA 2018 yang menampilkan bendera negara-negara yang terlibat dalam pertunjukan SIPA 2018.
(Dok. VISI / Nafila)

Di tahun ini, penyelenggara SIPA 2018 menargetkan pergelaran pertunjukan seni tersebut mampu menjadi pertunjukan berstandar internasional. Selain itu, panitia juga berharap bahwa antusiasme masyarakat dapat meningkat sehingga pengunjung pun dapat bertambah lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk mencapai target tersebut, panitia mengaku telah menjalankan berbagai inovasi dalam pergelaran SIPA 2018.  

 “Kami dari panitia sudah melakukan beberapa inovasi yang berbeda dari tahun sebelumnya seperti mengadakan SIPA Goes to Caffee dan SIPA Goes to Campuss,” tutur Henggar selaku Humas SIPA 2018.

Henggar menegaskan, adanya acara pancingan tersebut bertujuan untuk menambah kepekaan masyarakat terhadap acara inti SIPA 2018 yang diselenggarakan mulai Kamis (06/09/2018) hingga Sabtu (08/09/2018). Henggar pun menuturkan bahwa SIPA 2018 dimulai tiga jam lebih awal dari tahun sebelumnya, yaitu dimulai pukul 16.00 WIB, supaya para penikmat seni yang masih duduk di bangku sekolah tetap dapat menikmatinya.

Nafira (19), salah seorang pengunjung, mengakui keelokan pertunjukan SIPA 2018. Ia pun menyampaikan harapannya supaya SIPA dapat terus berlanjut dengan konsep yang lebih matang. “Saya berharap, untuk SIPA selanjutnya dapat mementaskan pertunjukan yang spektakuler di setiap harinya, bukan di hari terakhir saja,sambung Nafira. (Nafila, Dea)

Tuesday, September 4, 2018

Partisipasi Politik dan Keterikatan Politik

Partisipasi Politik dan Keterikatan Politik

(Dok. Internet)

Oleh : Fajrul Affi Zaidan Alkannur

Perilaku politik masyarakat yang maju dan modern tidak cukup ditandai dengan partisipasi politik tetapi juga ditandai dengan keterikatan politik. Indonesia, bangsa yang ingin merealisasikan iklim demokrasi yang berkualitas, harus melakukan proses pendidikan politik yang benar-benar mampu untuk mewujudkan partisipasi politik dan keterikatan politik secara optimal. Dengan demikian, dapat dirasakan pesta demokrasi yang benar-benar menjamin tercapainya kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Karena sejatinya Pemilihan Umum (Pemilu) bukan termasuk tujuan negara, melainkan salah satu sarana untuk mewujudkan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

Tulisan ini akan mencoba melihat apa dan bagaimana partisipasi politik dan keterikatan politik bagi bangsa Indonesia khususnya di kalangan kaum muda.

Definisi umum dari partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik dengan jalan memilih pimpinan negara dilakukan secara langsung atau tidak langsung memengaruhi kebijakan pemerintah (Miriam Budiardjo, 2017 : 367).

Anggota masyarakat dapat berpartisipasi dalam proses politik melalui pemberian suara atau kegiatan politik lainnya. Mereka berkeyakinan, melalui partisipasi tersebut, mereka dapat memengaruhi tindakan yang berwenang dalam mengambil keputusan. Partisipasi politik sendiri erat hubungannya dengan kesadaran politik. Kesadaran seperti ini awalnya muncul dari orang yang berpendidikan, memiliki kehidupan yang baik, dan orang-orang yang terkemuka. Kesadaran tersebut timbul dari latar belakang sesorang itu sendiri. Adapun alasan seseorang tidak berpartisipasi, yaitu dikarenakan protes terhadap pemerintah yang berkuasa atau karena mereka berpendapat bahwa keadaan yang ada terlalu buruk dan siapapun yang dipilih tidak akan mengubah keadaan. Di sisi lain terdapat keterikatan politik, yaitu keterikatan masyarakat pada politik. Keterikatan masyarakat pada politik menimbulkan kesadaran dan melek politik yang meyakinkannya bahwa sikap politik yang ia ambil akan berpengaruh terhadap penyelenggaraan negara. Dari situlah muncul suatu sistem yang memiliki beberapa unsur yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya.

Keterikatan politik memiliki perbedaan dengan partisipasi politik. Keterikatan politik memiliki cakupan yang lebih luas, termasuk di dalamnya partisipasi politik, pemberdayaan politik, akses politik, dan sosialisasi politik. Sekarang ini, politik sudah menjadi perbincangan sehari-hari di berbagai tempat umum. Orang-orang pun tidak takut maupun sungkan mengungkapkan preferensi politiknya. Hal tersebut menunjukkan tingkat keterikatan politik masyarakat saat ini cukup tinggi dan kini politik tidak hanya konsumsi kelompok elite.

Perbedaan keterikatan politik dan partisipasi politik juga tercermin dalam proses Pemilu yang menunjukkan keduanya tidak berkorelasi positif. Faktanya, saat Orde Baru tingkat partisipasi dalam Pemilu hampir 100% namun tingkat keterikatan politik terbilang rendah. Sebaliknya, di Era Reformasi, tingkat partisipasi dalam Pemilu hanya berkisar 75% tetapi tingkat keterikatan politik lebih tinggi dibandingkan masa Orde Baru. Hal ini bisa terjadi karena indikator seseorang terlibat dalam politik tidak hanya dinilai melalui keikutsertaannya dalam Pemilu tetapi  juga melalui kegitan lain seperti diskusi publik, jajak pendapat, petisi, dan sebagainya. Menurut Robert Putnam, keterikatan politik yang besar adalah modal bagi demokrasi untuk mengakar di masyarakat.  

Masyarakat bisa berperan aktif dalam politik tetapi, karena alasan tertentu, mereka tidak datang memberikan suara saat pemilihan umum atau sering disebut golongan putih (golput).  M. Saekan Muchith  (2017), dalam makalah berjudul “Membangun Kesadaran Berpolitik Masyarakat”, menjelaskan bahwa apatisme atau rendahnya partisipasi politik masyarakat disebabkan oleh empat faktor yaitu: Pertama, Faktor Sosiologis, yaitu tidak ada tokoh atau orang di sekitarnya yang bisa dijadikan contoh atau memberi penjelasan tentang apa yang seharusnya dilakukan dalam Pemilu. Rendahnya partisipasi dalam Pemilu lebih disebabkan kurangnya sosialisasi dari pihak pihak yang terkait. Kedua, Faktor Administratif, yaitu rendahnya atau tidak tertariknya masyarakat terhadap Pemilu disebabkan karena masyarakat tidak tercantum atau tidak terdaftar sebagai pemilih atau pemberi suara. Ketiga, Faktor Politis, yaitu rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pemilu disebabkan karena masyarakat tidak mengetahui apa makna Pemilu bagi kehidupan masyarakat. Keempat, Faktor Rasional Politis, yaitu rendahnya kesadaran berpolitik masyarakat disebabkan karena masyarakat memiliki kesadaran dan pemahaman yang kuat bahwa calon-calon yang ikut dalam proses Pemilu tidak memiliki kualitas dan integritas yang sesuai dengan harapan.

Partisipasi politik dan keterikatan politik harus sepenuhnya dipahami dan dijalankan secara benar oleh masyarakat, terutama generasi milenial yang didominasi oleh kaum muda. Hal ini sangat penting bagi kaum millennial, yang dianggap aktif dan melek informasi, sebagai proses pembelajaran demokrasi yang mampu menciptakan kehidupan demokrasi yang lebih baik di Indonesia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019, jumlah pemilih pemula mencapai 60 juta orang. Jumlah ini sekitar 30% dari total pemilih dalam Pemilu 2019 yaitu sekitar 196 juta orang. Berdasarkan survey dari CSIS (Centre for Strategic and International Studies) dan Survey Cyrus Network, jumlah partisipasi pada Pemilu 2014 hanya 70% sehingga angka ketidakikutsertaan dalam Pemilu mencapai angka 30%.

Hal tersebut sangat ironis, mengingat Indonesia merupakan negara demokrasi namun angka partisipasi politiknya masih rendah. Selain itu, dengan peningkatan keterikatan politik dapat menjadi proses check and balances di luar lembaga legislatif terhadap kinerja pemerintah dalam menyelenggarakan negara.

Jangan sampai generasi penerus bangsa menjadi orang-orang yang apatis dan tidak peduli akan persoalan politik dan negara. Maka dari itu, kita harus mempersiapkan generasi milenial sebagai generasi penerus yang melek politik, mampu berperan aktif, serta memiliki keterikatan politik. Dengan begitu, kelak proses demokrasi bisa dikelola secara lebih baik dibandingkan sekarang ini.

Monday, August 13, 2018

Berburu Fashion di Hello Solo Radio Garage Sale

Berburu Fashion di Hello Solo Radio Garage Sale

Suasana malam di Hello Solo Radio Garage Sale yang berlangsung di area Kantor Solo Radio pada Sabtu (11/08/2018). (Dok. VISI/Laila)

Lpmvisi.com, Solo -
Hello Market Solo kembali menggelar Garage Sale untuk yang ke-11 kalinya. Bertajuk Happy Weekend, tahun ini, Hello Market Solo berkolaborasi dengan Solo Radio. Berlokasi di area Kantor Solo Radio, Manahan,Hello Solo Radio Garage Sale−yang diadakan dalam rangka menyambut HUT RI ke-73−berlangsung sejak Jumat (10/08/2018) hingga Minggu (12/08/2018).

Potret kegiatan Sharing Session Komunitas dalam acara Hello Solo Radio Garage Sale. (Dok. VISI/Laila)

Selama tiga hari, Hello Solo Radio Garage Sale diwarnai dengan berbagai konten acara. Mulai dari bazar preloved, talkshow, sharing session bersama komunitas, penampilan akustik, acara amal, dan berbagai lomba. Terdapat 15 stan dari para Fashionista Solo yang ikut berpartisipasi dalam acara ini. Mereka menyediakan barang-barang preloved seperti baju, celana, sepatu, tas, hingga make up dengan kualitas terbaik yang dapat dibeli oleh para pengunjung.

Para pengunjung sedang mendatangi stan di Hello Solo Radio Garage Sale. (Dok. VISI/Laila)

Beberapa barang yang dijual dari salah satu stan di Hello Market Solo. (Dok. VISI/Laila)

Fairuz, salah satu pemilik online shop khusus baju-baju impor bekas yang ikut berpartisipasi dalam acara ini mengaku sangat terbantu dengan adanya Hello Solo Radio Garage Sale. Selain menarik pengunjung yang datang, acara ini juga bisa mengenalkan produk-produk yang ia jual kepada masyarakat luas. Beberapa baju impor yang ia dapat dari luar Jawa dijual dengan harga miring namun tetap dalam kondisi yang masih bagus dan layak pakai.

Berbeda dengan Fairuz, Berlin hanya menjual baju-baju bekas dari seseorang saja yang memang berniat menjual baju-baju bekasnya. Ia juga merasa sangaat terbantu dengan banyaknya pengunjung yang datang ke acara Hello Solo Radio Garage Sale. “Barang yang kami jual jadi banyak dilihat. Kalau nyewa tempat sendiri belum tentu sebanyak ini orangnya,” sambung Berlin.
                                                                                
Abigail, salah satu Karyawan Solo Radio yang turut mengurus Hello Solo Radio Garage Sale menjelaskan, bazar preloved diadakan untuk memberi wadah bagi pelaku-pelaku usaha, khususnya di bidang fashion, agar dapat mengenalkan produk-produknya. Selain itu, pengadaan bazar preloved ini juga bertujuan untuk memberitahu masyarakat bahwa tidak semua barang bekas murahan. Banyak barang bekas yang berkualitas dan masih bermanfaat.

“Mungkin orang gengsi ya beli barang-barang preloved? Padahal, kalo keadaanya masih bagus, why not?Ujar Abigail kepada VISI.

Yang menarik di acara ini adalah peniadaan kantong plastik dari para penjual. Hal ini sebagai bentuk dukungan terhadap aksi gerakan environmental sustainability dan eco lifestyle, salah satu gerakan cinta lingkungan yang ditujukan kepada masyarakat.

“Sebisa mungkin kami tidak menyediakan plastik. Kan ini mengurangi sampah dan bentuk dukungan untuk recycle sampah juga,” lanjutnya.

Dukungan untuk acara ini juga datang dari para pengunjung. Devi, salah satu mahasiswa UMS, yang mengaku sering datang ke acara bazar preloved, menjelaskan keinginannya untuk berburu barang-barang bekas di sini.

Barang bermerk pasti kualitasnya lebih bagus. Misal tas di konter yang biasanya harga 800.000 sampai sejuta, disini cuma dapat 100.000 sampai 500.000. Meski model lama kan kualitasnya masih bagus,” pungkasnya. (Laila)