Poster Film “Titip Bunda di Surga-Mu” - yang tayang di bioskop pada 26 Februari 2026 (sumber: Google/CinemaXXI). |
Judul Film : Titip Bunda di Surga-Mu
Produksi : RRK Pictures, Spectrum Film, dan Festival Pictures
Sutradara : Hanny R. Saputra
Produser : Dono Indarto
Penulis Skenario : Dono Indarto dan Zora Vidyanata
Durasi : 112 menit
Tanggal Rilis : 26 Februari 2026
Mengusung konsep drama keluarga yang sarat akan makna kasih sayang dan nilai religi, film ini menghadirkan dinamika keluarga yang retak akibat tekanan ekonomi dan kesalahpahaman satu sama lain. Khususnya bagi tiga bersaudara yang terdesak kebutuhan finansial hingga memilih merampok harta ibu mereka sendiri sebagai solusi. Namun, pilihan inilah yang kemudian membawa mereka pada penyesalan, rahasia, dan kasih sayang yang terlambat disadari.
Film Titip Bunda di Surga-Mu merupakan sebuah film drama keluarga Indonesia yang diproduksi oleh tiga rumah produksi diantaranya RRK Pictures, Spectrum Film, dan Festival Pictures yang saling berkolaborasi. Film ini disutradarai langsung oleh Hanny R. Saputra. Skenario diadaptasi dari novel karya Dono Indarto dan Zora Vidyanata yang terbit pada April 2025 lalu. Sebuah film yang mengangkat cerita tentang kasih sayang ibu yang kerap disalahartikan, menjadikan sebuah penyesalan besar bagi anak-anaknya saat telah menyadarinya.
Film ini memiliki durasi 112 menit dan diproduseri oleh Dono Indarto. Diperankan oleh sejumlah aktor dan aktris papan atas seperti Acha Septriasa, Kevin Julio, Abun Sungkar, Meriam Bellina, Ikang Fawzi, hingga Asri Welas, film ini kian menarik untuk disaksikan bersama teman maupun keluarga.
Sinopsis Titip Bunda di Surga-Mu
Alya, Adam, dan Azzam adalah tiga bersaudara yang sedang mengalami titik paling sulit dalam hidup masing-masing. Alya, sebagai anak sulung, terjebak dalam krisis bisnis kafenya karena menunggak gaji karyawan. Adam, anak kedua, terseret masalah hukum akibat pencemaran nama baik seorang artis terkenal, sekaligus harus segera melamar sang kekasih. Sementara itu, Azzam, si bungsu, merepresentasikan generasi muda yang terjerat lingkaran judi online dan pinjaman online hingga memiliki utang puluhan juta rupiah. Kondisi ini memaksa ketiganya bekerja sama memikirkan solusi tercepat untuk keluar dari kesulitan tersebut.
Tekanan finansial yang menghimpit memunculkan rencana nekat. Mereka sepakat mengambil simpanan uang dan perhiasan Bunda Mozza, ibu yang selama ini mereka anggap terlalu pelit dan kurang memahami kondisi anak-anaknya. Azzam, sebagai pencetus ide, berdalih bahwa tindakan itu bukanlah mencuri, melainkan hanya mengambil jatah warisan lebih awal.
Namun, aksi inilah yang menjadi awal keterpurukan Bunda Mozza setelah mengetahui seluruh hartanya hilang tak bersisa, hanya menyisakan pecahan guci yang selama ini menjadi tempat penyimpanan.
Demi menutupi rasa bersalah dan menjaga rahasia tersebut, ketiganya berpura-pura peduli dengan menuruti permintaan sang Bunda untuk meluangkan waktu bersama, satu per satu. Di sinilah inti cerita mulai terungkap. Dalam kebersamaan yang dipaksakan itu, rahasia demi rahasia Bunda terkait harta tersebut perlahan terbuka, memaksa Alya, Adam, dan Azzam memilih: mengakui kesalahan atau menanggung konsekuensinya sebelum semuanya terlambat, terlebih saat kondisi kesehatan sang Bunda kian melemah.
Sinema Keluarga yang Sarat Akan Pembelajaran bagi Anak-anak
Film ini mengedepankan sisi emosional dalam setiap adegannya. Konflik antara anak dan orang tua tidak hanya digambarkan sebagai perselisihan sederhana, melainkan berlapis-lapis, mulai dari ego, kekecewaan, kesalahpahaman, hingga rasa sayang yang sulit diungkapkan. Penonton seolah diajak untuk memaknai sebuah refleksi diri. Masih sempatkah kita mengucap maaf sebelum semuanya terlambat?
Dari segi akting, penampilan Meriam Bellina sebagai Bunda Mozza patut mendapat sorotan lebih. Ia menjadi jantung dari film ini. Sosok ibu yang hangat, kuat, namun menyimpan kesedihan mendalam berhasil ia hadirkan tanpa perlu banyak dialog yang dramatik. Sementara itu, chemistry antara Acha Septriasa, Kevin Julio, dan Abun Sungkar sebagai tiga bersaudara terasa mengalir dengan natural. Meski secara fisik ketiganya tidak memiliki kemiripan wajah layaknya saudara kandung, hal itu tertutup oleh akting yang meyakinkan dan penuh dengan emosi.
Tidak hanya sekedar menyajikan konflik, film ini juga menyisipkan bumbu komedi ringan di tengah situasi yang sulit. Meski tidak semua adegan kocak berhasil memancing tawa, kehadirannya cukup membantu agar film tidak terlalu berat untuk ditonton dari awal hingga akhir. Dari segi visual, sinematografi Titip Bunda di Surga-Mu memilih Kota Semarang sebagai latar belakang, menghadirkan nuansa sederhana yang penuh kehangatan. Pengambilan gambar yang intim membuat penonton seolah ikut berada di dalam rumah keluarga biasa yang sarat makna. Tanpa penggunaan efek visual yang berlebihan, semuanya disajikan secara sederhana dan selaras dengan suasana film. Soundtrack film ini pun turut memperkuat suasana. Lagu Titip Bunda di Surga-Mu yang dibawakan Nabila Maharani hadir sebagai instrumen pengiring emosional yang tepat tanpa terasa berlebihan atau memaksakan kesedihan.
Film ini dapat menjadi salah satu rekomendasi film keluarga terbaik yang tayang pada 2026, terutama di momen libur panjang yang identik dengan kebersamaan. Film ini layak ditonton bersama seluruh anggota keluarga di rumah. Perlu diketahui bahwa film ini memiliki rating 13+, artinya cocok ditonton oleh hampir semua kalangan usia, dengan pendampingan orang tua bagi anak-anak yang lebih kecil. Tidak ada adegan yang tidak pantas; sebaliknya, banyak momen yang justru dapat menjadi contoh bagi anak-anak dan orang tua. Dalam 13 hari pertama penayangan, film ini telah berhasil menembus 100.000 penonton. Hal ini membuktikan bahwa cerita keluarga yang jujur dan relevan selalu menemukan tempat di hati penonton Indonesia. (Abdurafi Tito Dzakwanallam)
0 Komentar