POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Resensi As Long as The Lemon Trees Grow: Ketika Harapan Bertahan di Tanah Penuh Luka


As Long As The Lemon Trees Grow | Perpustakaan Digital Bawaslu
(Sumber: Google)

 

Judul Buku : As Long as The Lemon Trees Grow

Penulis : Zulfa Katouh

Penerbit : Penerbit Mizan

Tahun Terbit : 2023

Jumlah Halaman : 512 Halaman

 

As Long as The Lemon Trees Grow adalah novel tentang harapan dan ketegaran hati dalam menghadapi gejolak batin di tengah wilayah konflik. Berlatar konflik perang di Suriah, sang tokoh utama, Salama, dipaksa memilih meninggalkan tanah airnya atau tetap tinggal di Suriah dengan segala resiko untuk menepati janji pada kakaknya sebagai tanda cinta. Konflik batin Salama menjadi pusat dari cerita ini. Zulfa Katouh, penulis buku As Long as The Lemon Trees Grow, membuat pembaca melihat sisi manusia saat berada dalam konflik besar. Ketika ketakutan dan kehilangan muncul terus menerus, akan hadir pula keberanian dan cinta yang menolak untuk dipadamkan.

 

“Selama pohon lemon masih tumbuh, harapan tidak akan pernah mati.” (Halaman 465) 

 

“Mengapa pohon lemon?” pertanyaan itu sempat terlintas ketika saya membaca kutipan tersebut dari buku As Long as The Lemon Trees Grow, terlebih saat pertama kali membaca judulnya. Namun, semakin dihayati semakin terasa bahwa lemon adalah simbol yang sangat pas untuk buku ini. Pohon lemon tetap mampu tumbuh, meski berakar di tanah yang gersang dan menghadapi cuaca yang tak selalu ramah. Di tengah kondisi yang tampak tidak memungkinkan, ia justru melahirkan buah berwarna cerah, seolah menantang gelap dengan kehangatan. Mungkin itulah maknanya, seperti pohon lemon, harapan tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan megah.

 

“Kita bisa mendapatkan kebahagiaan, Salama. Mungkin bentuknya tidak utuh, tetapi serpihan-serpihan pun cukup karena kita bisa merekatkannya kembali.” (Halaman 123)

 

Selain metafora mengenai pohon lemon, kutipan ini sangat membekas di hati saya, karena seolah mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak harus berbentuk kesempurnaan yang utuh, tetapi juga tentang ketegaran untuk tetap merasakannya meski dalam keterbatasan. Bahkan, di tengah situasi yang paling gelap sekalipun, selalu ada ruang kecil tempat kebahagiaan dapat ditemukan dan perlahan disusun kembali menjadi sesuatu yang berarti. Seperti yang dilakukan Salama, tokoh utama cerita ini. Di hidup Salama yang penuh duka dan nestapa, kebahagiaan masih bisa ia temukan dalam bentuk kecil, rapuh, bahkan terpecah-pecah. Seperti kenangannya akan keluarganya dan Suriah sebelum perang, pertemuan dengan orang baru, sampai mimpi akan cita-cita yang tidak pernah sampai, menunjukkan bahwa serpihan-serpihan itu bisa kita kumpulkan dan rangkai ulang, seolah memberi kekuatan bahwa manusia selalu punya kemampuan untuk bertahan dan memulihkan diri.

Dalam ceritanya, As Long as The Lemon Trees Grow mampu menggambarkan realitas suasana peperangan melalui kacamata seorang perempuan yang sangat personal. Tidak hanya menampilkan kerusakan fisik, namun juga luka batin yang dialami tokoh-tokohnya secara langsung. Pembaca seolah terbawa dalam situasi tersebut hingga akhirnya menciptakan kedekatan emosional, khususnya dengan tokoh utama. Penggunaan pohon lemon menjadi daya tarik tersendiri dalam buku ini. Lemon yang asam juga menyegarkan menjadi metafora yang indah tentang harapan di tengah kengerian. Hal ini mendukung cerita yang tidak selalu tentang tragedi, tetapi juga menceritakan tentang makna bertahan dan menemukan secercah cahaya di masa paling gelap. Penulisan Zulfa Katouh sukses menyentuh pembaca dengan narasi yang puitis namun tetap lugas. Di latar yang menyedihkan, penulis berhasil menghidupkan tema cinta, kehilangan, dan harapan akan ketidakpastian.

Karena kedekatan emosional yang terjalin antara cerita dan pembacanya, emosi saya terasa sangat dikuras saat membaca buku ini. Bukan berarti buku ini tidak layak dibaca, justru sangat layak. Namun konflik peperangan yang mengerikan dan kebingungan Salama akan jalan yang tampak buntu mengambil alih pikiran dan perasaan saya selama membaca. Ada momen di mana saya merasa tidak sanggup melanjutkan dalam sekali duduk, seolah perlu jeda untuk bernapas dan memulihkan diri dari emosi yang begitu intens. Buku ini memang terasa emotionally draining, tetapi di saat yang sama, justru itulah yang membuatnya begitu kuat dan berbekas. Rasa lelah secara emosional itu berubah menjadi pengalaman membaca yang mendalam.

Pada akhirnya, As Long as The Lemon Trees Grow mengajak pembaca untuk memahami bahwa perang tidak hanya sekadar angka korban di berita, melainkan kisah nyata orang-orang tak bersalah yang kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan. Dari buku ini, pembaca dapat membangun empati pada mereka yang terdampak, meski tidak pernah terdampak perang secara langsung. Novel ini dapat berfungsi sebagai pengetuk hati orang-orang yang masih menganggap perang itu remeh dengan anggapan “asalkan bukan saya yang terdampak”. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah hal yang sangat mengerikan dan tidak seharusnya perang menjadi kenyataan yang harus diterima. Karena setiap manusia memiliki hak untuk hidup dengan damai, merasakan kebahagiaan, keamanan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik, sesuatu yang seharusnya tidak bisa direnggut oleh siapapun. (Aulia Az Zahra)

Posting Komentar

0 Komentar