Saturday, September 2, 2017

Ngekos di Sekitar UNS Masih (Bisa) Ringan Diongkos

Ilustrasi kamar kos. (Dok.VISI/Redaksi)
Bido tak akan hilang rindu dengan gudeg di Kantin Mbok Jum. Lima tahun setelah lulus dari Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR), jebolan Ilmu Sejarah UNS itu kembali menyambangi kampusnya. Untuk menggenapi nostalgia, selain singgah ke kantin yang konon terkenal murah itu, Bido juga mampir ke rumah indekos yang pernah dihuninya selama lima tahun.

Sosok pemilik kos tempat Bido pernah tinggal tak jauh berubah. Dari wanita yang bernama Suratin itu, hanya rambut yang terlihat makin putih. Bido dan Suratin berbincang banyak. Dimulai dengan satu topik ke topik lain, sampailah keduanya menyinggung tentang tarif kos.

Dari obrolan itu Suratin bercerita jika sekarang tarif satu kamar kos di tempatnya hanya naik Rp.500.000,00 dibanding semasa Bido masih tinggal. Padahal dulu Bido hanya membayar Rp.1.800.000,00 setiap tahun.

Bido lantas heran, kenapa dalam lima tahun kenaikan tarif kos hanya sekecil itu. Ia tahu persis jika harga tanah terus merangkak naik tanpa kenal ampun. Namun Suratin tak menanggapi keheranan Bido dan menyambar dengan sebuah kalimat receh ala simbah-simbah.

“Kalau adik-adikmu ada yang cari kos, bisa kamu tawarkan kamarmu yang dulu,” timpal Suratin sambil terkekeh.

Faktanya, tak pernah ada kata sukar untuk mencari kos-kosan bertarif miring di sekitar UNS. Kos tempat Dimas Adi Nugroho tinggal misal. Dalam setahun mahasiswa Ilmu Komunikasi itu ‘hanya’ perlu membayar sewa Rp.2.500.000,00.

Dengan tarif tersebut, Dimas mendapati kamarnya terisi fasilitas standar ala anak kos Solo. Mulai dari kursi dan meja belajar, almari, serta tempat tidur. Di luar tarif sewa, Dimas hanya perlu membayar ongkos listik. Itupun tak seberapa. Paling banter, mahasiswa asal Pacitan itu hanya merogoh kocek hingga Rp.15.000,00 per bulan.

“Buat saya, tarif segitu sudah termasuk murah. Pengalaman(ngekos-red) di Jogja, tarifnya tak semurah di sini,” imbuh Dimas saat diwawancarai VISI pada Sabtu (2/9/2017).

Tarif di tempat kos Dimas bukan yang paling murah. Masih tak jauh dari kampus, Puji Juharida hanya membayar uang sewa senilai Rp.1.800.000,00 per tahun. Bahkan uang yang dirogoh Puji dari kantongnya sudah termasuk untuk membayar ongkos listrik.

"Murah sih. Dekat, letaknya di depan kampus. Aksesnya juga mudah," imbuh mahasiswi Agroteknologi tersebut.

Sebenarnya tarif sewa satu kamar yang dihuni Puji mencapai angka Rp.5.500.000,00 per tahun. Namun kamar tersebut dihuni bersama dua teman lainnya. Jadilah masing-masing mahasiswi hanya perlu membayar sepertiga dari tarif sewa.

Indikator 'murah' memang berbeda untuk tiap mahasiswa. Bagi Luthfi Farah Arifah, tarif kamar kosnya yang mencapai Rp.4.000.000,00 tidak tergolong mahal. Dengan tarif tersebut, mahasiswi Administrasi Negara 2017 itu sudah mendapatkan fasilitas air galon gratis, tempat tidur, meja belajar, dan almari.

“Dengan fasilitas segitu ya murah aja, meskipun belum termasuk wi-fi,” tandas Luthfi.

Meski definisi tiap mahasiswa berbeda, pendapat Dimas, Puji, dan Luthfi mewakili pandangan para mahasiswa di Kentingan, bahwa tarif sewa kos di sekitar kampus masih terjangkau. Redaksi VISI lantas melakukan survei acak ke 30 mahasiswa di beberapa fakultas. Hasilnya, hanya satu orang yang mengatakan keberatan dengan tarif kosnya. 15 mahasiswa lain mengatakan murah, sedangkan 14 lainnya mengatakan 'biasa saja'.

Faktor Listrik dan Air

VISI juga sempat mewawancarai sejumlah pemilik kos untuk mengetahui faktor apa saja yang mendorong kenaikan tarif kos di sekitar kampus. Hampir semua sepakat mengatakan faktor yang paling mempengaruhi adalah menanjaknya tarif listrik dan air.

Di kos milik Heru (54) yang terletak di daerah Gendingan, dalam tiga tahun terakhir mengalami kenaikan senilai Rp.250.000,00. Si pemilik menuturkan kenaikan tersebut lebih banyak disebabkan oleh lonjakan biaya listrik dan air PAM. 

Pada pertengahan 2015 Heru sempat menerapkan listrik token untuk para penghuni kos. Namun hal tersebut justru tidak efektif karena mahasiswa malah menjadi boros dan mengusulkan untuk kembali menggunakan sistem pajak listrik lama.

“Umumnya kalau mahasiswa sudah pakai token justru jadi boros,” pungkasnya.

Anis Puji Astuti (50), salah seorang pemilik kos di daerah Jebres punya cara lain untuk menarik minat para pencari kos tanpa merugikan diri sendiri. Biasanya ia menerapkan tarif murah pada tahun pertama. Di tahun berikutnya, barulah Anis menaikkan nilai sewa sesuai dengan kenaikan biaya listrik.

Umumnya hal seperti ini ia lakukan untuk para mahasiswa baru yang belum memiliki pemahaman tentang tingginya biaya listrik. Pasalnya, mahasiswa lama yang sudah pernah ngekos di tempat lain lebih paham tentang tingginya tarif listrik, sehingga cenderung tidak menawar tarif sewa secara berlebihan.

“Kalau masuk awal (tahun ajaran baru-red) belum tahu harga listrik dan air, itu kita naikkan di tahun kedua. Kalau mahasiswa lama biasanya sudah paham dan mau menerima tarif normal,” pungkas Anis.

Di tempat Anis sendiri, saat ini tarif satu kamar kos adalah Rp.3.000.000,00, atau naik Rp.500.000,00 dibandingkan tarif pada 2012. Nominal tersebut sudah termasuk ongkos listrik dan air PAM. (Andi, Fauzan)

SHARE THIS

0 comments: