Monday, December 26, 2016

Buku Tipis yang Terus Menghantui


Judul: Rumah Kertas | Penulis: Carlos Maria Dominguez  | Penerjemah: Ronny Agustinus | Penerbit: Marjin Kiri | Tebal: 76 Halaman | Cetakan: Pertama, September 2016 

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan

Lewat buku, Siddharta membuat puluhan ribu manusia menggandrungi kebatinan. Pun dengan Hemingway, yang dengan tulisan-tulisannya berhasil membuat puluhan ribu pemuda di generasi berikutnya menggilai olah raga. Tak mungkin pula kita lupa tentang bagaimana Dumas memperumit hidup ribuan wanita di berbagai belahan bumi — yang sebagian diantaranya selamat dari bunuh diri — hanya dengan sebuah buku resep masakan. Buku memang selalu begitu, mengubah takdir dan menciptakan sejarah baru semaunya.

Hal serupa itulah yang kemudian disadari oleh Carlos Maria Dominguez. Dengan penuh percaya diri, lewat novel tipisnya berjudul La Casa de Papel, penulis kelahiran Buenos Aires 61 tahun silam ini berusaha mengisahkan sebuah cerita tentang manusia dan kecintaannya terhadap buku.

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Rumah Kertas, novel yang total hanya setebal 76 halaman ini menceritakan kisah Bluma Lennon, seorang dosen wanita sekaligus profesor yang meninggal tertabrak mobil dalam perjalanan pulang dari sebuah toko buku. Usai kematian Bluma, tiba-tiba datang sebuah kiriman paket misterius yang ditujukan ke alamat kantor tempat Bluma bekerja di Cambridge University.

Salah seorang rekan Bluma yang mendapati kedatangan paket tersebut pun bingung. Selain karena dialamatkan ke seseorang yang sudah meninggal, ia juga merasa semakin ganjil setelah mendapati bahwa paket misterius tersebut ternyata hanya berisi satu eksemplar buku La linea de sombra (terjemahan bahasa Spanyol dari The Shadow Line karya Joseph Conrad) dengan kondisi fisik yang janggal dan berantakan.

Kebingungan-kebingungan itu kemudian mengantarkan rekan Bluma untuk mencari tahu siapa sebenarnya identitas si pengirim paket. Pencarian dilakukan bertahun-tahun hingga kemudian berujung pada ironi di luar batas nalar, di mana ia (dan para pembaca) dibawa masuk ke semesta para pecinta buku dengan berbagai keunikan dan kegilaaan di dalamnya.

Tak hanya menyuguhkan narasi dan cerita, Rumah Kertas juga menyajikan lansekap budaya Amerika Latin secara gamblang dan imajiner. Membaca Rumah Kertas adalah membayangkan penggambaran suasana  politik, budaya, dan etnis yang oleh Carlos telah disusun sedemikian rupa ke dalam metafora-metafora indah penuh ironi.

Hanya dengan dua hingga tiga paragraf, Carlos berhasil menyampaikan kegelisahannya terhadap kondisi kota Buenos Aires kepada pembaca. Ia hanya perlu mendeskripsikan perjalanan singkatnya ke dermaga untuk membawa para pembaca merasakan keprihatinan terhadap kian maraknya para gelandangan asal Kosovo yang memenuhi jalananan dan gang-gang sempit di Buenos Aires. Kegelisahan Carlos terhadap dunia perbukuan di Argentina juga berhasil terwakilkan, cukup dengan menghadirkan sosok Jose Luis Borges selama beberapa detik saja.

Satu hal lagi, yang cukup menarik dari buku ini adalah penggambaran tempat yang selalu detail dan rinci. Latar belakang Carlos yang — selain penulis sastra — juga merupakan seorang penulis catatan perjalanan sangat terlihat. Setiap kali latar tempat (setting) dalam cerita mengalami perubahan, Carlos selalu mengawalinya dengan pendeskripsian tempat yang detail sehingga seolah-oleh pembaca tidak mengalami kecanggungan transisi setting ketika sedang membaca.

Rumah Kertas bisa dibilang merupakan satu di antara sedikit pilihan langka buku tipis yang bisa membuat setiap orang yang sudah membuka halaman pertamanya tak bisa menunda menamatkannya, dan itu bukan hanya karena ia tipis. Memang, buku ini hanya berisi 76 halaman. Tapi, cerita yang disajikan bukanlah cerita yang “hanya.” Carlos tahu bagaimana caranya mengikat pembaca pada teks, dan ia cukup bijak untuk tidak membebani pembaca dengan teks yang panjang, rumit, dan pada akhirnya cenderung membosankan. 

“Buku tipis yang bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup,” begitu kalimat yang digunakan New York Times untuk menilai buku yang konon sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 20 bahasa ini. Lebih dari itu: saya memulai membuka sampul depan Rumah Kertas dengan perasaan ingin tahu yang tinggi, mulai was-was ketika menyusuri halaman tengahnya, kemudian menutup sampul belakang buku ini dengan perasaan getir.

Terlepas karena diterjemahkan langsung oleh seorang Ronny Agustinus, buku ini wajib dibaca oleh siapapun, terutama bagi mereka yang sedang ingin belajar mengolah perasaan terhadap dunia literasi.

SHARE THIS

0 comments: