Saturday, December 20, 2014

KPU: Banyak yang Tidak Memilih Karena Isu di Media Sosial

Dok.VISI/Astini
lpmvisi.com, Surakarta - Pemilihan Raya (Pemira) yang dilaksanakan secara serentak di Universitas Sebelas Maret (UNS) pada hari Rabu (17/12) hingga Kamis (18/12) tidak mendapatkan antusias  yang tinggi dari mahasiswa Fakulta Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Dari sekian banyak mahasiswa di FISIP, hanya 417 orang yang tercatat menggunakan hak pilihnya.

Pemira yang diadakan guna memilih Presiden dan Wakil Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) serta anggota DEMA (Dewan Mahasiswa) ini tak mendapat antusias yang tinggi di kalangan mahasiswa FISIP. Padahal, KPU menganggap bahwa sounding Pemira ke mahasiswa sudah dilaksanakan secara maksimal. “KPU sebenarnya sudah melakukan beberapa agenda untuk publisitas sebelum pencoblosan. Yang pertama itu publikasi melalui boneka danbo, MMT, poster dan sosial media, kampanye, pawai, dan debat Capres Cawapres BEM,” ungkap Muhammad Jundi F, Ketua KPU UNS.

Jundi juga mengatakan bahwa kurangnya animo mahasiswa juga dikarenakan isu yang beredar di media sosial. Isu tersebut bermula ketika seorang panelis senior mengeluarkan statement “Kalau saya mahasiswa UNS, saya nggak bakalan milih,” saat kedua Capres Cawapres BEM tidak bisa menyanyikan mars UNS, dan tidak tahu siapa rektor pertama UNS di debat Capres Cawapres. Meskipun menurut Jundi, isu tersebut tidak sepenuhnya benar. “Jadi waktu itu, Mas Bowo (panelis senior -red) memberikan klarifikasi di akhir bahwa pertanyaan dan statement yang dilontarkan kepada kedua Capres dan Cawapres itu merupakan shock teraphy bagi kedua calon,” ujarnya.

Meski antusias mahasiswa tidak terlalu tinggi, beberapa mahasiswa FISIP menyambut baik Pemira ini. “Bagi saya, Pemira adalah salah satu bentuk pencerdasan politik terhadap mahasiswa. Ketika kita tidak menggunakan hak pilih, satu tahun ke depan siapa yang akan mengadvokasi dan menyampaikan aspirasi-aspirasi mahasiswa? Jadi saya pikir golput bukan pilihan yang baik,” terang Desta, mahasiswi Hubungan Internasional.


Tak hanya Desta yang menyambut baik adanya Pemira. Rio, mahasiswa D3 Penyiaran juga mengungkapkan pentingnya menggunakan hak pilih di Pemira. “Sebagai seorang mahasiswa kita harus punya sikap. Memilih di Pemira ini bagi saya adalah bentuk pelajaran demokrasi meskipun masih dalam lingkup kecil,” ujarnya. Rio juga menambahkan bahwa di FISIP sendiri kesadaran berpolitik mahasiswa masih sangat kurang, namun di sisi lain, dia juga meras bahwa sosialisasi Pemira ini juga masih sangat kurang. (Astini)

SHARE THIS

0 comments: