| Cuplikan Film The Sound of Music/Dok. Pribadi |
Identitas Film
The Sound of Music bukan sekadar film yang selesai ketika layar menjadi gelap. Ada bagian dari film ini yang terasa seperti ikut tinggal bersama saya, terutama melalui dua lagu, “Do-Re-Mi” dan “Edelweiss.” Setiap kali mendengarnya, saya seperti kembali menjadi anak kecil, ketika ayah sering menyanyikan lagu-lagu itu untuk anak-anaknya sebelum tidur. Karena itu, mungkin saya tidak pernah benar-benar menonton The Sound of Music hanya sebagai sebuah film. Saya menontonnya bersama kenangan.
Film yang dirilis pada 1965 ini bercerita tentang Maria, seorang perempuan muda yang sedang menjalani kehidupan sebagai calon biarawati. Maria sebenarnya tidak terlalu cocok dengan kehidupan biara yang penuh aturan. Ia lebih senang bernyanyi, berlari di tengah alam, dan menikmati kebebasan. Sampai akhirnya, ia mendapat tugas menjadi pengasuh tujuh anak milik Kapten Georg von Trapp, seorang duda yang membesarkan anak-anaknya dengan aturan yang sangat ketat.
Awalnya, rumah keluarga von Trapp terasa seperti tempat yang tidak memiliki ruang untuk bermain. Anak-anak harus mematuhi perintah ayah mereka dan hidup dengan disiplin yang hampir seperti kehidupan militer. Maria kemudian datang dengan cara yang berbeda. Ia tidak berusaha mengubah anak-anak itu dengan hukuman atau perintah. Ia justru mengajak mereka bermain, bernyanyi, dan mengenal musik.
Salah satu bagian yang paling saya suka adalah ketika Maria mengajarkan anak-anak von Trapp bernyanyi melalui “Do-Re-Mi.” Bagi saya, adegan itu bukan hanya tentang belajar nada. Ada sesuatu yang lebih sederhana tetapi terasa hangat: anak-anak yang sebelumnya terlihat kaku perlahan menjadi anak-anak yang benar-benar menikmati masa kecil mereka. Musik membuat rumah itu terasa hidup.
Mungkin karena pengalaman saya sendiri dengan lagu tersebut, adegan itu terasa lebih dekat. Ketika mendengar “Do-Re-Mi,” yang saya bayangkan bukan hanya Maria dan anak-anak von Trapp. Saya juga teringat suara ayah ketika menyanyikannya. Lucunya, sebuah lagu yang dibuat puluhan tahun lalu bisa membawa seseorang kembali ke masa yang bahkan tidak berkaitan langsung dengan cerita filmnya.
Hubungan Maria dengan keluarga von Trapp juga berkembang secara perlahan. Ia tidak hanya menjadi pengasuh bagi anak-anak, tetapi akhirnya menjadi seseorang yang membawa perubahan bagi seluruh keluarga. Bahkan Kapten von Trapp yang pada awalnya begitu kaku perlahan menunjukkan sisi dirinya yang lebih hangat. Bagi saya, bagian ini menarik karena film tidak menggambarkan keluarga sebagai sesuatu yang langsung menjadi sempurna. Kedekatan mereka terbentuk dari hal-hal sederhana seperti kebersamaan, musik, perhatian, dan keberanian untuk menunjukkan perasaan.
Namun, The Sound of Music tidak sepenuhnya ringan. Di balik lagu-lagu dan pemandangan Austria yang indah, terdapat keadaan politik yang semakin menegangkan. Cerita berlangsung menjelang Perang Dunia II, ketika pengaruh Nazi mulai masuk ke Austria. Konflik tersebut perlahan ikut masuk ke kehidupan keluarga von Trapp. Suasana film yang sebelumnya terasa hangat dan menyenangkan kemudian berubah menjadi lebih serius. Keluarga ini tidak lagi hanya menghadapi persoalan rumah tangga, tetapi juga harus menentukan bagaimana mereka akan menghadapi keadaan politik di sekitar mereka.
Perubahan suasana tersebut menurut saya justru membuat film ini terasa lebih utuh. Musik dalam film bukan hanya digunakan untuk membuat cerita menjadi indah. Musik juga menjadi bagian dari cara para tokohnya menghadapi keadaan. Di tengah situasi yang semakin tidak pasti, keluarga von Trapp tetap memiliki sesuatu yang bisa mereka pegang satu sama lain.
Saya mengakui bahwa durasi film yang hampir tiga jam bisa terasa cukup panjang. Ada beberapa bagian yang menurut saya berjalan lambat, terutama jika dibandingkan dengan film-film sekarang yang biasanya memiliki tempo lebih cepat. Namun, ketika menontonnya bersama keluarga, hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah. Justru rasanya seperti sedang meluangkan waktu bersama, bukan sekadar mengejar cerita sampai selesai.
Mungkin itu juga alasan mengapa saya sulit memberikan penilaian yang sepenuhnya objektif terhadap film ini. Bagi orang lain, The Sound of Music mungkin hanya film musikal klasik dengan cerita keluarga dan lagu-lagu yang terkenal. Bagi saya, film ini membawa sesuatu yang lebih personal. Ada suara ayah di dalam lagu-lagunya, ada masa kecil yang ikut muncul ketika musik mulai dimainkan, dan ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa film ini “bagus.”
Pada akhirnya, saya merasa The Sound of Music mengajarkan sesuatu yang sederhana yaitu beberapa hal yang kita cintai mungkin tidak selalu tinggal dalam bentuk benda atau tempat. Kadang, ia tinggal dalam suara. Dalam sebuah lagu. Dalam melodi yang sudah kita dengar berkali-kali sampai tanpa sadar menjadi bagian dari ingatan. Filmnya memang berakhir ketika layar menjadi gelap. Namun, bagi saya, “Do-Re-Mi” dan “Edelweiss” tidak benar-benar berakhir di sana. Setiap kali lagu itu terdengar lagi, rasanya seperti ada bagian kecil dari masa kecil saya yang ikut kembali.
Kalau harus memberikan penilaian, saya akan memberikan The Sound of Music 9,5 dari 10. Bukan karena film ini sempurna atau tidak memiliki bagian yang terasa lambat, tetapi karena film ini berhasil meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar cerita. Bagi saya, lagu-lagu di dalamnya membawa kembali kenangan bersama ayah dan membuat film ini terasa jauh lebih personal. Mungkin itu sebabnya saya bisa menikmati film ini meskipun durasinya cukup panjang. Ada kehangatan yang tetap tinggal bahkan setelah filmnya selesai. Dan bagi saya, film yang mampu membuat penontonnya pulang membawa sebuah perasaan, bukan hanya sebuah cerita, layak mendapatkan nilai setinggi itu. (Radin)
0 Komentar