| (Cover Buku Liontin Sakura Patah/Dok.Internet) |
Tidak banyak novel yang mengangkat kisah pencarian seseorang dari masa perang sekaligus mempertemukannya dengan keberagaman budaya Indonesia. Liontin Sakura Patah karya Maria Matildis Banda menjadi salah satunya. Novel yang hanya terdiri dari 84 halaman ini membawa pembaca mengikuti perjalanan Kayo, seorang pemuda Jepang yang berusaha menemukan jejak kakeknya yang telah lama hilang di Indonesia.
Kayo mendapat tugas dari neneknya untuk mencari keberadaan kakeknya yang menghilang sekitar lima puluh tahun sebelumnya. Dengan informasi yang terbatas, ia mengandalkan intuisi dan keyakinannya untuk melakukan pencarian. Perjalanan tersebut membawanya berpindah dari satu daerah ke daerah lain, mulai dari Banjarmasin, Medan, Jakarta, hingga Denpasar.
Kegigihan Kayo dalam mencari kakeknya tidak selalu mendapat dukungan, terutama dari Rosalia, kekasihnya. Selama bertahun-tahun, Rosalia melihat Kayo terus mengejar sesuatu yang belum tentu dapat ditemukan. Berbeda dengan Kayo yang lembut dan tenang, Rosalia memiliki karakter yang lebih tegas dan keras. Perbedaan tersebut membuat hubungan keduanya terasa menarik karena mereka memiliki pandangan yang berbeda terhadap pencarian Kayo.
Kemudian, alur cerita ini semakin menarik ketika muncul sebuah liontin berbentuk bunga sakura yang dikenakan Rosalia. Liontin tersebut memiliki kemiripan dengan milik nenek Kayo dan perlahan menjadi petunjuk yang menghubungkan Kayo dengan masa lalu kakeknya.
Ketika Rosalia kembali ke kampung halamannya di Flores, sebuah rahasia lama mulai terungkap. Kisah yang diceritakan oleh nenek Rosalia ternyata memiliki hubungan dengan kakek Kayo. Dari sinilah liontin sakura yang selama ini dianggap sebagai sebuah perhiasan mulai memiliki arti yang jauh lebih besar.
Salah satu hal yang menarik dari novel ini adalah latar budaya yang dihadirkan oleh penulis. Maria Matildis Banda membawa pembaca mengenal kehidupan masyarakat dan kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia. Penggambaran tokoh-tokoh perempuan serta dialog antartokoh juga menjadi bagian yang cukup menonjol dalam cerita.
Selain itu, novel ini memadukan unsur sejarah, budaya, perjalanan, dan hubungan antartokoh dalam cerita yang cukup singkat. Perjalanan Kayo tidak hanya menjadi usaha untuk menemukan seseorang yang hilang, tetapi juga menjadi perjalanan untuk memahami masa lalu dan jejak yang ditinggalkannya.
Namun, novel ini juga memiliki kekurangan. Penggunaan beberapa kata dan kalimat dalam bahasa Jepang yang tidak seluruhnya diterjemahkan dapat membuat pembaca yang tidak memahami bahasa Jepang merasa sedikit kesulitan. Meskipun terdapat beberapa terjemahan di bagian bawah halaman, tidak semua istilah mendapatkan penjelasan.
Secara keseluruhan, Liontin Sakura Patah merupakan novel yang menarik karena mengangkat cerita yang cukup berbeda. Di balik perjalanan Kayo mencari kakeknya, pembaca diajak melihat bagaimana sejarah, budaya, keluarga, dan masa lalu dapat saling terhubung. Novel ini menunjukkan bahwa sesuatu yang kecil, seperti sebuah liontin, dapat menjadi bagian penting dari sebuah cerita besar yang telah tersimpan selama bertahun-tahun. (Zachwa)
0 Komentar