POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Menghidupkan Minat Baca di Tepi Danau UNS

(Lapak Baca Buku Gratis, Pekan Pendidikan LPM Motivasi FKIP UNS / Dok. Pribadi)

    Lpmvisi.com, Solo - Di tengah padatnya agenda kampus, menyediakan ruang tenang untuk sekadar duduk dan membaca buku bukan hal yang selalu mudah ditemukan. Lewat kegiatan bertajuk Membaca Realitas Lewat Buku: Dari Isu Marjinal hingga Pertanyaan Eksistensial, LPM Motivasi FKIP UNS mencoba menjawab itu—menjadikan kawasan Danau UNS sebagai ruang baca sekaligus ruang diskusi bagi mahasiswa dan warga sekitar, dengan ambisi yang jauh lebih dalam dari sekadar mengisi waktu luang dengan buku. Kegiatan ini digelar dengan tujuan meningkatkan minat baca mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus, sekaligus membuka ruang refleksi atas isu-isu marjinal dan pertanyaan eksistensial lewat buku, melalui rangkaian lapak baca gratis, book party, dan sesi bedah buku.

    Kegiatan ini berlangsung tiga hari berturut-turut dengan susunan yang jelas. Senin dan Selasa (21–22 September) diisi dengan lapak baca buku gratis yang dipadukan dengan book party, memberi ruang santai bagi siapa pun yang ingin mampir membaca sambil menikmati suasana danau. Rangkaian ditutup pada Rabu (23 September) dengan sesi bedah buku yang membahas satu karya secara lebih mendalam—titik di mana tema besar “isu marjinal hingga pertanyaan eksistensial” kemungkinan paling terasa, karena bedah buku biasanya membuka ruang diskusi yang lebih reflektif dibanding sekadar membaca santai. Kegiatan ini bukan acara yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari Pekan Pendidikan yang lebih besar, yang juga mencakup lomba Feature News serta rencana diskusi publik seputar isu lingkungan Kendeng dan konflik pembebasan lahan warga Ledoksari oleh PT KAI.

    Pemilihan lokasi di tepi Danau UNS jadi salah satu kekuatan terbesar acara ini—ada nuansa syahdu yang jarang didapat kalau membaca buku di ruang kelas atau perpustakaan biasa, dan cukup pas untuk kegiatan yang mengajak orang merenungkan hal-hal yang lebih dalam. Panitia yang ditemui selama peliputan, termasuk Anto Juli Sasongko dari Program Studi Pendidikan Sejarah 2024 sekaligus anggota LPM Motivasi FKIP UNS, juga terbuka dan informatif saat diwawancarai, mencerminkan kesiapan tim dalam menyambut pengunjung maupun peliput. Meski begitu, karena kawasan danau memang cukup ramai dilalui orang, suasana “syahdu” yang ditawarkan kadang sedikit terganggu keramaian sekitar—sesuatu yang bisa jadi catatan kalau acara serupa digelar lagi, misalnya dengan menyediakan sudut baca yang lebih tenang atau jam khusus dengan pengunjung lebih terbatas.

    Acara ini layak diikuti jika diselenggarakan kembali di masa depan. Selain bisa membaca buku secara gratis, peserta juga mendapat ruang untuk berdiskusi langsung dengan teman-teman dari LPM Motivasi FKIP UNS atau pengunjung yang lain—menjadikan kegiatan ini lebih dari sekadar lapak baca biasa, melainkan titik temu antara literasi, diskusi, dan refleksi atas realitas yang lebih luas, persis seperti yang dijanjikan namanya sendiri. (Salsa)

Posting Komentar

0 Komentar