POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Bumi Manusia, Bumi yang Tak Pernah Jadi Milik Manusianya Sendiri

(Poster Bumi Manusia/Dok.Internet)

Ketika Bumi Manusia Berbicara Lewat Layar Lebar

Mengadaptasi novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia ini ke layar lebar bukanlah perkara mudah. Novel Bumi Manusia bukan cuma tebal secara halaman, tetapi juga tebal secara sejarah, ideologi, dan beban ekspektasi pembacanya. Ketika Hanung Bramantyo mengumumkan akan menggarap adaptasinya, banyak yang skeptis terutama penggemar buku-buku karya Pramoedya. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi yang gemar membaca buku-buku bersejarah, saya jujur penasaran: apakah film ini cuma jadi “pelengkap” buat yang malas membaca novel tebalnya, atau justru film ini berhasil berdiri sendiri sebagai karya yang layak dikritisi terpisah dari bayang-bayang novelnya.

Judul : Bumi Manusia 
Genre : Drama sejarah
Sutradara : Hanung Bramantyo
Produksi : Falcon Pictures 
Tahun Rilis : 2019
Durasi : 2 jam 52 menit
Pemeran Utama : Iqbal Ramadhan (Minke), Sha Ine Febriyanti (Nyai Ontosoroh), Mawar Eva de Jongh (Annelies Mellema)

Nyai yang Lebih Merdeka daripada Tuan-Tuannya

Bumi Manusia mengikuti kisah Minke, pemuda pribumi terpelajar di era kolonial Hindia Belanda pada akhir abad ke-19, yang jatuh cinta pada Annelies Mellema, putri seorang Nyai (gundik) bernama Ontosoroh. Lewat kisah cinta ini, film membawa penonton masuk ke dunia yang penuh ketimpangan: bagaimana pribumi, meski terpelajar dan cerdas sekalipun, tetap dianggap kelas dua di tanahnya sendiri, bagaimana status "Nyai" membuat perempuan seperti Ontosoroh terus-menerus diserang secara hukum dan sosial meski dialah yang sebenarnya menjalankan bisnis keluarga dengan sangat cakap dan rapi.

Kalau boleh jujur, bagian yang paling menonjol dari film ini justru bukan Minke, melainkan Nyai Ontosoroh. Sha Ine Febriyanti berhasil menghidupkan karakter perempuan yang keras kepala, cerdas, dan tidak mau tunduk pada sistem yang menindasnya, meski status sosialnya secara hukum kolonial sangat lemah. Setiap kali Ontosoroh bicara di ruang sidang atau berhadapan dengan pihak Belanda, ada rasa "menang kecil" tersendiri buat penonton, walau kita tahu hukum kolonial jarang berpihak pada perempuan sepertinya. Buat saya, karakter ini yang bikin film ini terasa relevan sampai sekarang, bukan cuma soal romantisme kolonial, tapi soal bagaimana perempuan harus berjuang dua kali lebih keras hanya untuk diakui haknya.

Konflik memuncak saat kematian ayah Annelies membuka jalan bagi keluarga Belanda dari pihak ayah untuk merebut hak asuh dan warisan, sementara hukum kolonial saat itu tidak mengakui hak Nyai maupun anak-anaknya secara penuh. Di sinilah film ini menunjukkan dengan cukup telak bagaimana kolonialisme tidak cuma bekerja lewat senjata dan kekerasan fisik, tapi juga lewat sistem hukum dan administrasi yang tampak rapi dan "sah" secara tertulis, padahal sebetulnya memang dirancang untuk menindas dan meminggirkan.

Kekurangan Film

Film ini berdurasi hampir tiga jam, sehingga membuat ritme film terasa berat di beberapa bagian, terutama di babak tengah yang banyak dialog panjang dan adegan pengadilan yang justru terasa terburu-buru dijejalkan, padahal ini bagian krusial dari keseluruhan konflik cerita. Rasanya ironis, di satu sisi durasinya panjang, tetapi di sisi lain bagian paling penting malah terasa dipadatkan.

Kelebihan Film

Kekuatan terbesar film ini ada di tata produksi: kostum, set lokasi di Yogyakarta dan Semarang, hingga detail visual era kolonial digarap dengan riset serius sehingga suasana akhir abad ke-19 terasa hidup, bukan sekedar latar tempelan. Riset sejarahnya juga terasa dari cara film membangun konflik hukum dan sosial, bukan cuma jadi bumbu drama, tapi memang inti dari kritik terhadap sistem kolonial itu sendiri.

Penampilan Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh jadi jantung emosional sekaligus intelektual dari keseluruhan film, dan menurut saya inilah yang membuat Bumi Manusia lebih dari sekadar kisah cinta biasa antara Minke dan Annelies. Film ini pada akhirnya adalah kritik terhadap sistem yang memperlakukan perempuan dan pribumi sebagai warga kelas dua di tanah mereka sendiri, dan kritik itu disampaikan bukan lewat dialog yang menggurui, melainkan lewat perjuangan konkret tokoh-tokohnya sehari-hari.

Kesimpulan

Saya rasa Bumi Manusia mungkin memang bukan adaptasi yang sempurna dari novel karya Pramoedya. Tapi terlepas dari semua catatan itu, film ini tetap penting untuk ditonton, terutama sebagai pintu masuk bagi generasi muda yang mungkin belum sempat atau belum tertarik membaca novel tebalnya secara langsung. Lewat kisah Minke dan Nyai Ontosoroh, film ini mengingatkan kita semua bahwa penjajahan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik yang kasatmata, tapi juga bisa berbentuk hukum dan sistem administrasi yang dirancang sedemikian rupa untuk membuat sebagian golongan selamanya berada di posisi kalah. Dan rasanya, pesan semacam itu masih relevan untuk direnungkan sampai hari ini, jauh setelah bendera kolonial itu sendiri sudah tidak lagi berkibar di negeri ini. (Tsabita)

Posting Komentar

0 Komentar