POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Film The Menu (2022): Hidangan Terakhir di Pulau Terpencil

(Poster Film The Menu /Dok.Internet) 

Judul Film : The Menu (2022)
Sutradara : Mark Mylod
Penulis : Seth Reis, Will Tracy
Produser : Adam McKay, Betsy Koch, dan Will Ferrell
Durasi : 1 jam 47 menit
Genre : Horor, Thriller, dan Komedi
Pemain : Ralph Fiennes, Anya Taylor-Joy, dan Nicholas Hoult

Bayangkan diundang makan malam di restoran terkenal, berada di pulau terpencil, dimasak langsung oleh chef berbakat. Semuanya terlihat sempurna, sampai perlahan sadar bahwa makan malam tersebut bukan sekadar jamuan, melainkan bagian dari sebuah pertunjukan terakhir dalam hidup.

Itulah premis mencekam Film The Menu (2022), film arahan Mark Mylod yang membuktikan bahwa horor tidak selalu butuh hantu, penampakan, ritual, atau sesuatu yang berasal dari dunia supranatural. Namun, The Menu justru membuktikan bahwa manusia sendiri bisa menjadi sumber ketakutan. Film ini mengambil jalan yang berbeda untuk tetap membuat penonton tegang sepanjang durasi. Ketegangannya lahir murni dari manusia, yakni dari ambisi yang kebablasan, dari rasa haus pengakuan, dan dari seorang chef yang perlahan kehilangan cinta dari profesi yang dulu ia banggakan.

Cerita dimulai ketika Tyler mengajak rekannya Margot pergi makan malam ke Hawthorne, sebuah restoran fine dining yang berdiri di sebuah pulau terpencil. Makan malam itu dihadiri oleh 12 orang-orang terpilih. Untuk sampai ke restoran tersebut, para tamu harus menempuh perjalanan menggunakan kapal. Sejak awal, Elsa atau yang dikenal sebagai tangan kanan sekaligus kepala pelayan restoran sudah curiga pada Margot karena namanya tidak tercatat sebagai tamu undangan resmi. Sesampainya di pulau, rombongan disuguhi pemandangan laut yang masih terjaga, aktivitas memanen kerang, hingga rumah asap bergaya nordik. Tidak ada sesuatu yang secara langsung menunjukkan bahwa mereka sedang dalam bahaya.

Mereka kemudian memasuki restoran Hawthorne dan bertemu langsung dengan jajaran chef yang malam itu akan memasak dan menyajikan hidangan kepada para tamu. Dua hidangan pertama masih berjalan normal layaknya fine dining pada umumnya. Barulah di hidangan ketiga, Chef Slowik mulai memainkan psikis para tamu lewat roti tortilla yang dicetak dengan gambar momen paling memalukan dalam hidup mereka masing-masing. Situasi semakin tidak masuk akal ketika seorang chef bernama Jeremy dipanggil untuk menjadi bagian dari hidangan keempat. Apa yang sebelumnya terlihat sebagai pertunjukan kuliner mulai berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Para tamu semakin sadar bahwa jamuan malam itu adalah fine dining terakhir dalam hidup mereka.

Di balik seluruh pertunjukan tersebut terdapat Chef Slowik yang diperankan dengan sangat kuat oleh Ralph Fiennes. Slowik bukan sekadar seorang chef yang tiba-tiba ingin membunuh para tamunya, tetapi ia memiliki alasan dan masa lalu yang menjadi dasar dari seluruh tindakannya. Dulunya ia pernah bekerja sebagai juru masak hamburger, sebuah makanan sederhana yang dilakukan dengan rasa senang. Namun kehidupannya berubah setelah memasuki dunia fine dining. Restoran yang awalnya menjadi tempat untuk mengekspresikan kecintaan terhadap makanan berubah menjadi tempat yang menuntut kesempurnaan. Setiap hidangan harus memiliki konsep. Setiap bahan harus memiliki alasan. Setiap penyajian harus terlihat istimewa.

Di tengah seluruh tamu yang sudah dipilih Slowik, Margot menjadi pengecualian. Ia sebenarnya bukan orang yang seharusnya berada di Hawthorne. Keberadaan Margot membuat rencana Slowik sedikit berbeda. Ia bukan bagian dari target awal, sehingga Slowik memberikan pilihan kepadanya, yaitu mati sebagai pelanggan atau mati sebagai bagian dari staf. Margot memilih pilihan kedua, dan siapa sangka keputusan tersebut justru memberikan kesempatan bagi Margot untuk mencari jalan keluar.

Berkat keberaniannya, Margot berhasil menemukan celah untuk bisa keluar dari restoran mematikan itu. Melalui obrolan personal soal masa lalu Slowik sebagai chef hamburger teladan, Margot perlahan menyentuh sisi manusiawi Slowik, hingga akhirnya berani meminta dibuatkan burger keju sederhana tanpa membebaninya dengan tuntutan kesempurnaan. Permintaan sederhana itu justru menjadi jalan keluarnya, tepat sebelum Hawthorne dan seluruh isinya musnah dalam kebakaran besar yang menutup kisah dengan cara paling teatrikal.

Kekuatan utama The Menu ada pada caranya membangun horor tanpa jumpscare. Ketegangan justru muncul dari basa-basi meja makan, senyum yang dipaksakan, dan tepuk tangan seremonial setiap kali hidangan baru disajikan. Hal-hal yang sebenarnya biasa terjadi di dunia fine dining sungguhan, tapi di tangan Mylod terasa mengancam. Ketakutan yang bukan datang dari dunia gaib, tapi dari situasi yang sebenarnya sangat manusiawi, keinginan untuk mendapatkan pengakuan, obsesi terhadap kesempurnaan, tekanan pekerjaan, dan manusia yang terlalu jauh mengejar sesuatu hingga kehilangan alasan awal mengapa ia memulainya.

Meski konsepnya menarik, The Menu bukan film yang mudah dicerna oleh semua orang. Banyak karakter yang memiliki latar belakang dan kepentingan masing-masing. Dialognya juga dipenuhi sindiran dan kiasan yang berkaitan dengan makanan, kelas sosial, serta dunia fine dining. Beberapa adegan kekerasan juga berpotensi mengganggu kenyamanan penonton yang sensitif terhadap unsur tersebut.

    Terlepas dari tuntutan fokus ekstra itu, The Menu tetap masuk dalam film horor yang harus ditonton. Capaian nominasi Golden Globe untuk Ralph Fiennes sebagai Best Actor dan Anya Taylor-Joy sebagai Best Actress. Film yang bercerita tentang hilangnya kecintaan terhadap sesuatu yang dulu membuatnya bahagia. Semua persoalan disampaikan melalui makanan, setiap hidangan menjadi bagian dari cerita, dan setiap pelanggan menjadi bagian dari pertunjukan. Film ini membuktikan bahwa rasa takut tidak harus datang dari hal-hal supranatural, melainkan lahir dari ambisi manusia yang kebablasan dan budaya yang mengagungkan kesempurnaan. Bagi penonton yang menyukai film dengan lapisan makna dan tidak keberatan berpikir sedikit lebih keras, The Menu adalah hidangan yang wajib dicicipi. (Adnan)

Posting Komentar

0 Komentar