POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

BERANIKAH KITA PERCAYA HAL YANG BELUM TERLIHAT? RESENSI BUKU NARNIA: PRINCE CASPIAN

(Sampul buku Narnia: Prince Caspian/Dok. Gramedia Pustaka Utama)

Identitas Buku

Judul : Narnia: Prince Caspian
Penulis : C.S. Lewis
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2023
Tempat Terbit : Jakarta
Total halaman : 288 halaman

Sinopsis Buku

    Buku ini menceritakan 4 bersaudara (Peter, Susan, Edmund, dan Lucy) yang datang kembali ke negeri Narnia. Keadaan Narnia yang telah ditinggalkan 1300 tahun lalu sekarang telah dikuasai bangsa Telmarin. Makhluk-makhluk asli Narnia, seperti hewan yang bisa berbicara, pohon-pohon, kurcaci, faun, dan yang lainnya bersembunyi di antara hutan-hutan lebat. Bahkan Cair Paravel, kastil yang ditinggali keempat Pevensie sudah berubah menjadi reruntuhan.

Kembalinya empat bersaudara ini bertujuan untuk membantu Pangeran Caspian yang ingin merebut kembali tahta dari pamannya yang kejam, Miraz. Ketika istri Miraz melahirkan anak laki-laki, Miraz bertujuan untuk membunuh Pangeran Caspian. Maka dari itulah Pangeran Caspian melarikan diri setelah gurunya menceritakan tentang Narnia lama, bahkan ia yang memanggil keempat Pevensie kembali ke Narnia.

Anak-anak Pevensie bergabung dengan Caspian dan Narnia lama untuk melawan Miraz yang kejam. Perjalanan yang mereka tempuh penuh dengan perselisihan dan keraguan. Banyak konflik dan perdebatan yang terjadi di antara mereka, terutama karena hanya Lucy yang bisa melihat Aslan sedangkan yang lain tidak. Pertarungan memuncak pada duel antara Peter dengan Miraz yang membawa kemenangan telak pada bangsa Narnia, tentunya dibantu juga oleh Aslan yang membangkitkan kekuatan alam.

Setelah Caspian dinobatkan, Aslan menyelesaikan urusan bangsa Telmarin. Anak-anak Pevensie pun diminta untuk kembali ke dunianya. Bahkan Peter dan Susan diberi tahu bahwa mereka telah belajar banyak dan tidak akan kembali lagi ke Narnia.

Kelebihan & Kekurangan Buku

Buku ini menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan karakter dari awal hingga akhir buku. Dari suasana awal yang penuh keraguan dan tanda tanya besar berubah menjadi kepercayaan diri yang memengaruhi setiap karakter. Contohnya pada Lucy yang memilih untuk mengikuti kelompoknya dibanding mengikuti Aslan kemudian akhirnya mencari Aslan bersama dengan Susan. Pertumbuhannya terletak pada keberanian untuk bertindak atas keinginannya sendiri.

Bagian dari buku ini yang kurang menarik adalah pada bagian tengah buku, di mana mereka memperdebatkan arah yang harus ditempuh dan diceritakan cukup panjang. Hal itu membuat alur cerita menjadi sedikit lambat dan terkesan sedikit membosankan untuk dibaca. Selain itu, beberapa karakter seperti Miraz dan bangsa Telmarin kurang dieksplor lebih  dalam lagi agar kita dapat mengerti latar belakangnya. Bahkan Caspian yang menjadi judul utama buku pun terasa kurang menonjol. Walaupun masih memiliki rasa magis, buku ini pun terasa kurang memorable dan kurang berkesan jika dibandingkan dengan buku lainnya seperti Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe.

        Menurut penulis, buku ini juga memiliki banyak kisah petualangan yang cukup seru dan mudah diikuti, mulai dari pelarian Caspian, pengenalan Narnia lama, perang, duel, hingga momen dimana keajaiban dari Narnia itu kembali. Nilai-nilai yang ditanamkan seperti kepercayaan, keberanian, dan kesetiaan pun masih melekat pada buku ini walau dikemas dengan petualangan yang menarik. Pesan bahwa kita harus berani percaya walaupun belum ada tanda-tanda kemenangan juga dapat menjadi pesan untuk menjalani keseharian. Buku ini pun masih memiliki rasa-rasa magis yang menyentuh hati, terlebih bagian menuju ending dimana kita ditunjukan bahwa “nothing last forever” ketika Peter dan Susan tidak akan lagi kembali ke Narnia. Pengajaran bahwa kehidupan memang berputar diantara banyaknya hal yang harus dilepas dan diikhlaskan. (Gracia)

Posting Komentar

0 Komentar