Cover novel Laut Bercerita / Dok. Goodreads |
IDENTITAS BUKU
Judul : Laut Bercerita
Penulis : Leila S. Chudori
Jumlah Halaman : 379
Bagaimana rasanya menunggu seseorang pulang, padahal sebagian dari dirimu tahu ia tak akan kembali? Melalui novel “Laut Bercerita”, Leila S. Chudori mengajak kita duduk di meja makan sebuah keluarga yang kursinya kosong, dan memahami bahwa sejarah bukan sekadar angka, tetapi nama-nama yang dirindukan.
Novel ini berlatar akhir masa Orde Baru. Kita berkenalan dengan Biru Laut Wibisono, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada yang bergabung dengan organisasi mahasiswa bawah tanah Winatra dan Wirasena. Bersama Kinan, Sunu, Alex, Daniel, dan kawan-kawannya, Laut membaca buku terlarang, berdiskusi, dan menyusun perlawanan di bawah bayang-bayang aparat. Leila menggambarkan perjalanan Laut dengan jelas, bukan hanya perjuangannya, tetapi juga kehidupan, pertemanan, dan kisah cintanya. Namun harapan Laut sirna ketika ia dan beberapa kawannya ditangkap, disekap, dan disiksa. Laut menjadi salah satu aktivis yang dihilangkan, dan kisahnya dituturkan dari dasar laut, sebagai suara korban yang tak pernah ditemukan.
Di titik itu, Asmara Jati, adik Laut, mengambil alih cerita dan menuturkan sisi lain dari tragedi tersebut. Pada bagian ini, Leila sangat cakap menulis detail: bagaimana keluarga hidup dalam cemas ketika Laut terlibat pergerakan yang berbahaya, bagaimana mereka selalu menanti kepulangannya hanya untuk hal sederhana seperti makan bersama diiringi perbincangan kecil. Hingga akhirnya, kesedihan yang amat dalam menyelimuti keluarga dan sahabat-sahabatnya, yang terus menunggu meski tahu harapan itu kian tipis. Di akhir cerita, perjuangan itu tidak berhenti pada satu keluarga.
Novel ini menggambarkan banyak keluarga yang bersama-sama menuntut keadilan dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), karena begitu banyak aktivis dan rakyat yang dihilangkan. Kehilangan yang tadinya terasa sangat personal pun berubah menjadi suara bersama yang menolak dilupakan.
Kekuatan novel ini terletak pada sudut pandang yang berbeda-beda, yang membuat pembaca memahami kondisi Laut dan keluarganya secara utuh, dari dua sisi yang saling melengkapi. Gaya penulisan Leila juga sangat bagus dan puitis, namun tetap mudah dipahami.
Deskripsi-deskripsi sederhana seperti aroma masakan ibu, suasana meja makan saat keluarga berkumpul, hingga kekejaman aparat saat penyiksaan, berhasil membuat pembaca merasa bahwa Laut bukan sekadar karakter fiksi. Kita pun ikut merasakan kehilangan sosoknya. Kehebatan Leila juga terletak pada bagaimana novel ini tidak semata mengajak pembaca untuk tak lupa pada sejarah, tetapi juga dibangun dari riset yang kuat. Dalam proses penulisannya, Leila melibatkan beberapa narasumber yang pernah menjadi korban pada masa itu, sehingga meski dikemas secara fiksi, novel ini tetap berpijak pada kisah nyata.
Kutipan dari novel Laut yang masih membekas adalah ini:
“aku harap tak ada lagi penculikan dan pembunuhan terhadap mereka yang kritis.”
Leila S. Chudori, Laut Bercerita, halaman. 366
Meski demikian, novel ini tidak tanpa catatan. Adegan penyiksaannya digambarkan cukup gamblang sehingga bisa terasa berat, terutama bagi pembaca yang sensitif. Alur yang maju mundur serta pergantian sudut pandang antara Laut dan Asmara juga menuntut pembaca untuk ekstra fokus agar tidak kehilangan benang merah cerita. Selain itu, beberapa tokoh pendukung terasa kurang mendapat ruang untuk berkembang.
Membaca Laut Bercerita adalah perjalanan yang menguras hati. Ada sesak yang tertinggal setelah halaman terakhir, seolah cerita ini belum benar-benar selesai di hati pembaca. Buku ini layak dibaca oleh pelajar, mahasiswa, dan siapa pun yang ingin memahami sisi kemanusiaan dari peristiwa reformasi. Pada akhirnya, novel ini mengingatkan kita agar tidak membiarkan mereka yang hilang benar-benar lenyap dari ingatan, karena melupakan adalah cara paling sunyi untuk mengulang luka. (Amelia)
0 Komentar