| (Bangku yang Sedu/Dok.Internet) |
Rintik hujan mulai berjatuhan dari langit Kota Bandung yang gelap. Kaluna dan Kalandra tengah menikmati dinginnya air hujan dan siulan angin dari kedua sisi di flyover Antapani. Kaluna, seorang gadis asal Solo yang melanjutkan pendidikan di salah satu universitas di Bandung. Kaluna bertemu Kalandra di satu universitas yang sama.
Mereka berjumpa pertama kali di halte bus depan universitas. Kaluna yang sedang membawa untaian bunga tulip sembari menikmati suasana yang sejuk tiba-tiba gagal fokus pada pria yang duduk di sampingnya yang sedang melihat video pertunjukan wayang orang. Kaluna penasaran dengan pria tersebut. “Siapa tahu dia pemain wayang orang yang terampil, bisa menambah pengetahuanku,” keinginan Kaluna untuk mengajak kenalan semakin besar.
“Maaf kak, kakak kenapa nonton video wayang orang?” Tanya Kaluna dengan sedikit cemas dan takut dianggap sok akrab.
“Eh halo, aku dari kecil suka nonton pertunjukan wayang orang, by the way nama kamu siapa?” Jawab Kalandra.
“Oooalah, dekat rumahku sering ada pertunjukan wayang orang kak di Solo, aku Kaluna, mahasiswi teknik industri semester 2,” ulas Kaluna dengan senyum manis di wajahnya.
“Loh kebetulan banget…aku juga dari Solo, kenalin aku Kalandra, mahasiswa teknik tambang semester 2 dan jangan panggil aku kak,” ungkap Kalandra dengan raut muka kaget.
“Ya ampun ternyata dunia itu sempit yah, salken Kalandra,” Kaluna girang mendengarnya.
“Semoga pertemuan kita nggak sampai di sini Kalandra,” harapan Kaluna dalam hatinya.
Dua bulan kemudian, Kaluna dan Kalandra menjadi salah satu panitia ospek dengan tidak sengaja. Mereka saling membantu dan bekerja sama agar mewujudkan kegiatan ospek dengan lancar. Kaluna dan Kalandra semakin mengenal satu sama lain. Kalandra sering kali membawakan untaian bunga tulip karena mengetahui gadis yang mendiami hatinya menyukai bunga tulip.
Kian hari, Kalandra semakin gundah gulana memendam perasaannya sendiri, ia selalu berperang dengan suara hatinya. Di malam yang sunyi dan hanya terdengar suara gemercik air di akuarium, Kalandra sedang bingung untuk mengungkapkan atau mengubur dalam-dalam perasaan itu. Hari semakin larut, Kalandra berimajinasi semakin jauh.
“Ungkapkan saja Kalandra, pasti dia akan menerima cintamu,” ungkap peri baik di sebelah kanan kepala Kalandra.
“Cuih...tidak mungkin gadis secantik Kaluna mau menerima cintamu itu,” balas peri jahat dengan tertawa di kiri Kalandra.
Kalandra langsung menggelengkan kepala untuk menghapus imajinasinya itu, ia memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya, Kaluna mengajak Kalandra untuk bertemu di taman kampus jam 3 sore. Mereka asik mengobrol sembari memakan kebab hangat dengan pemandangan burung merpati yang sedang bertengger di atas air mancur. Di tengah obrolan itu, Kalandra berusaha memberanikan diri setengah mati untuk mengungkapkan perasaannya.
“Mmmm...ngomong-ngomong, apa kamu mau kita bersama seterusnya?” Ungkap Kalandra dengan senyum kikuknya.
“HAHAHAHA..kita emang akan terus bersama Kalandra, sebenarnya sejak pertemuan pertama kita waktu itu aku membawa pulang perasaan cinta,” jawab Kaluna dengan santai.
“Hah, kenapa nggak kamu ungkapin dari dulu Kaluna?” tanya Kalandra dengan wajah melongo tidak percaya.
“Aku nggak seberani itu untuk ngungkapin Kalandra, eh ternyata kamu juga punya rasa yang sama,” jawab bahagia Kaluna.
“Astaga…huft aku lega dengernya, jadiiiii kita pacaran kan?” jawab Kalandra untuk memastikan hubungannya dengan Kaluna.
“Iya, bisa dibilang gitu Kalandra,” ungkap Kaluna.
“Makasih Kaluna, semoga kita bisa bahagia bersama seterusnya,” ucap Kalandra dengan kikuk.
Mereka berpacaran dan saling melengkapi satu sama lain, tak terasa Kaluna dan Kalandra sudah menjalin hubungan selama 2 tahun dan melukis kenangan bersama di Bandung.
Kaluna dan Kalandra berhasil menyelesaikan pendidikan S1 dengan menempuh waktu kurang dari 4 tahun. Setelah menyelesaikan semua kepentingan di Bandung, mereka berencana pulang ke Solo. Hari mereka pulang pun tiba, Kalandra sudah memesan 2 tiket kereta api agar bisa duduk di sebelah Kaluna selama perjalanan. Di dalam kereta api, Kaluna dan Kalandra menikmati perjalanan hingga Kaluna tertidur di bahu Kalandra.
“Kadang aku masih nggak percaya punya pacar cantik dan periang kayak kamu Kaluna, aku janji bakal terus ada di sisi kamu,” isi hati Kalandra yang sedang takut kehilangan Kaluna. Kalandra yakin bahwa di masa depan, ia pasti berhasil meminang Kaluna.
Kereta yang ditumpangi Kaluna dan Kalandra melaju secepat kilat, tak terasa telah tiba di Stasiun Balapan Solo. Kalandra mengantarkan Kaluna sampai ke rumah dan sedikit mengobrol dengan kedua orang tua Kaluna. Ayah Kaluna mengetahui Kalandra menyukai wayang orang dan kebetulan lusa akan ada pertunjukan wayang orang di Sriwedari. Ayahnya memberikan 2 tiket wayang orang untuk Kaluna dan Kalandra dengan tujuan sebagai hadiah untuk mereka. Kaluna sangat tidak sabar untuk menanti hari itu datang, Kaluna tidak pernah sekali pun menonton pertunjukan wayang orang walaupun rumahnya dekat dari Sriwedari.
Hari yang dinanti tiba, Kalandra berjanji akan menjemput Kaluna jam 19.00, ia ingin membelikan untaian bunga tulip untuk kekasihnya pada hari bahagianya yaitu menonton wayang orang pertama kali bersama kekasih dalam hidupnya. Tepat jam 18.45 malam, Kalandra baru saja menancapkan gas keluar rumahnya dan menuju toko bunga. Toko bunga yang dikunjungi Kalandra sangat ramai, padahal jam tangan Kalandra sudah menunjukkan pukul 19.15 yang berarti sudah lewat 15 menit dari janji yang ia ucapkan. Kalandra tidak ingin Kaluna kecewa karena menunggu terlalu lama. Untaian bunga tulip sudah ia didapatkan, Kalandra bergegas menuju rumah Kaluna dengan kecepatan maksimal yang bisa ia tempuh.
Ketika Kalandra ingin melewati sebuah truk pengangkut barang berat, ia berada di sisi kanan. Kalandra belum sempat melampaui truk tersebut, ia terlindas oleh ban truk dan terjadi kecelakaan yang hebat. Kecelakaan tersebut terjadi karena Kalandra berada di daerah blind spot sehingga truk tidak dapat melihat keberadaan Kalandra di sebelah kanan. Para warga segera menolong Kalandra dan membawanya ke rumah sakit dengan ambulan yang melaju pesat. Sementara Kaluna yang sedang menunggu Kalandra datang dengan alunan suara jangkrik dan nyamuk di teras rumahnya.
Waktu sudah menginjak pukul 20.00, seharusnya ia sudah menonton dengan Kalandra di Sriwedari. Kaluna kian gelisah, belasan panggilan tak terjawab memenuhi riwayat panggilannya dengan Kalandra. Tiba-tiba deringan panggilan datang dari Ibu Kalandra, Kaluna segera mengangkatnya dan dalam hitungan detik Kaluna meneteskan air mata yang deras.
“A a a apa tante? Kalandra kecelakaan?, sekarang juga saya akan menuju ke rumah sakit tante,” ungkap Kaluna dengan suara gemetar.
“Kalandra, tunggu aku,” gumam Kaluna selama perjalanan menuju rumah sakit.
Kondisi Kalandra kritis akibat benturan di kepalanya yang sangat keras, di posisi terendahnya Kalandra masih mengingat Kaluna. Dalam hatinya berharap agar Kaluna mendapatkan laki-laki yang dapat menemani hingga akhir hidup Kaluna.
“Mah, tolong sampaikan kalau aku begitu menyayanginya dan maaf rencana hari ini gagal,” ucap Kalandra dengan terbata-bata dan setengah sadar.
“TIIIIIIIIITT…,” suara yang panjang dari monitor ICU, menandakan Kalandra telah pergi selamanya. Seisi ruangan hanya terdengar derai air mata dan suara yang sedu, Kalandra tidak akan pernah bisa kembali di dunia. Setibanya Kaluna di rumah sakit, ia menangis histeris dan hidupnya hancur dalam hitungan detik setelah mengetahui Kalandra pergi selamanya. Kaluna membenci dirinya sendiri karena tidak sempat melihat Kalandra sebelum ia pergi.
“Aku gagal, gagal, dan hanya gagal yang ada dalam diriku,” teriak Kaluna dengan air mata yang membasahi wajahnya.
Semenjak hari itu datang di hidup Kaluna, ia menjadi gadis yang murung karena telah kehilangan separuh dirinya. Pertemuan 2 tahun itu sangat berarti di hidup Kaluna yang tidak pernah memiliki hubungan dengan laki-laki. Keseharian Kaluna di rumah hanya berdiam diri di kamar. Sejatinya, kehilangan seseorang adalah kehilangan terbesar dalam hidup Kaluna.
Beberapa bulan kemudian, di pagi hari yang mendung dan hanya sedikit pancaran dari sang surya, Kaluna terbesit untuk menonton wayang orang malam hari nanti dan hanya seorang diri. Jam dinding di kamar Kaluna telah menunjukkan pukul 20.00, Kaluna bergegas menuju Sriwedari menaiki ojek online. Saat pertunjukan wayang orang telah dimulai, Kaluna terkejut dengan penataan yang tersusun indah dari mulai riasan di wajah hingga properti yang digunakan. Alunan gamelan dan selingan tarian di tengah pertunjukan adalah bagian yang memukau bagi Kaluna. Malam ini, pertunjukan membawakan cerita Ramayana, cerita yang disukai Kalandra dalam pertunjukan wayang orang. Cerita Ramayana menggambarkan kisah cinta antara Rama dan Sinta yang amat besar.
“Andai saja kamu dapat kembali dan bahagia bersamaku, pasti kisah kita akan sehebat Rama dan Sinta,” kata Kaluna dengan rasa rindu yang tidak dapat dibendung.
Walaupun Kaluna menonton tanpa Kalandra, namun Kaluna bisa merasakan kehadiran Kalandra di sampingnya. Usai menonton, air mata Kaluna menetes di sepanjang jalan pulang menuju rumahnya. Kaluna tidak ingin semakin terbelenggu oleh rasa rindu, ia tidak ingin mengharapkan kembali apa yang sudah diambil oleh Tuhan. Sesampainya di rumah, Kaluna ingin menyudahi bagian hidupnya yang hanyut bersama Kalandra.
“Kalandra, terbanglah yang tinggi. Aku di sini telah merelakanmu,” sedu Kaluna untuk terakhir kalinya. (Lena)
0 Komentar