POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Sukma (2025) : Sebuah Keabadian di Balik Cermin Tua

Sumber: Wikipedia 

Judul Film                 : Sukma

Platform                    : Netflix

Sutradara                  : Baim Wong

Penulis                      : Ratih Kumala

Durasi Film               : 108 menit

Tahun Rilis                : 2025

Pemeran Utama       : Luna Maya (Arini), Fedi Nuril (Hendra), Christine Hakim (Ibu Sri Sukma Wiranegara), Oka Antara (Pram).


Di tengah gempuran film horor lokal yang berlomba-lomba mengumbar jumpscare dan penampakan, Baim Wong melalui karyanya Sukma (2025) mencoba mengambil jalan memutar. Film berdurasi 108 menit ini tidak menakut-nakuti penonton lewat hantu berwajah hancur, melainkan lewat manipulasi pikiran, trauma, dan kengerian dari sifat egois manusia yang menolak takdir.


Narasi Sukma dibuka dengan kelam melalui kehidupan Arini (Luna Maya), seorang ibu yang harus berhadapan dengan suaminya, Hendra (Fedi Nuril), yang mengidap skizofrenia sehingga membuatnya kerap lepas kendali dan menyakiti Arini beserta anak mereka, Andik. Mencari kedamaian, Arini akhirnya membangun hidup baru dan pindah ke sebuah rumah tua bersama suami barunya, Pram (Oka Antara). Di rumah tersebut, mereka disambut oleh Ibu Sri (Christine Hakim), seorang asisten rumah tangga paruh baya yang mengaku telah lama mengabdi di sana.

Kehidupan baru yang diidamkan Arini perlahan mulai retak ketika ia menemukan sebuah cermin tua berukuran besar. Kejanggalan memuncak saat Ibu Sri dengan keras melarang cermin tersebut untuk dibuang atau dijual. Namun Arini perlahan mulai merasakan teror presensi ganjil dari balik cermin tersebut. Rasa penasarannya menuntun Arini untuk mencari tahu rahasia apa di balik cermin itu sehingga mempertemukannya dengan Tyas, seorang wanita dengan masa lalu tragis yang pernah mendiami rumah tersebut.


Dari sinilah, Sukma menunjukkan taring aslinya sebagai film psychological thriller. Melalui kesaksian Tyas, tabir gelap masa lalu rumah itu terkuak. Ibu Sri ternyata bukanlah sekadar penjaga rumah tua, melainkan sukma seseorang yang terus mencari raga baru untuk memperpanjang usia dan kembali muda bersama suaminya, Wiranegara.


Sebagai sebuah karya, Baim Wong berhasil mengeksekusi transisi cerita dengan cerdik. Pada babak pertama hingga pertengahan, alur penceritaan terasa lambat (slow-burn) dan premisnya terkesan klise serta mudah ditebak. Namun, kesabaran penonton akan dibayar lunas pada sepertiga akhir film. Cermin tua yang awalnya hanya disangka sebagai properti horor biasa, ternyata merupakan medium ritual pergantian raga yang mengerikan.


Kekuatan utama Sukma justru terletak pada kejutan naratifnya (plot twist). Penonton dibuat terperangah ketika identitas Pram terbongkar sebagai raga baru yang telah diambil alih oleh Wiranegara. Lebih jauh lagi, film ini memberikan tamparan psikologis di adegan penutup. Ketika penonton mengira keluarga kecil Arini telah selamat setelah Hendra datang menolongnya keluar dari cermin, kenyataan pahit justru menanti. Wiranegara terbukti selangkah lebih licik dengan mengambil alih raga Hendra.


Melalui Sukma, Baim Wong dan Ratih Kumala melempar kritik sosial yang tajam mengenai ambisi dan egoisme. Horor sejati dalam film ini bukan berasal dari alam gaib, melainkan dari keserakahan manusia (dalam hal ini Sukma dan Wiranegara) yang rela mengorbankan nyawa dan kebahagiaan orang lain demi kepentingan dan keabadian diri sendiri.


Secara keseluruhan, Sukma adalah sajian segar bagi penikmat sinema yang menggemari teror psikologis. Absennya jumpscare pada umumnya diganti dengan penulisan skenario yang rapi dan memutar otak. Meskipun menuntut kesabaran di awal durasi, Sukma berhasil membuktikan bahwa ketakutan paling nyata sering kali tidak datang dari hantu yang bersembunyi di dalam lemari, melainkan dari orang-orang terdekat yang tidur di ranjang yang sama. (Dwiki)


Posting Komentar

0 Komentar