POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Sajak Kata Sia-sia

Sumber: Pinterest/ rara

Pagi, Asha selamat tanggal 21

Hari ini kamu masih sama seperti kemarin, kamu masih tak mau menyapaku, kamu memutar jalan untuk menghindariku, bahkan sengaja berangkat lebih awal agar tak bertemu aku di parkiran. Sejujurnya, aku pun tidak tau harus berbuat apa, keputusanku sudah bulat, aku akan pergi seminggu lagi, seperti yang aku katakan.

Sebelum itu, aku minta maaf kalau memberitahumu secara mendadak. Sebagai seorang yang telah menjalani hari-hari selama empat tahun begitu dekat, sebenarnya aku hampir tak bisa menyembunyikan sedikit pun rahasia darimu. Hanya karena kamu suka kejutan, dengan bodohnya aku berpikir bahwa mungkin kamu akan suka rencana ini sebagai rahasia yang tiba-tiba aku beritahukan.

Asha, aku tak mengerti kenapa kita bisa menjadi sejauh ini. Aku selalu mengikuti setiap langkahmu seperti anak anjing mengikuti induknya, aku menghafalkan angka dan huruf kesukaanmu meski aku bilang itu tak masuk akal, aku selalu menunggumu di parkiran selama satu jam dan berpura pura baru datang, aku bahkan membaca semua komik yang kamu suka agar kamu mendapat teman bercerita. Apa kamu tidak pernah merasakan perasaan 'aneh' itu sama sepertiku? Asha, sebelum semuanya memburuk, kuharap setidaknya aku bisa memberitahumu sebagian sisi hatiku yang mungkin kamu tak pernah tau.

Asha, aku mencintaimu, jika kamu bertanya mengapa bisa, mungkin kita harus segera bertemu. Karena hanya dengan menatap matamu, bunga mawar putih yang sangat kamu sukai itu bisa mengisi seluruh jiwaku. Akan ada satu buku, setidaknya, jika aku menuliskan semua hal tentangmu.

Aku tak berharap kamu membalas perasaanku, Asha. tapi setidaknya, balaslah pesanku seperti biasanya, dengan bubble panjang dan stiker stiker konyol khasmu itu. Ayo bertemu, biarkan aku melegakan perasaan sialan ini.

Aku menutup pintu dan membanting tubuhku ke kasur, masih lengkap dengan pakaian luar, menenggelamkan wajah serta pikiranku dalam dekapan hangat bantal yang berserakan. Hari ini aku rasa tubuhku lebih sakit dari pada hari-hari sebelumnya, meskipun aku seorang pria dewasa, lembur selama 3 hari berturut-turut sebagai pengurus kebun tidaklah mudah. Apalagi bulan ini sudah memasuki musim panen, buah-buah di kebun bertambah banyak setiap harinya.

Sudah 2 tahun semenjak aku pergi meninggalkan tanah kelahiranku untuk bekerja di sini, pun sudah beberapa kali aku sengaja mengambil lembur untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Aku juga sudah sangat terbiasa dengan lingkungan disini, cuaca yang berganti dengan cepat, orang-orang sekitarku yang ramah, budaya kerja yang disiplin, hingga rute jalan kota ini. Aku benar-benar sudah terbiasa dengan banyak hal, kecuali satu, makanan bernama kimchi yang selalu tersedia dimana-mana itu kadang mengangguku. Alasan sepelenya, karena rasanya kurang masuk di lidah kampunganku, asalan rumitnya, aku selalu mengingat seseorang hanya dengan melihat bentuknya.

Seorang perempuan dengan tinggi sebahuku, mungkin sekitar 155 cm sekian, rambut hitam kecoklatannya tipis lembut dan selalu dikucir kuda dengan sedikit poni yang dibiarkan terurai. Kadang ia memakai jepitan rambut berwarna warni yang norak sekaligus lucu, ketika ia tersenyum, matanya hilang tinggal segaris, alisnya rapi, kadang kulit putih susunya merona seperti strawberry yang baru matang karena terpapar panas matahari, dan hidung mungil yang terlihat runcing dari samping itu sungguh menggemaskan. Ya, seperti itu lah ingatanku tentang dia.

tringggg, tringgggg, tringggg, tringggg’ aku memutuskan untuk melepas sepatu dan membersihkan diri ketika mendengar notif panjang dari ponselku. Setelah selesai mandi, aku pergi ke dapur untuk mencari apapun yang bisa kumakan hari ini, namun sepertinya usahaku sia-sia, bahkan sebungkus mie instan saja tak dapat kutemukan. Dengan langkah berat, aku terpaksa keluar dari mess untuk membeli makan. Minggu ini, udara terasa sedikit lebih dingin dari hari hari sebelumnya, mungkin karena musim dingin yang akan segera datang.

Aku berjalan menyusuri trotoar sepi dengan lampu remang-remang taman, menyusuri blok semen rata lurus menuju tempat makan di ujung sana. Malam ini, bulan kehilangan separuh bagiannya, menyinari gelap dengan sabit sisanya. Hari-hari tenang yang bahkan tak pernah kubayangkan sudah menjadi rutinitasku. Aku pikir, saat aku memutuskan untuk benar-benar pergi, aku akan mati kesepian, karena warna hidupku telah hilang. Nyatanya, tanpa Asha pun kehidupanku berjalan seperti biasanya, senin tetaplah senin, selasa tetaplah selasa, begitulah seterusnya.

Aku bilang, aku sudah merelakanmu. Pesan yang aku kirim tanggal 21 itu bahkan tak pernah sampai padamu, pesan itu masih centang satu di kontak teratas dengan tanda pin disisi kanan, tetap saja, aku selalu bertanya bagaimana kabarmu lewat ibuku seminggu sekali. Senang mendengar bahwa hidupmu jauh lebih baik tanpaku, Asha. Seharusnya, aku juga bisa begitu bukan?

Aku terus berjalan, dengan tangan yang ku masukkan ke saku jaketku, berharap langkah kakiku yang lebar cepat membawaku ke toko makanan. Begitu pikirku, sebelum aku mematung di setengah perjalananku. Rasanya, otakku seperti ter-restart, aku masih membeku, jantungku yang sempat berhenti tiba-tiba berdetak tak berirama. Di depanku saat ini, mataku menangkap sosok perempuan dengan jaket cokelat tebal, kami berhadapan. Tuhan, jika ini mimpi, jangan bangunkan aku, gumamku dalam hati.

“Ba…ra?” suara gemetar penuh ragu melesat dari bibir mungilmu tepat ke hatiku. Benar, banar-benar gila, suara yang bahkan tak ku ingat itu bergema dipikiranku, banyak memori sialan yang terputar di otakku. “Asha, kenapa kamu disini?” Pertanyanku hanya sampai itu, padahal banyak sekali hal-hal yang mengangguku. Aku menggila, sebelum bibir munggilnya kembali membuka, aku lebih dulu meraih tangan dinginnya dan menyeret tubuh mungil itu menuju taman bermain sekitar. Pikiranku berantakan, entah mengapa, ada sisi hatiku yang meleleh di tengah dinginnya malam langit Busan.

Tahun lalu, tepatnya hari terakhir tahun itu, kita merayakan pergantian tahun bersama di balkon rumahku. Kamu selalu mengoceh tentang banyak hal, dari kucing tetanggaku yang tiba-tiba melahirkan, hingga berita korupsi terpanas minggu itu. Aku selalu heran, apa sebenarnya isi kepala kecilmu itu, kurasa banyak dunia yang berputar putar disana, hingga kamu kadang lupa sedang membicarakan topik yang mana.

Tepat 15 menit sebelum kembang api meledak bermekaran di langit, aku kembali ke tempat dudukku, membawakan es krim mangga kesukaanmu. Aku menghentikan ocehanmu tentang bos yang akhir-akhir ini jarang pergi ke kantor karena anjingnya baru saja melahirkan, dan kamu merengut seperti biasanya. Aku bilang, aku ingin berbicara sesuatu, awalnya kamu bercanda dengan menunjukkan wajah konyol andalanmu, namun kamu berhenti karena kali ini aku benar benar pandai menahan tawaku. Aku serius.

Aku menatap bola mata cokelat pekatmu, hatiku berdesir pelan, matamu begitu jernih, bulat, dan bersinar. Kamu mengedip beberapa kali, hingga aku tersadar dan segera mengalihkan pandanganku ke samping, berpura pura mencari sesuatu di langit kosong malam itu. Aku mengambil napas, kembali melihatmu yang kebingungan di depanku. "Aku lolos test bahasa, aku diambil Perusahaan Korea, rencananya aku akan dipanggil bekerja paling lama bulan depan," Aku tersenyum tipis, pipiku panas, jantungku berdebar kencang bersama angin malam yang berlalu mengibarkan sedikit poni depanmu. Aku membuang muka, entah mengapa aku tak mau melihat reaksimu langsung. Lama aku mengalihkan pandang, aku tak mendengar jawaban.

"Kenapa kamu baru bilang?" Ujarmu lirih, suaramu sedikit bergetar, aku melihatmu menunduk, raut wajahmu saat itu benar-benar menghancurkan ekspektasiku. "Aku... aku mau bilang ke kamu pas udah keterima aja," jawabku hati-hati. "Kamu egois, Bara. Kamu egois," Aku terkejut, rasanya jantungku bingung ingin berdetak sekencang apa lagi, angin malam yang tadinya sepoi-sepoi berubah seperti menusukku dengan belati dalam sekejap.

Kamu berdiri dan aku berusaha meraih tanganmu, namun dengan tegas kamu menepisku, "Hal sebesar itu kamu ga bilang ke aku? Kamu pamit mendadak begitu? Sebenarnya, apa aku benar-benar kamu anggap temanmu, Bara?" Kita bersitatap, alismu berkerut, matamu berkaca kaca, dan sudut bibirmu bergetar. Malam itu, sebelum kembang api membakar langit tahun baru dengan coraknya, kamu pergi meninggalkan aku dengan penuh tanda tanya. Paginya, aku tak bisa menemuimu di rumahmu, pagi berikutnya, kamu pergi ke rumah nenekmu, pagi setelahnya, kamu bersepeda di hari minggu, dan seterusnya, hingga saat masuk kerja pun, kamu seperti tak pernah melihatku di sudut matamu.

Dulu, aku ragu tentang mimpiku untuk memperbaiki ekonomi dengan menjadi pekerja di negara asing. Aku bercerita padamu untuk meluruskan benang-benang yang berputar dikepalaku, kamu tampak senang mendengarku, kamu bilang berkali-kali bahwa itu keren, Asha. Kamu bilang, aku harus mengejar mimpiku untuk kesejahteraan hidupku dan keluargaku. Kamu bilang, bagaimana dengan korea, negara yang begitu kamu sukai itu kamu usulkan menjadi opsi pertamaku. Kamu berceloteh tentang budaya, makanan, idolamu, dan penulis komik kesukaanmu dengan bersemangat, aku terkekeh geli, bagaimana kamu bisa membandingkan negara tujuan untuk bekerja dengan hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan.

Sejak hari itu, aku diam-diam mulai mengambil langkah kecil, yang kemudian membawaku dan mimpiku terwujud, tanpa kamu tahu, Asha. Aku pikir, kamu mungkin akan senang mendapat kejutan besar, tapi pemikiranku benar-benar dangkal, maaf telah menyakitimu, egoku menang hanya karena ingin mendapat pujianmu.

Setelah duduk diam di taman selama beberapa menit, kamu memutuskan untuk membuka topik. “Bara, kamu apa kabar?” Aku yang hampir membuka mulutku kembali diam, rasanya jantungku tak bisa berdetak dengan normal, setelah 2 tahun merasa sesak karena rindu, kini hatiku meledak karena senang. “Aku baik, kamu bagaimana?” Jawabku. Asha tersenyum tipis, senyum yang hampir aku lupakan itu tergambar jelas di wajah sendunya. “Aku ga begitu baik,” jawabnya lirih. Asha menunduk kebawah, memandang sepatu hitamnya yang kotor karena lumpur taman, aku sedikit terkejut, aku menimang-nimang lagi, ‘aksi gila ini, sepertinya cukup untuk dimengerti’.

Aku merapatkan tubuhku ke sebelahnya, tanganku yang tadinya ragu, kupaksakan untuk merangkulnya, lalu pelan-pelan mengarahkan kepala kecilnya untuk bersandar di bahuku. Dia menurut, menyandarkan kepalanya di lenganku tanpa pemaksaan. Demi tuhan, tubuhku terasa terbakar karena malu, bahkan tangan yang ku ulurkan di pundak Asha serasa mati rasa, kakiku yang sedari tadi diam tiba-tiba bergerak berirama, aku mungkin benar-benar gila. “Bara, kamu mau dengar ceritaku?” Asha bertanya padaku, duh bahkan jika kamu mengoceh seribu tahun, fosilku akan tetap mendengarkanmu Asha, pikirku. Ku jawab dengan anggukan singkat.

“Gak ah, gajadi, aku mau pulang aja,” Asha tiba-tiba bangkit, dan bersiap-siap pergi. Aku yang bingung pun menahan tangan kecilnya, lalu dengan cepat mengajaknya makan. Akhirnya, kami pun berjalan beriringan ke restoran terdekat. Setelah itu, Asha tidak membahas apapun yang penting. Dia hanya mengeluh dan berceloteh tentang misinya menemui idol kesayangannya dan hal-hal tak penting lainnya. Tapi aku merasa hatiku hangat, setelah sekian lama mati rasa, aku kembali menjadi lelaki gila hanya dengan melihat wajah cantiknya.

Setelah makan, aku mengantar Asha pulang, aku takut bocah ceroboh itu akan hilang, dia bahkan sudah tersesat tiga kali hari ini. Ketika aku berpamitan, Asha memberiku amplop bersegel merah maroon, ia bilang, ia akan marah jika aku membacanya di sembarang tempat, aku hanya boleh membacanya ketika sampai tempat tidur. Aku mengiyakan, dan buru-buru pulang karena penasaran.

Bara, hari kamu memberi tahuku tentang rencana perjalananmu itu benar-benar bencana. Aku pulang dengan membawa mata sembap dan sisa-sisa ingus di hidungku. Membuka pintu rumah dengan kasar dan berjalan dengan liar menuju kamar. Ibu dan Kak Ian yang menonton Netflix di ruang tengah langsung beristighfar, meneriakiku seakan aku membawa se-truk jin dari jalanan. Aku benar-benar tak mengerti, mengapa kamu tidak memberi apa-apa, duh aku benar benar kecewa, Bara. Sebenarnya, aku pun tak tahu pasti mengapa aku semarah ini.

Setelah mendaratkan tubuhku di kasur, aku membuka HP dan segera memblokir nomermu, 25 chat darimu tak bisa meredakan amarahku. Mataku kembali buram karena air mata, hidungku mulai perih, dan aku kembali menangis. Kalau boleh jujur, sebenarnya kamu benar-benar tipeku, tinggi 175 dengan proposi tubuh ceking bak artis china, wajah tampan dengan alis tebal, dan kulit kuning sawo matang yang rata, kamu cukup tampan. Selain itu, kamu pria yang dermawan dan sederhana, kamu mengantarku ke toko buku, menemaniku melihat bunglon, dan mengajakku memberi makan kucing jalanan tiap pagi, kamu juga berusaha tertawa dengan jokes-ku yang tak lucu. Duh, bagaimana kamu bisa se-menyengangkan itu.

Aku menyukaimu Bara, rencananya, bulan depan, di hari ulang tahunmu, aku ingin memintamu menjadi pacarku. Aku akan memberikan kejutan dan cincin untuk menunjukkan ketulusanku dan memberikan buket bunga sebagai saksi bisu cintaku padamu. Mau tidak mau, kamu harus menjadi pacarku, itu bukan pilihan, melainkan suatu keharusan. Padahal, aku tidak sabar untuk mengubah kontak bernama calon pacar itu menjadi pacarku yang lucu. Duh, kamu merusak rencanaku.

Kamu bilang, bulan depan kamu pergi, kamu benar-benar tega ya, kamu bahkan tak memberiku waktu untuk memantapkan hati. Sepertinya, rencana untuk menjadikanmu pacarku sudah masuk list rencana gagal totalku. Aku mungkin harus mengubur cintaku dalam-dalam dan mengunci namamu di dasar hatiku. Setelah hari itu, aku menghindarimu, aku tak tahu harus bereaksi seperti apa setelah tingkahku malam itu, aku benar-benar malu.

Di tengah-tengah itu, hari sial terus-terusan mendatangiku, aku harus pindah kerja dan meninggalkanmu karena merawat ibuku yang sakit di luar kota, aku juga kehilangan kontakmu tanpa sempat membuka blokiran mu karena handphone hilang di perjalanan. Beberapa bulan berlalu, yang kudapat hanya kontak ibumu, dan kontakmu. Namun, aku tidak akan menghubungimu lebih dulu, dan memutuskan untuk hidup dalam penyesalan.

Hingga akhirnya, aku sudah tidak tahan, aku benar-benar gila hidup tanpa mengandalkamu, aku memutuskan bergabung LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) setelah ibuku pulih, dan mengorek informasi tentangmu melalui ibumu. Seminggu yang lalu, aku sampai di negara asing, bukan karena bekerja, tapi karena menyusulmu hehe. Aku terlalu bodoh untuk menemukan alamat mess-mu dengan cepat, jadi kuputuskan untuk melakukannya dengan santai sembari beradaptasi. Kalau kamu benar-benar membaca sampai tuntas tulisanku, tolong angkat kedua tanganmu saat bertemu aku kembali. Salam cinta, sahabatku.

Bocah gila, rasanya aku bisa mati karena malu. Aku menempelkan kepalaku di depan pintu kamar, bibirku tak bisa berhenti menahan senyum, Asha memang seperti ini, bocah gila yang tak pernah berubah. Aku pikir, hidupku akan terus berjalan seperti ini, sendirian, menikmati setiap langkah kesepian. Aku pikir, aku sudah terbiasa mengenangmu Asha, hingga aku sendiri pun tak berekspektasi bahwa kita akan bertemu kembali. Aku pikir, hanya aku yang akhirnya memendam rasa ‘aneh’ itu sendiri. Ternyata, perasaan ‘aneh’ itu tak bisa hilang begitu saja. Kamu benar-benar pandai memporak porandakan hati seseorang.

Saking senangnya, aku tak bisa tidur malam ini. Aku terus membaca surat itu berkali-kali, sampai kertas yang tadinya mulus mulai lecek sebagian. Kuputuskan untuk kembali ke mess-mu dengan membawakan serangkaian buket bunga mawar putih, dengan kue cokelat sebagai pelengkapnya. Meskipun sampai di sana lampu-lampu sudah mati, aku duduk menunggu di toko 24 jam dekat sana, menghitung menit sambil memandang pesan tanggal 21 yang masih centang satu di ponselku, pesan itu masih tertahan di sana, seolah menunggu waktu yang pas untuk sampai padamu.

Pagi harinya, langit Busan masih belum sepenuhnya terang saat aku berdiri di depan pintu mess-mu. Tanganku dingin, kali ini bukan karena cuaca, tapi karena gugup, rasanya persis seperti malam tahun baru terakhirku bersamamu. Buket mawar putih yang kugengam terasa lebih berat dari sebelumnya, aku mengumpulkan tekad, menarik napas panjang, lalu mengetok pintu tiga kali.

Detik pintu itu terbuka, aku tak sempat bicara apa-apa, kedua tanganku sudah terangkat lebih dulu, persis seperti yang kamu minta. Asha terdiam sesaat, wajah bantalnya yang menggemaskan itu tiba tiba berubah, matanya sempat membulat, lalu perlahan menyipit jadi segaris karena senyuman yang merekah. “Kamu….baca sampai habis?” suaranya bergetar, seolah tak percaya. Aku mengangguk dengan senyuman tipis.

Asha tertawa pelan, lalu memelukku erat. Di pelukkan itu, wangi kue cokelat yang kubawa bercampur dengan aroma pagi yang dingin, sekaligus wangi tubuh Asha yang menghangatkan hatiku. Semua kerinduanku terbayar, pada akhirnya, sajak kata sia-sia yang tak terkirim tahun itu, bisa tergantikan dengan versi yang lebih baik. Asha, aku mencintaimu, persis seperti tahun-tahun lalu. (Naswa)


Posting Komentar

0 Komentar