POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Kelana Buana

 

Source: Pinterest
  

Pagi ini awan kelabu yang semalam menghampiri kota telah berlalu, matahari menyuarkan sinarnya menyambut hari yang baru. 

Harum petrikor yang semerbak memenuhi indra penciuman Miyu.

“Hoammmm,” Miyu menguap sembari merenggangkan badannya yang terasa kaku.

Ia mulai berjalan, menghampiri semangkuk makanan yang berada di ujung ruangan. Ia melihat jam, “Ah, sudah waktunya bergegas untuk mandi dan pergi”, batinnya.

Setelah siap, ia pun melangkah keluar dari rumah, menyusuri jalan mengikuti langkahnya yang entah kemana akan membawa dirinya pergi hari ini.

Seperti hari biasanya, tentu saja ia akan mampir ke pasar terlebih dahulu. Mengunjungi sebuah toko ikan kesayangannya.

“Miyu, kau sudah datang? Bagaimana hari ini? Ini, ikan kesukaanmu”, ucap pemilik toko dengan senyum yang terpatri dengan wajah yang berseri-seri ketika melihat Miyu mendekatinya.

Miyu menatap mangkok itu dengan penuh binar di matanya. Tanpa membutuhkan waktu lama, ia melahap seluruh ikan itu dengan penuh kebahagiaan.

”Miyu, apakah kau sudah mengunjungi toko yang baru? Apakah kau sudah berkenalan dengan pemiliknya? Toko baru, di ujung jalan ini. Sebetulnya bukan toko sih… tapi resto. Katanya mereka menyediakan ramen yang enak, aku ingin berkunjung, tetapi belum sempat karena tidak ada waktu. Cobalah nanti kau berkunjung ke sana, dengar-dengar pemiliknya sama sepertiku, sama-sama menyukai kucing, pasti nanti kau akan diberi makanan yang enak disana”, ujar pemilik toko kepada Miyu yang tengah sibuk menjilati mangkuk ikannya.

Miyu mengerti apa yang diucapkan pemilik toko, ia juga penasaran dengan restoran tersebut. “Kan lumayan kalau dikasih makanan,” batinnya.

Kaki kecilnya melangkah, menuju restoran yang ada di ujung sana. Ketika dirinya sampai, ia hanya melihat wanita paruh baya sedang menyirami tanaman yang ada di depan restoran.

Ia melihat Miyu “Wah kau lucu sekali, apakah kau ingin masuk ke dalam bersamaku?”

Miyu memperhatikannya, ia melihat sang nenek membukakan pintu untuk dirinya. Miyu melangkah masuk, hal pertama yang dia lihat adalah sepi, tempat ini kosong. “Mungkin karena ini masih terlalu pagi, biasanya kan para manusia itu makan disaat matahari tepat berada di atas kepalaku” ocehnya.

Tentu saja yang terdengar hanya miaw miaw miaw.

Nenek menanggapinya dengan senyuman, kemudian ia berujar “apakah kau ingin mencoba menjadi manusia, Miyu?”

Miyu memiringkan kepalanya, ia mengerti apa yang dikatakan, tetapi ia mencoba mencerna apa yang dimaksudkan oleh nenek tersebut. Hanya terlintas satu pertanyaan di kepala bulatnya itu, “apakah mungkin?”

Seakan tahu apa yang Miyu pikirkan, nenek pun terlihat bersemangat dan menjawab “tentu saja kau bisa mencobanya, mari ikuti aku”.

Nenek membawa Miyu ke area belakang, tampak sebuah ruangan yang dipenuhi oleh berbagai macam persediaan stok bahan makanan. Di sudut ruangan tersebut terdapat sebuah kotak, seperti bilik telepon umum.

Di dalamnya hanya terdapat sebuah bel yang menggantung tepat berada di tengah kotak, talinya menjuntai ke bawah hingga Miyu bisa meraihnya.

“Kau bisa menggunakannya, kau cukup memikirkan ingin menjadi siapa, lalu tarik saja talinya, kau mengerti, kan?”

Miyu berjalan masuk ke dalam kotak tersebut, ia bergeming, kemudian ia mencobanya, seketika dirinya berubah menjadi seorang manusia.

“Wah! Berhasil! Nek, aku berhasil!” teriaknya sangat bahagia dari dalam sana.

“Selamat bersenang-senang,” ucap sang nenek.

Ruangan yang semulanya adalah tempat penyimpanan, kini berubah menjadi tempat di mana Miyu seharusnya melakukan kegiatan seorang manusia yang ia perankan.

Miyu berkesempatan menjadi manusia dalam satu hari. Ia mencoba berbagai peran, mulai dari menjadi manusia yang merawatnya, “Ah, menjadi budak korporat tidak menyenangkan, selalu saja disuruh ini-itu, dan aku bahkan tidak bisa bermain sesuka hatiku? Cih, tidak seru.”

Setelah itu ia mencoba berbagai manusia yang biasanya ia temui di pasar, baik menjadi pembeli, penjual, atau bahkan mencoba segala jenis pekerjaan manusia di lingkungan pasar itu.

Ia berkali-kali berganti pekerjaan, dari manusia yang satu ke manusia yang lain, pasar itu memang kecil, tetapi ada banyak sekali kisah yang tidak pernah Miyu dengar sebelumnya. Banyak sekali impian, harapan, kebahagiaan, maupun kesedihan di dalam tempat kecil itu.

Ketika sore datang, matahari menyemburatkan warnanya, permadani jingga menghiasi langit senja kala itu, Miyu pun berhenti. Sebelum ia berubah menjadi kucing, ia hanya berkata pada sang nenek pemilik restoran, “menjadi manusia itu rumit, aku tidak suka. Terlalu banyak benang kusut di antara mereka, baik itu pada sesama, maupun pikirannya sendiri. Aku lebih suka menjadi kucing saja.”

Begitulah kisah Miyu hari ini, ia sudah kelelahan mendengar ocehan manusia, bahkan ocehan pikirannya sendiri ketika menjadi manusia. Saat ini di kepalanya ia hanya ingin pulang, memeluk manusia yang telah merawatnya selama ini, yang menyambut dirinya saat pulang, yang memeluk dirinya saat hujan, dan menyelimutinya agar tidak kedinginan. (Ajeng)

 

Posting Komentar

0 Komentar