POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

“Tak Ada Mawar yang Tumbuh di Tegarnya Karang”: Sunset Bersama Rosie

 

Cover Buku Novel "Sunset Bersama Rosie"/ Dok. Internet


Judul : Sunset Bersama Rosie

Penulis : Tere Liye

Penerbit               : Mahaka Publishing

Tahun terbit : 2011 (cetakan I)

Jumlah halaman : 426 halaman

ISBN : 978-602-98883-6-2


Sunset Bersama Rosie bercerita tentang kisah cinta segitiga, persahabatan, sekaligus pengorbanan. Berlatar di pulau Bali dan Lombok, novel ini mengadaptasi kisah bom Jimbaran yang dibumbui dengan konflik kehidupan dan percintaan tokoh utamanya, Tegar. Melalui sudut pandang orang pertama pelaku utama, Tegar menceritakan konflik percintaannya dengan Rosie, sahabatnya sejak kecil. Kisah ini bermula dari persahabatan mereka sejak kecil di Gili Trawangan, mereka bertetangga dan suka mendaki Gunung Rinjani setiap libur semester. Saat beranjak dewasa Tegar menyadari bahwa dia mencintai Rosie. Namun, Tegar terlalu ragu untuk mengutarakan perasaannya.


Keraguan itu segera berubah menjadi penyesalan ketika Rosie lebih memilih untuk menerima pernyataan cinta Nathan—teman yang baru dikenalkannya dua bulan—ketika mereka mendaki bersama ke Gunung Rinjani. Dua puluh tahun penantian Tegar kalah dengan dua bulan milik Nathan. Rosie memilih menikah dengan Nathan. Tegar pun mencoba memulai hidup barunya di Jakarta bersama Sekar, sahabat yang kemudian akan menjadi tunangannya.


Konflik memuncak kala bom di Pantai Jimbaran merenggut nyawa Nathan tepat pada saat Nathan dan Rosie merayakan ulang tahun ketiga belas mereka. Nathan meninggalkan Rosie dan keempat anak mereka, Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili yang masih balita. Tegar yang menyaksikan hal tersebut melalui teleconference pun memutuskan untuk kembali ke Gili Trawangan untuk mendampingi Rosie dan keempat anaknya, serta mengurus resor peninggalan Nathan. Tegar meninggalkan Jakarta, meninggalkan pekerjaannya, rumahnya, dan Sekar yang seharusnya esok pagi ia lamar. 


Rosie sangat terpuruk hingga harus menjalani perawatan intensif di shelter selama dua tahun. Selama itu pula Tegar tak menghubungi Sekar. Sampai akhirnya Tegar mendapat kabar bahwa Sekar akan bertunangan dengan laki-laki yang tidak dicintainya. Akankah Tegar mengejar kembali cinta yang Ia tinggalkan selama dua tahun? Atau justru memilih menetap bersama Rosie dan keempat anaknya?.


Secara keseluruhan kalimat yang digunakan pada novel ini sederhana dan mudah dipahami. Tere Liye mampu menyajikan cerita dengan diksi yang ringan sehingga pembaca dari berbagai kalangan dapat menikmatinya. Latar tempat, suasana, waktu, dan deskripsi kejadian digambarkan dengan sangat detail hingga pembaca mampu membayangkan setiap kejadiannya seolah ikut masuk menjadi orang ketiga serba tahu pada cerita tersebut. Namun, kelebihan itu pula yang menjadi cela pada novel ini karena membuat ceritanya terlalu bertele-tele dan kurang efisien untuk dibaca. Kemudian, alur yang maju-mundur juga membuat pembaca perlu lebih berkonsentrasi saat membaca novel tersebut.


Ada satu kalimat unik pada halaman 5 yang membuat saya tertarik untuk terus membaca novel ini. “Selamat pagi.” Menurut saya kutipan tersebut sangat unik karena tak peduli kita membacanya pada pukul berapa, tokoh utama dalam cerita tersebut menyapa kita seolah hari baru saja dimulai. Kita seperti disuguhi semangat dan janji baru oleh Tegar. Hal itu diperkuat oleh kalimat berikutnya dalam novel tersebut. “Bagiku waktu selalu pagi. Di antara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan.” Letaknya yang berada paling awal pada bab novel juga seolah mengingatkan kita bahwa kisah ini baru saja dimulai.


Selain itu, ada kutipan lain yang saya suka pada halaman 388 buku ini. “Apakah dunia memang begitu? Kita tidak pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu memilikinya.” Kalimat tersebut berhasil menyentuh salah satu sisi paling rapuh saya sebagai manusia. Sebab terkadang kita justru gagal mendapatkan sesuatu ketika kita menginginkannya terlalu keras. Dalam konteks kisah ini, Tegar tidak mendapatkan Rosie karena Tegar yang terlalu mencintai Rosie sehingga Rosie tidak memiliki ruang untuk memahami perasaannya sendiri. Terkadang kita gagal bukan karena dunia yang bersikap tidak adil, tapi karena kita sendiri yang tidak memiliki cukup keberanian untuk menjemput kesempatan, alih-alih berpasrah pada suratan nasib.


Hampir tidak ada bagian yang tidak saya sukai dari novel ini selain sikap Tegar yang menurut saya digambarkan sangat pengecut. Sikapnya yang selalu ragu, terlalu banyak menahan perasaan, dan takut mengambil keputusan membuat konflik yang sebenarnya bisa selesai lebih awal justru berlarut-larut, sehingga pembaca seperti dipaksa menyaksikan ia berkali-kali menunda keberanian yang seharusnya ia miliki sejak awal. Melalui Tegar, kita memahami bahwa cinta saja tidak pernah cukup tanpa keberanian untuk memperjuangkannya, dan bahwa diam justru bisa menjadi cara paling perlahan tapi pasti untuk kehilangan sesuatu yang berharga. Ia menunjukkan bahwa penyesalan sering lahir bukan dari hal yang kita lakukan, melainkan dari hal-hal yang tidak pernah kita berani lakukan sejak awal. (Diva)



Posting Komentar

0 Komentar