POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Selaksa Rasa Gadis


K-drama Can This Love be Translated scene

“Apa kamu sudah merasa utuh, Laras?” tanya seorang pemuda bermata kelabu di samping gadis. Si gadis bergeming, masih sibuk merekam hiruk-pikuk pasar malam. Pemuda itu sabarnya bak lautan, luas namun berujung. Kecuali untuk si gadis berambut cokelat mahoni, sabarnya pemuda itu tak kenal batas. 

Si gadis namanya Laras. Nama yang apik untuk seseorang berparas cantik. Bola mata legam dan hidung bangir cocok sekali dibingkai kacamata bulat. Laras itu artinya kesesuaian, beberapa orang menafsirkannya sebagai kesepadanan. Sayangnya, sang pemilik nama tidak setuju. 

“Laras?” pemuda itu menginterupsi. Jujur saja dia bingung apakah pertanyaannya menyinggung si gadis sebab Laras perlahan menunduk lesu. 

“Aku nggak pernah merasa seutuh saat bersama Ayah, Arsa.” Laras angkat bicara. Kini giliran si penanya yang tertunduk. Kalau ini jawabannya aku juga nggak bisa membantu, Ras. 

Laras membenarkan posisi duduknya. Ia sempat membetulkan letak kacamatanya yang sedikit merosot. Laras menoleh pada pemuda yang manyun itu lantas menepuk bahunya lembut, “Apa kamu tersinggung?” 

Pemuda yang kerap dipanggil Arsa itu menggeleng. Malah ia pikir pertanyaannya akan memberatkan hati Laras. Jelas ia tahu bahwa kehadirannya tak akan cukup untuk membuat si gadis merasa utuh. Ia hanya berniat untuk memastikan apakah Laras merasa lebih baik hari ini, di tengah pasar malam, menunggu perayaan tahun baru. Intinya pertanyaan yang barusan hanyalah bentuk lain dari apakah letihmu sudah sedikit lebih ringan, Laras? 

“Aku senang bisa kesini. Terima kasih banyak sudah repot-repot mengajakku,” Sumringah sekali gadis itu mengungkapkannya. Si pemuda seperti mendapat sengatan energi, “Nggak repot, kok. Kembali kasih.”

Si pemuda meniti ingatan saat dimana ia diperkenankan untuk melihat rapuh-rapuh tak kasat mata gadis itu. Melihat apa yang ada di balik dinding empat sisi rumah sederhana berpagar mawar. Lalu menyadari bahwa bukanlah angin yang meniup-niup ayunan di samping rumah melainkan doa-doa putus asa dari selaksa rasa seorang gadis belia. Laras yang tak sengaja mengundang Arsa ke dalam kotak rahasianya. 

 

Kala itu sore yang cerah. Arsa melangkah malas pulang ke rumah, habis pertandingan futsal dengan remaja-remaja kampung. Tidak, bukan karena kalah poin atau cekcok antar pemain. Ini semua sebab telepon dari Bunda. 

Wah, anak ini minta digebuk, ya!” Bunda terdengar garang dari seberang sana. 

Taruh dimana muka pemuda itu ketika teman sebaya menjadi saksi betapa manja anak Bunda, “Ya ampun, jam enam ini, Nak. Ayo pulang mandi sebelum Bapakmu itu pulang!” Timang-timang Arsa-ku sayang.

Sudah tinggal beberapa langkah dari rumah, seorang gadis bertelanjang kaki menghampirinya. Gadis di balik rumah pagar mawar yang selalu menarik perhatiannya. Rautnya lelah, rambut dicepol seadanya. “Maaf. Kamu Arsa, kan?” si gadis bertanya. 

Arsa mengiyakan. Senyum di bibir gadis mengembang penuh harap. “Aku Laras,” ucapnya. Arsa bukannya tak menahu siapa gerangan gadis di depannya. Lagipula mereka bersekolah di tempat yang sama tiga tahun ini. Hanya saja mereka berasal dari kelas yang berbeda. Tapi, mengapa si gadis memperkenalkan diri dengan julukan yang tidak pernah dikenal orang lain? 

Mungkin si gadis sadar lalu buru-buru meralat ucapannya, “Eh– aku Katyana. Arsa, boleh aku minta bantuanmu?” 

Pemuda itu menaikkan alis barang sebelah saja, meminta penjelasan. “Nggak terlalu lama, kok!” Laras menggelengkan kepala ke kanan dan kiri membuat kacamata hampir meluncur mengelabui hidung mancungnya. 

“Aku nggak disuruh buat tangkap tikus, kan?” 

Serius, Arsa tidak pernah sama sekali berani berhadapan dengan binatang pengerat itu. Bahkan kalau boleh memilih, seburuk-buruknya ia lebih sudi membasmi kecoak atau lintah di selokan.

“Jauh lebih seram daripada tangkap tikus,” Laras menunjukkan ekspresi seram yang dibuat-buat dan spontan pemuda di hadapannya sedikit bergidik ngeri.  

Sejurus kemudian Arsa mengekor gadis itu masuk ke dalam rumah. Instruksi gadis itu jelas, “Temanilah Ayahku mengobrol sebentar, dia merasa kesepian.” Tanpa aba-aba, gadis itu menghilang entah kemana. Toh, yang penting Arsa melaksanakan tugasnya.

Berakhirlah Arsa menikmati obrolan ramah-tamah dengan Ayah Laras di ruang tengah. Apalah kata gadis itu seram, padahal ayahnya luar biasa ramah. Di luar semakin menggelap dan lampu-lampu dinyalakan untuk menepis kelam. Tenang saja, Arsa sudah memberitahu Bunda untuk pulang terlambat sekaligus ia jelaskan pertemuannya dengan Laras. 

Arsa dapat melempar bahan pembicaraan sekenanya. Yang penting nggak bikin bosen. Bukan perkara sulit untuk pemuda itu atasi, sebab ia sudah sering ikut menyimak obrolan bapak-bapak di pos ronda. Ngomong-ngomong, teh buatan Laras enak. Arsa suka.

“Om, minggu depan ada kicau mania di kampung sebelah. Mau menonton?”

“Sudah lama nggak lihat. Besok jemput saya, ya.”

Semua berjalan baik hingga Laras menginterupsi obrolan mereka. Gadis itu membawakan sepiring gorengan hangat yang menggiurkan lalu melenggang pergi begitu saja dengan rambut terkuncir malas-malasan, tapi sialnya tetap cantik dipandang. Jadi, lebih menarik gorengannya atau si gadis yang mengantar, Arsa? 

Usai gadis itu melesat di balik pintu, sesuatu di luar kendali Arsa terjadi. 

“Siapa dia, Nak? Mirip sekali dengan istri saya.” 

Dalam hati Arsa menyumpah-serapahi orang-orang yang mengatakan kehidupan Laras sempurna tanpa cela. Padahal itu hanya kelihatannya saja. Mereka mana tahu bahwa si gadis dilupakan berkali-kali oleh ayahnya sendiri seakan ayah berhenti mengingat dunia sejak ibu dari gadis itu tiada. Pada malam tertentu rasanya si gadis ingin menangis sejadinya karena si ayah berpikir bahwa ada orang asing di rumah.

Rumah sederhana itu sebetulnya telah meredup tanpa disadari dunia. Semakin kehilangan cemerlangnya seiring tuannya menua. Sial, Alzheimer adalah momok seberkas luka. 

Bukan sebuah sandiwara yang mudah ketika Laras harus menjadi tokoh pendatang yang wajib memperkenalkan diri berkali-kali. Belum lagi ketika si ayah bertanya dimana belahan jiwanya berada, apakah sedang menjaga asap dapur atau membasuh mawar-mawar di pagar? 

“Mawar itu kelihatan cantik dari luar kan, Arsa? Hampir tanpa noda. Hanya saja mereka nggak tahu kalau duri tajam mengacung di sebaliknya,” pernah suatu hari gadis itu menjelaskan. 

Laras, katanya. Arsa sempat bertanya mengapa si gadis ingin dipanggil Katyana saja. “Aku nggak pernah merasa selaras. Bahkan sepertinya aku yang nggak waras di rumah, bukan Ayah.” Tapi, pemuda itu bertekad untuk memanggilnya Laras karena menurutnya ‘laras’ itu terkadang mengandung arti keserasian. Gadis itu eloknya serasi sekali dengan cakrawala saat matahari turun takhta. Duh, pemuda kasmaran.

Arsa berkali-kali memastikan apa ada yang bisa ia bantu untuk membuat Laras setidaknya melupakan sejenak pikulan di bahunya. “Kalau bahasa gaulnya sekarang healing, Ras.” Yang diajak bicara hanya terkekeh merdu. 

Laras punya banyak peran di dalam rumah. Selain harus menjadi seorang koki, ia bisa menjelma menjadi guru untuk Ayah, tukang kebun yang mengurus mawar, hingga petugas kebersihan yang menguras kamar mandi. Namun, ada sebuah peran yang sering kali terabaikan. Laras hanyalah gadis belia yang terjebak dalam usia tujuh belas. Ia butuh telinga untuk mendengarnya atau belaian yang merengkuhnya.

“Aku punya cara healingku sendiri. Kamu mau lihat?” Lalu si gadis kembali membawa berlembar kertas dan pulpen serta sebuah pigura dengan wajah ibunya. 

Banyak kertas yang telah digores hitam tinta tapi tidak mungkin bisa Arsa baca semuanya. 

 

7 Maret. Hari ini hujan.

Sejatinya Bu, surat-surat untukmu adalah satu-satunya yang menyelamatkanku dari kegilaan. 

 

20 April. Ayah sedang menonton bola.

Bu, Ayah begitu gila mengagumimu hingga Ayah lupa kalau denyut Ibu hidup di jantungku.  

 

Jelas Arsa mengkhawatirkan gadis itu dengan sebegitunya. Tapi Laras adalah seorang daksa kuat yang mampu menopang badai di dalam rumahnya. Si gadis hanya menunggu siapapun yang mau mampir meniliknya barang sejenak. Syukurnya, Arsa cukup peduli.

Pemuda itu buru-buru menawarkan si gadis untuk ikut menonton kembang api menyambut sebuah lembaran baru selepas mendengar akan diadakannya pasar malam di Balaikota. Laras awalnya bimbang apakah ia harus mengiyakan ajakan kawannya itu. Yah, ‘kawan’. Padahal Arsa sudah kepalang naksir

Namun, akhirnya Laras berpikir tidak ada salahnya menghadiahi diri sendiri istirahat yang cukup di penghujung tahun sembari merapal doa-doa ketika satu persatu bunga api itu meluncur membelah gelapnya malam. 

Dalam rayuan gadis itu pada Tuhan, ia menyisipkan selaksa rasa tak terucap yang terlalu tabu untuk didengar sesama manusia, terlalu melelahkan jika diemban sendirian, namun tak ada yang mustahil untuk Tuhan kabulkan. 

Di sela-sela rapalan untuk Sang Kuasa, pemuda bermata kelabu itu mewartakan sebuah kalimat bak pengumuman perang telah usai bagi Laras.

“Ayahmu bilang kalau gadis yang biasanya menyiram mawar-mawar di pagar punya senyum semeriah kembang api, Ras.” 

Laras tersenyum simpul. Pemuda itu Laras yakini sebagai kepanjangan tangan Tuhan, yang membawa Laras pada harapan bahwa Ayahnya tak sepenuhnya merasa asing dengan gadis itu, bahwa Ayahnya masih sama, yang masih selalu memuji lengkung bibir ranum meriah milik Katyana Laras. 

Lpmvisi.com, Solo —
Penulis: Kyla Yasmin

Posting Komentar

0 Komentar