POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Perayaan Hari Tari di ISI, Suasana Ramai Penuh Arti

(Penampilan Tari Pukul 10 Malam/ Dok.Yunita)

 

    Lpmvisi.com, Solo – Dalam perayaan hari tari sedunia, Institut Seni Indonesia Surakarta berhasil mengadakan acara megah hingga menarik banyak penonton publik dengan adanya agenda 24 jam menari. Acara diadakan pada Rabu, 29 April 2026 sejak pukul 6 pagi hingga tanggal 30 April 2026 pukul 6 pagi. Perayaan ini diadakan ke 20 kalinya dengan tema “Tanpa Batas: Menembus Medan Budaya” sebagai landasan makna dalam tarian dan kegiatan yang diselenggarakan. Tema yang diusung menggambarkan adanya ruang tanpa batas dengan keberanian menembus sekat antara gaya, medium, serta cara pandang antara praktik lokal dan wacana global. Tema tersebut menjadi harapan agar pertunjukkan tari dapat menjadi respons, refleksi, serta dialog masyarakat tidak hanya seniman yang tampil disaksikan banyak orang. 

 

Perayaan hari tari yang dilaksanakan sepanjang 24 jam diadakan di berbagai lokasi utama dalam area kampus Institut Seni Indonesia Surakarta Kampus 1 yakni di Pendopo, Teater Besar, Teater Kecil, serta Teater Kapal. Lokasi yang beragam dengan ciri khas unik menjadi tempat berbagi gagasan serta pengalaman berdasarkan pemaknaan masyarakat ketika menyaksikan estetika seniman. Acara ini didukung oleh sponsor serta media partner seperti Kementerian Kebudayaan, Fakultas, Prodi, serta Himpunan kampus penyelenggara. Acara perayaan ini menampilkan keindahan gerak serta suara dengan makna simbolik yang dimiliki oleh penampil dari berbagai sanggar. 

 

Selama 24 jam, perayaan ini menjadi ruang temu bagi ragam ekspresi, tradisi, dan semangat kebudayaan yang hidup dalam gerak tari. Acara berlangsung dengan sejumlah fase tarian yang dapat dinikmati dengan fasilitas tempat duduk yang memadai untuk penonton menyaksikan seniman yang sedang tampil. Para penari dari berbagai sanggar berasal dari berbagai daerah, tidak hanya area Solo Raya, tetapi juga dari Jakarta, Madura, Papua, Jawa Barat, bahkan Amerika. Harapannya dengan adanya pertunjukan tari yang memiliki makna didalamnya dapat menjadi media penguatan kualitas serta kreativitas seni tari berbagai komunitas. Hal ini dapat menjadi momentum tepat untuk merefleksikan penampilan dengan kondisi isu masyarakat terkini guna mencegah terulangnya kembali permasalahan yang telah terjadi seperti rusaknya fasilitas, stigma buruk masyarakat dan lainnya. 

 

Seorang Panitia sekaligus Penampil acara bernama Lina (20) menyampaikan bahwa keterlibatan banyak elemen dari program studi tari seperti mahasiswa aktif hingga dosen serta keluarga besar Jurusan Tari Isi menjadi motor penggerak kerja kolektif mewujudkan keberhasilan acara. “Tahun ini persiapan tergolong cukup singkat namun sangat intens, hanya sekitar satu bulan untuk mengkoordinasikan pengisi acara serta teknis lapangan agar acara berjalan maksimal,” ucap Lina. Sebagai panitia, Lina menyatakan bahwa kendala utama dari keberjalanan acara yakni keterbatasan anggaran yang justru memicu kreativitas panitia untuk menghadirkan tampilan yang berkualitas dengan semangat gotong royong. 

 

Sebagai penampil acara, Lina menyampaikan bahwa filosofi utama tarian yakni universalitas mengenai nilai kemanusiaan serta keindahan gerak yang dapat dinikmati bersama tanpa adanya penghalang batasan geografis. “Para penampil melakukan persiapan mandiri sangat intensif dalam waktu singkat untuk menyesuaikan komposisi panggung serta durasi tampil” ucap Lina. Tantangan bagi penampil yakni manajemen energi, pengelolaan fokus, dan menjaga stamina fisik agar kualitas gerak tetap konsisten dari awal hingga akhir acara. “Perasaan setelah tampil campur aduk, rasa bangga dan senang luar biasa karena bisa merayakan hari tari dan menjadi bagian sejarah merupakan pengalaman emosional bagi saya” kata Lina sebagai penampil acara. 

 

 Selaku panitia dan penampil, Lina berharap 24 Jam Menari dapat menjaga keberlanjutan tradisi serta melestarikan tongkat estafet kesenian ini. Momentum ‘Lebaran’ anak tari dapat menjadi waktu berkumpul dan perayaan dedikasi seni tari. Menjaga tradisi merupakan tanggung jawab bersama dalam menghargai perbedaan, memaknai tradisi dan semangat bergerak bersama. Antusiasme penonton berhasil memadati lokasi pertunjukan dan menambah kekuatan para penari di panggung. Hal ini sejalan dengan tema yang diusung acara tersebut agar pertunjukan tari mampu menyatukan elemen publik dalam satu harmoni

 

(Pertunjukan Teater Besar menjelang tengah malam/ Dok.Yunita)

 

Angga Ady Syahputra (20) salah satu mahasiswa yang menyaksikan rangkaian tarian sejak pukul 9 malam hingga pukul 4 pagi di berbagai lokasi pertunjukkan merasa senang dan menemukan berbagai makna didalamnya. “Aku ingin melihat dan merasakan euforia hari tari dunia dengan menonton tari tradisional, tari modern, karawitan, drama musikal dan elemen lainnya dalam abstraknya seni yang bermakna” ujar Angga. Ia kagum dengan persiapan seperti tata rias, kostum dan properti tari yang indah dan maksimal hingga mampu menarik antusias masyarakat tidak hanya orang tua tetapi juga para pemuda. “Tarian yang paling berkesan bagiku bernuansa romansa percintaan drama 3 orang yang mengajarkan makna keikhlasan dalam konflik yang terjadi” jelasnya. 

 

Angga sangat mengapresiasi para pekerja seni yang tegar bertahan di era industri kini dengan kuatnya idealisme yang konsisten mengakar pada diri seniman. “Antusiasme penonton di ISI dioptimalkan dengan interaksi antara penari dan penonton sangat baik, energinya tidak timpang hingga penonton merasa senang terlibat” tambahnya sebagai penilaian atas penampilan acara tersebut. Banyaknya anak muda yang menyaksikan tari dan menghargai seni di Solo yang identik dengan kota budaya menjadi bukti tingginya minat publik pada tradisi keindahan gerak ini. Harapannya dengan adanya perayaan hari tari sedunia agar semakin banyak apresiasi seni dengan media yang beragam di era kini, hingga tumbuh kesadaran akan isu sosial melalui makna tarian yang disaksikan. Adanya 

 

kolaborasi seniman lokal dengan internasional dapat dimaksimalkan untuk mengenalkan serta melestarikan budaya Indonesia. (Yunita)

 


Posting Komentar

0 Komentar