POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Resensi Novel "Janji"

Cover Buku Novel "Janji"

 

Judul Buku : Janji

Penulis : Tere Liye

Penerbit : PT Sabak Grip Nusantara

Tahun Terbit : 2021

Jumlah Halaman : 488

Ukuran : 13,5 x 20cm

ISBN : 978-623-97262-0-1

 

Resensi

    Dunia seringkali terburu-buru melabeli seseorang sebagai “sampah” hanya karena masa lalunya yang kelam. Namun, bagaimana jika seorang pemabuk, penjudi, dan tukang berkelahi justru menjadi pemegang janji paling setia?

    Melalui novel Janji, Tere Liye menampar kita dengan kenyataan bahwa kesalehan tidak selalu terbungkus penampilan dan sebuah kesalahan besar bisa jadi awal mula perjalanan spiritual yang paling bermakna.

    Cerita bermula dari kenakalan tiga sahabat yaitu Hasan, Kaharuddin, dan Baso. Kesalahan mereka di pondok pesantren begitu fatal hingga membuat Buya, sang kiai, nyaris kehilangan kesabaran. Namun, alih-alih langsung mengusir mereka, Buya justru menceritakan satu-satunya murid yang pernah ayahnya usir sepanjang sejarah berdirinya pesantren, anak tersebut adalah Bahar.

    Bahar adalah definisi badung yang sesungguhnya. Ia menyabung ayam, menenggak tuak, hingga puncaknya membuat pesantren nyaris ludes dilalap api. Cerita menjadi semakin menarik ketika Buya justru menyebut Bahar sebagai murid terbaik yang pernah ia miliki. Hal ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa seorang narapidana dan pemabuk justru hadir dalam mimpi Buya selama tiga hari berturut-turut sebagai sosok bercahaya yang menaiki kendaraan mewah di surga?

    Demi menjawab teka-teki itu, Hasan, Baso, dan Kaharuddin diberi hukuman unik untuk mencari Bahar. Di sinilah kepiawaian Tere Liye terlihat. Ia mengemas perjalanan pencarian ini dengan baik. Salah satu sentuhan kreatif yang menarik adalah cara Buya memata-matai kenakalan para santrinya melalui bantuan semut—detail kecil yang terasa segar dan tidak biasa.

    Sepanjang perjalanan, pembaca akan bertemu dengan berbagai karakter unik, salah satunya Bos Acong. Melalui tokoh ini, diselipkan sindiran tajam terhadap para “penjilat” yang hidup di sekitar kekuasaan. Bos Acong juga dibuat heran oleh sosok Bahar—seorang pemabuk yang tidak tergoda oleh tumpukan uang, namun diam-diam masih membasuh wajahnya di pagi buta untuk bersujud kepada Tuhannya.

“Dasar bodoh, si pemabuk itu sama sekali tidak tertarik mengambilnya. Bertahun tahun aku dikelilingi oleh para pencuri di kawasan kota tua ini, tumpukan uang ini tidak akan bertahan satu menit di jalanan sana, langsung hilang. Anak muda itu, sebaliknya dia sepertinya sama sekali tidak tertarik menyentuh tumpukan uang ini”.

Bos Acong tergelak, "Tapi aku tahu. Dan aku juga tahu, sedikit sekali yang mau mengerjakan shalat itu di pagi buta. Aku menebak kami pasti pernah sekolah agama. Pemabuk yang aneh. Mabuk tapi tetap shalat. (Halaman 68)

“Mabuk tapi tetap shalat,” menjadi paradoks yang menyentil ego religius sekaligus tamparan bagi mereka yang merasa paling suci. Kalimat sederhana ini justru menjadi salah satu kekuatan reflektif dalam novel.Karakter Baso juga menjadi penyelamat dalam novel ini.

 Karakter Baso hadir sebagai penyeimbang dalam cerita. Di tengah alur yang mulai terasa berat, kepolosan dan celotehan Baso mampu mencairkan suasana. Imajinasi lucunya tentang Bahar yang akan masuk surga dengan “mobil terbang” memberi sentuhan komedi yang membuat pembaca tidak mudah lelah. Tak hanya itu, di awal cerita, Tere Liye juga secara berani memberikan kritik eksplisit terhadap birokrasi dan pemerintah, sebuah ciri khas sang penulis yang selalu peka terhadap isu sosial.

Puncak kekuatan novel ini ada pada “Lima Pusaka” yang dititipkan Buya kepada Bahar.

“Pertama, selalu hormati dan bantu tetanggamu. Kedua, selalu lindungi yang lemah dan teraniaya. Ketiga, senantiasa jujur dan tidak pernah mencuri. Keempat, bersabarlah atas apa pun ujianmu. Kelima, bersedekah, bersedekah, dan bersedekahlah.”  (Halaman 486)

    Buya juga pernah berkata kepada Bahar, “Aku tahu, kau hari ini boleh jadi masih nakal, pemabuk, suka berjudi, suka berkelahi. Tapi ada sesuatu yang spesial sekali di hatimu...” Kalimat ini membuktikan bahwa kasih sayang seorang guru mampu melampaui dosa-dosa lahiriah muridnya.

    Meski demikian, bukan berarti novel ini tanpa celah. Bagi pembaca setia Tere Liye, alur Janji mungkin terasa familiar. Pola pencarian tokoh dengan latar belakang luar biasa ini mengingatkan kita pada formula novel Tentang Kamu. Namun, kekuatan emosi dan kedalaman maknanya tetap mampu membuat cerita ini berdiri dengan kokoh.

    Membaca Janji adalah perjalanan yang melelahkan secara emosional. Ada rasa hampa yang tertinggal setelah menutup halaman terakhir, seolah cerita ini belum benar-benar usai di hati. Novel ini membuktikan bahwa dunia boleh saja menganggap seseorang tidak berarti, tetapi sebuah janji akan selalu menemukan jalannya untuk ditepati.

    Pada akhirnya, novel ini adalah pengingat keras bagi kita semua untuk jangan pernah menghakimi akhir hidup seseorang hanya dari apa yang ia lakukan hari ini. Karena terkadang, mereka yang kita anggap paling berdosa, justru sedang menggenggam janji yang lebih suci dari kita semua. (Adila)

Posting Komentar

0 Komentar