POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Malam Memberi Luka Terdalam



Sumber: Pinterest

    Petang berganti malam, kegelapan abadi bangkit menciptakan rasa kelam yang tak dapat terukir. Seorang pria berusaha mendekap tubuhnya yang rapuh, dekapan yang semakin mengerat berusaha menangkis kesunyian malam yang tak berujung. Gelak tawa misterius, nyanyian kelam nan histeris memecah indra, hingga mencekik rongga pendengarannya. Rayuan malam yang bercampur aduk menciptakan rasa kesal yang tak pernah terucap. Tubuhnya berusaha bangkit, menopang kegelisahan nan rapuh tubuhnya.

    “Apakah ini akhir bagiku?”, coretan-coretan nestapa menodai wajah kusamnya. Ia mendongak ke arah langit gelap, mengucap rangkaian serapah yang bengis. Ucapan demi ucapan yang keluar hanya suara riak yang tersumbat di dalam kerongkongannya. Suara serak yang perlahan hilang menandakan bahwa ia akan runtuh. Semua yang telah ia usahakan, sama sekali tak memberikan hasil.

    Semakin kelabu, tetesan air datang membasahi bumi, semerbak harum pertiwi menjalar melalui indra penciuman, memberikan sentuhan tajam nan tragis. Kelam malam menyelimuti tubuhnya yang semakin membeku, tangan dan bibirnya membiru. Suara semakin serak bagai burung di dalam sangkar. Kedua kaki tak kuasa menahan tubuh yang semakin sesak. Manik mata semakin kabur bagai kapas terbang di petang hari.

    Lelaki itu terlelap dalam keheningan. Kedua helai tangannya mendekap raganya, menahan dingin angin yang masuk ke dalam nadi. Manik matanya semakin memudar, bagaikan empu kehilangan cahaya. Ia tidak tiada, namun hanya terlelap dalam mimpi yang tak berujung. Mimpi abadi yang akan selalu baka, mengukir sang kala.

    Dalam mimpinya yang abadi, ia melihat sang surya, cahaya yang memberi kecerahan ke dalam bayang bayang kalbu. Ia tersenyum lebar, mengisyaratkan sang fajar telah tiba. Lelaki itu sungguh bahagia, raut wajahnya yang musam kembali bersemi bagaikan sakura yang mekar.

    “luar biasa!!!!”

    Lelaki itu berlari kegirangan, melompat seperti burung yang baru melatih sayapnya. Wajahnya kembali bersemi bahagia. Langkah kakinya yang lincah. Teriakan yang indah bagaikan malaikat bernyanyi. Raut wajahnya sungguh terukir indah dan penuh warna. Senyumnya yang manis, penuh dengan arti kebahagiaan. Baru kali ini, ia merasakan kebebasan. Lalu, ia berteriak ke seluruh semesta.

    Semesta luar biasa!!”

    Namun, semua ini hanyalah ilusi belaka. Semua yang dirasakan laki-laki itu hanyalah sebatas mimpi. Mimpi yang tak berujung dan abadi. Ia terlelap dalam sanubarinya. Mimpi telah merenggutnya, ia tak sekalipun bangun dari tidur lelapnya. Sekali lagi, ia tak pernah terbangun dari mimpi indahnya. (Latasha)

Posting Komentar

0 Komentar