POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Nini Thowong di Desa Luban



Source picture: Ullensentalu.com

Desa Luban, sebuah desa kecil yang berada di pinggiran hutan, terkenal dengan tradisi dolanan bocah yang masih diwariskan secara turun-temurun. Retno, gadis berusia 14 tahun, adalah salah satu anak desa yang gemar bermain bersama teman-temannya. Bersama Jaka, sahabat karibnya, ia sering menghabiskan waktu dengan bermain petak umpet, gobak sodor, atau kelereng. Namun, rutinitas itu mulai terasa membosankan bagi Jaka. Suatu sore, sebelum matahari terbenam, Jaka melihat teman-temannya dengan wajah lelah dan tidak bersemangat.

“Kalian tidak bosan apa main kelereng terus? Aku sih bosan ya,” tanya Jaka kepada teman bermainnya. Retno dan teman-teman lainnya hanya mengerutkan dahi dan bersikap acuh dengan pertanyaan Jaka. Bagi Retno, bermain kelereng adalah hal yang menyenangkan daripada berdiam diri di rumah. Merasa pertanyaannya tidak di gubris, Jaka mengusulkan sebuah permainan yang jarang dimainkan.

“Ohh, bagaimana kalau kita coba permainan yang lebih seru dan menantang?” tanyanya dengan nada penuh antusias.

“Memang ada permainan yang lebih seru daripada bermain kelereng? jangan aneh-aneh deh,” sahut Retno dengan perasaan yang tidak enak.

“Tentu saja ada dong, nama permainannya adalah Nini Thowong,” tegas Jaka kepada Retno. Mendengar kata Nini Thowong yang di lontarkan Jaka, suasana yang awalnya ceria di penuhi  dengan tawa mendadak berubah menjadi sepi dan tegang.

Retno tertegun, “Nini Thowong? bukankah itu permainan terlarang ya? Bahkan ibu melarangku memainkannya.”

“Memangnya permainan apa itu Nini Thowong?” timpa adik Jaka yang berusia 12 tahun.

“Kata ibuku itu permainan berbahaya seperti permainan jelangkung dan bisa membawa malapetaka di desa ini. Bahkan dulu kalau ada yang bermain ini, maka anak-anak yang memainkannya akan hilang tanpa jejak,” jelas Retno agar tidak memainkan permainan tersebut.

“Larangan itu hanya mitos,” jawab Jaka santai. “Aku pernah melihat kakakku membuat Nini Thowong. Tidak ada yang berbahaya. Lagipula, kita hanya ingin bersenang-senang.” Mendengar pernyataan dari Jaka membuat Retno ingin membuktikan larangan yang ada di Desa Luban apakah sebuah mitos belaka atau fakta. Meskipun masih ragu, rasa penasaran Retno akhirnya mengalahkan ketakutannya. Mereka sepakat mencoba permainan yang telah lama dianggap tabu itu.

Keesokan harinya, mereka berkumpul di sebuah rumah kosong di pinggir desa. Rumah itu sudah lama ditinggalkan, dengan jendela-jendela pecah dan dinding yang ditumbuhi lumut. Jaka membawa jerami, kain bekas, dan batok kelapa untuk membuat boneka menyerupai wanita tua. Mata boneka dibuat dari kancing hitam, sementara mulutnya dijahit dengan benang.

“Ini dia, Nini Thowong kita,” kata Jaka sambil tertawa kecil.

“Yeyy, ayo kita main,” sahut adik Jaka

Retno memandang boneka itu dengan perasaan campur aduk, “Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Kita nyanyikan lagunya sambil mengelilinginya,” jawab Jaka. Mereka mulai menyanyikan lagu tradisional Nini Thowong sambil memegang boneka tersebut. “...Nini Thowong, dolanan bocah... bawalah kami kebahagiaan... datanglah kepadaku...” Seketika, udara di sekitar mereka mendadak terasa dingin. Angin berembus melalui celah-celah rumah dengan kencang, membawa suara aneh yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. Mata Jaka mengawasi sekeliling rumah tua dan mulai merasakan sesuatu yang aneh seperti ada seseorang yang datang. Melihat tingkah Jaka yang aneh, Retno langsung menghentikan permainan itu.

“Ayo kita sudahi saja permainan ini,” desis Retno. Tapi Jaka bersikeras melanjutkan, “Tidak, kita harus lanjutkan permainan ini sampai habis. Percuma kita sudah bikin boneka ini dengan susah payah tapi hanya bermain sebentar.”

“Kamu tidak curiga apa? Suasana disini sudah mulai aneh, aku takut kalau kita kenapa-kenapa Jaka.”  

“Udah deh ret, tidak ada apa-apa disini. Perasaanmu saja itu,” Jawab Jaka supaya Retno tenang.

“Terserah kamu Jak, aku tidak mau melanjutkan permainan ini,” Balas Retno yang langsung  beranjak meninggalkan rumah tua itu dan pulang ke rumahnya. Sesekali Retno melihat kebelakang berharap ada yang ikut pulang dan tidak melanjutkan permainan itu. Namun, nihil baginya karena Jaka dan teman-temannya tetap melanjutkan permainan terlarang itu.

Tidak lama setelahnya, langit menjadi gelap, hal-hal aneh mulai terjadi. Anak-anak yang ikut bermain jatuh sakit, sementara beberapa lainnya menghilang tanpa jejak. Warga desa mulai panik dan berasumsi bahwa hal ini disebabkan oleh Nini Thowong. Mereka percaya pasti anak-anak memainkan permainan terlarang ini dan roh yang dipanggil melalui permainan telah menggondol anak-anak itu. Mengetahui kejadian yang ada di desanya, Retno tidak sengaja mendengar ibunya berbicara dengan warga sekitar.

“Ini pasti karena Nini Thowong. Anak-anak itu tidak menghormati tradisi sehingga mereka digondol oleh Nini,” kata salah satu tetua desa.

“Haduh… Lalu bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan untuk mencegahnya?” jawab ibu Retno.

“Pertama, kita harus segera mencari anak-anak yang hilang sebelum sesuatu yang buruk menimpa mereka. Kedua, mulai sekarang kita harus melarang anak-anak kita untuk tidak keluar rumah sampai kondisi desa aman,” jelas tetua desa kepada warga sekitar.

Keesokan harinya, salah satu warga desa menemukan mayat seorang anak di pinggir hutan dengan kondisi yang mengerikan. Tubuhnya dibungkus kain seperti boneka Nini Thowong, dan wajahnya penuh luka mengerikan. Retno merasa bersalah, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tanpa berfikir panjang Retno langsung menghampiri Jaka secara diam-diam. Retno dan Jaka memutuskan kembali ke rumah kosong untuk menyelidiki kebenarannya dan mencari keberadaan adik Jaka. Boneka Nini Thowong masih ada di sana, tetapi kini terlihat lebih menyeramkan. Mata kancingnya seolah menatap mereka dengan tajam, dan kainnya basah seperti terkena darah.

Saat mereka mengamati boneka itu, seorang pria masuk ke rumah dengan membawa pisau besar. Jaka langsung menarik tangan Retno dan bersembunyi di belakang lemari tua. Pria itu berbicara sendiri, “Anak-anak itu pantas mati. Mereka harus membayar karena tidak menghormati tradisi.”

Retno merasa tidak asing dengan suara dan wajah pria itu yang ternyata salah satu tetua desa. “Dia… psikopat,” bisiknya kepada Jaka. Seketika Jaka kaget dan marah karena adiknya di culik oleh salah satu warga desa. Namun, ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menemukan adiknya. Melihat keadaan Jaka yang tidak bisa di kondisikan Retno langsung menarik jaka untuk melarikan diri dari rumah itu sebelum pria itu mengetahui mereka ada di sana.

Setelah melarikan diri dari rumah itu, Retno belum menemukan keberadaan adik Jaka. Jaka yang berubah menjadi diam saja tiba-tiba menangis di depan Retno. “Harusnya aku tidak mengusulkan permainan itu ret.. sekarang bagaimana keadaan adik aku? Pasti dia ketakutan. Bodoh sekali aku, sudah tau itu permainan dilarang tapi aku kekeh untuk memainkannya,” sesal Jaka sambil memukuli dirinya. Melihat Jaka terus memukuli dirinya sendiri merasa bahwa kesalahan yang mereka lakukan sangat fatal dan mengundang malapetaka di desa ini. Di dalam hatinya, Retno juga menyalahkan dirinya yang tidak tegas untuk menghentikan permainan itu. “Apa yang harus aku lakukan? Apa aku bilang saja semua ini ke ibu?” pendam Retno yang kebingungan.

 Keesokan paginya, warga masih mencari anak-anak yang hilang. Namun, ibu Jaka tiba-tiba berteriak meminta tolong agar menemukan Jaka yang nekat pergi dari rumah untuk mencari adiknya di dalam hutan. Mendengar kabar tersebut, Retno panik dan menyusul Jaka secepatnya. Di tengah hutan, ia menemukan boneka Nini Thowong berdiri tegak di sebuah area terbuka. Tiba-tiba, pria psikopat itu muncul, membawa karung besar berisi boneka lain yang terlihat menyeramkan.

“Inilah persembahanku untuk Nini Thowong,” katanya sambil tertawa mengerikan.

Namun, Jaka muncul dari balik semak-semak dan memukul pria itu dengan kayu panjang. Mereka berdua berlari, tetapi pria itu mengejar mereka dengan pisau besar. Mereka bersembunyi di bawah jembatan kayu, gemetar ketakutan. Tiba-tiba, suara tawa menyeramkan bergema dari dalam hutan. Boneka Nini Thowong muncul di belakang pria itu, dengan mata kancingnya bersinar merah. Pria itu menjerit ketakutan, menjatuhkan pisaunya, lalu lari tanpa arah ke dalam hutan. Merasa keadaan sudah aman, mereka bergegas kembali ke desa dan melaporkan kejadian yang mereka alami.

Sesampainya di desa, mereka menceritakan semuanya kepada para tetua. Para tetua langsung menghampiri keberadaan Boneka itu dan dibakar sekali lagi dengan ritual yang benar. Namun, pria itu ditemukan tewas beberapa hari kemudian di dalam hutan, tubuhnya dibungkus kain seperti boneka Nini Thowong, dengan pisau tertancap di dadanya. Retno belajar bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Ia berjanji untuk tidak lagi bermain-main dengan hal-hal yang tidak dipahaminya.

“Aku tidak akan pernah mengabaikan nasihat orang tua lagi,” katanya kepada ibunya.

Desa Luban kembali tenang, tetapi permainan Nini Thowong tetap menjadi kenangan kelam, sebuah pengingat bahwa ada batas antara dunia manusia dan dunia yang tidak terlihat.

Lpmvisi.com, Solo —
Penulis: Mahesa G. S.


Posting Komentar

0 Komentar