(Penampilan Beksan dalam Peringatan Setu Pon di Pamedan Mangkunegaran, pada Sabtu (11/04) /Dok. Tania) |
Lpmvisi.com, Solo - Gerak para penari diiringi alunan gamelan menarik perhatian pengunjung di Pamedan Mangkunegaran. Pertunjukan beksan dalam peringatan Setu Pon menjadi cara Mangkunegaran menghadirkan budaya Jawa di tengah keramaian Mangkunegaran Night Market.
Malam itu, Sabtu 11 April 2026, kawasan Pamedan Mangkunegaran tidak hanya dipenuhi deretan tenant kuliner. Di tengah keramaian Mangkunegaran Night Market, pertunjukan Seni Budaya Jawa menjadi daya tarik yang menyatukan perhatian pengunjung di sekitar panggung.
Setu Pon merupakan peringatan hari kelahiran K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro X yang juga dikenal dengan sebutan Gusti Bhre. Tradisi ini diselenggarakan setiap 35 hari sekali mengikuti penanggalan Jawa.
Dalam rangkaiannya, Setu Pon menghadirkan beberapa kegiatan budaya. Pada 10 April digelar klenengan atau pertunjukan musik gamelan. Kemudian pada pagi hari 11 April diselenggarakan boga sambrama. Sementara pada malam harinya, pertunjukan beksan digelar bersamaan dengan Mangkunegaran Night Market.
Mangkunegaran Night Market sendiri merupakan kegiatan yang mingguan yang menghadirkan berbagai tenant kuliner dan hiburan bagi masyarakat. Namun pada malam Setu Pon, pertunjukan seni yang ditampilkan menjadi bagian dari rangkaian acara budaya tersebut.
Pada malam itu, pertunjukan difokuskan pada penampilan beksan atau tari tradisional yang diiringi musik gamelan. Panggung pertunjukan berada di depan Candi Ratna, area Pamedan Mangkunegaran dan dapat disaksikan oleh pengunjung secara terbuka tanpa dipungut biaya.
Sebanyak lima tarian ditampilkan secara bergantian sepanjang acara. Tarian tersebut meliputi Bedhaya Mustika, Beksan Langen Asmara, Tari Gambyong Maduretno, Tari Jemparingan, serta Beksan Bandayuda sebagai penutup pertunjukan.
Salah satu kru acara, Shofi (20), mengatakan bahwa penyelenggaraan Setu Pon memiliki perbedaan dibandingkan Mangkunegaran Night Market pada malam biasa.
“Kalau Mangkunegaran Night Market biasa penampilnya beragam karena tidak ada tema khusus. Sedangkan Setu Pon biasanya diisi klenengan dan beksan,” ujarnya.
Menurutnya, penyelenggaraan Setu Pon juga biasanya menarik lebih banyak pengunjung dibandingkan Mangkunegaran Night Market biasa karena adanya rangkaian acara kebudayaan Jawa yang ditampilkan.
“Kalau Setu Pon biasanya lebih ramai dan peminatnya juga lebih banyak dibanding night market biasa,” katanya.
Keramaian tersebut membuat para kru harus bekerja lebih sigap selama acara berlangsung agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar.
“Dari sisi kru harus lebih menjaga profesionalisme karena pengunjung yang datang lebih ramai,” tambahnya.
Melalui penyelenggaraan Setu Pon, Mangkunegaran menghadirkan pertunjukan seni tradisional yang dapat dinikmati masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya Jawa di lingkungan Mangkunegaran. (Tania)
0 Komentar