POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Ah, Mungkin Hanya Perasaanmu Saja

Source picture/@asummerb2858 on pinterest.

Kemarin malam, aku banyak berdialog dan menyoal hidup bersama Nina. Aku masih takut hari Senin, ah tidak, lebih tepatnya aku takut memulai hari esok. Khawatir dan cemas selalu bergelayut padaku. Nina bilang hal-hal itu hanya ada di pikiranku dan memang benar adanya, hanya aku yang menyadari dan merasakannya secara nyata. Nina sialan, dia tidak mengerti, tidak pernah mau mengerti.

Hidup itu aneh, kompleks dan sederhana secara bersamaan. Rasanya, aku mulai kehilangan banyak makna. Terlalu banyak gambar dan kata-kata yang kemudian menjadi kalimat dan diucapkan berulang kali oleh orang-orang di dunia. Aku muak, dan Nina bilang aku butuh menepi. Kali ini aku setuju dengannya. 

Meskipun aku bisa kembali merasa hidup lagi dan lagi, sesekali aku ingin betulan mati. Bukan mati sungguhan, melainkan jeda panjang yang tenang dan lapang. Di mana aku bisa hadir dan sadar sepenuhnya akan hidup. Sialan, tiba-tiba aku merinding dan bergidik. 

Akhir-akhir ini hidup tidak berpihak padaku. Maka aku pun enggan berpihak padanya. Kami bermusuhan. Aku tidak menyangkalnya. Nina saja yang bebal, bilang jika pikiranku kurang luas. Masih berbatas tembok-tembok dan ruangan putih berbentuk kubus. Padahal apa yang kusampaikan benar adanya. Hanya lagi-lagi dia tidak mengerti. 

Atau barangkali, akulah yang selama ini tidak mau mengerti. Tapi, aku tidak mau mengakuinya. Enak saja, nanti Nina jadi besar kepala. Kata Nina lagi, coba temukan hal-hal atau apapun itu untuk merasa hidup kembali. Sayangnya, aku sudah kehilangan itu sejak lama dan semakin bingung harus dicari dimana. Aku sudah lupa bentuknya, sudah raib dari ingatanku. 

Satu hal yang aku mau, selain kucingku yang ku doakan supaya selalu sehat dan bugar, hanyalah aku ingat jalan pulang. Tidak setiap saat dalam kondisi yang senantiasa terbuka akan berbagai pemaknaan, membuatku merasa kosong dan hampa, tersesat oleh kebingungan. 

Ya, barangkali hal pertama yang harus kulakukan adalah menerimanya dulu. Baru bisa mengerti. Tapi penolakan juga bentuk penerimaan. Dengan menolak artinya aku sudah lebih dulu paham. Meskipun paham bukan berarti mengerti. 

Apa yang Nina dan aku bicarakan kebanyakan adalah omong kosong. Pemaknaannya tergantung pada bagaimana Nina dan aku mengizinkan diri kami masing-masing untuk merasa. Di akhir pembicaraan, Nina menitip pesan padaku entah untuk siapa. Katanya, hari esok hanya perlu dibiarkan berlalu. Tentunya dengan sosok diri yang hadir sepenuhnya serta sadar akan keberadaan dirinya. Maka itu sudah cukup. 

Lpmvisi.com, Solo —
Penulis: Silfyani C.T.

Posting Komentar

0 Komentar