POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Kapan Kita Berhenti Mengukur Kesempurnaan Perempuan dengan Romansa?

(Ilustrasi Kritik Terhadap Romantisme pada perempuan/Dok.Internet)

 Lpmvisi.com, Solo“Women, they have minds, and they have souls, as well as just hearts. And they've got ambition, and they've got talent, as well as just beauty. I'm so sick of people saying that love is just all a woman is fit for.”

Demikian dialog Jo March dalam Little Women yang menggugat pandangan bahwa cinta adalah satu-satunya ruang bernapas bagi perempuan. Ada yang salah dalam masyarakat yang terus mengajarkan perempuan untuk bercita-cita dicintai, sebelum bercita-cita menjadi sesuatu. Sejak kecil, perempuan akrab dengan alur bahwa akhir bahagia adalah ditemukan, dipilih, dinikahi. Ambisi perempuan sering diperlakukan sebagai sesuatu yang sekunder, sementara cinta ditempatkan sebagai pusat yang seolah wajib. Di titik ini, cinta tidak lagi semata perasaan personal, melainkan konstruksi sosial yang seringkali mencekik perempuan.

 

Masalahnya, narasi ini tidak berdiri sendiri. Ia diwarnai dengan pertanyaan dan nasihat hangat yang terdengar seperti sayang. “Kapan menikah?”, “Jangan terlalu ambisius nanti laki-laki tidak mau mendekat.” Kalimat-kalimat ini tampak remeh, tetapi sebenarnya mengandung asumsi bahwa hidup perempuan belum utuh tanpa validasi romantik. Seolah pencapaian intelektual, karya, atau kepemimpinan tetap berada di bawah status dicintai. Bahwa kecerdasan baru bermakna kalau ada yang mau menanggungnya bersama. Bahwa ambisi adalah sesuatu yang perlu diimbangi, dimoderasi, dijinakkan.

 

Fenomena tersebut tetap hidup nyaman dalam budaya populer saat ini. Imajinasi tentang hidup perempuan dipersempit. Selain itu, narasi ini sering menyamar sebagai sesuatu yang lembut, meliputi perhatian keluarga atau nasihat budaya. Padahal, yang dipertahankan adalah gagasan lama bahwa nilai perempuan melekat pada relasionalitasnya, yakni tentang siapa yang memilihnya, bukan apa yang ia bangun.

       Sudah saatnya menggeser pertanyaan-pertanyaan yang telah tumbuh liar di masyarakat, seperti rumput liar yang dibiarkan tanpa dipangkas. Bukan lagi soal mengapa perempuan tidak menjadikan cinta pusat hidupnya, tetapi mengapa masyarakat terus menuntut itu? Mengapa ambisi perempuan masih perlu usaha yang besar untuk dapat dibenarkan, sementara cinta diterima tanpa pernah dipertanyakan? (Bilqis)

Posting Komentar

0 Komentar