POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

RESENSI FILM “TARUNG SARUNG”

(Poster Film “Tarung Sarung”/Dok. Internet)

Judul Film : Tarung Sarung

Sutradara : Archie Hekagery

Produser : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia

Skenario : Archie Hekagery

Durasi : 1 jam 55 menit

Genre : Action, Drama, Religi

Pemain : Panji Zoni, Yayan Ruhian, Maizura, Cemal Faruk, Surya Saputra

Lpmvisi.com, Solo - Archie Hekagery, nama yang sudah tidak asing lagi bagi para pecinta sinema romansa religi maupun keluarga di Indonesia. Setelah sukses menyutradarai film Wedding Agreement (2019) yang menarik banyak penonton, Archie kembali mengukuhkan eksistensinya melalui sebuah film yang berjudul Tarung Sarung. Berbeda dari sebelumnya, Archie melangkah lebih berani dengan memadukan nilai religi yang menjadi ciri khasnya dengan aksi bela diri khas Makassar.

Di tengah hiruk pikuk gaya hidup metropolitan yang serba instan, film Tarung Sarung ini hadir membawa tamparan realita yang kontras. Dalam film ini, Archie tidak hanya menyajikan aksi bela diri, tapi membongkar kesombongan karakter utama yang meyakini Tuhan tidak lebih penting daripada saldo rekeningnya.

Film ini menceritakan perjalanan hidup tokoh utama yang bernama Deni Ruso, dari pribadi yang sombong, manja, dan ateis menjadi sosok yang rendah hati serta menghargai nilai perjuangan sejati. Ia adalah seorang anak tunggal kaya raya dari pemilik Ruso Corp, salah satu perusahaan raksasa di Jakarta. Latar belakang kekayaan ini membuatnya merasa tidak membutuhkan Tuhan, baginya uang adalah pelindung utama. Hidupnya selalu mengandalkan uang dan terbiasa dilindungi oleh pengawal pribadinya saat menghadapi masalah. Hingga suatu kejadian memaksanya menghadapi kenyataan tanpa semua fasilitas tersebut.

Deni dikirim ke Makassar untuk mengurus proyek bisnis keluarga sekaligus untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Di sana, ia bertemu dengan perempuan bernama Tenri, seorang aktivis lingkungan yang menentang proyek Ruso Corp. Demi mendekati Tenri, ia menyembunyikan identitas aslinya. Konflik muncul saat ia diajak menonton turnamen tradisional tarung sarung. Awalnya ia menertawakan dan meremehkan konsep bela diri tersebut. Namun, kesombongan itu runtuh saat Sanrego, seorang jawara lokal yang menyukai Tenri mempermalukannya di arena. Ia selalu berusaha membalas dengan berbagai cara, hingga akhirnya Sanrego membongkar identitas Deni yang membuat Tenri kecewa.

Kekalahan telak dan perasaannya kepada Tenri itu membuat Deni berguru kepada Pak Khalid, seorang penjaga masjid yang mengajarinya bahwa kekuatan fisik tidak cukup tanpa adanya kerendahan hati. Di sinilah letak terbaik film ini, di mana perubahan Deni dari yang sombong menjadi sosok yang mulai belajar shalat dan menghargai orang lain. Penonton tidak hanya disuguhi oleh aksi bela diri tarung sarung ini yang koreografinya diperagakan dengan sangat bagus, tapi juga diajak untuk merenungi nilai harga diri dan bagaimana harta dunia tidak ada gunanya saat berhadapan dengan tradisi dan ketenangan batin.

Meski terdapat kekurangan pada bagian ending film yang terasa kurang ’greget’ serta dalam penyelesaian konflik yang terkesan terlalu instan, Film Tarung Sarung ini tetap memukau melalui akting para pemainnya yang natural juga koreografi laga yang bagus. Oleh karena itu, film Tarung Sarung ini sangat direkomendasikan untuk ditonton bagi siapa saja yang ingin melihat bagaimana sebuah tradisi bisa mengubah jati diri seseorang. (Dewi)

 

Posting Komentar

0 Komentar