(Poster Film “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film”/Dok. Internet) |
Judul Film : Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023)
Produser : Ernest Prakasa, Suryana Paramita
Sutradara : Yandi Laurens
Skenario : Yandi Laurens
Durasi : 1 jam 58 menit
Genre : Roman, Komedi, Drama
Pemain : Ringgo Agus, Nirina Zubir, Sheila Dara, Dion Wiyoko
Lpmvisi.com, Solo - Jatuh Cinta Seperti di Film-Film merupakan angin segar bagi penikmat layar lebar film Indonesia. Bagaimana tidak, di tengah ramainya film-film Indonesia yang bergenre horror, film ini berani untuk berbeda dengan mengusung genre Romansa Komedi. Film ini ditulis oleh Yandi Laurens yang namanya tentu sudah tidak asing di telinga penikmat film tanah air karena telah menghasilkan karya fantastis lain seperti Keluarga Cemara (2018), Sore: Istri dari Masa Depan (2025), dan 1 Kakak 7 Ponakan (2025).
Film ini menceritakan tentang Bagus yang bekerja sebagai penulis film dan Hana yang bekerja sebagai florist. Bagus dan Hana merupakan teman SMA yang secara tidak sengaja bertemu kembali di sebuah supermarket setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Di film ini Bagus diceritakan menaruh rasa kepada Hana secara diam-diam. Sedangkan Hana masih diliputi duka yang mendalam karena suaminya baru saja meninggal dunia.
Bagus dan Hana memiliki prinsip yang berbeda dalam hal percintaan. Bagus menganggap bahwa jatuh cinta itu tidak memandang usia. Seseorang bisa jatuh cinta di umur berapapun. Sedangkan Hana beranggapan jatuh cinta di umur 30-an akhir seperti mereka ini rasanya sudah tidak pantas. Jatuh cinta pun tak mungkin dapat seindah kisah cinta ketika masih muda. Meski begitu, Bagus tidak membiarkan rasa cintanya kepada Hana pupus begitu saja. Sehingga ia bertekad untuk membuat film layar lebar tentang kisah mereka supaya Hana mengetahui perasaannya yang sebenarnya.
Film ini sukses dalam membawa sebuah konsep baru yakni film hitam putih yang sangat jarang untuk diusung film-film lainnya. Selain itu, film ini menggunakan alur berputar, dimana salah satu scene akhir di film ini adalah awal dari scene pertama dan scene pertama merupakan kelanjutan dari scene yang ada di akhir film. Menurut penulis, film ini merupakan salah satu mahakarya perfilman Indonesia. Yang pertama adalah acting yang jelas tidak perlu diragukan lagi. Ringgo, Nirina Zubair, Sheila Dara, dan Dion Wiyoko merupakan aktor aktris papan atas sehingga setiap dialog dan ekspresi yang dikeluarkan sangatlah natural dan seperti sedang tidak berakting. Selanjutnya yang perlu dipuji dari film ini adalah ide cerita yang epic. Film ini merupakan film yang di dalamnya adalah film. Memang sulit jika hal ini dideskripsikan lewat sebuah tulisan, sehingga sangat disarankan untuk melihat film ini di Netflix.
Meski film ini disebut-sebut mahakarya, terdapat beberapa kekurangan di film ini, salah satunya adalah konsep film di dalam film. Konsep ini dapat membuat seseorang bingung dengan alur film ini sehingga kita harus berpikir sedikit keras untuk memahami apa yang sedang terjadi di film ini. Selain itu, meski konsep hitam putih merupakan daya tarik film ini, konsep hitam putih ini dapat membuat penonton sedikit jenuh karena ketiadaannya warna di hampir sepanjang film. (Malika)
0 Komentar