(Gerobak kliping Bapak Harsoyo/Doc. Rekan Perjalanan/Fuzail) |
Lpmvisi.com, Solo ーDi tengah arus modernisasi dan kemajuan teknologi yang terus menggerus tradisi lama, Bapak Harsoyo (76) seorang penjual jasa kliping yang masih bertahan dengan profesinya yang nyaris punah. Di sudut Kota Surakarta, Jawa Tengah, pria sepuh ini menjadi salah satu saksi hidup bagaimana sebuah profesi unik beradaptasi atau justru bersikeras mempertahankan eksistensinya di era serba digital ini.
Setiap pagi, gerobaknya berdiri di lokasi yang sama, menunggu pelanggan setia yang jumlahnya kian menyusut. Namun, bagi Pak Harsoyo, ini bukan sekadar soal mencari nafkah. Ini tentang mempertahankan jejak sejarah yang tercetak di atas kertas.
Berawal dari Tugas Sekolah Sang Anak
Usaha yang dirintis sejak 1984 ini sudah berusia lebih dari 40 tahun.
Bermula dari tanggung jawab seorang ayah dan akhirnya menjadikan ladang usaha yang dapat memenuhi kehidupan keluarganya.
Ketika itu, sang anak yang duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar (SD) mendapat tugas untuk membuat kliping. Sebagai sosok ayah yang kreatif dan bertanggung jawab, Pak Harsoyo turun tangan membantu.
Tak disangka banyak teman-teman sang anak tertarik akan kliping yang dibuat Pak Harsoyo. Dari situ, Ia melihat peluang usaha yang banyak diminati dan dibutuhkan oleh banyak orang kala itu. Apa yang awalnya hanya bentuk kepedulian seorang ayah, berubah menjadi sumber penghasilan keluarga.
“Dulu anak saya, buat kliping gitu kan kurikulum 84 itu pertama kali saya buat. Terus teman-temannya pesen, lama-lama saya jualan,” jelasnya.
Masa Kejayaan: Era Reformasi hingga 2010-an
Usaha kliping Pak Harsoyo mencapai puncaknya pada akhir 1980-an hingga awal 2010-an. Kurikulum pendidikan saat itu mewajibkan siswa membuat kliping sebagai bagian dari tugas, sehingga permintaan terus melonjak.
Momentum terbesar datang saat masa reformasi 1998. Krisis moneter, gelombang demonstrasi mahasiswa, dan berbagai peristiwa nasional lainnya membuat kebutuhan akan kliping meledak. Terlebih Mahasiswa yang terkena dampak krisis membutuhkan kliping untuk tugas kuliah.
"Mulai demo-demo itu kan jadi mahasiswanya jarang masuk, akhirnya mereka disuruh buat tugas tentang masa reformasi, kalau yang jurusan ekonomi buat laporan keuangan, terus ada yang hukum PERS," ujar Pak Harsoyo mengenang masa-masa sibuknya. Pada saat itulah kliping sebagai sumber kehidupan keluarga Pak Harsoyo, sehingga dapat mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Lebih dari Sekadar Profesi
Dari peran seorang ayah yang membantu tugas sang anak, lahirlah usaha yang menghidupi keluarganya selama empat dekade. Namun, bagi Pak Harsoyo, kliping bukan hanya soal mencari nafkah. Profesi ini memberinya pengetahuan luas tentang berbagai peristiwa, dari perkembangan politik hingga kasus hukum yang jarang diketahui orang awam.
Meski usahanya nyaris berakhir tanpa adanya regenerasi termasuk dari keluarga sendiri , Pak Harsoyo akan tetap setia pada usaha klipingnya selagi ia masih mampu. Baginya, ini bukan hanya warisan bisnis, tetapi juga warisan nilai ketekunan, tanggung jawab, dan kesetiaan pada pekerjaan yang telah memberinya hidup.
Saat ini, siapa pun yang ingin membeli kliping dapat mengunjungi rumah Pak Harsoyo di Jalan Parangliris V, Sondakan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta—tepatnya di belakang Pasar Singgol, Purwosari. Di sana, tersedia 217 tema kliping yang sudah jadi, mulai dari politik, ekonomi, olahraga, hingga kasus hukum. Pelanggan juga bisa memesan tema khusus sesuai kebutuhan, seperti pegawai yang memerlukan kliping untuk persyaratan kenaikan jabatan.
Harga kliping bervariasi, mulai dari Rp70.000 hingga Rp100.000, tergantung jumlah lembar dan ketebalan yang diinginkan. Murah untuk sebuah karya tangan yang membutuhkan waktu, ketelitian, dan dedikasi bertahun-tahun.
Gerobak Pak Harsoyo mungkin suatu hari akan berhenti beroperasi. Bohlam kecil di atasnya mungkin akan padam. Namun kisahnya tentang seorang ayah yang mengubah tanggung jawab menjadi profesi, tentang ketahanan di tengah perubahan zaman akan tetap terpatri sebagai bagian dari memori kolektif Kota Solo. (Aliifah)
0 Komentar