Lpmvisi.com, Solo - Di era digital saat ini, sosial media sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, khususnya bagi anak-anak dan remaja. Platform sosial media seperti Instagram, X, Tiktok, Threads dan aplikasi Direct Message (pesan langsung) lainnya memungkinkan orang-orang untuk berkomunikasi dengan siapa saja tanpa adanya batas ruang maupun waktu. Tapi dibalik kemudahan komunikasi tanpa halangan itu, terdapat banyak ancaman yang sering tidak disadari, salah satunya adalah child grooming. Kejadian ini semakin menjadi relevan untuk dibahas karena interaksi di dunia digital membuat para pelaku lebih mudah untuk mendekati target (korban) tanpa harus bertemu secara langsung.
Child grooming merupakan proses manipulasi yang dilakukan orang dewasa untuk membangun kepercayaan dan kedekatan dengan anak di bawah usia 18 tahun dengan tujuan kekerasan seksual. Berbeda dengan kekerasan seksual yang terjadi secara langsung, kejadian ini berlangsung secara bertahap dan sering kali tersembunyi. Pelaku biasanya memulai pendekatan yang terlihat positif seperti memberi perhatian, dukungan emosional yang biasanya menjadi tempat bercerita. Karena pendekatan ini terlihat normal, korban seringkali tidak menyadarinya bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Salah satu alasan child grooming sulit dikenali karena hubungan antara pelaku dan korban dibangun secara perlahan serta terselubung. Pelaku dapat memanfaatkan kebutuhan emosional anak, seperti keinginan akan perhatian ataupun dapat diterima. Di beberapa kasus pelaku bahkan merupakan orang yang dikenal oleh korban sehingga hubungan tersebut terlihat wajar. Kondisi ini membuat child grooming menjadi bentuk kekerasan yang tak terlihat, tetapi memiliki dampak nyata yang serius.
Dampak dari child grooming tidak hanya terjadi dalam jangka pendek. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa korban dapat mengalami trauma psikologis berkepanjangan seperti kecemasan, depresi, merasa rendah diri, hingga kesulitan mempercayai orang lain (Zam Zam, 2024). Dampak ini dapat memengaruhi hubungan sosial dan kondisi mental korban hingga dewasa. Oleh karena itu, child grooming bukan sekedar masalah individu, tetapi juga persoalan sosial yang perlu perhatian dan pengawasan yang serius.
Melihat meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan anak dan remaja, kesadaran mengenai child grooming menjadi hal penting (Octaviano et al., 2025). Edukasi tentang batasan relasi yang sehat, peningkatan literasi digital, serta komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua, menjadi langkah awal dalam upaya pencegahan. Fenomena ini juga menunjukkan bahwa keamanan anak di ruang digital bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga masyarakat dan platform digital untuk bersama-sama menciptakan ruang yang lebih aman bagi anak-anak. (Zhafirah)
0 Komentar