Kamis, 16 Mei 2024

Patriarki dalam Budaya Jawa

(Ilustrasi Patriarki dalam Budaya Jawa / Dok. pexels.com oleh Wahyu Widiatmoko)

Lpmvisi.com, Solo – Patriarki dalam budaya di Indonesia telah membentuk konstruksi terlebih pada budaya Jawa. Budaya patriarki sendiri menganggap laki-laki sebagai pemegang kontrol utama masyarakat dan mempunyai kekuasaan untuk melakukan apapun, sedangkan perempuan diposisikan sebagai kaum lemah serta mempunyai sedikit pengaruh dalam masyarakat. Hal ini menyebabkan perempuan berasa dalam posisi inferior. Struktur tersebut terbentuk karena historis yang panjang. Masyarakat Jawa sendiri menganut paham patrilineal, dimana seseorang ditarik garis keturunan dari ayahnya. Budaya patriarki yang mengakar di masyarakat Jawa seakan membentuk sebuah tatanan dan kodrat yang harus dilakukan. Patriarki membentuk sebuah konstruksi sosial yang menimbulkan ketidakadilan gender.

Budaya patriarki yang cukup kental di Suku Jawa menghasilkan istilah-istilah yang memposisikan kaum perempuan lebih rendah daripada laki-laki, baik di sektor publik maupun domestik. Berikut istilah-istilah yang digunakan masyarakat Jawa dalam menggambar seorang perempuan (istri), diantaranya “kanca wingking” yang artinya teman di belakang (maksud belakang di sini adalah dapur). Istilah “dapur, pupur, kasur, sumur”, berarti perempuan hanya dikaitkan dengam dapur, pupur (bedak dalam make up), kasur, dan sumur (mata air di dalam rumah). Selain itu, peran istri (seorang perempuan) dalam masyarakat Jawa adalah macak, masak, manak (3M). Seorang istri harus berdandan untuk suaminya, memasak untuk keluarga, dan melahirkan anak untuk melanjutkan keturunan. Istilah 3M seakan menjadi patokan perempuan Jawa untuk menjadi ideal. Sistem patriarki yang kental dalam masyarakat Jawa membentuk sebuah konstruksi sosial yang dianggap sesuatu yang lazim. Bentuk kelaziman tersebut membuat ketidakadilan pembagian peran di keluarga pada masyarakat Jawa. Diskriminasi yang dialami perempuan Jawa membuat mereka seakan dikengkang oleh aturan dan nilai sosial yang ada. Perempuan Jawa seakan tidak punya ruang untuk bergerak dan mengekspresikan diri mereka. 

Masyarakat Jawa menjadikan patriarki sebagai budaya yang turun-temurun karena ketidakseimbangan pembagian peran dalam keluarga. Patriarki merupakan konstruksi sosial yang terbentuk melalui sejarah yang panjang. Dominasi kaum laki-laki di segala sektor kehidupan memposisikan kaum perempuan dalam taraf lemah dan tidak bebas dalam berekspresi. (Herditya Sinta R)



SHARE THIS

0 Comments: