Selasa, 14 Mei 2024

Partisipasi 3 Keraton dalam Rangka Merayakan Hari Tari Sedunia

(Penampilan Beksan Kuda Gadhingan yang dibawakan oleh Kasultanan Yogyakarta/Dok. Nabila)

 Lpmvisi.com, Solo – Sudah terhitung lebih dari 12 jam ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta mendendangkan alunan musik sedari pukul 6 pagi pada hari Senin (29/04/24) tepat di Hari Tari Internasional diselenggarakan acara Skena Menari. Tersebar di beberapa titik pertunjukan, Pendhapa Ageng “Mr. GPH Djojo Kusumo” menjadi salah satu pusat diadakannya pertunjukan. Meski telah berjalan lebih dari setengah hari, antusiasme penonton masih membumbung di udara, beralih dari venue ke venue petang itu masyarakat disuguhi penampilan memukau dari 3 Keraton Mataram secara langsung di Pendhapa Ageng ISI Surakarta.


Berperan sebagai pembuka acara pada sesi malam hari, pertunjukan Beksan Kuda Gadhingan mampu memberikan kesan yang kuat bagi penonton. Beksan Kuda Gadhingan persembahan dari Kasultanan Yogyakarta merupakan Yasan Dalem (karya) dari Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855). Diciptakan pada 29 September 1847, beksan ini terinspirasi dari karya Sri Sultan Hamengku Buwono I, seperti Beksan Lawung, Guntur Segoro, dan Tugu Waseso. Beksan Kuda Gadhingan merupakan salah satu karya unggulan Sri Sultan Hamengku Buwono V selain Srimpi Renggawati


Beksan ini mengambil kisah roman Panji dalam wayang gedog yang menceritakan peperangan antara Raden Kuda Gadhingan dengan Patih Mandra Sudira. Raden Kuda Gadhigan merupakan kadeyan (karib) dan senapati Panji Asmarabangun dari Kerajaan Jenggala, sedangkan Patih Mandra Sudira merupakan patih Prabu Dasalengkara dari Kerajaan Pudhak Sategal. Mereka berperang demi memperebutkan Dewi Candrakirana, yang dipercaya sebagai titisan Dewi Anggraeni oleh kedua pihak. Peperangan ini akhirnya dimenangkan oleh Raden Kuda Gadhingan. 


Beksan Kuda Gadhingan juga diilhami Srimpi Renggawati terkait filosofi keblat papat lima pancer. Filosofi tersebut merupakan Wasiat Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono V kepada adiknya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Mangkubumi ketika menciptakan Srimpi Renggawati. Wasiat tersebut berasal dari kitab Betaljemur Adammakna.


Keblat papat lima pancer melambangan hawa nafsu yang ada dalam diri setiap manusia, mutmainah (sinar) berwarna kuning, supiyah (kesucian) berwarna putih, aluamah (makan) berwarna hitam, dan amarah (kemurkaan) berwarna merah. Filosofi keblat papat lima pancer juga diterapkan pada Beksan Kuda Gadhingan, meski filosofi tersebut jarang ditemukan pada beksan kakung gaya Yogyakarta. 


Beksan Kuda Gadhingan memiliki pola lantai tunjung teratai. Pola ini menjadi tata gelar ketika enjeran (adu kekuatan sebelum maju perang). Bentuknya menyerupai bunga teratai yang mengembang menguncup. Pola ini terwujud oleh ragam gerak lampah sekar dan kipat gajahan untuk berputar. Iringan khas untuk Beksan Kuda Gadhingan adalah Gendhing Kemanakan yang diperkaya dengan instrumen khusus berupa kemanak dan klinthing robyong bernama Kiai Sekar Delima. Dalam beksan ini, Gendhing Kemanakan dipadukan dengan gerak enjer untuk menggambarkan suasana sebelum maju perang. 


(Penampilan persembahan Pura Pakualaman pada 29/04/24 di Pendhapa Ageng ISI Surakarta/Dok. Nabila)

Riuh tepuk tangan penonton setelah ditutupnya penampilan dari Kasultanan Yogyakarta kembali mereda digantikan dengan senyap, tanda para penonton sudah mempersiapkan diri menyambut penampilan selanjutnya. Pergantian pemain musik dan masuknya para penampil berlangsung dalam waktu yang cukup cepat. Beksan Lawung Alit gaya Pakualaman menjadi penampilan kedua pada sesi acara malam hari yang telah dimulai dari pukul 19.15 WIB pada penampilan pertama.


Persembahan Pura Pakualaman ini, seperti yang dituturkan oleh Master of Ceremony (MC), merupakan karya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (Paku Alam I) putra Sri Sultan Hamengku Buwono I. Tertera pada Babat Pakualaman bahwa tradisi pementasan Beksan Lawung Alit dilestarikan di Pura Pakualam, beksan ini ditampilkan pada acara-acara tertentu, misalnya saat penyambutan tamu khusus. Dalam berjalannya waktu Beksan Lawung Alit mengalami perkembangan terutama pada masa Paku Alam III.


Dibawakan 8 orang penari dengan 4 peraga sebagai prajurit yang sedang berlatih dan 4 peraga sebagai abdi dalem kerajaan. Beksan ini menceritakan tentang prajurit yang sedang berlatih, penari memperagakan keterampilan menggunakan lawung atau tombak. Penampilan semakin menarik menjelang akhir, terutama saat bunga-bunga yang terpasang di ujung tombak tercecer ketika senjata itu beberbenturan satu sama lain.


(8 orang penari yang menampilkan Beksan Wireng Lawung gaya Mangkunegaran disaksikan penonton (Skena Menari)/Dok. Nabila)

Penampilan dari Keraton Jogja-Solo pada malam itu malam itu memanglah kurang lengkap, dikarenakan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tidak dapat mengirimkan penampil untuk acara tersebut, berbarengan dengan Hari Tari Internasional pada hari tersebut Keraton Solo juga memiliki agenda lain. Meski begitu acara tetap berlangsung dengan dilanjutkan penampilan ketiga yaitu Beksan Wireng Lawung gaya Mangkunegaran.


Selain tarian dan gendhing yang mengiringinya, kostum yang dikenakan para penampil tidak luput dari sorotan lampu dan mata penonton malam hari itu. Desain baju yang digunakan mengacu pada tata busana Ringgit Madya gaya Mangkunegaran, dengan 2 jenis pakaian yang berbeda untuk masing-masing 4 penampil. Persembahan Pura Mangkunegaran ini memiliki genre wireng dengan properti lawung (tombak), sama seperti penampilan sebelumnya yang juga menggunakan senjata dalam koreografinya.


Dibawakan oleh 8 orang penampil, dijelaskan pula oleh MC bahwa penampilan ini menceritakan peperangan Panji Inu Kertapati yang sedang menyamar. Penampilan tari ini tentu tidak luput mendapatkan perhatian dari masyarakat umum, salah satunya ada Ling (53) yang berasal dari Jakarta. “Kebetulan nanti saya juga mengisi acara di Teater Besar, jadi menurut saya event ini sangat baik karena selain memperingati Hari Tari Sedunia juga menyediakan media bagi semua pelaku seni terutama tari untuk berekspresi dan menampilkan tarian mereka begitu,” jelas Ling ketika ditanyai tentang bagaimana kesan dan perasaannya setelah menonton serangkaian acara tari ini. 


Setelah penampilan dari Pura Mangkunegaran, pertunjukan dilanjutkan dengan persembahan dari tuan rumah, Program Studi Tari ISI Surakarta dan keseluruhan acara masih berlanjut hingga keesokan hari pukul 06.00 WIB hari Selasa (30/04/24). Terbagi menjadi 2 jenis yaitu Skena dan Festival, venue Skena Menari yang tersebar ini menyuguhkan penampilan non-stop dari fajar hingga matahari terbit kembali, penampilan yang ditunjukkan juga beragam dari tradisional sampai modern. Acara tahunan ini mendatangkan penampil dari banyak daerah hingga mancanegara, penonton yang datang juga berasal dari banyak kalangan usia dan latar belakang. (Kahfi, Nabila, Novrea, Windy)



SHARE THIS

0 Comments: