Senin, 03 Juli 2023

Patjarmerah, Representasi Gerakan Literasi Masa Kini

 

(Diskusi bersama Shafry, Ronny Agustinus, dan Eka pocer yang dipandu oleh Reda Gaudiamo/Dok. Riska Mastufah)

Surakarta mengawali bulan Juli dengan menyambut festival literasi dan pasar buku yang dicanangkan oleh komunitas Patjarmerah selama sembilan hari lamanya. Berkisar antara tanggal 1-9 Juli 2023 yang bertepat di Ndalem Djojokoesoeman, Kampung Gajahan. Acara ini diharapkan menjadi titik meningkatnya minat literasi di kota Surakarta.

Patjarmerah sendiri merupakan komunitas dengan fokus literasi sebagai latar belakangnya yang hadir di kota Jakarta. Festival literasi yang digaungkan komunitas ini menjadi angin segar bagi literasi di Indonesia. Khususnya Kota Solo, yang berperan sebagai tuan rumah festival tersebut untuk tahun ini. Pendekatan yang dilakukan patjarmerah untuk menarik antusiasme warga Solo juga beragam. Mulai dari branding komunitas yang dilakukan dii media sosial, promosi yang menarik gen milenial dan gen z untuk menaruh perhatian lebih pada literasi, dan serangkaian acara yang disesuaikan dengan topik yang sedang hangat di jagat media sosial.

Festival literasi ini telah terjalin selama enam tahun sejak 2019 di berbagai kota di Indonesia. Pertama kali hadir di Yogyakarta dan kemudian bergeser ke kota-kota lainnya seperti Semarang, Bandung, Malang, hingga Surabaya dan kini di Kota Surakarta. Festival literasi ini diharapkan menjadi gerbang dalam memperkenalkan buku sehingga minat literasi di Kota Solo meningkat.

“Harapannya, teman-teman tidak buta akan huruf, lebih terbuka, dan lebih banyak membaca.” Terang Helmy sebagai bagian dari komunitas Patjarmerah. Helmy sendiri juga cukup mengkhawatirkan rendahnya literasi di Indonesia. Namun, Helmy dan penggiat dari komunitas Patjarmerah sendiri tidak tutup mata terhadap fakta tersebut sehingga tercetuslah komunitas literasi ini. “Meskipun akan sangat sukar dikerjakan, tetapi untuk teman-temen milenial dan generasi z, jangan terlalu terpaku pada media sosial atau media digital lainnya. Karena ada kutipan dari seorang filsuf yang berbunyi “ketika semakin banyak alat yang mempermudah kehidupan manusia, semakin banyak juga manusia yang tidak berguna.” Jadi saya harap dengan ada kemudahan AI dan kemudahan digital itu tidak membuat manusia-manusia Indonesia minim literasi.”

Acara yang diusung di festival literasi juga sangat beragam. Dari pasar buku dengan penawaran menarik, diskusi-diskusi dengan penggiat literasi dan penulis karya hingga aktivis-aktivis penggiat kegiatan sosial yang hadir sebagai pemantik diskusi yang menarik. Salah satu kegiatan yang diusung ialah diskusi mengenai buku anak dalam diskusi obrolpatjar minggu, 2 Juli 2023 hari lalu. Patjarmerah turut menghadirkan rumah dongeng kinciria sebagai komunitas penggiat literasi kepada anak dengan dongeng sebagai medianya.

 

(Diskusi dan penampilan dongeng dari rumah dongeng kinciria /Dok. Riska Mastufah)

Turut hadir Ronny Agustinus sebagai perwakilan dari penerbit buku anak-anak Marjinkiri dan Eko Pocer yang juga menaruh perhatian lebih pada penerbitan buku anak di Indonesia. Selain itu, acara obralpatjar ini dipantik oleh Reda Gaudiamo sebagai aktivis penggiat literasi di Indonesia.

Antusiasme warga Kota Solo dalam kurun waktu dua hari ini cukup tinggi. Hal ini diungkapkan oleh panitia Patjarmerah sendiri. “Antusias mereka patut diacungi jempol, sejak pukul dua kemarin hanya 300 orang. Sekarang sudah mencapai 600 orang hadir di sini. Peningkatannya hampir 50%, ternyata skala marketing yang kami jual ke teman-teman tidak gagal.” Ungkap Helmy (23) selain warga Solo, festival literasi ini juga turut hadir teman-teman yang berasal dari kota-kota lain seperti Yogyakarta, Semarang hingga Kota Madiun. Hal ini mennadakan promosi yang ditenggarai Patjarmerah sukses menarik perhatian pengunjung. (Riska)



SHARE THIS

0 Comments: