Senin, 06 Maret 2023

Solo Art Market untuk Masyarakat

             

(Potret kreator yang berpartisipasi di SAM tahun ini/Dok. Wikasanti)

Lpmvisi.com, Solo – Solo Art Market digelar untuk yang ke-26 kalinya pada hari Minggu (5/3), kali ini hadir di pedestrian Ngarsopuro, Surakarta, Jawa Tengah. Acara ini diselenggarakan oleh yayasan SAM (Solo Art Market), untuk memberi tempat bagi para kreator agar dapat memamerkan dan menjual hasil karya mereka.

Peserta dalam pameran ini merupakan para kreator yang memproduksi kerajinannya sendiri, sehingga selain memamerkan hasil karya, mereka juga dapat melakukan workshop di stand masing-masing. Peserta yang hadir berbeda setiap minggunya, karena acara ini menerapkan sistem open call setiap dua minggu sekali. Peserta tidak hanya dari Surakarta saja, namun juga datang dari luar kota, seperti Semarang, Yogyakarta, dan Rembang, meskipun mayoritas tetap kreator dari Surakarta.

Awalnya Solo Art Market (SAM) dibentuk untuk merespon keresahan dari himbauan pemerintah yang pada waktu itu sedang mengatasi pandemi dalam bidang ekonomi. Kala itu, Presiden Jokowi menghimbau untuk menghidupkan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), karena pada masa krisis itulah UMKM memerlukan bantuan untuk bertahan. Namun, pemerintah hanya memanggil UMKM untuk pameran di mall dan membatasi jumlah kreator, "Paling cuma sepuluh orang (yang dipanggil untuk pameran) sedangkan jumlahnya ratusan” tutur Yayok Aryoseno (54), pemrakarsa SAM. Tidak hanya karena jumlah yang terbatas, namun banyak sekali UMKM dalam bidang kuliner, sehingga Yayok Suseno memilih untuk mengambil bidang yang berbeda. Dari sinilah, SAM dibentuk untuk memberikan tempat bagi para crafter di Surakarta.

(Potret kreator yang berpartisipasi di SAM tahun ini/Dok. Wikasanti)


    Farah Zhafirah (21), seorang penjual Batik Tumaruntum menyatakan bahwa dengan adanya Solo Art Market ini sangat membantu untuk mendongkrak UMKM, karena acara ini memberikan wadah untuk dapat menjual produknya. Walaupun Farah memiliki toko di rumahnya, ia sangat terbantu dengan adanya acara ini. Ia mengatakan bahwa, tokonya biasa ramai ketika akhir pekan saja, namun dengan adanya acara ini batik yang ia jual semakin ramai dibeli, karena berada di tempat yang lebih terbuka. Hal ini memang telah direncanakan oleh Yayok Suseno, “Tempatnya harus terbuka, tidak di dalam gedung ataupun tenda. Kalau hujan kukut, kalau terang keluar lagi. Semangat UMKM. Jadi kita pilihkan Ngarsopuro karena trotoarnya lebar.” Selain pembeli yang semakin ramai, dengan mengikuti acara ini para pedagang juga mengalami kenaikan omset penjualan.

          Solo Art Market telah menghasilkan orang-orang yang sukses, salah satunya Ina Craft Jakarta. Dengan hal ini, dapat dilihat bahwa SAM telah menjadi salah satu patokan untuk pemerintah kota dalam mengadakan program bagi masyarakat. Selain itu, SAM juga diharapkan ikut membantu menaikkan taraf hidup, membantu berkarya, dan menciptakan kreativitas yang baru, “SAM ini akan begitu-begitu saja. Tapi, anggotanya ini akan mrotoli, hilang satu-satu, tapi naik level. Terus muncul regenerasi baru.” pungkas Yayok Suseno dalam  harapannya untuk SAM. (Wikasanti)


SHARE THIS

0 Comments: