Senin, 20 Juni 2022

Media Sosial? Untuk Apa?

Dok. Internet (Pinterest)


Oleh: Maulidina Zahra Nabila

Dewasa ini, teknologi begitu gencar mengukuhkan peradaban. Jika dahulu kita hanya berkenalan dengan fitur bernama Short Message Service (SMS) dan telepon kabel saja, kini dua hal itu sudah mulai ditinggalkan. Adanya arus globalisasi menghapuskan batas antar ruang dan waktu serta menguatkan kedudukan teknologi bernama “internet” untuk membuat petahananya. Masyarakat sudah mulai berkembang dan terbiasa hidup dengan kecanggihan teknologi yang ada. Sehingga tak dapat dipungkiri, bahwasanya kita hidup di zaman dengan kecanggihan teknologi yang begitu mumpuni. Kemudahan akses untuk berselancar di dunia maya dan menjalin pengetahuan melalui internet semakin gamblang dikukuhkan.

Saat ini, hanya dengan berbaring saja kita dapat mengetahui semua aktivitas yang terjadi di dunia. Tak hanya melulu soal politik dan ekonomi, trend fashion yang menjadi parameter dunia pun dapat diketahui dari layar mungil sebuah ponsel yang dapat kita genggam kapan saja dan dimana saja. Salah satu media yang dapat dengan bebas diakses dan dimainkan secara individu, yakni media sosial, kian menjadi candu bagi masyarakat, khususnya pada remaja generasi milenial.

Menurut data yang telah diambil oleh Hootsuite pada Februari 2020, pengguna internet di Indonesia mencapai 175,4 juta dari total 272,1 juta penduduk yang ada. Sementara itu, pengguna aktif media sosial mencapai 160 juta penduduk dan di dominasi usia 15-24 tahun. Ini berarti, media sosial menjadi platform yang banyak digandrungi masyarakat, khususnya remaja milenial, sebagai sumber informasi dari apa-apa yang ingin mereka ketahui.

Saya sendiri termasuk diantara 160 juta orang dengan rentang umur 15-24 tahun yang aktif menggunakan media sosial. Media sosial merupakan sarana berkomunikasi yang dinilai efektif menurut perspektif pribadi saya serta sebagai hiburan dari kejenuhan akibat kesibukan yang tengah melanda. Saya menghabiskan waktu lebih dari 5 jam perhari untuk berselancar di media sosial, terutama platform WhatsApp, Twitter, dan Instagram. WhatsApp menjadi media sosial yang penting saat pandemi ini. Karena arus informasi mengenai dunia pembelajaran jarak jauh terjadi di dalamnya.

Kemudian saya biasa mencari informasi terkini seputar kejadian yang sedang menjadi perbincangan hangat di publik dalam platform Twitter. Mulai dari berita tentang politik, acara tv, hingga konten hiburan seperti video kucing yang lucu. Twitter merupakan platform yang paling nyaman bagi saya, karena selain untuk mengetahui informasi, di Twitter saya dapat menumpahkan keluh kesah mengenai suatu hal. Iklim interaksi yang tercipta dalam Twitter juga menyenangkan. Hal ini karena meskipun tidak kenal satu sama lain, rakyat Twitter sering memberi support dan dorongan semangat kepada orang-orang yang sedang berada pada titik terlemahnya.

Berbeda dengan Instagram. Platform yang satu ini notabene sering di framing sebagai media sosial berisi manusia-manusia yang terkesan "jaga image" dan memamerkan sesuatu. Namun, banyak sekali informasi seputar lomba, webinar, magang, beasiswa dan lainnya yang dapat dengan mudah saya dapatkan melalui Instagram sehingga saya merasa bahwa saya juga butuh media sosial ini. Dalam Instagram juga seringkali saya menemukan ide outfit yang kiranya bisa saya jadikan inspirasi dan style untuk dipakai, serta menjadi platform untuk membeli baju secara online.

 

Terlepas sebagai alat pemuas kebutuhan terhadap informasi dan hiburan, terdapat beberapa kelemahan serta gangguan pada saat menggunakan media sosial, seperti sinyal yang kadang kurang mendukung sehingga jika membuka Instagram, gambar tidak akan muncul. Jadi, diperlukan sinyal yang mumpuni untuk membuka media sosial. Kemudian juga banyak informasi yang kurang valid atau malah terkesan hoax menjadi marak. Tak sedikit masyarakat awam yang tidak menelaah terlebih dahulu dan percaya begitu saja terhadap suatu informasi yang disampaikan melalui media sosial. Kemudian adanya iklan yang tiba tiba muncul juga seringkali mengganggu aktivitas saat berselancar di media sosial. Tidak adanya fitur filter dalam Twitter juga membuat saya tidak dapat mengontrol hal-hal apa saja yang lewat di beranda sehingga terkadang terdapat konten-konten yang kurang saya sukai namun disukai oleh teman maya saya muncul, seperti gambar sadis yang berdarah, spoiler film, dan sebagainya.

Sebagai saran, semoga para pengguna media sosial, termasuk saya pribadi untuk dapat mengatur waktu dan membatasi penggunaan media sosial. Saya merasa bahwa jam tidur menjadi berkurang dikarenakan lupa waktu dan tidak sadar bahwa hari telah menginjak larut sementara jari masih tergerak untuk melihat konten-konten yang ada dalam media sosial. Selain itu, diperlukan juga kebijakan dalam penggunaan media sosial. Jangan hanya dijadikan sarana hiburan, namun juga dapat dijadikan sebagai sarana penambah edukasi dan wawasan agar otak tidak semakin usang dan dapat berfungsi makin baik. Pengguna media sosial juga harus pandai mengatur pengeluaran kuota internet per hari agar tidak boros dan membebani orang tua dalam urusan pembelian kuota. Melakukan seleksi terhadap konten yang kita konsumsi sehari hari di media sosial juga perlu diperhatikan untuk menjaga dan mencegah terjadinya penyebaran hoax yang lebih luas di masyarakat.


SHARE THIS

0 Comments: