Selasa, 01 September 2020

Feminazi : Aku Merdeka, Kalian Terbelenggu

 

(Dok.Internet)

Oleh: Stella Maris Mbangga Radja

Apa yang kalian bayangkan saat membaca kalimat di atas? Kalimat itu seolah menyiratkan sebuah makna, bahwa selama ini kalangan feminazi mengkonstruksikan ideologi feminisme dengan tafsir yang menyimpang dari konsep ideologi feminisme itu sendiri. Kesetaraan kaum perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang kehidupan merupakan sebuah cita-cita luhur yang diharapkan dari ideologi feminisme. Namun, hal ini kerap kali diserap secara tidak sempurna oleh beberapa pihak. Hal ini tentu mengakibatkan mispersepsi di khalayak luas khsususnya kaum perempuan itu sendiri. Para feminazi ini merupakan sebuah bukti konkret dari mispersepsi tersebut, salah satunya mereka ingin lebih dari kata setara dengan laki-laki. Hal ini juga bisa diasumsikan bahwa mereka (kaum feminazi) ingin melebihi laki-laki.

Gerakan feminisme sendiri muncul sebagai salah bentuk protes atas ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini sebagai akibat fungsi gender yang dimiliki masing-masing pihak membuat salah satu pihak tidak dapat bergerak bebas atau minimnya kesempatan untuk mengeksepresikan diri di depan publik. Sebagai salah satu contoh, misal dalam suatu struktur kepengurusan sebuah organisasi pastilah mayoritas ketua dari organisasi tersebut berasal dari kaum lelaki. Mengapa lelaki? Karena dianggap lebih tegas, bisa lebih mengayomi, bertanggung jawab dan sebagainya.

Hal ini kerap kali terjadi karena sudah menjadi sebuah anggapan yang lumrah di kalangan masayarkat. Dapat dikatakan bahwa anggapan ini telah terpatri sebagai stigma yang melekat di pikiran masyarakat, terkait maskulinitas dan feminitas seseorang pada hal kepemimpinan. Hal ini termasuk bentuk ketidakadilan gender yang disebut sebagai subordinas yang artinya memandang lebih rendah peran atau tanggung jawab yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin, dalam contoh kasus ini yaitu pihak perempuan. Sebenarnya masih banyak bentuk ketidakdilan yang terjadi pada perempuan, misalnya kekerasan, pelecehan, dan lainnya. Maka dari itu dengan kemunculan gerakan feminisme, salah satu harapannya adalah agar membantu menyetarakan hak dan derajat  antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan nyata. Tentunya hal ini diharapkan agar tidak terjadi lagi ketimpangan maupun ketidakadilan yang dialami oleh pihak perempuan diamanpun mereka berada.

Lalu, apa itu feminazi? Feminazi merupakan pihak-pihak yang menanggapi ideologi feminisme secara radikal bahkan bisa sampai pada tahap pemikiran yang ekstrim. Menurut laman Wikipedia, istilah feminazi sendiri lahir sebagai bentuk sindirian kepada mereka yang menganut ideologi feminisme secara radikal.  Para feminazi ini cenderung lebih bersifat egois dari pemikiran maupun tindakannya. Egois di sini memiliki pengertian hanya memikirkan bahwa dirinyalah yang paling benar atas perspektif yang mereka miliki, serta cenderung tidak bisa berpikiran terbuka atau menolak menerima argumen dari pihak lain. Akibat inilah yang mengakibatkan spekulasi para awam terkait paham feminisme itu sendiri tanpa mengetahui kebenaran dari paham feminis itu sendiri. Masyarakat secara umum berasumsi bahwa feminisme adalah sebuah paham atau ideologi untuk membenci lelaki, budaya pekerjaan rumah, atau hal kodrati yang dimiliki oleh setiap perempuan.

Sebagai contoh spekulasi dari tindak pemikiran para feminazi, baru-baru ini terdapat cuitan viral di Twitter terkait “Bekal Buat Suami Hari Ini” yang diunggah oleh pemilik akun @rainydecember. Unggahan ini menjadi viral karena beberapa komentar negatif yang dilontarkan oleh beberapa pihak. Secara garis besar, komentar negatif yang muncul berisi “dasar patriarki”, “untuk apa capek-capek membuat bekal untuk suami, bisa saja dia selingkuh”, dan berbagai komentar negatif sejenisnya. Miris melihatnya. Mengapa unggahan dengan tujuan baik seperti ini masih saja dikomentari buruk? Akibatnya, netizen yang membaca komentar negatif tersebut turut berspekulasi dan  memberikan  label bahwa komentar negatif yang ada berasal dari tindakan para feminis atau feminazi, walaupun yang berkomentar negatif tidak memproklamirkan dirinya adalah seorang feminis atau feminazi. Jelas hal ini pun juga merugikan para pegiat ideologi feminis karena semakin dipandang sebelah mata oleh masyarakat luas.

Para feminazi menganggap bahwa perempuan yang masih melakukan ataupun membantu pekerjaan rumah dianggap sebagai korban patriarki yang terkungkung dengan tradisi primitif warisan nenek moyang. Menjadi sebuah perbudakan bila terdapat unsur keterpaksaan dan penyiksaan kepada pihak lain di dalamnya. Padahal kegiatan rumah tangga merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan untuk menunjang kehidupan. Padahal unggahan tersebut menunjukkan sebuah kecintaan sang pemilik akun tersebut kepada suaminya tanpa unsur paksaan. Selain itu, banyak nilai positif yang bisa dipetik dari unggahan tersebut. Misalnya, dapat menjadi inspirasi bagi para pasangan suami istri lainnya dalam menyiasati penghematan pengeluaran ketika berada di luar rumah. Dari contoh kasus ini, sangat perlu mengedukasi masyarakat terkait penjabaran paham feminisme dan apa bedanya dengan para feminazi. Masyarakat juga harus lebih objektif dalam membedakan antara feminis, feminazi, atau sekedar tukang julid di media sosial agar meminimalisir mispersepsi yang terjadi. 


SHARE THIS

13 komentar:

  1. So insightful! Artikel ini benar-benar mewakili keresahan saya terhadap feminazi yang terus marak dikehidupan masyarakat

    BalasHapus
  2. Artikel yang sangat menarik. Saya juga sangat setuju dengan penulis tentang keberadaan feminazi ini.

    BalasHapus
  3. Menarik topiknya! Setuju banget

    BalasHapus
  4. Artikelnya menarik banget. Aku juga setuju sama penulisnya

    BalasHapus
  5. bermafaat sekali artikelnya! saya yang suka mengamati pergerakan feminisme di indonesia juga sadar, ada sebagian dari mereka yang menginginkan lebih dari "kesetaraan". dan saya baru tahu istilah feminazi ya dari sini,hehe. good work!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Jelita, wah senang bacanya kalau kamu bisa menambah wawasan dari tulisan ini♥️😊

      Hapus
  6. Semoga para feminazi cepet dpt hidayah

    BalasHapus
  7. Pembawaan sama materi yang diangkat emangπŸ‘πŸ‘

    BalasHapus