Senin, 07 Oktober 2019

Petrikor di tahun 2019


ilustrasi: internet (https://www.freepik.com/makyzz)

Oleh : Ade Uli Fitriyani

Saya fikir Indonesia masih menghijau
Nyatanya dia kini mulai kacau
Tempo hari aku masih mencium aroma petrikor
Ternyata itu ilusi bikinan para pesohor
Dan bisa bisanya saya bangga mengenali wajah wajah pesohor
Nyatanya ada wajah nanar di balik deru mesin mesin yang bocor
Bocor dan imbasnya saudaraku yang menelan mentah mentah
Saudaraku yang ternyata menanti kepulangan pemilik wajah nanar itu

Mengapa semua berteriak?
Karena memang gaung modernisasi membuyarkan kegusaran di bawah semen semen dan beton
Mana mungkin rintihan itu melewati celah semen berangka besi-besi berjuta ton

Cerita berlanjut,
Semua lari, semua baris, semua mengadu
Tapi apa rayu mu?
Katamu jangan tertipu, apa lagi habiskan recehmu
Pulanglah semua sudah akan berlaku
Saudaraku kau dorong mundur perlahan namun kekecewaan masih tergambar
Berkendara saja kau begitu di jalan-jalan yang kami bangun dari peluh kami

Katamu semua akan aman, 
Seolah kami tak mendapatkan banyak pelajaran dari lembaga yg kau tunjuk untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
Saudaraku mati matian keluar masuk studi, katamu saudaraku tak berbudi
Jadi sudah sejak kapan negeriku mulai kehilangan tempat berlindung ?
Sudah sejak kapan petrikor itu ternyata lahir dari tebaran garam ?
Tanah airmu dan keseluruhan darimu tak akan menemukan kebenaran itu 
Semua punya hajat semua bisa bejat
Kini petrikor paling sendu datang, petrikor air mata pertiwi atas ulah manusiamu, 
termasuk aku

SHARE THIS

0 komentar: