Kamis, 26 September 2019

Bengawan Melawan, Aksi Massa Berujung “Air Mata”

Demonstrasi di depan Gedung DPRD Surakarta (Dok.Visi/Gede)
lpmvisi.com,Solo-Panas matahari pada Selasa (24/09/2019) tidak menghalangi perwakilan mahasiswa dari seluruh kampus di Kota Surakarta untuk menyuarakan pendapatnya. Ribuan mahasiswa Surakarta tersebut bersatu padu turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi “Bengawan Melawan” di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Aksi mengacu kepada banyaknya keputusan Rancangan Undang Undang yang dikeluarkan oleh DPR di akhir masa jabatannya, yang tentu saja putusan tersebut banyak meresahkan rakyat Indonesia. Hal tersebut terbukti dari banyaknya gerakan mahasiswa berskala besar yang diadakan untuk mengawal isu yang sama. Sebut saja Gejayan Memanggil di Jogjakarta (23/09/2019), Demo Senayan di Jakarta Pusat (24/09/2019), Demo Bandung (24/06//2019) dan masih banyak lagi.

Aksi di beberapa kota tersebut membawa beberapa isu yang serupa, dan untuk “Bengawan Melawan” isu yang dibawa yakni  Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), menolak revisi Rancangan Undang Undang (RUU) KPK, Pengesahan RUU PKS, serta menolak RUU Pertahanan.

“Bengawan Melawan” diawali dengan kegiatan Long March dari parkiran Edu Park menuju ke gedung DPRD Surakarta yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Selanjutnya aksi berjalan dengan damai dan tentunya dengan pengawalan ketat dan persiapan dari kedua belah pihak.

Berakhir Ricuh
Akan tetapi disayangkan sekitar jam 14.20 WIB kerusuhan tak dapat dihindarkan. Aksi berakhir dengan kericuhan, dan berulangkali gas air mata ditembakan oleh pihak kepolisian untuk mengamankan massa. Menurut pengamatan dan data yang dihimpun VISI kericuhan tersebut dimulai dengan saling melempar tempat air minum, disusul oleh lemparan benda berat, aksi dorong-dorongan, dan ditutup dengan lemparan gas air mata.



Sesaat sesudah penembakan gas air mata (Dok.Visi/Fajrul)
Kericuhan yang terjadi mengakibatkan korban cidera, terutama karena efek dari gas air mata. Disebutkan oleh Duta Agung Nugroho salah satu mahasiswa Universitas Muhamadiyah Surakarta bahwa ada beberapa orang diangkut oleh ambulans “tadi kena gas air mata terus mungkin kaget, langsung kaku ga bisa gerak. Kayaknya kaget kena gas air mata” ungkapnya.

“Setahu saya ada 3, yang pertama dari IAIN perempuan, trus Riko, yang terakhir perempuan juga. Tapi kayaknya banyak, tapi yang saya tangani Cuma 3 yang lain-lain itu tadi mungkin dibawa motor dan segala macem.” Ungkapnya menambahkan.

Tak hanya dari segi mahasiswa gedung DPR yang berdiri kokoh juga turut menjadi sasaran. Diungkapkan oleh salah satu karyawan di Gedung DPR “ tadi di lantai atas ada kaca yang pecah, karena batu.  Kalo air minum pasti engga bakal tembus” ungkapnya.  

Dugaan Tunggangan Beberapa Oknum

Diduga aksi yang dilaksanakan tersebut tak lepas dari tunggangan beberapa golongan tertentu saja yakni seruan tuntutan untuk diturunkannya Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia. Hal tersebut menimbulkan spekulasi bahwa ‘Bengawan Melawan’ telah ditunggangi oleh oposisi. Namun, salah satu koordinator dalam aksi ‘Bengawan Melawan’ membantah hal tersebut.

“Di sini, kami lebih menuntut kepada para DPR terkait revisi UU dan yang lain sebagainya. Kami tidak pernah menyuarakan tunturan turunkan Presiden Jokowi.” Ujar Iklil, Koordinator dari FISIP UNS Surakarta.


Mahasiswa saat melakukan Long March (Dok. Visi/Gede)

Berdasarkan penjelasan dari Iklil selaku salah satu koordinator dari UNS Surakarta, massa dari ‘Bengawan Melawan’ tidak pernah diarahkan untuk membuat seruan diturunkannya Presiden Joko Widodo. Mereka lebih diarahkan untuk menuntut revisi undang-undang yang dibuat oleh DPR.


“Jika memang ada seruan untuk menurunkan Jokowi, Saya rasa itu bukan dari kami dari ‘Bengawan Melawan’ tapi oknum lain yang juga ikut aksi. Karena aksi tadi juga massanya cukup banyak.” Jelas Iklil. (Naila, Syam)

SHARE THIS

0 komentar: