Minggu, 22 September 2019

Duduk dan Berkontemplasi Bersama “mono.”


Oleh : Lailaurieta Salsabila Mumtaz
Gambar: cover album “mono.” Sumber: btsblog.ibighit.com

Artis                : RM
Album             : mono.
Genre              : Underground hip-hop, R&B
Durasi             : 24 menit
Produksi         : 2018
Label               : Big Hit Entertainment
Produser        : RM, Pdogg, Hiss noise  

Tiap orang punya cara tersendiri untuk mengatasi kesedihan atau stres yang dialaminya. Ada yang mengekspresikannya dengan menangis, makan yang banyak, atau dengan mendengarkan musik. Untuk cara yang terakhir, mungkin album ini bisa menjadi salah satu pilihan untukmu yang sedang butuh penghiburan.

Setelah sukses mengguncang dunia dengan album “Love Yourself: Answer” yang dirilis pada Agustus 2018, rapper dari grup musik BTS, RM merilis album solo keduanya yang berjudul “mono.” Berbeda dengan album self-titled-nya pada 2015 yang terkesan agresif dan ‘galak’, kali ini RM mengajak pendengar untuk berkontemplasi melalui irama yang lembut dan melankolis.

Ditulis dan diaransemen oleh RM sendiri, lagu-lagu dalam album ini terinspirasi dari refleksi dan pengalaman pribadi sang artis. Seperti yang tercermin pada track 1 dan 2, “Tokyo” dan “Seoul”, judul kedua lagu tersebut diambil dari nama kota yang sering disinggahi oleh penyanyi rap bernama asli Kim Namjoon ini. Diawali dengan suara ambience di rel kereta, “Tokyo” menceritakan tentang rasa kesepian yang muncul di tengah hingar bingar kota, dan kerinduan pada orang terkasih. Sementara itu, track kedua “Seoul” yang berkolaborasi dengan band elektronik asal Inggris, HONNE, menceritakan tentang ‘love-hate relationship’ antara RM dengan kota yang kini menjadi tempat tinggalnya itu. Pada reff-nya, RM menulis If love and hate are the same word / I love you Seoul / If love and hate are the same word / I hate you Seoul. Di sini, RM bermain kata dalam pengucapan “Seoul” dan soul yang hampir mirip, untuk menunjukkan bagaimana jiwanya telah menjadi satu dengan kota ini.

RM menujukan lagu ketiga, “Moonchild”, untuk orang-orang yang lebih menyukai malam hari seperti dirinya. Malam hari adalah saat di mana ia merasa terbebas dari belenggu dan tatapan orang-orang. Irama rap khas RM ditunjukkan jelas di sini, dengan lirik yang bertujuan untuk menguatkan para pendengarnya: “Even when it seems as though we’re destined to suffer / we’re strong enough to overcome it all / That even in times we said we wanted to die / we lived zealously”.

Billboard menggambarkan lagu “Moonchild” sebagai “a smooth, sorrowful, introspective bilingual alt R&B track”. Lewat album “mono.” tidak hanya RM membuat pendengarnya merasa ‘ditemani’ dalam menghadapi kegalauan hati, namun juga ia berhasil melintasi batasan genre dan bahasa dalam bermusik. Dari total tujuh lagu yang disajikan dalam albumnya, hanya “Tokyo” yang seluruh liriknya berbahasa Inggris. Sisanya, bahasa Korea mendominasi lirik lagu. Namun tampaknya itu bukan halangan bagi album ini untuk diterima oleh telinga para pendengar lama maupun baru. Tak heran jika album ini berhasil memuncaki tangga lagu iTunes Top Albums di 88 negara dalam waktu singkat. RM membuktikan bahwa perbedaan bahasa bukanlah penghalang bagi musik untuk dapat menyentuh penikmatnya.

Selanjutnya pada lagu “uhgood”, RM menceritakan bagaimana ia merasa terbebani dengan ekspektasi orang-orang terhadap dirinya. Lagu ini yang mungkin punya banyak keterkaitan dengan para pendengar, terutama bagi mereka yang sedang berjuang untuk menerima diri sendiri dan menyingkirkan komentar buruk orang lain.  Dalam pidatonya di pertemuan Majelis Umum PBB pada 24 September 2018, RM mengkampanyekan pesan serupa, yaitu mengajak pendengar untuk untuk mengikuti kata hati dan tetap menjadi diri yang sebenarnya. “No matter who you are, where you’re from, your skin color, your gender identity, just speak yourself.” ujarnya.

Sebagai title track, lagu ketujuh “Forever Rain” divisualisasikan dalam video bernuansa hitam-putih menampilkan seorang pemuda yang berjalan sendirian di tengah kota yang diguyur hujan.
Gambar 2: Visualisasi track 7 “Forever Rain” pada video klipnya. Sumber: YouTube.

Diiringi alunan piano dan beat yang pelan, lagu ini bercerita tentang perasaan sang artis saat berjuang melawan depresi yang pernah dideritanya. Menggunakan istilah ‘when it rains it pours’, ia menggambarkan seburuk apa depresi dapat berefek pada penderitanya. Saat itu, ia hanya ingin hujan turun setiap saat agar tidak ada yang bisa melihat air matanya yang jatuh, dan bagaimana rintik hujan yang mengenai jendela terdengar seperti teman yang menyapanya.
Dirilis secara cuma-cuma oleh label yang membawahinya, para penggemar RM dapat mengunduh langsung album ini lewat berbagai platform musik. Vulture mengekspresikan album ini sebagai " ...the free therapy your body, soul, and bank account collectively to ease into whatever hell this week will bring.”

Definisi mono sendiri adalah tunggal; sendiri; satu. RM ingin audiens untuk menangkap bahwa kita akan tetap bisa bertahan dengan kesendirian tanpa merasa kesepian. Album ini memang paling pas didengarkan ketika kita sedang sendirian, ditemani secangkir teh atau kopi sambil membaca buku.

Subjek dari album ini sendiri cukup sulit untuk diekspresikan, mengingat topik mengenai kesehatan mental belum banyak dibahas oleh masyarakat umum khususnya di Korea Selatan. Namun RM mampu mengemasnya secara apik, bukan hanya dalam mengungkapkan isi hatinya, tetapi juga meyakinkan para pendengar untuk berjuang untuk tetap hidup. Ia mengakui bahwa ia pernah mengalami situasi yang sama, maka dia ingin berbagi kenyamanan dan kedamaian bagi orang-orang yang tengah berjuang.

Bagaimana? Tertarik untuk mendengarkan album ini? ;;)

SHARE THIS

0 Comments: