Friday, April 20, 2018

Kritik Sosial dalam Mahakarya Muhlis Lugis

Asep (19) dan Budi (18) menikmati karya Muhlis Lugis pada pameran "Ke Mana Harga Diri" pada Senin (16/04/2018) di Balai Soedjatmoko. (Dok. VISI/Ola)

Lpmvisi.com, Solo Usai sukses menyelenggarakan Kompetisi Internasional Trienale Seni Grafis Indonesia V, Bentara Budaya menggelar pameran grafis karya Muhlis Lugis, pemenang ketiga kompetisi. Seniman grafis asal Makassar itu mengusung tema “Ke Mana Harga Diri” pada karyanya yang dipamerkan di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko sejak Kamis (12/04/2018) hingga Jumat (20/04/2018) nanti.

Lewat cukilan kayu di atas kertas yang didominasi warna hitam dan putih, Muhlis memberikan makna mendalam yang detail, kelam, dan peka pada setiap karyanya. Kebanyakan karyanya berbentuk kritik sosial dan bergaya surealis, menceritakan tentang hiruk-pikuk manusia di era global. Dibesarkan dalam budaya Bugis yang menjunjung tinggi martabat serta harga diri, Muhlis menjadikan latar belakang ini sebagai landasan berkarya dan mengusung tema "Hilangnya Budaya Malu" dalam pamerannya kali ini.

Beberapa karya Muhlis yang dipamerkan pada pameran seni grafis “Ke Mana Harga Diri” pada hari Senin (16/04/2018) di Balai Soedjatmoko. (Dok. VISI/Ola)

Internasional Trienale Seni Grafis Indonesia sudah menjadi agenda kompetisi tiga tahunan Bentara Budaya bagi para pegrafis Indonesia maupun luar negeri. Seusai kompetisi berakhir, karya-karya para pemenang kompetisi akan dipamerkan secara bergilir di Bentara Budaya Jakarta, Yogyakarta, Solo, dan Bali untuk dinikmati masyarakat umum. “Bulan April ini giliran pemenang ketiga untuk dipamerkan. Bulan lalu sudah dipamerkan karya pemenang pertama dan kedua,” jelas Jepri Ristiono, Anggota Tim Bentara Budaya Solo saat ditemui VISI pada Senin (16/04/2018).

Pameran dibuka pada 12 April 2018 dengan sambutan dari Edy Sunaryo, seseorang yang disebut sebagai bapak grafis Indonesia. Acara pembukaan dihadiri oleh kurang lebih 170 orang. Hadir pula beberapa pegiat seni ternama seperti Bambang Bujono dan Halim HD. Di tengah rintik hujan, musisi Samalona Reggae menghibur pengunjung dengan musik reggae.

Teknik cukil kayu yang digunakan oleh Muhlis pada karyanya memiliki ciri khas khusus dan berebeda dari segi tekniknya. Teknik ini disebut teknik grafis paling kuno yang sudah digunakan sejak abad ke-5 Masehi.

Alfi, salah satu pengunjung pameran mengakui karya Muhlis di pameran ini menarik sekali. Mahasiswi Pendidikan Seni Rupa di Fakultas Keguruan dan Pendidikan (FKIP) UNS ini mengakui bahwa teknik cukil sulit dilakukan dan membutuhkan konsentrasi tinggi untuk menghasilkan citraan visual.  “Teknik cukil kayu itu susah tapi semua karya Muhlis di sini sangat keren, detail, dan bermakna dalam,” imbuhnya.

Pameran ini cukup menarik minat pengunjung. Setiap harinya, kurang lebih seratus pengunjung terdaftar di buku tamu. Beberapa di antaranya adalah pengunjung toko buku Gramedia yang tertarik untuk berkunjung menikmati seni grafis di Balai Soedjatmoko. Asep, salah satu pengunjung pameran, berpendapat bahwa acara pameran seni seperti ini penting untuk dinikmati oleh masyarakat. Selain sebagai hiburan, pameran ini juga mengenalkan kepada masyarakat tentang ragam seni grafis dan media pengenalan budaya. (Dania, Ola)

SHARE THIS

0 comments: