Thursday, November 17, 2016

Mahasiswa, Demontrasi, dan Kenaifan


Oleh: Eko Hari Setyaji

"Reformasi…reformasi…reformasi sampai mati!" Satu petikan lagu yang sering terdengar dalam setiap kali pergelaran demonstrasi mahasiswa. Sungguh heroik dan terasa penuh semangat perjuangan. Di era 1998-an, bahkan jauh sebelumnya, petikan kalimat itu bisa jadi wujud ekspresi simbolik kemurnian gerakan moral dan kesungguhan mahasiswa. Lalu, Bagaimana dengan saat ini?

Beberapa waktu lalu perwakilan BEM seluruh Indonesia melakukan aksi demontrasi memperingati dua tahun masa kerja Jokowi-JK dengan turun ke jalan dan melakukan demontrasi. Beragam tuntutan pun mereka ajukan, diantaranya: menindak tegas mafia kasus kebakaran hutan dan lahan, tolak reklamasi Teluk Benoa dan Teluk Jakarta, tolak tax amnesty yang tidak pro rakyat, tolak perpanjangan izin ekspor konsentrat setelah Januari 2017 dan komitmen terhadap usaha hilirisasi minerba dan yang terakhir  selesaikan akar permasalahan kejahatan seksual pada perempuan dan anak (Koran Tempo, 21 Oktober 2016). Berduyun-duyun ribuan orang melakukan aksi demontrasi turun ke jalan, membuat macet jalan raya, membuat lelah anggota polisi dan pengguna jalan.

Suatu realitas menggelitik tengah terjadi. Ini menimbulkan serangkaian pertanyaan. Ada apa dengan demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini? Benarkah aksi yang bersifat masif ini telah menurun kualitas maupun kuantitasnya?

Demonstrasi sebenarnya bukan satu-satunya pilihan gerakan mahasiswa. Ada berbagai macam pilihan gerakan mahasiswa yang lain, di antaranya adalah pers mahasiswa yang dengan penuh semangat dan kegairahan mencoba menjadi media alternatif yang berani menginformasikan berita-berita yang mampu mempengaruhi kebijakan, baik di tingkat universitas maupun masyarakat. Namun, tak dapat dipungkiri ketika istilah gerakan mahasiswa muncul, yang seringkali terpikir adalah demonstrasi atau aksi turun ke jalan. Begitu hebatnya expose demonstrasi yang diberikan oleh berbagai media informasi, secara langsung ataupun tak langsung menjadikan bentuk gerakan mahasiswa yang lain tenggelam. Hal ini didukung oleh ‘pelegitimasian’ secara tidak langsung, melalui komentar beberapa pakar sosial politik yang seringkali menyamakan gerakan mahasiswa sebagai demonstrasi itu sendiri. BEM atau yang dulu lebih dikenal dengan nama senat mahasiswa juga bukan pula elemen tunggal penggerak demonstrasi. Tetapi memang harus diakui, BEM mempunyai kekuatan simbolik lebih dibandingkan yang lainnya.

Sebenarnya jika dikaji lebih mendalam, diantara gerakan mahasiswa yang ada, demonstrasi merupakan bentuk yang cenderung dianggap anarkis. Seperti pentungan-pentungan dan semprotan water canon dari Polsi Anti Huru Hara (PHH), lemparan batu para demonstran, caci maki, dan contoh lain yang tidak simpatik — yang pada akhirnya mungkin akan mengundang antipati. Tetapi patut diakui, di satu sisi, demonstrasi merupakan bentuk penyampaian aspirasi yang efektif. Demonstrasi — menurut metode crowd — akan dengan mudah menarik perhatian. Di saat diskusi susah untuk dilakukan, partai politik terkooptasi, lembaga-lembaga perwakilan rakyat tak mampu bersuara dan pura-pura tuli, maka demonstrasi akan menjadi cara yang mampu untuk diandalkan.

Namun, demonstrasi seperti apakah yang dianggap baik? Ada anggapan bahwa demonstrasi yang berhasil atau sering diistilahkan para pakar, bagus dalam tingkatan manajemen isu adalah demonstrasi yang bermassa banyak. Sehingga media tertarik untuk meliput, memunculkan kekaguman atau sebaliknya ketakutan bagi masyarakat. Tetapi, jika kuantitas yang dijadikan tolok ukur keberhasilan sebuah demonstrasi, maka akan semakin membuka peluang pemanfaatan-pemanfaatan atasnya. Sebab diakui atau tidak, jumlah massa merupakan aspek yang sangat krusial. Hal ini terkait dengan pembentukan public opinion atas isu-isu yang diusungnya, belum lagi keterkaitan elit atau golongan-golongan tertentu di dalamnya. Karena itulah, demonstrasi tetap dianggap sebagai strategi paling efektif untuk meraih dukungan publik melalui penguasaan public opinion. Lalu bagaimana dengan demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini? Kenapa demonstrasi mahasiswa itu tak lagi memberikan greget?

Kalau kita cermati dengan seksama, demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini seringkali diikuti oleh orang yang itu-itu saja, dengan jumlah yang relatif tetap dan terbatas. Hal ini tak hanya berlaku untuk demonstrasi yang diadakan BEM, tetapi juga kasus-kasus tertentu yang tidak membutuhkan ‘almamater’ sebagai identitas simboliknya. Padahal tidak sedikit pamflet yang tertempel, puluhan selebaran yang tersebar, sekaligus banyaknya pemberitahuan mengenai isu yang akan diangkat. Tapi tetap saja, tidak dapat menarik perhatian. Sekali lagi, apa yang terjadi? Adakah mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai lokomotif perubahan bangsa mulai bergeser dan menjadi mitos belaka? Bukankah pada mei 1998 lalu, gerakan mahasiswa mampu menyatukan derap langkahnya, yang kemudian mampu membawa mantan presiden Soeharto untuk turun dari singgasanaa dan membuka titik awal angin reformasi?

Ada beberapa kemungkinan dari sederet pertanyaan di atas, di antaranya kesadaran akan isu yang dibawa sehingga melahirkan subjektifitas pilihan untuk ikut serta. Atau secara umum dapat digambarkan bahwa heterogenitas akar sosio-kultural elemen gerakan mahasiswa yang melahirkan polarisasi ideologi yang begitu kental. Hasilnya, bukan hanya keikutsertaan atau ketidak ikutsertaan dalam demonstrasi, tetapi lebih jauh lagi, pilihan-pilihan strategi aksi dan aliansi taktis yang diambil juga berbeda. Atau barangkali keanggotaan sebagai pengurus dalam periode tertentu sebuah organisasi yang melahirkan kenaifan untuk ikut serta dalam demonstrasi.

Beragam pendapat lain barangkali muncul. Seperti yang pernah diungkapkan oleh teman saya Fera, yang pernah menjadi salah satu pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa di Unsri beberapa waktu lalu. Ia mengatakan kondisi ini dikarenakan para wakil mahasiswa yang duduk di BEM dan Dewan Perwakilan Mahasiswa adalah kelompok yang eksklusif sehingga kurang dapat ataupun kurang mau mengajak mahasiswa untuk ‘bersatu’. Namun, selain itu bisa jadi mahasiswa sendiri-lah yang apatis dan pasif dalam menyikapi persoalan-persoalan yang ada di sekelilingnya.

Dari kacamata saya, setidak-tidaknya ada tiga penyebab kondisi di atas. Pertama, tidak adanya common denominator – meminjam istilah Nurcholis Madjid – atau isu bersama yang akan melahirkan kesatuan aksi gerakan pada mahasiswa. Karena patut diakui, akhir-akhir ini isu yang diangkat pada gerakan mahasiswa umumnya ‘cenderung besar’ dan tidak menyentuh permasalahan sekitar. Padahal banyak sekali permasalahan internal di kampus yang bisa diangkat, terutama yang terkait dengan permasalahan mahasiswa dan ketidakwajaran kebijakan yang diambil pihak birokrat kampus. Minimnya daya kritis atas isu-isu lokal ini secara tidak langsung dapat mereduksi gerakan mahasiswa. Kedua, faktor akademik. Dalam artian yaitu minimnya pengetahuan mahasiswa saat ini tentang demokrasi, politik praktis, keterwakilan, partisipasi, ataupun isu-isu yang layak diperjuangkan. Ketiga, tidak adanya dorongan internal dari mahasiswa.

Terlepas dari itu semua, demonstrasi mahasiswa adalah salah satu alat dari gerakan mahasiswa, yang sekali lagi diamanatkan untuk mengusung harapan, bukan hanya kebijaksanaan atas pilihan isu, tetapi juga kesadaran untuk menjalaninya. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk melakukan perubahan. Kalau tidak sekarang kapan lagi?

SHARE THIS

0 comments: