Thursday, November 12, 2015

Perempuan Jogja

Oleh : Chairunnisa Widya

Judul Buku      : Perempuan Jogja
Penulis             : Achmad Munif
Negara             : Indonesia
Bahasa             : Indonesia
Genre              : Novel
Penerbit           : Yogyakarta; Mara Pustaka
Tahun terbit     : 2012, Cetakan Pertama
Halaman          : viii+298 hlm
Perempuan Jogja merupakan salah satu karya Achmad Munif yang laris terjual hingga beribu-ribu eksemplar. Kisah tentang perjuangan seorang istri yang begitu tegar dan tabah dalam menghadapi cobaan hidup yang sedang melanda rumah tangganya menjadi daya tarik tersendiri novel Achmad Munif ini. Di tengah kehidupan yang begitu hingar-bingar seperti saat ini, novel Perempuan Jogja seakan-akan menjadi sindiran bagi para perempuan, bahwa kesabaran merupakan kunci untuk tetap tegar dalam bertahan di atas kerasnya kehidupan. Lewat novel ini, definisi gender dan feminisme bisa jadi berbeda dengan definisi pada umumnya. Karena lewat Perempuan Jogja pula Achmad Munif mengisyaratkan bahwa setiap perempuan mampu menentukan sikap tegas, bukan sikap keras. Karena tegas dan keras merupakan dua sikap yang berbeda.
            Dikisahkan Rumanti, seorang istri seorang pengusaha berdarah biru bernama Raden Mas Danudirjo yang begitu narimo dan tak pernah banyak mengeluh, harus menjalani hidup yang seakan-akan layaknya peribahasa “habis manis sepah dibuang”. Lalu Danu, yang semula hampir gila karena ditinggal menikah oleh mantan kekasihnya yang bernama Norma, sembuh hatinya karena Rumanti. Di lain cerita, setelah Norma cerai dari suaminya, ia kembali menghubungi Danu dan menjadi orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga Danu dan Rumanti yang telah lama dibangun. Disinilah ketabahan dan kesabaran Rumanti diuji dalam mempertahankan keluarganya dan perannya sebagai istri.
            Dengan segala keikhlasan hati meski begitu sakit, Rumanti bersedia dimadu dengan Norma. Seiring berjalannya waktu, Danu ternyata dikhianati untuk kedua kalinya. Norma berselingkuh. Danu pun merasa bimbang akan kehidupan rumah tangga barunya yang ternyata tak sesuai dengan yang selama ini ia impi-impikan bersama Norma.
            Situasi lain, Raden Ayu Indri Astuti, adik kandung dari Danu merupakan sosok perempuan yang energik dan tegas. Ia tidak pernah setuju dengan hubungan Danu-Norma. Begitu juga dengan perjodohan yang dibuat oleh Danu. Indri tak pernah setuju dijodohkan dnegan Raden Mas Suwito yang sudah berumur. Selain itu, Indri masih belum bisa percaya dengan laki-laki semenjak hubungan percintaannya yang terakhir. Namun semuanya berubah saat ia bertemu dengan Ramadhan, seorang mahasiswa semester akhir yang juga berprofesi sebagai seorang wartawan.
            Berbeda situasi, Popi, seorang remaja yang harus menjalani kerasnya hidup dengan menjajakan tubuhnya sebagai pelampiasan kekecewaan dirinya terhadap ibunya yang berselingkuh. Setelah ia bertemu Indri, Popi menjadi murid tari di sanggar milik orang tua Indri, yaitu Raden Mas Sudarsono dan Raden Ayu Niken. Kemudian ia diangkat menjadi anak asuh. Banyak bergaul dengan banyak orang menyebabkan Popi tahu betul siapa Raden Mas Suwito yang dijodohkan Danu kepada Indri, dan kenal dekat dengan Ramadhan jauh sebelum Indri mengenal Ramadhan. Dari sinilah kisah cinta Indri dimulai dengan Ramadhan yang menambah manisnya kisah dalam novel Perempuan Jogja ini.
Cara Achmad Munif bertutur lewat tulisannya yang tak berlebihan, sederhana, dan sesuai dengan realitas sosial yang ada menempatkan pembaca seakan-akan ikut larut ke dalamnya. Bahkan para pembaca seolah-olah mampu merasakan setiap perasaan yang ada lewat kata-kata yang terangkai dalam novel tersebut. Begitu banyak pelajaran yang mampu dipetik dari novel ini. Jalan cerita yang tak mudah ditebak menjadi kekuatan tersendiri karena mampu membuat pembaca penasaran di setiap kelanjutan kisahnya. Hubungan antar tokohnya yang tak terduga menjadikan ceritanya semakin menarik.
Dilihat dari segi penyajian, novel ini cukup mudah dipahami dan tidak menyusahkan pembaca. Kosakata bahasa Jawa pun diberi catatan kaki, sehingga pembaca tak perlu membolak-balik untuk mengetahui arti kata yang dimaksud.
Kelemahan dari novel ini yaitu pengemasan cerita yang seakan-akan memusat untuk kalangan tertentu. Seakan-akan hanya diperuntukkan kepada perempuan Jogja. Selain itu, sebagai penutupan kisah sebuah novel yang tak berseri, cara Achmad Munif dirasa kurang mantap. Seakan-akan cerita yang dituturkan di akhir tak mencapai klimaks, walaupun sebenarnya memang sudah berakhir. Hanya saja, kurang greget untuk dikatakan sebagai penutup cerita.
Novel Perempuan Jogja ini memberikan banyak sekali pelajaran, terutama bagi kaum perempuan. Singkatnya, novel ini merupakan bacaan cukup baik bagi pembaca yang tertarik dengan hal-hal berbau gender dan feminism. Sebab novel ini membuat pandangan lain dari definisi gender dan feminisme itu sendiri. Meski pengarangnya seorang lelaki, ia mampu menyampaikan definisi dari gender dan feminisme tersebut lewat perspektifnya sebagai seorang lelaki, bahwa perempuan dalam mencapai kesetaraan gender dan memperjuangkan feminisme tak harus bersikap keras dan lupa untuk hormat dengan orang tua dan suami. Justru yang dilakukan adalah dengan sikap tegas dan tak melupakan kodratnya untuk menghormati orang yang lebih tua dan suami. Dan yang terpenting adalah novel ini tak hanya memberikan hiburan semata, tetapi juga memberikan suri tauladan bagi para pembacanya.
Pada intinya, pesan penting yang ditangkap dalam novel ini adalah sepahit apapun kehidupan atau sekeras apapun hidup yang kita jalani, kita tetap harus bertahan, tetap tegar, dan terus bersabar dalam menjalaninya. Karena kehidupan pun punya masa, jika memang harus mengalami pahitnya kehidupan, berarti manisnya hidup pun juga akan didapat apabila kita mampu melaluinya.



SHARE THIS

0 comments: