Thursday, April 3, 2014

Butuh Dana Besar Untuk Ikut Kompetisi


                                                                                                              Dok.VISI/ Muna

DANA KOMPETISI – Arif Munandar (kiri) dan Muhammad Khairul Bahtiar
seusai wawancara dengan VISI di Fakultas Teknik (FT) 
Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Kamis (4/3).

Bagi perguruan tinggi, memiliki mahasiswa berprestasi merupakan sebuah kebanggan yang selalu diidam-idamkan. Terutama untuk perguruan tinggi negeri (PTN) yang ingin bertaraf internasional. Pun dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang saat ini sedang mencoba menuju world class university (WCU).

Untuk memperoleh predikat sebagai WCU, UNS harus memiliki nama baik dan segudang prestasi. Nama baik ini tentu saja bisa dijunjung dengan menorehkan berbagai kejuaraan dalam kompetisi baik yang berskala nasional maupun internasional.


Salah satu tujuan meningkatkan nama baik UNS itu diutarakan oleh Mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) UNS, Muhammad Khairul Bahtiar. “Ketika kita mengikuti kompetisi, disitu kita membawa nama  kampus. Jadi, kalau jadi juara ya otomatis nama baik kampus terangkat,” ujar pria yang akrab disapa Irul itu kepada VISI, Kamis (4/3).

Irul tergabung dalam Tim Bengawan II UNS yang sukses menorehkan juara 2 dalam kompetisi mobil hemat bahan bakar Shell Eco-Marathon Asia 2014 Februari lalu. Irul berangkat ke Luneta Park, Manila, Filipina bersama 6 rekan mahasiswanya dan satu dosen pembimbing setelah mobil Samudra Generasi II besutan mereka lolos seleksi.

Tim bengawan II kala memamerkan
mobil Samudra Generasi II di Luneta Park,
Manila, Filipina.
Ditemui di waktu yang sama, Arif Munandar yang juga tergabung dalam Tim Bengawan II mengungkapkan tentang hal yang sering menjadi kendala saat akan mengikuti kompetisi. Hal itu adalah masalah dana yang harus dikeluarkan. “Selama ini yang paling susah itu ya cari dana. Terkadang dana yang diberikan kampus tidak cukup untuk membiayai keseluruhan kegiatan yang akan diikutkan dalam kompetisi. Alhasil kita harus cari perusahaan yang bersedia untuk menjadi sponsor,” keluh Arif.

Untuk mengikuti lomba antar negara memang membutuhkan dana yang sangat besar. Apalagi jika lomba menyangkut pembuatan kendaraan yang sudah terkenal tidak murah. Dari proses pembuatan, hingga akomodasi dan transportasi semuanya butuh dana yang tak sedikit.

Untuk itu Arif berharap agar kampus lebih berani mengeluarkan dana untuk mendukung mahasiswa yang mengikuti kompetisi, terutama yang berskala internasional. “Kita pingin pihak universitas (UNS –red) lebih men-suport mahasiswanya, apalagi yang berkaitan dengan dana. Toh,  nantinya efek samping yang baik juga akan berdampak pada universitas,” harap Arif.

Saat ini Tim Bengawan terus berusaha mengasah kemampuannya untuk bisa memenangkan kompetisi Shell Eco-Marathon Asia tahun mendatang. “Kita nggak puas kalau Cuma jadi runner-up, tahun depan kita pingginya jadi juara 1,” kata Irul.

Selain itu Irul juga menyatakan bahwa Tim Bengawan kini tengah bersiap-siap untuk mengikuti ajang kompetisi yang sama namun berskala nasional, yaitu Indonesia Energy Marathon Challenge (IEMC) 2014. Kompetisi tersebut akan dimulai sekitar November mendatang. (Muna).




 


SHARE THIS

0 comments: