Thursday, December 19, 2013

Menyimak Kebesaran Allah di Langit Eropa

Oleh Sinta Agustina


Judul                : 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis             : Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan            : Cetakan ke-2, November 2013

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa merupakan sebuah novel Islami yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais dan suaminya, Rangga Almahendra. Buku ini berisi tentang perjalanan spiritual Hanum dan Rangga selama berada di Eropa. Beberapa kota di Benua Eropa telah mereka kunjungi, diantaranya Vienna, Paris, Cordoba, Granada, dan Istanbul. 

Dalam buku ini diceritakan betapa indahnya Benua Eropa. Namun, keindahan itu tidak sekedar Menara Eiffel Paris, Stadion Sepakbola San Siro, maupun Colleseum. Ternyata terdapat banyak keindahan Islam di Eropa. Mereka menemukan bahwa Islam pernah berjaya di tanah itu, bahwa Islam pernah menjadi bagian dari perkembangan peradaban di Eropa. Melalui buku ini, penulis ingin menceritakan beberapa tempat di Eropa yang menyimpan banyak sejarah mengenai perkembangan Islam di Eropa.

Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra merupakan pemuda-pemudi asal Indonesia yang tinggal di Vienna, Austria. Rangga (suami Hanum) melanjutkan studi doktoralnya di Eropa bersama Hanum. Sebagai Muslim, di mana di Eropa merupakan kaum minoritas, keduanya merasa tertekan setiap kali akan menjalankan kewajibannya sebagai kaum Muslim.

Hanum yang tidak memiliki pekerjaan, mengisi waktu luangnya dengan berkeliling Vienna. Suatu hari Hanum bertemu dengan Fatma Pasha, seorang Turki yang telah lama tingga di Vienna. Pertemuan dengan Fatma Pasha merupakan awal dari perjalanannya mengelilingi Eropa, untuk mengetahui kebesaran Tuhan di Benua Biru itu.

Fatma yang merupakan teman sekelas Hanum ketika Kursus Bahasa Jerman, selalu mengajak Hanum untuk mengelilingi kota Vienna, dan mengenalkan sejarah-sejarah Islam kepada Hanum. Suatu hari setelah selesai kursus Bahasa Jerman, Fatma mengajak Hanum ke Kahlenberg. Kahlenberg merupakan sebuah bukit yang merupakan bagian kecil dari gugusan Alpen. Dari Kahlenberg, mereka bisa melihat keseluruhan kota Vienna, dari ujung ke ujung. Dan dari Kahlenberg pula, Hanum bisa mendengar suara adzan yang berasal dari Vienna Islamic Center, yang letaknya jauh di bawah Kahlenberg.Selain ke Kahlenberg, Fatma juga mengajak Hanum untuk mengunjungi tempat-tempat yang berhubungan dengan perkembangan Islam di Eropa pada masa lalu.

Perjalanan Hanum berlanjut ketika ia bersama Rangga mengunjungi Paris, Perancis.Rangga akan mengikuti acara konferensi tentang penelitiannya. Sesampainya di Paris, Hanum berkenalan dengan Marion Latimer, seorang mualaf asli Perancis. Bersama Marion, Hanum mengelilingi kota Paris. Bukan untuk melihat keindahan Menara Eiffel ataupun Sungai Seine. Mereka justru mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang memiliki hubungan dengan masa kejayaan Islam. Salah satu tempat yang mereka kunjungi adalahMusee de Louvre atau Museum Louvre.

Perjalanan Hanum dan Rangga tidak sampai di sini. Karena rasa penasaran mereka terhadap sejarah Islam di Eropa, mereka mengunjungi Cordoba dan Granada. Dua kota di Andalusia atau Spanyol ini ternyata juga menjadi saksi dalam perkembangan Islam di Eropa. Di Cordoba terdapat Mezquita, sebuah masjid besar yang berubah menjadi katedral setelah jatuh ke tangan Raja Ferdinand. Sedangkan di Granada, Hanum dan Rangga mengunjungi Al-Hambra, sebuah benteng megah yang menyiratkan betapa megahnya Islam di Eropa pada masa lampau.

Kota terakhir yang dikunjungi Hanum dan Rangga dalam buku ini adalah Istanbul. Di kota ini terdapat Hagia Sophia, sebuah bangunan megah yang pernah menjadi masjid dan gereja, yang selanjutnya menjadi museum sampai saat ini.

“Pergilah, jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia-rahasia hidup; niscaya jalan apapun yang kaupilih akan mengantarkanmu menuju titik awal. Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kautemukan di titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan.”


SHARE THIS

0 comments: