POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

Tipu Daya Berujung Maut

Poster film Tinggal Meninggal/Dok.Internet

Judul: Tinggal Meninggal
Sutradara: Kristo Immanuel
Tahun Rilis: 2025
Genre: Drama
Durasi: 120 menit
Rating: 9/10

Sinopsis:

Tinggal Meninggal mengikuti Gema sebagai tokoh utama, yang merupakan pengidap neurodivergen dan sulit bersosialisasi dan berteman sejak ia kecil. Kesulitan itu terbawa hingga ia kuliah dan bekerja, sehingga hidupnya terasa sepi, bahkan di kantor tempat ia menghabiskan hari-harinya. Perubahan datang setelah sebuah momen duka yang justru membuat orang-orang mulai memperhatikannya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Dari situ, Gema terjerat kebohongan yang awalnya kecil, tetapi terus membesar hingga akhirnya menghancurkan hubungannya dengan orang-orang terdekat.

Resensi:

Kita hidup di zaman yang menuntut semua orang tampil sempurna, dan mereka yang tidak bisa mengikuti ritmenya sering ditinggal begitu saja. Di titik inilah Tinggal Meninggal terasa relevan. Film ini memang bicara tentang neurodivergensi, tetapi yang membuatnya menarik bagi saya adalah cara ia menjadikan kebohongan sebagai inti cerita, bukan sekadar pemicu konflik. Kebohongan sebenarnya dekat dengan keseharian kita, dari yang kecil demi menjaga perasaan orang lain sampai dengan yang serius dan merusak hubungan. Film ini mengambil hal yang akrab itu, lalu membawanya ke titik yang cukup ekstrem.

Gema bukan sosok yang kesepian karena pilihannya sendiri. Ia terasing karena lingkungan di sekitarnya belum siap menerima cara berpikir dan berinteraksi yang berbeda. Ketika perhatian akhirnya datang, wajar jika ia ingin mempertahankannya, meski dengan cara yang keliru. Film ini cukup jeli pada bagian ini, karena Gema tidak diposisikan sebagai penjahat. Kita diajak melihat kebohongannya sebagai jalan pintas menuju kasih sayang yang tak pernah ia dapat semasa kecil, sehingga rasa kecewa terhadapnya selalu bercampur dengan iba. Batas antara butuh dicintai dan butuh berpura-pura pun perlahan kabur, dan di situlah film ini paling terasa manusiawi.

Setelah kebohongan-kebohongan itu terbongkar, cerita tidak berhenti pada kekecewaan. Film ini memberi ruang bagi permintaan maaf dan self improvement, sehingga film ini tidak hanya menyuguhkan konflik, tetapi juga upaya perbaikan keadaan. Lalu datanglah twist di penghujung cerita yang menjadi bagian paling tidak terprediksi. Tanpa membocorkannya, twist ini menohok karena mengingatkan betapa rapuhnya kepercayaan. Sekali rusak, kebenaran pun bisa dianggap dusta. Ironi inilah yang membuat film ini tidak berhenti sebagai drama tentang kebohongan, tetapi juga kritik tentang harga dari sebuah kepercayaan.

Sayangnya, film ini tidak sepenuhnya mulus. Kebohongan Gema meningkat dengan cepat sehingga perubahan emosinya terasa agak terburu-buru, seolah butuh durasi atau pendalaman karakter lebih banyak di setiap tahap. Penjelasan mengapa rekan-rekan kantornya begitu mudah percaya pada kebohongan yang kian tak masuk akal juga kurang. Penonton yang kritis terhadap logika dalam alur cerita mungkin akan bertanya-tanya pada bagian ini.

Kesimpulan:

        Tinggal Meninggal adalah potret getir tentang kesepian dan kebutuhan untuk diterima yang bisa mendorong seseorang mengambil jalan destruktif. Keinginan untuk diperhatikan itu manusiawi, tetapi cara memenuhinya tetap harus dilandasi kejujuran, bukan kepura-puraan yang justru menjauhkan kita dari orang-orang yang benar-benar peduli. Film ini juga mengingatkan kita untuk lebih peka terhadap orang-orang neurodivergen di sekitar, dan bahwa empati seharusnya hadir setiap hari, bukan hanya saat ada tragedi. Cocok untuk penikmat drama yang suka merenung tentang isu kesehatan mental dan dinamika sosial, dan siap-siap saja dikejutkan oleh endingnya. (Alin)

Posting Komentar

0 Komentar