POSTINGAN TERKINI

6/recent/LPM VISI

esensi Film Hope (2013): Ketika Masa Kanak-Kanak Tak Lagi Terasa Aman

(Official poster film Hope (2013)/Dok.Internet)

Judul Asli : So-won (Hangul: 소원)

Judul Lain : Hope atau Wish

Tahun Rilis : 2 Oktober 2013

Sutradara : Lee Joon-ik

Penulis Naskah : Kim Ji-hye dan Jo Jung-hwa

Durasi : 122 menit (2 jam 2 menit)

Genre : Drama, Human Drama

Negara : Korea Selatan

 

Ada satu hal yang membuat saya terus memikirkan Hope setelah filmnya selesai: pelaku memang mendapatkan hukuman, tetapi kehidupan So-won tidak ikut selesai bersama putusan pengadilan.

 

Film karya Lee Joon-ik ini bercerita tentang So-won, seorang anak perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual. Namun, bagi saya, Hope bukan sekadar cerita tentang kejahatan yang menimpa seorang anak. Film ini justru terasa lebih menyakitkan ketika memperlihatkan apa yang terjadi setelahnya—ketika semua orang mulai berusaha melanjutkan hidup, sementara So-won masih harus belajar merasa aman di dunia yang pernah membuatnya terluka.

 

Saya awalnya mungkin mengira film seperti ini akan membawa cerita menuju satu titik penyelesaian: pelaku tertangkap, hukuman dijatuhkan, lalu korban perlahan pulih. Ternyata tidak sesederhana itu. Justru setelah proses hukum berakhir, pertanyaan yang lebih sulit muncul: bagaimana seorang anak kembali menjalani kehidupan setelah sesuatu yang begitu besar terjadi padanya?

 

Bagi saya, bagian paling kuat dari Hope bukan ketika film memperlihatkan kejahatan yang dialami So-won, melainkan ketika cerita menunjukkan bahwa kehidupan korban tidak otomatis kembali normal setelah pelaku ditangkap. 

 

Dalam film ini terdapat kutipan populer yang berbunyi,

"The loneliest person is the kindest. The saddest person smiles the brightest. Because they don't want others to feel the same pain." (Film Hope)

Kalimat tersebut terasa begitu membekas ketika saya menyaksikan bagaimana perjuangan So-won dalam proses penyembuhan serta mencari keadilan. 

 

Film ini menarik perhatian karena terdapat jarak antara ketakutan korban dan respons lingkungan. So-won merasa mungkin akan ditolak, tetapi orang-orang di sekitarnya justru berusaha membuatnya merasa tetap diterima. Lee Re menjadi salah satu kekuatan utama dalam film ini. Ekspresi dan gesturnya mampu memperlihatkan rasa sakit tokoh So-won tanpa harus selalu dijelaskan melalui dialog. Wajah seorang anak yang seharusnya masih dipenuhi kepolosan justru terlihat ketakutan sepanjang waktu. Di sinilah Hope terasa berbeda. Film tidak menggambarkan pemulihan sebagai sesuatu yang berlangsung dalam satu malam.

 

Di tengah trauma tersebut, keluarga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Ayah So-won bekerja keras dan melakukan berbagai cara untuk kembali mendekati putrinya. Sementara itu, sang ibu yang awalnya menyalahkan dirinya sendiri karena merasa gagal menjaga So-won pun kini turut membantu proses pemulihan So-Won. Psikolog dan teman-temannya ikut serta membantu, sementara keluarganya terus berusaha mengembalikan rasa aman yang sempat hilang dalam diri So-won.

 

Hal lain yang menarik adalah ketika keluarga So-won pulang, rumah mereka dipenuhi pesan-pesan dukungan dari orang-orang sekitar. Rumah yang sebelumnya menjadi tempat biasa bagi keluarga tersebut perlahan kembali menjadi ruang yang memberikan rasa aman.

 

Bagi saya, pesan ini terasa sederhana: pemulihan tidak selalu berarti melupakan kejadian yang menyakitkan. Terkadang, pemulihan berarti cukup memiliki dukungan untuk melanjutkan hidup meskipun ingatan tersebut masih ada.

 

Persoalan lain muncul dalam penggambaran proses hukum. Pelaku dijatuhi hukuman 12 tahun penjara, sementara So-won masih harus tumbuh dengan dampak yang jauh lebih Panjang. Setelah putusan sidang berakhir, ayah So-won bahkan sempat mengambil sebuah plakat dari meja persidangan dan hendak menyerang pelaku. Namun, So-won menghentikannya. Ia memeluk kaki ayahnya sambil menangis. So-won tidak membutuhkan kekerasan lain untuk membalas kekerasan yang telah ia alami.

Ia hanya ingin pulang.

 

Menurut saya, justru di situlah salah satu pesan terkuat Hope. Film ini tidak menjadikan balas dendam sebagai bentuk penyelesaian. Sebaliknya, film memperlihatkan bahwa setelah semuanya terjadi, yang paling penting bagi So-won adalah mendapatkan kembali rasa aman dan kesempatan untuk menjalani hidupnya. Hope meninggalkan pertanyaan yang sulit diabaikan yaitu, "ketika hukuman pelaku memiliki batas waktu, apakah penderitaan korban juga memiliki batas yang sama?"

 

Pelaku mungkin menjalani hukuman selama 12 tahun. Namun, So-won masih harus tumbuh dengan pengalaman yang telah mengubah hubungannya dengan tubuh, sekolah, lingkungan dan rasa aman. Putusan pengadilan dapat mengakhiri proses hukum, tetapi tidak dapat mengembalikan masa kanak-kanak yang telah hilang. Karena hukuman mungkin memiliki akhir, tetapi luka korban belum tentu dapat berakhir.

 

Sayangnya, film juga tidak memberikan pemulihan yang terlalu sempurna. Pada bagian akhir cerita, So-won masih mengakui bahwa dirinya terkadang kesulitan berada di sekolah dan harus pulang lebih awal. Kehidupannya memang mulai dipenuhi hal-hal baru, termasuk kehadiran adik laki-lakinya dan kegiatan membuat kerajinan tangan, tetapi luka yang pernah dialaminya tidak dapat menghilang secara instan.

 

Bagi saya, keputusan film untuk tidak memberikan akhir yang sepenuhnya bahagia justru membuat Hope terasa lebih manusiawi. Pada akhirnya, So-won memang mulai tersenyum lagi. Ia kembali bermain dan menemukan kebahagiaan kecil bersama keluarganya. (Diyah)

Posting Komentar

0 Komentar