(Poster Film Panggil Aku Ayah/Dok.Internet)
|
Judul : Panggil Aku Ayah
Genre : Drama keluarga dan komedi
Durasi : 120 menit
Sutradara : Benni Setiawan
Produksi : Visinema Studios dan CJ ENM
Pemain : Myesha Lin (Intan kecil), Tissa Biani (Intan dewasa), Ringgo Agus Rahman (Mang Dedi), Boris Bokir (Mang Tatang), dan Sita Nursanti (Rossa)
Film yang tayang pada Agustus 2025 ini merupakan adaptasi resmi dari film Korea Selatan berjudul Panggil Aku Ayah (produksi CJ ENM) pada 2020 silam. Film ini berfokus pada hubungan keluarga yang hangat tanpa adanya ikatan darah. Pada adaptasi Indonesianya, film ini dibintangi oleh Ringgo Agus yang berperan sebagai tukang tagih utang sekaligus tokoh utama, Mang Dedi.
Film ini mengisahkan tentang seorang anak bernama Intan yang terpaksa menjadi jaminan hutang yang ditinggalkan ayahnya. Ibu Intan, Rossa kemudian bertekad untuk pergi merantau agar bisa melunasi hutang-hutang tersebut, ia menitipkan Intan pada Mang Dedi dan Mang Tatang, sang penagih hutang. Seminggu kemudian Intan diserahkan pada saudara Rossa sesuai amanah yang Rossa berikan sebelum pergi ke perantauan, namun Intan banyak mengalami hal kurang menyenangkan sehingga ia kembali tinggal bersama Mang Dedi dan Mang Tatang, sang penyelamat Intan kecil.
Hubungan yang transaksional tersebut pelan-pelan menjadi ikatan emosional yang erat, di mana Mang Dedi dan Mang Tatang memutuskan untuk merawat Intan dengan baik, sehingga Mang Dedi secara bertahap mengambil alih figur seorang Ayah untuk Intan. Mang Dedi kemudian merawat Intan sampai dewasa, ia juga memberikan Intan pendidikan yang layak hingga akhir.
Banyak pesan moral yang tersebar pada bagian-bagian film ini, perjuangan Rossa yang menemui banyak rintangan untuk melunasi hutang suaminya, Intan yang tak pernah melupakan jasa Mang Dedi dan Mang Tatang, dan rasa kasih sayang yang Mang Dedi berikan pada Intan. Film Panggil Aku Ayah mengangkat pesan utama bahwasannya ikatan keluarga yang sesungguhnya tidak selalu terjalin melalui ikatan darah, melainkan lewat kehadiran, kepedulian, serta pengorbanan yang tulus. Melalui perjalanan emosional ini, penonton diajak merenungkan bahwa cinta dan tanggung jawab sebagai orang tua bisa tumbuh dari mana saja.
Dari segi akting, chemistry antara Ringgo Agus (Mang Dedi) dan Myesha Lin (Intan kecil) terasa begitu dekat dan natural. Ringgo Agus berhasil mengembangkan karakter Mang Dedi sebagai sosok penagih hutang yang kejam menjadi sosok lembut, perhatian, dan penuh kasih sayang kepada Intan tanpa terasa terburu-buru. Di sisi lain, Myesha Lin juga berhasil membawakan peran tokoh anak kecil yang cerdik, pintar, dan polos. Interaksi keduanya yang natural membangun rasa emosional penonton seakan-akan masuk ke dalam ceritanya.
Secara visual, film ini menampilkan palet warna khas yang agak remang, warna hangat yang pas sebagai latar cerita bertema kekeluargaan. Warna ini juga berperan sebagai elemen pendukung cerita agar kesan haru dan sedihnya semakin terasa. Musik lembut yang mengalun mengikuti arah cerita film ini juga menjadi elemen penting yang membuat adegan-adegan di film ini semakin membekas. Terlebih lagu Tegar yang kerap dinyanyikan oleh Rossa dan Intan di beberapa scene seolah memberikan makna tersirat dari film ini, tentang hubungan ibu dan anak yang erat, serta ikatan tak terduga antara Intan dan Mang Dedi. Makna lagu ini pun sangatlah cocok untuk merepresentasikan bagaimana tegarnya para tokoh utama dalam melewati berbagai masalah hidup.
Dari segi alur, di awal cerita ini cukup sistematis dan mengalir natural dengan tempo yang stabil, tidak terlalu terburu-buru, sehingga penonton bisa meresapi setiap momen yang disuguhkan. Namun di bagian akhir film menjelang klimaks, peristiwa paling penting dan mengharukan pada film ini terasa begitu singkat, seolah-olah berakhir begitu saja. Meskipun film ini berhasil membawakan akhir yang mengesankan, film ini juga meninggalkan sedikit rasa mengganjal dan kurang puas di bagian akhirnya.
Kelebihan film ini terletak pada kemampuan menyampaikan pesan moral tentang keluarga tanpa terasa menggurui. Perpaduan antara drama dan sedikit komedi membuat film ini dapat dinikmati penonton dengan enjoy, tidak hanya menampilkan scene yang sedih dan mengharukan saja. Selain itu, akting para pemeran utama, khususnya Ranggo Agus, Myesha Lin, dan Tissa Biani patut diapresiasi karena telah sukses membangun ikatan emosional yang mendalam.
Meski demikian, film ini memiliki beberapa kekurangan. Alur cerita seperti “hati keras yang makin lama meluluh” sudah sering dijumpai di film-film bertema kekeluargaan. Selain itu, karakter pendukung seperti Mang Tatang dan Rossa terasa kurang dikembangkan secara mendalam, sehingga peran mereka dalam cerita utama seperti seorang figuran, yang membuat kehadiran keduanya sebagai tokoh utama kurang berdampak di film dan kurang membekas di hati penonton. Adapun beberapa scene komedi yang agaknya terasa seperti dipaksakan, sehingga scene yang harusnya lucu menjadi agak garing.
Secara keseluruhan film Panggil Aku Ayah berhasil menyampaikan pesan yang menyentuh tentang ikatan kekeluargaan non darah, dikemas dengan perpaduan drama komedi yang pas sehingga cocok untuk ditonton berbagai kalangan. Meski alur ceritanya mengikuti pola yang cukup familiar dalam genre drama keluarga, kekuatan akting para pemain serta soundtrack Tegar yang menyatu erat dengan narasi, membuat film ini tetap layak untuk ditonton. Film ini sangat direkomendasikan bagi penonton yang menyukai drama keluarga yang hangat dan mengharukan. (Naswa)
0 Komentar