| (Cover Buku Jakarta Sebelum Pagi/ Dok.Internet) |
Riuhnya jalanan kota Jakarta, kini menjadi sangat sunyi di pukul tiga dini hari, hanya menyisakan sorot cahaya lampu redup dan sebuah balon perak yang membawa seikat bunga serta selembar surat tanpa kejelasan. Karya indah Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang membawa pembaca masuk melihat indahnya Jakarta sebelum pagi, menjadi sebuah buku yang tidak hanya menceritakan petualangan hadiah misteri, tetapi juga tentang hiruk-pikuk kota yang ternyata menyimpan banyak kenangan di dalamnya yang bahkan belum sempat terungkap.
Buku ini dimulai dengan cerita seorang tokoh utamanya, Emina, perempuan muda yang hidupnya terlihat sangat biasa-biasa saja sebagai seorang anak kantoran yang menjalani hari seperti manusia pada umumnya. Sampai suatu hari hidupnya mulai terlihat tidak biasa ketika ia mendapat sebuah kiriman bunga misterius di balkon apartemennya. Bunga mawar, melati, dan hyacinth biru yang selalu sampai bersama dengan sebuah balon berwarna perak. Tidak ada kejelasan apa pun di dalamnya, hanya ada sebuah kemungkinan buruk bahwa pengirimnya selama ini telah mengawasi hidupnya.
Rasa takut tidak pernah datang pada Emina sejak hari itu, hanya rasa penasaran yang terus menghantui Emina dan mendorong ia untuk terus mencari siapa sosok di balik hadiah misterius itu. Mulai dari menelusuri jejak sang pengirim, sampai pada akhirnya perlahan ia mulai menemukan berbagai lapisan misteri di baliknya. Penelusuran ini membawanya bertemu Suki, gadis keturunan Arab-Jepang dengan kesukaannya pada teh Jepang, yang kini menjadi salah satu sosok yang membantu Emina menemukan berbagai petunjuk. Dengan bantuan dari Suki, Emina mulai menemukan benang merah yang tidak disangka, mulai dari toko bunga, kesunyian di apartemen sebelah, hingga surat cinta yang menyimpan banyak kisah tersembunyi di balik dinding-dinding tua Jakarta. Semakin jauh petunjuk ditemukan, Emina semakin sadar bahwa kini pertanyaannya bukan lagi tentang “siapa” tapi “mengapa”. Setiap petunjuk yang ia dapatkan seperti membuka lapisan rahasia kota yang ia kira sudah sangat dikenalnya selama ini.
Jejak ini berakhir pada pertemuan Emina dengan Abel, sosok misterius yang kini menjadi pengungkap di balik hadiah misterius. Dari pertemuan ini, secara perlahan hadir pandangan lain Emina terhadap kota yang selama ini ia tempati. Kota yang biasanya hanya terasa sebagai tempat singgah untuk melakukan berbagai rutinitas, kini berubah menjadi ruang yang menyimpan banyak kenangan yang bahkan tak pernah disadari sebelumnya. Kota yang biasanya hanya terlihat hiruk-pikuk dan padatnya, kini terasa seperti ruang sunyi yang menyimpan banyak hal tidak terungkap. Namun, pertemuan ini juga membawa Emina pada pertanyaan tentang apakah kebenaran yang selama ini ia cari akan membawanya pada ketenangan, atau malah membawanya kepada masalah yang semakin rumit bahkan hingga luka yang tak pernah sekalipun ia kira akan terjadi.
Melalui buku ini, Jakarta seolah menjadi tokoh yang punya nyawa penting di dalamnya. Setiap suasana yang dibangun dalam buku ini menjadi sangat istimewa karena bisa membuat pembaca ikut merasakan menyusuri setiap sudut kota Jakarta yang jarang terlihat. Setiap langkah dari penelusuran Emina terasa seperti sebuah perjalanan yang emosional. Suasana hangat Jakarta yang dibalut dengan cerita absurd khas Ziggy membuat buku ini terasa lebih personal dan selalu memberikan kesan yang membekas kepada pembaca di tiap halamannya.
Buku ini memiliki kelebihan pada atmosfer yang dibawakan di dalamnya. Gaya bahasa khas Ziggy yang terasa santai dan unik namun terdapat banyak detail di setiap babnya, hingga dialog dari tiap tokoh yang terus mengalir membuat pembaca selalu ingin melanjutkan membaca tanpa henti.
Namun, jika pembaca berharap sebuah cerita misteri yang bersuasana tegang dengan twist yang besar, buku ini bukanlah bacaan yang tepat. Misteri yang dibawa di dalamnya memiliki alur yang terasa agak lambat, sehingga buku ini dapat dibilang berbeda dengan cerita-cerita misteri yang mungkin dibayangkan pembaca pada umumnya. Meski demikian, hal inilah yang membedakan buku ini dengan yang lainnya. Fokus utama pada pembangunan suasana dan emosi dari setiap tokoh menjadi ciri khas Ziggy dalam membuat buku ini tetap hidup dengan caranya sendiri. Kehangatan dan cerita unik yang ada di balik setiap tokoh bahkan tempat yang mereka ceritakan, membuat hadirnya kedekatan emosi yang bisa dirasakan oleh para pembacanya.
Pada akhirnya, buku ini tidak hanya mengisahkan pencarian sosok misterius di balik bunga dan balon perak di balkon apartemen, tetapi juga sebagai pengingat bahwa di balik padatnya kota Jakarta, ternyata masih tersimpan banyak kenangan, kerinduan, dan kehilangan yang belum sempat terungkap. Keberanian untuk menyusuri setiap sudut kota bahkan di waktu paling sunyi kini menjadi cara yang tepat untuk benar-benar mengenali sebuah kota. (Ranisha)
0 Komentar