Racun Sangga/Dok. Internet |
Judul Film : Racun Sangga: Santet Pemisah Rumah Tangga
Platform : Netflix
Sutradara : Rizal Mantovani
Penulis : Gusti Gina
Durasi Film : 118 menit
Tahun Rilis : 2024
Pemeran Utama : Frederika Cull (Maya), Fahad Haydra (Andi), Wafda Saifan (Duma)
Melalui Racun Sangga: Santet Pemisah Rumah Tangga (2024), sutradara Rizal Mantovani mencoba keluar dari zona nyaman horor lokal. Alih-alih hanya mengandalkan jumpscare atau penampakan hantu seram di sudut ruangan, film ini justru membawa penonton merasakan ngilunya siksaan karena kiriman ilmu hitam yang terjadi sebab obsesi cinta yang tak terbalas.
Cerita dibuka dengan masalah asmara, Maya (Frederika Cull) meminta kepastian hubungan kepada kekasihnya Duma (Wafda Saifan). Namun Duma tampak belum siap jika ingin ke jenjang serius dan meminta waktu kepada Maya selama tiga tahun untuk persiapan. Di tengah ketidakpastian tersebut, hadir sosok Andi (Fahad Haydra), seorang pria mapan dan taat beragama yang tanpa ragu langsung melamar Maya. Namun, keputusan pragmatis yang seharusnya berujung pada kebahagiaan ini justru menjadi gerbang menuju neraka.
Konflik utama meledak tak lama setelah Andi dan Maya menikah, kemudian Maya mengandung anak pertama mereka. Andi tiba-tiba didera penyakit kulit ekstrem yang menggerogoti tubuhnya secara perlahan. Ia pun kerap berperilaku aneh dan selalu ingin melukai dirinya sendiri sehingga Maya harus menyembunyikan berbagai senjata tajam yang ia miliki. Maya terus berusaha membawa Andi untuk mendapatkan pengobatan intensif di rumah sakit. Namun, pihak medis tidak menemukan jawaban yang tepat untuk penyakitnya Andi. Maya dan Andi berasal dari keluarga yang sangat taat dan patuh pada agamanya. Namun karena medis angkat tangan, mereka terpaksa menelan ludah dan mencari jalan alternatif.
Kengerian Racun Sangga semakin menjadi ketika para “orang pintar” menolak menyembuhkan Andi karena ketakutan. Teror santet yang bersarang di tubuh Andi terdeteksi sebagai Racun Sangga, sebuah santet mematikan dari Kalimantan yang spesifik dirancang untuk memisahkan suami istri. Ketika pengobatan alternatif berhasil meredakan rasa sakit Andi untuk sementara, karakter Andi justru mengalami penurunan moral berubah menjadi sosok temperamental yang kerap berselingkuh. Hal ini memunculkan ambiguitas yang memikat, apakah perselingkuhan itu adalah efek samping dari racun yang merusak jiwa Andi, ataukah dirinya yang mengubah kepribadiannya?
Hal paling menarik dari Racun Sangga justru terletak pada penyelesaian ceritanya. Film horor pada umumnya akan mengakhiri cerita dengan hancurnya sang pengirim santet dan kembalinya keharmonisan keluarga. Namun, Racun Sangga mengambil rute yang sangat realistis dan pahit. Syarat mutlak untuk mematahkan kutukan ini adalah perpisahan, baik melalui kematian maupun perceraian.
Maya dan Andi akhirnya memilih untuk bercerai setelah melewati ritual pembersihan besar-besaran. Perceraian di sini bukan sebagai sebuah kegagalan atau kekalahan melawan ilmu hitam, melainkan sebagai bentuk pengorbanan tertinggi demi keselamatan nyawa dan anak mereka. Meski pelaku utamanya (yang sangat kuat digambarkan di dalam film adalah Duma) tidak pernah dieksekusi secara gamblang di layar, penonton diajak menyadari betapa mengerikannya ego dan dendam seorang manusia yang tertolak.
Sebagai sebuah karya sinema, Racun Sangga tentu memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangan dari film tersebut adalah tidak adanya penegasan secara gamblang mengenai siapa dalang di balik santet tersebut yang membuat penonton hanya bisa menebak-nebak. Meskipun petunjuk sangat kuat mengarah pada sosok si Duma, ketiadaan konfrontasi akhir dengan sang pelaku membuat penyelesaian plot ini terasa sedikit menggantung. Namun, film ini memiliki kelebihan utama yaitu menampilkan teror dan rasa sakit yang berujung pada resolusi cerita yang tidak biasa yaitu perpisahan sebagai syarat mutlak kesembuhan.
Secara keseluruhan, Racun Sangga adalah potret gelap mengenai obsesi, kerentanan manusia, dan pragmatisme bertahan hidup. Berdurasi 118 menit, film ini sukses menyampaikan pesan bahwa terkadang, akhir yang bahagia tidak selalu berarti hidup bersama selamanya. Kadang kala, merelakan sebuah ikatan rumah tangga untuk putus adalah satu-satunya cara agar setiap individunya tetap bisa bernapas lega. (Dwiki)
0 Komentar